Вы находитесь на странице: 1из 6

Soal:

1. Jelaskan dua faktor penyebab korupsi!


2. Aspek apa saja yang termasuk dalam faktor eksternal dan internal?
3. Jelaskan aspek ekonomi yang menjadi penyebab korupsi!
4. Apa dampak korupsi terhadap aspek ekonomi. Jelaskan?
5. Bagaimana dampak korupsi terhadap pelayanan kesehatan?

Jawab:

1. Penyebab korupsi meliputi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
merupakan faktor penyebab korupsi yang terlahir dari dalam diri sendiri.Sedangkan faktor
eksternal merupakan perilaku korup yang disebabkan oleh faktor diluar diri pelaku.

2. Aspek-aspek yang termasuk dalam faktor eksternal, antara lain:


a. Aspek ekonomi

Faktor ekonomi juga merupakan salah satu penyebab terjadinya korupsi. Hal ini dapat dijelaskan
dari pendapatan atau gaji yang tidak mencukupi kebutuhan. Selain rendahnya gaji atau pendapatan,
banyak aspek ekonomi lain yang menjadi penyebab terjadinya korupsi, di antaranya adalah kekuasaan
pemerintah yang dibarengi dengan faktor kesempatan bagi pegawai pemerintah untuk memenuhi
kekayaan mereka dan kroninya. Terkait faktor ekonomi dan terjadinya korupsi, banyak pendapat
menyatakan bahwa kemiskinan merupakan akar masalah korupsi.pernyataan tidak benar sepenuhnya,
sebab banyak korupsi yang dilakukan oleh pemimpin Asia dan Afrika, dan mereka tidak tergolong
orang miskin. Dengan demikian korupsi bukan disebabkan oleh kemiskinan, tapi justru sebaliknya,
kemiskinan disebakan oleh korupsi (Pope: 2003)

b. Aspek politik

Politik merupakan salah satu penyebab terjadinya korupsi. Hal ini dapat dilihat ketika terjadi
instabilitas politik, kepentingan politis para pemegang kekuasaan, bahkan ketika meraih dan
mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara mereka lakukan untuk menduduki posisi tersebut.
Akhirnya munculah tindak korupsi atau suap menyuap dalam mendapatkan kekuasaan.

Menurut De Asis (2000), korupsi pollitik misalnya perilaku curang (politik uang) pada pemilihan
anggota legislatif ataupun pejabat-pejabat eksekutif, dana ilegal untuk pembiayaan kampanye,
penyelesaian konflik parlemen melalui cara-cara ilegal dan teknik lobi yang menyimpang.

Robert Klitgaard (2005) menjelaskan bahwa proses terjadinya korupsi dengan formulasi M+D-
A=C. Simbol M adalah monopoly, D adalah discretionary (kewenangan), A adalah accountability
(pertanggung jawaban). Jadi dapat dikatakan bahwa korupsi adalah hasil dari adanya monopoli
(kekuasaan) ditambah dengan kewenangan yang begitu besar tanpa keterbukaan dan pertanggung
jawaban.

c. Aspek hukum

Faktor hukum dapat dilihat dari dua sisi, di satu sisi dari aspek perundang-undangan dan sisi lain
lemahnya penegakan hukum. Tidak baiknya substansi hukum, mudah ditemukan dalam aturan-aturan
yang diskriminatif dan tidak adil; rumusan yang tidak jelas tegas (non lext certa) sehingga multi
tafsir, kontradiksi dan overlapping dengan peraturan lain (baik yang sederajat maupun yang lebih
tinggi).
Dapat kita ketahui di negara kita sendiri bahwa hukum sekarang tumpul ke atas lancip
kebawah.Fakta ini memperlihatkan bahwa terjadinya korupsi sangat mungkin karena aspek peraturan
perundang-undangan yang lemah atau hanya menguntungkan pihak tertentu saja. Disamping tidak
bagisnya produk hukum yang dapat menjadi penyebab terjadinya korupsi, praktik penegakan hukum
juga masih dilihat berbagai permasalahan yang menjauhkan hukum dari tujuannya. Secara kasat mata,
publik dapat melihat banyak kasus yang menunjukkan adanya diskriminasi dalam proses penegakan
hukum termasuk putusan-putusan pengadilan.

Budaya sadar akan aturan hukum. Dengan sadar hukum, maka masyarakat akan mengerti
konsekuensi dari apa yang ia lakukan. Kemampuan lobi kelompok kepentingan dan pengusaha
terhadap pejabat publik dengan menggunakan uang sogokan., hadiah, hibah dan berbagai bentuk
pemberian yang mempunyai motif koruptif, masyakat hanya menikmati sisa-sisa hasil pembangunan.

d. Aspek managemen dan organisasi

Organisasi dalan arti luas, termasuk sistem pengorganisasian lingkungan masyarakat. Aspek-
aspek terjadinya korupsi dari sudut pandang organisasi meliputi: (a) kurang adanya teladan dari
pemimpin (b) tidak adanya kultur organisasi yang benar, (c) sistem akuntabilitas dalam instansi
kurang memadai, (d) manajemen cenderung menutupi didalam organisasinya.

Sebuah organisasi dapat berfungsi dengan baik apabila anggotanya bersedia mengintegrasikan
diri dibawah sebuah pola tingkah laku (yang normatif) , sehingga bisa dikatakan kehidupan bersama
hanya mungkin apabila anggota-anggota bersedia mematuhi dan mengikuti aturan permainan yang
telah ditentukan. Disinilah letaknya bila kurang ada teladan dari pemimpin bisa memicu perilaku
korup.

Sedangkan aspek-aspek yang termasuk dalam faktor internal, antara lain:

a. Aspek sikap dan perilaku individu

Sifat tamak merupakan sifat yang dimiliki manusia, di setiap harinya pasti manusia meinginkan
kebutuhan yang lebih, dan selalu kurang akan sesuatu yang di dapatkan. Korupsi berkaitan dengan
perbuatan yang merugikan kepentingan umum (publik) atau masyarakat luas untuk keuntungan
pribadi atau kelompok tertentu.

Penyebab seseorang melakukan korupsi adalah karena ketergodaannya akan dunia materi atau
kekayaan yang tidak mampu ditahannya. Ketika dorongan untuk menjadi kaya tidak mampu ditahan,
sementara akses ke arah kekayaan bisa diperoleh melalui cara berkorupsi, maka jadilah seseorang
akan melakukan korupsi.

Contoh : Seorang pegawai institusi ditugaskan atasannya untuk menjadi panitia pengadaan barang.
Pegawai tersebut memiliki prinsip bahwa kekayaan dapat diperoleh dengan segala cara dan ia harus
memanfaatkan kesempatan. Karena itu, ia pun sudah memiliki niat dan mau menerima suap dari
rekanan (penyedia barang). Kehidupan mapan keluarganya dan gaji yang lebih dari cukup tidak
mampu menghalangi untuk melakukan korupsi

b. Aspek moral

Seorang yang moralnya tidak kuat cenderung mudah tergoda untuk melakukan korupsi. Godaan
itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat, bawahannya atau pihak lain yang memberi kesempatan
untuk itu. Moral yang kurang kuat salah satu penyebabnya adalah lemahnya pembelajaran agama dan
etika.
Contoh : Seorang mahasiswa yang moralnya kurang kuat, mudah terbawa kebiasaan teman untuk
menyontek, sehingga sikap ini bisa menjadi benih-benih perilaku korupsi.

c. Aspek sosial

Kaum behavioris mengatakan bahwa lingkungan keluargalah yang secara kuat memberikan
dorongan bagi orang untuk korupsi dan mengalahkan sikap baik seseorang yang sudah menjadi tralis
pribadinya. Lingkungan dalam hal ini malah memberikan dorongan dan bukan memberikan hukuman
pada orang ketika ia menyalahgunakan kekuasaannya.

Contoh: Seorang karyawan baru di suatu institusi pelayanan kesehatan sangat dihargai oleh atasan
dan teman-temannya karena perilakunya yang baik dan saleh. Setelah menikah karyawan tersebut jadi
orang yang suka menipu karena terpengaruh oleh lingkungan keluarganya yang baru. Keluarganya
senang terhadap perubahan perilaku karyawan tersebut karena menghasilkan banyak uang.

3. Gaya hidup yang konsumtif, menjadikan penghasilan selalu dianggap kurang dan pendapatan
yang tidak mencukupi kebutuhan. Dalam rentang kehidupan ada kemungkinan seseorang
mengalami situasi terdesak dalam hal ekonomi. Keterdesakan itu membuka ruang bagi seseorang
untuk mengambil jalan pintas diantaranya melakukan korupsi

4. Dampak korupsi terhadap aspek ekonomi, antara lain:


 Lesunya Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi
Korupsi bertanggung jawab terhadap lesunya pertumbuhan ekonomi dan investasidalam
negeri. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsidan
ketidakefisienan yang tinggi. Dalam sektor privat, korupsi meningkatkan ongkos niaga karena
kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan
resiko pembaalan perjanjian atau karena penyelidikan. Penanaman modal yang dilakukan oleh
pihak dalam negeri (PMDN) dan asing (PMA) yang semestinya bisa digunakan untuk
pembangunan negara menjadi sulit sekali terlaksana,karena permasalahan kepercayaan dan
kepastian hukum dalam melakukan investasi, selain masalah stabilitas.
Perlu disadari bahwa sebenarnya beberapa perusahaan multinasional sudah terikat pada
kode etik internasional dari ICC (International Chamber of Commerce) yang bersepakat untuk
tidak melakukan praktik-praktik korupsi dalam bisnis internasional. Selanjutnya ICC bersama
dengan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) mengawasi dan
menyerahkan kasus-kasus korupsi yang terjadi untuk diadili di negara perusahaan tersebut
berasal. Kondisi negara yang korup akan membuat pengusaha multinasional meninggalkannya,
karena investasi di negara yang korup akan merugikan dirinya karena memiliki ‘biaya siluman’
yang tinggi.
Dalam studinya, dampak korupsi pada pertumbuhan investasi dan belanja pemerintah
bahwa korupsi secara langsung dan tidak langsung adalah penghambat pertumbuhan investasi.
Berbagai organisasi ekonomi dan pengusaha asing di seluruh dunia menyadari bahwa suburnya
korupsi di suatu negara adalah ancaman serius bagi investasi yang ditanam.
 Penurunan Produktifitas
Dengan semakin lemahnya pertumbuhan ekonomi dan investasi, maka tidak dapat
disanggah lagi, bahwa produktifitas akan semakin menurun. Hal ini terjadi seiring dengan
terhambatnya sektor industri dan produksi untuk bisa berkembang lebih baik atau melakukan
pengembangan kapasitas. Program peningkatan produksi dengan berbagai upaya seperti pendirian
pabrik-pabrik dan usaha produktif baru atau usaha untuk memperbesar kapasitas produksi untuk
usaha yang sudah ada menjadi terkendala dengan tidak adanya investasi. Penurunan produktifitas
ini juga akan menyebabkan permasalahan yang lain, seperti tingginya angka PHK dan
meningkatnya angka pengangguran. Ujung dari penurunan produktifitas ini adalah kemiskinan
masyarakat.
 Rendahnya Kualitas Barang dan Jasa Bagi Publik
Ini adalah sepenggal kisah sedih yang dialami masyarakat kita yang tidak perlu terjadi
apabila kualitas jalan raya baik sehingga tidak membahayakan pengendara yang melintasinya.
Hal ini mungkin juga tidak terjadi apabila tersedia sarana angkutan umum yang baik, manusiawi
dan terjangkau. Ironinya pemerintah dan departemen yang bersangkutan tidak merasa bersalah
dengan kondisi yang ada, selalu berkelit bahwa mereka telah bekerja sesuai dengan prosedur
yang ditetapkan.
Rusaknya jalan-jalan, ambruknya jembatan, tergulingnya kereta api, beras murah yang
tidak layak makan, tabung gas yang meledak, bahan bakar yang merusak kendaraan masyarakat,
tidak layak dan tidak nyamannya angkutan umum, ambruknya bangunan sekolah, merupakan
serangkaian kenyataan rendahnya kualitas barang dan jasa sebagai akibat korupsi. Korupsi
menimbulkan berbagai kekacauan di dalam sektor publik dengan mengalihkan investasi publik ke
proyek-proyek lain yang mana sogokan dan upah tersedia lebih banyak.
Pejabat birokrasi yang korup akan menambah kompleksitas proyek tersebut untuk
menyembunyikan berbagai praktek korupsi yang terjadi. Pada akhirnya korupsi berakibat
menurunkan kualitas barang dan jasa bagi publik dengan cara mengurangi pemenuhan syarat-
syarat keamanan bangunan, syarat-syarat material dan produksi, syarat-syarat kesehatan,
lingkungan hidup, atau aturan-aturan lain. Korupsi juga mengurangi kualitas pelayanan
pemerintahan dan infrastruktur dan menambahkan tekanan-tekanan terhadap anggaran
pemerintah.
 Menurunnya Pendapatan Negara dari Sektor Pajak
Sebagian besar negara di dunia ini mempunyai sistem pajak yang menjadi perangkat
penting untuk membiayai pengeluaran pemerintahnya dalam menyediakan barang dan jasa
publik, sehingga boleh dikatakan bahwa pajak adalah sesuatu yang penting bagi negara.
Di Indonesia, dikenal beberapa jenis pajak seperti Pajak penghasilan (PPh), Pajak
Pertambahan Nilai (PPn), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Meterai (BM), dan Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (BPHTB). Di tingkat pemerintah daerah, dikenal
juga beberapa macam pajak seperti Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Pajak Restoran, dan lain-
lain. Pada saat ini APBN sekitar 70% dibiayai oleh pajak di mana Pajak Penghasilan (PPh) dan
Pajak Pertambahan Nilai (PPn) merupakan jenis pajak yang paling banyak menyumbang.
Pajak berfungsi sebagai stabilisasi harga sehingga dapat digunakan untuk mengendalikan
inflasi, di sisi lain pajak juga mempunyai fungsi redistribusi pendapatan, di mana pajak yang
dipungut oleh negara selanjutnya akan digunakan untuk pembangunan, dan pembukaan
kesempatan kerja yang pada akhirnya akan menyejahterakan masyarakat. Pajak sangat penting
bagi kelangsungan pembangunan negara dan kesejahteraan masyarakat juga pada akhirnya.
Kondisi penurunan pendapatan dari sektor pajak diperparah dengan kenyataan bahwa
banyak sekali pegawai dan pejabat pajak yang bermain untuk mendapatkan keuntungan pribadi
dan memperkaya diri sendiri. Kita tidak bisa membayangkan apabila ketidakpercayaan
masyarakat terhadap pajak ini berlangsung lama, tentunya akan berakibat juga pada percepatan
pembangunan, yang rugi juga masyarakat sendiri, inilah letak ketidakadilan tersebut.
 Meningkatnya Hutang Negara
Kondisi perekonomian dunia yang mengalami resesi dan hampir melanda semua negara
termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, memaksa negara-negara tersebut untuk
melakukan hutang untuk mendorong perekonomiannya yang sedang melambat karena resesi dan
menutup biaya anggaran yang defisit, atau untuk membangun infrastruktur penting. Bagaimana
dengan hutang Indonesia.
Korupsi yang terjadi di Indonesia akan meningkatkan hutang luar negeri yang semakin
besar. Dari data yang diambil dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutang, Kementerian
Keuangan RI, disebutkan bahwa total hutang pemerintah per 31 Mei 2011 mencapai US$201,07
miliar atau setara dengan Rp. 1.716,56 trilliun, sebuah angka yang fantastis.
Posisi utang pemerintah terus meningkat dari tahun ke tahun. Bila melihat kondisi secara
umum, hutang adalah hal yang biasa, asal digunakan untuk kegiatan yang produktif hutang dapat
dikembalikan. Apabila hutang digunakan untuk menutup defisit yang terjadi, hal ini akan
semakin memperburuk keadaan. Kita tidak bisa membayangkan ke depan apa yang terjadi apabila
hutang negara yang kian membengkak ini digunakan untuk sesuatu yang sama sekali tidak
produktif dan dikorupsi secara besar-besaran.

5. Dampak korupsi di bidang kesehatan, antara lain:


a. Menurunnya derajat kesehatan masyarakat yang berimbas pada IPM (Indeks
Pembangunan Manusia)
Indikator IPM seperti angka kematian bayi dan angka harapan hidup sangat terkait
dengan pendanaan sektor kesehatan. Apabila terjadi korupsi pada sektor kesehatan, maka akan
berimbas penurunan angka harapan hidup dan menaikkan angka kematian bayi.
Studi yang dilakukan oleh International Moneter Fund(IMF) menggunakan data dari 71
negara, hasil penelitian menunjukkan bahwa negara-negara dengan indeks korupsi yang tinggi
secara sistematis memiliki tarif layanan kesehatan lebih tinggi dan linear dengan tingkat kematian
bayi (Gupta et al., 2001). Naik dan tingginya harga obat-obatan dan rendahnya kualitas alat
kesehatan pada rumah sakit dan puskesmas serta sarana kesehatan masyarakat lainnya.
b. Rendahnya kualitas alat kesehatan pada rumah sakit dan puskesmas serta sarana
kesehatan masyarakat lainnya
Pendelegasian ke jajaran di bawah kepala dinas, mengakibatkan adanya fasilitas yang
tidak memadai pada sarana dan prasarana puskesmas, serta alat-alat rumah sakit umum daerah.
fenomena ini terjadi akibat perilaku nakal dari pejabat-pejabat yang rusak moralnya sehingga
dana-dana yang seharusnya digelontorkan untuk menunjang kesehatan masyarakat miskin
“dimakan” oleh para pejabat-pejabat nakal yang menduduki kursi di pemerintahan, sehingga
masyarakat miskin yang jadi korbannya.
c. Kesejahteraan perempuan tidak pernah meningkat
Tidak bisa mendapatkan layanan kesehatan, seperti periksa hamil gratis dan mendapatkan
layanan KB gratis. perempuan harus mengeluarkan biaya mahal untuk berobat, karena negara
tidak menyediakan dana untuk layanan kesehatan yang murah dan berkualitas.
Selain itu, rasio kematian ibu di negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan
450 kematian ibu per 100.000 kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu
disembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran. Sebanyak 20-30 persen dari kehamilan
mengandung resiko atau komplikasi yang dapat menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan
bayinya. Tingginya AKI dan lambatnya penurunan angka ini menunjukkan bahwa pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sangat mendesak untuk ditingkatkan baik dari segi jangkauan
maupun kualitas pelayanannya.
d. Kinerja petugas kesehatan yang tidak sesuai standar.
Resiko kerusakan dapat terjadi pada kesehatan dan keselamatan manusia berbagai akibat
kualitas lingkungan yang buruk kualitas petugas kesehatan yang masih buruk, penanaman modal
yang anti-lingkungan atau ketidakmampuan memenuhi standarisasi kesehatan dan lingkungan.
Korupsi akan menyebabkan kualitas pembangunan buruk, yang dapat berdampak pada
kerentanan bangunan sehingga memunculkan resiko korban.

Laksono Trisnantoro secara khusus menyoroti dampak korupsi terhadap sistem manajemen rumah
sakit. Sistem manajemen rumah sakit yang diharapkan untuk pengelolaan lebih baik menjadi sulit
dibangun. Apabila korupsi terjadi di berbagai level maka akan terjadi keadaan sebagai berikut:
1. Organisasi rumah sakit menjadi sebuah lembaga yang mempunyai sisi bayangan yang semakin
gelap.
2. Ilmu manajemen yang diajarkan di pendidikan tinggi menjadi tidak relevan
3. Direktur yang diangkat karena kolusif (misalnya harus membayar untuk menjadi direktur)
menjadi sulit menghargai ilmu manajemen
4. Proses manajemen dan klinis di pelayanan juga cenderung akan tidak seperti apa yang ada di
buku teks. Akhirnya, terjadi kematian ilmu manajemen apabila sebuah rumah/ lembaga kesehatan
sudah dikuasai oleh kultur korupsi di sistem manajemen rumah sakit maupun sistem penanganan
klinis.