You are on page 1of 13

Family Rutaceae

RUTACEAE

Warga suku ini hampir selalu berupa semak atau pohon, jarang berupa terna, dengan daun
tunggal atau majemuk yang duduknya tersebar atau berhadapan, tanpa daun penumpu. Dalam
daun dan kulit batang terdapat kelenjar-kelenjar minyak yang terjadi secara schizolisigen. Bunga
banci, actinomorf atau zigomorf, berbilangan 4 → 5, dalam lingkaran benang-benang sari
kebanyakan terdapat cakram. Kelopak terdiri atas 4 → 5 daun kelopak yang bebas atau
berlekatan dengan susunan seperti genting. Daun-daun mahkota bebas, tersusun seperti genting
atau katup. Benang sari sama dengan jumlah daun mahkota atau 2 x lipat, jarang lebih, bebas,
jarang berlekatan. Kepala sari menghadap ke dalam, beruang 2, membuka dengan celah
membujur. Bakal buah menumpang, biasanya beruang 4 → 5, kadang-kadang beruang 1 → 3
atau banyak, ada kalanya terdapat lebih dari 1 bakal buah yang terpisah-pisah, tiap ruang berisi 2
bakal biji. Buah mempunyai bentuk dan susunan yang beraneka ragam, ada yang seperti buah
buni, seperti buah batu atau berkulit tebal seperti belulang, jarang berupa buah kendaga. Biji
dengan atau tanpa endosperm, lembaga besar, lurus atau bengkok. Suku ini meliputi lebih dari
1.500 jenis dengan sekitar 150 marga, tersebar di seluruh dunia, sebagian besar di daerah tropika.
Banyak di antaranya yang kemudian dibudidayakan, karena mempunyai nilai ekonomi yang
tinggi (Tjitrosoepomo, 1994).

Keanekaragaman Citrus (jeruk) :

1. Citrus nobilis Lour (jeruk keprok)


2. Triphasia trifoliata (jeruk kingkit)
3. aurantifolia Swingle (jeruk nipis)
4. Atalantia missionis (jeruk kates)
5. Citrus hystrix (jeruk purut)
6. medica L. (jeruk sitrun)
7. Limonia acidissima Non L. (jeruk lemon)
8. Citrus maxima (jeruk bali)

Citrus sp.

Asal dan Distribusi

Buah jeruk mempunyai nilai ekonomi tinggi. Tanaman yang berasal dari kawasan daratan India,
Cina Selatan, Australia Utara dan New Caledonia ini sudah menyebar ke seluruh dunia sebagai
buah perdagangan yang cukup penting. Pada umumnya buah jeruk disantap sebagai buah segar,
tetapi ada beberapa jenis yang cocok sebagai minuman atau jus seperti jeruk nipis, lemon dan
ada juga digunakan sebagai bumbu masak misalnya jeruk limau dan jeruk purut. Dalam dunia
perdagangan internasional, buah jeruk dapat disejajarkan dengan buah anggur dan pisang. Biji
jeruk selain bersifat rekalsitran juga bersifat poliembrioni. Dengan demikian, dalam persemaian
atau dalam populasi bibit terdapat 2 genotipe bibit, yaitu generatif dan vegetatif. Bibit generatif
merupakan bibit seksual, yaitu hasil paduan antara 2 tetua, yaitu tetua jantan dan tetua betina.
Selanjutnya bibit vegetatif dalah jenis bibit yang aseksual, yaitu berasal dari perkembangan
jaringan nuselar. Karena berasal dari sel somatis, maka sifat genetisnya identik dengan genetik
tetua betinanya. Namun demikian, ada 2 jenis jeruk yang dilaporkan bersifat monoembrioni,
yaitu jeruk kates (Citrus media) dan jeruk besar (Citrus grandis) (Ashari, 1995). Jeruk besar
belakangan ini disosialisasikan oleh BPPT sebagai jeruk pamelo.

Klasifikasi tanaman jeruk hingga saat ini masih diperdebatkan. Beberapa pakar berpendapat
bahwa jumlah spesies jeruk ada 9 (Klasifikasi Engler), ahli lain Swingler mengenal 16 spesies,
sementara itu pakar dari Jepang (Tanaka) menyebutkan ada sebanyak 166 spesies. Kebanyakan
ahli botani lebih menyukai klasifikasi Swingler, karena lebih sederhana dan mudah dipahami.

Budidaya Tanaman

Pada saat ini sebagian besar tanaman jeruk ditanam dari bibit okulasi dan sambung (grafting).
Apabila diperkebunkan, bibit jeruk dapat ditanam dengan jarak tanam antara 4-10 m hingga 6-10
m. Pemupukan NPK pada tanaman jeruk yang masih muda sangat penting. Selanjutnya unsur
mikro yang sangat menentukan pembuahan adalah Zn, Fe, Mn, Cu, B dan Mo. Usaha tani
tanaman jeruk sangat menguntungkan dibandingkan dengan jenis usaha tani komoditas buah-
buahan lainnya. Tanaman ini selain cepat menghasilkan buah, pasarnya juga lancar. Kendala
yang biasa dihadapi petani jeruk adalah serangan hama dan penyakit yang sangat
membahayakan. Serangan hama dan penyakit kadang-kadang sangat menyulitkan sehingga
tanaman jeruk terpaksa harus dimusnahkan (dieradikasi).

Serangan penyakit pada umumnya berkorelasi dengan kelembaban yang tinggi, sehingga kebun
harus selalu dijaga kebersihannya. Pohon atau tanaman tahunan lainnya yang menaungi kebun
harus dibersihkan, saluran irigasi harus berfungsi penuh sehingga tidak memungkinkan
terjadinya genangan air di sekitar pohon. Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration)
dapat dengan mudah ditularkan lewat media yang sederhana, misalnya vektor penyakit CVPD
dapat ditularkan melalui tamu yang berkunjung ke kebun.

Buah jeruk yang sudah matang sebaiknya dipetik dengan menggunakan gunting. Dengan gunting
yang tajam tersebut, tangkai buah digunting dan buah jeruk selanjutnya diletakkan dengan hati-
hati agar tidak memar. Apabila perlu keranjang buah dilandasi dengan rumput kering atau kain
yang halus. Kerusakan biasanya terjadi pada daerah pangkal buah di sekitar tangkai buah.
Kerusakan ini pada umumnya terjadi pada jeruk keprok, jeruk limau dan jeruk manis.
Seandainya terjadi kerusakan pada kulit buah maka kerusakan tersebut dapat menurunkan
kualitas buah. Selain itu, kerusakan kulit akan mengurangi daya tarik pembeli.

Kelembaban yang sangat tinggi menyebabkan perkebunan jeruk di kawasan tropis tidak pernah
berhenti dari gangguan penyakit. Di daerah sub tropis, dengan perawatan yang intensif tanaman
jeruk mampu menghasilkan buah sekitar 25 ton per hektar dengan masa produktif selama
puluhan tahun. Di Indonesia, tanaman jeruk hanya mampu menghasilkan buah sekitar 5 ton per
hektar dengan masa produktif yang singkat.
Di kawasan Asia Tenggara telah disusun program pelestarian plasma nutfah dan evaluasi untuk
memperoleh kultivar tunggal. Di Universitas Malay, Kuala Lumpur, dilakukan koleksi plasma
nutfah yang ditekankan pada evaluasi jenis liar. Di Indonesia dan Filipina dilakukan seleksi
batang bawah dan seleksi nuselar embrioni yang kerdil, toleran terhadap busuk akar dan
sebagainya.

Buah jeruk yang masak sempurna mengandung 77-92% air, apabila waktu buah tumbuh terjadi
kekeringan maka air dalam buah dapat diserap kembali oleh daun. Kandungan gula yang terdapat
dalam bagian yang dapat dimakan bervariasi antara 2-5%, protein kurang dari 2% dan asam sitrat
1-2%. Golongan jeruk pecel dan limau mengandung asam sitrat 6-7%. Konsumsi buah dan sari
jeruk cukup baik, karena nilai kandungan vitamin C cukup tinggi, yaitu 50 mg dalam 100 ml jus.
Di samping itu vitamin P (juga dinamakan citrin) dan vitamin A terdapat di dalamnya.

Syarat Tumbuh (Ekologi)

Berdasarkan letak lontangnya, tanaman jeruk mempunyai 3 daerah pertumbuhan yaitu:

1. Daerah subtropis, yang terletak antara 30-40o lintang utara/lintang selatan (LU/LS),
beriklim mediteran dengan cukup banyak hujan pada musim dingin dan sangat panas
pada musim panas.
2. Daerah semitropik dari 20-28o LU/LS beriklim dingin, kering dan panas, daerah panas
pada musim panas (hot summer) seperti di daerah Florida dan Brazil.
3. Daerah tropik, antara 0-20o LU/LS. Pada daerah ini tidak terdapat masa dingin yang jelas,
dan hujan terjadi hampir sepanjang tahun.

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman jeruk pada tiga daerah tersebut sangat mencapai
periode yang lebih lama. Pada daerah tropik, bila buah telah matang, namun lama berbeda.
Kemungkinan mengatur tanaman agar berbunga di luar musim semakin besar pada daerah tropik.
Pada daerah tropik umur panen buah lebih pendek 2-3 bulan. Perbedaan kecepatan kematangan
buah bahkan dapat tinggal di pohon (belum dipetik) akan menyebabkan turunnya kualitas buah.
Sedangkan permasalahan di daerah subtropik ialah terjadinya keterlambatan panen karena
gangguan musim dingin.

Kualitas buah di daerah tropik pertumbuhan juga berbeda. Di daerah tropik buah cenderung lebih
besar, mengandung sari buah lebih banyak, namun rendah kandungan asam sitratnya. Introduksi
tanaman dari daerah satu ke daerah dua ataupun ke daerah tiga menimbulkan perbedaan warna
kulit buah. Karena suhu malam hari di daerah tropik kurang dingin, warna kulit tetap hijau atau
tidak berubah menjadi kuning, sedangkan bila ditanam di daerah asalnya (1 atau 2) warnanya
oranye cerah. Tanaman jeruk tidak tahan terhadap naungan, dan pada daerah yang lembap
serangan hama dan penyakit sukar dikendalikan.

Turunnya hujan pada saat berbunga akan sangat merugikan tanaman jeruk, karena banyak bunga
dan buah kecil yang gugur. Dalam keadaan seperti ini adanya drainase sangat membantu
mencegahnya. Sekalipun tanaman jeruk dapat tumbuh pada beberapa jenis tanah, tetapi keadaan
fisik tanah harus dijaga sebaik-baiknya. Tanaman jeruk tumbuh baik pada kisaran pH tanah
antara 5-6, pada pH tanah yang lebih tinggi, sering terjadi defisiensi hara terutama unsur mikro
Zn, Cu, Mn dan Fe. Tanah yang mengandung kadar Boron serta bergaram tinggi kurang baik
bagi pertumbuhan tanaman jeruk.

Klasifikasi (Depkes, 2001) :

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Rutales

Suku : Rutaceae

Marga : Citrus

Jenis : Citrus sp.

Jeruk keprok (Citrus nobilis Lour)

Pohonnya pendek menghasilkan jeruk dengan daging buah berwarna oranye, kulitnya mudah
dikupas dan yang ulas-ulasnya mudah dipisah-pisahkan, buah tersebut dapat langsung dimakan,
daging buahnya manis sampai manis-asam, bijinya banyak. Bila sangat masak atau matang maka
warna kulitnya lebih oranye, di Indonesia dikenal dengan nama jeruk mandarin.

Sinonim :–

Familia : Rutaceae

Habitus : pohon, tinggi 6-8 m. Batang : tegak, bulat, percabangan simpodial, hijau kotor.
Daun : tunggal, berseling, lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 4-8 cm,
lebar 2-4 cm, tangkai bersayap, panjang 0,5-1,5 cm, hijau, pertulangan menyirip, hijau. Bunga :
majemuk, di ujung batang dan di ketiak daun, tangkai segitiga, panjang 3-4 cm, hijau
kekuningan, kelopak bentuk bintang, berbagi 5, hijau, benang sari silindris, panjang ± 0,5 cm,
kepala sari bentuk ginjal, kuning, tangkai putik silindris, kepala putik bulat, kuning, mahkota
bentuk bintang, lima helai, putih. Buah : buni, bulat, diameter 5-8 cm, permukaan kasar, masih
muda hijau, setelah tua kuning. Biji : bulat telur, diameter ± 3 mm, putih. Akar : tunggang, putih
kekuningan.

Nama Daerah : Jeruk keprok (Melayu), jeruk jepun, jeruk keprok (Sunda), jeruk keprok (Jawa),
jeruk keprok (Madura).
Khasiat : air daging buah berkhasiat sebagai obat batuk dan untuk minuman penyegar. Untuk
obat batuk dipakai buah yang sudah masak, dikupas, diperas sampai diperoleh air perasannya
sebanyak ½ gelas dan disaring. Hasil saringan diminum sekaligus.

Komposisi : Daun, akar dan kulit buah mengandung alkaloid dan polifenol, d isamping itu daun
dan akarnya juga mengandung flavonoid, daun dan kulit buahnya mengandung minyak atsiri
serta akar dan kulit buahnya mengandung saponin (Widyaningrum, 2011).

Gambar 1 Jeruk keprok (sumber : http://www.gambargoogle.com)

Jeruk kingkit (Triphasia trifoliata DC.)

Sinonim : Triphasia aurantiola Lour; Limonia trifolia Burm.

Familia : Rutaceae

Habitus : Perdu, tahunan, tinggi ± 3 m. Batang : tegak, silindris, berkayu, berdiri,


percabangan simpodial, hijau. Daun : majemuk, lonjong, berseling, panjang 2-3 cm, lebar 0,9-1,5
cm, tepi beringgit, ujung runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip, permukaan
berbintik, tangkai silindris, panjang ± 0,3 cm, hijau. Bunga : majemuk, bentuk corong, di ketiak
daun, tangkai silindris, panjang 0,5-1 cm, hijau, kelopak bersayap 3, hijau, mahkota memanjang,
putih, benang sari panjang ± 2 mm, hijau kekuningan, kepala sari kuning, kepala putik kecil,
coklat, bertangkai silindris, kuning kehijauan, panjang ± 0,3 mm, putih kekuningan. Buah : buni,
masih muda hijau setelah tua merah. Biji : kotak, bersegi, putih. Akar : tunggang, kuning
kecoklatan.

Nama Daerah : jeruk kingkit (Melayu), kingkit (Melayu), limau kiah (Melayu), limau kunci
(Melayu), kalijage (Sunda), kingkip (Sunda), jeruk kingkit (Jawa), jeruk rante (Madura), lemo-
lemo (Makasar), lemo-lemo (Ternate), joji koyo (Tidore).

Khasiat : buahnya sebagai obat batuk dan daunnya untuk obat sakit perut. Untuk obat batuk
dipakai 5 buah yang sudah matang, dicuci, dibelah dan diperas. Hasil perasan ditambah dengan 1
gelas air matang panas dan diberi gula pasir secukupnya, setelah dingin diminum sekaligus.

Komposisi : buah dan daun mengandung alkaloida, saponin dan polifenol (Sastroamidjojo, 1988)

Gambar 2 Jeruk kingkit (sumber : http://www.gambargoogle.com)

Jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle)


Sinonim :–

Familia : Rutaceae

Daerah asal tumbuhan : Indo Cina

Nama lokal : Lime (Inggris), lima (Spanyol), limah (Arab), jeruk nipis (Indonesia), jeruk
pecel (Jawa), limau asam (Sunda), kelangsa (Aceh).

Habitus : Jeruk nipis termasuk tumbuhan perdu yang banyak memiliki dahan dan ranting.
Batang pohonnya berkayu ulet dan keras. Sedang permukaan kulit luarnya berwarna tua dan
kusam. Tanaman yang berumur 2,5 tahun sudah mulai berbuah. Bunganya berukuran kecil-kecil
berwarna putih dan buahnya berbentuk bulat sebesar bola pingpong berwarna (kulit luar) hijau
atau kekuning-kuningan. Buah yang sudah tua rasanya asam. Tanaman jeruk umumnya
menyukai tempat-tempat yang dapat memperoleh sinar matahari langsung. Tanaman ini dapat
diperbanyak secara cangkok dan okulasi.

Nama daerah : Lime (Inggris), lima (Spanyol), limah (Arab), jeruk nipis (Indonesia), jeruk pecel
(Jawa), limau asam (Sunda).

Khasiat : amandel, malaria, ambeien, sesak napas, influenza, batuk, sakit panas,
sembelit,terlambat haid, perut mules saat haid, disentri, mual, lelah, bau badan, keriput wajah.
Kandungan kimia : buah jeruk nipis mengandung saponin, flavonoida dan minyak atsiri
(Widyaningrum, 2011; Napitupulu, 2015; Thomas, 1989; Sastroamidjojo, 1988; Depkes, 2001)
Gambar 3 Jeruk nipis (sumber : http://www.gambargoogle.com)

Jeruk kates (Atalantia missionis Oliv.)

Sinonim :–

Famili : Rutaceae

Habitus : pohon, tinggi 2-4 m. Batang : tegak, berkayu, dilindris, berduri, percabangan
simpodial, hijau kotor. Daun : tunggal, tersebar, lonjong, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal
runcing, pertulangan menyirip, tangkai silindris, panjang ± 2 cm, hijau. Bunga : tunggal,
berkelamin dua, kelopak bentuk cawan melengkung terbagi lima, benang sari silindris, putik
silindris, kepala putik bentuk mangkok, mahkota bentuk tabung, kuning. Buah : buni, lonjong,
diameter ± 6 cm, hijau. Biji : bulat telur, kuning keputih-putihan. Akar : tunggang, putih kotor.

Nama daerah : jeruk kates (Jawa)

Khasiat : daun jeruk kates berkhasiat sebagai obat sakit kepala/pening, kulit buahnya
untuk selai. Untuk obat sakit kepala/pening dipakai ± 10 gram daun segar, dicuci, direbus dengan
1 gelas air selama 15 menit, dinginkan dan disaring. Hasil saringan diminum sekaligus.

Komposisi : daun dan kulit jeruk kates mengandung saponin dan polifenol, disamping itu
daunnya juga mengandung minyak atsiri (Widyaningrum, 2011).
Gambar 4 Jeruk kates (sumber : http://www.gambargoogle.com)

Jeruk purut (Citrus hystrix DC.)

Sinonim : C. paeda Miq.

Familia : Rutaceae

Jeruk purut banyak ditanam di pekarangan atau di kebun-kebun. Daunnya merupakan daun
majemuk menyirip beranak daun satu. Tangkai daun sebagian melebar menyerupai anak daun.
Helaian anak daun berbentuk bulat telur sampai lonjong, pangkal membundar atau tumpul, ujung
tumpul sampai meruncing, tepi beringgit, panjang 8-15 cm, lebar 2-6 cm, kedua permukaan licin
dengan bintik-bintik kecil berwarna jernih, permukaan atas warnanya hijau tua agak mengkilap,
permukaan bawah hijau muda atau hijau kekuningan, buram, jika diremas baunya harum.
Bunganya berbentuk bintang, berwarna putih kemerah-merahan atau putih kekuning-kuningan.
Bentuk buahnya bulat telur, kulitnya hijau berkerut, berbenjol-benjol, rasanya asam agak pahit.
Jeruk purut sering digunakan dalam masakan, pembuatan kue atau dibuat manisan.

Nama daerah : Unte mukur, unte pangir (Batak), lemau purut, lemau sarakan (Lampung), lemau
puruik (Minangkabau), dema kafalo (Nias), limau purut, jeruk wangi, jeruk purut (Sunda, Jawa),
jeruk linglang, jeruk purut (Bali), mude matang busur, mude nelu (Flores).

Bagian yang digunakan : buah dan daun

Khasiat : daun jeruk purut berkhasiat stimulan dan penyegar. Kulit buah berkhasiat
stimulan, berbau khas aromatik, rasanya agak asin, kelat dan lama kelamaan agak pahit. Buahnya
digunakan untuk mengatasi influenza, badan terasa lelah, mengharumkan kulit kepala, kulit
bersisik dan mengelupas, badan letih dan lemah sehabis sakit parah (Sastroamidjojo, 1988;
Widyaningrum, 2011; Thomas, 1989; Hidayat & Napitupulu, 2015)

Gambar 5 Jeruk purut (sumber : http://www.gambargoogle.com)

Jeruk sitrun (Citrus medica L.)

Sinonim :–

Familia : Rutaceae
Habitus : pohon, tinggi ± 3-4 m. Batang : tegak, bulat, percabangan simpodial, berduri,
hijau. Daun : tunggal, berseling, lonjong, tepi rata, ujung dan pangkal meruncing, panjang 7-8
cm, lebar 4-5 cm, tangkai silindris, panjang 0,5-1 cm, hijau, pertulangan menyirip, hijau. Bunga :
majemuk, di ujung batang dan di ketiak daun, tangkai segitiga, panjang 1-1,5 cm, hijau, kelopak
bentuk bintang, hijau, benang sari panjang ± 1,5 cm, kepala sari bentuk ginjal, kuning, tangkai
putik silindris, panjang 1 cm, kepala putik bulat, kuning, mahkota lima helai, bentuk bintang,
putih kekuningan. Buah : buni, bulat panjang, diameter 6-8 cm, kuning kehijauan. Biji : bulat
telur, berkerut, putih. Akar : tunggang, kuning.

Nama daerah : jeruk honje (Sunda), jeruk sitrun (Jawa).

Khasiat : air daging buah berkhasiat sebagai obat demam, obat sakit tenggorokan dan
untuk minuman penyegar.

Komposisi : daun, kulit buah dan kulit batang mengandung saponin dan polifenol, disamping
itu buahnya juga mengandung flavonoida, daun dan kulit buahnya mengandung minyak atsiri
(Widyaningrum, 2011)

Gambar 6 Jeruk sitrun (sumber : http://www.gambargoogle.com)


Jeruk lemon (Limonia acidissima Auct. Non L.)

Sinonim : Feronia limonia (L.) Swingle; F.elephantum Corr.

Familia : Rutaceae

Habitus : perdu, tinggi ± 5 m. Batang : tegak, berkayu, bulat, berduri, percabangan


simpodial, putih kotor. Daun : majemuk, berseling, lonjong, ujung runcing, pangkal meruncing,
tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 5-6 cm, lebar 3-4 cm, hijau. Bunga : majemuk, bentuk
tandan, kelopak bertaju, benang sari lima, merah muda. Buah : buni, bulat, hijau. Biji : pipih,
lonjong, putih. Akar : tunggang, coklat.

Khasiat : buah berkhasiat sebagai obat batuk dan sariawan.

Komposisi : buah dan daun mengandung saponin, selain itu daunnya juga mengandung
flavonoida dan batangnya mengandung polifenol (Sastroamidjojo, 1988)

Gambar 7 Jeruk lemon (sumber : http://www.gambargoogle.com)

Jeruk bali (Citrus maxima Merr.)

Sinonim : Citrus decumana Linn; C. grandis (L.) Osbeck

Nama umum : jeruk bali

Nama daerah : Boh giri (Aceh), limau gadang (Minangkabau), limau balak (Lampung), dima
kasumba (Nias), limau besar (Melayu); jeruk delima (Sunda), jeruk bali (Jawa Tengah), jeruk
macan (Madura); jeruk muntis (Bali); limau gulong (Dayak); mundeh (Flores); lemo maluku
(Makasar), lemo rakulu (Bugis); lemo lolamo (Ternate), jodi lamo (Tidore).

Habitus : perdu, tinggi 5-15 m. Batang : berkayu, tegak, bulat, bercabang, hijau
kecoklatan. Daun : tunggal, bulat telur atau ellips, ujung meruncing, tepi rata, pangkal membulat,
panjang 5-20 cm, lebar 2-5 cm, pertulangan menyirip, hijau. Bunga : tunggal, bentuk tabung, di
ketiak daun, kelopak bentuk piala, putih kekuningan atau hijau kekuningan, benang sari silindris,
putih, putk silindris, hijau muda, mahkota putih kekuningan, putih. Buah : buni, kulit tebal 1 ½ -
2 cm, berdaging putih atau merah hijau. Biji : bulat telur atau ellips, panjang 7-10 mm, tebal 5-7
mm, putih kekuningan. Akar : tunggang, putih kekuningan.

Khasiat : kulit buah berkhasiat sebagai obat luka, sedangkan bijinya berkhasiat sebagai
obat pusing. Untuk obat luka dipakai ± 5 gram serbuk kulit buah jeruk bali, dibakar menjadi
arang ditumbuk halus, serbuk yang diperoleh ditaburkan pada luka.

Kandungan kimia : daging buah mengandung saponin, flavonoida dan minyak atsiri
(Depkes, 2001)

Gambar 8 Jeruk bali (sumber : http://www.gambargoogle.com)

https://botaniblog.wordpress.com/2016/01/29/family-rutaceae/

https://ratnahairani90.wordpress.com/2014/11/13/taksonomi-tumbuhan-tingkat-tinggi/