You are on page 1of 5

 MUHAMAD ASHABIL QULUB

 J1A016066/ITP GENAP 2016

OKSIDI – REDUKTOMETRI

Oksidi-reduktometri merupakan salah satu macam titrasi. Oksidi-reduktometri


adalah metode titrimetri berdasarkan reaksi reduksi dan oksidasi dari titran dan titrat.
Oksidi-reduktometri digunakan untuk analisis logam dalam suatu persenyawaan dan
analisis senyawa organik (Harvey 2000). Oksidimetri adalah teknik titrasi yang
menggunakan titran sebagai suatu oksidator. Salah satu teknik ini adalah
permanganometri. Pada metode ini, titran yang digunakan adalah ion permanganat,
khususnya dalam bentuk garam kalium permanganat.

Ion permanganat bertindak sebagai oksidator dengan hasil reaksi berupa ion
Mn2+ (Skoog et al 2002). Metode ini biasa diterapkan pada proses bleaching lemak,
minyak, kapas, sutera, dan serat lainnya. Permanganometri sering digunakan karena
ion permanganat yang memiliki kemampuan berubah warna sehingga bisa dijadikan
sebagai indikator reaksi. Selain itu, harga permanganat juga masih relatif murah
(Patnaik 2004). Selain permanganometri, contoh lain dari oksidimetri adalah metode ion
cerium(IV).

Dalam permanganometri digunakan KMnO4 yang ada pada praktikum ini hanya
dalam suasana asam sebagai titran. Tidak digunakan indicator, sebab titik akhir sudah
dapat kelihatan dari perubahan warna yang disebabkan oleh setetes kelebihan titran.
KMnO4 bertindak sebagai oksidator, maka bahan yanag dititrasi haruslah suatu bahan
yang mereduksi (dapat dioksidasi) dan bahan dapat dianalisa secara titrasi dengan
KMnO4, jika bahan itu dapat dioksidasi atau dapat diubah menjadi bentuk yang dapat
dioksidasi. Dalam Susana asam KMnO4 direduksi menjadi Mn2+, asam yang
dipergunakan H2S04. HCl tidak dapat dipakai, sebab CI- juga dapat dioksidasi oleh
KMnO4, menjadi CI2.
Reduktometri adalah teknik titrasi yang menggunakan titran sebagai suatu
reduktor. Salah satu teknik ini adalah iodometri. Iodometri dibedakan menjadi iodometri
langsung dan iodometri tidak langsung (Harvey 2000). Pada iodometri langsung, I2
langsung digunakan sebagai titran dan bahan yang dianalisis digunakan sebagai titrat.
Iodometri tidak langsung adalah metode titrasi berdasarkan reduksi zat analat oleh ion
iodium sehingga timbul I2. I2 kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat dan ditentukan
jumlahnya. Ion tiosulfat yang bereaksi dengan iodin membentuk ion tetrationat (S4O82-)
(Rouessac 2007). Keunggulan tiosulfat yang dipakai adalah tidak mudah teroksidasi
oleh udara. Baik iodometri langsung maupun iodometri tidak langsung menggunakan
amilum sebagai indikator perubahan warna.

Titrasi oksidi-reduktometri merupakan teknik titrasi yang melibatkan perpindahan


elektron dengan pelibatan unsur yang mengalami perubahan tingkat oksidasi
(Darusman 2001). Titrasi I2 dan natrium sulfat merupakan salah satu teknik yang
menggunakan prinsip reduktometri. Iodometri dapat pula digunakan dalam analisis
kuantitatif kandungan vitamin C karena I2 dapat mengoksidasi vitamin C. Vitamin C
adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk
menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya
yaitu asam askorbat. Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178
dengan rumus molekul C6H8O6.

Dalam bentuk kristal tidak berwarna, titik cair 190-192--- C bersifat larut dalam air
sedikit larut dalam aseton atau alkohol yang mempunyai berat molekul rendah. Vitamin
C sukar larut dalam kloroform, ether dan benzen. Vitamin C dengan logam akan
membentuk garam. Sifat asam ditentukan oleh ionisasi enolgroup pada atom C nomor
3. Pada pH rendah vitamin C lebih stabil daripada pH tinggi. Vitamin C mudah
teroksidasi apabila terdapat katalisator Fe, Cu, enzim askorbat oksidase, sinar dan
temperatur yang tinggi. Larutan encer vitamin C pada pH kurang dari 7,5 masih stabil
apabila tidak ada katalisator. Oksidasi vitamin C akan terbentuk asam dehidroasam
askorbat. Vitamin C termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi
oleh panas, cahaya, dan logam, oleh karena itu penggunaaan vitamin C sebagai
antioksidan semakin sering dijumpai. Kebutuhan vitamin C yang diperlukan tiap orang
setiap harinya 45 sampai 95 mg/hari (Sudarmadji 2003).

Semakin banyak volume iodin 0,01 N yang digunakan dalam titrasi maka akan
semakin tinggi pula kadar vitamin C yang dihasilkan. Stabilitas vitamin C tablet
dipengaruhi oleh jenis kemasan tablet, semakin baik suatu kemasan melindungi vitamin
C dari udara yang bisa menyebabkan oksidasi maka stabilitas vitamin C akan semakin
terjaga. Factor lama penyimpanan tablet juga berpengaruh terhadap kadar vitamin C
tablet (Oyetade et al, 2012).

Permanganometri merupakan metode titrasi dengan menggunakan kalium


permanganat, yang merupakan oksidator kuat sebagai titran untuk penetapan kadar zat.
Titrasi ini didasarkan pada reaksi oksidasi ion permanganat. Permanganat bereaksi
secara beraneka, karena mangan dapat memiliki keadaan oksidasi +2, +3, +4, +6, dan
+7. Oksidasi ini dapat berlangsung dalam suasana asam, netral dan alkalis.

Kalium permanganat dapat bertindak sebagai indikator, dan umumnya titrasi


dilakukan dalam suasana asam karena akan lebih mudah mengamati titik akhir
titrasinya. Namun ada beberapa senyawa yang lebih mudah dioksidasi dalam suasana
netral atau alkalis contohnya hidrasin, sulfit, sulfida, sulfida dan tiosulfat (Matasak,
2012).

Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara
KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari
seratus tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat
dioksidasi seperti Fe+, asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya
(Rahayu,2012).Pada percobaan tersebut akan dilakukan metode titrasi redoks
menggunakan kalium permanganat (KMnO4) untuk menentukan kadar Fe dalam
sampel. Melalui percobaan ini, diharapkan praktikan mampu memahami dan mengerti
cara penentuan kadar konsentrasi suatu larutan dengan tepat serta perhitungan yang
didasarkan dengan prinsip stokiometri dari reaksi kimia di mata kuliah kimia analisa ini.

Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh


kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi
yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan KMnO4 sudah
dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung
atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe+, asam atau garam oksalat yang dapat larut
dan sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak
langsung dengan permanganometri seperti:

1.Ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat.
Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga
terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi
dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan.

2.Ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah


disaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO4
berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebutdan sisanya dapat ditentukan
banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4.

Prinsip dari titrasi permanganometri adalah berdasarkan reaksi oksidasi dan


reduksi.Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi redoks. Dalam
reaksi ini, ion MnO4- bertindak sebagai oksidator. Ion MnO4- akan berubah menjadi ion
Mn2+ dalam suasana asam. Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk menentukan kadar
oksalat atau besi dalam suatu sampel.Pada permanganometri, titran yang digunakan
adalah kalium permanganat. Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak
memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat encer serta telah
digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Setetes
permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas kepada volume larutan
dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi.Kalium
permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau sebagai
arsen (III) oksida standar-standar primer. Reaksi yang terjadi pada proses pembakuan
kalium permanganat menggunakan natrium oksalat adalah:

5C2O4- + 2MnO4- + 16H+ → 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O

Akhir titrasi ditandai dengan timbulnya warna merah muda yang disebabkan
kelebihan permanganat (Rahayu, 2012).
DAFTAR PUSTAKA

Darusman L K. 2001. Diktat Kimia Analitik 1 jilid 1. Bogor: Departemen Kimia FMIPA-
IPB.

Harvey David. 2000. Modern Analytical Chemistry. New York: McGraw-Hill Comp.

Matasak, Jerwyyiana. 2012. Permanganometri. http://jeforanal.com/.( Diakses pada


tanggal 22 Maret 2014).

Oyetade, O.A, et al. Stability Studies on Ascorbic Acid (Vitamin C) from different
sources. IOSR Journal of Applied Chemistry, Vol.2, No. 4, September-Oktober 2012.

Patnaik Pradyot. 2004. Dean’s Analytical Chemistry Handbook. Second Edition. New
York: McGraw-Hill Comp.

Rouessac Francis, Annick Rouessac. 2007. Chemical Analysis: Modern Instrumentation


Methods and Techniques. Second Edition. West Sussex: John Wiley & Sons, Ltd.

Rahayu, Mira. 2012. Titrasi Permanganometri. http://mira-rahayu.com/. Diakses pada


tanggal 23 Maret 2014.

Skoog Douglas et al. 2002. Fundamentals of Analytical Chemistry. Eight Edition.


Canada: Thomson Learning.

Sudarmadji, dkk. 2003. Analisa Bahan Makanan Dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty.

Tarwotjo C.S. 1998. Dasar-dasar Gizi Kuliner. Jakarta: Grasindo