You are on page 1of 10

MAKALAH SISTEM IMUN DAN HEMATOLOGI

Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)

Fasilitator:

Iis Fatimawati S.Kep., Ns., M.Kes

Oleh:

Febriansyah Wahyu Iromi

1510015

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANGTUAH SURABAYA

2017
1. Definisi

Disseminated Intravascular Coagulation adalah gangguan dimana terjadi


koagulasi atau fibrinolisis (destruksi bekuan). DIC dapat terjadi pada sembarang
malignansi, tetapi yang paling umum berkaitan dengan malignansi hematologi seperti
leukemia dan kanker prostat, traktus GI dn paru-paru. Proses penyakit tertentu yang
umumnya tampak pada pasien kanker dapat juga mencetuskan DIC termasuk sepsis,
gagal hepar dan anfilaksis. ( Brunner & Suddarth, 2002).

Koagulasi intravaskular (DIC) adalah kondisi di mana gumpalan darah


terbentuk di seluruh pembuluh darah kecil dalam tubuh. Ini adalah gangguan yang
diperoleh dari pembekuan darah yang dihasilkan dari trauma yang berlebihan atau
stimulus yang mendasari serupa. Gumpalan darah ini dapat mengurangi atau
memblokir aliran darah melalui pembuluh darah, yang dapat merusak organ-organ
tubuh (Antipuesto,2015).

Disseminated Intravascular Coagulation adalah penyakit faktor pembekuan


dalam tubuh berkurang sehingga terbentuk bekuan-bekuan darah yang tersebar di
seluruh pembuluh darah. (Elizabeth J. Corwin)
Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) adalah suatu keadaan dimana
bekuan-bekuan darah kecil tersebar di seluruh aliran darah, menyebabkan penyumbatan
pada pembuluh darah kecil dan berkurangnya faktor pembekuan yang diperlukan untuk
mengendalikan perdarahan. Dasarnya adalah pembentukan bekuan darah dalam
pembuluh darah kapiler, diduga karena masuknya tromboplastin jaringan kedalam
darah, dan fibrinolisis
Disseminated intravascular coagulation (DIC) atau koagulasi intravaskuler
desininata (KID) adalah sindrom yang ditandai oleh aktivasi sistemik koagulasi, yang
menyebabkan trombosis mikrovaskuler luas yang menganggu perfusi organ dan dapat
berakibat kegagalan organ. Aktivasi berkelanjutan koagulasi mungkin akan kehabisan
trombosit dan faktor-faktor koagulasi, sehingga dalam keadaan hypocoagulable dan
pendarahan, khususnya pada pasien berisiko untuk kehilangan darah, seperti pasien
bedah. DIC merupakan proses yang kompleks dan dinamis, trombosis dan perdarahan
dapat terjadi secara terpisah atau bersamaan, dan karakteristik klinis beragam gangguan
ini membuat diagnosis dan manajemen menantang (Susan G. Hackner).
DIC adalah penyakit dimana faktor pembekuan dalam tubuh berkurang sehingga
terbentuk bekuan-bekuan darah yang tersebar di seluruh pembuluh darah.

2. Etiologi
Beragam penyakit dapat menyebabkan DIC, dan secara umum melalui salah satu dari
dua mekanisme berikut.
 Respon inflamsi sitemik, menyebabkan aktivasi jaringan sitokin dan
selanjutnya mengaktivasi proses koagulasi (contoh: sepsis atau trauma mayor)
 Pelepasan atau paparan materi prokoagulan ke dalam aliran darah (contoh: pada
kanker, injury otak atau kasus obstetrik)
 Pada situasi tertentu, dapat muncul kedua manifestasi tersebut (contoh: trauma
mayor atau pankretitis nekrotik).
Penyakit- penyakit yang menjadi faktor predisposisi DIC adalah sebagai berikut:

 Infeksi (demam berdarah dengue, sepsis, meningitis, pneumonia berat, malaria


tropika, infeksi oleh beberapa jenis riketsia). Dimana bakteri melepaskan
endotoksin (suatu zat yang menyebabkan terjadinya aktivasi pembekuan)
 Komplikasi kehamilan (solusio plasenta, kematian janin intrauterin, emboli
cairan amnion).
 Setelah operasi ( operasi paru, by pass cardiopulmonal, lobektomi, gastrektomi,
splenektomi).
 keganasan ( karsinoma prostat, karsinoma paru, leukimia akut).
 Penyakit hati akut (gagal hati akut, ikterus obstruktif).
 Trauma berat terjadi palepasan jaringan dengan jumlah besar ke aliran
pembuluh darah. Pelepasan ini bersamaan dengan hemolisis dan kerusakan
endotel sehingga akan melepaskan faktor-faktor pembekuan darah dalam
jumlah yang besar kemudian mengaktivasi pembekuan darah secara sistemik.

3. Manifestasi klinis
Terdapat keadaan yang bertentangan yaitu trombosis dan perdarahan bersama
sama. Perdarahan lebih umum terjadi dari pada trombosis, tetapi trombosis
mendominasi bila koagulasi lebih teraktivasi dari pada fibrinolisis. Perdarahan dapat
terjadi dimana saja. Perhatikan terutama bila terjadi perdarahan spontan dan hematoma
pada luka atau pengambilan darah vena.
Gejala yang sering timbul pada klien DIC adalah sebagai berikut:
 Perdarahan dari tempat – tempat pungsi, luka, dan membran mukosa pada klien
dengan syok, komplikasi persalinan, sepsis atau kanker.
 Perubahan kesadaran yang mengindikasikan trombus serebral.
 Distensi abdomen yang menandakan adanya perdarahan saluran cerna.
 Sianosis dan takipnea akibat buruknya perfusi dan oksigenasi jaringan.
 Hematuria akibat perdarahan atau oliguria akibat menurunnya perfusi ginjal.

4. Pemeriksaan penunjang
DIC adalah suatu kondisi yang sangat kompleks dan sangat sulit untuk
didiagnosa. Tidak ada single test yang digunakan untuk mendiagnosa DIC. Dalam
beberapa kasus, beberapa tes yang berbeda digunakan untuk diagnose yang akurat. Tes
yang dapat digunakan untul mendiagnosa DIC termasuk:
 D-dimer
Tes darah ini membantu menentukan proses pembekuan darah dengan mengukur
fibrin yang dilepaskan. D-dimer pada orang yang mempunyai kelainan biasanya
lebih tinggi dibanding dengan keadaan normal.
 Prothrimbin Time (PTT)
Tes darah ini digunakan untuk mengukur berapa lama waktu yang diperlukan dalam
proses pembekuan darah. Sedikitnya ada belasan protein darah, atau factor
pembekuan yang diperlukan untuk membekukan darah dan menghentikan
pendarahan. Prothrombin atau factor II adalah salah satu dari factor pembekuan
yang dihasilkan oleh hati. PTT yang memanjang dapat digunakan sebagai tanda dari
DIC.
 Fibrinogen
Tes darah ini digunakan untuk mengukur berapa banyak fibrinogen dalam darah.
Fibrinogen adalah protein yang mempunyai peran dalam proses pemnekuan darah.
Tingkant fibrinogen yang rendah dapat menjadi tanda DIC. Hal ini terjadi ketika
tubuh menggunakan fibrinogen lebih cepat dari yang diproduksi.
 Complete Blood Count (CBC)
CBC merupakan pengambilan sampel darah dan menghitung jumlah sel darah
merah dan sel darah putih. Hasil pemeriksaan CBC tidak dapat digunakan untuk
mendiagnosa DIC, namun dapat memberikan informasi seorang tenaga medis untuk
menegakkan diagnose.
 Hapusan Darah
Pada tes ini, tetes darah adalah di oleskan pada slide dan diwarnai dengan pewarna
khusus. Slide ini kemudian diperiksa dibawah mikroskop jumlah, ukuran dan
bentuk sel darah merah, sel darah putih,dan platelet dapat di identifikasi. Sel darah
sering terlihat rusak dan tidak normal pada pasien dengan DIC.

Skor Tes Pembekuan


Scoring system untuk DIC diajukan oleh ISTH
(International Society on thrombosis and Hemostasis)
Skor atau Skala 0 1 2 3
Jumlah Platelet >100 <100 <50
(x109/L)
PT (detik) <3 >3 but <6 ≥6
Fibrinogen(g/L) >1 <1
Fibrin-related Tidak Meningkat Peningkatan
markers* meningkat sedang yang tajam
(meningkat)
TOTAL Jika ≥5, overt DIC- tes diulang setiap hari. Jika <5, non-overt DIC
– tes diulang 1-2 hari setelah tes pertama dilakukan.
*jalan pintas dari penilaian fibrin yang berhubungan dengan penanda yang
ditegakkan untuk tes spesifik.
(diadaptasi dari Franchini, et al., 2006, 6)
5. Komplikasi
Bekuan yang banyak terbentuk akan menyebabkan hembatan aliran darah di semua
organ tubuh. Dapat terjadi kegagalan organ yang luas. Angka kematian lebih dari 50%.
 Acute respiratory distress syndrome (ARDS)
 Penurunan fungsi ginjal
 Gangguan susunan saraf pusat
 Gangguan hati
 Ulserasi mukosa gastrointestinal: perdarahan
 Peningkatan enzyme jantung: ischemia, aritmia
 Purpura fulminan
 Insufisiensi adrenal

6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada DIC dirpriorittaskan mengobati penyakit yang mendasari
terjadinya DIC
 Antikogulan
Secara teoritis pemberian antikoagulan heparin akan menghentikan proses
pembekuan, baik yang disebabkan oleh infeksi maupun oleh penyebab lain.
 Plasma dan trombosit
Pemberian baik plasma maupun trombosit harus bersifat selektif. Trombosit
diberikan hanya kepada pasien DIC dengan perdarahan atau pada prosedur
invasive dengan kecenderungan perdarahan.
 Penghambat pembekuan (AT III)
Pemberian AT III dapat bermanfaat bagi pasien KID, meski biaya pengobatan
ini cukup mahal. Direkomendasikan sebagai terapi substitusi bila AT III<70%
 Obat-obat antifibrinolitik
7. Asuhan Keperawatan Teori
a. Pengkajian
Adanya faktor-faktor predisposisi:
o Septicemia (penyebab paling umum)
o Komplikasi obstetric
o SPSD (sindrom distress pernafasan dewasa)
o Luka bakar berat dan luas
o Neoplasia
o Gigitan ular
o Penyakit hepar
o Beda kardiopulmonal
o Trauma
b. Pemeriksaan fisik:
Perdarahan abnormal pada semua system dan pada sisi prosedur invatif
 kulit dan mukosa membrane
 Perembesan difusi darah atau plasma
 Bula hemoragi
 Hemoragi subkutan
 Hematoma
 Luka bakar karena plester sianosis akral ( estrimitas berwarna
agak kebiruan, abu –abu, atau ungu gelap )
 sistem GI
 Mual dan muntah
 Uji guayak positif pada emesis atau aspirasi
 Nasogastrik dan feses
 Nyeri hebat pada abdomen
 Peningkatan lingkar abdomen
 sistem ginjal
 Hematuria
 Oliguria
 sistem pernafasan
 Dispnea
 Takipnea
 Sputum mengandung darah
 sistem kardiovaskuler
 Hipotensi meningkat dan postural
 Frekuensi jantung meningkat
 Nadi perifer tidak teraba
 sistem saraf perifer
 Perubahan tingkat kesadaran
 Gelisah
 Ketidaksadaran vasomotor
 Sistem muskuloskeletal
 Nyeri : otot,sendi,punggung
 Perdarahan sampai hemoragi
 Insisi operasi
 Uterus post partum
 Fundus mata perubahan visual
 Pada sisi prosedur invasif: suntikan, IV, kateter arteral dan selang
nasogastrik atau dada, dll.
 Kerusakan perfusi jaringan
 Serebral : perubahan pada sensorium, gelisah, kacau mental, sakit kepala
 Ginjal : penurunan pengeluaran urin
 Paru : dispnea dan orthopnea
 Kulit : akrosianosis ( ketidakteraturan bentuk bercaksianosis pada lengan
perifer dan kaki )

c. Diagnosa Keperawatan
 Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan
hemoragi sekunder.
 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan meningkatnya tingkat
ansietas dan adanya pembekuan darah.
 Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan
d. Intervensi Keperawatan
DX: Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan
hemoragi sekunder.

Hasil yang diharapkan:


 Menunjukan tidak ada manifestasi syok
 Menunjukan pasien tetap sadar dan berorientasi
 Menunjukan tidak ada lagi perdarahan
 Menunjukan nilai-nilai laboraturium normal
Intervensi:
 Pantau hasil pemeriksaan koagulasi, tanda-tanda vital dan perdarahan
baru.
 Waspadai perdarahan.
 Kolaborasi pemberian :
o Terapi heparin  perhatikan pembentukan tanda-tanda antibodi
antitrombosit oleh penurunan tiba - tiba dari jumlah trombosit.
o Berikan transfusi darah sesuai dengan prosedur dan evaluasi
dengan ketat terhadap manifestasi reaksi transfusi. Hentikan
transfusi bila terjadi reaksi.
 Jelaskan tentang semua tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan
yang akan dilakukan
 Lakukan pendekatan secara tenang dan beri dorongan untuk bertanya
serta berikan informasi yang dibutuhkan dengan bahasa yang jelas.

DX: Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan meningkatnya tingkat


ansietas dan adanya pembekuan darah.

Hasil yang diharapkan:

 Kebutuhan oksigen klien terpenuhi

Intervensi:

 Posisikan klien agar ventilasi udara efektif.


 Berikan oksigen dan pantau responnya.
 Lakukan pengkajian pernapasan dengan sering
 Kurangi kebutuhan oksigen dengan menurangi aktivitas yang berlebih
 Kendalikan stimulus dari lingkungan

DX: Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan


Hasil yang diharapkan:
 Rasa nyeri yang dialami klien berkurang
Intervensi:
 Kaji lokasi, kualitas dan intensitas nyeri, gunakan skala tingkat nyeri
 Baringkan klien pada posisi yang nyaman, berikan penyangga bantal
untuk mencegah tekanan pada bagian-bagian tubuh tertentu
 Bantu memberikan perawatan ketika klien mengalami perdarahan
hebat atau rasa tidak nyaman.
 Pertahankan lingkungan yang nyaman
 Berikan waktu istirahat yang cukup, buat jadwal aktivitas dan
pemeriksaan diagnostik, bila memungkinkan, sesuaikan dengan
toleransi klien