You are on page 1of 9

A.

Pengertian Manajemen Dana


Menurut Kuncoro dan Suhardjono mengatakan bahwa “Dana bank adalah semua
utang dan modal yang tercatat pada neraca bank sisi pasiva yang dapat dipergunakan sebagai
modal operasional bank dalam rangka kegiatan penyaluran/penempatan dana.”1[1]
Menurut Rachmat Firdaus menjelaskan bahwa: “Dana bank adalah uang tunai yang
dimiliki bank ataupun aktiva lancar yang dikuasai bank dan setiap waktu dapat
diuangkan.”2[2]
Menurut Malayu S.P. mengemukakan bahwa : “Dana Bank adalah sejumlah uang
yang dimiliki dan dikuasai suatu bank dalam kegiatan operasionalnya”3[3]
Disimpulkan bahwa Manajemen Dana Bank (Bank Found Management) adalah ilmu
dan seni mengatur proses penarikan dan pengumpulan dana yang optimal dan dengan cost of
money (biaya uang) yang wajar.. Bagi bank, manajemen dana bank adalah bagaimana
memilih dan mengelola sumber dana yang tersedia. Bagi bank pengelola sumber dana dari
masyarakat luas, terutama dalam bentuk simpanan.

B. Sumber-sumber Dana Bank


Sumber-sumber dana bank adalah usaha bank dalam menghimpun dana untuk
membiayai operasinya. Hal ini sesuai dengan fungsinya bahwa bank adalah lembaga
keuangan di mana kegiatan sehari-harinya adalah dalam bidang jual beli uang. Tentu saja
sebelum menjual uang (memberikan pinjaman) bank harus lebih dulu membeli uang
(menghimpun dana) sehingga dari selisih bunga tersebutlah bank mencari keuntungan.
Adapun sumber-sumber dana bank adalah sebagai berikut.4[4]
1) Dana yang bersumber dari bank itu sendiri
Sumber dana ini merupakan sumber dana dari modal sendiri. Modal sendiri maksudnya
adalah modal setoran dari para pemegang sahamnya. Apabila saham belum habis terjual,
sedangkan kebutuhan dana masih perlu, maka pencariannya dapat dilakukan dengan menjual
saham kepada pemegang saham lama. Akan tetapi, jika tujuan perusahaan untuk melakukan
ekspansi, maka perusahaan dapat mengeluarkan saham baru dan menjual saham baru tersebut
di pasar modal. Di samping itu, pihak perbankan dapat pula menggunakan cadangan-
cadangan laba yang belum digunakan.
Secara garis besar dapat disimpulkan pencarian dana sendiri terdiri dari:
a) Setoran modal dari pemegang saham
b) Cadangan-cadangan laba pada tahun lalu yang tidak dibagi kepada para pemegang
sahamnya.
c) Laba bank yang belum dibagi, merupakan laba yang memang belum dibagikan pada tahun
yang bersangkutan sehingga dpat dimanfaatkan sebagai modal untuk sementara waktu.
Keuntungan dari sumber dana sendiri adalah tidak perlu membayar bunga yang relatif lebih
besar daripada jika meminjam ke lembaga lain.
2) Dana yang berasal dari masyrakat luas
Asal dapat memberikan bungan dan fasilitas menarik lainnya menarik dana dari sumber ini
tidak terlalu sulit. Akan tetapi, pencarian sumber dana dari sumber ini relatif lebih mahal jika
dibandingkan dana sendiri. Adapun sumber dana dari masyarakat luas dapat dilakukan dalam
bentuk:
a) Simpanan giro
b) Simpanan tabungan
c) Simpanan deposito
Dari ketiga simpanan tersebut yang memberikan keuntungan lebih banyak untuk nasabah
adalah simpanan deposito. Sedangkan simpanan giro merupakan simpanan yang paling
sedikit memberikan keuntungan bagi nasabah.
3) Dana yang bersumber dari lembaga lainnya
Sumber dana yang ketiga ini merupakan tmbahan jika bank mengalami kesulitan dalam
pencarian sumber dan pertama dan kedua. Dana yang diperoleh dengan sumber ini digunakan
untuk membiayai atau membayar transaksi-transaksi tertentu. Perolehan sumber dana dari
sumber ini antara lain dapat diperoleh dari:
a) Kredit likuiditas dari Bank Indonesia, merupakan kredit yang diberikan Banka Indonesia
kepada bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditasnya.
b) Pinjaman anatarbank (call money) biasanya pinjaman ini diberikan kepada bank-bank yang
mengalami kalah kliring di dalam lembaga kliring. Pinjaman ini bersifat jangka pendek
dengan hunga yang relatif tinggi.
c) Pinjaman dari bank-bank luar negeri, merupakan pinjaman yang diperoleh oleh perbankan
dari pihak luar negeri
d) Surat Berharga Pasar Uang (SPBU). Dalam hal ini pihak perbankan menerbitkan SPBU
kemudian diperjualbelikan kepada pihak yang berminat, baik perusahaan keuangan maupun
non keuangan.

C. Pengertian Manajemen Pengalokasian Dana


Definisi pengalokasian dana adalah menjual kembali dana yang diperoleh dari
penghimpunan dana dalam bentuk simpanan. Tujuan bank dari pengalokasian dana adalah
memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Dalam mengalokasikan dana pihak
perbankkan membaginya ke dalam prosentase - prosentase tertentu sesuai dengan kondisi
yang terjadi di dalam perekonomian pada saat sekarang ini, misalnya untuk bidang pertanian
diberikan 20% sedangkan untuk bidang industri diberikan 40%.
Dalam hal pengalokasian dananya ke masyarakat pihak perbankkan membebankan
bunga dengan prosentasi tertentu sesuai dengan penetapan harga bunga oleh BI. Untuk saat
tahun 2007 BI menetapkan suku bunga untuk pengalokasian dana kemasyarakat berkisar 1%
per bulan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen pengalokasian dana adalah cara bagaimana
bank menjual kembali dana yang diperoleh dari penghimpunan dana dalam bentuk simpanan.
5[5]
D. Jenis-jenis Manajemen Pengalokasian Dana
1) Primary Reserve (cadangan primer)
Prioritas utama dalam alokasi dana adalah menempatkan dana untuk memenuhi
ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia (sebagai pembina dan pengawas bank). Dana-dana
akan dialokasikan untuk memenuhi ketentuan likuiditas wajib minimum atau disebut juga
giro wajib minimum karena penempatannya berupa giro bank umum pada Bank Indonesia.
Primary reserve merupakan sumber utama bagi likuiditas bank, terutama untuk
menghadapi kemungkingan terjadinya penarikan oleh nasabah bank, baik berupa penarikan
dana masyarakat yang disimpan pada bank tersebut maupun penarikan (pencairan) kredit atau
credit disbursement sesuai dengan kesepakatan yang dibuat antara pihak bank dan debitor
kredit dalam perjanjian kredit yang dibuat di hadapan notaris publik.
Dengan demikian, pembentukan cadangan primer atau primary reserve dimaksudkan
untuk memenuhi ketentuan likuiditas wajib minimum, keperluan operasi bank, semua
penarikan simpanan, dan permintaan pencairan kredit dari nasabah. Di samping itu, cadangan
primer juga digunakan untuk penyelesaian kliring antar bank dan kewajiban-kewajiban bank
lainnya yang harus segera dibayar. Dalam prakteknya, primary reserve adalah dana kas dan
saldo rekening koran bank pada Bank Indonesia dan bank-bank lainnya, serta warkat-warkat
dalam proses penagihan. Komponen-komponen ini sering pula disebut sebagai alat-alat
likuid.
2) Secondary Reserve (cadangan sekunder)
Prioritas kedua di dalam alokasi dana bank adalah penempatan dana-dana ke dalam
noncash liquid asset (aset likuid yang bukan kas) yang dapat memberikan pendapatan kepada
setiap saat dapat dijadikan urang tunai tanpa mengakibatkan kerugian pada bank. Surat-surat
berharga tersebut antara lain :
a) Surat berharga pasar uang atau SBPU
b) Sertifikat Bank Indonesia atau SBI
c) Surat berharga jangka pendek lainnya.
Tujuan utama dari secondary reserve adalah untuk dijadikan sebagai supllement
(pelengkap) atau cadangan pengganti bagi primary reserve. Karena sifatnya yang dapat
menghasilkan pendapatan bagi bank selain berfungsi sebagai cadangan, secondary reserve
dapat memberikan dua manfaat bagi bank, yaitu untuk menjaga likuiditas dan meningkat
profitabilitas bank.
Cadangan sekunder atau secondary reserve digunakan untuk berbagai kepentingan,
antara lain sebagai berikut :
a) Memenuhi kebutuhan likuiditas yang bersifat jangka pendek, seperti penarikan simpanan
oleh nasabah deposan dan pencairan kredit dalam jumlah besar yang telah diperkirakan
b) Memenuhi kebutuhan likuiditas yang segera harus dipenuhi dan kebutuhan-kebutuhan
lainnya yang sebelumnya tidak diperkirakan.
c) Sebagai tambahan apabila cadangan primer tidak mencukupi.
d) Memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek yang tidak diperkirakan dari deposan dan
penarikan (disbursement) dari debitor.
Karena kebutuhan-kebutuhan likuiditas ini tidak semuanya dapat diperkirakan, maka
cadangan sekunder ini ditanaman dalam bentuk surat-surat berharga jangka pendek yang
mudah diperjualbelikan. Di indonesia, instrumen cadangan sekunder dapat berupa Sertifikat
Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SPBU), dan Sertifikat Deposito.
3) Loan Portfolio (Kredit)
Prioritas ketiga dalam alokasi dana bank adalah penyaluran kredit (loan). Dasar
pemikirannya adalah setelah banh mencukupi primary reserve serta kebutuhan secondary
reserve-nya (yang merupakan supllement bagi primary reserve), bank baru dapat menentukan
besarnya volume kredit yang akan diberikan.
Dalam praktek perbankan di Indonesia, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan
yang ditetapkan bank sentral (Bank Indonesia) sebagai pembina dan pengawas bank umum,
penentuan besarnya volume kredit dipengaruhi oleh ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
a) Reserve requirement (RR)
Reserve requirement adalah ketentuan bagi setiap bank umum untuk menyisihkan
sebagian dari dana pihak ketiga yang berhasil dihimpunnya dalam bentuk giro wajib
minimum berupa rekening giro bank yang bersangkutan pada Bank Indonesia. Besarnya RR
telah mengalami perubahan sebagai berikut.
 Sebelum Pakto’88 : sebesar 10%
 Setelah Pakto’88 : sebesar 2%
 Pada tahun 1996 : sebesar 3%
 Sejak tahun 1997 : sebesar 5%
b) Loan to deposit ratio (LDR)
Loan to deposit ratio adalah antara besarnya seluruh volume kredit yang disalurkan
oleh bank dan jumlah penerimaan dana dari berbagai sumber. Berdasarkan ketentuan Bank
Indonesia tanggal 29 Mei 1993, dana yang dihimpun bank dalam penerapan rasio tersebut
adalah dana masyarakat/dana pihak ketiga, kredit likuiditas Bank Indonesia atau KLBI (jika
ada), dan modal inti bank. Dalam penulisan ini, diuraikan bahwa rasio LDR dianggap sebagai
tolok ukur untuk menilai kesehatan suatu bank dilihat dari segi likuiditasnya.
c) Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)
Batas Maksimum Pemberian Kredit adalah ketentuan tentang tidak diperbolehkannya
suatu bank untuk memberikan kredit (baik kepada nasabah tunggal maupun kepada nasabah
grup) yang besarnya melebihi 20% dari besarnya modal bank yang bersangkutan. Ketiga
ketentuan perbankan tersebut sangat berpengaruh terhadap keberanian para eksekutif
perbankan untuk memperbesar volume kreditnya dalam rangka mengejar profitabilitas yang
tinggi. Atas dasar itulah, ketiga (ketentuan) di atas dapat dianggap sebagai patokan likuiditas
bagi bank dalam melakukan prinsip prudential banking (prinsip kehati-hatian bank) dan
sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan bank.
Suatu hal yang patutu diingat adalah bahwa pemberian kredit merupakan aktivitas
bank yang paling utama dalam menghasilkan keuntungan, tetapi risiko yang terbesar dalam
bank juga bersumber dari pemberian kredit.
4) Portfolio Investment
Prioritas terakhir di dalam alokasi dana bank adalah dengan mengalokasikan sejumlah
dana tertentu pada investasi portfolio (portfolio investment). Alokasi dana bank ke dalam
kategori ini adalah dana sisa (residual fund) setelah penanaman dalam bentuk pinjaman
(kredit) telah memenuhi kriteria atau target tertentu. Investasi ini berupa penanaman dalam
bentuk surat-surat berharga jangka panjang atau surat-surat berharga ini bertujuan untuk
memberikan tambahan pendapatan dan likuiditas bank. Karena pengalokasian dana untuk
jenis ini dalah mengharapkan pendapatan yang memadai bagi bank, maka sifat aktiva ini
biasanya lebih permanen atau berjangka panjang. Instrumen untuk portfolio investment yang
agak aman adalah dalam bentuk obligasi dengan berbagai jenisnya.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan penanaman dana dalam bentuk
portfolio investment adalah :
a) tingkat bunga (untuk jenis obligasi),
b) capital gain yang mungkin bisa diraih (untuk jenis saham),
c) kualitas atau keamanan (terutama untuk jenis saham),
d) mudah diperjualbelikan,
e) jangka waktu jatuh temponya (untuk obligasi, sertifikat deposito),
f) pajak yang harus dibayar,
g) diversifikasi (jangan ditanam pada satu jenis portofolio).
h) ekspektasi (harapan akan keuntungan di masa datang).
Penanaman dana pada kategori ini tercantum dengan nama other securities (efek-efek)
yang berbentuk saham, obligasi, dan surat-surat berharga derivatif (right, warrant, option).
5) Fixed Assets (Aktiva Tetap)
Alokasi atau penanaman dana bank yang terakhir (meskipun tidak dikaitkan dengan
strategi menjaga likuiditas bank) adalah penanaman modal dalam bentuk aktiva tetap (fixed
assets), seperti pembelian tanah, pembangunan gedung kantor bank (baik untuk kantor pusat,
kantor cabang, cabang pembantu maupun kantor kas), peralatan operasional bank, seperti
komputer, facsimilie, sistem komunikasi antarcabang (on line system), kendaraan bermotor,
dan aktiva tetap lainnya. Investasi tersebut di atas termasuk aktiva tetap berbentuk hardware,
software, konsultan, bantuan teknis, dan lain-lainnya yang ditujukan untuk memperlancar
kegiatan operasional bank.6[6]

E. Pengertian kredit
Secara etimologi istilah kredit berasal dari bahasa latin credere, yang berarti
kepercayaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu pengertian kredit adalah
pinjaman uang dengan pembayaran pengembalian secara mengangsur atau pinjaman sampai
batas jumlah tertentu. Dalam pengertian umum kredit didasarkan pada kepercayaan atas
kemampuan si peminjam untuk membayar uang sejumlah uang pada masa yang akan datang.
Pengertian kredit menurut Undang-Undang Perbankan nomor 10 tahun 1998, “Kredit
adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga”.7[7]
Ikatan Akuntan Indonesia mendefinisikan kredit sebagai berikut: Kredit adalah
pinjaman uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan
atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak
peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga,
imbalan, atau pembagian hasil keuntungan.
Dari pengertian di atas dapatlah dijelaskan bahwa kredit dapat berupa uang atau
tagihan yang nilainya diukur dengan uang. Kemudian adanya kesepakatan antara bank
sebagai kreditur dan nasabah penerima kredit sebagai debitur, dengan perjanjian yang telah
dibuat. Dalam perjanjian kredit tercakup hak dan kewajiban masing-masing pihak, termasuk
jangka waktu serta bunga yang ditetapkan bersama. Demikian pula dengan masalah sangsi
apabila debitur ingkar janji terhadap perjanjian yang telah dibuat.

F. Unsur-unsur kredit
1) Kreditur
Kreditur merupakan pihak yang memberikan kredit (pinjaman) kepada pihak lain yang
mendapat pinjaman
2) Debitur
Debitur merupakan pihak yang membutuhkan dana, atau pihak yang mendapat pinjaman dari
pihak lain.
3) Kepercayaan (Trust)
Kreditur memberikan kepercayaan kepada pihak yang menerima pinjaman (debitur) bahwa
debitur akan memenuhi kewajibannya untuk membayar pinjamannya sesuai dengan jangka
waktu tertentu yang diperjanjikan.
4) Perjanjian
Perjanjian merupakan suatu kontrak kesepakatan yang dilakukan antara kreditur dengan
debitur.
5) Resiko
Setiap dana yang disalurkan oleh kreditur selalu mengandung adanya resiko tidak kembalinya
dana. Resiko adalah kemungkinan kerugian yang akan timbul atas penyaluran kredit kreditur.
6) Jangka waktu
Jangka waktu merupakan lamanya waktu yang diperlukan oleh debitur untuk membayar
pinjamannya kepada kreditur.
7) Balas jasa
Sebagai imbalan atas dana yang disalurkan oleh kreditur, maka debitur akan membayar
sejumlah uang tertentu sesuai dengan perjanjian.8[8]

G. Jenis-jenis Kredit
Secara umum jenis-jenis kredit dapat dilihat dari berbagai segi antara lain:
1) Segi Kegunaan
a) Kredit investasi, merupakan kredit jangka panjang yang biasanya digunakan untuk keperluan
perluasan usaha atau membangun proyek/pabrik baru atau untuk keperluan rehabilitasi,
b) Kredit modal kerja, merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan meningkatkan
produksi dalam operasionalnya,
2) Segi Tujuan Kredit
a) Kredit produktif, adalah kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau produksi atau
investasi.
b) Kredit konsumtif, adalah kredit yang digunakan untuk dikonsumsi secara pribadi.
c) Kredit perdagangan, adalah kredit yang diberikan kepada pedagang dan digunakan untuk
membiayai aktivitas perdagangannya seperti untuk membeli barang dagangan yang
pembayarannya diharapkan dari hasil penjualan barang dagangan tersebut.
3) Segi Jangka Waktu
a) Kredit jangka pendek, merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari 1 tahun
atau paling lama 1 tahun, dan biasanya digunakan untuk keperluan modal kerja,
b) Kredit jangka menengah, merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kredit berkisar
antara 1 tahun sampai dengan 3 tahun, dan biasanya kredit ini digunakan untuk melakukan
investasi,
c) Kredit jangka panjang, merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang. Kredit
jangka panjang waktu pengembaliannya di atas 3 tahun atau 5 tahun,
4) Segi Jaminan
a) Kredit dengan jaminan, merupakan kredit yang diberikan dengan suatu jaminan. Jaminan
tersebut tidak berwujud atau jaminan orang. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan
dilindungi minimal senilai jaminan atau jaminan tersebut harus melebihi jumlah kredit yang
diajukan si calon debitur,
b) Kredit tanpa jaminan, merupakan kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang
tertentu. Kredit jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha, karakter, serta loyalitas
atau nama baik si calon debitur selama berhubungan dengan bank atau pihak lain.
5) Segi Penarikan
a) Kredit dengan penarikan sekaligus, yaitu kredit yang ditarik nasabah sesuai dengan
permohonan kredit yang diajukan secara keseluruhan tanpa ada penundaan pencairan dana
pinjaman,
b) Kredit dengan penarikan bertahap, yaitu kredit yang ditarik nasabah, dimana pencairan
dananya dilakukan secara berkala oleh pihak bank.
6) Segi Sifat Pelunasan
a) Kredit yang pelunasannya dengan angsuran, yaitu kredit yang diperoleh debitur dapat dicicil
dalam pelunasannya sesuai dengan ketentuan dan ikatan kerjasama yang telah disepakati oleh
bank dengan debitur,
b) Kredit yang pelunasannya tanpa angsuran, yaitu pembayaran secara keseluruhan terhadap
kredit yang diperoleh debitur tanpa adanya cicilan, dimana dalam pelunasan kredit tersebut
harus terdapat bunga pinjaman sesuai dengan kesepakatan.
7) Segi Sektor Usaha
a) Kredit pertanian
b) Kredit peternakan
c) Kredit industri
d) Kredit pertambangan
e) Kredit pendidikan
f) Kredit profesi
g) Kredit perumahan
h) Sektor-sektor lainnya

H. Jaminan Kredit
Kredit tanpa jaminan sangat membahayakan bank, mengingat jika nasabah mengalami
suatu kemacetan maka akan sulit untuk menutupi kerugian tarhadap kredit yang disalurkan.
Sebaliknya dengan jaminan kredit relative lebih aman mengingat setiap kredit macet akan
dapat ditutupi oleh jaminan tersebut.9[9]
1) Kredit Dengan Jaminan
a) Jaminan benda berwujud
 Tanah
 Bangunan
 Kendaraan bermotor
 Mesin-mesin atau peralatan
 Barang dagangan
 Tanaman/kebun/sawah
b) Jaminan benda tidak berwujud
 Sertifikat saham
 Sertifikat obligasi
 Sertifikat tanah
 Sertifikat deposito
 Wesel
 Surat tagihan
c) Jaminan orang
Yaitu jaminan yang diberikan oleh seseorang yang menyatakan kesanggupan untuk
menanggung segala resiko apabila kredit tersebut macet.
2) Kredit Tanpa Jaminan
Yaitu bahwa kredit yang diberikan bukan dengan jaminan barang tertentu. Biasanya kredit ini
diberikan untuk perusahaan yang memang benar-benar bonafit dan professional, sehingga
kemungkinan kredit tersebut macet sangat kecil.

I. Prinsip-prinsip Pemberian Kredit


Dalam mendapatkan kredit, terdapat macam-macam prosedur yang harus dilewati
yang ditentukan oleh bank atau lembaga keuangan agar berjalan dengan baik dan sehat
terdapat sebutan 6 C yang merupakan prinsip-prinsip kredit antara lain sebagai berikut.
1) Character (kepribadian/watak)
Kepribadian adalah sifat atau watak pribadi dari debitur untuk mendapatkan kredit, seperti
kejujuran, sikap motivasi usaha, dan lain sebagainya.
2) Capacity (kemampuan)
Kemampuan adalah kemampuan modal yang dimiliki untuk memenuhi kewajiba tepat pada
waktunya, khususnya dalam likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, dan soliditasnya.
3) Capital (modal)
Modal adalah kemampuan debitur dalam melaksanakan kegiatan usaha atau menggunakan
kredit dan mengembalikannya.
4) Collateral (jaminan)
Jaminan adalah jaminan yang harus disediakan untuk pertanggung jaaban jika debitur tidak
dapat melunasi utangnya.
5) Condition of Economic (kondisi ekonomi)
Kondisi ekonomi adalah keadaan ekonomi suatu negara secara menyeluruh dan memberikan
dampak kebijakan pemerintah di bidang moneter, terutama berhubungan dengan kredit
perbankan
6) Constrain (batasan atau hambatan)
Batasan atau hambatan adalah penilaian debitur yang dipengaruhi oleh hambatan yang tidak
memungkinkan seseorang untuk usaha di suatu tempat.

Walaupun terdapat prinsip-prinsip kredit yang dikenal dengan 6 C, terdapat juga


prinsip-prinsip kredit yang dikenal dengan 4 P antara lain sebagai berikut.
1) Personality
Personality adalah penilaian bank mengenai kepribadian peminjam, misalnya riwayat hidup,
hobinya, keadaan keluarga (istri atau anak), social standing (pergaulan di masyarakat serta
bagaimana masyarakat mengenai diri si peminjam dan sebagainya.
2) Purpose
Purpose adalah bank menilai peminjam mencari dana mengenai tujuan atau keperluan dalam
penggunaan kredit, dan apakah tujuan dari penggunaan kredit itu sesuai dengan line of
business kredit bak bersangkutan.
3) Payment
Payment adalah untuk mengetahui kemampuan dari debitur mengenai pengembalian
pinjaman yang diperoleh dari prospek kelancaran penjualan dan pendapatan sehingga
diperkirakan kemampuan pengembalian pinjaman dapat ditinjau waktu jumlahnya.
4) Prospect
Prospect adalah harapan usaha di maa yang akan datang dari calon debitur.10[10]

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Definisi pengalokasian dana adalah menjual kembali dana yang diperoleh dari
penghimpunan dana dalam bentuk simpanan. Tujuan bank dari pengalokasian dana adalah
memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen
pengalokasian dana adalah cara bagaimana bank menjual kembali dana yang diperoleh dari
penghimpunan dana dalam bentuk simpanan.
Jenis-jenis kredit: 1. Primary Reserve (cadangan primer); 2. Secondary Reserve
(cadangan sekunder); 3. Loan Portfolio (Kredit); 4. Portfolio Investment; 5. Fixed Assets
(Aktiva Tetap).
Pengertian kredit menurut Undang-Undang Perbankan nomor 10 tahun 1998, “Kredit
adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan
persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga”.
Yang termasuk unsur-unsur kredit yaitu: 1. Kreditur; 2. Debitur; 3. Kepercayaan; 4.
Perjanjian; 5. Resiko; 6. Jangka Waktu; 7. Balas jasa. Jaminan yang bisa digunakan untuk
pengambilan kredit dapat berupa bangunan; tanah ataupun surat berharga. Kemudian prinsip-
prinsip pemberian kredit yaitu: 6 C (character, capacity, capital, colleteral, condition of
economic, constrain).