You are on page 1of 2

MAHASISWA AGEN PERUBAHAN ATAU AGEN YANG

DIRUBAH KEADAAN ?
yang berkarakter manakala mereka mengadopsi
trend jaman sekarang dengan standard yang telah
Mahasiswa yang sejak dahulu, disebut sebagai
“diciptakan” secara masif oleh industri-industri
Agent of Change (agen perubahan), yang berfungsi
raksasa melalui stasiun-stasiun televisi yang kita
sebagai pengontrol dari situasi sosial yang ada di
pertontonkan,ataupun perseorangan lewat brand-
sekililing mereka, mempelajari berbagai macam
brand ternama mereka. Di saat semua orang,
fenomena sosial yang terjadi di dalam
khususnya mahasiswa yang terbawa arus
masyarakat,sampai kepada pemberi solusi atas
mainstream ini,semua akan berlomba dan
segala permasalahan yang timbul dalam dimensi
berkompetensi untuk saling pamer bagaimana
kehidupan sehari-hari. Agen perubahan yang
berpakaian yang “keren serta trendy masa kini” yang
seharusnya mampu menempatkan posisinya
padahal kurang lebih mengajarkan kita untuk
sebagai “wakil” dari suatu tatanan sosial di
menjadi hedonis dan cenderung narsis,karena selalu
masyarakat,untuk menyuarakan perubahan apabila
berorientasi pada kesenangan dan kepuasan
diperlukan.
semu,terhanyut dalam euforia

Namun sepertinya ada yang belaka,sehingga melupakan tug-

berubah dan bergeser dari as utama kita sebagai mahasi-

pernyataan diatas. Mari kita swa.

lihat dengan kasat mata


Hari ini mahasiswa terjebak
bagaimana kondisi yang ada
dalam dunia baru yang
saat ini, kenyataannya
mengharuskan mereka untuk
adalah mahasiswa sekarang
bersikap seperti robot. Dengan
banyak dimanjakan bahkan
sistem pendidikan sekarang
dihipnotis oleh berbagai
,membuat mahasiswa
macam hal yang berusaha
kehilangan pikiran kritisnya,mahasiswa didogma
merubah bahkan merusak “identitas”
oleh kampus untuk cenderung berpikir secara
kemahasiswaan mereka. Perkembangan zaman
pragmatis dalam menghadapi berbagai persoalan.
modern ini hampir menggilas zseluruh pemikiran
Sistem pendidikan sekarang hampir menghilangkan
mahasiswa,disertai sangat mudahnya budaya barat
“idealisme” sebagian mahasiswa,melatih kita
masuk “mendoktrin” melalui kecanggihan teknologi
(pelajar) untuk menjadi kuli. Dampaknya dari
yang terus berkembang. Banyaknya tempat hiburan
kurikulum seperti itu membuat mahasiswa jauh dari
mulai dari Mall,Bioskop,Club malam, dan sederet
masyarakat,sehingga mahasiswa kurang peka lagi
lainnya,yang tak jarang menawarkan mahasiswa kita
menangkap realitas sosiologis yang terjadi dalam
kepada hal yang bersifat hura-hura semata,syukur-
masyarakat,mahasiswa akan menjadi kelompok
syukur jika semua hiburan tadi hanya sebagai sarana
“elite” dan jauh dari masyarakat. Aksi-aksi yang
refreshing. Semakin terkikis mahasiswa-mahasiswa
dilakukan mahasiswa dianggap angin lalu oleh
MAHASISWA AGEN PERUBAHAN ATAU AGEN YANG
DIRUBAH KEADAAN ?
“penguasa”,karena sebagian mahasiswa bersikap
apatis,aksi-aksi mahasiswa telah kehilangan
kekuatan sebagai penyalur aspirasi.

Hilangnya idealisme mahasiswa dan dukungan


masyarakat membuat mahasiswa seperti kehilangan
arah. Momentum-momentum seperti reformasi
menjadi kehilangan jiwanya. Reformasi dan
mahasiswa seperti berjalan sendiri-sendiri. Tidak
ada yang mengawal reformasi,sehingga reformasi
menjadi “kebablasan”,penguasa menjadi seenaknya
membuat kebijakan-kebijakan yang memojokan
mahasiswa, dan mempersempit daya pikir kritis
mahasiswa (seolah penguasa tidak ingin
diawasi,serta bisa leluasa menuruti kepuasan
nafsunya).

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan


membosankan,saya merasa seperti monyet tua yang
dikurung dikebun binatang dan tidak punya kerja
lagi,saya ingin merasakan kehidupan kasar dan
keras,diusap oleh angin-angin seperti pisau,atau
berjalan memotong hutan dan mandi disungai
kecil,orang-orang seperti kita tidak pantas mati
ditempat tidur” (Soe Hok Gie)

Hegemoni budaya adalah pengondisisan masyarakat


oleh kelas penguasa dan kapital agar norma budaya
yang mereka bentuk dapat memberi keuntungan
bagi dominasi kaum penguasa,kini hal tersebut
sudah menjalar kepada mahasiswa sekarang yang
menjelma menjadi makhluk “metropolis” yang
kadarnya sudah di luar toleransi. Memang
mahasiswa kala itu,juga senang pesta dan tak lupa
soal cinta,tetapi tetap sadar akan permasalahan
sosial.