You are on page 1of 4

PERAWAT DALAM 10 STATUS KEPEGAWAIAN

YANG TIDAK SESUAI UU KESEHATAN DAN KETENAGAKERJAAN

Bahasan yang cukup menarik pada saat membaca draft audiensi komisi IX dalam
artikel berjudul FGD GNPHI: tak lelah berjuang untuk kesejahteraan perawat (Media
Sehat edisi 23, Februari 2018). Terlepas bahwa bahasan tersebut masih berupa draft
dan tidak ditemukan penjelasan lebih lanjut walaupun menggunakan mesin pencari
sekelas mbah google, tapi yang jelas membuat para perawat berbondong – bondong
mempertanyakan statusnya kepada para pengurus PPNI: Apa maksudnya ini? Apakah
kami tidak diakui keberadaannya?

Lebih lanjut dalam artikel yang sama, ada beberapa status kepegawaian yang
sempat disebut, yaitu: tenaga honorer, tenaga kontrak, tenaga BLUD, magang, wiyata
bakti, tenaga sukarela, PTT daerah, honor daerah, supporting staff, tenaga harian lepas
dll. Pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah: yang tidak sesuai dengan UU
Kesehatan dan UU Ketenagakerjaan apanya? Perawatnya atau Status Kepegawaiannya?
Semoga tulisan ini memberikan pencerahan.

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi keperawatan, baik di
dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang – Undangan, terdiri dari perawat vokasi dan perawat profesi serta
wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) untuk menjalankan praktik keperawatan
(UU No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan). Perawat disebut sebagai salah satu
kelompok tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kualifikasi tertentu dalam
menyelenggarakan upaya kesehatan (UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan).
Sebagai Aparatur Sipil Negara, perawat disebutkan dalam 2 (dua) jabatan yaitu sebagai
Pejabat administrasi / Pejabat Pelaksana dengan informasi jabatan sebagaimana yang
tertera dalam Kepmenkes No. HK.01.07/MENKES/17/2018 dan sebagai pejabat
fungsional dengan informasi jabatan sebagaimana yang tertera dalam PermenPANRB
No. 25 tahun 2014 dan Peraturan Bersama Menkes dan Kepala BKN No. 5 tahun 2015
dan No. 6 tahun 2015. Perawat sebagai pejabat fungsional, memiliki instansi pembina
yaitu Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan, Direktorat Jenderal Pelayanan
Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI (Permenkes No. 60 tahun 2016). Selain
melakukan pembinaan kepada perawat sebagai pejabat fungsional, instansi pembina
juga berperan untuk memfasilitasi pembentukan organisasi profesi (PP No. 11 tahun
2017). Perawat juga telah memiliki pengembangan jenjang karir profesional perawat
klinis sebagaimana yang tertuang dalam Permenkes No. 40 tahun 2017, bahkan Komite
Keperawatan RS telah ditetapkan dalam Permenkes No. 49 tahun 2013. Dengan
sedemikian banyak regulasi yang mengatur tentang perawat, maka dapat disimpulkan
bahwa profesi perawat diakui eksistensinya oleh Pemerintah.

Bagaimana halnya dengan status kepegawaian? Dalam Kamus Besar Bahasa


Indonesia, status kepegawaian dapat didefinisikan dengan keadaan atau kedudukan
seseorang yang berhubungan dengan pegawai atau pekerjaan. Status kepegawaian yang
disebut di awal artikel ini yaitu tenaga honorer, tenaga kontrak, tenaga BLUD, magang,
wiyata bakti, tenaga sukarela, PTT daerah, honor daerah, supporting staff, tenaga harian
lepas dan masih ada lagi, yaitu PNS, TNI, Polri, PPPK, pegawai Non PNS, pegawai BUMN /
BUMD, pegawai tetap, PPNPN dan mungkin masih banyak lagi. Yang paling penting
bahwa status kepegawaian tidak terikat dengan jabatan / formasi tertentu, sehingga
penyebutan yang tepat adalah status kepegawaian diikuti dengan jabatan / formasinya,
contoh: saya adalah PNS yang diangkat ke dalam jabatan fungsional perawat, atau saya
adalah pegawai Non PNS yang diangkat ke dalam jabatan fungsional bidan, atau saya
adalah TNI yang diangkat ke dalam jabatan fungsional Dokter, atau saya adalah PTT yang
diangkat ke dalam jabatan fungsional Dokter Gigi dan seterusnya.

Kembali ke topik status kepegawaian, kita akan coba melihat dan merunut masing –
masing status kepegawaian tersebut berdasarkan dengan regulasi – regulasi yang ada,
kita mulai dari status kepegawaian yang telah disebut di artikel sebagaimana di atas.
1. Tenaga honorer / honor daerah
Referensi yang akan dijadikan rujukan yaitu PP No. 48 tahun 2005 yang diubah
dengan PP No. 43 tahun 2007 dan terakhir diubah dengan PP No. 56 tahun 2012
tentang Pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS.
Tenaga honorer adalah seseorang yang diangkat oleh pejabat pembina
kepegawaian / pejabat lain dalam pemerintahan untuk melaksanakan tugas
tertentu pada instansi pemerintah dengan penghasilan dari APBN / APBD. Bahwa
semua tenaga honorer dengan prioritas guru, tenaga kesehatan di unit pelayanan,
penyuluh pertanian, penyuluh perikanan dan penyuluh peternakan serta tenaga
tehnis lainnya yang dibutuhkan pemerintah telah diangkat menjadi CPNS, tentunya
dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Yang perlu digarisbawahi dalam regulasi ini adalah: sejak ditetapkan peraturan
pemerintah ini, semua pejabat pembina kepegawaian dan pejabat lain di lingkungan
instansi pemerintah, dilarang mengangkat tenaga honorer / yang sejenis, kecuali
ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Artinya, sudah tidak ada pengangkatan
tenaga honorer sejak 11 November 2005, jika saat ini masih ada tenaga honorer
yang diangkat sebelum 11 November 2005 karena tidak memenuhi syarat dan
ketentuan pengangkatan menjadi CPNS, seharusnya sudah dialihkan statusnya ke
dalam status kepegawaian lainnya. Jika ternyata ada tenaga honorer yang diangkat
setelah 11 November 2005, silahkan konfirmasi dengan pejabat pembina
kepegawaian yang menandatangani SK pengangkatannya, siapa tahu ada regulasi
lain yang mendasari pengangkatan tersebut.
2. Tenaga kontrak dan pegawai tetap
Referensi yang akan dijadikan rujukan yaitu
3. Tenaga BLUD / Pegawai Non PNS
Referensi yang akan dijadikan rujukan yaitu PP No. 23 tahun 2005 yang diubah
dengan PP No. 74 tahun 2012 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
di Instansi Pemerintah baik setingkat Kementerian / Lembaga (yang dikenal dengan
BLU) maupun setingkat Satuan Kerja Perangkat Daerah (yang dikenal dengan BLUD).
Bahwa dengan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum, fleksibilitas
diberikan dalam rangka pelaksanaan anggaran, termasuk pengelolaan pendapatan
dan belanja, pengelolaan kas dan pengadaan barang / jasa termasuk juga diberikan
kesempatan untuk mempekerjakan tenaga profesional Non PNS. Mengacu pada
regulasi ini, maka penyebutan pegawai (selain ASN) yang bekerja di instansi yang
menerapkan pola keuangan badan layanan umum (baik BLU maupun BLUD) disebut
dengan pegawai Non PNS, bukan pegawai BLU atau pegawai BLUD).
Untuk mengatur dan mengelola pegawai Non PNS tersebut, setiap Kementerian
/ Lembaga maupun Satuan Kerja Perangkat Daerah pasti menyusun dan
menerbitkan pedoman pengelolaan Pegawai Non PNS, sebagai contoh adalah
Permenkes No. 20 tahun 2014 tentang Pengelolaan Pegawai Non PNS pada Satuan
Kerja Kemenkes yang menerapkan PPK BLU.
4. Magang, Wiyata bakti, sukarela, supporting staff dan harian lepas.
Belum ditemukan referensi yang bisa dijadikan rujukan, mungkin perlu
konfirmasi dengan pejabat pembina kepegawaian yang menandatangani SK
Pengangkatan ke dalam status ini.
5. PTT daerah
Referensi yang akan dijadikan rujukan yaitu
6. ASN (PNS dan PPPK), TNI, POLRI dan BUMN / BUMD
Referensi yang dapat dijadikan rujukan untuk ASN yaitu UU No. 5 tahun 2014
tentang Aparatur Sipil Negara dan PP No. 11 tahun 2017 tentang Manajemen PNS.
Yang menjadi perhatian adalah bagaimana Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian
Kerja (PPPK) sebagai bagian dari ASN akan dikelola.
Referensi lainnya yaitu UU No. 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional
Indonesia, UU No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, UU
No. 19 tahun 2003 tentang BUMN termasuk pengelolaan pegawainya.
7. PPNPN
Referensi yang akan dijadikan rujukan yaitu PP No. 12 tahun 2013 yang diubah
dengan PP No. 111 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan dan Edaran Direktur
Sistem Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian
Keuangan No. S-5790/PB/2016 tentang Pelaksanaan Peraturan Dirjen
Perbendaharaan No. PER-3/PB/2016 tentang Tata cara pembayaran penghasilan
bagi Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri yang dibebankan pada anggaran
pendapatan dan belanja negara.
Istilah Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) pertama kali muncul
dalam PP No. 12 tahun 2013 pasal 4 ayat (2), yaitu pekerja penerima upah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas PNS, TNI, Polri, Pejabat Negara,
PPNPN, Pegawai swasta dan pekerja yang tidak termasuk huruf a – f yang menerima
upah. Sampai dengan saat ini, regulasi yang dapat dijadikan dasar pengkategorian
status pegawai yang termasuk PPNPN adalah Edaran Direktur Sistem
Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan No.
S-5790/PB/2016, yaitu:
a. PPPK / Staf Khusus / Staf Ahli Non PNS pada Kementerian / Lembaga;
b. Komisioner / Pegawai Non PNS pada lembaga non struktural;
c. Dokter, Bidan, Dosen / Guru tidak tetap;
d. Satpam, pengemudi, petugas kebersihan dan pramubakti pada satuan kerja
yang membuat perjanjian kerja / kontrak dengan KPA / PPK untuk
melaksanakan kegiatan operasional kantor;
e. Pegawai Non PNS lainnya yang penghasilannya bersumber dari APBN
PPNPN tidak termasuk
a. Pegawai BLU / BLUD yang penghasilannya dibayarkan dari pendapatan BLU;
b. Pegawai tidak tetap / penerima honor yang penghasilannya dari APBN;
Dapat disimpulkan bahwa ada beberapa status kepegawaian yang tidak sesuai
dengan regulasi yang berlaku, untuk itu perlu dilakukan konfirmasi dan klarifikasi dengan
pejabat pembina kepegawaian yang menandatangani SK pengangkatan tersebut.

Selamat berjuang teman – teman GNPHI, sesungguhnya Alloh tidak mengubah


keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri (sepenggal arti ayat ke – 11 surat ar – Rad) tapi jangan melupakan bahwa kaum
Muslimin harus memenuhi syarat – syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat
yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram (HR. Abu
Hurairah), jangan sampai kita dianggap sebagai orang – orang yang tidak menepati janji
dan kesepakatan.