You are on page 1of 11

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

RENDAHNYA PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENIMBANGAN


BALITA BULANAN DI POSYANDU GANYEN BULAN JANUARI-
SEPTEMBER 2013 DI DESA MALASARI KABUPATEN BANDUNG
Oleh : Erni Maryam, Eka Nurhayati, Ina Rinawaty
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
Email : ernimaryam@ymail.com

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan

Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memilki fisik

yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. (1)

Angka kematian balita di Indonesia adalah 44/1000 kelahiran hidup.(2)

Angka kematian balita di Jawa Barat adalah 49/1000 kelahiran hidup.(3) Angka

tersebut cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN.

Angka tersebut 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan Malaysia. Juga 1,2 kali lebih

tinggi dibandingkan Filipina dan 2,4 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan

Thailand.(4) Hal tersebut menjadi masalah besar bagi Indonesia, karena anak

balita merupakan calon penerus bangsa yang seharusnya bisa membangun negara

ini menjadi negara yang baik, dan sebagai calon SDM yang berkualitas. Dengan

angka kematian balita yang tinggi tersebut maka dapat mempengaruhi SDM di

Indonesia ini.

Salah satu upaya untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian anak

balita adalah dengan melakukan pemeliharaan kesehatannya. Pemeliharaan

kesehatan anak balita dititik beratkan kepada upaya pencegahan peningkatan

kesehatan dan pada pengobatan dan rehabilitasi. Pelayanan kesehatan anak balita

ini dapat dilakukan di puskesmas, puskesmas pembantu, polindes terutama di

posyandu. Pemerintah Indonesia dengan kebijakan Kepmenkes mengupayakan

1
2

untuk mengaktifkan kembali kegiatan di posyandu, karena posyandulah tempat

paling cocok untuk memberikan pelayanan kesehatan pada balita secara

menyeluruh dan terpadu. (Nain, 2008).

Kegiatan posyandu meliputi 5 program pelayanan kesehatan dasar, yaitu

KIA, Imunisasi, KB, perbaikan gizi, dan penanggulangan Diare. Kegiatan bulanan

di Posyandu merupakan kegiatan rutin yang bertujuan untuk memantau

pertumbuhan berat badan balita dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat

(KMS), memberikan konseling gizi, dan memberikan pelayanan gizi dan

kesehatan dasar. Untuk tujuan pemantauan pertumbuhan balita dilakukan

penimbangan balita setiap bulan. Berdasarkan garis pertumbuhan pada KMS

dapat dinilai apakah berat badan anak hasil penimbangan dua bulan berturut –

turut : Naik (N) atau Tidak Naik (T).(4)

Pemantauan tumbuh kembang balita sangat penting dilakukan untuk

mengetahui adanya gangguan pertumbuhan secara dini, untuk itu diperlukan

penimbangan setiap bulan. Data riskesdas tahun 2010 didapat rendahnya cakupan

penimbangan balita ≥ 4 kali selama 6 bulan terakhir sebaiknya semakin tinggi

umur anak semakin tinggi pula presentase anak yang tidak pernah ditimbang di

Posyandu (3). Pada anak sampai usia lima tahun seharusnya dibawa ke Posyandu

setiap bulan. Kegiatan pelayanan Posyandu diharapkan dapat dimanfaatkan oleh

ibu-ibu khususnya yang memiliki balita, karena di Posyandu terdapat pemantauan

tumbuh kembang balita dengan cara melakukan pengukuran berat badan sebagai

cara terbaik untuk menilai status gizi balita tiap bulannya sehingga tumbuh

kembang anak akan terpantau.


3

Capaian kegiatan penimbangan balita dapat dilihat dari hasil pemantauan

pertumbuhan setiap bulan di posyandu yaitu cakupan partisipasi masyarakat (D/S)

sebesar 66,5%, cakupan program (K/S) sebesar 83,8%, Capaian program (N/D)

sebesar 66,4%. Pencapaian program kegiatan penimbangan balita ini masih

kurang terlihat di Puskesmas Cikalong Kabupaten Bandung cakupan partisipasi

masyarakat (D/S) cukup rendah yaitu sebesar

Standar pelayanan minimal menargetkan tingkat partisipasi masyarakat

untuk datang ke posyandu (D/S) sebesar (5). Laporan dari Puskesmas Cikalong

tahun 2013 selama 3 bulan terakhir didapat pencapaian D/S sebesar , dari 13 desa

yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cikalong desa yang cakupan penimbangan

balitanya tidak mencapai target untuk D/S umur 12-59 bulan adalah desa

Warjabakti yaitu sebesar (6).

Dari data diatas terlihat bahwa cakupan pelayanan posyandu balita di desa

Warjabakti adalah rendah. Sebelumnya di Puskesmas ini belum dilakukan

penelitian mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi para ibu enggan

membawa balitanya ke posyandu. Sehingga berdasarkan latar belakang tersebut,

maka peneliti tertarik meneliti tentang gambaran faktor-faktor yang menyebabkan

rendahnya partisipasi masyarakat dalam penimbangan balita di posyandu di Desa

Warjabakti Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung Tahun 2013.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini bersifat Penelitian ini besifat deskriptif yang

menggambarkan faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya angka


4

partisipasi masyarakat (D/S) Posyandu Ganyen di Desa Malasari Kecamatan

Cimaung. Penyelenggaraan penelitian berlangsung sejak pada tanggal 6 Oktober

dan 8 Oktober 2013. Populasi pada penelitian ini adalah ibu balita yang

memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sedangkan responden pada penelitian ini

adalah Ibu yang mempunyai balita yang pernah tidak datang untuk ditimbang ke

Posyandu pada Bulan Januari – September 2013 di Posyandu Ganyen Desa

Malasari Kecamatan Cimaung.

Pemilihan populasi diambil secara total sampling. Semua balita yang

memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi selama waktu pengambilan data dapat ikut

serta dalam penelitian.

Besarnya populasi yang diambil adalah 36 orang. Syarat kriteria inklusi

yang digunakan pada penelitian ini yaitu, balita yang pernah tidak datang untuk

ditimbang ke Posyandu pada Bulan Januari – September 2013 di Posyandu

Ganyen Desa Malasari Kecamatan Cimaung dan bersedia untuk menjadi

responden. Kriteria eksklusi yaitu, balita yang pernah tidak datang untuk

ditimbang ke Posyandu yang bukan berasal dari Posyandu Ganyen.

Variabel terikat pada penelitian ini adalah orang tua dari balita yang pernah

tidak datang untuk ditimbang ke Posyandu pada periode Bulan Januari –

September 2013 di Posyandu Ganyen Desa Malasari Kecamatan Cimaung.

Variabel bebas penelitian ini terdiri dari :

1. Tingkat pendidikan ibu balita

2. Tingkat penghasilan orang tua

3. Tingkat pekerjaan ibu balita


5

4. Tingkat pengetahuan ibu tentang posyandu

5. Tingkat pengetahuan dan pengertian ibu tentang KMS

6. Jumlah dan jarak anak ibu balita

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung terhadap responden

dengan menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan. Analisa data dengan

menggunakan metode deskriptif dilakukan dengan interpretasi data dari tabel

distribusi frekuensi dan diagram batang untuk memberikan gambaran hasil

penelitian sesuai dengan tujuan penelitian.

HASIL PENELITIAN

1. Tingkat Pendidikan Ibu Balita

Tabel 1 Jumlah kuisioner menurut pendidikan ibu balita (n = 36)


Pendidikan Ibu Jumlah %
Tidak lulus SD / tidak sekolah 1 2,8%
SD 22 61,1%
SLTP 11 30,6%
SLTA 2 5,5%
Perguruan Tinggi 0 0%
Jumlah 36 100%
Sumber : hasil survey di Posyandu Ganyen

Berdasarkan tabel dan diagram batang diatas dapat diketahui bahwa tingkat

pendidikan ibu yang terbanyak adalah SMA sebesar 5,5% SMP 30,6%, SD 61,1%,

tidak sekolah 2,8%.


6

2. Tingkat Penghasilan Orang Tua

Tabel 2 Jumlah kuisioner menurut penghasilan orang tua


Penghasilan Orang Tua Jumlah %
≤ 1.000.000 36 100%
>1.000.000 0 0%
Jumlah 36 100%
Sumber : hasil survey di Posyandu Ganyen

Berdasarkan tabel dan diagram batang di atas dapat diketahui bahwa sebesar

100% penghasilan orang tua balita tergolong kurang. Sedangkan jumlah yang

berpenghasilan lebih sebesar 0%.

3. Pekerjaan ibu

Tabel 3 Jumlah kuisioner Menurut Pekerjaan Ibu


Pekerjaan Ibu Jumlah %
Bekerja 3 8,3
Tidak Bekerja 33 91,7%
Jumlah 36 100%
Sumber : hasil survey di Posyandu Ganyen

Berdasarkan tabel dan diagram batang di atas dapat diketahui bahwa

prosentase ibu bekerjaadalah sebesar 8,3%.

4. Faktor pengetahuan ibu tentang posyandu

Tabel 4 Jumlah Kuisioner Menurut Pengetahuan Ibu Tentang Posyandu


Pengetahuan Tentang Posyandu Jumlah %
Baik 10 27,8%
Kurang 26 72,2%
Jumlah 36 100%
Sumber : hasil survey di Posyandu Ganyen
7

Berdasarkan tabel dan diagram batang di atas dapat diketahui bahwa

prosentase pengetahuan orang tua yang mengerti tentang posyandu sebesar 27,8 %,

sedangkan yang tidak mengerti sebesar 72,2 %.

5. Pengetahuan Ibu Tentang KMS

Tabel 5 Jumlah Kuisioner Menurut Pengetahuan Ibu Tentang KMS


Pengetahuan tentang KMS Jumlah %
Mengerti 8 22,2
Tidak Mengerti 28 77,8%
Jumlah 36 100%
Sumber : hasil survey di Posyandu Ganyen

Berdasarkan tabel dan diagram batang di atas dapat diketahui bahwa

prosentase pengetahuan orang tua tentang KMS sebesar 22,2%, sedangkan yang tidak

mengerti sebesar 77,8 %.

6. Jarak Rumah Ke Posyandu

Tabel 6 Jumlah Kuisioner Menurut Jarak Rumah Ke Posyandu


Jarak Rumah Ke Posyandu Jumlah %
Jauh 5 13,9%
Dekat 31 86,1%
Jumlah 36 100%
Sumber : hasil survey di Posyandu Ganyen

Berdasarkan tabel dan diagram batang di atas dapat diketahui bahwa

prosentase Jarak Rumah Ke Posyandu sebagian besar menunjukkan jarak yang dekat

dengan prosentas sebesar 86,1%.


8

PEMBAHASAN

1. Tingkat pendidikan Ibu

Sebagian besar ibu dengan tingkat pendidikan terbanyak adalah SD, yaitu

sebesar 61,1%. Hal tersebut termasuk kedalam kategori pendidikan yang cukup

rendah. Dengan tergambarnya status pendidikan tersebut menunjukkan bahwa tingkat

pendidikan Ibu di Posyandu Ganyen Desa Malasari Kecamatan Cimaung Kabupaten

Bandung ini kurang. Tingkat pendidikan tersebut dapat mempengaruhi tingkat

pengetahuan Ibu mengenai Ilmu Kesehatan terutama Ilmu kesehatan balita dan

posyandu. Sehingga mempengaruhi rendahnya pengetahuan Ibu Balita mengenai

pentingnya Penimbangan Berat Badan Balita.

2. Tingkat Penghasilan Orang Tua

Dari hasil survey yang dilakukan di Posyandu Ganyen, seluruh orang tua

balita yang tidak rutin datang ke posyandu berpenghasilan ≤ 1.000.000 (100%).

Penghasilan tersebut tergolong kurang. Sehingga dapat menyebabkan para orang tua

lebih fokus untuk bekerja agar mendapatkan penghasilan yang cukup untuk

memenuhi kebutuhan keluarga daripada memperhatikan pemantauan kesehatan anak-

anaknya.

3. Pekerjaan Ibu

Sebagian besar ibu balita tidak bekerja, yaitu sebesar 91,7 %. Dengan hasil

tersebut seharusnya seorang ibu harus lebih memperhatikan tumbuh kembang

anaknya dan memiliki waktu banyak untuk mengantar anaknya ke posyandu. Tetapi

sebagian bedar ibu balita pada Posyandu Ganyen ini memiliki kegiatan bercocok
9

tanam di lahan yang disewa untuk menanam sayur-sayuran dan buah-buahan untuk

konsumsi keluarganya. Sehingga walaupun tidak bekerja, tetapi ibu balita sibuk untuk

pergi ke kebun untuk bercocok tanam.

4. Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Posyandu

Sebagian besar tingkat pengetahuan ibu balita mengenai Posyandu rendah

yaitu sebesar 72,2%. Hal tersebut memiliki pengaruh yang besar terhadap partisipasi

ibu untuk membawa balita nya ke posyandu. Tingkat pengetahuan ibu yang rendah

mengenai posyandu mempengaruhi ibu akan manfaat posyandu bagi balitanya,

sehingga hal tersebut mempengaruhi cakupan rendahnya partisipasi masyarakat pada

penimbangan balita di posyandu ini.

5. Tingkat pengetahuan ibu tentang KMS

Ibu balita yang mengerti tentang KMS sebesar 22,2%. Hal ini menandakan

pengetahuan ibu untuk memantau peningkatan berat badan balitanya melalui KMS

kurang, bahkan beberapa ibu balita tidak memiliki KMS dan tidak membawa KMS

balitanya ke posyandu. Hal tersebut menunjukkan rendahnya perhatian masyarakat

mengenai pemantauan status gizi anak, sehingga kepentingan KMS yang diabaikan

oleh ibu balita memperlihatkan rendahnya partisipasi masyarakat pada kegiatan

posyandu.

6. Jarak Rumah Ke Posyandu

Sebagian besar jarak Rumah ke Posyandu menunjukkan jarak yang dekat dengan

prosentase sebesar 86,1%. Hal tersebut seharusnya mempermudah ibu balita untuk
10

membawa balitanya ke posyandu. Berbeda dengan Ibu Balita di Posyandu Ganyen ini,

jarak tidak mempengaruhi besarnya partisipasi masyarakat untuk datang ke posyandu

untuk melakukan penimbangan balita.

KESIMPULAN

Masih rendahnya angka Partisipasi Masyarakat (D/S) di Posyandu Ganyen

dipengaruhi oleh ;

1. Faktor Predisposisi ;

Rendahnya Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Posyandu sebesar 72,2%,

2. Karakteristik Ibu Balita ;

Rendahnya tingkat Pendidikan Ibu (SD) sebesar 61,1%

DAFTAR PUSTAKA

1. Juknis 2012

2. Depkes 2007

3. Skdi 2007

4. Pedoman Pemantauan Status Gizi Posyandu, 2002, Direktorat Gizi

Masyarakat Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen

Kesehatan Republik.Indonesia.

5. Agustina Lisa, Luciana, Qomariah Yuzie, Khotimah Husnul. laporan

penelitian gambaran faktor – faktor yang berhubungan dengan rendahnya

angka keberhasilan penimbangan (nilai n/d) bulan maret - mei 2008 di

desa sawotratap gedangan kabupaten sidoarjo. SMF Ilmu Kesehatan


11

Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ;

2008.