You are on page 1of 2

Nama: Rizki Devina Sihombing

Kelas : 12 IPA 2

Kebijakan Full Day School di Indonesia

Suatu negara tak luput dari aspek yang dinamakan pendidikan. Pendidikan
yang baik akan menghasilkan pembangunan negara yang baik pula. Secara etimologis
pendidikan berasal dari bahasa Inggris yaitu “education”, dalam bahasa latin
“educatum” yang tersusun dari dua kata yaitu “e” dan “duco”, dimana “e” berarti
sebuah perkembangan atau sedang berkembang.
Maka dari itu pendidikan adalah pembelajaran, pengetahuan, keterampilan, dan
kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari suatu generasi melalui pengajaran,
pelatihan atau penelitian.

Pendidikan di Indonesia saat ini masih menghadapi persoalan dan tantangan


yang kompleks, dan untuk memerangi masalah–masalah pendidikan yang ada Menteri
Pendidikan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy selaku mantan Rektor Universitas
Muhammadiyah Malang (UMM) mengajukan kebijakan Full Day School bagi siswa
SD dan SMP. Kebjakan ini telah banyak dilaksanakan oleh negara-negara maju
seperti: Singapura, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan sebagainya. Kebijakan ini
bertujuan agar siswa mendapat pendidikan karakter dan pengetahuan umum di
sekolah. Menteri Pendidikan menyatakan dengan sistem Full Day School ini secara
perlahan siswa akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah
ketika orang tuanya masih belum pulang kerja. Sesuai dengan pesan Presiden Jokowi
bahwa kondisi ideal pendidikan Indonesia adalah ketika dua aspek pendidikan bagi
siswa terpenuhi. Untuk jenjang SD delapan puluh persen pendidikan karakter dan dua
puluh persen untuk pengetahuan umum.

Maksud dari Full Day School ini adalah pemberian jam tambahan, namun pada
jam tambahan ini siswa tak lagi dihadapkan pada mata pelajaran yang membosankan,
melainkan ekstrakurikuler (ekskul). Dari kegiatan ini diharapkan dapat melatih 18
karakter, beberapa di antaranya adalah: jujur, toleransi, disiplin, hingga cinta tanah
air. Pertimbangan lainnya adalah jika tetap berada di sekolah, mereka bisa sambil
menyelesaikan tugas sekolah sampai orangtuanya menjemput sepulang kerja.
Setelahnya, siswa dapat pulang bersama orangtua dan aman di bawah pengawasan
orang tua.

Namun kebijakan ini pun banyak menuai pro dan kontra. Sebagian pihak
berargumen bahwa jenjang SD masih tergolong anak-anak yang mudah bosan, dan
jika dilihat dari segi fisik juga kurang baik untuk kesehatan. Siswa masih butuh
istirahat yang cukup di rumah agar konsentrasi juga maksimal. Dan dari segi sosial
dan geografisnya, daerah pelosok nampaknya belum cocok menjalankan kegitan Full
Day School. Kebanyakan orangtua siswa bermata pencaharian sebagai petani, nelayan,
buruh, dan sebagainya, dan mereka pun membutuhkan anaknya untuk membantu
mereka. Misalnya, bercocok tanam, menjahit, sehingga membantu ini juga merupakan
Nama: Rizki Devina Sihombing
Kelas : 12 IPA 2

pendidikan karakter dan meningkatkan kemampuan anak di rumah. Berbeda dengan


orangtua di perkotaan yang sebagian adalah pekerja kantoran yang jarang bertemu
dengan anaknya secara langsung akibat kesibukan mereka.

Hingga kini, Full Day School masih dalam proses pengkajian juga
disosialisasikan ke sekolah-sekolah mulai dari pusat hingga ke daerah-daerah, sambil
melihat respon masyarakat. Respon dari masyarakat ini pun akan ikut
menyempurnakan kebijakan ini. Namun, jika nanti ditemukan lebih banyak
kelemahan, program ini tidak akan dijalankan. Mungkin jika dikemas dengan baik
program ini akan dapat berjalan dengan baik.