You are on page 1of 3

Nama : Anisa Nurrismawati

Kelas : Pendidikan Biologi A 2017


Nim : 1304617010
Mata Kuliah : Pendidikan Agama Islam

ANALISIS FILM

1. 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA


Film ini berkisah tentang dua orang jurnalis Indonesia yang tinggal di Benua
Eropa. Kedua suami istri bernama Rangga dan Hanum , dimana Rangga sedang
menyelesaikan program Doktor di Vienna, Austria. Di Benua Eropa ini terdapat
banyak tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka temui, bahkan ternyata Eropa
adalah salah satu tempat yang pernah dikuasai oleh Islam. Film ini mengandung nilai-
nilai yang patut untuk dicontoh. Misalnya ketika Rangga ditawari daging babi oleh
Stefan (atheis) dan secara tegas Rangga menolaknya meski pada waktu itu daging
babi termasuk golongan murah. Meski demikian Rangga dan Stefan tetap bersahabat
walau berbeda keyakinan. Hal ini menunjukkan bahwa ketika manusia bertuhan ,
artinya mereka telah yakin sepenuh hati dengan apa yang telah Tuhan perintahkan
dan secara alami manusia fitrahnya memiliki adalah makhluk yang memerlukan
Tuhan sehingga dalam menghadapi sesuatu yang dilarang dalam agama , maka
mereka akan berpegang teguh pada perintah yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Selain
itu pembuat film ingin memberikan pemahaman kepada para penonton bahwa hidup
di negara Eropa yang mayoritas beragama non muslim adalah tantangan yang tidak
mudah. Walaupun hidup di negara dengan pemeluk agama islam yang sedikit namun
mereka tetap hidup berdampingan secara damai. Hal ini juga mengajarkan meski
memiliki keyakinan yang berbeda-beda namun kita harus tetap menjunjung tinggi
toleransi.
Pada salah satu scene dimana Stefan kembali mempertanyakan masalah
ketuhanan (konteks akidah) yang dianut Rangga. Kali ini Stefan mempertanyakan
tentang rukun Islam yang menurut Stefan dengan melakukan semua itu, tuhan yang
dipercayai oleh Rangga telah membuat umat pengikutnya tersiksa. Tidak hanya itu
Rangga juga ditanyakan tentang keberadaan Tuhan yang dianutnya. Namun Rangga
lebih memilih diam dan tidak menjawab tentang keberadaan Allah, kemudian Rangga
dengan tegas memperkuatkan argumentasinya. Tahapan ini mempunyai makna
denotatif bahwa scene ini menggambarkan sosok Rangga yang tetap berpegang teguh
kepada tali (agama) Allah. Dan Rangga juga memiliki komitmen untuk tidak
melanggar.

2. Negeri 5 Menara
Film ini bertemakan sebuah kehidupan social yang mengangkat cerita di Sumatera
Barat (Padang). Serta mengangkat tema religious karena lebih mementingkan
kehidupan agama islam. Seorang anak bernama Alif menginginkan sekolah di SMA
namun kedua orang tuanya mengirimnya ke sebuah pesantren di Jawa.
Orang tuanya pasti memiliki alasan tersendiri untuk mengirim Alif ke sebuah pondok
pesantren tentunya untuk memperdalam ilmu agama islam.

Di dalam film ini mengajarkan bahwa kita harus menuntut ilmu setinggi-tingginya
bukan hanya bidang pengetahuan scientific tapi juga dalam hal religius. Selain itu
dalam menggapai cita-cita tidak sepenuhnya berjalan sesuai kehendak namun pasti
ada rintangan dan cobaan yang harus dilalui , dimana hal tersebut adalah momen yang
tepat untuk berserah diri kepada Allah SWT agar semuanya dipermudah.
Dalam film ini pendidikan di pesantren digambarkan penuh dengan semangat para
santri muda dalam menuntut ilmu agama. Di pondok mendidik dan mencetak para
santri secara total untuk berkarya penuh totalitas di masyarakat. Tidak hanya di
pesantren namun pendidikan agama perlu diajarkan di seluruh jenjang pendidikan
agar pengetahuan agama berjalan dengan pengetahuan umum.
3. Alangkah Lucunya Negeri Ini
Film “Alangkah Lucunya Negeri Ini” berkisah tentang seorang pemuda yang
bernama Muluk, lulusan S1 Manajemen yang susah mencari pekerjaan di negerinya
sendiri. Oleh sebab itu, ia hendak beternak cacing. Namun, niat itu dibatalkan karena
haram. Pada suatu kesempatan, ia bertemu dengan seorang pencopet cilik yang
melakukan aksinya dipasar, namun ia tak menangkap pencopet itu malah sebaliknya,
memanfaatkan pencopet itu untuk dijadikan ladang bisnis. Para pencopet bekerja
sesuai dengan porsinya, dan setiap hasil yang di dapat akan di sisihkan 10% untuk
dirinya dan ditabung. Di situ, Muluk bersama dengan dua temannya yaitu Samsul dan
Pipit melihat peluang, akan mengembangkan sumber daya “pencopet” menjadi tidak
mencopet lagi dan akhirnya bekerja sebagai asongan.
Dalam film ini menunjukkan bahwa pendidikan itu penting dan setiap orang wajib
mendapatkan pendidikan yang sama rata. Pendidikan dapat membentuk karakter dari
seseorang dan untuk menciptakan generasi yang baik. Oleh karena itu peran seorang
guru sangat penting untuk mendidik siswa menjadi manusia yang baik. Dalam hal ini
ketika seorang muslim berhasil mendidik seseorang untuk menjadi lebih baik , hal ini
tentunya tidak akan merugikan dirinya, masyarakat, maupun agama. Melalui
pendidikan anak – anak pencopet itu kemudian diarahkan agar mendapat pekerjaan
yang halal dan memperoleh ilmu-ilmu agama. Film ini memberi banyak hikmah dan
renungan-renungan bahwa segala sesuatu harus didasari oleh agama. Di dalam film
anak-anak diajari sholat dan mengaji. Meski mereka adalah pencopet namun
pendidikan agama tetap saja penting. Hal ini dikarenakan hanya agamalah yang bisa
merubah akhlak manusia menjadi lebih baik. Untuk itu pengetahuan agama juga
diperlukan dan diterapkan disemua kalangan masyarakat.