You are on page 1of 16

MAKALAH

Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran di SD

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 2 :
1. DESRINA NIM. 836093814

2. SEPTIANA NIM. 836093093

3. YULI DWI JAYANTI NIM. 836093728

Program Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (S1 PGSD)


UPBJJ-UT BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-

Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Penyusunan tugas ini bertujuan untuk memenuhi tugas dan kewajiban kami sebagai mahasiswa

serta agar mahasiswa yang lain dapat melakukan kegiatan seperti yang kami lakukan. Dalam tugas

ini kami akan membahas mengenai “Pengembangan Kurikulum”. Dengan ini kami mengucapkan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung kami terutama

kepada dosen mata kuliah Pengembangan dan Telaah Kurikulum Sekolah selaku pembimbing kami.

Tiada gading yang tak retak, demikian pepatah mengatakan. Kami sadari tugas ini masih jauh dari

kesempurnaan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun sehingga kami dapat memperbaiki kesalahan kami.

Akhir kata kami ucapkan terima kasih. Semoga tugas ini bermanfaat dan berguna bagi kita semua.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I. PENDAHULUAN

Latar Belakang 1

Tujuan 1

Rumusan Masalah 1

Pengertian Kurikulum 1

Landasan dan Aspek Kurikulum 2

BAB II. PEMBAHASAN

Komponen - komponen dari kurikulum

Konsep dan teori kurikulum

Langkah pengembangan kurikulum

Kurikulum KTSP berlangsung

Langkah - langkah telaah kurikulum

BAB III. PENUTUP

Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Pengembangan kurikulum merupakan suatu kegiatan yang memberikan jawaban atas
sejumlah tuntutan kebutuhan yang berkembang pada pendidikan. Pengembangan kurikulum
dilakukan atas sejumlah komponen pada pendidikan, di antaranya pada pembelajaran yang
merupakan implementasi dari kurikulum. Hasil dari proses ini adalah adanya perubahan pada guru
dan siswa, serta komponen lainnya. Pandangan tentang kurikulum dikenal dalam dimensi
kurikulum yang membedakan peran dan fungsinya. Oleh karena itu perlu dipahami mengenai seluk
beluk kurikulum.

1. 2. Rumusan Masalah
1. Apa saja komponen - komponen dari kurikulum?
2. Bagaimana konsep dan teori kurikulum?
3. Bagaimana langkah - langkah pengembangan kurikulum?
4. Bagaimana kurikulum KTSP berlangsung?
5. Bagaimana langkah - langkah telaah kurikulum?

1. 3. Tujuan
1. Menjelaskan tentang komponen - komponen dari kurikulum;
2. Menjelaskan konsep dan teori kurikulum;
3. Menjelaskan langkah - langkah pengembangan kurikulum;
4. Menjelaskan tentang kurikulum KTSP berlangsung;
5. Menjelaskan langkah - langkah telaah kurikulum.

1.4. Pengertian Kurikulum


Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses berlajar mengajar
di bawah bimbingan dan tanggunga jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf
pengajarnya. Kurikulum merupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah,
jadi selain kegiatan kulikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal. (Nasution, 2008:5)
Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang berbunyi: Kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih
lanjut pada pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis
pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
a. Peningkatan iman dan takwa;
b. Peningkatan akhlak mulia;
c. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
d. Keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
f. Tuntutan dunia kerja;
g. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
h. Agama;
i. Dinamika perkembangan global;
j. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta didik yang
menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, kehidupan agama,
ekonomi, budaya, seni, teknologi dan tantangan kehidupan global. Artinya, kurikulum haruslah
memperhatikan permasalahan ini dengan serius dan menjawab permasalahan ini dengan
menyesuaikan diri pada kualitas manusia yang diharapkan dihasilkan pada setiap jenjang
pendidikan.

1.4. Landasan dan Aspek Kurikulum


Dalam buku ajar Teori Belajar dan Pembelajaran, Landasan setidaknya mempunyai makna
berikut:
1. Landasan adalah sebuah pondasi yang di atas di bangun sebuah bangunan.
2. Landasan adalah pikiran-pikiran abstrak yang dijadikan titik tolak atau titik berangkat bagi
pelaksanaan suatu kegiatan.
3. Landasan adalah pandangan –pandangan abstrak yang telah teruji , yang yang dipergunakan
sebagai titik tolak dalam menyusun konsep, pelaksanaan konsep dan evaluasi konsep.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Landasan berarti
1) Alas; bantalan; paron (alas untuk menempa, terbuat dr besi);
2) Lapangan terbang: pesawat kami mendarat dengan selamat;
3) Dasar; tumpuan: ~ hukum negara kita ialah pancasila dan uud 45.
Menurut Hornby c. s dalam “The Advance Learner’s Dictionary of Current English” (Redja
Mudyahardjo, 2001:8) mengemukakan definisi landasan sebagai berikut: “Foundation … that on
which an idea or belief rest; an underlying principle‟s as the foundations of religious belief; the
basis or starting point…”.
Jadi menurut Hornby landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi
sandaran, sesuatu prinsip yang mendasari, contohnya seperti landasan kepercayaan agama, dasar
atau titik tolak.
Dengan demikian landasan pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan,
suatu asumsi, atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan
kurikulum.

Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting, sehingga


apabila kurikulum diibaratkan sebagai sebuah bangunan gedung yang tidak menggunakan landasan
atau fundasi yang kuat, maka ketika diterpa angin atau terjadi goncangan, bangunan gedung
tersebut akan mudah rubuh dan rusak. Demikian pula halnya dengan kurikulum, apabila tidak
memiliki dasar pijakan yang kuat, maka kurikulum tersebut akan mudah terombang-ambing dan
yang akan dipertaruhkan adalah manusia (peserta didik) yang dihasilkan oleh pendidikan itu sendiri.
Ada empat landasan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu : Landasan
Filosofis, landasan Psikologis, landasan Sosiologis dan landasan Organisatoris.
A. Landasan Filosofis
Filosofis artinya berdasarkan filsafat. Sedangkan Filsafat itu sendiri berasal dari bahasa
yunani, yaitu dari kata “philos“ dan “sophia“. Philos, artinya cinta yang mendalam, dan sophia
adalah kearifan atau kebijaksanaan. Dengan demikian, filsafat secara harfiah dapat diartikan sebagai
cinta yang mendalam akan kearifan. Filsafat sangat penting karena harus dipertimbangkan dalam
mengambil keputusan tentang aspek kurikulum. Untuk itu tiap keputusan harus ada dasarnya. Jadi
filsafat adalah cara berfikir yang sedalam-dalamnya, yakni sampai akar-akarnya tentang hakikat
sesuatu. Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang jelas tentang apa yang mereka
junjung tinggi.

B. Landasan Psikologis
a. Psikologi Perkembangan Peserta Didik
Implikasi dari perkembangan peserta didik terhadap pengembangan kurikulum yaitu: Setiap anak
diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhannya. Disamping
disediakan pelajaran yang sifatnya umum (Program inti) yang wajib dipelajari setiap anak di
sekolah, disediakan pula pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat anak. Kurikulum disamping
menyediakan bahan ajar yang bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang nersifat
akademik. Bagi anak yang berbakat dibidang akademik diberi kesempatan untuk melanjutkan studi
ke jenjang pendidikan selanjutnya. Kurikulum memuat tujuan–tujuan yang mengandung
pengetahuan, nilai atau sikap, dan keterampilan yang menggambarkan keseluruhan pribadi yang
utuh lahir dan batin.
b. Psikologi Belajar
Psikologi atau teori belajar yang berkembang pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam tiga
rumpun yaitu:
1) Teori Daya (Disiplin Mental).
Menurut teori ini sejak kelahirannya (heredities)anak telah memiliki potensi-potensi atau daya-daya
tertentu (Faculties) yang masing-masing memiliki fungsi tertentu, seperti potensi/daya mengingat,
daya berpikir daya mencurahkan pendapat daya mengamati, daya memecahkan masalah, dan daya-
daya lainnya. Karena itu pengertian mengajar menurut teori ini adalah melatih peserta didik dalam
daya- daya itu, cara mempelajarinya pada umumnya melalui hapalan dan latihan.
2) Teori Behavorisme
Rumpun teori ini mencakup tiga teori, yaitu teori Koneksionisme atau teori Asosiasi, teori
Kondisioning, dan teori Reinforcement (Operent Conditioning), Rumpun teori Behaviorisme
berangkat dari asumsi bahwa individu tidak membawa potensi sejak lahir. Perkembangan individu
ditentukan oleh lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat) Teori Koneksionisme atau teori
Asosiasi adalah kehidupan tunduk kepada hukum stimulus-respon atau aksi-reaksi. Belajar pada
dasarnya merupakan hubungan antara stimulus-respon. Belajar merupakan upaya untuk membentuk
hubungan stimulus-respon. Belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus-respon
sebanyak-banyaknya.
3) Teori Organismik atau Gestalt
Teori ini mengacu kepada pengertian bahwa keseluruhan lebih bermakna dari pada bagian-bagian,
keseluruhan bukan kumpulan dari bagian-bagian. Manusia dianggap sebagai mahluk organisme
yang melakukan hubungan timbal balik dengan lingkungan secara keseluruhan, hubungan ini dijalin
oleh stimulus dan respon.
C. Landasan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki berbagai gejala sosial hubungan antar
individu, antar golongan, antar lembaga sosial atau masyarakat. Di dalam kehidupan kita tidak
hidup sendiri, namun hidup dalam suatu masyarakat. Dalam lingkungan itulah kita memiliki tugas
yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sebagai bakti kepada masyarakat yang telah
memberikan jasanya kepada kita.
Tiap masyarakat memiliki norma dan adat kebiasaan yang harus dipatuhi. Norma dan adat
kebiasaan tersebut memiliki corak nilai yang berbeda-beda, selain itu masing-masing dari kita juga
memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Hal inilah yang menjadi pertimbangan dalam
pengembangan sebuah kurikulum, termasuk perubahan tatanan masyarakat akibat perkembangan
IPTEK. Sehingga masyarakat dijadikan salah satu asas dalam pengembangan kurikulum.
D. Landasan Organisatoris
Landasan ini berkenaan dengan organisasi kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum perlu di
susun suatu desain yang tepat dan fungsional. Dilihat dari organisasinya ada tiga tipe bentuk
kurikulum:
a. Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject
curriculum)
b. Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang sejenis di hubung-hubungkan (Correlated
curriculum)
c. Kurikulum yang terdiri dari peleburan semua/ hampir semua mata pelajaran (integrated
curriculum)

BAB II
PEMBAHASAN

Prinsip Umum Pengembangan Kurikulum


Beberapa prinsip umum yang digunakan dalam pegembangan kurikulum adalah prinsip berorientasi
pada tujuan, kontinuitas, fleksibilitas, dan integritas.
1. Prinsip Berorientasi pada Tujuan/Kompetensi
Tujuan kurikulum juga harus komprensif, yakni meliputi berbagai aspek dominan tujuan, baik
kognitif, afektif maupun psikomotorik. Demikian halnya dengan kompetensi, kompetensi dapat
dipilah mulai dari standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi mata pelajaran (SKMP),
kompetensin mata pelajaran (SKMP), kompetensi dasar (KD), dan indikator.
2. Prinsip Kontinuitas
Prinsip kontinuitas dimaksudkan bahwa perlu ada kesinambungan khususnya kesinambungan
bahan/materi kurikulum anatra jenis dan jenjang program pendidikan. Kurikulum harus
diperhatikan minimal dua aspek kesinambungan, yaitu (a) materi kurikulum yang diperlukan pada
sekolah (tingkat) yang ada diatasnya harus sudah diberikan pada sekolah (tingkat) yang ada di
bawahnya dan (b) materi yang sudah diajarkan/diberikan pada sekolah (tingkat) yang ada diatasnya.
3. Prinsip Fleksibilitas
Prinsip fleksibilitas sebagai salah satu prinsip pengembangan kurikulum dimaksudkan adanya ruang
gerak yang memberikan sedikit kelonggaran dalam melakukan atau mengambil suatu keputusan
tentang suatu kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pelaksana kurikulum di lapangan.
4. Prinsip Integritas
Integritas yang dimaksud di sini adalah keterpaduan, artinya pengembangan kurikulum harus
dilakukan dengan menggunakan prinsip keterpaduan. Keterampilan hidup bukan sekadar
keteramapilan manual dan bukan pula ketermpilan untuk bekerja, tetapi suatu keterampilan untuk
hidup yang dapat dipilah menjadi lima kategori, yaitu sebagai berikut.
a. Keterampilan mengenal diri sendiri (self awareness) atau keterampilan personal (personal skill)
Keterampilan personal berkaitan dengan penghayatan diri sebagai makhlik Tuhan Yang Maha Esa,
anggota masyarakat, dan warga negara.
b. Keterampilan berpikir rasional (thinking skill)
Keterampilan berpikir rasional meliputi keterampilan menggali dan menemukan informasi,
keterampilan dalam mengolah dan menetapkan keputusan dan hidup secara kreatif.
c. Keterampilan sosial (social skill)
Keterampilan sosial atau keterampilan interpersonal, meliputi keterampilan berkomunikasi,
keterampilan berkomunikasi, keterampilan bekerja sama.
d. Keterampilan akademik (academic skill)
Keterampilan akademik berkaitan dengan kemampuan berpikir ilmiah , antara lain mencakup
memahami masalah, mengidentifikasi variabel, merumuskan hipotesis, dan melaksanakan
penelitian.
e. Ketermpilan vokasional (vocational skill)
Keterampilan vokasional disebut pula dengan keterampilan kejuruan merupakan keterampilan
kejuruan merupakan keterampilan yang dikaitka dengan bidang pekerjaan tertentu yang ada di
masyarakat.
Prinsip Khusus Pengembangan Komponen
1. Prinsip yang berkenaan dengan Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau jangka panjang, jangka menengah,
dan jangka pendek (khusus). Perumusan tujuan pendidikan bersumbe pada :
a. ketentuan kebijakan pemerintah,
b. survei mengenai persepsi orang tua/masyarakat
c. survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu
d. survei tentang manpower (sumber daya manusia/tenaga kerja)
e. pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama; serta
f. penelitian
2. Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan Isi Pendidikan
a. Perlu penjabaran tujuan pendidikan/pengajaran ke dalam perbuatan hasil belajar yang khusus dan
sederhana.
b. Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetuhuan, sikap, dan ketermpilan.
c. Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis
3. Prinsip Berkenaan dengan Pemilihan Proses Belajar Mengajar
4. Prinsip berkenaan dengan Pemilihan Media dan Alat Pengajaran
5. Prinsip yang berkenaan dengan Penilaian
Langkah-langkah Pengembangan Kurikulum
- Analilisis dan Diagnosis Kebutuhan
Analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan mempelajari tiga hal, yaitu kebutuhan siswa , tuntutan
masyarakat/dunia.
- Perumusan Tujuan
Tujuan-tujuan dalam pengembangan kurikulum berhiererki, mulai dari tujuan yang paling umum
(kompleks)
- Pemilihan dan Pengorganisasian Materi
Dalam hal penyusunan bahan pelajaran ini dikenal ada istilah scope dan sequence. Scope materi
kurikulum sebenarnya agak sulit untuk disusun.

. Implikasi Manajemen Berbasis Sekolah


Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah model pengelolaan yang memberikan otonomi atau
kemandirian kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan
langsung semua warga sekolah sesuai dengan standar yang ditetapkan. MBS bertujuan:
1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan
memberdayakan sumber daya yang tersedia;
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
melalui pengambilan keputusan bersama;
3. Meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada orang tua, sekolah, dan pemerintah tentang mutu
sekolah; serta
4. Meningkatkan kompetisi sehat antar sekolah dalam mencapai mutu pendidikan yang diharapkan.
MBS memberikan kesempatan bagi sekolah untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan
tantangan agar dapat mengunakan sumber daya secara optimal.
Dua asumsi dasar penerapan MBS,:
1. Sekolah dipandang sebagai suatu lembaga layanan jasa pendidikan yang memosisikan kepala
sekolah sebagai manajer pendidikan dan bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu pelayanan
dan hasil belajar.
2. Dapat efektif diterapkan apabila didukung oleh sistem berbagi kekuasaan antara pemerintah
pusat dan daerah dalam pengelolaan sekolah.
Prinsip umum pelaksanaan MBS:
1. Profesionalisme, dengan komponen pendidikan yaitu pengelola, praktisi, dan profesionalisme
dewan sekolah.
2. Pembagian kewenangan, sesuai fungsi dan perannya masing-masing.
3. Pencapaian mutu pendidikan, memiliki misi dan visi sesuai jenjang sekolah.
4. Partisipasi masyarakat, menuntut keterlibatan dan tanggung jawab semua pihak terkait.
5. Transparansi, berpijak pada keterbukaan dalam pengelolaan.
6. Pembentukan Dewan Sekolah, sebagai institusi penopang dan bertugas mengidentifikasi tujuan
dan manfaat program pendidikan serta merencanakan dan melaksanakan program bersama sekolah.

B. Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi


Kurikulum dalam pengertian modern lebih dari sekedar rencana pelajaran, tetapi sebagai
pengalaman belajar yang diperoleh siswa dari sekolah. Empat komponen utamanya: tujuan, materi,
strategi belajar mengajar, dan sistem evaluasi. Kurikulum sebagai pedoman guru dalam proses
belajar mengajar di sekolah. Kurikulum berubah sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta tuntutan kebutuhan masyarakat.

Selama tiga puluh empat tahun, Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum.
Tahun 2004, kita menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kemudian
dikembangkan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan PP no 19/2005
yang menyatakan bahwa penyusunan kurikulum merupakan tanggung jawab setiap satuan
pendidikan. Perundangan lain yang terkait dengan KTSP adalah:
(1) Permen Diknas RI no. 22/2006 tentang Standar Isi
(2) Permen Diknas RI no. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
(3) Permen Diknas RI no. 24/2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi
Kurikulum 2004 dikenal dengan KBK berisi standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD)
yang harus dicapai peserta didik melalui materi pokok dan indicator pencapaian hasil belajar.
Kompetensi dasar terdiri dari:
1. Kompetensi Akademik, peserta didik harus memiliki pengetahuan dan keterampilan mengatasi
tantangan dan persoalan hidup secara independen.
2. Kompetensi Okupasional, peserta didik harus memiliki kesiapan dan mampu beradaptasi
terhadap dunia kerja.
3. Kompetensi Kultural, peserta didik harus mampu menempatkan diri sebaik-baiknya dalam sistem
budaya dan tata nilai masyarakat yang pluralistik.
4. Kompetensi Temporal, peserta didik tetap eksis dalam menjalani kehidupan, mampu
memanfaatkan ketiga kemampuan dasar yang dimiliki sesuai dengan perkembangan jaman.
Selain itu juga dikenal keterampilan atau kecakapan hidup (lifeskill) yang mencakup lima kategori:
1. Keterampilan mengenal diri sendiri/personal
2. Keterampilan berpikir rasional
3. Keterampilan sosial
4. Keterampilan akademik
5. Keterampilan vokasional

C. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi


Secara umum, karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah sebagai berikut:
1. Menitikberatkan pada pencapaian target kompetensi daripada penguasaan materi
2. Mengakomodasi keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia
3. Memberikan kebebasan lebih luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk
mengembangkan dan melaksanakan program-program pembelajaran sesuai dengan kebutuhuan.
Empat komponen utama KBK (Boediono, 2002):
(1) Kurikulum dan Hasil Belajar
(2) Penilaian Berbasis Kelas
(3) Kegiatan Belajar Mengajar
(4) Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah

D. Prinsip Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi


Prinsip umum pengembangan kurikulum adalah:
(1) Iman dan Takwa, Nilai, dan Budi Pekerti
(2) Ketahanan dan Integritas Bangsa
(3) Keberseimbangan
(4) Berorientasi Global
(5) Berbasis Teknologi Informasi
(6) Berorientasi pada “Kecapakan Hidup”
(7) Berorientasi pada Siswa
(8) Berkesinambungan
(9) Berorientasi pada Proses dan Hasil

KEGIATAN BELAJAR 2 – IMPLIKASI PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS


KOMPETENSI
A. Peran Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran
Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi memerlukan tenaga pengelola pendidikan yang
memiliki profesionalisme dan dedikasi tinggi. Kompetensi guru menurut UU no. 14/2005 tentang
guru dan dosen, terdiri dari: kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Guru
berperan penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran. Dalam KBK, guru dituntut
menaruh perhatian pada keberadaan dan kebutuhan siswa, juga memiliki keterampilan menciptakan
dan memelihara kondisi belajar yang kondusif dengan cara mengelola siswa dan sarana
pembelajaran dengan baik. Guru harus mampu berinovasi dalam hal media pembelajaran yang
meningkatkan aktifitas siswa dan pada akhirnya meningkatkan hasil belajar.
Keterampilan melaksanakan prosedur mengajar:
1. Kegiatan memulai pelajaran
2. Kegiatan mengelola pembelajaran
3. Kegiatan mengorganisasi waktu
4. Kegiatan melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar
5. Kegiatan mengakhiri pelajaran
Secara singkat, peran guru dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai perencana, pengatur,
penilai, dan pembimbing.
B. Implementasi KBK Melalui Pembelajaran Terpadu
Faktor mengajar yang perlu diperhatikan agar proses pembelajaran efektif:
(1) Kesempatan untuk belajar
(2) Pengetahuan awal siswa
(3) Refleksi
(4) Motivasi
(5) Keragaman individu
(6) Kemandirian dan kerja sama
(7) Suasana yang mendukung
(8) Belajar untuk kebersamaan
(9) Siswa sebagai pembangun gagasan
(10)Rasa ingin tahu
(11)Menyenangkan
(12)Interaksi dan komunikasi
(13)Belajar cara belajar
Pembelajaran terpadu (integrated learning) menekankan pada kesatuan konsep sehingga
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitas dalam menemukan
keterkaitan antara bahan belajar. Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa menemukan sendiri
suatu konsep dan prinsip secara holistic, bermakna, dan otentik.
Tiga tipe pembelajaran terpadu yang terdiri dari 10 model (Fogarty, 1991:5):
(1) Tipe pembelajaran terpadu dalam satu disiplin ilmu (fragmented, connected, nested)
(2) Tipe pembelajaran terpadu antardisiplin ilmu (sequenced, shared, webbed, threaded, integrated)
(3) Tipe pembelajaran terpadu berdasarkan faktor pengelaman dan pengetahuan siswa (networked)

Model pembelajaran terpadu dapat diterapkan dalam pelaksanaan KBK. Konsep pembelajaran
terpadu membantu mengembangkan potensi peserta didik secara keseluruhan, sesuai dengan bakat
dan kemampuannya untuk tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan dapat
dipercaya.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses berlajar mengajar
di bawah bimbingan dan tanggunga jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf
pengajarnya. Kurikulum merupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah,
jadi selain kegiatan kulikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal. (Nasution, 2008:5)
Fungsi kurikulum dalam proses apendidikan, yakni merupakan alat untuk mencapai tujuan
pendidikan, maka hal ini berarti, sebagai alat pendidikan kurikulum mempunyai komponen-
komponen penunjang yang saling mendukung satu sama lainnya. Lima komponen kurikulum yaitu:
1. Tujuan,
2. Isi dan struktur program,
3. Organisasi dan strategi,
4. Sarana
5. Evaluasi.
Teori kurikulum adalah suatu perangkat pernyataan yang memberikan makna terhadap
kurikulum sekolah, makna tersebut terjadi karena adanya penegasan hubungan antara unsur-unsur
kurikulum, karena adanya petunjuk perkembangan/penggunaan dan evaluasi kurikulum.
Ada tiga konsep tentang kurikulum, kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan sebagai
bidang studi.
Ulasan teoritis tentang suatu konsepsi dasar itu disebut model atau konstruksi.
Pengembangan kurikulum model tersebut merupakan ulasan teoritis tentang suatu proses kurikulum
secara menyeluruh atau dapat pula ulasan tentang salah satu komponen kurikulum.
Model-model pengembangan kurikulum tersebut diantaranya adalah :
1. The Administrative Model
2. The Grass-Roots Model
3. The Demonstration Model
4. Beauchamp’s Model
5. Taba’s Inverted Model
6. Roger’s Interpersonal Relations Model
7. The Systematic Action-Research Model
8. Emerging Technical Models
a. The Behavioral Analysis Model
b. The System Analysis Model
c. The Computer-Based Model
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing
satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan
muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Silabus adalah
rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup
standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar.
DAFTAR PUSTAKA

Abbatt. 1998. Pengajaran yang Efektif. Jakarta: IKAPI.

Ali, Mohammad. 2003. Pendidikan untuk Pembangunan Nasional. Bandumg: Grasindo.

Hasan, Said Hamid. 2005. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Imperial Bhakti Utama.

Prayitno. 2002. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Bandung: Grasindo.

Sukmadinata, Nana Saodih. 2007. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.