You are on page 1of 8

Yose Emeraldo Theofilus | 59130002

Paper Akhir Hermeneutik PB I


Tentang Membayar Pajak kepada Kaisar (Markus 12:13-17)

Sebelum membahas lebih dalam mengenai perikop ‘Tentang Membayar Pajak Kepada
Kaisar’ ini baiklah kita memahami dahulu secara sekilas mengenai kitab dimana kisah ini
dimuat, yaitu dalam Injil Markus. Injil Markus merupakan Injil yang terpendek dengan hanya
16 pasal namun juga sekaligus Injil tertua, diduga ditulis pada antara tahun 65 – 69 1.
Tampaknya Injil ini dimaksudkan bagi orang-orang Kristen Romawi2.
Injil Markus ditulis dengan maksud sebagai pemberitaan kabar baik tentang
kemenangan Allah melalui Anak-Nya yang membawa keselamatan bagi seluruh dunia 3. Injil
Markus dapat dibagi menjadi tiga kumpulan kisah yaitu (1) kisah pengantar (1:1-13), (2)
pelayanan Yesus sampai perjalanannya ke Yerusalem (1:14 – 10:52), dan peristiwa-peristiwa
didalam dan sekitar Yerusalem (11:1-16:8).4 Injil Markus tampaknya juga condong
menggambarkan Yesus sebagai Hamba dan Pekerja alih-alih Rabi ternama. Kesimpulan ini
diambil dengan melihat bahwa ada 18 karya mujikzat yang dicantumkan sedangkan hanya 4
buah perumpaan yang tercantum. Sehingga bisa dikatakan bahwa tendensi Injil Markus
adalah menekankan pada perbuatan dan bukan pengajaran Yesus.5
Perikop ini diawali dengan “Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian
kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan” (ayat 13). Kalimat awal dalam
perikop ini terasa janggal dengan adanya kata ‘kemudian’. Ini mengindikasikan adanya
keterkaitan dengan perikop sebelumnya. Selain itu ada kata ‘disuruh’ sementara tidak ada
subyek yang melakukan perbuatan. Dalam beberapa versi bahasa inggris terdapat tambahan
kata ‘they’ (mereka) sebagai subyek6 meskipun ini juga tidak menjelaskan siapakah mereka
yang dimaksudkan itu. Selain itu muncul pertanyaan juga mengapa mereka hendak menjerat
Yesus?
Untuk mengetahui siapakah ‘mereka’, kita perlu melihat perikop-perikop sebelumnya
(11:27-33 dan 12:1-12). Disana kita bisa melihat adanya percakapan antara Yesus dengan
imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua di Bait Allah di Yerusalem (11:27).
1
Lihat Marxsen, W., Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-Masalahnya, (Jakarta:
Gunung Mulia, 2012), h.173,184, 194, dan 321 untuk dugaan penulisan masing-masing Injil.
2
Post, W. M., Tafsiran Injil Markus, (Bandung: Penerbit Kalam Hidup, 1974), h.3
3
Duyverman, M.E., Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, (Jakarta: Gunung Mulia, 2012), h.50
4
Marxsen, W., Op.cit., h.160
5
Post, W. M., Op.cit., h.4
6
“Later they sent ...”, Biblica, Inc, New International Version (NIV), 2011.; “Then they sent ...”, The Division
of Christian Education of the National Council of the Churches of Christ in the United States of America, New
Revised Standard Version (NRSV), 1989.; “And they send ....”, King James Version (KJV).

1
Kemudian di akhir percakapan itu (12:12) imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua itu
berusaha menangkap Yesus karena sindirian yang diberikan Yesus kepada mereka. Namun
mereka tidak berani melakukannya karena ada orang banyak. Selain itu tampaknya mereka
tidak memiliki asalan yang masuk akal untuk dapat menangkap Yesus kecuali bahwa Ia
menyindir mereka. Dari titik inilah perikop ini dimulai. Rupanya orang Farisi dan Herodian
disuruh oleh para imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua itu. Ini dilakukan sebagai usaha
menangkap Yesus. Asumsinya adalah orang-orang ini berencana membuat Yesus melakukan
suatu kesalahan sehingga penangkapan Yesus menjadi beralasan. Itulah mengapa disebutkan
mereka hendak menjerat Yesus (12:13).
Kisah ini memiliki paralelnya di dalam Injil Matius (22:15-22) dan Injil Lukas (20:20-
26), dan didalam kedua kisah tersebut sedikit perbedaan mengenai tokoh-tokoh yang terlibat
dalam usaha menjerat Yesus. Di dalam Injil Matius dikatakan bahwa orang-orang Farisilah
yang merencanakannya. Tidak disebutkan ada imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua disana.
Sementara itu di Injil Lukas, ahli Taurat dan imam kepala yang merencanakan penjeratan ini,
tetapi pengeksekusinya adalah seorang mata-mata, asumsinya adalah orang awam dan bukan
orang Farisi dan orang Herodian walau tidak disebutkan secara eksplisit. Perbedaan ini dapat
menghasilkan penafsiran yang berbeda pula yang akan dibahas nanti.
Siapakah orang Farisi dan orang Herodian itu? Arti sesungguhnya dari nama Farisi itu
tidak pasti, tetapi umumnya diterjemahkan sebagai ‘orang-orang yang dipisahkan’.
Tampaknya ini terkait dengan usaha mereka menjaga diri tidak bercacat-cela atau bernoda.7
Hal ini dilakukan dengan menginterpretasi Taurat secara akurat dan menjalankannya dengan
cermat.8 Dalam rangka itu, golongan Farisi membuat aturan-aturan tambahan yang berfungsi
sebagai pagar agar orang-orang tidak sampai langsung melanggar Taurat tetapi setidaknya
mengenai pagar-pagar tersebut dahulu. Contoh, agar tidak sampai terjadi pernikahan dengan
bangsa non-Yahudi, maka mereka membuat aturan tambahan yang melarang orang-orang
Yahudi untuk makan dan minum bersama orang-orang dari bangsa non-Yahudi 9. Jika terpaksa
atau tidak sengaja melanggar aturan tambahan ini paling tidak mereka belum melanggar
Taurat. Aturan-aturan tambahan ini dikenal sebagi tradisi lisan. Praktik ini yang
menyebabkan Dekalog (10 Hukum) dapat menurunkan 613 buah peraturan dan ketentuan.10
Selanjutnya mengenai orang Herodian, diduga mereka adalah suatu kelompok ekstrim
dalam golongan Saduki yang bersimpati dengan penguasa dan budaya asing 11. Mereka juga
7
Wahono, S. W., Di Sini Kutemukan : Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab, (Jakarta: Gunung
Mulia, 2011), h.328
8
Ferguson, E., Backgrounds of Early Christianity, (Michigan: Eerdmans Publishing Co., 2003), h.515-516
9
Pharisees, dalam http://www.jewishencyclopedia.com/articles/12087-pharisees diakses 8 Juni 2014.
10
Wahono, S. W., Op.cit., h.329
11
Pharisees, dalam http://www.newadvent.org/cathen/11789b.htm diakses 8 Juni 2014

2
adalah pendukung dinasti Herodian terutama Herodes Antipas12. Tampaknya mereka memiliki
dua pandangan yang khusus. Yang pertama adalah bahwa jika bangsa Yahudi telah ditaklukan
oleh bangsa asing berarti penundukan diri kepada pemerintahan asing tersebut adalah wajar.
Yang kedua adalah bahwa mengadopsi ritual dan kebiasaan agama dari penjajah asing adalah
tindakan yang tepat. Kedua opini ini tampaknya sangat tidak populer dikalangan orang
Yahudi.13
Ketika orang Farisi dan Herodian ini mendatangi Yesus (ayat 14), mereka pertama-
tama menyanjung-nyanjung Yesus sebagai orang yang jujur dan tidak mencari muka. Mereka
juga memanggilnya Guru atau rabi. Pada masa Yesus, sebutan Rabi bukanlah sebutan resmi
untuk suatu jabatan (guru), melainkan panggilan keakraban namun dengan juga disertai rasa
hormat yang besar14. Kata ini dapat diartikan “yang hebat” atau “tuanku” dan digunakan
untuk memanggil beragam macam orang yang dihormati15. Namun yang menjadi maksud
utama adalah pertanyaan yang mengikuti sanjungan tersebut, “Apakah diperbolehkan
membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?”. Inilah jerat
yang dipasang oleh orang Farisi dan Herodian.
Persoalan membayar pajak kepada Kaisar ini tampaknya persoalan yang hangat bagi
bangsa Yahudi masa itu16. Pelayanan Yesus dimulai kira-kira pada tahun 28 atau 29 Masehi17.
Ia melayani kurang lebih selama 3,5 tahun18. Percakapan mengenai membayar pajak ini
merupakan bagian dari kitab Markus yang menceritakan peristiwa-peristiwa di Yerusalem
pada akhir masa pelayanan Yesus19. Jika demikian maka cukup aman untuk memperkirakan
bahwa percakapan ini ditempatkan pada tahun 31-32 Masehi. Pada masa itu bangsa Yahudi
telah berada dibawah pemerintahan Romawi. Penaklukan Israel dibawah pemerintahan
Romawi telah terjadi pada 63 SM ketika Pompey (jenderal Romawi) menetapkan Hirkanus
sebagai imam besar20. Kejadian ini menandai otoritas Romawi atas bangsa Yahudi karena
pemerintah Romawi dapat menetapkan siapa yang menjadi pemimpin Yahudi. Oleh karena
itu bisa dikatakan bahwa bangsa Yahudi telah dijajah pemerintah Romawi kurang lebih 95
tahun terhitung sejak 63 SM. Pada masa itu Kaisar yang memerintah Romawi adalah Kaisar

12
Ferguson, E., Op.cit., h.533.
13
Albert Barnes' Notes on the Bible, Mat 22:15-22, dirujuk dari Markus 12:13-17
14
Wahono, S. W., Op.cit., h.330
15
Rabbi and Talmidim, dalam http://followtherabbi.com/guide/detail/rabbi-and-talmidim diakses 25 April 2014
16
Post, W. M., Op.cit., h.175
17
Köstenberger, A. J., Kellum, L. S., Quarles, C. L., et al., The Cradle, the Cross, and the Crown: An
Introduction to the New Testament, (Tennessee: B&H Publisihing Group, 2009), h 140-141 dan Maier, P.L.,
The Times and Places of Jesus dalam http://www.mtio.com/articles/aissar30.htm diakses 9 Juni 2014.
18
How old was Jesus when He was crucified? dalam http://carm.org/questions/about-jesus/how-old-was-jesus-
when-he-was-crucified diakses 25 April 2014
19
Marxsen, W. Op.cit., (Jakarta: Gunung Mulia, 2012), h.160
20
Ferguson, E., Op.cit., h.411-12

3
Tiberius21. Meskipun disebutkan perihal “membayar pajak kepada Kaisar” namun yang
menjadi dipersoalkan disini bukanlah membayar pajak kepada Kaisar Tiberius (spesifik
kepada satu Kaisar ini) tetapi kepada pemerintah Romawi dan Kaisar-kaisarnya.
Dibawah penjajahan Romawi, bangsa Yahudi sesungguhnya mendapatkan hak-hak
khusus yang mungkin tidak didapatkan oleh bangsa-bangsa jajahan Romawi yang lain. Hal
ini karena bangsa Yahudi telah menjadi sekutu Romawi sejak era Makabe bahkan menolong
pemimpin-pemimpin Romawi seperti Julius Caesar pada masa pemerintahannya. Hak paling
istimewa yang dimiliki bangsa Yahudi adalah kebebasan mereka untuk memeluk agamanya
dan tidak perlu ikut menyembah dewa-dewa Romawi (kadang berubah tergantung pada
pemimpin Romawi pada masa itu). Bangsa Yahudi juga mendapat perlindungan untuk
merayakan hari Sabat (misal boleh tidak hadir dalam rapat-rapat) dan perlindungan bagi
pembawa pajak Bait Allah ke Yerusalem dari berbagai daerah Romawi. 22 Meskipun demikian
bangsa Yahudi tetaplah bangsa jajahan Romawi sehingga mereka juga harus membayar pajak
kepada pemerintah.
Pemerintah Romawi tampaknya menerapkan pajak yang besar kepada bangsa-bangsa
jajahannya. Pajak ini digunakan untuk memanjakan warga negara Roma dan membangun
kota Roma, meskipun juga untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan raya di seluruh
daerah Romawi. Ada berbagai macam pajak yang diterapkan seperti pajak gandum pajak
penjualan, pajak cukai, pajak rumah, pajak air, pajak pekerjaan, pajak jalan dan lain
sebagainya2324. Pajak yang besar ini tentu memberatkan sebagian besar masyarakat terutama
kalangan menengah ke bawah.
Menarik jika melihat bahwa orang Farisi dan orang Herodian bersama-sama menemui
Yesus untuk menanyakan perihal pajak ini karena sesungguhnya orang Farisi dan Herodian
ini berseberangan pandang mengenai hal pajak ini. Dalam terjemahan NRSV digunakan
istilah lawful25 yang diterjemahkan sebagai ‘boleh atau tidak’ dalam TB-LAI26 (ayat 14). Ini
mengindikasikan bahwa persoalan ini adalah soal hukum Taurat. Tampaknya hukum yang
diperdebatkan adalah Ulangan 17:15 “maka hanyalah raja yang dipilih TUHAN, Allahmu,
yang harus kauangkat atasmu. Dari tengah-tengah saudara-saudaramu haruslah engkau
21
Ferguson, E., Op.cit., h.31
22
Ibid., h.429
23
Behind Luke’s Gospel: The Roman Empire During the Time of Jesus dalam http://www.patheos.com/blogs/-
thepangeablog/articles/unpublished-papers/behind-lukes-gospel-the-roman-empire-during-the-time-of-jesus/
diakses 9 Juni 2014
24
The Monetary System, Taxation, and Publicans in the Time of Christ dalam
http://www.accountingin-.com/accounting-historians-journal/volume-13-number-2/the-monetary-system-
taxation-and-publicans-in-the-time-of-christ/ diakses 9 Juni 2014
25
The Division of Christian Education of the National Council of the Churches of Christ in the United States of
America, New Revised Standard Version (NRSV), 1989.
26
LAI, Alkitab Terjemahan Baru (TB), Jakarta, 1974.

4
mengangkat seorang raja atasmu; seorang asing yang bukan saudaramu tidaklah boleh
kauangkat atasmu.”. Golongan Herodian merasa hukum itu hanya berlaku saat mereka bebas
memilih raja sendiri. Karena konteks Yahudi abad pertama adalah dalam penjajahan Romawi
maka adalah wajar untuk menerima pemerintah asing dan mengijinkan membayar pajak
kepada Kaisar. Sementara itu orang-orang Farisi berpendapat bahwa tidak boleh membayar
pajak kepada Kaisar, karena ini sama saja dengan mengakui pemerintahan Kaisar atas bangsa
Yahudi dan dengan demikian melanggar hukum mereka.27
Ini yang menjadikan jerat ini ampuh. Jika Yesus menjawab boleh maka dia
berseberangan dengan orang-orang Farisi dan sebagian besar orang Yahudi. Yesus akan
menjadi tidak populer dan mereka dapat menangkapnya atas dasar mengajar bertentangan
dengan Taurat. Apabila dia menjawab tidak boleh maka orang-orang Herodian akan
menangkapnya dengan tuduhan pemberontakan kepada pemerintah Romawi. Sungguh
sebuah situasi yang pelik.
Di ayat ke 15, Yesus mengetahui maksud mereka menjerat Dia, maka Dia menyuruh
mereka membawa suatu dinar ke hadapanNya. Dinar adalah mata uang standar yang
digunakan dalam pemerintahan Romawi. Bentuknya berupa koin perak. Satu dinar adalah
upah pekerja dalam sehari.28 Di Palestina, pajak kepada pemerintah Romawi dibayar
menggunakan mata uang dinar ini29.
Setelah mereka membawakan uang dinar, Yesus bertanya kepada mereka “Gambar
dan tulisan siapakah ini?” dan mereka menjawab “Gambar dan tulisan Kaisar” (ayat 16).
Selain sebagai alat tukar-menukar, koin pada masa pemerintahan Romawi juga digunakan
sebagai media propaganda oleh Kaisar-kaisar. Biasanya terdapat muka Kaisar dan
pencapaiannya tergambar di koin-koin tersebut. Kemungkinan dinar ini memiliki gambar
muka Kaisar Tiberius di satu sisi, mengenakan mahkota dari rangkaian daun atau bunga
dengan tulisan “Augustus Tiberius Caesar, anak dari Agustus yang didewakan” dan di sisi
satunya berisi gambar seorang perempuan yang sedang duduk (melambangkan Roma?)
dengan tulisan “Pontifex Maximus (jabatan/pemerintahan tertinggi)”.30
Lalu Yesus memberikan jawaban yang sangat cerdas, “Berikanlah kepada Kaisar apa
yang wajib kamu berikan kepada Kaisar ...” (ayat 17). Dengan menjawab demikian maka
Yesus secara tidak langsung menjawab boleh untuk membayar pajak kepada Kaisar atas dasar
bahwa koin tersebut adalah milik Kaisar pula. Tetapi jawaban Yesus tidak hanya berhenti
disitu, Dia melanjutkan “... dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!”.
27
Albert Barnes' Notes on the Bible, Mat 22:15-22
28
Post, W. M., Op.cit., h. 176
29
Albert Barnes' Notes on the Bible, Mat 22:15-22
30
Ferguson, E., Op.cit., h 91-92

5
Paruh kedua jawaban Yesus itu bisa merujuk kepada pajak Bait Allah. Pajak Bait
Allah adalah pajak yang diberlakukan atas setiap laki-laki Yahudi di atas usia dua puluh
tahun. Pajak ini digunakan untuk pemeliharaan Bait Allah dan menggaji imam-imam dan
orang Lewi yang bertugas disana.3132 Ada juga yang berkata bahwa pajak ini digunakan untuk
membeli hewan bagi persembahan harian, kayu, tepung, garam, dan dupa. 33 Besaran pajak ini
adalah setengah shekel setara dengan dua dirham dan dua dinar.34 Orang Yahudi masa itu
harus menukar uang dinar yang umum dipakai dengan koin Yahudi karena memakai dinar
Romawi untuk bea Bait Allah adalah pelanggaran hukum35. Disini Yesus juga mengingatkan
bahwa sebagai bangsa Yahudi, orang-orang tersebut juga perlu membaktikan diri kepada
Allah melalui kontribusinya lewat pajak bagi Bait Allah.
Tetapi paruh kedua perkataan Yesus ini juga bisa dipahami dengan mengingat
Kejadian 1:26, “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar
dan rupa Kita ...” Menggunakan logika yang digunakan Yesus dalam perikop ini, jika orang-
orang Farisi dan Herodian melihat dirinya sendiri atau manusia lain dan bertanya “Gambar
siapakah ini?” maka jawabannya adalah gambar Allah. Sehingga “... dan kepada Allah apa
yang wajib kamu berikan kepada Allah!” dapat dimaknai sebagai peringatan Yesus untuk
setiap orang memberikan dirinya sendiri sebagai persembahan bagi Tuhan. Jika mengikuti
pemaknaan kedua ini maka kita akan mendapatkan makna yang lebih dalam.
Dalam menafsirkan perikop maka kita perlu berhati-hati untuk tidak melihat hal-hal
yang tampak secara nyata saja. Semisal mengenai relasi antara orang Farisi dan Herodian.
Jika hanya memperhatikan bahwa mereka datang bersama-sama maka bisa diduga bahwa
mereka berteman padahal sebenarnya mereka bermusuhan. Contoh lain adalah mengenai
maksud dari memberikan kepada Allah yang wajib diberikan kepada Allah, yang bisa
dimaknai dalam dua hal yaitu perihal pajak Bait Allah dan memberikan seluruh hidup bagi
Tuhan. Oleh karena itu dalam menafsirkan perlu memberi perhatian lebih kepada hal-hal
yang tampaknya sudah jelas. Adalah baik untuk mempertanyakan dan mencoba menggali hal-
hal yang kita rasa sudah kita pahami.

31
The Monetary System, Taxation, and Publicans in the Time of Christ dalam
http://www.accountingin-.com/accounting-historians-journal/volume-13-number-2/the-monetary-system-
taxation-and-publicans-in-the-time-of-christ/ diakses 9 Juni 2014
32
Roman Government and Tax Collection in Palestine dalam http://www.kretzmannproject.org-/MAT/roman
%20government.htm diakses 9 Juni 2014
33
Albert Barnes' Notes on the Bible, Mat 17:24-27
34
Ferguson, E., Op.cit., h 564. Lihat juga tabel di halaman 93 untuk perbandingan nilai uang.
35
The Monetary System, Taxation, and Publicans in the Time of Christ dalam
http://www.accountingin-.com/accounting-historians-journal/volume-13-number-2/the-monetary-system-
taxation-and-publicans-in-the-time-of-christ/ diakses 9 Juni 2014

6
Dari perikop ini Yesus hendak mengingatkan bahwa setiap kita memiliki kewajiban
baik kepada negara. Memang jika melihat konteks waktu bahwa bangsa Israel berada
dibawah penjajahan Romawi maka terasa aneh dan janggal jika meminta orang untuk tunduk
kepada pemerintahan tersebut. Tetapi kita perlu cermat bahwa perikop ini perlu dilihat
sebagai relasi timbal-balik antara pemerintah dan penduduk / masyarakatnya. Masing-masing
memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhinya. Disini Yesus hendak mengajarkan
bahwa kita perlu melakukan bagian kita dalam suatu relasi tersebut. Entah kita suka atau
tidak (terutama soal kewajiban kita) melakukan kewajiban kita kepada negara. Kenapa?
Karena relasi kita dengan negara juga bagian dari kehidupan kita yang dipersembahkan bagi
Allah. Melakukan yang baik bagi negara berarti melakukan yang baik juga bagi Tuhan.
Melayani negara berarti juga bentuk melayani Tuhan, sehingga ayat 17, “Berikanlah kepada
Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu
berikan kepada Allah!” sebaiknya tidak dilihat sebagai pertentangan atau pemisahan antara
dua hal yang berbeda, tetapi anjuran yang pertama merupakan bagian yang tercakup dalam
anjuran yang kedua.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku
Biblica, Inc, New International Version (NIV), 2011
Duyverman, M.E., Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012
e-Sword, Albert Barnes' Notes on the Bible

7
Ferguson, E., Backgrounds of Early Christianity, Michigan: Eerdmans Publishing Co., 2003
King James Version (KJV).
Köstenberger, A. J., Kellum, L. S., Quarles, C. L., et al., The Cradle, the Cross, and the
Crown: An Introduction to the New Testament, Tennessee: B&H Publisihing Group,
2009.
LAI, Alkitab Terjemahan Baru (TB), Jakarta, 1974.
Marxsen, W. Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-Masalahnya,
Jakarta: Gunung Mulia, 2012
Post, W. M., Tafsiran Injil Markus, Bandung: Penerbit Kalam Hidup, 1974
The Division of Christian Education of the National Council of the Churches of Christ in the
United States of America, New Revised Standard Version (NRSV), 1989
Wahono, S. W., Di Sini Kutemukan : Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab,
Jakarta: Gunung Mulia, 2011

Sumber Internet
http://carm.org/questions/about-jesus/how-old-was-jesus-when-he-was-crucified
http://followtherabbi.com/guide/detail/rabbi-and-talmidim
http://www.accountingin.com/accounting-historians-journal/volume-13-number-2/the-
monetary-system-taxation-and-publicans-in-the-time-of-christ/
http://www.jewishencyclopedia.com/articles/12087-pharisees
http://www.kretzmannproject.org-/MAT/roman%20government.htm
http://www.mtio.com/articles/aissar30.htm
http://www.newadvent.org/cathen/11789b.htm
http://www.patheos.com/blogs/thepangeablog/articles/unpublished-papers/behind-lukes-
gospel-the-roman-empire-during-the-time-of-jesus/