You are on page 1of 2

PEMBUATAN EMULSI

Zat pengemulsi

Tahap awal dalam pembuatan suatu emulsi adalah pemilihan zat pengemulsi.
Agar berguna dalam preparat farmasi, zat pengemulsi harus mempunyai kualitas
tertentu. Salah satunya ia harus dapat dicampurkan dengan bahan formulatif lainnya
dan tidak boleh mengganggu stabilitas atau efikasi dari zat terapeutik. Ia harus stabil
dan tidak boleh terurai dalam preparat. Zat pengemulsi harus tidak toksis pada
penggunaan yang dimaksud dan jumlahnya yang dimakan oleh pasien. Juga ia harus
berbau, rasa dan warna lemah. Barangkali yang paling penting adalah kemampuan
dari zat pengemulsi tersebut untuk membentuk emulsi dan menjaga stabilitas dari
emulsi tersebut agar tercapai shelf life dari produk tersebut.

Berbagai tipe bahan telah digunakan dalam farmasi sebagai zat pengemulsi
jumlahnya ratusan, bahkan ribuan yang telah dites kemampuan emulsifikasinya.
Walaupun dalam hal ini tidak ada maksud untuk membicarakan masing-masing zat
ini dalam emulsi farmasi, tapi baik untuk dicatat tipe bahan-bahan yang umumnya
digunakan sebagai zat pengemulsi dan penerapannya secara umum. Diantara zat
pengemulsi dan zat penstabil untuk system farmasi adalah sebagai berikut:

1. Bahan-bahan karbohidrat seperti zat-zat yang terjadi secara alami: akasia


(gom), tragakan, agar, kondrus dan pectin bahan- bahan ini membentuk
koloida hidrofilik bila ditambahkanke dalam air dan umumnya menghasilkan
emulsi m/a. gom mungkin merupakan zat pengemulsi yang paing sering
digunakan dalam preparat emulsi yang dibuat baru oleh ahli farmasi di apotek.
Tragakan dan agar umumnya digunakan sebagai zat pengental dalam produk
yang diemulsikan dengan gom
2. Zat-zat protein seperti: gelatin, kuning telor dan kasein. Zat- zat ini
menghasilkan emulsi m/a. kerugian gelatin sebagai suatu zaat pengemulsi
adalah bahwa emulsi yang disiapkan dari gelatin seringkali terlalu cair dan
menjadi lebih cair pada pendiaman.
3. Alcohol dengan bobot molekul tinggi seperti: stearil alcohol, setil alcohol dan
gliseril monostearat. Bahan-bahan ini digunakan terutama sebagai zat
pengental dan penstabil untuk emulsi m/a dari lotio atau salep tertentu yang
digunakan sebagai obat luar. Kolestrol dan turunan kolestrol bisa juga
digunakan sebagai emulsi untuk obat luar dan menghasilkan emulsi a/m.
4. Zat-zat pembasah yang bisa bersifat kationik, anionic, dan nonionic. Zat-zat
ini mengandung gugus-gugus hidrofilik dan lipofilik, dengan bagian lipofilik
dari molekul tersebut. Dalam zat anionic, bagian lipofilik ini bermatan
negative, tapi dalam zat kationik bagian lipofilik ini bermuatan positif. Zat
pengemulsi nonionic menunjukkan tidak adanya kecenderungan untuk
mengion. Zat pengemulsi anionic termasuk berbagai jenis sabun bervalensi
satu, bervalensi banyak dan sabun organic seperti trietanolamin oleat dan
sulfonat seperti natrium laurilsulfat. Benzalkonium klorida terkenal terutama
karena sifat bakterisidanya.
5. Zat padat yang terbagi halus seperti tanah liat kolid termasuk bentonit,
magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida ini umumnya akan
membentuk emulsi m/a bila bahan yang tidak larut ditambahkan kefase air
jika ada sejumlah volume fase air lebih besar daripada fase minyaknya. Tetai
jika serbuk padat yang halus ini ditambahankan kedalam fase minyak dan
volume fase minyak lebih besar suatu zat seperti bentonit sanggup
membentuk suatu emulsi a/m