You are on page 1of 1

BAB V

KESIMPULAN

Secara garis besar penyebab retensi urin dapat diklasifikasi menjadi 5 jenis yaitu
akibat obstruksi, infeksi, farmakologi, neurologi, dan faktor trauma. Dari semua penyebab,
yang terbanyak adalah akibat pembesaran prostat jinak. Penyebab kedua akibat infeksi yang
menghasilkan peradangan dalam hal ini dapat dihubungkan dengan terjadinya striktur
urethra.
Gejala dan tanda striktur biasanya mulai dengan hambatan aliran urine dan kemudian
muncul sindrom obstruksi infravesika yang sama dengan gejala pada BPH atau yang kita
kenal dengan lower urinary tract syndrome (LUTS). Penatalaksanaan pada striktur urethra
adalah dengan businasi, retrotomi interna dan uretrotomi eksterna. Striktur uretra kerap kali
kambuh, sehingga pasien harus sering menjalani pemeriksaan yang teratur oleh dokter.
Penyakit ini dikatakan sembuh jika setelah dilakukan observasi selama 1 tahun tidak
menunjukkan tanda-tanda kekambuhan.
Hiperplasia Prostat Benigna adalah suatu keadaan dimana kelenjar periuretral prostat
mengalami hiperplasia yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer.
Pemeriksaan colok dubur merupakan pemeriksaan yang sangat penting dalam penegakkan
diagnosis BPH. Pada BPH akan ditemukan prostat yang lebih besar dari normal, permukaan
licin dan konsistensi kenyal. Tujuan terapi hyperplasia prostat adalah (1) memperbaiki
keluhan miksi, (2) meningkatkan kualitas hidup, (3) mengurangi obstruksi intravesika, (4)
mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal, (5) mengurangi volume residu urine
setelah miksi dan (6) mencegah progrefitas penyakit. Pada penatalaksanaan BPH jenis
operasi yang paling sering dilakukan yaitu prosedur yang disebut reseksi transurethral dari
prostat (TURP). TURP digunakan untuk 90 persen dari semua operasi yang dilakukan pada
BPH.