You are on page 1of 14

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI GAYA MEMPENGARUHI GERAK

BENDA DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA SISWA


KELAS IV SDN 001 SEBATIK

Irianto
PGSD, Universitas Terbuka

ABSTRAK

Berdasarkan pengalaman peneliti selama mengajarkan materi gaya mempengaruhi gerak


benda di kelas IV SDN 001 Sebatik dan hasil observasi terhadap guru kelas IV atas
pengalamannya mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam, kurang mengaktifkan siswa secara
langsung dalam proses pembelajaran, kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengkontruksi pengetahuan yang dimilikinya dengan menghubungkannya dengan fenomena-
fenomena yang ada di lingkungan sekitar siswa.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Meningkatkan hasil belajar IPA
materi gaya mempengaruhi gerak benda dengan menggunakan pembelajaran kontekstual pada siswa
kelas IV SDN 001 Sebatik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis
penelitian tindakan. Tindakan dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus. Setiap siklus melalui
empat tahap, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Paparan data dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran IPA melalui
pembelajaran Kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan gaya
mempengaruhi gerak benda di kelas IV SDN 001 Sebatik. Pembelajaran ini dilaksanakan dalam
lima tahap yaitu tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir.kegiatan pada tahap awal mencakup: (1)
menjelaskan tujuan pembelajaran (2) menjelaskan perangkat yang dibutuhkan serta memotivas
siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah.sedangkan pada kegiatan inti terdiri dari
(1) mengelolah pengetahuan awal siswa terhadap masalah (2) membimbing penyelidikan dan
kelompok.sedangkan pada kegiatan akhir mencakup (1) melakukan refleksi terhadap proses
pemecahan masalah (2) memberikan evaluasi. Berdasarkan evaluasi proses dan evaluasi hasil
pada setiap pembelajaran maka hasil belajar siswa pada pokok bahasa gaya mempengaruhi gerak
benda SDN 001 Sebatik meningkat dengan menggunakan pembelajaran kontekstual.

Kata Kunci: Kontekstual, Hasil Belajar, IPA

PENDAHULUAN

Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingka laku individu yang relatif
menetap sebagai hasil intraktif dengan lingkungan.Hasil belajar IPA tentu saja harus dikaitkan
dengan tujuan pendidikan IPA yang telah dicantumkan dalam garis-garis besar program
pembelajaran IPA disekolah dengan tidak melupakan hakekat IPA itu sendiri.oleh sebab itu
pelajaran menggambarkan hasil belajar yang harus dimiliki siswa dan cara siswa memperoleh
hasil belajar tersebut. Dengan pembelajaran Kontekstual merupakan suatu hal yang sangat
penting dilaksanakan dalam proses belajar mengajar dalam rangka meningkatkan hasil belajar
siswa seperti halnya mengajarkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Pembelajaran IPA di SD merupakan salah satu program pembelajaran yang bertujuan
untuk membina dan meyiapkan peserta didik agar nantinya tanggap dalam menghadapi
tantangan yang ada di lingkungannya. Abruscato dalam Khaerudin (2005: 15) mengemukakan
bahwa pembelajaran IPA di kelas dapat: (1) mengembangkan kognitif siswa (2)
mengembangkan efektifitas siswa, (3) mengembangkan psikomotorik serta melatih siswa
berpikir kritis dan nantinya siswa dapat menghadapi tantangan hidup yang semakin kompentetif
serta mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang mungkin dapat terjadi di
lingkungan sekitar.
Di samping itu pembelajaran IPA di SD diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
siswa tentang alam sekitar. Hal tersebut di atas merupakan pembelajaran IPA di sekolah dasar
dan diharapkan dapat tercapai sesuai tujuan pembelajaran, namun pada kenyataanya belum
sesuai harapan. Hal ini diungkapkan oleh Mususc dalam Haeruddin (2005 : 40) bahwa dalam
kenyataanya sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari
bagaimana pemanfaatannya dalam kehidupan nyata.
Sedangkan hasil observasi terhadap siswa kelas IV SDN 001 Sebatik terlihat bahwa siswa
kurang menguasai konsep IPA khususnya pada pokok bahasan gaya mempengaruhi gerak benda.
Siswa kurang melakukan percobaan dalam proses pembelajaran apalagi jika guru tersebut masih
terbiasa menjadikan siswa menjadi siswa sebagai pendengar yang baik tanpa melibatkan siswa
untuk berfikir dan bekerja secara aktif. Berdasarkan fenomena yang ada di atas maka peneliti
tertarik untuk melakukan tindakan perbaikan dengan menerapkan metode pembelajaran yang
akan dicobakan yang diperkirakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya dalam
memahami konsep gaya mempengaruhi gerak benda dengan menggunakan pembelajaran
kontekstual.
Permasalahan di atas terungkap melalui hasil observasi dan wawancara yang dilakukan
terhadap guru dan siswa kelas IV SDN SDN 001 Sebatik terlihat bahwa proses pembelajaran IPA
di sekolah dasar masih mempunyai kelemahan dimana masih banyak guru memberikan
penekanan terlalu besar pada faktor ingatan dan masih sangat kurang praktikum di samping itu
kegiatan menjadi terbatas karena fokus penyajian yang tidak lebih dari mendengarkan menyalin
apa yang dijelaskan oleh guru, tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja secara
aktif dan mengkonstruksi pengetahuan mereka pada gaya mempengaruhi gerak benda sehingga
mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan karena pada umumnya guru
hanya menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran. Di samping itu guru dalam
memberikan pertanyaan-pertanyaan hanya sebatas pertanyaan ingatan dan pengetahuan saja
tidak mengarah kepada pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada pengembangan berfikir anak
dengan menghubungkan antara materi gaya mempengaruhi gerak benda yang diajarkan dengan
fenomena-fenomena yang ada di lingkungan sekitar siswa.
Salah satu usaha yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi hal tersebut dalam upaya
meningkatkan hasil belajar pokok bahasan gaya mempengaruhi gerak benda adalah dengan
merubah atau memperbaiki model pembelajaran. Model yang dipilih adalah model Pembelajaran
kontekstual merupakan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata dan dapat mendorong peserta didik membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka.Sejalan dengan
itu Muslich dalam Usman (2006: 41) menyatakan bahwa pendekatan CTL adalah konsep belajar
yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuaan yang dimiliki dengan penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pemaparan latar belakang di atas maka penulis menemukan permasalahan yakni
bagaimana Meningkatkan hasil belajar IPA materi gaya mempengaruhi gerak benda dengan
menggunakanpembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV SDN 001 Sebatik?
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA materi
gaya mempengaruhi gerak benda dengan menggunakan pembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV
SDN 001 Sebatik.
Hasil belajar IPA di SD hendaknya mencakup hal-hal sebagai berikut: (a) Penguasaan produk
ilmia atau produk IPA yang mengacu pada seberapa besar siswa mengalami perubahan dalam
pengetahuan dan pemahaman tentang IPA baik berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, maupun
teori. (b) Penguasaan proses ilmiah atau proses IPA mengacu pada sejauh mana siswa
mengalami perubahan dalam kemampuan proses keilmuan yang terdiri atas keterampilan proses
IPA. (c) Hasil belajar IPA adalah segenap perubahan tingka laku yang terjadi pada siswa dalam
bidang IPA sebagai hasil mengikuti proses pembelajaran IPA Hasil belajar biasanya dinyatakan
dengan skor yang diperoleh dari tes hasil belajar yang diadakan setelah selesai mengikuti suatu
program pembelajar.
Pengajaran dan pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsepsi yang membantu
guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Pembelajaran ini memotifasi
siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dikelas dan menerapkannya dalam
kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat, dan nantinya sebagai
tenaga kerja Suiyanto (Rohani, 2002: 2)
Pengajaran dan pembelajaran kontekstual memiliki dua peranan dalam pendidikan yaitu
sebagai filsofi pendidikan CTL yang mengansumsikan bahwa peranan pendidikan adalah
membantu siswa menemukan makna dalam pendidikan dengan cara-cara menerapkan
pengetahuan tersebut didalam dunia nyata. Hal ini dimaksudkan untuk membantu siswa
memahami mengapa yang mereka pelajari itu penting. Sedangkan sebagai strategi pengajaran
dengan CTL memadukan tehnik-tehnik yang membantu siswa menjadi lebih aktif sebagai
pembelajar dan reflektif terhadap pengalamanya. Siswono dalam Sanjaya (2006: 257). Sejalan
dengan itu Parnell Sanjaya (2006: 257) menyatakan bahwa dalam pengajaran kontekstual tugas
utama guru adalah memperluas persepsi siswa sehingga makna atau pengertian itu menjadi muda
ditangkap dan tujuan pembelajarannya segra dimengerti.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran dan pembelajaran
kontekstual adalah sebuah pembelajaran yang membantu guru mengaitkan isi materi
pembelajaran denagan dunia nyata.
Menurut Kunandar (2007: 272) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran kontekstual
adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada:
1) Menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi
yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehiduapn mereka.
2) CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses
belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam
kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses
mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran
3) CTL mendorong siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan
situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap antara pengalaman
belajar disekolah dengan kehidupan nyata, hal ini sangat penting sebab dengan
mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata bukan saja bagi siswa
materi itu akan bermakna secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan
tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
4) CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan
hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi
bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehiduan sehari-hari
Berhubungan dengan penerapan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran, Nurhadi
(2003: 59) memodifikasi suatu model pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa
terhadap pembelajaran IPA dengan menggunakan pembelajaran kontekstual yakni sebagai
berikut:

Tabel. 1 Pembelajaran Kontekstual


Tahapan Kegiatan Guru
Tahap 1 : 1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
Orientasi siswa kepada 2. Menjelaskan perangkat yang dibutuhkan.
masalah 3. Memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang
dipilihnya.
Tahap 2 : 1. Guru mendorong siswa untuk mengemukakan pengetahuan awal yang
Mengelola pengetahuan awal dimilikinya terhadap masalah, kemudian pengetahuan awal siswa tersebut
siswa terhadap masalah. dijadikan acuan untuk menyelidikinya
2. Guru memotivasi siswa dalam membangun pengetahuan siswa dari
pengalaman baru berdasarkan pada pengetahuan awal. (Konstruktivisme)
3. Guru mengemukakan pertanyaan yang mengacu pada pengembangan
kreativitas berfikir siswa yang berhubungan dengan masalah dengan
mengaitkan antar masalah dengan kenyataan yang ada dilingkungan siswa.
(questioning)
4. Guru mendorong siswa untuk mengemukakan ide atau gagasan terhadap
pemecahan masalah yang akan dilakukan
Tahap 3 : 1. Membimbing siswa secara individu maupun dalam kelompok-kelompok
Mengorganisasikan, serta belajar dalam mengatasi masalah. (learning community)
membimbing penyelidikan 2. Guru membimbing siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai melalui
individual dan kelompok observasi dan eksperimen dengan mengaitkan antara masalah dengan konteks
keseharian siswa sehingga dari mengamati siswa dapat memahami masalah
tersebut (inquiri)
Tahap 4 : 1. Guru membantu siswa melakukan refleksi terhadap proses pemecahan
Menganalisis dan masalah yang dilakukan. (refleksi)
mengevaluasi proses 2. Guru mengukur dan mengevaluasi penyelidikan siswa dan proses-proses yang
pemecahan masalah mereka gunakan. (authentic assessment)
Tahap 5 : Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti
Mengembangkan dan laporan, video dan model baik secara individual maupun kelompok terhadap
menyajikan hasil karya proses pemecahan masalah yang telah dilakukan. (pemodelan)

METODE PENELITIAN

Yang menjadi subjek penelitian siswa SDN 001 Sebatik yang berjumlah 15 orang.
Penelitian ini dirancang pada bulan mei 2017 waktu tersebut dimulai dari tahap perencanaan
sampai tahap laporan dengan dua siklus penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni
tahun Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas IV SDN 001 Sebatik sebagai lokasi penelitian
ini.
Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di
sekolah atau sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang
bersangkutan (Arikunto, 2002: 82). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan
adalah adanya partisipasi dan Metode Pembelajaran Hands on Activity antara peneliti dengan
anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang
memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil
jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya pihak-pihak yang terlibat
dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain. Siklus spiral dari tahap-tahap
penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut.

Siklus 1

Refleksi Rencana
awal/rancangan

Tindakan/ Siklus 2
Observasi
Rencana yang
Refleksi direvisi

Tindakan/ Siklus 3
Observasi

Rencana yang
Refleksi direvisi

Tindakan/
Observasi

Gambar 3.1 Alur PTK (Arikunto, 2002:83)

Penjelasan alur di atas adalah:

1. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan


masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian
dan perangkat pembelajaran.
2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya
membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari
diterapkannya pengajaran kontekstual model Hands on Activity
3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan
yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
4. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat
rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tes, waancara,
pengamatan, dan catatan lapangan serta ceklis. Kelima teknik tersebut dapat diuraikan sebagi
berikut:
1 . Tes
Tes dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang pemahaman siswa terhadap pokok
bahasan gaya mempengaruhi suatu benda. Tes ini dilaksnakan pada awal penelitian, pada
skhir setiap tindakan dan pada akhir setelah diberikan serangkaian tindakan.
3. Pengamatan.
Pengamatan dilakukan oleh orang yang terlibat aktif dalam melasanakan tindakan yaitu guru
yang mengajar di kelas IV dan teman sejawat. Pada pengamatan ini digunakan pedoman
pengamatan untuk mencatat hal-hl yang dianggap penting.
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan selama dan setelah penelitian. Pada saat
refleksi dari setiap tindakan pembelajaran dan sesudah pengumpulan data dan analisis data.
Adapun teknik yang digunakan adalah teknik analisis data kuantitatif yang dikembangkan oleh
Miles dalam (Latri 2004: 99) yang terdiri dari tiga tahap kegiatan yang dilakukan secara
berurutan yaitu (1) mereduksi, (2) menyajikan data,s dan (3) menarik kesimpulan dan ferifikasi
data.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bagian ini dipaparkan data dan temuan hasil tindakan pembelajaran IPA
khususnya materi gaya mempengaruhi gerak benda secara kontekstual dengan menggunakan alat
peraga. Data tindakan, temuan dan refleksi diperoleh melalui hasil pengamatan, catatan
lapangan, dan dokumentasi hasil belajar siswa. Data setiap siklus dipaparkan secara terpisah.
Adapun paparan data penelitian mencakup (1) paparan data tindakan siklus 1, (2) paparan data
tindakan siklus 2. Hal ini bertujuan untuk melihat perkembangan alur setiap siklus.
1. Siklus 1

Dalam bagian ini dipaparkan perencanaan, pelaksanaan, hasil, dan temuan-temuan


penelitian Siklus 1. Paparan data tersebut diperoleh melalui hasil pengamatan pada aktivitas guru
dan siswa selama pembelajaran sains materi gaya mempengaruhi gerak benda berlangsung.
Dalam proses pembelajaran gaya mempengaruhi gerak benda dengan menggunakan pendekatan
CTL diarahkan siswa pada keberhasilan pencapaian hasil belajar.
Kegiatan yang dilakukan pada tindakan 1 siklus 1 meliputi perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi. Masing-masing kegiatan diuraikan sebagai berikut.
a. Perencanaan.
Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti dan guru kelas IV secara kolaboratif menyusun
rencana pembelajaran dengan model satuan pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun dan
dikembangkan berdasarkan program semester II.
Perencanaan pembelajaran ini mengambil pokok bahasan gaya dan sub pokok bahasan
gaya mempengaruhi gerak benda. Pokok bahasan tersebut diambil dari Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 kelas IV sekolah dasar dengan alokasi waktu 2 x 35 menit.
b. Pelaksanaan.
Pelaksanaan pembelajaran gaya mempengaruhi gerak benda dengan menggunakan
pendekatan kontekstual dalam meningkatkan hasil belajar siswa di kelas IV SDN 001 Sebatik
untuk tindakan 1 siklus pertama dilaksanakan pada hari senin 5 Mei 2017 pukul 08.30 sampai
dengan pukul 09.50. Dalam pelaksanaan tindakan siklus 1 ini, guru mengajarkan materi gaya
mempengaruhi gerak benda yang berorientasi pada karakteristik pembilajaran (CTL) dan
langkah-langkah pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Pada tahap kegiatan awal pembelajaran, guru memulai pembelajaran dengan
melaksanakan tahap pertama yaitu orientasi siswa kepada masalah. Kegiatan yang dilakukan
guru pada tindakan siklus pertama ini yaitu pertama-tama guru menjelaskan tujuan pembelajaran
kepada siswa yaitu mengenai gaya mempengaruhi gerak benda, kemudian guru menjelaskan
perangkat yang dibutuhkan, dan (4) memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan
masalah yang akan dilakukan.
Pada tahap pelaksanaan pembelajaran atau kegiatan inti pembelajaran, guru memulai
pembelajaran dengan melaksanakan tahap kedua dan ketiga dalam pembelajaran kontekstual
yaitu mengelola pengetahuan awal siswa terhadap masalah, dan mengorganisasi, serta
membimbing penyelidikan individual dan kelompok. Kegiatan yang dilakukan dalam kedua
tahap ini yaitu (1) meminta siswa untuk mengemukakan pengetahuan awal yang dimilikinya
terhadap materi, (2) guru memotivasi siswa dalam membangun pengetahuan siswa dari
pengalaman baru berdasarkan pada pengetahuan awal (konstruktivisme), (3) membimbing siswa
untuk mengemukakan pertanyaan terhadap materi (questioning), (4) mengoraganisisasikan siswa
kedalam kelompok-kelompok belajar (learning community), (6) mengumpulkan informasi yang
sesuai melalui observasi yang berhubungan dengan materi dan melaksanakan eksperimen untuk
mendapatkan penjelasan serta pemecahan masalahnya.
Sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun, penyajian materi pada
kegiatan ini dilakukan melalui beberapa langkah pembelajaran kontekstual yaitu (1) orientasi
kepada masalah, (2) mengelola pengetahuan awal terhadap materi, (3) Mengorganisasi, serta
membimbing penyelidikan individual dan kelompok, (4) menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah, dan (5) mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Dikelima langkah-
langkah pembelajaran kontekstual tersebut mencakup 7 komponen pembelajaran kontekstual
yaitu kontruktivisme, questioning, learning community, inquiry, pemodelan, refleksi, dan
authentic assessment.
Pada tahap orientasi siswa kepada masalah tujuannya siswa mengetahui tujuan
pembelajaran dan termotivasi agar terlibat secara aktif pada aktivitas pembelajaran. Pada tahap
mengelola pengetahuan awal siswa terhadap masalah tujuannya adalah agar siswa memiliki
pengetahuan awal terhadap materi gaya mempengaruhi gerak benda (Konstruktivisme). Aktivitas
pada pembelajaran ini yaitu siswa mengemukakan pengetahuan awal mereka terhadap materi
gaya, kemudian guru menyuruh beberapa orang siswa untuk mendorong dan menarik meja, buku
dan pensil. Guru mengemukakan pertanyaan apa yang dilakukan temannya tadi yaitu
berdasarkan peragaan tadi apa yang kalian amati apakah benda yang tadinya diam setelah
diberikan gaya apakah bergerak atau tidak (inquiry). Tahap mengorganisasi, serta membimbing
penyelidikan individual dan kelompok, guru mengarahkan siswa membentuk kelompok-
kelompok belajar (learning community), setelah kelompok terbentuk siswa melakukan
penyelidikan dengan mengisi Lembar Kerja Siswa, masing-masing kelompok memanipulasi
media atau alat peraga yaitu ketapel, buku, polpen, bola kaki, meja dan kursi, masing-masing
kelompok mengerakkan benda tersebut dengan cara ditarik dan didorong, serta mengamati
peragaan yang dilakukan dan mengisi Lembar kerja Siswa secara kelompok. Setelah hasil kerja
kelompok diselesiakan, masing-masing kelompok melaporkan hasil kegiatannya dan
kelompoknya lain memberi tanggapan. Setelah masing-masing kelompok melaporkan hasil
jawabannya yang ada pada LKS kegiatan berikutnya adalah tahap Menganalisis dan
mengevaluasi proses pemecahan masalah, guru membantu siswa melakukan refleksi terhadap
poses-proses yang mereka lakukan serta mengevaluasi dan mengukur penyelidikan siswa.
Tahap selanjutnya adalah mengembangkan dan menyajikan hasil karya, guru
membimbing siswa untuk membuat laporan hasil kegiatan yang telah dilakukan secara
kelompok. Kegiatan siswa yaitu membuat laporan hasil kegiatan yang telah dilakukan selama
proses pembelajaran (pemodelan). Kegiatan ini berlangsung kurang efektif karena laporan hasil
kegiatan tidak di buat oleh siswa.
Kegiatan selanjutnya adalah memberikan Evaluasi kepada siswa. Kegiatan ini bertujuan
untuk mengecek apakah siswa sudah benar-benar memahami tujuan yang ditetapkan dalam
pembelajaran. Guru membagikan lembar tes evaluasi kepada seluruh siswa sebagai akhir
tindakan. Peneliti mempersilahkan siswa mengerjakan soal secara individu dan tidak
diperkenankan bekerjasama dengan siapapun.
Setelah 15 menit kemudian guru menyatakan bahwa waktu untuk mengerjakan soal
telah selesai. Sebelum dikumpulkan, peneliti mengingatkan kepada seluruh siswa untuk
mengecek kembali jawaban yang telah dikerjakannya. Kemudian siswa diminta untuk
mengumpulkan lembar jawabannya. Setelah itu pembelajaran diakhiri dengan membuat
kesimpulan terhadap materi yang telah dipelajari.
c. Observasi
Hasil observasi yang diperoleh selama kegiatan pembelajaran tindakan siklus 1 adalah
sebagai berikut:
1. Pada kegiatan awal pembelajaran guru menggali pengetahuan awal yang dimiliki siswa
sesuai dengan pokok bahasan yang akan dibahas, dan melacak pengetahuan siswa tentang
pokok bahasan yang akan disajikan.
2. Guru meminta siswa untuk mendemonstrasikan alat peraga yang sesuai dengan pokok
bahasan yang disajikan.
3. Guru membagi siswa kedalam bebarapa kelompok, dan membagikan alat peraga yang akan
digunakan, serta membagikan LKS kepada masing-masing kelompok.
4. Siswa kurang mampu mengaitkan antara materi dengan konteks keseharian mereka, sehingga
mereka masih bingung terhadap penerapan konsep tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.
5. Guru dalam menjelaskan materi kurang mengaitkan antara materi dengan konteks keseharian
siswa sehari-hari, sehingga siswa masih kurang memahami materi.
6. Guru dalam memberikan contoh hanya berdasarkan praktek yang dilakukan.

d. Analisis dan Refleksi.


Pembelajaran tindakan siklus 1 difokuskan pada peningkatan hasil belajar belajar siswa
memahami konsep gaya mempengaruhi gerak benda. Seluruh data yang direkam melalui
observasi, evaluasi proses, dan evaluasi hasil telah disusun dan didiskusikan secara bersama-
sama degan pengamat. Hasil analisis dan refleksi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada
tindakan siklus 1 adalah sebagai berikut :
1. Guru telah melaksanakan tugasnya dalam pembelajaran mulai dari menyampaikan tujuan
pembelajaran, membimbing dan mengarahkan siswa bekerja secara individu dan kelompok.
Guru mengamati semua kegiatan pembelajaran dan melakukan penilaian terhadap siswa
mulai dari peoses pembelajaran hingga akhir pembelajaran.
2. Waktu pembelajaran berlangsung 20 menit lebih lama dari waktu yang direncanakan. Hal ini
disebabkan guru kurang efektif dalam pengkotribusian alat peraga kepada setiap kelompok,
serta siswa selalu menunggu informasi dari guru.
Berdasarkan hasil analisis data dan refleksi di atas dan mengacu kepada indikator
keberhasilan yang ditetapkan bahwa ketuntasan belajar siswa pada siklus I belum mengacu
pada indikator keberhasilan yang telah ditentukan yaitu hanya mencapai 13,33% atau
sebanyak 2 orang siswa yang memperoleh nilai 70. Hal ini disebabkan, guru kurang memberi
motivasi kepada siswa, sehingga siswa kurang memperhatikan penjelasan guru. Guru juga
tidak mengecek pemahaman siswa setelah menjelaskan materi gaya mempengaruhi gerak
benda. Selain itu, siswa masih malu dan takut untuk bertanya kepada guru. Sehingga guru
tidak mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami siswa. Sedangkan dalam diskusi
kelompok yang terdiri dari 3 kelompok hanya 1 kelompok yang dapat menyelesaikan LKS
dengan baik (33,33%), maka disimpulkan bahwa pembelajaran masih belum berhasil.
Dengan melihat kekurangan-kekurangan yang ada serta hasil tes siklus I yang belum
mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan maka materi ini perlu diulang pada
tindakan siklus II dengan beberapa penyempurnaan sebagai berikut:
1. Guru harus lebih memotivasi kepada siswa agar tidak ragu-ragu mengemukakan
pendapat.
2. Guru harus lebih memperhatikan penyediaan alat peraga agar seluruh kelompok siswa
dapat memanipulasi alat peraga dengan baik.
3. Guru harus lebih banyak memberikan contoh-contoh konkret kepada siswa dengan
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan fenomena yang ada dilingkungan siswa,
sesuai dengan pembelajaran kontekstual.
2. Siklus 2.
Dalam bagian ini dipaparkan perencanaan, pelaksanaan, hasil, dan temuan-temuan
penelitian Siklus 2. Paparan data tersebut diperoleh melalui hasil pengamatan pada aktivitas guru
dan siswa selama pembelajaran sains materi gaya mempengaruhi gerak benda berlangsung.
Dalam proses pembelajaran gaya mempengaruhi gerak benda dengan menggunakan pendekatan
CTL diarahkan siswa pada keberhasilan pencapaian hasil belajar.
Kegiatan yang dilakukan pada tindakan 1 siklus 2 meliputi perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi. Masing-masing kegiatan diuraikan sebagai berikut.
a. Perencanaan.
Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti dan guru kelas IV secara kolaboratif menyusun
rencana pembelajaran dengan model satuan pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun dan
dikembangkan berdasarkan program semester II.
Perencanaan pembelajaran ini mengambil pokok bahasan gaya dan sub pokok bahasan
gaya mempengaruhi gerak benda. Pokok bahasan tersebut diambil dari Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 kelas IV sekolah dasar dengan alokasi waktu 2 x 35 menit.
Indikator pembelajaran yang ingin dicapai adalah siswa dapat memahami berdasarkan
pengalaman dilingkungan sekitarnya mengenai gaya dapat merubah suatu benda (KTSP 2006).
Berdasarkan indikator pembelajaran tersebut, peneliti dan guru menetapkan tujuan pembelajaran,
yaitu (1) siswa dapat menyebutkan contoh peristiwa yang membuktikan bahwa bahwa gaya
dapat merubah suatu benda diam menjadi bergerak, (2) siswa dapat menjelaskan peristiwa yang
membuktikan bahwa benda bergerak dapat berubah arah jika dikenakan suatu gaya, dan (3)
siswa dapat menyebutkan contoh peritiwa berdasarkan pengalamannya dilingkungan sehari-hari
yang membuktikan bahwa benda dapat bergerak jika dikenakan suatu gaya yang cukup.
b. Pelaksanaan.
Pelaksanaan pembelajaran gaya mempengaruhi gerak benda dengan menggunakan
pendekatan kontekstual dalam meningkatkan hasil belajar siswa di kelas IV IV SDN 001 Sebatik
untuk tindakan 1 siklus kedua dilaksanakan pada hari senin 12 Mei 2017 pukul 08.30 sampai
dengan pukul 09.50, dan dihadiri 15 orang siswa. Dalam pelaksanaan tindakan siklus 1 ini, guru
mengajarkan materi gaya mempengaruhi gerak benda yang berorientasi pada langkah-langkah
pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang antara lain adalah (1)
orientasi kepada masalah, (2) mengelola pengetahuan awal terhadap masalah, (3)
mengorganisasikan serta membimbing penyelidikan individual dan kelompok, (4) menganalisis
serta mengevaluasi proses pemecahan masalah, dan (5) mengembangkan dan menyajikan hasil
karya. Kelima langkah pembelajaran tersebut terbagi dalam 3 tahapan pembelajaran yaitu tahap
kegiatan awal, tahap pelaksanaan/kegiatan inti pembelajaran, dan tahap akhir pembelajaran.
Pada tahap kegiatan awal pembelajaran, guru memulai pembelajaran dengan
melaksanakan tahap pertama yaitu orientasi siswa kepada masalah. Kegiatan yang dilakukan
guru pada tindakan siklus pertama ini yaitu pertama-tama guru menjelaskan tujuan pembelajaran
kepada siswa yaitu mengenai gaya mempengaruhi gerak benda, kemudian guru menjelaskan
perangkat yang dibutuhkan, dan (4) memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan
masalah yang akan dilakukan.
Pada tahap pelaksanaan pembelajaran atau kegiatan inti pembelajaran, guru memulai
pembelajaran dengan melaksanakan tahap kedua dan ketiga dalam pembelajaran kontekstual
yaitu mengelola pengetahuan awal siswa terhadap masalah, dan mengorganisasi, serta
membimbing penyelidikan individual dan kelompok. Kegiatan yang dilakukan dalam kedua
tahap ini yaitu (1) meminta siswa untuk mengemukakan pengetahuan awal yang dimilikinya
terhadap materi, (2) guru memotivasi siswa dalam membangun pengetahuan siswa dari
pengalaman baru berdasarkan pada pengetahuan awal (konstruktivisme), (3) membimbing siswa
untuk mengemukakan pertanyaan terhadap materi (questioning), (4) mengorganisisasikan siswa
kedalam kelompok-kelompok belajar (learning community), (6) mengumpulkan informasi yang
sesuai melalui observasi yang berhubungan dengan materi dan melaksanakan eksperimen untuk
mendapatkan penjelasan serta pemecahan masalahnya.
Sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun, penyajian materi pada
kegiatan ini dilakukan melalui beberapa langkah pembelajaran kontekstual yaitu (1) orientasi
kepada masalah, (2) mengelola pengetahuan awal terhadap materi, (3) Mengorganisasi, serta
membimbing penyelidikan individual dan kelompok, (4) menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah, dan (5) mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Dikelima langkah-
langkah pembelajaran kontekstual tersebut mencakup 7 komponen pembelajaran kontekstual
yaitu kontruktivisme, questioning, learning community, inquiry, pemodelan, refleksi, dan
authentic assessment.
Pada tahap orientasi siswa kepada masalah tujuannya siswa mengetahui tujuan
pembelajaran dan termotivasi agar terlibat secara aktif pada aktivitas pembelajaran. Pada tahap
mengelola pengetahuan awal siswa terhadap masalah tujuannya adalah agar siswa memiliki
pengetahuan awal terhadap materi gaya mempengaruhi gerak benda (Konstruktivisme). Aktivitas
pada pembelajaran ini yaitu siswa mengemukakan pengetahuan awal mereka terhadap materi
gaya, kemudian guru menyuruh beberapa orang siswa untuk mendorong dan menarik meja, buku
dan pensil. Guru mengemukakan pertanyaan apa yang dilakukan temannya tadi yaitu
berdasarkan peragaan tadi apa yang kalian amati apakah benda yang tadinya diam setelah
diberikan gaya apakah bergerak atau tidak (inquiry).
Tahap mengorganisasi, serta membimbing penyelidikan individual dan kelompok, guru
mengarahkan siswa membentuk kelompok-kelompok belajar (learning community), setelah
kelompok terbentuk siswa melakukan penyelidikan dengan mengisi Lembar Kerja Siswa,
masing-masing kelompok memanipulasi alat peraga yaitu ketapel, buku, pulpen, bola kaki, meja
dan kursi, masing-masing kelompok mengerakkan benda tersebut dengan cara ditarik dan
didorong, serta mengamati peragaan yang dilakukan dan mengisi Lembar kerja Siswa secra
kelompok. Setelah hasil kerja kelompok diselesiakan, masing-masing kelompok melaporkan
hasil kegiatannya dan kelompoknya lain memberi tanggapan.
Setelah masing-masing kelompok melaporkan hasil jawabannya yang ada pada LKS
kegiatan berikutnya adalah tahap Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah,
guru membantu siswa melakukan refleksi terhadap poses-proses yang mereka lakukan serta
mengevaluasi dan mengukur penyelidikan siswa serta poses-proses pembelajaran yang mereka
lakukan (authentic assesment). Kegiatan siswa yakni meninjau kembali atau mengingat kembali
proses-proses kegiatan yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung (refleksi).
Guru membantu siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk meninjau kembali atau
merefleksi kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran, apakah ada masalah
ataukah apa masih ada materi yang belum dipahami.
Tahap selanjutnya adalah mengembangkan dan menyajikan hasil karya, guru
membimbing siswa untuk membuat laporan hasil kegiatan yang telah dilakukan secara
kelompok. Kegiatan siswa yaitu membuat laporan hasil kegiatan yang telah dilakukan selama
proses pembelajaran (pemodelan). Kegiatan ini berlangsung efektif karena guru memberikan
bimbingan atau gambaran membuat laporan hasil kegiatan LKS, dan dikumpulkan tepat dengan
waktu yang telah ditetapkan.
Kegiatan selanjutnya adalah memberikan Evaluasi kepada siswa. Kegiatan ini bertujuan
untuk mengecek apakah siswa sudah benar-benar memahami tujuan yang ditetapkan dalam
pembelajaran. Guru membagikan lembar tes evaluasi kepada seluruh siswa sebagai akhir
tindakan. Peneliti mempersilahkan siswa mengerjakan soal secara individu dan tidak
diperkenankan bekerjasama dengan siapapun.
Evaluasi hasil dilaksanakan pada akhir pembelajaran. Jika dilihat hasil yang diperoleh
siswa pada tindakan siklus 2 ini sudah menunjukkan hasil yang diinginkan. Selama mengerjakan
tes siswa tidak menemukan kesulitan dengan soal yang diberikan, meskipun masih ada soal yang
dijawab kurang tepat, namun berdasarkan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan oleh
peneliti, hasil tes siswa sudah mencapai target yang telah ditetapkan.
c. Observasi Siklus 2.
Hasil observasi yang diperoleh selama kegiatan pembelajaran tindakan siklus 2 adalah
sebagai berikut:
1. Pada kegiatan awal pembelajaran guru menggelola pengetahuan awal yang dimiliki siswa
sesuai dengan pokok bahasan yang akan dibahas, dan melacak pengetahuan siswa tentang
pokok bahasan yang akan disajikan.
2. Guru meminta siswa untuk mendemonstrasikan alat peraga yang sesuai dengan pokok
bahasan yang disajikan.
3. Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok, dan membagikan alat peraga yang akan
digunakan, serta membagikan LKS kepada masing-masing kelompok.
4. Kerja dalam kelompok sudah berjalan efektif, meskipun masih ada sebahagian siswa yang
kurang memahami maksud dari pertanyaan dari LKS, namun berkat bantuan dari teman
sekelompoknya masalah tersebut dapat diatasi.
5. Guru sudah mampu menggunakan waktu secara efisien sehingga pembelajaran yang
direncanakan sudah sesuai dengan yang dilaksanakan.
d. Analisis dan Refleksi.
Pembelajaran tindakan siklus 2 difokuskan pada peningkatan hasil belajar belajar siswa
memahami konsep gaya mempengaruhi gerak benda. Seluruh data yang direkam melalui
observasi, evaluasi proses, dan evaluasi hasil telah disusun dan didiskusikan secara bersama-
sama dengan pengamat. Hasil analisis dan refleksi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada
tindakan siklus 2 adalah sebagai berikut:
1. Guru telah melaksanakan tugasnya dalam pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah
pembelajaran kontekstual, mulai dari menyampaikan tujuan pembelajaran, membimbing dan
mengarahkan siswa bekerja secara individu dan kelompok. Guru mengamati semua kegiatan
pembelajaran dan melakukan penilaian terhadap siswa mulai dari peoses pembelajaran
hingga akhir pembelajaran.
2. Pelaksanaan proses pembelajaran berlangsung efektif, dan juga siswa sudah aktif dalam
bekerjasama secara kelompok menyelesaikan soal-soal yang ada pada LKS. Hal ini
disebabkan pembagian kelompok yang efektif, dimana siswa yang memiliki kemampuan
lebih sudah disebar kemasing-masing kelompok, dan diberi tugas untuk membantu siswa
dikelompoknya jika ada seseuatu hal yang kurang atau belum dipahami dengan baik.
Pengkaferan siswa yang memilik kemampuan lebih berdasarkan dari informasi dari guru
kelasnya dan berdasarkan hasil dari tes siklus 1.
3. Waktu pembelajaran berlangsung efektif sesuai dengan yang direncanakan. Hal ini
disebabkan karena guru memperhatikan pengorganisasian waktu dengan baik mulai dari
membuka, melaksanakan, hingga menutup pelajaran.
Berdasarkan hasil analisis data dan refleksi di atas dan mengacu kepada indikator
keberhasilan yang ditetapkan, hasil tes siklus 2 menunjukkan peningkatan atau dengan kata
lain indikator keberhasilan yang ditetapkan sudah tercapai karena seluruh siswa yang
menjadi subjek penelitian telah memperoleh nilai paling rendah 70. maka disimpulkan bahwa
pembelajaran sudah berhasil. Dengan demikian tujuan pembelajaran sudah tercapai.
Pembahasan
Pada bab ini akan dibahas tentang data yang telah dipaparkan dalam bab IV. Pembahasan
didasarkan teori yang berkaitan dengan pengimplementasian pendekatan Kontekstual (CTL)
untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi gaya mempengaruhi gerak benda.
Hasil tindakan siklus pertama belum mencapai hasil yang diharapkan, hal ini dilihat dari
hasil belajar siswa pada tindakan siklus 1 yang belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang
diharapkan peneliti. Penyebab belum tercapainya hasil belajar yang diharapkan, dikarenakan
guru dalam menerapkan pembelajaran belum sepenuhnya mengaplikasikan pembelajaran secara
optimal sesuai dengan yang rancangan awal pembelajaran. Pada tindakan siklus 1 ini guru
diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi gaya mempengaruhi gerak
benda dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Guru melaksanakan pembelajaran harus
sesuai dengan pendekatan yang digunakan yaitu dengan menerapkan 5 tahapan pembelajaran
kontekstual berbasis masalah dalam meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi gaya
mempengaruhi gerak benda.
Dalam pembelajaran tindakan siklus pertama guru belum mampu melaksanakan
pembelajaran secara optimal, kelima tahapan pembelajaran gaya mempengaruhi gerak benda
dengan menggunakan pendekatan kontekstual belum mampu diaplikasikan dengan baik sehingga
berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa, dimana pada siklus 1 ini hasil belajar siswa
belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang diharapkan. Siswa belum mampu menyelesaikan
soal tes formatif dengan benar, pertanyaan dalam LKS pun sebagain belum terjawab, hal ini
menunjukkan siswa masih kurang memahami materi yang disampaikan guru, sehingga hasil
belajar siswa belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan peneliti.
Pada tindakan siklus 2 Keberhasilannya sudah mencapai target yang diinginkan, hal ini
dilihat dari jawaban siswa pada LKS, tes formatif dan tes akhir sudah sesuai dengan kriteria
keberhasilan yang ditetapkan, dimana dalam pembelajaran pada siklus 2 ini juga menerapkan
pendekatan kontekstual sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gaya
mempengaruhi gerak benda, dengan langkah-langkah pembelajaran yang pada umumnya
digunakan dalam pembelajaran.
Tindakan pembelajaran pada siklus 2 ini sudah sesuai dengan yang diharapkan peneliti,
dimana indikator pembelajaran atau tujuan pembelajaran telah tercapai dengan baik, dimana
tujuan pembelajaran dalam materi gaya mempengaruhi gerak benda yaitu (1) siswa dapat
menyebutkan contoh peristiwa yang membuktikan bahwa gaya dapat merubah suatu benda diam
menjadi bergerak, (2) siswa dapat menjelaskan peristiwa yang membuktikan bahwa benda
bergerak dapat berubah arah jika dikenakan suatu gaya, dan (3) siswa dapat menyebutkan contoh
peritiwa berdasarkan pengalamannya dilingkungan sehari-hari yang membuktikan bahwa benda
dapat bergerak jika dikenakan suatu gaya yang cukup. Ketiga tujuan pembelajaran tersebut telah
tercapai dengan baik, siswa juga sudah mampu menemukan pola hubungan yang bermakna
antara materi dengan konteks keseharian siswa dilingkungannya, siswa juga beranggapan dengan
menggunakan pendekatan kontekstual dalam belajar sains. Adapau perbandingan nilai siswa dari
siklus 1 dan siklus 2

NILAI HASIL BELAJAR


NO INISIAL Tes Siklus Tes Siklus II
I
1. AN 40 80
2. FH 40 90
3. JK 70 100
4. BD 40 60
5. AW 50 90
6. MH 50 90
7. RD 40 80
8. JF 70 90
9. ZF 50 80
10. AD 60 90
11. CL 60 90
12. LH 50 90
13. PS 60 90
14. AM 60 90
15. YT 50 80
Jumlah 790 1290
Rata-rata 52,7 86
ketuntasan Belajar 13,33% 100%

KESIMPULAN.
Berdasarkan rumusan masalah, hasil analisis data dan pembahasan, maka hasil penelitian
ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapat
meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi gaya mempengaruhi gerak benda, dimana
pembelajaran dilaksanakan dalam 5 tahap yaitu (1) orientasi siswa kepada masalah, (2)
mengelola pengetahuan awal siswa terhadap masalah, (3) mengorganisasikan serta membimbing
penyelidikan individual dan kelompok, (4) menganalisis serta mengevaluasi proses pemecahan
masalah, dan (5) mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, dikemukakan beberapa saran sebagai
berikut:
1. Bentuk pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual dengan melaksanakan 5
tahapan pembelajaran kontekstual, dan dilengkapi dengan alat peraga, serta dilengkapi
dengan LKS layak dipertimbangkan untuk menjadi bentuk pembelajaran alternatif baik pada
mata pelajaran sains maupun pada mata pelajaran lainnya.
2. Bagi guru atau praktisi pendidikan lainnya yang tertarik untuk menerapkan tahapan
pembelajaran kontekstual dengan baik sehingga tujuan yang ingin dicapai dalam
pembelajaran dapat tercapai dengan baik perlu diperhatikahn langkah-langkahnya.
3. Guru perlu menyediakan alat peraga yang konkrit dekat dengan lingkungan keseharian siswa
yang sesuai dengan materi.

DAFTAR RUJUKAN

Depdikbud. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:


Depdiknas.
Dimyanti. 2007. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Hariyanto. 2006. SAINS Kelas IV SD. Jakarta: Erlangga.
Haeruddin. 2005. Pembelajaran SAINS Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Makassar: State Univerty Of Macassar Press.
Kunandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Latri. 2004. Pembelajaran Volume Kubus dan Balok Secara Konsrtuktifis Dengan Menggunakan
Alat Peraga Di Kelas V SD Negeri 10 Watampone. Tesis. Malang: Universitas Negeri
Makassar.
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori Dan Praktek. Jakarta:
Prestasi Pustaka.

Umaedi. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta:


Depdikbud Direktorat Jenderal Kependidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga
Kependidikan.
Usman Samatoa. 2006. Bagaimana Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta:
Departemen Pendidikan Direktorat Jenderal Kependidikan tinggi.
Wanti Rohani. 2003. Pembelajaran Sistem Persamaan Linear Untuk Pemecahan Masalah
Berbasis Kontekstual Di Kelas I SMU Negeri 5 Malang. Tesis. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.