Вы находитесь на странице: 1из 6

CLOSING REMARKS

INDONESIA INDUSTRIAL SUMMIT 2018


Jakarta Convention Center, 4 – 5 April 2018

Assalammu’alaikum Wr.Wb.
Selamat Sore dan Salam Sejahtera Bagi Kita Semua,
Hadirin Sekalian Yang Berbahagia,

Pada kesempatan ini marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga seluruh rangkaian acara
Indonesia Industrial Summit 2018 yang diselenggarakan tanggal 4-5 April 2018 di
Jakarta Convention Center dapat berlangsung dengan baik.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden RI yang telah bersedia
membuka acara ini dan menetapkan inisiasi Making Indonesia 4.0 menjadi salah satu
agenda nasional pembangunan Indonesia untuk mempercepat pencapaian visi
menjadi negara 10 ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030. Bapak Presiden
optimis bahwa revolusi industri 4.0 merupakan suatu peluang besar dalam
menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan baru apabila kita dapat merencanakan
dan mempersiapkan dengan baik. Bapak Presiden juga menugaskan Kementerian
Perindustrian sebagai leading sector dalam gerakan Making Indonesia 4.0 dan
Kementerian/Lembaga serta pemerintah daerah untuk mendukung penuh gerakan
Making Indonesia 4.0 sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

Saudara-Saudara Yang Saya Hormati,


Kami juga ingin menyampaikan terima kasih kepada para Narasumber yang telah
menyampaikan berbagai informasi yang bermanfaat untuk merumuskan langkah-
langkah yang perlu dipersiapkan Pemerintah dan Sektor Industri dalam menghadapi
era industri 4.0. Adapun beberapa hal penting dari rumusan acara Indonesia Industrial
Summit 2018 antara lain sebagai berikut:

1. Dalam 15 tahun terakhir Indonesia telah berhasil membangun siklus ekonomi


yang sehat sehingga menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Perbaikan
siklus ekonomi tercermin dari meningkatnya beberapa indikator pembangunan
ekonomi seperti aktivitas korporasi, realisasi investasi, pendapatan tenaga kerja,
serta daya beli konsumen. Untuk melanjutkan keberhasilan tersebut, Pemerintah

1
beraspirasi untuk menjadi negara 10 terbesar ekonomi dunia pada tahun 2030
yang hanya bisa terwujud dengan menjadikan industri manufaktur sebagai motor
penggerak utama perekonomian nasional. Oleh karena itu, saat ini merupakan
momentum yang tepat bagi Indonesia untuk merevitalisasi sektor industri
manufaktur melalui inisiatif “Making Indonesia 4.0”.

2. Dalam inisiatif “Making Indonesia 4.0”, pemerintah telah memilih 5 sektor utama
yang akan dikembangkan yaitu: 1) Industri Makanan dan Minuman; 2) Industri
Tekstil dan Busana; 3) Industri Otomotif; 4) Industri Kimia; dan 5) Industri
Elektronik. Pengembangan kelima sektor tersebut akan dilakukan melalui 10
agenda prioritas yang telah diformulasikan di dalam roadmap implentasi industri
4.0 dan memerlukan dukungan dari seluruh stakeholders.

3. Untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan industri 4.0 di


Indonesia, pemerintah akan melaksanakan 10 Agenda Prioritas Making
Indonesia 4.0. Namun, dalam jangka pendek Pemerintah akan melakukan 3
langkah strategis sebagai berikut:

1) Penyediaan insentif fiskal yang lebih menarik dan memiliki kepastian.


Penyediaan insentif fiskal dan tax holiday akan diberikan pada industri pionir
yang memiliki eksternalitas positif yang besar, baik yang melakukan
investasi baru maupun investasi dalam rangka perluasan.

2) Perbaikan perizinan baik di pusat maupun di daerah yang antara lain dapat
dilakukan melalui Online Single Submission; dan

3) Akselerasi penyediaan diklat-diklat dasar berbasis kompetensi termasuk


pengembangan pendidikan vokasi.

4. Pemerintah juga perlu membentuk Komite Industri Nasional (KINAS) yang tujuan
utamanya untuk memfasilitasi penyelarasan agenda prioritas implementasi
industri 4.0 secara nasional, lintar Kementerian/Lembaga, dan lintas pemangku
kepentingan.

5. Pembangunan SDM Industri akan terus dilakukan untuk mencapai kualitas


tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan industri di era Industri
4.0. Salah satu fokus pembangunan SDM industri adalah menciptakan sarana
diklat yang fleksibel dan responsif yang mampu memberikan kompetensi-

2
kompetensi baru untuk menggantikan kompetensi-kompetensi lama yang sudah
obsolate atau ketinggalan jaman.

6. Untuk menggairahkan iklim investasi, Kementerian Keuangan telah menetapkan


Peraturan Menteri Keuangan (PMK) baru terkait tax holiday dengan menambah
cakupan industri pionir yang bisa mendapatkan tax holiday dari 8 jenis industri
menjadi 17 jenis industri prionir. Jangka waktu berlakunya tax holiday juga
diperpanjang menjadi 5 – 20 tahun berdasarkan nilai investasi dengan
presentase pengurangan menggunakan single rate sebesar 100%.

7. Kementerian Keuangan juga akan menyusun 2 peraturan perundangan baru


untuk mendorong investasi pada sektor industri, infrastruktur dan litbang yaitu:

1) PMK baru terkait tax allowance bagi perusahaan yang berinvestasi di sektor
hilir, termasuk perusahaan yang berinvestasi pada proyek infrastruktur
ekonomi;

2) PP baru terkait insentif untuk perusahaan yang bergerak pada bidang R&D
dan sektor swasta yang mengembangkan pendidikan vokasi.

8. Untuk mendukung pembangunan infrastruktur digital bagi industri 4.0,


Kementerian Komunikasi dan Informatika akan mengembangkan infrastruktur
informasi seperti broadband dan bandwith serta akan menutup gap
ketimpangaan akses Internet antar wilayah di Indonesia.

9. Untuk mempersiapkan SDM Industri menghadapi era industri 4.0 Kemristekdikti


akan melakukan merger beberapa sekolah tinggi kecil, menambah jumlah
politeknik, dan melakukan moratorium pendirian prodi ilmu-ilmu sosial.

10. Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019, sektor industri pengolahan
merupakan salah satu sektor yang menjadi prioritas pembangunan nasional.
Pembangunan industri pengolahan difokuskan pada peningkatan nilai tambah
industri pengolahan yang antara lain dilakukan melalui perbaikan iklim usaha,
pengembangan investasi pada sektor industri hulu non agro dan pendukung,
peningkatan daya saing industri andalan non pangan, peningkatan keahlian
tenaga kerja serta pengembangan IPTEK dan inovasi untuk meningkatkan
produktivitas.

3
11. Implementasi industri 4.0 pada industri makanan dan minuman perlu melibatkan
pembenahan sektor hulu serta peningkatan sektor manufaktur. Beberapa upaya
yang perlu dilakukan antara lain adalah: 1) meningkatkan produktivitas agri-
sektor hulu dengan teknologi; 2) meningkatkan efisiensi rantai pasok; dan
3) meningkatkan produksi makanan kemasan dengan inovasi produk. Beberapa
contoh implentasi industri 4.0 yang sudah dilakukan di industri makanan dan
minuman antara lain adalah: 1) digitalisasi di area supply chain dan pelayanan
penjualan; 2) Penggunaan sistem control secara inline selama proses produksi;
3) Penggunaan sistem yang dapat mengelola resep produk; serta 4) Penerapan
Sistem Automasi Pergudangan dengan menerapkan ASRS (Automated Storage
& Retrieval System)

12. Penerapan industri 4.0 di sektor industri kimia diharapkan dapat menjadi solusi
dari permasalahan: 1) pabrik yang tidak efisien; 2) adopsi teknologi yang rendah;
3) kurangnya kemampuan R&D; 4) dan kelemahan pada rantai pasok. Sasaran
dari implementasi industri 4.0 di industri kimia adalah: 1) menjadi produsen
biochemical dan kimia berbasis migas batu bara terkemuka, 2) meningkatnya
produksi kimia dasar, 3) optimalisasi penggunaan bahan baku dan kawasan
industri, 4) meningkatnya produktivitas di semua rantai nilai.

13. Industri tekstil khususnya apparel telah mengadopsi teknologi yang digunakan
dalam konsep Industri 4.0 meskipun baru dalam tahap awal. Manfaat yang
diperoleh dari pengadopsian itu antara lain: (1) analisa data yang lebih efektif
dan akurat dalam proses desain; (2) lebih cepatnya waktu handling; (3) serta
peningkatan jumlah dan kualitas hasil produksi. Dalam peta persaingan ke
depan yang mengarah ke era industri 4.0, orientasi bisnis tekstil akan beralih dari
big quantity menjadi small dan medium quantity dengan produk yang lebih
terspesialisasi. Terkait dengan pembinaan IKM, adopsi konsep industri 4.0
berkisar pada pengembangan networking dengan memanfaatkan teknologi
daring. Pembinaan IKM harus dilakukan secara holistik dan mencakup seluruh
rantai nilai, baik consumer, market place, b2b market place, maupun agregator.

14. Industri otomotif sebagai salah satu industri kunci dalam menopang
pertumbuhan ekonomi Indonesia mempunyai potensi pasar domestik dan
internasional yang sangat besar. Penerapan industri 4.0 dapat membantu sektor
industri otomotif merubah sistem operasi produksi dari preventive maintance

4
menjadi predictive maintainance dengan menggunakan sensor dan machine
learning sehingga Zero Down Time dapat tercapai. Beberapa program yang
akan dilakukan terkait dengan industri 4.0 antara lain adalah: 1) perbaikan iklim
usaha melalui deregulasi perizinan; 2) Penyediaan insentif berupa tax holiday
dan tax allowance; 3) Penyediaan insentif khusus bagi industri yang melakukan
kegiatan R&D (super deduction); serta 4) Pengembangan R&D Otomotif di
universitas dan politeknik. Implementasi industri 4.0 pada sektor industri otomotif
juga perlu didukung dengan meningkatkan keterlibatan sektor industri otomotif
pada rantai suplai global perusahaan multinasional. Ketersediaan infrastruktur
dasar (listrik, koneksi internet yang reliable, jaringan logistik) serta infrastruktur
pendukung seperti standardisasi dan regulasi menjadi faktor yang menentukan
dalam keberhasilan penerapan industri 4.0 di sektor otomotif.

15. Terkait dengan industri elektronika dan telematika, permintaan pasar dalam
negeri yang besar untuk produk-produk eletronika seperti peralatan rumah
tangga, smartphone, TV, dan PC belum diimbangi dengan daya saing industri
dalam negeri dalam memenuhi demand pasar. Oleh karena itu, penerapan
industri 4.0 melalui otomasi pabrik dan elektronisasi manufaktur membuka
peluang bagi industri elektronika dan telematika untuk menjadi lebih kompetitif.
Beberapa program utama yang akan dilakukan dalam menerapkan industri 4.0
antara lain adalah: 1) Pemberian insentif fiskal dan non-fiskal dan jaminan kredit;
2) Mendorong transfer teknologi kepada industri dalam negeri dari perusahaan
asing; 3) Promosi investasi dalam negeri dengan target pada sektor mesin
otomasi dengan komponen dan pendukungnya; serta 4) meningkatkan
kemampuan SDM industri melalui diklat industri 4.0 dan IoT di universitas teknik
maupun politeknik.

16. Implementasi industri 4.0 tidak hanya terbatas pada proses produksi atau value
chain dari perusahaan industri sendiri. Implementasi industri 4.0 juga perlu
dilakukan pada kawasan-kawasan industri dengan menerapkan sistem
otomatisasi seperti smart lighting, smart parking, smart environmental control,
smart logistic, smart security system, dan smart permit system. Penerapan
sistem otomatisasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan
efektivitas supply chain perusahaan-perusahaan yang berada di kawasan
industri.

5
Saudara-Saudara Yang Saya Hormati,

Demikian beberapa rumusan acara Indonesia Industrial Summit 2018 yang bisa saya
sampaikan dan perlu kita tindaklanjuti bersama dalam mengimplentasikan inisiasi
Making Indonesia 4.0. Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan peran
aktif Saudara-Saudara sekalian dalam menyukseskan acara Industrial Summit 2018.
Kami menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat hal-hal yang kurang
berkenan selama penyelenggaraan acara ini. Semoga hal-hal yang kita dapatkan
pada acara ini dapat bermanfaat bagi pembangunan industri nasional di masa
mendatang.

Sekretaris Jenderal

Haris Munandar N.

Оценить