You are on page 1of 24

PRODUCTS OF CONVERGENT

BOUNDARIES
DISUSUN
OLEH :
KELOMPOK
Nama Anggota : 1. Muhammad Gifari Sulvi (1504108010034)
2. Zulkamal Rizki (1604108010021)
3. Syadie Al Fawaz (1604108010042)
Kelas : 12
Dosen Pembimbing : Fahri Adrian, M.Sc

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
KOTA BANDA ACEH
2018
1.1 Subduction Zone, Collision Zone
1.1.1 Subduction Zone
Subduksi adalah batas dua lempeng yang salah satunya menyusup ke dalam perut bumi
dan lainnya terangkat ke permukaan. Contoh batas lempeng konvergen dengan tipe
subduksi adalah Kepulauan Indonesia sebagai bagian dari lempeng benua Eurasia dengan
lempeng samudera Indo-Australia di sebelah selatan Sumatera, Jawa, NTB, dan NTT.
Ilustrasi subduksi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1 Batas Lempeng Kepulauan Indonesia


Gambar di atas menunjukkan terjadinya zona subduksi di Indonesia. Batas kedua
lempeng ini ditandai di laut yang berbentuk palung (trench) yang memanjang dari
Sumatera, Jawa, hingga ke Nusa Tenggara Timur. Daerah yang memiliki zona tunjaman
akan sering terjadi gempa, pematang gunung berapi (volcanic ridges), dan parit samudera
(oceanic trenches). Zona subduksi di dunia dapat diamati pada peta di bawah ini.

Gambar 2 Zona Subduksi Dunia


1
Zona subduksi lempeng tektonik yang terkenal berada di Sirkum Pasifik. Kawasan ini
dikenal dengan sebutan Lingkaran Api Pasifik (Ring of Fire) karena di sepanjang kawasan
ini muncul serangkaian gunung api. Lingkaran Api Pasifik membentang di antara subduksi
dan pemisahan Lempeng Pasifik dengan lempeng-lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan
Amerika Utara, serta tumbukan Lempeng Nazca dengan Lempeng Amerika Selatan.
1.1.2 Collision Zone
Batas tumbukan (collision) terjadi pada penunjaman kerak samudera yang membawa kerak
benua di belakangnya, ke bawah kerak benua. Jika hal ini berlanjut, maka akan terjadi
tumbukan antar kerak benua. Tumbukan tersebut dapat mengakibatkan terbentuknya suatu
relief yang tinggi, seperti Himalaya.

Gambar 3 Proses Terbentuknya Pegunungan Himalaya


Pada batas kolisi (suture) sering tersisa pecahan kerak samudera (ofiolit). Kenampakan
hasil tumbukan termuda yang dijumpai di dunia adalah Pegunungan Himalaya, sedangkan
yang relatif lebih tua adalah Pegunungan Appalachia, Kaledonid, Alpen, dan Ural. Penebalan
kerak benua dapat terjadi karena pensesaran naik yang berjenjang dan saling menumpang
(imbrikasi).

2
1.2 Trench, Suture Zone
1.2.1 Trench
Sebuah palung adalah cekungan lurus dari dasar laut yang disebabkan oleh subduksi satu
lempengan di bawah yang lain. Contoh palung : Palung Mindanau (10.475 meter), Palung Laut
Jawa (7.415 meter), Palung Aleut (7.679 meter), Palung Jepang (9.755 meter), Palung Puerto
Rico (9.175 meter), Palung Barlett (7.204 meter).

Gambar 4 Palung Mindanau

1.2.2 Suture Zone


In structural geology, a suture is a joining together along a major fault zone, of separate
terranes, tectonic units that have different plate tectonic, metamorphic and paleogeographic
histories. The suture is often represented on the surface by an orogen or mountain range. The
term was borrowed from surgery where it describes the sewing together of two pieces of tissue,
but the sutures of the skull, where separate plates of bone have fused, may be a better metaphor.

Gambar 5 Indus Yarlung Suture Zone


3
Sebelum India menempel ke benua Asia, mereka dibatasi oleh kerak samudera yang
pada saat tumbukan massa benua dan sedimen lantai samudera tertekan, terperas, terlipat dan
terdeformasi. Daerah berkas lantai samudera yang pernah memisahkan dua benua menyusup
ke bawah benua dan membentuk unsur kepulauan, seperti pada tumbukan lempeng samudera
dan benua. Dorongan India ke Asia menyebabkan yang bertumbukan dan kemudian bersatu
dinamakan zona suture (suture zone), dikenal sebagai ophiolites.

Gambar 6 Penampang Sutures Zone

1.3 Mountains, Volcanoes


1.3.1 Mountains
Gunung adalah bentuk permukaan bumi yang menjulang tinggi dan memiliki puncak,
lereng, serta kaki gunung. Gunung adalah suatu daerah daratan yang menyolok dengan daerah
sekitarnya. Sebuah gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit, tetapi ada
kesamaan. Misalnya Encyclopedia Britannica mendefinisikan gunung apabila memiliki
puncak lebih 2000 kaki atau 610 m. Gunung-gunung tinggi yang ada di Indonesia antara lain
Gunung semeru. Gunung Kerinci, dan Gunung Puncak Jaya.

4
Gambar 7 Gunung Semeru

1.3.2 Volcanoes
Gunung api adalah gunung yang terbentuk akibat material hasil erupsi menumpuk di
sekitar pusat erupsi atau gunung yang terbentuk dari erupsi magma. Gunung api tidak dijumpai
di semua tempat. Gunung api hanya terdapat pada tempat-tempat tertentu, yaitu pada jalur
punggungan tengah samudera, pada jalur pertemuan dua buah lempeng kerak bumi, dan pada
titik-titik panas di muka bumi tempat keluarnya magma, di benua maupun di samudera (hot
spot). Sebagian besar gunung api yang aktif di dunia berada di pertemuan lempeng tektonik
dan muncul di daerah-daerah yang berada di dalam di Larutan Pasifik yang disebut “cincin
gunung api” (ring of fire)

Gambar 8 Gunung Merapi

5
1.4 Deformation of Rocks

Gambar 9 Deformasi Batuan


Deformasi adalah perubahan bentuk, posisi, dan dimensi dari suatu benda [Kuang,1996].
Berdasarkan definisi tersebut deformasi dapat diartikan sebagai perubahan kedudukan atau
pergerakan suatu titik pada suatu benda secara absolut maupun relatif. Dikatakan titik bergerak
absolut apabila dikaji dari perilaku gerakan titik itu sendiri dan dikatakan relatif apabila gerakan
itu dikaji dari titik yang lain. Perubahan kedudukan atau pergerakan suatu titik pada umumnya
mengacu kepada suatu sistem kerangka referensi (absolut atau relatif).
Untuk mengetahui terjadinya deformasi pada suatu tempat diperlukan suatu survei, yaitu
survei deformasi dan geodinamika. Survei deformasi dan geodinamika sendiri adalah survei
geodetik yang dilakukan untuk mempelajari fenomena-fenomena deformasi dan geodinamika.
Fenomena-fenomena tersebut terbagi atas 2, yaitu fenomena alam seperti pergerakan lempeng
tektonik, aktivitas gunung api, dan lain-lain. Fenomena yang lain adalah fenomena manusia seperti
bangunan, jembatan, bendungan, permukaan tanah, dan sebagainya.
Adapun faktor-faktor yang mengontrol terjadinya deformasi suatu materi adalah :
1. Temperatur dan tekanan ke semua arah, pada temperatur dan tekanan yang rendah akan
lebih cepat terjadi patahan, pada temperatur dan tekanan yang tinggi akan terjadi lenturan
atau bahkan lelehan.
2. Kecepatan gerakan yang disebabkan oleh gaya yang diberikan gerakan yang cepat dapat
menyebabkan patahan, sedangkan gerakan yang lambat dapat menimbulkan lenturan,
tergantung dari bahan yang bersangkutan dan dari keadaan-keadaan lain.
3. Sifat material, yang bisa lebih rapuh atau lebih lentur.
Tekanan merupakan gaya yang diberikan atau dikenakan pada suatu medan atau area.
Tekanan terbagi menjadi tekanan seragam (uniform stress) yaitu gaya yang bekerja pada
suatu materi sama atau seragam di semua arah, dan tekanan diferensial atau tekanan dengan
6
gaya yang bekerja tidak sama di setiap arah. Tekanan diferensial terbagi menjadi tensional
stress, compressional stress, dan shear stress.

Gambar 10 Deformasi Batuan Akibat Berbagai Bentuk Stress


2.4.1 Tahapan Deformasi
Ketika suatu batuan dikenakan tekanan dengan besar tertentu, maka batuan itu akan
mengalami tiga tahap deformasi, yaitu :

Gambar 11 Kurva Strain-Stress


1. Elastic deformation
Elastic deformation adalah deformasi sementara tidak permanen atau dapat kembali
kebentuk awal (reversible). Begitu stress hilang, batuan kembali ke bentuk dan volume semula.
Seperti karet yang ditarik akan melar tetapi jika dilepas akan kembali ke panjang semula.
Elastisitas ini ada batasnya yang disebut elastic limit, yang apabila dilampaui batuan tidak akan
kembali pada kondisi awal. Di alam tidak pernah dijumpai batuan yang pernah mengalami
deformasi elastis ini, karena tidak meninggalkan jejak atau bekas, karena kembali ke keadaan
semula, baik bentuk maupun volumenya. Sir Robert Hooke (1635-1703) adalah orang pertama
yang memperlihatkan hubungan antara stress dan strain yang sesuai dengan batuan Hukum Hooke

7
mengatakan sebelum melampaui batas elastisitasnya hubungan stress dan strain suatu material
adalah linier.
2. Ductile deformation
Ductile deformation merupakan deformasi dimana elastis limit dilampaui dan perubahan
bentuk dan volume batuan tidak kembali. Untuk mempermudah membayangkannya lihat
diagram strain-stress Gambar yang didapat dari percobaan menekan contoh batuan silindris. Mula-
mula kurva stess-strain naik tajam sepanjang daerah elastis sesampai pada elastic limit (Z),
kurvanya mendatar. Penambahan stress menyebabkan deformasi ducktile. Bila stress dihentikan
pada titik X silinder kembali sedikit kearah semula. Strain menurun sepanjang kurva XY. Strain
permanennya adalah XY yang merupakan deformasi ductile.
3. Fracture
Fracture tejadi apabila batas atau limit elastik dan ducktile deformasi dilampaui. Perhatikan
Gambar yang semula stress dihentikan pada X, disini dilanjutkan menaikkan stress. Kurva stress-
strain berlanjut sampai titik F dan batuan pecah melalui rekahan. Deformasi rekah
(fracture deformation) dan lentur (ductile deformation) adalah sama, menghasilkan regangan
(strain) yang tidak kembali ke kondisi semula.
2.4.2 Pengontrol Deformasi
Percobaan-percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa deformasi batuan selain
tergantung pada besarnya gaya yang bekerja, juga kepada sifat fisika dan kompisis batuan serta
lingkungan tektonik dan waktu. Faktor-faktor yang mengontrol terjadinya deformasi adalah :
1. Suhu
Makin tinggi suhu suatu benda padat semakin ductile sifatnya dan keregasannya makin
berkurang. Misalnya pipa kaca tidak dapat dibengkokan pada suhu udara normal, bila dipaksa akan
patah, karena regas (brittle). Setelah dipanaskan akan mudah dibengkokan. Demikian pula halnya
dengan batuan. Di permukaan, sifatnya padat dan regas, tetapi jauh di bawah permukaan dimana
suhunya tinggi, bersifat ductile.
2. Waktu dan Strain Rate
Pengaruh waktu dalam deformasi batuan sangat penting. Kecepatan strain sangat
dipengaruhi oleh waktu. Strain yang terjadi bergantung kepada berapa lama batuan dikenai stress.
Kecepatan batuan untuk berubah bentuk dan volume disebut strain rate, yang dinyatakan dalam
volume per unit volume per detik, di bumi berkisar antara 10-14 detik sampai 10-15 detik. Makin
rendah strain rate batuan, makin besar kecenderungan terjadinya deformasi ductile. Pengaruh
suhu, confining pressure dan strain rate pada batuan, seperti ciri pada kerak, terutama di bagian
atas dimana suhu dan confining pressure rendah tetapi strain rate tinggi, batuan cenderung rapuh
(brittle) dan patah. Sedangkan bila pada suhu tinggi, confining pressure tinggi dan strain
8
rate rendah sifat batuan akan menjadi kurang regas dan lebih bersifat ductile. Sekitar kedalaman
15 km, batuan akan bersifat regas dan mudah patah. Di bawah kedalaman 15 km batuan tidak
mudah patah karena bersifat ductile. Kedalaman dimana sifat kerak berubah dari regas mulai
menjadi ductile, disebut brittle-ductile transition.
3. Komposisi
Komposisi batuan berpengaruh pada cara deformasinya. Komposisi mempunyai dua aspek.
Pertama, jenis dan kandungan mineral dalam batuan, beberapa mineral (seperti kuarsa, garnet dan
olivin) sangat brittle, sedangkan yang lainnya (seperti mika, lempung, kalsit dan gypsum)
bersifatductile. Kedua, kandungan air dalam batuan akan mengurangi keregasannya dan
memperbesar keduktilannya. Pengaruh air, memperlemah ikatan kimia mineral-mineral dan
melapisi butiran-butiran mineral yang memperlemah friksi antar butir. Jadi batuan yang ‘basah’
cenderung lebih ductile daripada batuan ‘kering’.
Batuan yang cenderung terdeformasi ductile diantaranya adalah batu gamping, marmer,
lanau, serpih, filit dan sekis. Sedangkan yang cenderung brittle adalah batupasir, kuarsit, granit,
granodiorit, dan gneiss. Deformasi yang terjadi pada kerak, yang kita amati sekarang ini adalah
jejak deformasi yang telah terjadi beberapa ratus atau juta tahun yang lalu, dan dikenal sebagai
struktur geologi. Dalam struktur geologi, deformasi yang terjadi akibat gaya tektonik
dikelompokkan sebagai struktur sekunder dan dibedakan dari struktur yang terbentuk pada saat
atau seb
elum batuan terbentuk yang dinamakan struktur primer. Yang termasuk dalam struktur
primer adalah struktur-struktur pada batuan sedimen, seperti bidang perlapisan, lapisan bersusun
(graded beding), lapisan silang siur (cross beding) dan jejak binatang. Sedangkan pada batuan
beku adalah rekahan-rekahan yang terbentuk akibat pendinginan, dinamakan kekar kolom
(columnar joint). Arah rekahan–rekahan yang tegak lurus terhadap bidang pendinginan,
permukaannya segi enam, struktur aliran pada lava dan sebagainya. Struktur sekunder yang
terbentuk setelah batuan terbentuk, adalah lipatan (fold), kekar (joint) dan sesar (fault).
Secara umum jika batuan beku dan sedimen mengalami deformasi, maka batuan
tersebut akan mengalami perubahan posisi, bentuk, dan volume, perubahan tersebut dapat
digolongkan dalam 3 macam perubahan sebagai berikut ini:
a) Kekar adalah struktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan akibat suatu gaya yang
bekerja pada batuan tersebut dan belum mengalami pergeseran. Secara umum dicirikan
oleh:
1) Pemotongan bidang perlapisan batuan.
2) Biasanya terisi mineral lain (mineralisasi) seperti kalsit, kuarsa.

9
3) Kenampakan breksiasi. Struktur kekar dapat dikelompokkan berdasarkan sifat dan
karakter retakan/rekahan serta arah gaya yang bekerja pada batuan tersebut.
b) Lipatan adalah deformasi lapisan batuan yang terjadi akibat dari gaya tegasan sehingga
batuan bergerak dari kedudukan semula membentuk lengkungan. Berdasarkan bentuk
lengkungannya lipatan dapat dibagi dua, yaitu lipatan sinklin adalah bentuk lipatan yang
cekung ke arah atas, sedangkan lipatan antiklin adalah lipatan yang cembung ke arah atas.
Bukit barisan yang membentang di Pulau Sumatera merupakan salah satu contoh dari
lipatan. Bukit ini merupakan hasil bentukan dari aktivitas lempeng-lempeng yang ada di
bawah permukaan Bumi, yakni lempeng tektonik yang bergerak.
c) Patahan/sesar adalah struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran. Umumnya
disertai oleh struktur yang lain seperti lipatan dan rekahan. Adapun di lapangan indikasi
suatu sesar/patahan dapat dikenal melalui :
1) Gawir sesar atau bidang sesar.
2) Breksiasi, gouge, milonit.
3) Deretan mata air.
4) Sumber air panas.
5) Penyimpangan/pergeseran kedudukan lapisan.
6) Gejala-gejala struktur minor seperti: cermin sesar, gores garis, lipatan dsb. Sesar
dapat dibagi kedalam beberapa jenis/tipe tergantung pada arah relatif
pergeserannya.
Selama patahan/sesar dianggap sebagai suatu bidang datar, maka konsep jurus dan
kemiringan juga dapat dipakai, dengan demikian jurus dan kemiringan dari suatu bidang
sesar dapat diukur dan ditentukan. Contoh patahan yang ada di Indonesia adalah Patahan
Semangko. Patahan Semangko ini membentang mulai dari Aceh hingga Semaka, Provinsi
Lampung.

2.5 Earthquakes (Gempa Bumi)


Gempa bumi adalah getaran yang dirasakan di permukaan bumi yang di sebabkan oleh
gelombang seismik dari sumber gempa di dalam lapisan kulit bumi. Pusat atau sumber gempa
bumi yang letaknya di dalam bumi disebut hiposentrum. Daerah permukaan bumi ataupun di dasar
laut yang merupakan tempat pusat getaran bumi merambat disebut episentrum.
Gempa bumi adalah getaran bumi atau getaran kulit bumi secara tiba-tiba, bersumber pada
lapisan kulit bumi (litosfer) bagian dalam, dirambatkan oleh kulit bumi ke permukaan bumi.
Gempa bumi di sebabkan adanya pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada
bagian dalam kulit bumi secara tiba-tiba. Gempa bumi termasuk bagian dari tenaga endogen yang
10
merusak, menyimpang dari sifat tenaga endogen pada umumnya, yaitu membangun tetapi
merupakan gejala sampingan tenaga endogen yaitu tektonisme dan vulkanisme.

Gambar 12 Pergeseran Lempeng yang Menyebabkan Gempa Bumi


Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan
yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan
akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahanlagi oleh pinggiran
lempengan. Pada saat itu lah gempa bumi akan terjadi.
Gempa bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan-lempengan tersebut. Gempa bumi
yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan translasional.
Gempa bumi kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer yang terjepit ke dalam
mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km.
Beberapa gempa bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung
berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi.
Beberapa gempa bumi juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam,
seperti Dam Karibia di Zambia, Afrika.
Menurut sebab terjadinya, gempa di klasifikasikan sebagai berikut :
1. Gempa bumi vulkanik ( Gunung Api ), gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas
magma yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin
tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan
terjadinya gempa bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut.
Contoh gempa vulkanik ialah gempa yang terjadi di daerah gunung Kelut sebelum meletus.
2. Gempa bumi tektonik, gempa bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu
pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari
yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan
kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu menjalar
keseluruh bagian bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh perlepasan tenaga yang
11
terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan
dilepaskan dengan tiba-tiba. Contoh gempa tektonik ialah seperti yang terjadi di Aceh pada
Minggu, 26 Desember 2004, pukul 07.59 WIB dan gempa tektonik di Yogyakarta pada
Sabtu, 27 Mei 2006 dini hari, pukul 05.54 WIB.

Gambar 13 Sumber Gempa Bumi di Sumatra


3. Gempa bumi runtuhan, gempa bumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada
daerah pertambangan, gempa bumi ini jarang terjadi dan bersifat lokal.
4. Gempa bumi buatan, gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh
aktivitas dari manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir atau palu yang dipukulkan ke
permukaan bumi.

2.6 Accretionary Prism, Melange Rock


2.6.1 Accretionary Prism

Gambar 14 Proses dari Subduksi


Pembentukan prisma akresi (Accretionary Prism) di dasar laut dikontrol oleh aktifitas
tektonik sesar-sesar naik (thrusting) yang mengakibatkan proses pengangkatan (uplifting). Proses
ini terjadi karena konsekuensi dari proses tumbukan antar segmen kontinen yang menyebabkan

12
bagian tepian lempeng daerah tumbukan tersebut mengalami proses pengangkatan. Proses ini
umumnya terjadi di kawasan barat Indonesia yaitu di samudra Hindia.
Pulau-pulau prisma akresi merupakan prisma akresi yang terangkat sampai ke permukaan
laut sebagai konsekuensi desakan lempeng Samudera Hindia ke arah utara dengan kecepatan 6-7
cm/tahun terhadap lempeng Benua Asia-Eropa sebagai benua pasif menerima tekanan (Hamilton,
1979). Oleh sebab itulah pengangkatan dan sesar-sesar naik di beberapa tempat, seperti yang
terjadi di Kep. Mentawai, Enggano, Nias, sampai Simelueu yang terangkat membentuk gugusan
pulau-pulau memanjang parallel terhadap arah zona subduksi (Lubis, 2009). Gambar
memperlihatkan prisma akresi yang naik ke permukaan laut membentuk pulau-pulau prisma akresi
di lepas pantai Aceh, sedangkan contoh prisma akresi yang belum naik ke permukaan laut
diperlihatkan pada Gambar . yaitu prisma akresi di lepas pantai selatan Jawa. Selain itu proses
pembentukan lainnya yang lazim terjadi di kawasan ini adalah aktifnya patahan (sesar) dan
amblasan (subsidensi) di sekitar pantai sehingga pulau-pulau akresi yang terbentuk terpisah dari
daratan utamanya (Cruise Report SO00-2, 2009).
Prisma akresi merupakan wilayah yang paling rawan terhadap kegempaan karena pusat-
pusat gempa berada di bawahnya. Batuan prisma akresi memiliki ke-khasan tersendiri yaitu
ditemukannya batuan campur-aduk (melange, ofiolit) yang umumnya berupa batuan Skist berumur
muda. Sejarah kegempaan di kawasan ini membuktikan bahwa episentrum gempa-gempa kuat
umumnya terletak pada prisma akresi ini karena merupakan gempa dangkal (kedalaman < 30 Km).
Gempa kuat yang pernah tercatat mencapai skala 9 richter pada tanggal 26 Desember 2004.
Beberapa ahli geologi juga masih mengkhawatirkan suatu saat akan terulang gempa sebesar ini di
kawasan barat Bengkulu, karena prisma akresi di kawasan ini masih belum melepaskan energi
kegempaan (locked zone) sementara kawasan disekitarnya sudah terpicu dan melepaskan energi
melalui serangkaian gempa-gempa sedang-kuat.
Di Sumatera ditemukan dua prisma akresi, yaitu accretionary wedge 1 di bagian luar &
accretionary wedge 2 di bagian dalam outer arc high yang memisahkan prisma akresi dengan
cekungan busur muka (Mentawai forearc asin). Adanya outer arc high yang memisahkan dua
prisma akresi tersebut mengalibatkan sedimen yang berasal dari daratan induknya tidak dapat
menerus ke bagian barat tetapi terendapkan di cekungan busur muka.

13
Gambar 15 Geomorfologi Prisma Akresi yang Naik ke Permukaan Sebagai Pulau Prisma Akresi di
Lepas Pantai Sebelah Barat Aceh

Gambar 16 Geomorfologi Prisma Akresi di Selatan Jawa yang Belum Muncul ke Permukaan Laut

2.6.2 Melange Rock


Melange adalah batuan yang terbentuk dengan cara seluruhnya tercampur akibat berada
diantara 2 kerak bumi yang bergerak. Batuan melange berasal dari bahasa Perancis, artinya
campur-aduk. Melange biasanya berasosiasi dengan zona penunjaman (zona subduksi). Bahan
pembentuk melange dapat berwujud batuan basalt yang ada di dasar laut dan batuan sedimen.
Melange merupakan kelompok batuan Pra Tersier dari berbagai jenis dan umur dari komponen
batuannya yang berbeda-beda (berkisar antara 120 – 65 juta tahun).
Pada zona penunjaman (subduksi), kerak samudra yang menunjam di bawah kerak benua
akan menghasilkan gesekan antar kedua kerak dan membuat blok-blok batuan yang ada di
sekitarnya runtuh, tercampur aduk, dan terdeposisi di sepanjang zona subduksi tersebut. Akibat
makin dalamnya (tebal) campuran batuan tersebut, suhu dan tekanan akan meningkat, sehingga
menghasilkan batuan yang disebut melange. Karena pembentukannya juga dipengaruhi oleh suhu
dan tekanan, melange sering dimasukkan sebagai salah satu jenis batuan metamorf. Melange tidak
memiliki perlapisan yang jelas dan komponen pembentuknya beraneka ragam.

14
Ciri utama melange yaitu tersusun atas fragmen atau blok batuan ofiolitik, batuan
metamorf berderajat tinggi, dan batuan metasedimen yang telah bercampur dalam massa dasar
lempung yang tergerus (pervasively sheared). Dapat terlihat rekahan gerus dengan permukaan
berupa cermin sesar (slickenside) dan blok batuan exotic serta native yang mengambang dalam
massa dasar yang lebih halus (berupa lempung berwarna abu–abu hingga gelap).

Gambar 17 Batuan Melange


Batuan bancuh (melange) adalah fenomena geologi yang hanya terdapat pada beberapa
lokasi di Indonesia, seperti di Karangsambung (Jawa Tengah), Ciletuh (Jawa Barat), Bantimala
(Sulawesi Selatan) dan di Pulau Laut (Kalimantan Selatan).

2.7 Back Arc Basin, Fore Arc Basin


2.7.1 Back Arc Basin
Cekungan busur belakang (bahasa Inggris: back-arc basins) adalah fitur geologi,
cekungan submarin yang berasosiasi dengan busur kepulauan dan zona subduksi. Mereka
ditemukan di beberapa batas lempeng konvergen, yang saat ini terkonsentrasi di Samudra
pasifik bagian barat. Sebagian besar dari mereka terbentuk akibat gaya tensional yang
disebabkan oleh pemutaran kembali (rollback) palung samudra ( palung samudra menujam
ke arah berlawanan) dan runtuhnya ujung benua. Kerak dari busur berada di bawah gaya
ekstensi (rifting) sebagai hasil dari pengerutan lempeng. Adanya cekungan busur belakang
awalnya sangat tidak diduga oleh para pemikir di bidang lempeng tektonik, yang lebih
mengira bahwa batas-batas konvergen merupakan zona kompresi, bukan zona ekstensi.
Back arc basin merupakan suatu cekungan dibelakang zona subduction . Proses ini
hampir sama dengan zona MOR yang terjadi pada lempeng samudera. Ketika lempeng
samudera bergerak saling menjauh (rifting) sementara diatas lempeng samudera ada
lempeng benua sehingga terbentuk cekungan dibelakang zona subduction.
Back-arc basin yang diduga bentuk dari hasil dari proses rollback disebut. Istilah
ini menggambarkan gerakan mundur dari zona subduksi terhadap gerakan lempeng yang
15
sedang menumbuk. Sebagai zona subduksi dan parit yang ditarik ke belakang, lempeng
override ditarik, penipisan kerak yang terbentuk dalam cekungan pada belakang busur.
Sedimentasi sangat asimetris, dengan sebagian besar sedimen dipasok dari busur magmatik
aktif yang regresi sejalan dengan rollback parit.

Gambar 18 Andaman Subduction Zone

Berdasarkan data terakhir yang dikumpulkan dari berbagai sumber, telah diketahui
bahwa ada sekitar 60 basin yang diprediksi mengandung cebakan migas yang cukup
potensial. Diantaranya basin Sumatera Utara, Sibolga, Sumatera Tengah, Bengkulu, Jawa
Barat Utara, Natuna Barat, Natuna Timur, Tarakan, Sawu, Asem-Asem, Banda, dll.
Cekungan busur belakang timur Sumatera dan utara Jawa merupakan lapangan-
lapangan minyak yang paling produktif. Pematangan minyak sangat didukung oleh adanya
heat flow dari posisi penurunan cekunga dan pembebanan. Proses ini diperkuat oleh gaya-
gaya kompresi telah menjadikan berbagai batuan sedimen berumur Paleogen menjadi
perangkap struktur sebagai tempat akumulasi hidrokarbon. (Barber, 1985)
Secara rinci perkembangan sistem cekungan dan perangkap minyak bumi yang
terbentuk sangat dipergaruhi oleh tatanan geologi local. Sebagai contoh structural pull
apart basin menentukan perkembangan sistem cekungan Sumatera Utara (Davies, 1984).
Perulangan gaya kompresif dan ekstensional dari proses peregangan berarah untara-selatan
mempengaruhi pola pembentukan antiklinorium dan cekungan Palembang yang berarah
N300oE (Pulunggono, 1986). Demikian pula pola sebaran cekungan Laut Jawa sebelah
selatan sangat dipengaruhi oleh pola struktur berarah timur-barat (Brandasen & Mattew,

16
1992), sedang pola cekungan di Laut Jawa bagian barat-laut berarah timur laut-baratdaya,
sedang pola cekungan di timur-laut berarah barat-laut-tenggara.
Cekungan Kutai dan Tarakan merupakan cekungan intra kraton di Indonesia.
Pembentukan cekungan terjadi selama Neogen ketika terjadi proses penurunan cekungan
dan sedimentasi yang bersifat trangesif, dan dilanjutkan bersifat regresif di Miosen tengah
(Barber, 1985). Pola-pola ini menjadikan pembentukan delta berjalan efektif sebagai
pembentuk perangkap minyak bumi maupun batu bara.
Zona tumbukan (collision zone), merupakan tempat endapan-endapan kontinen
bertumbuk dengan kompleks subduksi, merupakan tempat prospektif minyak bumi.
Cekungan Bula, Seram, Bituni dan Salawati di sekitar Kepala Burung Papua, cekungan
lengan timur Sulawesi, serta Buton, merupakan cekungan masuk dalam kategori akibat
proses tumbukan. Keberadaan endapan aspal Buton berasosiasi dengan zona tumbuka
antara mikro kontinen Tukang Besi dengan lengan timur-laut Sulawesi, dengan Banggai
Sula sebagai kompleks ofiolit. (Barber, 1985; Sartono, 1999)
Kehadiran minyak di Papua berasosiasi dengan lipatan dan patahan Lenguru, yang
merupakan tumbukan mikro kontinen Papua Barat dengan tepi benua Australia. Sumber
reservoat hidrokarbon terperangkap struktur di bagian bawah foot-wall sesar normal serta
di bagian bawah hanging-wall sesar sungkup.

2.7.2 Fore Arc Basin


Cekungan busur muka (bahasa Inggris: forearc basin) adalah wilayah yang terletak di
antara palung samudra dan busur vulkanik.Dengan demikian, kawasan ini ditemukan di batas-
batas konvergen, serta termasuk juga agresi-agresi membaji yang dapat hadir di tempat yang sama.
Akibat tekanan tektonik karena tertibannya satu lempeng tektonik di atas lempeng lainnya,
wilayah muka busur menjadi sumber dari gempa bumi.
Selama subduksi, lempeng samudra terdorong ke bawah lempeng tektonik lainnya, yang
dapat berupa lempeng samudra maupun lempeng benua. Air dan volatil-volatil lainnya di lempeng
yang menujam ini menyebabkan terjadinya alirah lelehan pada mantel atas, membentuk magma
yang naik dan terpenetrasi melalui lempeng di atasnya, dan akhirnya membentuk busur vulkanik.
Efek dari slab pada lempeng samudra menyebabkan terbentuknya palung samudra. Area di antara
palung dengan busur inilah yang disebut wilayah muka busur, dan area di belakang busur (sisi lain
dari palung) adalah wilayah busur belakang.

17
Gambar 19 Penampang Volcanic Arc, Fore Arc dan Back Arc
Forarc-Basin adalah depresi dasar laut yang terletak antara zona subduksi dan terkait dengan busur
vulkanik. Sedimentasi yang terbentuk merupakan endapan material kerak samudra yang
terendapkan di tepi-tepi pulau disampingnya.
2.8 Island Arc, Volcanic Arc/Magmatic Arc

Busur vulkanik (bahasa Inggris: volcanic arc) adalah rantai gunung api yang terbentuk di
atas lempeng subduksi dan memiliki posisi berbentuk busur ketika dilihat dari atas. Gunung api-
gungung api lepas pantai membentuk pulau-pulau, menghasilkan busur kepulauan vulkanik.
Umumnya, mereka dihasilkan dari subduksi yang terjadi antara lempeng tektonik samudra di
bawah lempeng tektonik lainnya, dan sering sejajar dengan palung samudra. Lempeng samudra
terjenuhkan dengan air, dan volatil-volatil seperti air secara drastis menurunkan titik lebur mantel
bumi. Seiring terjadinya penujaman, lempeng samudra mengalami tekanan yang semakin besar
seiring meningkatnya kedalaman. Tekanan mendorong air keluar dari lempeng dan menuju
mantel. Disini mantel mencair dan membentuk magma di kedalaman di bagian bawah lempeng
yang tertujam. Magma naik membentuk busur gunung api sejajar dengan zona subduksi.
Busur vulkanik berbeda dengan rantai titik panas vulkanik (hotspot), di mana gunung api-
gunung api sering terbentuk bersandingan di tengah lempeng tektonik seiring bergeraknya
lempeng menjauhi titik panas, dan dengan begitu derajat umur setiap gunung yang terbentuk ini
berurutan.

18
Gambar 20 Peta Indonesia Magmatic Arc
Ada dua tipe busur vulkanik:
 Busur samudra, terbentuk ketika lempeng samudra menujam ke bawah lempeng samudra
lainnya pada dua lempeng berdekatan, membentuk busur kepulauan vulkanik (tidak semua
busur kepulauan adalah busur kepulauan vulkanik)
 Busur benua, terbentuk ketika lempeng samudra menujam ke bawah lempeng benua pada
dua lempeng yang berdekatan, membentuk sabuk pegunungan yang berbentuk busur (tidak
semua sabuk pegunungan terbentuk dengan cara ini)

Dalam situasi tertentu, sebuah zona subduksi menunjukkan kedua jenis di atas sepanjang
zonanya, yakni sebagai bagian dari lempeng yang menujam di bawah benua dan di bawah lempeng
samudra berdekatan.
2.9 Metamorphism
Metamorfisme adalah proses reaksi rekristalisasi di dalam kerak bumi pada kedalaman
antara (3-20 km) yang pada keseluruhannya atau sebagian besar terjadi dalam keadaan padat,
yakni tanpa melalui fase cair sehingga terbentuk struktur dan mineral yang baru, akibat dari
pengaruh temperatur (T) dan dari tekanan (P) yang tinggi. Sedangkan menurut H.G.F. Winkler
(1976) proses metamorfosa adalah suatu proses yang mengubah mineral pada suatu batuan
dalam fase padat karena suatu pengaruh atau response terhadap kondisi fisika dan juga kimia
di dalam kerak bumi, dimana pada kondisi fisika, dan kimia tersebut berbeda dengan kondisi
yang sebelumnya. Proses-proses tersebut tidak termasuk pelapukan (H.M. Munir, 1995).
Berdasarkan kenampakan hasil metamorfisme pada batuan, prosesnya dapat
dikelompokkan menjadi deformasi mekanik (mechanical deformation) dan rekristalisasi
kimia (chemical recrystalisation).
Deformasi mekanik akan cenderung menghancurkan, menggerus, dan membentuk foliasi.
Rekristalisasi kimia merupakan proses perubahan komposisi mineral serta pembentukan

19
mineral-mineral baru, dimana H2O dan CO2 terlepas akibat terjadinya kenaikan
suhu.Perbedaan jenis metamorfisme mencerminkan perbedaan tingkat atau derajat kedua
prose situ. Adapun metamorfisme dibagi menjadi 4 berdasarkan penyebab utamanya yaitu
bisa akibat suhu dan atau tekanan tinggi:
 Metamorfisme Kataklastik (Cataclastic metamorphism)
 Metamorfisme Kontak (Contact metamorphism)
 Metamorfisme Timbunan (Burial metamorphism)
 Metamorfisme Regional (Regional metamorphism)
2.9.1 Metamorfisme Kataklastik
Terkadang proses deformasi mekanik pada metamorfisme dapat berlangsung tanpa
disertai rekristalisasi kimia. Meskipun jarang terjadi, walaupun terjadi sifatnya hanya
setempat saja. Misalnya batuan yang berbutir kasar seperti granit jika mengalami
diferensial stress yang kuat, butirannya akan hancur menjadi lebih halus.
Apabila ini terjadi pada batuan yang bersifat regas (britle) mengalami stress namun
tidak hancur dan berlanjut pada proses metamorfisme maka butiran dan fragmen batuannya
akan menjadi lonjong (elongated), dan berkembanglah foliasi.

Gambar 21 Metamorfisme Kataklastik


2.9.2 Metamorfisme Kontak
Metamorfisme kontak terjadi akibat adanya intrusi tubuh magma panas pada batuan
yang dingin dalam kerak bumi. Akibat kenaikan suhu, maka rekristalisasi kimia memegang
peran utama. Sedangkan deformasi mekanik sangat kecil, bahkan tidak ada, karena stress
disekitar magma relatif homogen.
Batuan yang terkena intrusi akan mengalami pemanasan dan termetamorfosa,
membentuk suatu lapisan di sekitar intrusi yang dinamakan aureole metamorphic (batuan
ubahan). Tebal lapisan tersebut tergantung pada besarnya tubuh intrusi dan kandungan
H2O di dalam batuan yang diterobosnya. Misalkan pada korok ataupun sill yang

20
seharusnya terbentuk lapisan setebal beberapa meter hanya akan terbentuk beberapa
centimeter saja tebalnya apabila tanpa H2O.
Batuan metamorf yang terjadi sangat keras terdiri dari mineral yang seragam dan
halus yang saling mengunci (interlocking), dinamakan Hornfels. Pada intrusi berskala
besar, bergaris tengah sampai ribuan meter menghasilkan energy panas yang jauh lebih
besar, dan dapat mengandung H2O yang sangat banyak.
Aureol yang terbentuk dapat sampai ratusan meter tebalnya dan berbutir kasar. Di
dalam lapisan yang tebal yang sudah dilalui cairan ini, terjadi zonasi himpunan mineral
yang konsentris. Zona ini mencirikan kisaran suhu tertentu.
Dekat intrusi dimana suhu sangat tinggi dijumpai mineral bersifat anhidrous seperti
garnet dan piroksen. Kemudian mineral bersifat hidrous seperti amphibol dan epidot.
Selanjutnya mika dan klorit.Tektur dari zonasi tersebut tergantung pada komposisi kimia
batuan yang diterobosnya, cairan yang melaluinya serta suhu dan tekanan.
2.9.3 Metamorfisme Timbunan
Batuan sedimen bersama perselingan piroklastik yang tertimbun sangat dalam pada
cekungan dapat mencapai suhu 3000 atau lebih. Adanya H2O yang terperangkap di dalam
porinya akan mempercepat proses rekristalisasi kimia dan membantu pembentukan
mineral baru.
Oleh karena batuan sedimen yang mengandung air lebih bersifat cair daripada
padat, maka tegasan (stress) yang bekerja leih bersifat homogen, bukan diferensial.
Akibatnya pada metamorfisme timbunan pengaruh deformasi mekanik sangat kecil sekali
sehingga teksturnya mirip dengan batuan asalnya, meskipun himpunan mineralnya sama
sekali berbeda.
Ciri khas pada metamorfisme ini adalah adalah kelompok mineral zeolit, yang
merupakan kelompok mineral berstruktur Kristal polymer silikat. Komposisi kimianya
sama dengan kelompok feldspar, yang juga mengandung H2O.
Metamorfisme timbunan merupakan tahap pertama diagenesa, terjadi pada
cekungan sedimen yang dalam, seperti palung pada batas lempeng. Apabila suhu dan
tekanan naik, maka metamorfisme timbunan meningkat menjadi metamofisme regional.

21
Gambar 22 Metamorphic Aureole
2.9.4 Metamorfisme Regional
Batuan metamorf yang dijumpai di kerak bumi dengan penyebaran sangat luas
sampai puluhan ribu kilometer persegi, dibentuk oleh metamorfisme regional dengan
melibatkan deformasi mekanik dan rekristalisasi kimia sehingga memperlihatkan adanya
foliasi. Batuan ini umumnya dijumpai pada deretan pegunungan atau yang sudah tererosi,
berupa batu sabak (slate), filit, sekis dan gneiss.
Deretan pegunungan dengan batuan metamorf regional terbentuk akibat subduksi
atau collision. Pada collision batuan sedimen sepanjang batas lempeng akan mengalami
diferensial stress yang intensif sehingga muncul bentuk foloiasi yang khas seperti batu
sabak, sekis dan gneiss.
Sekis hijau dan amfibolit dijumpai dimana segmen kerak samudra purba yang
berkomposisi masuk zona subduksi dan bersatu dengan kerak benua dan kemudian
termetamorfosa. Ketika segmen kerak mengalami stress kompresi horizontal, batuan dalam
kerak akan terlipat dan melengkung (bukling). Akibatnya bagian dasar mengalami
peningkatan suhu dan tekanan, dan mineral baru mulai tumbuh.

22
DAFTAR PUSTAKA

Allan Ludman, Nicholas K.Coch-Physical Geology, Mc Graw-Hill,1982


Aziz Noer. 2011. GL 1211 Geologi Fisik. Penerbit ITB. Bandung
Husain, Salahuddin. Deformasi dan Pegunungan. 2012. Jurusan Teknik Geologi Fakultas
Teknik UGM.
http://evanskristosalu.blogspot.co.id/2013/07/deformasi.html
http://opac.geotek.lipi.go.id/index.php?p=show_detail&id=939
https://pandaibesi.com/jenis-gempa-bumi/
http://www.geologinesia.com/2016/03/pengertian-persamaan-dan-perbedaan-melange-dengan-
olistostrome.html
http://www.geo.arizona.edu/geo5xx/geo527/Himalayas/geology.html
Ischak. 1989. Geografi 2A; Gempa Bumi dan Klasifikasi Gempa. PT. Intan Pariwira. Yogyakarta.
Link, Peter. K. 2001. Basic Petroleum Geology. Oil and Gas Consultants International, Inc. Tulsa.
North, F.K. 1985. Petroleum Geology. Allen & Unwin, Inc. USA

23