You are on page 1of 17

LAPORAN MINGGUAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA II
ACARA II
PENETAPAN KADAR KOLESTEROL

DISUSUN OLEH

RO’YAL AINI
G1C 015 033

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MATARAM
2018
ACARA II

PENETAPAN KADAR KOLESTEROL

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum
Menentukan kadar kolesterol total dalam serum.
2. Waktu Praktikum
Selasa, 21 April 2018
3. Tempat Praktikum
Lantai III, Laboratorium Kimia Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI
Banyak hormon, juga kolesterol, merupakan steroid, yaitu lipid yang dicirikan oleh
rangka karbon yang tersusun atas empat cincin yang menyatu. Kolesterol (cholesterol) adalah
komponen umum membran sel hewan dan juga merupakan prekursor untuk sintesis steroid-
steroid lain. Pada vertebrata, kolesterol disintesis dalam hati. Banyak hormon termasuk hormon
seks vertebrata, merupakan steroid yang diproduksi dari kolesterol. Dengan demikian,
kolesterol merupakan molekul krusial dalam tubuh hewan, walaupun ladar kolesterol yang
tinggi dalam darah dapat berkontribusi bagi munculnya aterosklerosis. Lemak jenuh maupun
lemak trans memberikan dampak negatif pada kesehatan dengan cara memengaruhi kadar
kolesterol (Campbell, 2010: 83).
Kolesterol dapat diproduksi oleh hati dan termasuk bagian vital untuk fungsi normal
tubuh. Ini adalah lipid penting yang ditemukan dalam darah manusia. Namun, bila lebih dapat
menyebabkan masalah kesehatan seperti arteriosclerosis (gangguan dalam arteri) yang
mengakibatkan serangan jantung. Setiap sel dalam tubuh manusia memiliki kolesterol dalam
membran luarnya. Kolesterol yang dibawa dalam darah oleh suatu molekul yang disebut
lipoprotein. Sebuah lipoprotein adalah senyawa yang mengandung kedua lipid (lemak) dam
protein (Tajodan, 2013).
Mengosumsi makanan yang mengandung kolesterol tinggi berisiko meningkatkan
kadar kolesterol darah atau hiperkolesterolemia. Kenaikan kolestrol darah sangat berhubungan
dengan terjadinya penyakit jantung. Hiperkolestrolemia biasanya terjadi pada orang gemuk
atau lanjut usia tetapi tidak dapat menutup kemungkinan gangguan metabolisme ini dapat
terjadi pada orang kurus bahkan usia muda. Faktor risiko yang menyebabkan terjadinya
hiperkolestrolemia antara lain adalah kurangnya aktivitas fisik. Kemajuan teknologi tanpa telah
membuat aktivitas berkurang. Balitbangkes pada data Rikesdas 2007 menunjukkan prevalensi
kurangnya aktivitas fisik pada penduduk usia >10 tahun mencapai angka 48,2%. Selain
aktivitas fisik yang berkurang, pola makan yang tidak sehat dan lebih bersifat praktis seperti
makanan siap saji maupun junk food yang biasa banyak mengandung lemak tinggi dan rendah
serat, juga berperan dalam terjadinya hiperkolestrolemia. Hal ini disebabkan karena adanya
peningkatan jumlah asetil-KoA dalam sel hati untuk menghasilkan kolestrol. Jika keadaan ini
melampaui batas mekanisme kompensasi tubuh dalam metabolisme lemak, tentunya akan
menyebabkan terjadinya hiperkolestrolemia (Malik dkk., 2013).

Kadar kolesterol daging maupun kadar kolesterol kuning telur akan meningkat sejalan
dengan meningkatnya kadar kolesterol darah, namun peningkatan akan maksimal pada kadar
kolesterol darah diatas 700mg/dL. Jumlah kolesterol dalam sel di dalam tubuh manusia dan
hewan diatur oleh banyak faktor. Pada umumnya semua faktor itu dapat dibagi menjadi dua
macam: Faktor pertama adalah luar sel, seperti jumlah kolesterol bebas atau yang terikat dalam
lipoprotein di luar sel, persediaan asam lemak bebas, dan adanya hormon tertentu. Faktor kedua
adalah dalam sel, seperti kegiatan sistem enzim yang berperan dalam sintesis kolesterol dan
yang berperan dalam katabolisme kolesterol, jumlah persediaan terpenoida, lanosterol, dan
skualen sebagai prekursor untuk sintesis kolesterol, jumlah hasil metabolisme kolesterol,
adanya kegiatan pengangkutan kolesterol atau derivatnya keluar dari sel dengan mekanisme
pengangkutan aktif melalui membran sel, dan pengaruh viskositas membran (Rahmat dan
Rachmat, 2011).

Kolesterol yang berasal dari lemak adalah zat yang berguna untuk menjalankan fungsi
tubuh. Sebagai sumber energi, lemak memberikan kalori paling tinggi. Sekitar 80% kolesterol
dihasilkan oleh tubuh, selebihnya dari makanan tinggi kolesterol. Sebaliknya, lemak tak jenuh
dari tumbuhan, seperti minyak kedelai, tidak banyak berpengaruh pada peningkatan kolesterol
darah. Selain itu proses metabolisme kolesterol untuk membungkus jaringan syaraf (myelin),
melapisi selaput sel, dan pelarut vitamin. Secara biokimiawi mempunyai peranan penting
sebagai prekursor sejumlah senyawa steroid lain yang sama pentingnya seperti: asam empedu,
hormon korteks adrenal, hormon seks, vitamin D, glikosida kardiak, dan pada tumbuhan
dikenal sitosterol dan beberapa alkaloid (Harti, 2014: 112).
Kolesterol tidak larut dalam darah, maka ditransportasikan dalam sistem sirkulasi
lipoprotein. Ada beberapa jenis lipoprotein di dalam darah umumnya dari ukuran besar sampai
yang terkecil: chylomicrons, very low density lipoprotein (VLDL), Intermediate Density
Lipoprotein (IDL), Low Density Lipoprotein (LDL), dan High Density Lipoprotein (HDL).
Semakin tinggi konsentrasi dari LDL dan semakin rendah fungsi HDL berhubungan dengan
penyakit jantung karena merangsang pembentukan atheroma pada pembuluh darah arteri
(atherosclerosis) (Sudarma, 2014: 73).
Spektrofotometri UVvisible adalah salah satu teknik yang paling sering digunakan
dalam analisis farmasi. Ini melibatkan pengukuran jumlah radiasi ultraviolet atau nampak yang
diserap oleh suatu zat dalam larutan. Instrumen yang mengukur rasio, atau fungsi rasio, dari
intensitas dua berkas cahaya di wilayah UVvisible disebut Spektrofotometer Ultraviolet-
visible. Dalam analisis kualitatif, senyawa organik dapat diidentifikasi dengan menggunakan
spektrofotometer, jika ada data yang tercatat tersedia, dan analisis kuantitatif spektrofotometri
digunakan untuk memastikan kuantitas spesies molekul menyerap radiasi. Teknik
spektrofotometri sederhana, cepat, cukup spesifik dan berlaku untuk jumlah kecil dari senyawa.
Hukum dasar yang mengatur analisis spektrofotometri kuantitatif adalah hukum Lambert-Beer
(Behera, 2012).

C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM


1. Alat-alat Praktikum
a. Centrifuge
b. Erlenmeyer 100 mL
c. Gelas kimia 100 mL
d. Gelas kimia 50 mL
e. Kuvet
f. Labu takar 10 mL
g. Penangas air
h. Penjepit kayu
i. Pipet tetes
j. Pipet volume 1 mL
k. Pipet volume 2 mL
l. Pipet volume 5 mL
m. Rak tabung reaksi
n. Rubber bulb
o. Spektrofotometer UV-vis
p. Stopwatch
q. Tabung reaksi
2. Bahan-bahan Praktikum
a. Alkohol absolut (CH3OH(aq))
b. Aquades (H2O(l))
c. Asam asetat (CH3COOH(aq)) glasial
d. Colour reagent(aq)
e. H2SO4(aq) pekat
f. Petroleum benzen (C6H6(aq))
g. Larutan Sampel serum kolesterol
h. Larutan Sampel standar kolesterol 0,05 mg/mL

D. PROSEDUR KERJA
1. Uji sampel
1 buah tabung reaksi
 Dimasukkan 2,5 mL alkohol
 + 0.1 mL serum kolesterol
 + 5 mL petroleum benzen
 Dicampur dalam sentrifius selama ± 30 detik
Hasil
 + 3 mL aquadest (dikocok 10-15 menit dalam sentrifuge)
 Didiamkan
Terbentuk 2 lapisan

Lapisan atas lapisan bawah


 Dimasukkan dalam tabung reaksi lain
 Diuapkan dalam penangas air (80°C) sampai cairan tinggal sedikit
 Didinginkan (dibiarkan mengering)
Hasil
 +4 mL colour reagent Tabung reaksi blanko
 dalam penangas air 5 menit  + 4 ml asam asetat glasial
 Didinginkan pada suhu kamar
Sampel Blangko

+ 3 ml H2SO4 pekat
2 lapisan

 Dikocok 1-2 menit dalam sentrifuge


 Didiamkan dalam ruang gelap (30 menit)
 Diencerkan 10 kali (1 mL dalam 10 mL
aquades)
 Diukur A pada λ = 560 nm

Hasil

2. Kurva kalibrasi

Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3

 Masing-masing tabung di + 0.5 ; 1.0 ; 2.0 (mL) kolesterol


standar 0.05 mg/mL petroleum benzen
 Diuapkan sampai sisa larutan sedikit dalam penangas air
(80°C)
 Sisanya yang tertinggal diuapkan pada suhu kamar
Hasil
 + 4 mL colour reagent
 5 menit
 + 4 mL asam sulfat pekat
2 lapisan
 Dikocok 1-2 menit dalam sentrifuge
 Didiamkan dalam ruang gelap (30 menit)
 Diencerkan 10 kali (1 mL dalam 10 mL aquades)
 Diukur A pada λ = 560 nm
Hasil

E. HASIL PENGAMATAN
1. Uji Sampel
Perlakuan Hasil Pengamatan

0,1 mL serum + 2,5 mL alkohol Terbentuk larutan berwarna putih keruh dan terbentuk
absolut, kemudian kocok gumpalan putih

Ditambah 5 mL petroleum benzen, Larutan berwarna agak keruh, gumpalan tetap ada
dan disentrifuge. pada dasar tabung dan semakin banyak. Setelah
disentrifuge larutan menjadi bening dan terdapat
endapan

Tambahkan 3 mL aquades (dikocok Terbentuk 2 lapisan dimana lapisan atas: berwarna


10-15 menit) dengan sentrifuge, bening dan lapisan bawah: putih keruh, dan terdapat
kemudian didiamkan (terbentuk 2 gumpalan putih diantara 2 lapisan (ditengah-tengah)
lapisan) dan diambil lapisan atas.
Lapisan (atas) bening dimasukkan Hasilnya berwarna bening kekuningan.
dalam tabung reaksi lain, diuapkan
dalam penangas air (80oC) dan
didinginkan
+ 4,0 mL colour reagent, dipanaskan Larutan berwarna kuning setelah ditambahkan colour
dalam penangas air selama 5 menit, reagent dan tidak terjadi perubahan setelah
lalu didinginkan pada suhu kamar dipanaskan.

Tambahkan 3 mL H2SO4 pekat Terbentuk 3 lapisan


Lapisan atas: kuning
Lapisan tengah: putih
Lapisan bawah: bening dan terasa panas pada dinding
tabung reaksi

Blanko: asam asetat glacial + 3 mL Larutan berwarna bening


H2SO4 pekat
Diamkan tabung sampel dan blanko Terbentuk 3 lapisan:
dalam ruang gelap selama 30 menit. Lapisan atas: kuning
Lapisan tengah: kuning keruh dan terdapat butiran
coklat
Lapisan bawah: bening

Larutan sampel diencerkan dengan Larutan sampel setelah diencerkan bening


perbandingan sampel: pelarut (1: 10)
sebanyak 1 kali
Diukur A larutan sampel dan larutan Sampel: 0,45
blanko dengan spektrofotometer Blanko: 0
UV-vis pada λ= 560 nm

2. Kurva Kalibrasi

Langkah kerja Hasil Pengamatan

1. Tabung I: 0,5 mL kolesterol Warna awal bening


standar
- Diuapkan - diuapkan: bening, larutan tinggal sedikit
- + 4 mL colour reagent - larutan berwarna kuning bening
- Panaskan 10-15 menit - tetap kuning bening
- + 3 mL asam sulfat, dikocok - terbentuk 2 lapisan:
lapisan atas: berwarna kuning minyak
lapisan bawah: berwarna putih keruh
- Terasa panas
2. Tabung II: 1 mL Warna awal bening
- Di panaskan - dipanaskan: bening
- + 4 mL colour reagen - larutan berwarna kuning bening
- Panaskan - kuning bening
- + 3 mL asam sulfat, dikocok - terbentuk 2 lapisan:
lapisan atas: berwarna coklat bening
lapisan bawah: berwarna krem
- Terasa panas
3. Tabung III: 2 mL Warna awal bening
- Di panaskan - dipanaskan: bening
- + 4 mL colour reagen - larutan berwarna kuning bening
- Panaskan - kuning bening
- + 3 mL asam sulfat, dikocok - terbentuk 2 lapisan:
lapisan atas: berwarna coklat
bawah: berwarna bening.
- Terasa panas
- Ketiga tabung didiamkan Setelah didiamkan selama 30 menit diruang
dalam ruang gelap selama gelap,
30 menit. Tabung I: kuning keruh
Tabung II: coklat keruh
Tabung III: coklat bening
- Diencerkan 10 kali
Lebih encer
Diukur A dengan Setelah diukur dengan UV-vis:
spektrofotometer UV-vis pada Tabung I: 0,15
λ= 560 nm Tabung II: 0,16
Tabung III: 0,21

F. ANALISIS DATA
1. Persamaan Reaksi
a. Struktur Kolesterol

b. Persamaan Reaksi

2. Perhitungan
Diketahui :
- Konsentrasi standar = 0,05 mg/mL
- Konsentrasi kolesterol dalam standar
V1 = 0,5 mL
V2 = 1 mL
V3 = 2 mL
Ditanya: Kadar masing-masing kolesterol
Jawab:

a. Kadar kolesterol volume 0,5 mL


Kadar kolesterol standar = 0,05 mg/mL
Konsentrasi standar = V x kadar
= 0,5 mLx 0,05 mg/mL
= 0,025 mg
b. Kadar kolesterol volume 1 mL
Kadar kolesterol standar = 0,05 mg/mL
Konsentrasi standar = V x kadar
= 1,0 mL x 0,05 mg/mL
= 0,05 mg
c. Kadar kolesterol volume 2 mL
Kadar kolesterol standar = 0,05 mg/mL
Konsentrasi standar = V x kadar
= 2,0 mL x 0,05 mg/mL
= 0,1 mg
Pengenceran
a. M1 x V1 = M2 x V2
𝑀1 𝑥 𝑉1
M2 =
𝑉2
0,025 𝑥 1
= 10

= 0,0025 mg
b. M1 x V1 = M2 x V2
𝑀1 𝑥 𝑉1
M2 = 𝑉2
0,05 𝑥 1
= 10

= 0,005 mg
c. M1 x V1 = M2 x V2
𝑀1 𝑥 𝑉1
M2 = 𝑉2
0,1 𝑥 1
= 10

= 0,01 mg

Tabel analog hubungan antara konsentrasi kolesterol dengan absorbansinya:


Konsentrasi Absorbansi

0,0025 0,15

0,005 0,16

0,01 0,21

Kurva Kalibrasi
0.3

y = 24.952x
0.25
R² = -4.071

0.2

0.15

0.1

0.05

0
0 0.002 0.004 0.006 0.008 0.01 0.012

Dari kurva, diperoleh persamaan y = 24,95x


Penentuan kadar kolesterol dalam serum
y = 24,95x
0,45 = 24,95x
x = 0,018 mg/mL , untuk 10 kali pengenceran
Jadi kadar kolesterol dalam serum adalah
M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 1 mL = 0,018 mg/mL x 10 mL
M1 = 0,18 mg/mL

C. PEMBAHASAN
Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol yang ditemukan
pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah. Merupakan sejenis lipid yang
merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang
disebut steroid. Steroid ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus. Struktur ini terdiri atas
4 cincin atom karbon.

Kolestrol terdapat di dalam aliran darah atau sel tubuh yang sebenarnya dibutuhkan
untuk pembentukan dinding sel dan sebagai bahan baku beberapa hormon. Kolestrol yang
normal harus di bawah 200 mg/dL. Kolestrol tidak larut dalam darah sehingga perlu berikatan
dengan pengangkutnya, yaitu lipoprotein. Oleh karena itu pula kolestrol dibedakan menjadi
Low-Density Lipoprotein (LDL) dan High-Density Lipoprotein (HDL). Kolestrol jahat (Low
Density Lipoprotein). Kolestrol LDL adalah lemak yang jahat karena bisa menimbun pada
dinding dalam dari pembuluh darah, terutama pembuluh darah kecil yang menyuplai makanan
ke jantung dan otak. Timbunan lemak itu semakin lama semakin tebal dan keras, yang
dinamakan arteriosklerosis, dan akhirnya menumbat aliran darah. Kolestrol baik (High
Density Lipoprotein) Kolestrol HDL disebut lemak yang baik karena bisa membersihkan dan
mengangkut timbunan lemak dari dinding pembuluh darah ke hati. Kolestrol HDL yang ideal
harus lebih tinggi dari 40 mg/dL untuk laki-laki, atau di atas 50 mg/dL untuk perempuan.
Kolesterol dapat larut dalam pelarut lemak, misalnya eter, kloroform, benzena dan alkohol
panas. Apabila terdapat dalam konsetrasi tinggi, kolesterol mengkristal dalam bentuk kristal
yang tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau dan mempunyai titik lebur 150-151oC.
Pada praktikum kali ini akan dibahas mengenai penentuan kadar kolesterol, yang
bertujuan untuk menentukan kadar kolesterol total pada serum. Serum yang digunakan dalam
percobaan ini, yaitu serum kolesterol standar. Untuk mendapatkan kolesterol murni dari serum
rendah maupun serum tinggi maka dilakukan pemisahan yang menggunakan prinsip seperti
ekstraksi pelarut.
Digunakan alkohol absolut atau lebih dikenal dengan nama etanol dicampurkan dengan
serum untuk melarutkan senyawa-senyawa lain selain kolesterol karena kolesterol tidak larut
dalam pelarut air maupun alkohol akan tetapi larut dalam lemak. Selanjutnya dilakukan
penambahan petroleum benzene. Penambahan petroleum benzene berfungsi sebagai pelarut
bagi kolesterol. Setelah itu, campuran tersebut disetrifugasi dalam sentrifuge selama ± 30 detik.
Sentrifugasi merupakan suatu metode yang digunakan dalam pencapaian sedimentasi dimana
partikel-partikel yang ada di dalam suatu bahan yang dipisahkan dari fluida oleh gaya
sentrifugasi yang dikenakan pada partikel. Dalam penggunaan metode sentrifugasi ini terdapat
sebuah alat yang penting. Alat yang diperlukan dalam metode ini adalah sentrifugase. Yang
dimaksudkan agar segala bentuk proses pemisahan zat dapat dipercepat. Prinsip kerjanya yaitu
dimana objek diputar secara horizontal pada jarak radial dari titik dimana dititik tersebut
dikenekan gaya. Pada saat objek diputar, partikel-partikel yang ada akan berpisah dan
berpencar sesuai berat jenis masing-masing partikel. Dengan gaya yang paling berperan adalah
gaya sentrifugal. Dengan adanya teknik ini, proses pengendapan suatu bahan akan lebih cepat
dan optimum dibandingkan dengan teknik biasa. Hasilnya adalah terbentuk 3 lapisan yaitu
pada lapisan atas berwarna putih, pada bagian tengan terbentuk cincin putih dan pada dasarnya
terdapat endapan putih. Kemudian ditambahkan aquades. Penambahan aquades ini bertujuan
agar pemisahannya lebih jelas. Etanol ini sendiri merupakan pelarut yang juga dapat larut dalam
air. Setelah ditambahkan aquades, dilakukan sentrifugasi kembali selama 10-15 menit, lalu
didiamkan. Hasilnya adalah terbentuk 2 lapisan, dengan lapisan atas bening dan lapisan bawah
agak putih keruh dan terdapat sedikit endapan. Larutan bening pada bagian atas diambil
menggunakan pipet tetes kemudian pelarutnya diuapkan dalam penangas air sehingga
didapatkan kolesterol murni yaang selanjutnya digunakan untuk uji kadar totalnya.
Pengujian kualitatif kadar kolesterol total ini dilakukan dengan teknik Lieberman
Burchard. Pertama, colour reagent yang merupakan FeCl3.6H2O dalam asam asetat glasial
digunakan untuk melarutkan kolesterol. Setelah ditambah color reagent, larutan dipanaskan
untuk mempercepat reaksi. Dilakukan penambahan asam sulfat pekat, setelah penambahan
asam sulfat pekat larutan tetap bening dan terdapat cincin dibagian tengahnya. Asam sulfat ini
berguna untuk membentuk kompleks warna. Apabila mengandung Triterpenoid, maka akan
memberikan warna merah sedangkan apabila mengandung Steroid, akan memberikan warna
biru dan hijau. Reagen Lieberman Burchard dibuat dari asam sulfat pekat dan anhidrida asetat.
Mekanisme yang terjadi dalam uji ini ketika asam sulfat ditambahkan kedalam campuran yang
berisi kolesterol, maka molekul air berpindah dari gugus C3 kolesterol, kolesterol kemudian
teroksidasi membentuk 3,5-kolestadiena. Produk ini dikonversi menjadi polimer yang
mengandung kromofor yang menghasilkan warna hijau. Warna ini disebabkan karena adanya
gugus hidroksi (−OH) dari kolesterol bereaksi dengan pereaksi Lieberman Burchard dan
meningkatkan konjugasi dari ikatan tak jenuh dalam cincin yang berdekatan. Seharusnya
larutan menjadi berwarna kemerahan setelah ditambahkan asam sulfat pekat yang setelah
didiamkan akan berubah menjadi warna biru dan hijau. Dimana warna hijau yang terjadi
sebanding dengan kadar kolesterol sesuai teorinya. Akan tetapi larutan tetap berwarna kuning
bening.
Kemudian larutan standar tersebut diinkubasikan pada suhu 20C°- 25C° (suhu ruangan)
selama 30 menit. Alasan dilakukannya inkubasi ini adalah karena pada reagen yang terdapat
dalam larutan standar tersebut mengandung enzim yang memerlukan waktu tertentu untuk
bereaksi secara optimum, sehingga dibutuhkan waktu inkubasi selain itu larutan didiamkan
ditempat gelap agar tidak ada penyerapan cahaya oleh kolesterol sebelum kolesterol diukur
dengan UV-vis karena hal ini tentunya dapat mempengaruhi serapan cahaya pada saat
pengukuran sehingga turut mempengaruhi hasil pengukuran. Setelah diinkubasi diruang gelap,
kolesterol diukur dengan alat UV-vis dimana kolesterol tersebut dipindahkan kedalam kuvet.
Pada saat memegang kuvet harus diperhatiakan cara memegangnya. Kuvet harus dipegang pada
bagian yang buram, karena jika dipegang pada bagian bening kuvet maka dikhawatirkan akan
mengganggu absorbansi, disebabkan oleh adanya protein dari tangan kita yang mungkin
tertinggal pada kuvet. pada saat penyimpanan kuvet didalam spektro pun harus diperhatikan.
Analisis dengan Spektrofotometer UV adalah pengukuran zat secara kuantitatif menggunakan
prinsip Kolorimetrik yang menghasilkan serapan yang dapat diukur dengan menggunakan
Spektrofotometer sehingga memiliki sensitifitas yang tinggi. Panjang gelombang yang
digunakan adalah 560 nm karena pada panjang gelombang 560 nm nilai absorbansi yang
diperoleh lebih stabil. Berdasarkan hasil pengamatan didapat nilai adsorbansi pada serum
sebesar 0,45 dan pada blanko 0.
Pada percobaan kedua yaitu pada pembuatan kurva kalibrasi larutan kolesterol standar
untuk menentukan kadar kolesterol yang dihasilkan dari 3 sampel dengan persamaan garis.
Kadar kolesterol total didapat dengan memasukkan nilai absorbansi yang didapat dari hasil
pengukuran kedalam persamaan yang didapat. Dari hasil pengukuran pada λ = 560 nm
didapatkan absorbansi untuk 0,5 mL kolesterol sebesar 0,15 ; untuk 1 mL kolesterol sebesar
0,16 ; dan untuk 2 mL kolesterol sebesar 0,121 ; dengan persamaan grafik Y= 24,952x. Dari
hasil perhitungan diperoleh kadar kolesterol dalam serum adalah 0,18 mg dalam 0,1 mL sampel
yang digunakan.
D. KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa


Penentuan kadar kolesterol total dapat dilakukan dengan teknik Lieberman Burchard dimana
kadar kolesterol dapat dihitung berdasarkan nilai absorbans yang didapat. Pemisahan
kolesterol dari serum untuk mendapatkan kolesterol murni menggunakan prinsip ekstraksi
pelarut, dimana kolesterol larut dalam petroleum benzene sedang senyawa-senyawa lainnya
larut dalam etanol, dan etanol dapat larut dalam air sehingga kolesterol dapat dipisahkan.
Kolesterol bersifat dapat menyerap cahaya dan absorbansinya dapat diukur dengan UV-vis.
Kemudian pengukuran A pada λ = 560 nm didapatkan hasil, yaitu pada serum sebesar 0,45 ;
pada blanko sebesar 0 (pada uji sampel) ; untuk 0,5 mL kolesterol sebesar 0,15 ; untuk 1 mL
kolesterol sebesar 0,16 ; dan untuk 2 mL kolesterol sebesar 0,21 ; dengan persamaan grafik
Y= 24,952x (pada kurva kalibrasi). Dari hasil perhitungan diperoleh kadar kolesterol dalam
serum adalah 0,18 mg dalam 0,1 mL sampel yang digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell. 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid I. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Behera, Siladitya, dkk. 2012. UV-visible Spectrophotometric Method Development and Validation
of Assay of Paracetamol Tablet Formulation. India: Gupta College of Technological
Sciences.
Harti, Agnes Sri. 2014. Biokimia Kesehatan. Jakarta: Nuha Medika.

Malik, Mega Amaliah, dkk. 2013. Gambaran Kadar Kolesterol Total Darah pada Mahasiswa
Angkatan 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi dengan Indeks Massa
Tubuh 18,5-22,9 kg/m2. Manado: Universitas Sam Ratulangi.

Rahmat, Dedi dan Rachmat Wiradimadja. 2011. Pendugaan Kadar Kolesterol Daging dan Telur
Berdasarkan Kadar Kolesterol Darah pada Puyuh Jepang (Estimated Cholesterol Levels
Meat and Egg Based on Blood Cholesterol on the Japanese Quail). Bandung: Universitas
Padjadjaran.

Sudarma, I Made. 2014. Kimia Bahan Alam Ekstraksi, Isolasi, dan Transformasi. Mataram:
Universitas Mataram Press.

Tajoda,H.N; Kurian. J.C; Bredenkamp, M.B. 2013. Reduction of Cholesterol and Triglycerides
in Volunteers Using Lemon and Apple. Thailand: Universitas Internasional Asia-Pasifik.