You are on page 1of 13

A.

METODE PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBL, PROBLEM-BASED


LEARNING)

Metode ini erat kaitannya dengan pendekatan kontekstual. Banyak ahli yang
menyebutnya sebagai metode pembelajaran tetapi ada pula semnetara ahi yang menyebutnya
sebagai model pembelajaran. Konsep model pembelajaran sendiri berasal dari konsep Joyce
dan Weil,namun justru banyak berkembang karena dukungan dari charles I.Arendds.
perbedaan pokok antara metode pembelajaran dengan model pembelajaran adalah pada
model pembelajaran sintaksnya relatif sudah tertentu langkah-langkahnya, sesuai dengan
yang ditetapkan oleh ahli ynag mengungkapkannya.
Strategi pembelajaran berbasis masalah mempunyai tiga ciri utama( Wina
Sanjaya,2007), yang sekaligus memebedakannya dengan strategi pembelajaran yang lain.
Ketiga ciri tersebut adalah sebagai berikut:
1. SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran. Artinya terdiri dari sejumlah
rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik dimana tidak hanya
sekedar rmendengarkan, mencatat, menghafal materi pelajaran yang diberikan tetapi
berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data serta menyimpulkannya.
2. Aktivitas pembelajaran dioreantasikan pada penyelesaian masalah. SPBM
menempatkan masalah sebagai kata kunci ari proses adanya pembelajaran
3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara
ilmiah. Berfikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berfikir deduktif
dan induktif

 Konsep Dasar Problem Based Learning Bermuatan Karakter


Asumsi teoritis mendasar dibangunnya strategi pembelajaran PBL adalah untuk
menyelesaikan maalah. Sedangkan orang ynag mempunyai komitmen yang tinggi untuk
menyelesaikan masalah adalah orang-orang yang berjiwa tanggug jawab.adapun tanggung
jawab itu sendiri adalah salah satu nilai karakter oleh karena itu, PBL memiliki nilai karakter
tanggung jawab. Berikut ini adalah pengembangan Problem Based Learning bermuatan
karakter tersebut
1. Problem Based Learning dikaji atau digali niali-niali karakter yang terkandung
didalamnya untuk diaktualisasikan dalam pembelajaran, sehingga niai-niali karakter
tersebut dapat ditanamkan atau diinternalisaasikan kedalam diri peserta didik. Dalm
hal ini PBL dianggap seolah-olah telah ada atau mengandung muatan nilai karakter
didalamnya
2. Problem based learning dapat dimodifikasi dan dikembangkan secara kreatif agar
memuat nial-niali karakter lebih kompleks. Artinya PBL dapat diisi dengan muatan
nilai karakter dari luar yang sesuai dengan kepentingan guru dalam pembelajaran.
Dalam hal ini PBL diperlakukan sebagai stratergi pembelajaran yang “netral”
sehingga dapat diisi dengan muatan nilai-nilai karakter sesuai dengan karakter peserta
didik
 Nilai-nilai Karakter Dalam Problem Based Learning
1. Tanggung Jawab
Orang yang mempunyai jiwa tanggung jawab yang tinggi adalah orang yang
mempunyai kepekaan masalah ynag tinggi, sehingga ia mempunyai panggilan jiwa untuk
menyelesaikannya.
2. Kerja Keras
Untuk dapat mnyelesaikan masalah diperlukan kerja keras yang luar biasa. Terlebih
lagi peyelesaian masalah secara baik dan elegan, tentunya membuthkan energi ekstra,
baik secara emosional maupun intelektual untuk mewujudkannya. Oleh karena itu,
strategi pembelajaran PBL ini secara alamiah menanamkan nilai karakter berupa kerja
keras.
3. Toleransi Dan Demokratis
Penyelesaian masalah ynag dikehendaki dalam strategi pembelajaran PBL adalah
penyeesaian masalah yang bersifat terbuka, dapat ditoleransi dan bersifat demokratis.
Artinya, tidak ada penyelesaian masalah ynag bersifat tunggal atau paling benar. Bahkan
guru juga tidak boleh menentukan cara penyelesain tersendiri, sehingga peserta didik
mempunyai hak otonomi secara penuh untk menyelesaikan masalahnya sendiri,
4. Mandiri
Peserta didik harus bersifat mandiri dalam menyelesaikan masalahnya sendiri,
khususnya masalah yang bersifat intrapersonal, seperti mengusir rasa malas, memotivasi
diri, mengerjakan tugas individu dan sebagainya.
5. Kepedulian Lingkungan Dan Sosial Keagamaan
Selain setiap peserta didik menghadapi masalah-masalah individu yang berbeda-beda,
tidak menutup kemungkinan ia juga menghadapi maslah-masalah sosial keagamaan
dilingkungan sekolahnya. Dalam hal ini penyelesaian atas masalah tersebut tidak bole
lagi dihadapi secar amandiri, tetapi harus berkelompok atau bekerja sama dengan teman
sejawatnya, termasuk dalam hal ini adlah melibatkan kepala sekolah, OSIS, guru
bimingan dan konseling serta guru agama
6. Semangat Kebangsaan dan Cinta Tanah Air
Semangat kebangsaan, cinta tanah air dan jiwa nasionalisme perlu ditanamkan dalam
jiwa peserta didik agar tidak pergi keluar negeri( membangun negeri orang lain) setelah
menjadi orang cerdas lainnya
Dalam pengertian metode pembelajaran, guru masih diberi keleluasaan dalam
bervariasi. Perlu penekanan pada kata relatif tersebut karena ternyata suatu model
pembelajaran tertentu akan berbeda sintaksnya jika ahi yang menyampaikan nya juga
berbeda. Jadi sintaksnya sangat bergantung kepada sumber yang dipergunakan.
Berdasarkan pendapat Arends, pada esensinya pembelajaran berbasis masalah adalah
model pembelajaran yang berlandaskan kontruktivisme dan mengakomodasikan
keterlibatan siswa dalam belajar serta terlibat dalam pemecahan masalah ynag
konstektual. Untuk memperoleh informasi dan mengembangkan konsep-konsepp
sains,siswa belajar tentang bagaimana membangun kerangka masalah, menyusun fakta ,
menganalisi data, dan menyusun dan mengorganisasikan masalah, menyusun fakta,
menganalisis data, dan menyusun argumentasi terkait pemecahan masalah, kemudian
memecahkan masalah, baik secara individual maupun dalam kelompok.

Dalam hubungan ini Arends mengutip hasil penelitian para ahli antara lain
Vanderbilt, Krajcik dan Czernik, Slavin dan lain-lain menyimpulkan ada lima gambaran
yang umum menjadi identifikasi pembelajaran berbasis masalah, yaitu:
1. Dikembangkan dari pertanyaan atau masaah. Daripada mengorganisasikan pelajaran
di seputar prinsip-prinsip atau kecakapan akademik tertentu, PBL mengorganisasikan
pengajaran ada sejumlah pertanyaan atau masalah yang penting baik secara sosial
maupun personal bermakna bagi siswa. Pendekatan ini mengaitkan pembelajaran
dengan situasi kehidupan nyata.
2. Fokusnya antar displin. Walau PBL dapat diterapkan memusat untuk membahas
subjek tertentu (sains, matematika, sejarah atau lainnya), tetapi lebih dipilih
pembahasan asalah aktual yang dapat diinvestigasi dari berbaga sudut disiplin ilmu.
Contohnya maslaah pencemaran lingkungan yang timbul di Laut Timor akibat
pencemran ini oleh perusahan pengebora minyak milik Australian dapat diinvestigasi
dan dijelaskan dari aspek ekonomi, biologi,sosiologi,kimia,hubungan antar negara,
dan sebagainya
3. Penyelidikan otentik. Istillah ontetentik selalu dikaitkan denga masalah yang timbul
di kehidupan nyata, yang langsung dapat diamati. Oleh karena itu, masalah ynag
timbul juga harus dicarikan penyelesaian secara nyata. Para siswa harus menganalisis
dan mendefinisikan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi,
mengumpulkan dan menganalisis informasi, bil perlu melaksanakan eksperimen,
membuat inferensi dan menarik kesimpulan. Metode investigasinya tentu saja
bergantung pada sifat-sifat masalah yang dikaji.
4. Menghasilkan artefak, baik berupa laporan,makalah, model fisik, sebuah video, suatu
program komputer, naskah drama dan lain-lain
5. Ada kolaborasi. Implementasi PBL ditandai oleh adanya kerja sama antar siswa satu
sama lain, biasanya dalam pasangan siswa atau kelompok kecl siswa. Bekerja sama
akan memberikan motivasi untuk terlibat secara berkelajutan alam tugas-tugas yang
kompleks, meningkatkan kesempatan untuk saling bertukar pikiran dan
mengembangkan inkuiri, serta melakukan dialog untuk mengembangkan kecakapan
sosial.

PBI atau PBL baru dapat berkembang jika terbangun suatu situasi yang efektif.
Combs (1976) seperti yang diungkap oleh North Central Regional Educational Library
(2006) menyatakan bahwa minimal ada 3 karakteristik yang harus dipenuhi agar
terbangun situasi kelas yang efektif dalam PBL, yaitu sebagai berikut:
1. Atmosfer kelas harus dapat memfasilitasi suatu eksplorasi makna. Maka para
pembelajar harus merasa aman dan merasa diterima. Mereka memerlukan
pemahaman baik tentang resiko maupun penghargaan yang akan diperolehnya dari
pencarian pengetahuan,dan pemahaman. Situasi kelas harus mampu menyediakan
ksematan bagi mereka untuk teribat, sailng berinteraksi dan sosialisasi.
2. Pembelajar harus sering diberi kesempatan untuk mengkonfrontasikan informasi baru
dengan pengalamannya selama proses pencarian makna. Namun kesempatan
semacam itu janganlah timbul dari dominasi guru selama pembelajaran, tetapi harus
timbul dari banyaknya kesempatan siswa untuk menghadai tantangan –tantangan baru
berdasarkan pengalaman masa lalunya
3. Makna baru tersebut harus diperoleh melalui proses penemuan secara personal.

Dalam sumber yang sama Savoie dan Hughes (1994) mengungkap perlunya suatu
proses yang dapat digunakan untuk mendesain pengalaman pembelajaran berbasis
masalah bagi siswa. Kegiatan-kegiatan tersebut dibawah ini diperlukan untuk menunjang
proses tersebut, yaitu sebagai berikut:
a. Identifikasikan suatu masalah yang cocok bagi para siswa
b. Kaitkan masalah tersebut dengan konteks dunia siswa sehingga mereka dapat
mengahdirkan susatu kesempatan otentik.
c. Organisasikan pokok bahasan disekitar masalah jangan berlandaskan bidang studi
d. Berilah para siswa tanggung jawab untuk dapat mendefinisikan sendiri pengalaman
belajaran mereka serta membuat perencanaan dalam menyelesaikan maslah
e. Dorongan timbulnya kolaborasi dengan membentuk kelompok pembelajaran
f. Berikan dukungan kepada siswa untuk mendemonstrasikan hasil-hasil pembelajaran
mereka misalnya dalam bentuk suatu karya atau kinerja tertentu

Dalam hubungan ini Arends (2009:401) telah mengemukakan sintaks serta perilaku buruk
yang relevan seperti dibawah ini :

Tabel 4.1 Sintaks PBL dan Perilaku Guru yang Relevan


No Fase Perilaku Buruk

1 Fase 1 :melakukan orientasi masalah kepada Guru menyampaikan tujuan


siswa pembelajaran, menjelaskan
logistik( bahan dan alat ) apa
yang diperlukan bagi
penyelesaina masalah serta
memberikan motivasi agar
menaruh perhatian terhadap
aktivitas penyelesaian masalah
2 Fase 2: mengorganisasikan siwa untuk belajar Guru membantu siswa
mendefinisikan dan
mengorganisasikan
pembelajaran agar relevan
dengan penyelsaian masalah.
3. Fase 3 : mendukung kelompok investigasi Guru mendorong siswa untuk
mencari informasi yang sesuai,
melakukan eksperimen dan
mencari penjelasan dan
pemecahan masalahnya
4 Fase 4 : mengembangkan dan menyajikan Guru membantu siswa dalam
artefak dan memamerkannya perencanaan dan perwujudan
artefak yang sesuai dalam tugas
yang diberikan seperti : laporan,
video, dan model-model serta
membantu merekas saling
berbagi satu sama lain terkait
hasil karyanya
5 Fase 5: menganalisis dan mengevaluasi proses Guru membantu siswa untuk
penyelesaian masalah melakukan refleksi terhadap
hasil penyelidikannya serta
proses –proses pembelajaran
yang telah dilaksanakan
Adapun prinsip-prinsip pembelajaran berbasis proyek yaitu :
a. Prinsip centralistis yang menegaskan bahwa kerja proyek meupakan esensi dari
kurikulum.model ini merupkan pusat strategi pembelajarn , dimana siswa belajar konsep
utama dari sut pengetahuan melalui kerja proyek.oleh karena itu, kerja poyek bukan
merupakan praktik tambahan dan aplikasi praktis dari konsep yang sedang dipe;ajari,
melainkan menjadi central kegiatan pembelajaran dikelas.
b. Prinsip pertanyaan pendorong/penuntun.yang menyatakan bahwa kerja proyek berfokus
pda pertanyaan dan permasalahan yang dapat medorong siswa untuk berjuang
memperoleh konsep atau prinsip utama suatu bidang tertentu.jadi, dalam hal ini kerja
proyek mampu menggugah siswa untuk menumbuhkan kemandiriannya dalam
mengejakan tugas-tugas pembelajaran.
c. Prinsip investigasi konstruktif mmerupakan proses yang mengarah kepada pencampaian
tujuan , yang mengandung kegiatan inkuiri , pembangunan konsep , dan resolusi.dalam
investigasi konstruktif ini memuat proses perancangan , pembuatan keputusan ,
penemuan masalah, discoferi dan pebentukan model.
d. Prinsip otonomi yaitu pembelajaran berbasis proyek yang dapat dirtikan sebagai
kemandirian siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.yaitu , bebas menentukan
pilihannya sendiri, bekerja dengan minimal superfisi , dan bertanggung jawab.dalam hal
ini guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator untuk mendorong tumbuhny
kemandirian siswa.
e. Prinsip realistis, pembelajaran berbasis proyek bersifat sesuatu yang nyata bukan sepertii
disekolah. pembelajaran berbasis proyek ini harus dapat memberikan perasaan realistis
kepada siswa , termasuk dalam memilih topik, tugas, dan peran konteks kerja, kolaborasi
kerja, produk, pelanggan, maupun standar produknya.jadi, guru harus mampu merancang
proses pembelajaran yang nyata, dan hal ini bisa dilakukan dengan mengajak siswa blajar
pada dunia kerja yang sesugguhmya.

 Variasi Pengembangan Problem Based Learning Bermuatan Karakter


Dapat dilakukan pada ranah fraksis pembelajaran aktif menyenangkan dikelas-kelas.
Dimana dapat disesuaikan dengan jenjang pendidikan atau kemampuan peserta didik
misalnya, dalam pelajaran matematika pada jenjang SD/MI adalah sebagai berikut :
1. Kesadaran akan adanya masalah cukup dengan menambah atau mengurangi serta
membagi atau mengalirkan bilangan-bilangan bulat sederhana dengan jumlah ratusan
2. Rumusan masalahnya dapat berupa soal-soal penjumlahan atau pengurangan maupun
pembagian atapun pengalian
3. Rumusan hipotesisnya dapat berupa rumus-rumus matematika sederhana
4. Pegumpulan data dapat berupa cotoh soal-soal matematika lengkap dengan
penyelesaiannya
5. Pengajuan hipotesis dapat berupa uji coba penyelesaian soal yang ada
6. Menentukan penyelesaian adalah mengerjakan soal matematika dengan rumus-rumus
yang diketahi dan menguji kebenarannya.

Dengan prosedur ini, peserta didik secara tidak langsung sedang memebentuk
karakter rasa ingin tahu, disiplin (prosedural) , kerja keras ( melaksakan tugas tahap demi
tahap), tanggung jawab( menyelesaikan persoalan ) dan sebagainya.
Selain penyesuaian dengan jenjang pendidikan, PBL bermuatan karakter juga
dapat disesuaikan dengan materi pembelajaran. Artinya, PBL dalam pelajaran
matematika berbeda dengan PBL pada pelajaran IPS, termasuk ekonomi, sosiologi,
pendidikan pancasila, dan sebagainya.
Secara umum, dapat dikemukakan bahwa kekuatan dari penerapan metode PBL
atau PBI ini antara lain:
1. Siswa akan terbiasa mengahadapi masalah dan merasa tertantang untuk
menyelesaikan masalah , tidak hanya terkait dengan pembelajaran dalam kelas, tetapi
juga menghadapi masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari
2. Memupuk solidaritas sosial dengan terbiasa berdiskusi dengan teman-teman
sekelompok kemudian berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya
3. Makin mengakraban guru dengan siswa
4. Karena ada kemungkinan suatu masalah harus diselesaikan siswa melalui eksperimen.
hal ini juga akan membiaskan siswa dalam menerapkan metode eksperimen.

Sementara itu, kelemahan dari penerapan metode ini:


1. Tidak banyak guru yang mampu mengantarkan siswa kepada pemecahan masalah
2. Sering kali memerlukan biaya mahal dan waktu yang panjang
3. Aktvitas siswa yang dilaksakana diluar sekolah sulit dipantau guru

B. METODE PEMBELAJARAN BERBASIS PROJECT (PJBL,PROJECT –BASET


LEARNING)
Pembelajaran berbasis project adalah penerapan dari pembelajaran aktif, teori
kontruktivisme dari piaget serta teori konstruksionisme dari seymour papert. Papert
adalah murid dari piaget yang mengajar di massachusetts insitute of technology.
Sebagaimana halnya dengan konstruktivisme berprinsip bahwa setiap anak membangun
model mentalnya untuk berfikir dan memahami dunia di sekelilingnya. Namun demikian
berbeda dengan kontruktivisme, berasumsi bahwa pembelajaran akan berlangsung
dengan efektif jika para siswa aktif dalam membuat atau memproduksi suatu karya fisik
yang dapat dihadirkan dalam dunia nyata suatu artefak. Menurut, Papert gagasan pokok
dari konstruktisionisme adalah bahwa berfikir merupakan belajar dengan membuat
sesuatu(Learning by Making). Tidak heran jika kemudian konsep pembelajaran ini
banyak diterakpan dijurusan atau fakultas arsitektur di sejumolah perguruan tinggi di
Amerika serikat yang keudian menelurkan konsep belajar dengan perencanaan (Learning
by design) dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa, istilah konstroksionisme juga muncul
dalam falsafah pendidikan, misalnya falsafah konstruksionisme sosial yang diantaranya
dikembangkan oleh Paulo Freire.
Secara sederhana pembelajaran berbasis proyek di definisikan sebagai suatu
pengejaran yang mencoba mengaitkan antar teknologi dengan maslaah kehidupan sehari-
hari yang akrab dengan siswa atau dengan proyek sekolah. Sementara itu Bransfor dan
Stein (1993) mendefinisikan pembelajarn berbasis proyek sebagai pendekatan pengajaran
yang komprehensif yang melibatkan siswa dalam kegiatan penyelidikan yang koopratif
dan berkelajutan.
Pembelajaran berbasis proyek memusatkan diri tehadap adanya sejumlah masalah
yang mampu memotivasi serta mendorong para siswa berhadapan dengan konsep-konsep
dan prinsip-prinsip pokok pengetahuan secara langsung sebagai pengalaman tangan
pertama( hands on experience). PJBL adalah suatu teknik pengajaran yang khas dan
berbeda dengan umumnya teknik pembelajaran.
Perbedaan pokok antara PJBL dengan pembelajaran berbasis inquiri adalah
keharusan melakukan pembelajaran kolabortif / kooperatif dalam PJBL, sedangakan
pembelajaran berbasis inquiri tidak masalah jika dikerjakan secara individual. Perbedaan
lainnya keharusan adanya artefak sebagai bukti produk belajar tim. Dalam pembelajaran
PJBL para siswa menncoba menyelesaikan masalah yang khas atau tidak umum dengan
cara:
a. Merasakan dan mempertanyakan secara mendalam keberadaan masalah
b. Mendebartkan gagasan dalam timnya
c. Mebuat prediksi
d. Merancang rencana kerja atau percobaan
e. Mengumpulkan dan menganalisis data
f. Menarik kesimpulan
g. Mengkomunikasikan gagasannya kepada orang lain, terutama rekan satu timnya
h. Mempertanyakan kemungkinan adanya masalah baru yang timbul
i. Menciptakan sebuah artefak sebagai bukti hasil belajar (blumenfeld dkk,1991)

Brown dan Campione (1994) menyatakan bahwa ada dua komponen pokok dalam
pembelajaran berbasis projek yaitu :
a. Ada masalah menantang yang mendorog siswa mengorganisasikan dan melaksanakan
suatu kegiatan, yang secara keseluruhan mengarahkan siswa kepada suatu proyek
yang bermakna dan harus diselesaikan sendiri sebagai tim
b. Karya akhir suatu artefak atau serangkaian artefak atau suatu penyelesaian tugas yang
berkelajutan ynag bermakna bagi pengembangan pengetahuan dan keterampilan
mereka .
Dalam hubungan ini Seungyeon Han dan Kkli Bhattatcharya (2001) dari
university Of Georgia Amerika Serikat mengemukakan ada tujuh komponen kunci bagi
PJBL. Ketujuh komponen ini dapat digunakan dalam merencanakan,menggambarkan,
dan menilai proyek yaitu:
a. Lingkingan yang menunjang timbulnya pembelajaran yang berbasis pembelajar
(learner)
b. Kolaborasi
c. Isi kurikulum
d. Tugas-tugas otentik
e. Menggunakan modus ekspresi majemuk
f. Manajemen waktu
g. Asesmen inovatif.

 Prosedur / desain pembelajarn berbasis proyek


Pembimbingan oleh guru dan penyelesaian tugas oleh siswa mengacu pada prinsip
metode pembelajaran berbasis proyek seperti berikut :
Prinsip pengertian aplikasi
Keutantikan  Proyek yang dikerjakan  Proyek yang dikerjakan
siswa harus memacu harus berguna baik
pada permasalahan yang secara teoritis maupun
bermakna bagi siswa. praktis bagi siswa.
 Proyek hrus secara nyata  Proyek tersebut harus
dapat dikerjakan oleh dikerjakan oleh siswa
siswa. dalam rentang waktu
 Dari kegiatan proyek yang ditentukan (1
tersebut siswa harus semester).
dapat menciptakan atau  Proyek harus
menghasilkan menghasilkan produk
sesuatu,baik sebgai (pengetahan/keterampila
pribadi maupun n baru).
kelompok di lur
lingkungan sekolah.
Ketaatan terhadap nilai-nilai  Kegiatan proyek harus  Dalam kegiatan proyek
akademik dapat mebantu atau siswa dapat
mengarahkan siswa mengaplikasikan
untuk memperoleh dan pengetahua bidang studi
menerapkan pokok pokok yang dipelajari.
pengetahuan dalam satu  Kegiatan proyek tersebut
atau lebih disiplin ilmu. harus dapat merangsang
 Proyek tersebut harus siswa menggnkan
dapat atau mamu meberi metode-metode
tantangan kepada siswa penemuan
untuk menggunakan (ilmiah).dalam satu atau
metode-metode lebih disiplin ilmu yang
penumuan (ilmiah)dalam dipelajari.
satu atau lebih disiplin  Kegiatan proyek tersebut
ilmu (contoh : berpikir harus dapat merangsang
dan bekerja seperti siswa menggunakan
ilmuan). keterampilan dan
 Proyek harus mampu kebiasaan berpikir
mendorong siswa tingkat tinggi.
mengembangkan
keterampilan dan
kebiasaan dan berpikir
tingkat tinggi (contoh :
pencarian fakta ,
memandang sesuatu
maslah dari berbagai
sudut).
Belajar pada dunia nyata  Apakah kegiatan belajar  Proyek harus mengacu
yang dilakukan siswa pada kehidupan nyata /
berada dalam konteks permaslahan yang ada
permasalahan semi dimasyarakat.
terstruktur , mengacu  Proyek hatus
pada kehidupan nyata , merangsang siswa untuk
dan bekerja /berada pada bekerja secara tim,
dunia lingkungan luar menggunkan teknologi
sekolah. yang tept.
 Apakah proyek dapat  Proyek tersebut mampu
mengarahkan untuk merangsang siswa untuk
menguasai dan melakukan pengebangan
menggunakan untuk organisaisi dan
kerja yang mengelola keteramppilan
dipersyaraykan dalam pribadi.
organisasi kerja yang
menuntun persyaratan
tinggi.(contoh: kerja tim
; menggunakan teknologi
yang tepat; pemacahan
masalah dan komnikasi).
 Apakah pekerjaan
tersebut
mempersyaratkan siswa
mampu untuk melakukan
pengembangan
organisasi dan mengelola
keterampilan pribadi.
Aktif meneliti  Apakah siswa  Proyek hatus
menggunkan sejumlah diselesaikan tepat waktu.
waktu secara signifikan  Proye harus merangsang
untuk mengerjakan siswa untuk mampu
bidang utama melakukan penelitian
pekerjaannya ? nyata , dan menggunakan
 Apakah proyek tersebut berbagai macam metode,
mempersyaratkan siswa media , dan berbagai
untuk mampu melakukan sumber lainnya.
peneitian nyata , dan  Siswa harus mampu
menggunakan berbagai untuk berkomunikas
macam metode, media tentang apa yang di
dan berbagai sumber pelajari baik melalui
lainnya ? presentasi maupun unjuk
 Apakah siswa kerja.
diharapkan dapat mampu
berkomunkiasi tentang
apa yang dipelajari, baik
melalui presentasi
maupun unjuk kerja ?
Hubungan dengan ahli  Apakah siswa menemui  Siswa harus mampu
dan mengamati (belajar belajardari teman/orang
dari)teman /orang sebaya sebaya (dewasa) yang
(dewasa) yang memiliki memiliki pengalaman
pengalaman dan dan kecakapan yang
kecakapan yang relevan relevan.
?  Siswa harus dapat
 Apakah siswa dapat bekerja/berdiskusi secara
kesempatan untuk teliti dengan paling tidak
bekeja/ berdiskusi secara seorang teman.
teliti dengan palingg  Siswa harus dapat
tidak seorang teman ? bekerja sama dalam
 Apakah orang dewasa merancang dan menilai
(diluar siswa) dapat hasil kerja siswa .
bekerja sama dlam
merancang dan menilai
hasil kerja siswa ?
Penilaian  Apakah siswa dapat  Siswa harus mampu
mereflesikan secara menilai unjuk kerjanya.
berkala proses belajar  Siswa harus mampu
yang dilakukannya bekerja sama dengan
dengan menggunaan orang luar (ahli/praktisi
kriteria proyek yang jelas yang sebidang dengan
, yang kiranya dapat kegiatan proyek).
membantu dalam  Ada sistem penilain
menentukan kinerjanya. reguler untuk menilai
 Apakah orang luar kerja siswa , terkait
membantu siswa dengan metode yang
mengembangkan digunakan, termasuk
pengertian tentang melalui pameran dan
standar kerja dunia nyata portofolio.
dalam suatu jenis
pekerjaan ?
 Apakah ada kesempatan
secara reguler untuk
menilai kerja siswa
terkait dengan metode
yang digunakan
termasuk melalui
pameran dan portofolio.

Han dan Kkli Bhattatcharya mengidentifikasi ada lima keuntungan dari


implementasi PJBL, yaitu :
a. Meningkatkan motivasi belajar siswa
b. Meningkatkan kecakapan siswa dalam pemecahan masalah
c. Memperbaiki keterampilan menggunakan media pembelajaran
d. Meningkatkan semangat dan keterampilan dan berkolaborasi
e. Meningkkan keterampilan dalam manajemen dalam sumber daya
Langkah-langkah kegiatan yang umum diterapkan dalam pembelajaran berbasis
proyek adalah sebagai berikut.(diadaptasi dari brow dan compione,1994)
a. Timbulnya masalah dari para siswa.
b. Memunculkan adanya proyek sebagai alternatif pemecahan masalah.
c. Pembentukan tim pembelajaran kolaboratif/kooperarif untuk menyelesaikan
masalah/proyek.
d. Setelah kajain lebih lanjut dalam tim mereka, para siswa yang cepat belajar
(expert) membantu rekannya yang lambat belajar sehinnga tidak menggangu
kelangsungan proyek.
e. Hal ini mencapai titik kulminasinya berupa pengerjaan serangkaian tugas
berkelanjutan bagi semua anggota tim yang memungkinnkan terciptanya hasil
pemikiran siswa yang nyata , dapat dilihat dan dipublisasikan berupa suatu artefak
atau karya pemikiran yang bermakna.

C. TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)


TGT adalah salah satu model pembelajaran yang kooperatif yang menempatkan
siswa dalam kelompok-kelompok bebas belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang
siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku kata atau ras yang berbeda.
Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), atau
pertandingan pemainan tim dikembangkan secara asli oleh David The Vries dan Kheath
Edward(1995). Padaodel ini siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim
lain untuk memperoleh tambahn poin untuk skor tim mereka
TGT dapat digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran, dari ilmu-ilmu
eksak, ilmu-ilmu sosial maupun bahasa dari jenjang pendidikan dasar(SD,SMP) hingga
perguruan tinggi. TGT sangat cocok untuk mengajar tujuan pembelajaran yang
dirumuskan dengan tajam dengan satu jawaban benar. Meski demikian, TGBT juga dapat
diadaptasi untuk digunakan dengan tujuan yang dirumuskan dengna kurang tajam dengan
menggunakan penilaian yang bersifat terbuka, misalnya essai, atau kinerja( Nur &
Wikandari,2000:27)

Langkah-Langkah Pembelajaran TGT


Secara runut imlementasinya TGT terdiri dari 4 komponen utama, antara lain:
1. Presentasi guru (sama dengan STAD) ,
2. Kelompok belajar (sama dengan STAD )
3. Turnamen
4. Pengenalan kelompok
 guru menyiapkan :
 Kartu soal
 Lembar kerja siswa
 Alat/ bahan
 siswa dibagi atas beberapa kelompok ( tiap kelompok anggotanya 5 orang)
 guru mengarahkan aturan permainannya
Adapun langkah-langkah sebagai berikut, seperti pada model STAD, pada TGT
siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4 orang yang merupakan campuran
menurut tingkat prestasi, jenis kelamin dan suku. Guru menyiapkan pelajaran, dan
kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggot
tim telah menguasai pembelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis, pada
waktu kuis ini mereka tidak dapat saling membantu.

 Aturan (skenario) Permainan


Dalam satu perminan terdiri dari : kelompok pembaca, kelompok penantang I,
kelompk penantang II, dan seterusnya sejumah kelompok yang ada
Kelompok pembaca bertugas :
1. Ambil kartu bernomor dan cari pertanyaan pada lembar permainan
2. Baca pertanyaan keras-keras
3. Beri jawaban
Kelompok penantang ke I bertugas : menyutujui pembaca atau memberi jawabn
yang berbeda. Sedangkan kelompok penantang ke II: (1) menyutujui pembaca atau
memberi jawaban yang berbeda, dan (2) cek lembar jawaban. Kegiatan ini dilakukan
secara bergiliran (Games Ruler).

A. Sistem Perhitungan Point Turnament


Skor siswa dibandingkan dengan rerata skor yang lalu mereka sendiri, dan poin
diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa menyamai atau melampaui prestatsi yang
dilaluinya sendiri. Point tiap anggota tim ini dijumlah untuk mendapat skor tim, dan tim
yang mencapai kriteria tertenu dapat diberi sertifikat atau ganjaran( award) yang lain.

Terdapat 5 komponen utama dalah TGT, yaitu:


1. Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya
dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan cerama, diskusi yang dipimpin oleh
guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan
memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih
baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan
skor kelompok.
2. Kelompok (team)
Elompok terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari
prestasi akademik, jenis kelamin dan rasa tau etnik. Fungsi kelompok disini adalah untuk
lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk
mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game
3. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan
yang dapat sisswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri
dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang di dapat
siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok
4. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru
melakukan persentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen
pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen.
5. Team Recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan
mendapat sertifikat atau hadiah apabila skor memenuhi syarat yang ditetukan
.
 Kelemahan dan kelebihan TGT
Metode pebelajaran Teams Games Tournament (TGT) ini mempunyai kekurangan dan
kelebihan. Menurut Suarjana (2000:10) dalam istiqomah (2006) yang merupakan
kelebihan dari pembelajaran TGT antara lain:
a. Lebih meningkatkan pencurahan waktu untk tugas
b. Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu
c. Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi yang mendalam
d. Motivasi belajar lebih tinggi
e. Hasil belajar lebih baik
f. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
Sedangkan kelemahan dari TGT ini adalah
1. Bagi guru
 Sulitnya pengelompokkan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi
akademis
 Waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga melewati
waktu yang sudah ditentukan
2. Bagi siswa
 Masih adanya siswa yang berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit
memberikan penjelasan kepada siswa lainnya