You are on page 1of 17

PENDEDERAN KAKAP PUTIH (Lates calcalifer, Bloch) DENGAN

KEPADATAN TINGGI DI BAK TERKONTROL

LAPORAN KEREKAYASAAN

Oleh :
Mizab Asdary, S. St. Pi

KEMENTRIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN


DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO
2017

0
LEMBAR PENGESAHAN

KEREKAYASAAN DENGAN JUDUL

PENDEDERAN KAKAP PUTIH (Lates calcalifer, Bloch) DENGAN KEPADATAN


TINGGI DI BAK TERKONTROL

Oleh :

Mizab Asdary, Iskandar, Pujiati, Slamet

TELAH DISEMINARKAN

Situbondo, 5 Desember 2017


Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau Kepala Program Peningkatan Produksi Ikan
Situbondo

Ir. Ujang Komarudin Asdani K, M. Si Dr.Ir. Murdjani, M. Si


NIP. 19660724 199503 1 001 NIP. 19541026198203 1 00 1

1
PENDEDERAN KAKAP PUTIH (Lates calcalifer, Bloch) DENGAN KEPADATAN
TINGGI DI BAK TERKONTROL1

Mizab Asdary2, Iskandar3, Pujiati4, Slamet5

ABSTRAK

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengembangkan teknologi


terbaru yaitu program keramba jaring apung (KJA) yang dilaksanakan
secara “offshore” atau lepas pantai di tengah laut. Ikan kakap sebagai komoditas ekspor
dapat diekspor ke Singapura dan Hongkong. Singapura setiap tahun membutuhkan ikan
kakap hidup dan segar sebanyak 60 ribu ton per tahun, dan hongkong membutuhkan
sekitar 150 ribu ton per tahun. Kebutuhan ikan kakap setiap tahunnya cenderung
meningkat. Untuk itu BPBAP Situbondo merespon kebutuhan benih kakap dengan
penyiapan tekhnologi produksi benih kakap kelas deder. Tujuan dari kegiatan
perekayasaan ini adalah penerapan sistem pendederan untuk produksi benih kakap kelas
deder di BPBAP Situbondo. Perlakuan kepadatan yang diaplikasikan pada kegiatan ini
adalah pemeliharaan kakap dengan kepadatan tinggi, perlakuan ini dirancang untuk
mengetahui respon pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih kakap dengan
kepadatan yang berbeda. Rancangan perlakuan yang diaplikasikan pada kegiatan
perekayasaan ini sebagai berikut: padat tebar A: 2.625 ekor/7 m3 (375 ekor/m3), padat
tebar B: 3.500 ekor/7 m3 (500 ekor/m3), padat tebar C: 4.375 ekor/7 m3 (625 ekor/m3).
Hasil yang didapatkan Perlakuan (A) SR 89,83%, Perlakuan (B) 76,80%, Perlakuan (C)
70,38%. Berat mutlak secara keseluruhan perlakuan 26,4 gr. Panjang mutlak secara
keseluruhan 10,5 cm. Perlakuan (A) Total bakteri (3,2+0,6) x 104) CFU/ml & total vibrio
(2,4+0,7) x 103 CFU/ml. Perlakuan (B) Total bakteri ((2,8+0,7) x 104) CFU/ml & total vibrio
(1,8+0,2) x 103. Perlakuan (C) Total bakteri (2,8+0,2) x 104CFU/ml & total vibrio (3,6+0,2)
x 103. Hasil perhitungan secara statistik F hitung kelompok = 2,602704177, F hitung
perlakuan = 11,6719513, F tabel 10% = 5,39. F hitung kelompok di bawah F tabel berarti
tidak berpengaruh nyata/signifikan. Hal ini berarti pengelompokan dengan interval
kepadatan yang berbeda (375, 500, dan 625 ekor/m3) akan menghasilkan produksi yang
relatif sama (kepadatan tersebut tidak mempengaruhi pertumbuhan setiap individu ikan).
F hitung perlakuan di atas F tabel berarti berpengaruh nyata/signifikan. Secara statistik
bahwa perlakuan tebar 1 dan 2 dan 3 memberikan pengaruh-pengaruh yang berbeda
atau pengaruhnya nyata (kepadatan tersebut mempengaruhi SR secara signifikan).
Pembesaran kakap dengan di bak terkontrol dengan kepadatan tinggi (625 ekor/m3)
memberikan hasil yang sama secara deskriptif dari segi pengukuran paramater kualitas
air hasil pengukuran panjang & berat ikan dibandingkan dengan perlakuan pemeliharaan
ikan dengan kepadatan lebih rendah (375 ekor/m3 dan 500 ekor/m3)

Kata Kunci : Kakap, kepadatan tinggi, interval kepadatan

1
Makalah ini telah diseminarkan pada Seminar Hasil Perekayasaan BPBAP Situbodo, 5-6
Desember 2017
2
Perekayasa Muda BPBAP Situbodo
3
Litkayasa BPBAP Situbodo
4
Litkayasa BPBAP Situbodo
5
Litkayasa BPBAP Situbodo

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kakap putih (Lates calcalifer, Bloch) biasa dikenal dengan nama Giant sea perch,
seabass atau barramundi, ikan ini hidup di perairan pantai, muara dan air tawar dan
termasuk ikan ekonomis penting di Kawasan Indo-Pasifik. Daya dukung komersial yang
tinggi dan menjadi rekreasi perikanan di Australia dan Papua Nugini, dan budidaya di
Thailand, Malaysia, Indonesia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan di Australia, dapat di
budidayakan di air payau dan air tawar, serta di keramba jaring apung di pantai
(Kungvankij dkk, 1984;. Abu-abu, 1987, dalam schipp et al, 2007). Ikan ini memiliki daging
yang halus, populer di wilayah Indo-Pasifik, dan memiliki pasar dan harga yang tinggi.
ikan kakap putih memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat, tumbuh dengan ukuran besar,
dan dapat dibesarkan di penangkaran, sehingga membuat ikan kakap putih sangat cocok
untuk akuakultur (Schipp et al, 2007).
Produksi perikanan dunia dari kakap putih pada tahun 1983 dilaporkan oleh FAO
(1985) menjadi 14.895 ton, dari 11.456 ton (77%) disumbangkan oleh Asia Tenggara,
dengan Indonesia memproduksi 11.010 ton (dari kedua perairan pedalaman dan laut) dan
Malaysia 446 ton. Di tahun yang sama, produksi kakap putih dibudidayakan di Asia
Tenggara adalah 2.416 ton, negara produsen menjadi Indonesia (1105 atau 46%),
Thailand (1084 atau 45%), dan Malaysia (227 atau 9%) (SEAFDEC, 1985). Produksi
Singapura dari budidaya kakap putih adalah 100 ton pada tahun 1983, menjadi naik
berasal dari hasil tangkapan dan budidaya ikan bandengair payau. kasus serupa juga di
alami oleh Filipina, tetapi statistik produksi tidak tersedia. Hasil budidaya biasanya
dipasarkan sekitar 500-800 g, sementara yang liar tertangkap biasanya berat 7 kg atau
lebih. (Cheong, 1989).
Ikan kakap sebagai komoditas ekspor dapat diekspor ke Singapura dan
Hongkong. Singapura setiap tahun membutuhkan ikan kakap hidup dan segar sebanyak
60 ribu ton per tahun, dan hongkong membutuhkan sekitar 150 ribu ton per tahun.
kebutuhan ikan kakap setiap tahunnya cenderung meningkat (Murtidjo, 1998).
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengembangkan teknologi
terbaru yaitu program keramba jaring apung (KJA) yang dilaksanakan
secara “offshore” atau lepas pantai di tengah laut. Dirjen Perikanan Budi daya KKP
Slamet Soebjakto, teknologi KJA “offshore” tersebut diadopsi dari Norwegia yang selama
ini telah memproduksi salmon dengan metode itu. “Kami akan membudidaya dengan KJA
offshore seperti komoditas kakap putih”, ungkap Slamet dalam gelaran konferensi pers di

3
kantornya. Slamet juga mengemukakan, jenis kakap layak menjadi komoditas andalan
karena merupakan jenis ikan laut yang tidak harus dijual hidup, tetapi bisa dalam
beragam bentuk seperti fillet segar. Selain itu, pasar untuk kakap dinilai juga terbuka lebar
tidak hanya ke China dan Hong Kong, tetapi juga ke wilayah lainnya seperti Eropa, Timur
Tengah, dan Australia.

Terkait dengan KJA lepas pantai, Slamet menjabarkan bahwa untuk satu unit ada
enam lubang berdiameter 50 meter. Teknologi KJA lepas pantai tersebut rencananya
bakal ditempatkan di tiga tempat yaitu di perairan Sabang, Karimun Jawa, serta kawasan
pantai selatan antara Cilacap dan Pangandaran. Sedangkan kapasitas produksi satu unit
tersebut diperkirakan mampu memproduksi hingga 568 ton per siklus untuk kakap putih.
Rencana besar Direkotrat Jenderal Perikanan Budidaya ini tentu perlu dukungan
dari seluruh lini DJPB. Pengembangan KJA offshore tersebut tentu akan menuntut
penyediaan benih dalam jumlah yang massif. Salah satu tugas yang menjadi prioritas
BPBAP Situbondo adalah penyediaan benih untuk KJA tersebut. Untuk itu diperlukan
teknologi pendederan yang efisien baik secara tempat dan ekonomis secara finansial.

1.2. Tujuan
Tujuan dari kegiatan perekayasaan ini adalah penerapan sistem pendederan untuk
produksi benih kakap kelas deder di BPBAP Situbondo.

4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Kakap Putih (Lates calcalifer, Bloch)


Ikan kakap putih adalah ikan yang mempunyai toleransi yang cukup besar
terhadap kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air
tawar dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang menyebabkan ikan kakap putih dapat
dibudidayakan di laut, tambak maupun air tawar (Ditjen Perikanan, 2001).
Menurut Ditjen Perikanan (2001). Pada beberapa daerah di Indonesia ikan kakap
putih dikenal dengan beberapa nama seperti: pelak, petakan, cabek, cabik (Jawa Tengah
dan Jawa Timur), dubit tekong (Madura), talungtar, pica-pica, kaca-kaca (Sulawesi).
Menurut Mathew (2009) klasifikasi ikan kakap putih adalah sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Sub-phylum : Vertebrata
Class : Pisces
Sub-class : Teleostomi
Order : Percomorphi
Family : Centropomidae
Genus : Lates
Species : Lates calcarifer, Bloch

Gambar 1. Ikan Kakap Putih (Lates calcalifer, Bloch)

Ciri-ciri morfologis dari ikan kakap putih :


a. Badan memanjang, gepeng dan batang sirip ekor lebar.
b. b. Pada waktu masih burayak (umur 1- 3 bulan) warnanya gelap dan setelah
menjadi gelondongan (umur 3-5 bulan) warnanya terang dengan bagian
punggung berwarna coklat kebiru-biruan yang selanjutnya berubah menjadi
keabu-abuan dengan sirip berwarna abu-abu gelap.
c. Mulut lebar, sedikit serong dengan gigi halus.

5
d. Bagian atas penutup insang terdapat lubang kuping bergerigi.
e. Sirip punggung berjari-jari keras sebanyak 3 buah dan jari-jari lemah
f. sebanyak 7– 8 buah.

Morfologi ikan kakap adalah sebagai berikut : Badan memanjang, pipih, tubuh
besar, memanjang dan gemuk, dengan profil punggung cekung di kepala dan moncong
yang menonjol;. Mulut besar, sedikit miring, rahang atas sampai ke di belakang mata; gigi
villiform, tidak ada gigi taring hadir. Tepi bawah pra-operkulum adalah dengan tulang yang
kuat; operkulum dengan tulang kecil dan dengan flap bergerigi di atas asli garis lateral.
Sirip punggung dengan 7-9 duri dan 10 sampai 11 jari lunak; sirip dada pendek dan bulat;
sirip bulat dubur, dengan tiga duri dan 7-8 jari lemah; sirip ekor bulat. Warna: dua fase,
baik coklat di atas dengan sisi perak dan perut di laut lingkungan atau coklat keemasan di
lingkungan air tawar. Pada ikan ukuran besar, biasanya biru-hijau atau keabu-abuan di
atas dan perak di bawah. Sirip yang kehitaman atau coklat kehitaman. Ikan ukuran
kecilmemiliki Pola berbintik-bintik coklat dengan tiga garis-garis putih di kepala dan
tengkuk, dan putih bercak tidak teratur ditempatkan di bagian belakang. Mata berwarna
pink cerah, bercahaya di malam hari (Mathew,2009).
2.2. Habitat dan Penyebaran
Daerah sebaran kakap putih di daerah tropis dan subtropis, daerah pasifik Barat
dan Samudera Hindia, yang meliputi : Australia, Papua New Guinea, Indonesia, Philipina,
Jepang, China, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura, Bangladesh, India,
Srilangka, Pakistan, Iran, Oman dan negara-negara disekitar laut Arab. Penyebaran
kakap putih di Indonesia terutama terdapat di pantai utara Jawa, di sepanjang perairan
pantai Sumatera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Arafuru (Sulistiono.
2013)
Distribusi ikan kakap putih terdapat di seluruh wilayah pesisir Indonesia, wilayah
Pasifik Barat (dari tepi timur Teluk Persia ke China ,Taiwan selatan, Jepang selatan, ke
Papua Nugini , dan Australia bagian utara. Di barat Australia , barramundi ditemukan di
sungai dan di sepanjang pantai dari Teluk Exmouth ke Wilayah perbatasan Utara. namun,
kakap putih yang paling produktif di Kimberley di mana area besar sungai tropis negara
berada (Department of Fisheries, 2011).
Ikan kakap putih merupakan jenis ikan euryhaline dan katadromous. Ikan matang
gonad ditemukan di muara-muara sungai, danau atau laguna dengan salinitas air antara
10-15 ppt. Larva yang baru menetas (umur 15-20 hari atau ukuran panjang 0,4 – 0,7 cm)
terdapat sepanjang pantai atau muara sungai, sedangkan larva yang berukuran 1 cm
dapat ditemukan di perairan tawar seperti sawah dan danau (Mulyono, 2011).

6
2.3. Budidaya Ikan Kakap
Berdasarkan kebiasaan ruang hidup (niche), kakap putih bersifat katadromous,
artinya dia memijah di air laut dan dewasa di air tawar. Hal ini terjadi karena selama ikan
berda di air tawar gonad belum bisa berkembang maksimum. Untuk mencapai
perkembangan maksimum, kakap putih mengadakan ruaya ke arah laut (daerah estuaria)
dan memijah (Soetomo, 1997).
Pada beberapa kegiatan budidaya untuk tebar di kolam, jumlah penebarannya
sekitar 300-500 ekor/m3 (Dwi, Rudian, 2012). Pemeliharaan ikan kakap akan berlangsung
selama kira-kira 2-3 bulan sehingga nantinya benih telah berukuran cukup besar saat
dipanen, yaitu sekitar 5-8 cm. Dengan ukuran ini Ikan kakap akan siap untuk ditebar dan
dibudidayakan di dalam tambak atau karamba jaring apung
Sebenarnya bila didederkan lagi akan lebih baik, Namun kepadatan penempatan
ikan kakap perlu sedikit dikurangi, yaitu 300-400 ekor. Jika pemeliharaan telah mencapai
sekitar 2-3 bulan, dan benih telah berumur mencapai 10 bulan atau lebih, ikan Kakap
akan sangat lebih siap untuk dimasukkan ke tambak.

7
III. METODE DAN BAHAN

3.1. Bahan dan Alat

- Benih kakap ukuran 1,5-2 cm


- Pakan buatan
- Vitamin
- Bak beton volume 10 ton
- Peralatan lapangan
- Peralatan analisa kualitas air
- Aerasi dan perlengkapannya
- Alat pengukur kualitas air
- Timbangan
- Pompa celup ¾ dim.dan selang spiral ¾ dim.
3.2. Metode

 Seleksi ukuran benih:

Seleksi ukuran benih dilakukan sebelum penebaran, diambil ukuran yang relatif
sama untuk meminimalisir kanibalisme.

 Padat tebar awal.


. Rancangan perlakuan yang diaplikasikan pada kegiatan perekayasaan ini
sebagai berikut:

o Padat tebar A: 2.625 ekor/7 m3 (375 ekor/m3)


o Padat tebar B: 3.500 ekor/7 m3 (500 ekor/m3)
o Padat tebar C: 4.375 ekor/7 m3 (625 ekor/m3)
 Pemberian Pakan :
- Pemberian secara ad libitum (sekenyangnya) dengan frekuensi pemberian 3 kali.
Pemberian pakan pada pagi, siang dan sore hari.
 Pemberian Multivitamin yang dicampur pada pakan mempunyai kegunaan dapat
menambah daya tahan tubuh ikan sehingga dapat tumbuh secara normal.
Pemberian multivitamin sebanyak 2 gram/kg berat pakan yang diberikan setiap
hari.
 Untuk pakan ikan rucah sebelum diberikan ikan dipotong kecil-kecil sesuai dengan
bukaan mulut
 PPemantauan pertumbuhan dilakukan dengan penimbangan biomasa dari ikan
dan pengukuran panjang yang dilakukan setiap 7 hari sekali. Selama masa
pemeliharaan pengamatan kualitas air dilakukan untuk mengantisipasi agar tidak

8
terjadi perubahan kualitas secara mendadak. Monitoring kualitas air dilakukan
seminggu sekali. Sedangkan pergantian air setiap harinya dilakukan secara flow
through lebih 100 %. Dan setiap hari juga dilakukan penyiponan kotoran dan sisa
pakan yang tidak termakan.
3.3. Parameter yang diamati

 Pengamatan pertumbuhan
 Kelangsungan hidup
 Produktifitas
 Kualitas air lingkungan

9
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengamatan Pertumbuhan


Hasil dari pengamatan pertumbuhan pada ikan kakap yang diipelihara dengan
kepadatan yang berbeda
o Perlakuan (A) Padat tebar 1: 2.625 ekor/7 m3 (375 ekor/m3)
o Perlakuan (B) Padat tebar 2: 3.500 ekor/7 m3 (500 ekor/m3)
o Perlakuan (C) Padat tebar 2: 4.375 ekor/7 m3 (625 ekor/m3)
Tabel 1. Data Grading pada
Kegiatan Perekayasaan Pemeliharaan Kakap dengan Kepadatan Tinggi
Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C
Ukuran (cm) Ukuran (cm) Ukuran (cm)
5-6,9 7-7,9 8,0-9,0 5-6,9 7-8,9 8,0-9,0 5-6,9 7-7,9 8,0-9,0
531 828 1.212 1.078 928 1.325 1.325 928 911
20,25% 31,54% 46,17% 30,80% 26,51% 37,86% 33,50% 23,46% 23,03%
 2.571  3.331  3.955
SR 97,96% SR 95,17% SR 90,40%

Grading tanggal 7 September 2017


Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C
Ukuran (cm) Ukuran (cm) Ukuran (cm)
8,0-9,0 9,1 -10,5 10,6-11,5 8,0-9,0 9,1 -10,5 10,6-11,5 8,0-9,0 9,1 -10,5 10,6-11,5
524 788 1.134 1.335 915 640 2.007 1.487 838
21,42% 32,21% 46,36% 46,16% 31,64% 22,13% 46,33% 34,33% 19,34%
 2.446  2.892  4.332
SR 93,19% SR 82,63% SR 86,64%

Panen tanggal 14 September 2017

Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C


Ukuran (cm) Ukuran (cm) Ukuran (cm)
9,1 -10,5 10,6-11,5 11,6-13 9,1 -10,5 10,6-11,5 11,6-13 9,1 -10,5 10,6-11,5 11,6-13
710 690 958 957 892 839 610 1.369 1.100
30,11% 29,26% 40,63% 35,60% 33,18% 31,21% 19,34% 46,68% 33,97%
 2.358  2.688  3.079
SR 89,83% SR 76,80% SR 70,38%

Tabel 2. Berat rerata semua perlakuan pada


Kegiatan Perekayasaan Pemeliharaan Kakap dengan Kepadatan Tinggi
PANJANG 2,5 5-6,9 7-8,9 8,0-9,0 9,1 -10,5 10,6-11,5 10,6-11,5 11,6-13
(cm)
BERAT 0,4 + 0,05 6,5 + 03 8,6 + 0,2 9,4 + 0,7 12,6 + 0,3 15 + 0,5 19,8 + 0,6 26,2 + 0,6
(gr)

10
120.00%

100.00%
SR A
80.00%
SR B

60.00% SR C
Expon. (SR A)
40.00%
Expon. (SR B)

20.00% Expon. (SR C)

0.00%
1 2 3

Gambar 1. Grafik Surviival rate pada


Kegiatan Perekayasaan Pemeliharaan Kakap dengan Kepadatan Tinggi

Rancangan perlakuan yang diaplikasikan pada kegiatan perekayasaan ini adalah


sebagai berikut :

Tabel 3. Penghitungan Statistik pada Pertumbuhan & SR


Kegiatan Perekayasaan Pemeliharaan Kakap dengan Kepadatan Tinggi
Perlakuan SR
A B C jumlah Rerata A B C
Kelompok

k1 2.571 3.331 3.955 9.857 97,96 97,96 95,17 90,4


k2 2.446 2.892 4.332 9.670 93,19 93,19 82,63 86,64
k3 2.358 2.688 3.079 8.125 2708,333 89,83 76,8 70,38

jumlah 7.375 8.911 11.366 27.652


Rerata 2458,333 2970,333 3788,667

Perhitungan

FK (faktor koreksi) = 84.959.233,78


JK total = 3.766.946,22
JK kelomp = 602.424,22
JK perlakuan = 2.701.600,22
JK galat = 462.921,78
KT kelompok = 301.212,11
KT perlakuan = 1.350.800,11
KT galat = 11.5730,4444

11
F hitung kelompok = 2,602704177
F hitung perlakuan = 11,6719513
F tabel 10% = 5,39
Kesimpulan :

- F hitung kelompok di bawah F tabel berarti tidak berpengaruh nyata/signifikan. Hal ini
berarti pengelompokan dengan interval kepadatan yang berbeda (375, 500, dan 625
ekor/m3) akan menghasilkan produksi yang relatif sama (kepadatan tersebut tidak
mempengaruhi pertumbuhan setiap individu ikan).
- F hitung perlakuan di atas F tabel berarti berpengaruh nyata/signifikan. Secara statistik
bahwa perlakuan tebar 1 dan 2 dan 3 memberikan pengaruh-pengaruh yang berbeda atau
pengaruhnya nyata atau signifikan atau ada pengaruhnya

Tabel 4. Total Bakteri & Vibrio Perlakuan pada


Kegiatan Perekayasaan Pemeliharaan Kakap dengan Kepadatan Tinggi
Parameter Perlakuan
A B C
Total Bakteri (3,2+0,6) x 104 (2,8+0,7) x 104 (2,8+0,2) x 104
(CFU/ml)
Total Vibrio (2,4+0,7) x 103 (1,8+0,2) x 103 (3,6+0,2) x 103
(CFU/ml)

Dari tabel di atas terlihat bahwa total bakteri serta total vibrio masih dalam kadar
toleransi bologis kehidupan ikan kakap. Kondisi tersebut akan menyebabkan
pertumbuhan ikan berjalan normal. Hal tersebut terbukti waktu yang diperlukan untuk
mencapai ukuran benih persiapan pembesaran ikan kakap tersebut sesuai dengan
umumnya dan pertumbuhannya normal.

4.2 Pengamatan Parameter Fisika & Kimia Kualitas Air

Tabel 5. Data kualitas air Perlakuan pada


Kegiatan Perekayasaan Pemeliharaan Kakap dengan Kepadatan Tinggi

Parameter Perlakuan Spesifikasi Method


A B C
Suhu ( °C) 29+1,2 29+1 28+1,2 Thermometer
Oksigen 6,1+0,21 6,2+0,60 5,8+0,2 DO - meter
terlarut (mg/L)
pH 7,98+ 0,45 7,42+0,23 7,92+ 0,43 IKM/5.4.15/BPBAPS
0
Salinitas ( /00) 33,5 + 0,5 30,5+0,7 33,5 + 0,5 Refraktometrik
Nitrit (mg/L) 1,25 + 0,05 2,61+0,05 2,48 + 0,05 IKM/5.4.13/BPBAPS

12
Amoniak <0,01 0,002 0,002 IKM/5.4.14/BPBAPS
(mg/L)
TAN 0,068 0,062 0,077 IKM/5.4.14/BPBAPS
Intensitas 654+15 654+15 654+15 Luxmeter
cahaya (Lx)

Semua parameter kualitas air suhu, DO, pH, salinitas, nitrit, amoniak, TAN, dan
intensitas cahaya dan berada dalam batas normalyang masih mendukung kehidupan
ikan kakap.

4.3 Hama dan Penyakit


Kakap termasuk ikan yang tahan terhadap penyakit. Dalam kegiatan ini ikan kakap
secara rutin direndam dengan air tawar setiap minggu. Secara performance terlihat
penampilan fisik yang prima & pergerakan yang cepat. Nafsu makan yang stabil tinggi
menunjukan kondisi kesehatan yang baik.

13
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Pembesaran kakap dengan di bak terkontrol dengan kepadatan tinggi (625


ekor/m3) memberikan hasil yang sama secara deskriptif dari segi pengukuran paramater
kualitas air hasil pengukuran panjang & berat ikan dibandingkan dengan perlakuan
pemeliharaan ikan dengan kepadatan lebih rendah (375 ekor/m3 dan 500 ekor/m3)
5.2. Saran
Berdasarkan perekayasaan diatas maka untuk pendederan kakap dengan
kepadatan tinggi bisa disarankan agar bisa melakukan efisiensi media pemeliharaanya
dan menghasilkan benih ikan kakap untuk pembesaran dalam jumlah yang lebih banyak.

14
DAFTAR PUSTAKA

Cheong, L. 1989. Status of knowledge on farming of Seabass (Lates calcarifer) in South East
Asia. Advances In Tropical Aquaculture. Singapore

Department of Fisheries. 2011. Fisheries Fact Sheet "Barramundi". Govertment of Western


Autralia. Australia.

Direktorat Jenderal Perikanan. 2001. Budidaya Ikan Kakap Putih (Lates calcalifer, Bloch) Di
Keramba Jaring Apung. Departemen Petanian. Jakarta

Dwi, Rudian. 2012. Pembesaran Kakap Putih. ruditok.blogspot.co.id (Diakses tanggal 18


november 2015 pukul 20.34 Wib)

Mathew, Grace. 2009. Taxonomy, identification and biology of Seabass (Lates calcarifer). Central
Marine Fisheries Research Institute. Kerala, India

Mulyono, Mugi. 2011. Budidaya Ikan Kakap Putih (Lates Calcalifer, bloch). Pusat Penyuluhan
Kelautan Dan Perikanan. Jakarta.

Murtidjo, Bambang Agus. 1998. Budidaya Kakap Putih Dalam Tambak Dan Keramba. Kanisius.
Yogyakarta.

Schipp, Glenn, Jerome Bosmans, and John Humphrey. 2007. Northen Territory Barramundi
Farming Handbook. Department Of Primary Industri, Fisheries And Mines. Australia

Sulistiono, M. Rizki. 2013. Distribusi dan Penyebaran Ikan Kakap Putih.


Studyaquaculture.wordpress.com (diakses tanggal 17 November 2015 pukul 20.24
Wib)

Soetomo H.A., Moch. 1997. Teknik Budidaya Ikan Kakap Putih di Air Laut, Air Payau, dan Air
Tawar. Trigenda Karya. Bandung

15
LAMPIRAN

Penebaran 1 Agustus 2017 dari Instalasi Gelung sebanyak 10.500 ekor

Transportasi Aklimatisasi Penebaran

Grading Pengukuran Panjang Pengukuran Berat

Panen

Pengukuran DO Pengukuran lux

16