You are on page 1of 9

1

HIGIENE SANITASI DAN ANALISIS ZAT PEMANIS BUATAN PADA DODOL


YANG DI PRODUKSI DI KECAMATAN PANYABUNGAN KABUPATEN
MANDAILING NATAL TAHUN 2012

Juita Asnipa1, Wirsal Hasan2, Taufik Ashar2


1
Program Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara,
Departemen Kesehatan Lingkungan
2
Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Sumatera Utara, Medan, 20155, Indonesia
juitaasnipa@ymail.com

Abstract

Hygiene sanitation and analysis of artificial sweeteners on the produce of dodol on


Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal in 2012. Dodol is a kind of
snack which is popular and spread among the Indonesian community. The process
which is home industry made the control of sweetener usage is unclear, based on the
producer desire. More over the process is still traditionally, as of the workers do not
care enough to the hygiene sanitation of the dodol making process. The purpose of
this research was to obtain the description of hygiene sanitation process and the
analysis of artificial sweeteners content on the produce of dodol snack in Kecamatan
Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal in 2012. The type of this research was
descriptive survey by observing sanitation hygiene and laboratory analysis to obtain
artificial sweetener contents on dodol. The result of the research showsed that
hygiene sanitation principal on dodol making process which comply with Ministry of
Health Decree of Indonesia Number 942 / Menkes / SK / VII/2003 was storage of
raw. From the 7 samples of dodol which inspected, there were 3 samples which
contain of artificial sweeteners with saccharin grading are 00274 mg/kg, 0.0073
mg/kg, and 0.0054 mg/kg which comply with health permit, according to Permenkes
RI No.722/Menkes/Per / IX/1988. The Health Department needs to conduct a
thorough counseling and supervision by the related institution (Department of
Health) on the importance of food hygiene sanitation, also counseling to the
producer in the usage of food sweeteners.

Key words: Dodol , Hygiene Sanitation, Artificial Sweeteners.

Pendahuluan tidak diolah, yang diperuntukan


sebagai makanan atau minuman bagi
Pangan merupakan kebutuhan dasar konsumsi manusia, termasuk bahan
manusia yang pemenuhannya menjadi tambahan pangan, bahan baku pangan,
hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam dan bahan lain yang digunakan dalam
mewujudkan sumber daya manusia yang proses penyiapan, pengolahan, dan
berkualitas untuk melaksanakan atau pembuatan makanan atau
pembangunan nasional. Pangan adalah minuman (UU No.7, 1996).
segala sesuatu yang berasal dari sumber
hayati dan air baik yang diolah maupun
2

Keamanan pangan merupakan Panyabungan Kabupaten Mandailing


persyaratan utama yang harus dimiliki Natal dan sebagai masukan bagi Dinas
oleh setiap produksi yang beredar di Kesehatan Kota Panyabungan
pasaran. Setiap produsen bahan pangan khususnya bagian Kesehatan
yang memproduksi dan mempromosikan Lingkungan dalam hal program
produk makanan dan minuman harus pengawasan dan pembinaan kepada
didasarkan pada standar dan persyaratan pedagang makanan jajanan
kesehatan. Untuk menjamin keamanan
pangan olahan, maka dibutuhkan
pengawasan, pengaturan dan pembinaan Metode Penelitian
dari pemerintah (Depkes RI, 2004).
Jenis penelitian ini adalah survei yang
Salah satu masalah keamanan pangan bersifat deskriptif yaitu dengan
yang masih memerlukan pemecahan yaitu melihat higiene sanitasi dan analisis
penggunaan bahan tambahan, untuk laboratorium untuk mengetahui
berbagai keperluan. Penggunaan bahan pemanis buatan yang terdapat pada
tambahan makanan dilakukan oleh dodol yang di produksi di Kecamatan
industri pembuatan maupun pada proses Panyabungan Kabupaten Mandailing
pengolahan pangan, misalnya adalah Natal Tahun 2012.
berbagai jajanan yang umumnya
dihasilkan oleh industri kecil atau rumah Lokasi penelitian bertempat pada
tangga. beberapa industri rumah tangga di
Kecamatan Panyabungan. Penelitian
Kecamatan Panyabungan merupakan ini dilakukan pada bulan Oktober
salah satu daerah yang memproduksi 2012.
makanan dodol oleh industri rumah
tangga. Berdasarkan observasi langsung Hasil dan Pembahasan
terdapat 7 industri rumah tangga dengan
jumlah seluruh penjamah yaitu 21 Berdasarkan hasil observasi dengan
penjamah makanan dodol. Penelitian ini menggunakan kuesioner kepada
bertujuan untuk mengetahui higiene penjamah makanan dodol maka
sanitasi dan analisis zat pemanis buatan karakteristik penjamah dan higiene
pada dodol yang di produksi di sanitasi makanan dodol sebagai
kecamatan panyabungan kabupaten berikut :
mandailing natal.
Tabel 4.1. Distribusi Jumlah Penjamah
Makanan Dodol
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran higiene dan
No.No. Industri n
sanitasi pengolahan dan menganalisa 1. I 3
kandungan zat pemanis buatan pada 2. II 4
makanan dodol yang diproduksi di 3. III 4
4. IV 2
Kecamatan Panyabungan, Kabupaten 5. V 3
Mandailing Natal Tahun 2012. 6. VI 2
7. VII 3
Jumlah 21
Manfaat Penelitian memberi masukan
bagi pengelola industri rumah tangga
tentang pemakaian zat pemanis sebagai Jumlah dari seluruh penjamah
bahan tambahan makanan pada makanan makanan dodol yang diproduksi di
dodol yang diproduksi di Kecamatan Kecamatan Panyabungan Kabupaten
3

Mandailing Natal yaitu 21 penjamah 3. Menjaga keber- 17 81,0 4 19,0


sihan badan :
makanan. tangan, rambut,
kuku, pakaian
4. Tidak menggu- 19 90,5 2 9,5
nakan perhiasan
Tabel 4.2. Distribusi Penjamah Makanan yang berukir-ukir
Berdasarkan Jenis Kelamin 5. Mecuci tangan 8 38,1 13 61,9
setiap kali hen-
dak menangani
No Jenis Kelamin Jumlah % makanan
6. Tidak sambil 11 52,4 10 47,6
1. Laki-laki 8 38,1 merokok, tidak
2. Perempuan 13 61,9 menggaruk ang-
gota badan
Jumlah 21 100,0 7. Tidak batuk di 15 71,4 6 28,6
hadapan maka-
nan, tidak bersin
di hadapan ma-
kanan
Berdasarkan tabel 4.2. diatas, bahwa 8. Menggunakan 20 95,2 1 4,8
pembuat dodol yang berjenis kelamin pakaian yang
bersih
laki-laki ada sebanyak 8 orang (38,1%) 9. Penjamah tidak 7 33,3 14 66,7
dan yang berjenis kelamin perempuan bersentuhan
langsung dengan
sebanyak 13 orang (61,9%). makanan tetapi
menggunakan
Tabel 4.3. Distribusi Penjamah Makanan peralatan
Berdasarkan Umur

Berdasarkan tabel 4.4. di ketahui


Golongan bahwa dari 9 kriteria penilaian dalam
No. Jumlah %
Umur (Tahun)
Penjamah makanan dodol dapat di
1. 10-19 2 9,5
2. 20-29 1 4,8 lihat tidak ada 1 pun yang memenuhi
3. 30-39 5 23,8 syarat kesehatan.
4. 40-49 7 33,3
5. 50-59 4 19,0 Tabel 4.5. Distribusi Penjamah Makanan
6. 60-69 1 4,8 Berdasarkan Lama Bekerja
7. 70-79 1 4,8
Jumlah 21 100,0
Lama Bekerja
No. n %
(tahun)
1. 2-4 11 52.4
Berdasarkan tabel 4.3. dapat dilihat bah- 2. 5-7 6 28.6
wa golongan umur yang paling banyak 3. 8-10 1 4.8
pada pembuat dodol adalah 40-49 tahun 4. 11-13 3 14.3
berjumlah 7 pembuat dodol (33,3%). Jumlah 21 100,0

Tabel 4.4. Distribusi Penjamah Makanan


Dodol Berdasarkan tabel 4.5. diatas,
diketahui bahwa penjamah yang
Kriteria Peni- Kategori
No. bekerja membuat dodol yang paling
laian Ya Tidak
n % n % lama ada 3 orang (14,3%) yaitu 11-13
1. Tidak menderita 12 57,1 9 42,9
penyakit menular tahun.
: Batuk, Pilek,
Influenza, Diare,
dan penyakit
perut lainnya
2. Menggunakan 1 4,8 20 95,2
APD : celemek,
tutup kepala,
sarung tangan
4

Tabel 4.6. Distribusi Penjamah Makanan Tabel 4.7. Distribusi Penjamah Makanan
Dodol Berdasarkan Pemilihan Dodol Berdasarkan
Bahan Baku Dodol Penyimpanan Bahan Baku
Dodol
Kriteria Pe- Kategori
No.
nilaian Ya Tidak
Kriteria Peni- Kategori
n % n % No.
laian Ya Tidak
1. Tepung pulut 7 100 - 0 n % n %
yang diguna- 1. Tersedia tempat 7 100 - 0
kan dalam penyimpanan
keadaan baik, bahan makanan
yang bersih dan
bersih, tidak tertutup
kutuan 2. Tempat penyim- 7 100 - 0
2. Santan kelapa 7 100 - 0 panan bahan
yang diguna- makanan kedap
air
kan dalam 3. Tempat Penyim- 7 100 - 0
keadaan segar panan bahan
dan tidak makanan terpisah
basi, bersih dari makanan
jadi
3. Gula aren 7 100 - 0
yang diguna-
kan baik,
bersih, tidak Berdasarkan tabel 4.7. diketahui
berampas bahwa semua industri (100%)
4. Bahan maka- - 0 7 100 menggunakan tempat penyimpanan
nan kemasan
terdaftar pada
bahan baku makanan yang tertutup,
Departemen bersih dan kedap air, serta
Kesehatan menggunakan tempat penyimpanan
Misal : pe- bahan baku makanan terpisah dari
manis yang makanan jadi.
digunakan
Tempat penyimpanan bahan baku
Berdasarkan tabel 4.6. dapat diketahui makanan harus dalam keadaan bersih,
bahwa 3 kriteria penilaian dalam prinsip kedap air dan tertutup, serta
pemilihan bahan baku makanan memenu- penyimpanan bahan baku makanan
hi syarat kesehatan, dan hanya 1 kriteria terpisah dari makanan jadi (Depkes
penilaian tidak memenuhi syarat keseha- RI, 2004).
tan yaitu bahan makanan kemasan tidak
terdaftar pada Departemen Kesehatan
misal, pemanis yang digunakan pada
makanan dodol.Hal ini terlihat dari
kondisi pemilihan bahan baku dari segi
bahan olahan dalam kemasan yang tidak
terdaftar di Departemen Kesehatan misal-
nya bahan tambahan makanan seperti
pemanis yaitu gula aren yang digunaka
dari hasil industri rumah tangga yang ada
di Kabupaten Mandailing Natal sehingga
belum tardaftar di Departemen Kesehatan
5

Tabel 4.8. Distribusi Penjamah Makanan Tabel 4.9. Distribusi Penjamah Makanan
Dodol Berdasarkan Pengolahan Dodol Berdasarkan
Bahan Baku Dodol Pengangkutan Makanan Jadi
Dodol

Kriteria Kategori
No.
Penilaian Ya Tidak Kriteria Kategori
No.
n % n % Penilaian Ya Tidak
1. Menggunakan 7 100 - n % n %
air yang bersih 1. Tersedia 7 100 - 0
tempat khu-
dalam setiap
sus untuk
pengolahan mengangkut
2. Peralatan dicuci 5 71,4 2 28,6 makanan jadi
dahulu sebelum 2. Tempat 7 100 - 0
digunakan da- dalam kea-
lam setiap pen- daan bersih
golahan 3. Makanan di 5 71,4 2 28,6
3. Peralatan harus 5 71,4 2 28,6 angkut da-
lam keadaan
selalu dibersih-
tertutup
kan setelah
digunakan
4. Peralatan tidak 7 100 - 0
gompel, rusak Pada tabel 4.9. dapat lihat bahwa dari 3
atau retak kriteria penilaian prinsip pengangkutan
5. Lantai harus 2 28,6 5 71,4 makanan jadi hanya 2 kriteria yang
dalam keadaan
bersih, kering, memenuhi syarat kesehatan yaitu
tidak lembab, tersedia tempat khusus untuk
tidak licin mengangkat makanan jadi yang terbuat
6. Tempat pengo- - 0 7 100
lahan bebas
dari bahan plastik dan tempatnya da-
vektor (la- lam keadaan bersih.
lat,tikus,dll) dan
binatang peng- Dodol yang sudah dimasak selama 5-8
ganggu
7. Tersedia tempat 7 100 - 0
jam di angkut ke dalam ember
mencuci tangan berbahan yang terbuat dari plastik
dan air yang dengan menggunakan sendok
cukup
8. Tersedia air 7 100 - 0
berbahan plastik agar dodol tersebut
yang digunakan tidak lengkat pada sendok. Kemudian
dari di bawa ke dalam rumah untuk
PAM/sumur
9. Tersedia tempat - 0 7 100
didinginkan, proses pendinginan
pembuangan dilakukan selama 1 malam atau 12
sampah tertutup jam dalam keadaan terbuka hal ini
dan kedap air
dapat menyebabkan terkontamina-
sinya makanan melalui udara,
Berdasarkan tabel 4.8. dapat diketahui sehingga makanan tersebut tidak aman
bahwa dari 9 kriteria dalam prinsip pengo- untuk dikonsumsi karena bisa
lahan bahan baku makanan ada 4 kriteria menyebabkan penyakit.
yang memenuhi syarat kesehatan yaitu
menggunakan air yang bersih dalam setiap
pengolahannya, peralatan tidak gompel
rusak atau retak, tersedia tempat mencuci
tangan dan air yang cukup, tersedia air
yang digunakan dari PAM/sumur.
6

Tabel 4.10. Distribusi Penjamah Makanan Tabel 4.11. Distribusi Penjamah Makanan
Dodol Berdasarkan Penyimpanan Dodol Berdasarkan
Makanan Jadi Dodol Pengemasan Makanan Jadi
Dodol

Kriteria Kategori
No.
Penilaian Ya Tidak Kriteria Kategori
No.
n % n % Penilaian Ya Tidak
1. Tersedia wa- 6 85,7 1 14,3 n % n %
dah khusus 1. Pengemas 7 100 - 0
untuk me- berpakaian
nyimpan ma- bersih
kanan jadi 2. Menggunakan - 0 7 100
2. Wadah harus 6 85,7 1 14,3 APD yaitu
dalam keadaan sarung tangan,
bersih masker.
3. Terhindar dari 3 42,9 4 57,1 3. Sumpit untuk 7 100 - 0
sinar matahari membungkus
atau gangguan dodol dalam
panas keadaan baik
4. Terhindar dari 5 71,4 2 28,6 dan bersih
pencemaran
dan binatang
pengganggu
Dari tabel 4.11. di atas dapat di
ketahui bahwa dari 3 kriteria penilaian
Berdasarkan tabel 4.10. diketahui bahwa dalam prinsip penyimpanan makanan
semua (100%) kriteria penilaian dalam jadi ada 2 kriteria yang memenuhi
prinsip penyimpanan bahan baku syarat kesehatan yaitu pengemas
makanan tidak memenuhi syarat berpakaian bersih dan sumpit untuk
kesehatan karena menggunakan wadah pembungkus dodol dalam keadaan baik
yang berbuat dari bahan plastik yang dan bersih.
tidak di tutupi sehingga memungkinkan
makanan dodol dapat terkontaminasi Pengemasan makanan bertujuan untuk
dalam tahap proses pendinginan. memberi perlindungan terhadap
kerusakan, dapat memberikan dan
Makanan dodol yang sudah dimasak mempertahanakan kualitas produksi,
dimasukkan ke dalam ember berbahan berfungsi sebagai peindung terhadap
plastik dan tidak ditutup diletakkan diatas gangguan luar serta untuk menarik
lantai sebelum akhirnya di lakukan perhatian konsumen. Bahan pengemas
pengemasan. Dalam penyimpanan yang digunakan seperti plastik harus
makanan jadi yang dilakukan juga dapat dalam keadaan baik dan bersih. Ketika
menyebabkan terkontaminasinya mengemas makanan penjamah
makanan melalui udara, sehingga seharusnya menggunakan sarung
makanan tersebut tidak aman untuk tangan agar terhindar dari
dikonsumsi karena bisa menyebabkan kontaminasi, serta memakai pakaian
penyakit. yang bersih (Depkes RI, 2004).
7

Tabel 4.12. Distribusi Penjamah Makanan Jenis zat pemanis yang digunakan
Berdasarkan Lama Produksi adalah sakarin.
makanan dodol
Berdasarkan penelitian yang
No.
Lama Produksi
n %
menyebutkan bahwa sakarin dalam
(tahun) dosis tinggi dapat menyebabkan
1. 2 2 28,6
2. 5 1 14,3
kanker pada hewan percobaan. Pada
3. 7 1 14,3 tahun 1977 Canada’s Health
4. 10 1 14,3 Protection Branch melaporkan bahwa
5. 13 2 28,6
Jumlah 7 100,0
sakarin bertanggung jawab terjadinya
kanker kantong kemih (Yuliarti,
2007).
Berdasarkan tabel 4.12. dapat dilihat
bahwa yang telah memproduksi dodol Tabel 4.14. Hasil Pemeriksaan Kadar
selama 2 tahun berjumlah 2 pedagang Zat Pemanis Buatan Pada
(28,6%), memproduksi dodol selama 5 Makanan Dodol Tahun 2012
tahun berjumlah 1 pedagang (14,3%),
memproduksi 7 tahun berjumlah 1
Kadar Zat
pedagang (14,3%), memproduksi 10 ta- Jenis Pemanis
No. Keterangan
hun berjumlah 1 pedagang (14,3%) dan Sampel Buatan
memproduksi selama 13 tahun berjumlah (mg/kg)
2 pedagang (28,6%). Makanan Memenuhi
1. 0,0274
Dodol syarat
(I)
Tabel 4.13. Hasil Pemeriksaan Jenis Zat Pe- Makanan
Memenuhi
manis Buatan Pada Makanan 2. Dodol 0,0073
syarat
Dodol Tahun 2012 (II)

Makanan Memenuhi
3. 0,0054
Dodol syarat
Hasil Pemeriksaan Zat Pemanis
No
Jenis
Buatan (IV)
Sampel
Sakarin Siklamat Sorbitol
Makanan
1 Positif Negatif Negatif
Dodol (I)
Makanan
Sakarin merupakan pemanis yang
2 Positif Negatif Negatif
Dodol (II) digunakan pada dodol. Kadar yang
Makanan
3
Dodol (III)
Negatif Negatif Negatif digunakan oleh industri rumah tangga
4
Makanan
Positif Negatif Negatif
tersebut adalah 0,0274 mg 0,0073 mg
Dodol (IV)
Makanan
0,0054 mg. Artinya walaupun terdapat
5 Negatif Negatif Negatif
Dodol (V) 3 makanan dodol yang mengandung
Makanan
6
Dodol (VI)
Negatif Negatif Negatif sakarin tetapi semua industri tersebut
Makanan telah memenuhi syarat kesehatan
7 Dodol Negatif Negatif Negatif
(VII)
karena menggunakan zat pemanis
dengan kadar yang masih dibawah
ambang batas berdasarkan Permenkes
Berdasarkan hasil pemeriksaan RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 yaitu
laboratorium secara kualitatif 100 mg/kg BB.
menunjukkan bahwa dari 7 industri
rumah tangga terdapat 3 industri yang Jumlah zat aditif yang diizinkan untuk
menggunakan menggunakan pemanis digunakan dalam bahan pangan harus
buatan yaitu pada makanan dodol I, merupakan kebutuhan minimum un-
makanan dodol II dan makanan dodol III. tuk mendapatkan pengaruh yang
8

dikehendaki. Jika penggunaan bahan- menyatakan adanya batas maksimum


bahan tersebut secara terus-menerus dan yang boleh dikomsumsikan per hari
melebihi dari kadar yang ditentu- atau Acceptable Daily Intake (ADI)
kan, maka akan terakumulasi (tertimbun) yakni banyaknya milligram suatu
dalam tubuh yang akhirnya dapat bahan atau zat yang boleh
merusak jaringan atau organ tertentu dikomsumsi per kilogram bobot badan
(Irianto dalam Fitriani, 2007). per hari. (BPOM RI,2004).

Kesimpulan dan Saran


Tabel 4.15. Hasil Perhitungan Nilai ADI (Ac-
ceptable Daily Intake) Pada Ma-
kanan Dodol Penerapan 6 prinsip higiene sanitasi
pengolahan makanan dodol di
Kecamatan Panyabungan berdasarkan
No. Jenis Jumlah Keterangan Kepmenkes RI No. 942/Menkes
Sampel sakarin /SK/VII/2003 yang tidak memenuhi
1. Makanan Memenuhi
Dodol (I)
0,1370 mg
Syarat syarat kesehatan yaitu pada prinsip
2. Makanan
0,0365 mg
Memenuhi pemilihan bahan baku, pengolahan
Dodol (II) Syarat bahan baku, pengangkutan makanan,
3. Makanan Memenuhi
Dodol(IV)
0,027 mg
Syarat penyimpanan makanan jadi, serta
penyajian makanan dodol dan yang
memenuhi syarat kesehatan yaitu pada
Dari tabel 4.15. diketahui bahwa tiga sam- prinsip penyimpanan bahan baku.
pel yang memenuhi syarat kesehatan karena
semuanya masih berada di bawah nilai Terdapat terdapat 3 sampel yang
ambang batas berdasarkan nilai ADI yaitu 5 positif yang mengandung sakarin den-
mg/kg BB maksudnya tiap orang dapat gan kadar masing masing berada di
mengkonsumsi sakarin dalam batas aman bawah nilai ambang batas semua
yaitu 5 mg. Berdasarkan nilai ADI yaitu 5 yang diizinkan yaitu yaitu 0,0274 mg,
mg/kg dengan kadar sakarin 0,1370 mg, 0,0073 mg, 0,0054 mg.
0,0365 mg dan 0,027 mg menurut
SNI-01-6993-2004. Penjamah makanan dodol harus
menerapkan higiene sanitasi dalam
Sekalipun penggunaanya diizinkan, tiap pengolahannya dan menghindari
pemanis buatan dan juga bahan kimia lain terjadinya penyalahgunaan zat
sesuai peraturan penggunaannya harus pemanis buatan untuk kedepannya,
dibatasi. Alasannya, meskipun aman agar dodol yang dihasilkan aman dan
dikonsumsi dalam kadar kecil, tetap saja sehat
dalam batas-batas tertentu akan
menimbulkan bahaya bagi kesehatan Daftar Pustaka
manusia. Pembatasan tersebut di kenal
dengan ADI (Acceptable Daily Intake) Badan POM RI., 2004. Persyaratan
atau asupan harian yang dapat diterima. Penggunaan Bahan Tambahan
ADI merupakan jumlah maksimal Pangan Pemanis Buatan dalam
pemanis buatan dalam mg/kg berat badan Produk Pangan.
yang dapat dikonsumsi tiap hari selama
hidup tanpa menimbulkan efek yang Cahyadi, W., 2005. Bahan Tambahan
merugikan kesehatan (Yuliarti, 2007). Pangan. Penerbit Bumi Aksara,
Jakarta.
World Health Organization (WHO)
9

Depkes RI., 2004. Hygiene Sanitasi


Makanan dan Minuman. Dirjen
PPM dan PL, Jakarta.

Depkes RI., 2003. KepMenkes RI


No.942/Menkes/SK/VII/2003
tentang Persyaratan Higiene
Sanitasi Makanan Jajanan.
DepKes RI, Jakarta.

Depkes RI., 1996. Undang-Undang RI


No.7 Tahun 1996 Tentang Pangan,
Jakarta.

Depkes RI., 1988. Permenkes RI No.


722/Menkes/Per/IX/1988 Tentang
Bahan Tambahan Makanan,
Jakarta.

Fitriani, E., 2011. Hygiene Sanitasi Pen-


golahan Dan Analisa Kandungan
Zat Pewarna Merah Pada Maka-
nan Kipang Pulut Di Kecamatan
Panyabungan Kabupaten Man-
dailing Natal Tahun 2011. Skripsi
Mahasiswa FKM USU.

SNI 01-6993-2004., Tentang Bahan


tambahan pangan pemanis
buatan -Persyaratan penggunaan
dalam Produk Pangan.

Yuliarti, N,. 2007. Awas! Bahaya Di


Balik Lezatnya Makanan.
Penerbit Andi, Yogyakarta.