You are on page 1of 2

Faktor Tidak Langsung

a. Pola Asuh Gizi


Suatu bentuk rangsangan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan
otak bayi adalah degan menerapkan pola asah, asih, dan asuh dalam perawatannya sehari-
hari. Dalam pemberian makanan juga perlu ditunjang dengan pemenuhan zat zat gizi yang
tepat (Marimbi, 2010). Adapun aspek kunci pola asuh gizi yaitu makanan dan minumanpra-
lakteal, pemberian kolostrum, pemberian ASI eksklusif, pemberian MP-ASI, dan praktik
penyapihan.
Air susu ibu merupakan makanan yang ideal untuk bayi terutama pada bulan-bulan
pertama. ASI mengandung semua zat gizi untuk membangun dan penyediaan energi dalam
susunan yang diperlukan. ASI tidak memberatkan fungsi traktus digestivus dan ginjal yang
belum berfungsi baik pada bayi yang baru lahir, serta menghasilkan pertumbuhan fisik yang
optimum. Kandungan ASI memiliki berbagai zat anti infeksi, mengurangi kejadian eksim
atopik. Zat-zat anti infeksi dapat digolongkan dalam golongan spesifik dan non-spesifik.
Responsi imunitas spesifik pada umumnya memerlukan kerja sama dengan zat non spesifik
untuk menyingkirkan kuman atau virus dari tubuh (Pudjiaji, 2005). Proverawati et al. (2010)
menyebutkan ASI mengandung growth faktor yang diantaranya untuk perkembangan mukosa
usus. ASI akan melindungi bayi terhadap infeksi dan juga merangsang pertumbuhan bayi
yang normal.
Menurut WHO (World Health Organization) ASI eksklusif adalah pemberian ASI
saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk, ataupun makanan
tambahan lain. Sebelum mencapai usia 6 bulan sistem pencernaan bayi belum mampu
berfungsi dengan sempurna, sehingga ia belum mampu mencerna makanan selain ASI.
Taufiqurrahman (2009), dalam penelitiannya menyatakan bahwa status menyusu juga
merupakan faktor risiko terhadap kejadian stunting. Di Indonesia, perilaku ibu dalam
pemberian ASI ekslusif memiliki hubungan yang bermakna dengan indeks PB/U, dimana 48
dari 51 anak stunted tidak mendapatkan ASI eksklusif (Oktavia, 2011).
Menginjak usia 6 bulan ke atas, ASI sebagai sumber nutrisi sudah tidak mencukupi
lagi kebutuhan gizi yang terus berkembang. Oleh karena itu perlu diberikan makanan
pendamping ASI. Pemberian makanan pendamping ASI harus disesuaikan dengan
perkembangan sistem alat pencernaan bayi, mulai dari makanan bertekstur cair, kental, semi
padat hingga akhirnya makanan padat (Marimbi, 2010).
Pemberian makanan pada bayi dan anak merupakan landasan yang penting dalam
proses pertumbuhan. Di seluruh dunia sekitar 30 % anak dibawah lima tahun yang
mengalami stunting merupakan konsekuensi dari praktek pemberian makanan yang buruk
dan infeksi berulang (WHO, 2011). Meskipun bayi mendapatkan ASI dari ibu secara optimal,
namun jika setelah berusia 6 bulan tidak mendapatkan makanan pendamping yang cukup baik
dari segi kuantitas maupun kualitas, anak-anak akan tetap mengalamistunting (UNICEF,
2008). Penelitian yang dilakukan oleh Istiftiani (2011) menunjukan bahwa umur pertama
pemberian MP-ASI berhubungan signifikan dengan indeks status gizi PB/U pada baduta.

Pekerjaan Ibu
Menurut Zakiah (1998) dalam Aditianti (2010) status pekerjaan orang tua
mempengaruhi pola pengasuhan. Pada orang tua yang bekerja, khususnya ibu, dapat
menyebabkan berkurangnya alokasi waktu untuk anak lebih sedikit dibandingkan dengan ibu
yang bekerja. Hasil penelitian Diana (2006) mengemukakan bahwa ada hubungan yang
bermakna antara pola asuh makan dengan pekerjaan ibu. Ibu yang bekerja di luar rumah
dapat menyebabkan anak tidak terawatt, sebab anak balita sangat bergantung pada
pengasuhannya atau anggota keluarga yang lain. Selain itu, ibu yang bekerja diluar rumah
cenderung memiliki waktu yang lebih terbatas untuk melaksanakan tugas rumah tangga
dibandingkan ibu yang tidak bekerja, oleh karena itu pola pengasuhan anak akan berpengaruh
dan pada akhirnya pertumbuhan dan perkembangan anak juga akan terganggu.

ACC/SCN & International Food Policy Research Institute (IFRI). 2000. 4th Report on The World
Nutrition Situation, Nutrition Throughout The Life Cycle.
Adeladza, T.A. 2009. “The Influence of Socio-Economic and Nutritional Characteristics on Child
Growth in Kwale District of Kenya”. African Journal of Agriculture and Development. Vol. 9
(7).
Aditianti. 2010. “Faktor Determinan Stunting pada Anak Usia 24-59 Bulan di
Indonesia”.Tesis. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Adriani, M dan Wiratmadi, B. 2012. Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Almatsier, S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Amigo, H., Buston, P., Radrigan, ME. 1997. Is there a relationship between parent’s short height and
their children’s? Social interclass epidemiologic study. Rev Med Child; Aug; 125 (8).
Anindita, P. 2012. “Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu, Pendapatan Keluarga, Kecukupan Protein &
Zink dengan Stunting (pendek) pada Balita Uisa 6-35 Bulan di Kecamatan Tembalang Kota
Semarang”. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 1 (2): 617-626.
Anisa, P. 2012. “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 25-60
Bulan di Kelurahan Kalibaru Depok Tahun 2012”. Skripsi. Depok: Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Indonesia.
Anugraheni, H.S. 2012. Faktor Resiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 12-36 Bulan di Kecamatan
Pati, Kabupaten Pati. Artikel Penelitian. Semarang: Program Studi Ilmu Gizi Fakultas
Kedokteran, Universitas Diponegoro.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Astari, L.D., Nasoetion, A., & Dwiriani, C.M. 2005. Hubungan Karakteristik Keluarga, Pola
Pengasuhan dan Kejadian Stunting Anak Usia 6-12 Bulan. Jurnal Media Gizi & Keluarga, 29
(2) : 40-46.