You are on page 1of 6

Data Percobaan

Volume Rata-rata
Suhu Kelarutan Volume Volume
1 NaOH 1M
Asam Oksalat H₂C₂O₄ NaOH 1M
NO. 𝑇

°C K °C mL I II mL
1 25 298 0,04 10 2,5 3 2,75
2 20 293 0,05 10 2,3 2,4 2,35
3 15 288 0,06 10 2 1,9 1,95
4 10 283 0,1 10 1,4 1,3 1,35

Analisis Data
Pada praktikum kali ini yang bertujuan menentukan kelarutan zat pada berbagai suhu dan
menentukan kalor kelarutan diferensial. Pada praktikum ini, digunakan asam oksalat karena
asam oksalat sangat sensitif terhadap perubahan suhu sehingga dapat diketahui kelarutannya
pada berbagai suhu.
Penentuan kelarutan asam oksalat pada berbagai suhu dilakukan dengan titrasi
menggunakan larutan NaOH 1M dan indikator PP sebanyak 3 tetes. Melalui cara ini akan
didapatkan konsentrasi asam oksalat dalam setiap pengambilan larutan pada berbagai suhu.
Sebagai titran digunakan larutan NaOH karena telah diketahui konsentrasinya melalui titrasi,
dapat diketahui konsentrasi setiap sampel asam oksalat pada suhu-suhu yang yang diamati, serta
dapat dihitung kelarutannya. Kemudian asam oksalat yang merupakan larutan jenuh tersebut
dimasukkan ke dalam tabung reaksi besar, kemudian dimasukkan kedalam beaaker glass yang
telah diisi pada air yang bersuhu kamar.
Kemudian dmasukkan termometer dan batang pengaduk ke dalam tabung reaksi besar
sambil diaduk larutan asam oksalat didalam tabung reaksi tersebut dan diamati suhu pada
termometer hingga turun pada suhu 25°C, 20°C, 15°C, dan 10°C. Adanya penurunan suhu
dibuktikan dengan adanya endapan butiran kristal asam oksalat yang kembali melarut ketika
diaduk. Ketika suhu diturunkan, endapan asam oksalat yang terbentuk semakin bertambah
terutama dengan bantuan es yang dimasukkan ke air penangas. Setelah suhu turun diambil 10 ml
cairan menggunakan pipet volume kemudian diencerkan hingga 100 ml dalam labu ukur.
Selanjutnya diambil 10 ml untuk dititrasi dengan NaOH dan indikator pp sebanyak 3 tetes.
Titrasi dilakukan sebanyak dua kali pengulangan, dilakukan pengambilan dan dititrasi
yang serupa pada suhu 20°C, 15°C, dan 10°C. Untuk membuktikan bahwa bila suhu diturunkan,
maka kelarutan asam oksalat juga turun. Dan hasil titrasi diperoleh data berupa volume NaOH ..
1. Pada Suhu 25°C
1mmol
mol NaOH × × 2,75 mL = 2,75 mmol
mL

1 mmol H₂C₂O₄
mol H₂C₂O₄ × × 2,75 nmmol NaOH = 1,375 mmol H₂C₂O₄
2 mmol NaOH

1,375 mmol H₂C₂O₄


M H₂C₂O₄ × = 0,1375 M
10 mL

Konsentrasi sebelum pengenceran


M1 x V1 = M2 x V
M1 x 10 mL = 0,1375 M x 100 mL
M1 = 1,375 M

2. Pada Suhu 20°C


1mmol
mol NaOH × × 2,35 mL = 2,35 mmol
mL

1 mmol H₂C₂O₄
mol H₂C₂O₄ × × 2,35 mmol NaOH = 1,175 mmol H₂C₂O₄
2 mmol NaOH

1,175 mmol H₂C₂O₄


M H₂C₂O₄ × = 0,1175 M
10 mL

Konsentrasi sebelum pengenceran


M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 10 mL = 0,1175 M x 100 mL
M1 = 1,175 M
3. Pada Suhu 15°C
1mmol
mol NaOH × × 1,95 mL = 1,95 mmol
mL

1 mmol H₂C₂O₄
mol H₂C₂O₄ × × 1,95 mmol NaOH = 0,975 mmol H₂C₂O₄
2 mmol NaOH

0,975 mmol H₂C₂O₄


M H₂C₂O₄ × = 0,0975 M
10 mL

Konsentrasi sebelum pengenceran


M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 10 mL = 0,0975 M x 100 mL
M1 = 0,975 M
4. Pada Suhu 10°C
1mmol
mol NaOH × × 1,35 mL = 1,35 mmol
mL

1 mmol H₂C₂O₄
mol H₂C₂O₄ × × 1,35 mmol NaOH = 0,675 mmol H₂C₂O₄
2 mmol NaOH

0,675 mmol H₂C₂O₄


M H₂C₂O₄ × = 0,0675 M
10 mL

Konsentrasi sebelum pengenceran


M1 x V1 = M2 x V2
M1 x 10 mL = 0,0675 M x 100 mL
M1 = 0,675 M
Dengan cara yang sama diperoleh konsentrasi larutan H₂C₂O₄ tiap suhu, antara lain:

Suhu H₂C₂O₄ Konsentrasi


NO. Log M ln S 1/T (K-1)
(°C) H₂C₂O₄ (M)

1 25 1,375 0,138302 0,318453 0,003356

2 20 1,175 0,070038 0,161268 0,003413

3 15 0,975 -0,010995 -2,327902 0,003472

4 10 0,675 -1,170696 -0,393042 0,003533

Sehingga diperoleh grafik penentuan kalor diferensial sebagai berikut:

Grafik log M

0.16

0.14 0.138302

0.12

0.1

0.08
log M

0.070038
0.06

0.04

0.02

0 0.003356 0.003413 0.003472


0.138302 0.070038 -0.010995
-0.010995
-0.02

1/T

P-enentuan kalor pelarutan differensial pada konsentrasi jenuh (ΔHDS)


mz(T2) ∆HDS T2−T1
1. Log mz(T1)
= 2,303𝑅 (T2 ×T1)

0,975 ∆HDS 288 − 283


Log = x
0,675 2,303 × 8,314 288 × 283
∆HDS 5
Log 1,44 = x
19,1471 81504
0,15836 × 19,1471 = ∆HDS × 0,000061
3,03213 = ∆HDS × 0,000061
J
∆HDS = 49707,0
mol K

mz(T2) ∆HDS T2−T1


2. Log mz(T1)
= 2,303𝑅 (T2 ×T1)

1,175 ∆HDS 293 − 288


Log = x
0,975 2,303 × 8,314 293 × 288
∆HDS 5
Log 1,205 = x
19,1471 84384
0,08098 × 19,1471 = ∆HDS × 0,000059
1,55053 = ∆HDS × 0,000059
J
∆HDS = 26280,1
mol K

mz(T2) ∆HDS T2−T1


3. Log mz(T1)
= 2,303𝑅 (T2 ×T1)

1,375 ∆HDS 298 − 293


Log = x
1,175 2,303 × 8,314 298 × 293
∆HDS 5
Log 1,170 = x
19,1471 87314
0,06818 × 19,1471 = ∆HDS × 0,000057
1,30544 = ∆HDS × 0,000057
J
∆HDS = 22902,4
mol K

Sehingga kalor pelarutan differensial (∆HDS) rata-rata adalah


49707,0 + 26280,1 + 22902,4 98889,5 J
= = 32963,1
3 3 mol K