You are on page 1of 8

JAWABAN PERTANYAAN MATERI EVOLUSI:

SPESIASI
TUGAS

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Evolusi yang diampu oleh:
Prof. Dr. Fransisca Sudargo T., M.Pd.
Dra. Ammi Syulasmi, M.S.
Dr. Hernawati, S.Pt., M.Si.

oleh:
Kelompok 4
Biologi C – 2015
Anggi Istiqomah 1507488
Rifdah Hanifah 1505721
Rizal Fauzan A.S. 1504345

PROGRAM STUDI BIOLOGI


DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2018
BAB X
SPESIASI

1. Ada dua istilah berbeda tetapi saling berkaitan dalam pembahasan kita, yaitu spesies dan
spesiasi. Bagaimana keterkaitan antara kedua hal tersebut? Jelaskan!
Jawaban:
Keterkaitan antara kedua hal tersebut yaitu bahwa spesies yang merupakan suatu kelompok
organisme dimana anggotanya ini memiliki kemampuan bentuk dan dapat melakukan perkawinan
secara bebas di alam dan menghasilkan keturunan fetil serupa induknya serta terpisah secara
reproduktif dengan spesies lain. Maka adanya spesies ini yang dikelompokkan seperti hal berikut
akan berproses menjadi pembentukan suatu spesies baru yang dinamakan spesiasi. Spesiasi ini
tidak lain hadir atau terbentuk karena adanya peran dari spesies di dalamnya.

2. Terdapat dua pandangan terhadap spesiasi, setuju dan tidak setuju bahwa spesiasi masih
terjadi sampai saat ini. Anda setuju dengan pendapat yang mana? Jelaskan!
Jawaban:
Pendapat saya mengenai hal tersebut adalah saya setuju dengan pendapat bahwa spesiasi ini masih
terus berjalan hingga saat ini. Hal ini disebabkan karena masih adanya variasi genetik antar
individu maupun di lingkungan yang secara fisik masih terus berubah. Walaupun proses terjadinya
ini akan berjalan dan butuh waktu yang lama untuk berubah namun perlahan suatu hal itu ada
perubahan. Faktor yang menyebabkan perubahan itu bisa terjadi secara internal maupun eksternal
seperti adanya penyakit genetis pada individu, kemudian yang eksternalnya seperti timbul bencana
alam berupa glasiasi, gunung meletus, tsunami dan sebagainya.

3. Faktor pendukung utama spesiasi adalah adanya relung yang kosong dan
keanekaragaman spesiasi, jelaskan bagaimana hal ini dapat terjadi?
Jawaban:
a. Adanya relung yang kosong
Relung adalah tempat hidup dan berinteraksinya suatu organisme dalam lingkungan. Suatu spesies
menempati relung tertentu, suatu relung umumnya hanya dapat ditempati oleh satu jenis organisme
saja. Kalau relung tersebut kosong, berarti tempat tersebut tidak dihuni oleh suatu organisme. Oleh
karena itu, banyak organisme akan berusaha untuk menempati relung tersebut.

b. Adanya keanekaragaman suatu organisme


Keberhasilan suatu organisme mengisi relung ditentukan oleh seberapa besar kecocokan
organisme tersebut dengan persyaratan relung yang kosong. Kalau ada suatu organisme yang
mempunyai keanekaragaman yang tinggi, maka akan banyak sekali variasi antar individu dalam
populasi itu. Karena populasi memiliki keanekaragaman, dimana sebagian mungkin sesuai dengan
persyaratan relung yang kosong. Maka organisme yang memiliki keanekaragaman yang sesuai
dengan relung yang kosong yang dapat mengisi relung tersebut.

4. Jelaskan arah evolusi spesiasi secara divergen, konvergen, dan paralel!


Jawaban:
Evolusi divergen: terjadi diversifikasi, jumlah spesies semakin banyak. Spesies indu hioang atau
hidup bersama dengan spesies baru. Contoh: kelompok garis evolusi Burung Drepanididae.
Evolusi konvergen: terjadi penyusutan jumlah spesies, spesies induk punah, dan muncul spesies
baru. Contoh: kelompok evolusi serigala. Evolusi Paralel: dua spesies/ populasi yang berinteraksi
mengalami evolusi bersama-sama. Keseimbangan antar populasi yang berinteraksi tetap terjaga
selama evolusi. Misalnya: parasit tidak akan membunuh seluruh inangnya.

5. Mengapa pemisahan geografi sangat memungkinkan untuk terjadi proses spesiasi


alopatrik, parapatrik, atau peripatrik?

Jawaban:
Spesiasi/Speciation adalah suatu proses mengenai bagaimana spesies baru muncul. Spesiasi
alopatrik, terjadi pada saat suatu populasi kecil memisah dari populasi moyangnya setelah
terisolasi secara geografis. Spesiasi ini merupakan proses spesiasi yang terjadi di daerah yang
berjauhan atauberlainan dari spesies yang sekerabat. Spesiasi parapatrik, merupakan spesiasi yang
terjadi di daerah yang bersebelahan dengan daerah populasi moyangnya. Suatu spesies sering
mempunyai daerah penyebaran yang sangat luas, sehingga penyebarannya meliputi lebih dari satu
macam habitat dengan kondisi lingkungan berbeda. Karena ada perbedaan habitat maka setiap
populasi mengalami seleksi alam yang berbeda. Dengan berjalannya waktu terbentuklah suatu
populasiyang berbeda dan tidak mampu berinteraksi secara kawin, sehingga dianggap berbeda
spesies pada daerah yang tetap bersebelahan. Spesies peripatrik merupakan proses spesiasi yang
terjadi di daerah pinggir penyebaran spesies moyangnya. Suatu organisme memiliki kisaran
toleransi tertentu terhadap lingkungannya. Akibatnya beberapa jenis akan menempati daerah
tertentu. Lebih jauh dari daerah pusat penyebaran, persyaratan hidupnya makin berbeda sehingga
diperlukan suatu keanekaragaman yang khusus untuk dapat hidup dan berkembang biak.

6. Mengapa pada daerah geografis yang sama juga dapat terjadi spesiasi simpatrik?
Jawaban:
Karena tekanan seleksi di daerah yang sama akan selalu sama, maka proses spesiasi akibat seleksi
alam tidak mungkin terjadi. Tapi meskipun tinggal pada daerah yang sama sebagian anggota
populasi dapat terisolasi secara reproduksi, sehingga pada akhirnya akan terjadi spesiasi secara
simpatrik meskipun pada daerah geografis yang sama. Pada spesiasi simpatrik, faktor biologis
seperti perubahan kromosom dan perkawinan tidak acak akan mengubah aliran gen antar individu.
Populasi simpatrik akhirnya terisolasi secara genetic meskipun daerah tinggalnya saling tumpang
tindih.

7. Bagaimana proses gradualisme dan kesetimbangan bersela membentuk spesies


baru?
Jawaban:
a. Gradualisme filetik
Gradualisme filetik adalah model evolusi yang menjelaskan bahwa sebagian besar spesiasi
bersifat lambat, seragam, dan berangsur-angsur. Seluruh spesies secara perlahan mengalami
perubahan menjadi spesies yang baru. Dalam sudut pandang ini, tidak ada garis batas yang jelas
antara spesies
nenek moyang dengan spesies baru. Gradualisme filetik seringkali dianggap berlawanan dengan
teori keseimbangan bersela, yang menyatakan bahwa sebagian besar sejarah suatu spesies berada
dalam keadaan stasis atau ketiadaan perubahan, dan evolusi terjadi jarang dan cepat.
b. Kesetimbangan bersela
Keseimbangan bersela adalah teori biologi evolusioner yang menyatakan bahwa sebagian besar
spesies hanya menunjukkan sedikit perubahan evolusioner dalam sebagian besar sejarah geologis
mereka. Mereka berada dalam suatu keadaan yang disebut stasis. Ketika perubahan evolusi yang
signifikan terjadi, teori ini menjelaskan bahwa perubahan tersebut terbatas pada peristiwa
spesiasi percabangan yang cepat dan jarang yang disebut kladogenesis. Kladogenesis adalah
proses ketika suatu spesies terpisah menjadi dua spesies berbeda, dan bukannya satu spesies yang
secara perlahan berubah menjadi spesies lainnya. Kesimbangan bersela pada umumnya dianggap
bertentangan dengan teori gradualisme filetik, yang menyatakan bahwa evolusi pada umumnya
terjadi secara seragam dan melalui perubahan yang tetap dan berangsurangsur (disebut
anagenesis). Menurut pandangan ini, evolusi terjadi secara mulus dan berkelanjutan.

8. Bagaimana eksaptasi dan heterokrom dapat memengaruhi munculnya struktur baru


pada proses evolusi?
Jawaban:

Asal Mula Struktur Baru Akibat Evolusi (Evolutionary Novelty)

Pada jawaban ini akan menjawab pertanyaan proses apa saja yang menyebabkan perubahan
evolusioner skala besar yang dapat kita lacak melalui catatan fosil? Bagaimana, misalnya, suatu
sifat atau ciri baru yang menentukan kelompok taksonomik di atas level spesies, seperti adaptasi
terbang pada burung, muncul? Apa yang menyebabkan arah evolusi yang tampak dari catatan fosil
menjadi semakin progresif, seperti peningkatan ukuran otak selama evolusi manusia? Ketiga
konsep berikutnya akan memfokuskan pada proses yang relevan dengan pertanyaan mengenai
makroevolusi.
a. Sebagian besar struktur baru akibat evolusi merupakan versi yang dimodifikasi dari struktur
yang lebih tua.
Catatan fosil menunjukkan bahwa burung berkembang dari garis keturunan dinosaurus
yang hidup di daratan. Bagaimana vertebrata yang dapat terbang berkembang dari tetua yang
tidak dapat terbang? Dalam pengertian yang lebih umum, bagaimana struktur baru akibat
evolusi berkembang? Salah satu mekanismenya adalah perbaikan secara bertahap struktur yang
telah ada untuk fungsi-fungsi baru.
Banyak struktur biologis memiliki plastisitas evolusioner yang memungkinkan
terbentuknya berbagai fungsi alternatif. Istilah eksaptasi mengacu ke suatu struktur yang
berevolusi dalam satu konteks dan kemudian memiliki fungsi yang lain. Konsep ini bukan berarti
bahwa suatu struktur berkembang untuk mengantisipasi kegunaan di masa datang. Seleksi alam
tidak dapat meramalkan masa depan dan hanya dapat memperbaiki struktur dalam konteks
fungsinya saat ini. Tulang yang sangat ringan dan berlubang mirip sarang lebah pada burung yang
memang homolog dengan tulang tetua burung yang hidup di darat. Namun demikian, tulang ringan
berlubang tidak mungkin berkembang lebih dulu dari kemampuan terbang, seperti terlihat jelas di
catatan fosil, maka tulang tersebut pasti memiliki beberapa fungsi di permukaan tanah. Mungkin
tetua burung adalah dinosaurus yang gesit dan berkaki dua, yang juga telah diuntungkan karena
memiliki rangka yang ringan. Mungkin saja bahwa bulu dan tungkai depan yang mirip sayap, yang
meningkatkan luas permukaan tungkai depan ini, juga merupakan struktur yang dipilih sebagai
organ terbang setelah berfungsi dalam kapasitas yang lain, seperti untuk memamerkan dri-dalam
percumbuan, misalnya. Aktivitas terbang pada awalnya mungkin hanya merupakan loncatan jauh
yang dilakukan saat mengejar mangsa atau menghindar dari pemangsa. Setelah kemampuan
terbang menjadi suatu keuntungan, seleksi alamm akan merombak ulang bulu dan sayap supaya
lebih sesuai dengan fungsi tambahannya.
Eksaptasi menawarkan satu penjelasan mengenai bagaimana ciri atau sifat baru dapat
muncul secara perlahan-lahan melalui serangkaian tahapan intermediet, dimana masing-masing
tahap memiliki beberapa fungsi dalam konteks organisme tersebut saat ini. Konsep struktur baru
akibat evolusi dapat berkembang melalui pemodelan ulang struktur tua demi mengembangkan
fungsi baru sesuai dengan pandangan Darwin yang menyatakan bahwa perubahan besar
merupakan akumulasi banyak perubahan-perubahan kecil yang disebabkan oleh seleksi alam.

b. Gen yang mengontrol perkembangan berperan penting dalam pemunculan struktur baru akibat
evolusi.
Evolusi struktur kompleks, seperti sayap dan bulu, dari struktur yang mendahuluinya
memerlukan sangat banyak pemodelan ulang sehingga kemungkinan melibatkan sejumlah besar
lokus gen. pada kasus lain, perubahan yang relatif sedikit dalam genom sudah dapat menyebabkan
modifikasi struktur yang penting. Bagaimana perubahan genetik yang sangat sedikit dapat
diperbesar sehingga meghasilkan perbedaan yang signifikan pada berbagai organisme. Gen yang
memprogram perkembangan suatu organisme mengontrol laju, waktu dan pola perubahan spasial
bentuk organisme ketika ia mengalami perubahan bentuk dari zigot hingga menjadi dewasa.
Sebagai contoh, pertumbuhan alometrik (bahasa Yunani, allos artinya “yang lain”, dan metron
artinya “ukuran”), yaitu suatu perbedaan dalam laju pertumbuhan relatif berbagai bagian tubuh,
membantu membentuk suatu organisme. Mengubah sedikit saja laju pertumbuhan relatif ini sudah
cukup untuk mengubah bentuknya secara signifikan saat dewasa. Sebagai contoh, pola alometrik
yang berbeda turut mempengaruhi perbedaan yang mencolok antara bentuk tengkorak manusia
dan simpanse. Alometri merupakan salah satu mekanisme dari sedikit perubahan pada
perkembangan yang akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada masa dewasa.
Selain mempengaruhi laju pertumbuhan, perubahan genetik dapat juga mengubah
pengaturan waktu peristiwa perkembangan itu sendiri-urutan bagian tubuh yang berbeda mulai
dan berhenti berkembang. Pada beberapa spesies, perubahan dalam waktu perkembangan
mengakibatkan paedomorfosis (bahasa Yunani. Paedos artinya “anak” dan morphosis artinya
“pembentukan”), dimana suatu organisme yang secara seksual sudah dewasa masih tetap
mempertahankan sifat-sifat dari ciri yang sebenarnya merupakan struktur juvenil pada evolusioner
tetuanya. Sebagai contoh, sebagian besar spesies salamander melalui tahapan larva yang
mengalami metamorfosis menjadi hewan dewasa.
Akan tetapi, banyak spesies tumbuh mencapai ukuran dewasa dan menjadi dewasa secara
seksual namun masih tetap mempertahankan insang dan ciri-ciri lain tertentu dari larva. Perubahan
evolusioner dari waktu perkembangan seperti itu dapat menghasilkan hewan yang tampak sangat
berbeda dari tetuanya.
Perubahan dalam kronologi perkembangan juga penting dalam evolusi manusia. Manusia
dan simpanse sangat dekat kekerabatannya karena diturunkan dari tetua yang sama. Diantara
begitu banyak perbedaan anatomi antara kedua primata modern ini, hal yang dapat menjadi
penyebab ciri alometrik yang berbeda dan variasi dalam pengaturan waktu perkembangannya
adalah ukuran otak. Otak manusia secara proposional lebih besar dibandinngkan dengan otak
simpanse karena pertumbuhan organ itu berdurasi jauh lebih lama pada perkembangan manusia.
Dibandingkan dengan otak simpanse, otak kita tumbuh beberapa tahun lebih lama, yang dapat
diartikan sebagai perpanjangan proses juvenil. Kita berhutang pada kebudayaan kita terhadap
munculnya struktur baru akibat evolusi ini, karena dalam kebudayaan kita terdapat suatu masa
kanak-kanak yang diperpanjang, di mana selama itu orang tua dan guru dapat mempengaruhi apa
yang akan disimpan oleh otak muda yang masih tumbuh. Semua contoh perubahan temporal dalam
perkembangan yang menciptakan pemunculan struktur baru akibat evolusi tersebut sesuai dengan
katagori heterokroni, yaitu suatu istilah umum untuk perubahan evolusi dalam pengaturan waktu
atau laju dari perkembangan.