You are on page 1of 5

PENDAHULUAN

Desentralisasi merupakan penyerhan wewenang pemerintah oleh pemerintah daerah kepada


daerah otonom (untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan) dalam system Negara
kesatuan republik indonesia. Desentralisasi merupakan pendelegasian wewenang dalam
membuat keputusan dan kebijakan kepada manajer atau oraang yang berada pada level bawah
dalam suatu struktur organisasi. Pada system pemerintahan yang desentralisasi ddiujudkan
dengan system otonoi daerah yang memberikan sebagian wewenang yang tadinya harus
diputuskan pada pemerintah pusat kii dapat diputuskan di tingkat pemerintahan daerah.
Kelebihan system ini adaah sebagian besar keputusan dan kebijakan yang berada di daerah dapat
diputuskan di daerah tanpa adanya campur tanngan dari pemerintah di pusat. Namun
kekuraangan dari system desentralisasi pada otonomi khusus untuk daerah adalah euphoria yang
berlebihan di mana wewenang tersebut hanya mementingkan kepentingan golongan dan
kelompok serta digunakan untuk menguruk keeuntunngan pribadi dan oknum.
Sedangkan desentralisasi fiskal adalah penyerahan kewenangan fiskal dari pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah. Salah satu bentuk desentralisasi fiskal yaitu pengelolaan retribusi
parkir yang juga merupakan salah satu bentuk pendapatan asli daerah.
Parkir merupakan salah satu unsur sarana yang tidak dapat dipisahkan dari system transportasi
jalan raya secara keseluruhan. Dengan meningkatnya jumlah penduduk suatu kotaakan
menyebabkan meningkatatnya kebutuhan melakukan berbagai macam kegiatan, dalam
melakukan kegiatan bepegian kebanyakan penduduk di kota kota besar meggunakan kendaraan
pribadi sehingga secara tidak langsung diperlukan jumlah yang mmemadai.
Perparkiran merupakan masalah yang sering dijumpai dalam system transportasi perkotaan baik
di kota kota besar maupun di kota yang sedang berkembang. Masalah perparkiran tersebut sangat
memperngaruhi pergerakan kendaraan dimana kendaraaan yang melewaati tempat yang
beraktifitas tinggi, laju pergerakannya akan terhambat oleh kendaraa yang parkir di badan jalan
akibat kapasitas lahan parkir yang tersedia tidak dapat menampung jumlah kendaraan yang akan
parkir di area tersebut.
parkir juga sering meresahkan masyarakat yang tinggal di sekitar area parkir. Apalagi seiring
berjalannya waktu timnulnya lahan parkir dan juru parkir yang illegal membuat masyarakat
sangat resah. Terkadang juru parkir illegal membuka lahan parkir sembarangan untuk
mendapatkan upah. Juru parkir illegal ini yang nantinya tidak bertanggung jawab atas kendaraan
pemiliknya.
PENGELOLAAN RETRIBUSI PARKIR DI KOTA MALANG

Dalam kehidupan sehari-hari parkir adalah pemandangan yang kkhas di mata kita. Sering kita
melihat kendaraan parkir di ruas-ruas jalan. Tidak jarang juga kita melihat orang yang memarkir
kendaraan seenaknya sendiri dan mengganggu pengguna jalan yang lain, baik yang berkendara
maupun mereka yang berjalan. keberadaan petugas parkir dirasakan sangat membantu dala
menjaga kendaraan yang kita miliki. Dan tidak dapat menyelesaikan tugas tanpa adanya
kekhawatiran kehilangan. Tidak sampai dsini perlu adanya peningktan petugas parkir untuk
mengoptimalkan kerja mereka. Beberapawilayah memberlakukan peraturan tentang parkir ala
meningkatkan peayanannya. Seperti peraturan daerah probolinggo no 13 tahun 2005 yang
menetapkan parkir di tepi jalan umum menjadi system berlangganan membawa dampak positif
bagi juru parkir dan masyarakat penggunaan jasa parkir dn dinas perhubungan. Peraturan daerah
nomor 5 tahun 1999 tentang perpariran yang menjadi pedoman dasar pengeellaan perparkiran di
provinsi DKI Jakarta di antarnya mengatur mengenaipengendalian ruang milik jjalan sebagai
fasilitas parkir. Meskipun masyarakat terkadang belum puas terhadap pelayanan yang diberikan,
setidaknya dengan ditetapkan peraturanpemerintah telah memberikan sedikit dampak positif bagi
masyarakat.
Peraturan-peraturan yang di tetapkan di sejumlah daerah difungsikan dapat memberikan
pelayaann dan fasilitas bagi masyarakat dan juru parkir. Permasslhan yang terjadi dimasyarakat
tidak hnya sebatasitu saja. Pengetahuan masih dimiliki petugas parkir masih belum maksimal,
sering kita lihat kendaraan yang mereka parkir terlalu berdempetan sehingga menyulitkan
pemilik mengambil kendaraanya. Tingkat keamannyapung masih dibilang begitu rendah. Pusat
kota malang suatu kawasan yang cukup padat penduduknya seteah kota Surabaya di wilayah
jawa timur. Pada umumnya masalah yang dihadapi masalah lingkungan hidup, seperti masalah
lalu lintas dan parkir kendaran di pusat kota malang. Perkembangan kendaraan yang terus
meningkat dari tahun ke tahun yang akan mempengaruhi terhadap masalah penyediaan parkir
kendaraan di pusat kota malang. Masalah yang di hadapi pusat kota malang saat ini adaah
bagaimana mengatasi akumuasi parkir kendaraan pada waktu puuncak kegiatan asehari-hari
sehingga dapat diperoleh parkir kendaraan pad a waktu puncak kegiatan sehari-hari sehingga
dapat diperoleh, suatu cara pendekatan yang paling efisien. Kebutuhan parkir kendaraan di pusat
kota malang dalam perhitungan hasil studi penelitian 1992 menunjukan adaya kekurangan
penyediiaan ruang parkir serta penyediaan lokasi yang cocok pada daerh tersebut. Hal tersebut
disebabkan oleh karena kapasitas ruang parkir baru yang diperkirakan dapat menampung jumlah
kendaraan yang parkir dipusatkota malang. Pada daasarnya di pusat kota malang diperlukan suat
pusat perparkiran yang dapat melayani berbagai kegiatan seperti kerja, sekolah, rekreasi,
pertokoan yang lain kesemuannya ini membutuhkan suatu sarana parkir umum.
Masalah yang dihadapi pusat kota malang saat ini adalah bagaimana mengatasi akumulasi parkir
kendaraan pada waktu puncak kegiatan sehari-hari sehingga dapat diperoleh, suatu cara
pendekatan yang paling efisien. Dalam megatasi masalah tersebut di dalam studi parkir di cari
suatu lokasi tempat parkir baru yang diperkirakan dapat menumpang jumlah kendaraan yang
parkir dipusat kota malang.
Untuk menganalisis tersebut hal tersebut, sebagaimana daerah lain, pemerintah daerah kota
malang perlu berusaha secara aktif untuk meniningkatkan serta menggali sumber penerimaan
daerah terutma penerimaann yang berasal dari daerah sendiri atau sering di sebut dengan
pndapatan asli daerah. Pendapatan asli daerah sebagai salah satu sumber penerimaan daerah
mempunyai peranan penting dalam embangunan daerah. Hal ini dapat dilihat dalam
pelaksanaan otonomi daerah dimana peranan PAD diharpkan dan diupayakan dapat menjadi
penyangga utama untuk dikembangkan adalah penerimaaan retribusi terutama di wilayah
pemerintah daerah tingkat II yang alah satu diantaranya ilah retribusi parkir. Meskipun bukan
penerima retribusi yang utama, namun retribusi pelayanan parkir kota malang memiliki peranan
yang cukup penting, yakni sebagai salah satu penyumbang dalam penerimaan retribusi daerah
pada khususnya dan PAD pada umumnya.
Perkembangan retribusi pelayanan parkir dan pendapatan asli daerah kota malang, rata-rata
pekembangan penerimaan pendapatan asli daerah 13,01% pertahun. Rata-rata perkembangan
penerimaan retribusi parkir menunjukan angka 31,39% pertahun. Retribusi pelayanan parkir
dapat ditingkatkan minimal sebesar 3,2 kali daan maksimal sebesar 4,32 kali.
Jumlah parkir dan juru parkir di kota malang pertumbuhan jumlah kendaraan roda dua maupun
roda empat makin berkembang selain itu, pemerintahan juga terus mencari titik-titik parkir yang
baru untuk mendapat PAD kabupaten malang. Pada tahun 2011, di kabupaten malang memiliki
jumlah lahan parkir di 354 titik dengan jumlah jukir sebanyak 707 orang. Kemudian 2012,
jumlah tiitik parkirnya ada sebanyak 534 titik parkir dengan jumlah jukir sebayak 983 orang.
Keberadaan parkir liar tampaknya semakin sulit diatasi. Buktinya dari 534 titik parkir yang
resmi, jumlah titik parkir liar di kota malang ternyata melebihi dari jumlah yang resmi dan
terdata dishub kota malang. Dishub sering mengalami kesulitan karenateratasnya tenaga mereka
di lapangan untuk menghalau parkir illegal.
Penataan parkir yang buruk serta pendapatan yang menguap, masalah parkir di kota malang
semakin mengkhawatirkan. Banyak juru parkir dan tempat parkir liar bermunculan. Selain itu,
banyak lahan parkir yang memakan badan jalan sehngga menimbulkan kemacetan alu lintas.
Kecaunya penataan parkir terlihat di sejumlah jalan yang menjadi langganan kemacetan akibat
lahan parkir di jalan raya. Lokasi diantarnya jlan pasar besar, kawi, MT haryono, ahmad yani dan
trunoyo. Kondosi ini semakin semakin memperburuk situasi lalu lintas di kota malang yang
memang suda sering mengalami kemacetan lalu lintas akibat minimnya lebar jalan.
Parkir sebagai peluang usaha lahan parkir bias dikelolah oleh pihak swasta maupun pemerintah.
Untuk parkir yang dikelolah oleh dinas perhubbungan kota malng mencapi 500titik. Dari jumlah
terebut tersebut telah menyerap sedikitna dua ribu tenaga kerja. Jumlah ini masih dimungkinkan
untuk bertambah meningkat kebutuhan akann lahan parkir yang teru meningkat. Sampai saat ini
parkir memang masih menjadi saah satu sector andalan pendongkrak pendapatan asli daerah
(PAD) kota malang. Tahun 2010, dishub kota malang meraup pendapatan sebesar rp 2 miliar dari
sector ini. Tingginya kebutuhan akan parkir diapresiasi oleh pemerintah kota malang dengan
mengeluarkan peraturan daerah nomor 4 tahun 2009 tentang pengelolaan tempat parkir.
Petugas parkir yang berkualitasn banyak orang yang mendaftarkan diri untuk menjadi juru parkir
hanyaa bermodal keberanian saja. Yang dibutuhkan masyarakat tidak hanya itusaja, tetapi
mereka yang berani bertanggung jawab atas kendaraan yang mereka jaga, megetahui metode
pemarkiran yang benar, serta mendapat surat izin dari pihak pemerintah yang bersangkutan.
Untuk mendapatkan hal itu perlu adanya pembinaan dari pemerintah dan meluluskan mereka
yang memang layak menjadi juru parkir dan melakukan pengawasan pada tempat dimana dia
beroprasi. Jika telah memenuhi kriteria, maka surat ijin akan diberikan. Dengan cara
iniketertipan lalu lintas, keamanan dan kenyamanan aka di dapatkan. Lakukanlah razia pada jukir
ann tidakmemiliki surat izin dan tidak patuh pada peraturan untuk mengurangi keresahan
dimasyarakat.

KESIMPULAN
Parkir merupakan kegiatan yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan sehari-hari, harus yang
benar-benar sehingga dalam memilih juru parkir yang berani bertanggung jawab atas kendaraan
yang mereka jaga, meengetahui metode pemarkiran yang benar, serta mendapatkan surat izin dari
pihak pemerintah yang bersangkutan. Jukir liar yang meresahkan masyarakat perlu diberikan
pengarahan dan pembinaan. Jika telah memenuhi kriteria maka surat ijin akan diberikan. Dengan
cara ini ketertipan lalu lintas, keamanan dan kenyamanan akan di dapatkan. Ada beberapa jenis
parkir yang dapat dipakai juru parkir untuk memarkir kendaraan. Tipe jenis parkir fungus yang
berbeda disesuaikan dengan lahan parkir yang ada dan dimana parkir itu berlangsung, sehingga
tidak kesulitan dalam prses parkir da nada jenis parkir untuk daerah tepi jalan agar tidak
mengganggu penggunna jalan yang lain. Banyak cara yang ditawarkan untuk meningkatkan
pelayanan parkir terhadap pemilik kendaraan erutama saat karcis diberikan. Dengan
menggunakan system karcis berlanggana dan mesin parkir diharapkan masalah karcis
berlangsung dan mesin parkir diharapkan masalah karcis dapat teratasi. Cara ini juga dapat
membantu petugas menjalankan tugasnya dengan baik. Hal yang paling penting dalam
pemarkiran adalah jaminan keamanan yang diberkan petugas pada pemilik kendaraan.
Kehilangan dan kerusakan yang terjadi saat berkendara di parkir merupakan tanggung jawab
petugas. Untuk kendaraan yang sulit di jangkau misaljkan di dalam gedung atau lahan parkir
yang luas dan petugas syang sedikit dapat mengawasi kamera CCTV atau pengintai yang
memudahkan petugas mengawasi kendaraan di area parkir.
DAFTAR PUSTAKA

Richard M. Bird dan francois Vaillanncourt, 2000, DesentralisasI Fiskal “di Negara-negara
berkembang”, Jakarta, PT Gramedia pustaka utama.

Mudrajad kuncoro, PhD, 2004, otonomi dan pembangunan daerah “ reformasi, perencanaan,
strategi, dan peluang”,Jakarta, Erlangga.