You are on page 1of 6

KINETIKA REAKSI ENZIM

Oleh
Ni Made Septiana Dewi Yustanti (1513031053)
Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Pendidikan Ganesha
Jalan Udayana Singaraja, Bali
e-mail: septianady97@gmail.com

ABSTRAK
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan Vmaks dan KM untuk waktu 20 menit dan 0 menit yang ditentukan
dengan menggunakan grafik hubungan antara laju reaksi enzimatis dan konsentrasi substrat. Metode yang
digunakan adalah metode eksperimen laboratorium dimana lima dari sepuluh tabung reaksi ini diberi waktu
inkubasi selama 20 menit dan lima tabung reaksi lainnya diberi waktu inkubasi selama 0 menit. Kemudian
dimasukkan larutan kasein, tripsin, buffer pospat dan TCA.. Hasil yang diperoleh adalah harga Vmaks dalam
reaksi enzimatis dengan menggunakan enzim tripsin dan substrat kasein sebesar 0.54mol/menit dan harga KM
sebesar 0.30 mg/mL
Kata Kunci : Kinetika, Enzim, KM, Vmaks

ABSTRACT

This experiment aims to determine Vmax and Km for 20 minutes and 0 min were determined by using charts the
relationship between the rate of enzymatic reaction and substrate concentration. The method used is the method
of laboratory experiments which five of the ten test tubes are given incubation for 20 minutes and five others
were given test tube incubation for 0 min. Then solution of casein, trypsin, phosphate buffer and TCA are
poured into test tube. The result is the price of Vmax in the enzymatic reaction using the enzyme trypsin and
casein substrate of 0,54 μmol / min and KM price of 0,30 mg / mol.
Keywords: Kinetics, Enzyme, KM ,Vmaks

PENDAHULUAN

Enzim merupakan suatu protein yang Pada kinetika reaksi enzim akan
mempunyai struktur tiga dimensi tertentu yang ditentukan Vmax dan KM dengan menggunakan
mampu mengkatalisis reaksi biologik. Enzim kurva hubungan antara laju enzimatis dengan
dapat meningkatkan laju reaksi karena dengan konsentrasi substrat. Dimana konsentrasi
adanya enzim maka reaksi yang terjadi substrat ini diperoleh pengukuran %T melalui
mempunyai energi aktivasi yang rendah spektrofotometer20+ dimana %T akan diperoleh
daripada energi biasanya. Enzim membantu absorbansi dan dari absorbansi tersebut dapat
reaksi dalam menyediakan jalur reaksi yang dicari konsentrasinya. Dari hubungan antara
memiliki energi aktivasi lebih rendah untuk konsentrasi substrat dan laju reaksi akan dapat
transisi substrat menjadi produk dibandingkan ditentukan nilai Vmax dan KM (Tika,2010).
dengan proses tanpa katalis, sehingga enzim
Laju reaksi awal (V0) dari reaksi yang
disebut sebagai katalisator.
dikatalisis oleh enzim meningkat dengan
Enzim sebagai katalisator mempunyai bertambahnya konsentrasi substrat hingga
sifat-sifat seperti katalis pada umumnya. tercapai keadaan dimana penambahan substrat
Enzim ikut bereaksi namun pada akhir reaksi hingga tercapai keadaan dimana penambahan
enzim kembali dalam bentuk semula. Hal substrat tidak lagi meningkatkan laju reaksi
tersebut mengakibatkan enzim dapat dipakai awl. Keadaan dimana penambahan substrat
kembali setelah melaksanakan aktivitasnya pada laju reaksi awal (V0) dicapai pada kondisi
sehingga tubuh tidak memerlukan enzim substrat jenuh. Hal ini dapat dijelaskan dengan
dalam jumlah besar. Jumlah atau kadar enzim postulat reaksi sebagai berikut dimana E,S,
yang kecil tersebut menimbulkan kesulitan dan P masing-masing adalah enzim, substrat,
tersendiri untuk mengukur kadar enzim. dan produk reaksi.
Secara klinis, pengukuran kadar enzim sangat
penting untuk dilakukan (Tika,2010).
k1 k3
E+S ES E+P
k2 k4
reaksi berlangsung melalui menurunkan persamaan yang menggambarkan
pembentukan kompleks-kompleks enzim- hubungan antara laju reaksi awal dan
substrat [ES]. Kompleks ES dapat berdisosiasi konsentrasi substrat. Persamaannya adalah:
lagi untuk membentuk enzim ataupun substrat
atau membentuk enzim dan produk. Konstanta
kecepatan k1,k2,k3 menunjukkan kecepatan 𝑉𝑚𝑎𝑥 [𝑆]
𝑉0 =
yang berhubungan dengan masing-masing 𝐾𝑀 + [𝑆]
tahap katalitik. Dari pengamatan terhadap
beberapa sifat enzim diketahui bahwa Dalam persamaan ini (Vmax) dan (V0) adalah
kecepatan awal (V0) pada konsentrasi substrat laju maksimum dan laju awal reaksi. [S]
yang rendah akan berbanding lurus dengan adalah konsentrasi substrat dan (KM) adalah
[S]. Namun pada kondisi dimana kecepatan konstanta Michaelis dan Menten yang
substrat yang tinggi, maka akan memiliki nilai rumusnya
maksimum dimana kecepatan tidak lagi 𝑘2 + 𝑘3
bergantung pada substrat. Bila semua enzim 𝐾𝑀 =
𝑘1
berada dalam keadaan ES (enzim dijenuhkan
oleh substrat) maka laju reaksi akan mencapai Sering (KM) didefinisikan sebagai tetapan
nilai maksimum Vmax. Kecepatan disosiasi disosiasi reaksi yang dikatalisis oleh enzim.
produk dari enzim dan penambahan substrat Pada reaksi sederhana dapat dilihat:
lebih lanjut tidak akan mempengaruhi (V0)
(Redhana & Maryam, 2004).
k2 [E ][S ] k2
ES k1 E + S maka K s =[E S ] = k1

k2  k3
Karena KM adalah maka Ks =
k1
k2  k3
k1
Jadi KM akan selalu sama atau lebih besar
daripada Ks. Dilihat dari persamaan:
Vmaks [S] 1  K  1 1
V maka   M  
K M  [S] V  Vmaks  [S] Vmaks
Gambar 1. Hubungan konsentrasi substrat dan
Vo plot langsung Persamaan diatas identik dengan persamaan
garis lurus y = ax + b
Michaelis dan Menten menyatakan Dengan
1 1 K 1
bahwa reaksi enzimatis pada berbagai y= ;x ; a  M dan b 
konsentrasi substrat mengalami dua fase; 1) V [S] Vmaks Vmaks
ketika [S] rendah, daerah enzim tidak
semuanya terikat oleh enzim;2) pada [S]
tinggi, sisi aktif yang terikat seluruhnya
dengan substrat. Pada saat ini enzim telah METODE
bekerja dengan kapasitas penuh (Wirahadi
Kusuma,2001). Alat dan bahan
Kemudian Briggs dan Heldane Alat-alat yang digunakan dalam
menggunakan skema reaksi diatas untuk percobaan ini adalah tabung reaksi,
spektronik20+, gelas kimia 100mL, inkubator
air, sentrifuge, pipet volume 5mL dan 10mL, reaksi enzim ini ditentukan dengan harga Vmaks
batang pengaduk, pipet tetes, spatula, kaca dan Km. Harga Vmaks dan Km ini ditentukan
arloji dan pemanas magnetik. dengan cara membuat grafik hubungan antara
laju reaksi terhadap konsentrasi substrat.
Bahan-bahan yang digunakan adalah
Dalam percobaan ini yang digunakan sebagai
larutan TCA (Trichloro Asetat) 20%, larutan
substrat adalah kasein dan sebagai enzim
kasein 1%, larutan buffer fosfat 0,1 M (pH 8),
digunakan tripsin. Tripsin merupakan enzim
larutan tripsin, larutan NaOH 0,5M, dan
proteolitik, enzim ini mengkatalisis hidrolisis
reagen folin-ciocalteu.
ikatan pepetida, dimana ikatan peptida yang
Prosedur Kerja dipecah dalam substrat kasein terletak pada
sisi karboksil dari residu lisin atau arginin
Waktu inkubasi 20 menit (t=20 menit)
yang bermuatan.
Sebanyak 5 mL larutan kasein 1% Sebelum dilakukan pengujian terlebih
diinkubasi dalam tabung reaksi selama 5 menit dahulu disedikan sepuluh tabung reaksi yang
pada 35oC, kemudian ditambahkan larutan telah diisi dengan larutan kasein, tripsin dan
buffer pospat dan larutan tripsin sambil diaduk buffer asetat dengan konsentrasi yang berbeda-
perlahan-lahan. Kemudian diinkubasi selama beda. Kemudian diberi dua macam perlakuan
20 menit pada penangas air dengan suhu 35oC berbeda. Lima dari sepuluh tabung reaksi
dihitung mulai enzim ditambahkan. Reaksi diberikan waktu inkubasi 0 menit dan lima
dihentikan dengan 3 mL penambahan larutan tabung reaksi lainnya diberi perlakukan
TCA 20% yang disertai dengan pengadukan inkubasi selama 20 menit.
yang kuat. Selanjutnya, didiamkan selama 30 Kemudian untuk tabung reaksi dengan
menit dalam air es agar pengendapan protein perlakuan inkubasi selama 20 menit, terlebih
dan tripsin dapat berlangsung dengan dahulu dilakukan inkubasi awal selama 5
sempurna. Setelah itu, larutan disentrifugasi menit pada suhu 35oC. Tujuan dari proses
selama 10 menit lalu disaring. Filtrat yang inkubasi ini adalah untuk mengkondisikan
diperoleh lalu dikerjakan menurut metode substrat pada suhu yang optimal (35oC).
Anson, dimana filtrate diambil sebanyak 2 mL Setelah itu ditambahkan dengan buffer pospat
lalu ditambahkan 4 mL NaOH 0,5 M dan (pH =8,0) dan larutan tripsin. Penambahan
reagen cioceltau. Kemudian didiamkan selama larutan tripsin ini bertujuan untuk
10 menit. Masing-masing larutan yang berada mengkatalisis reaksi hidrolisis ikatan peptida
pada tabung reaksi diukur absorbansinya yang ada pada kasein. Larutan selanjutnya
dengan menggunakan spektrofotometer. diinkubasi selama 20 menit, dimana pada
inkubasi ini memungkinkan terikatnya enzim
Waktu inkubasi 0 menit (t= 0 menit) tripsin dengan substrat. Setelah proses
Ke dalam tabung reaksi dimasukkan inkubasi selesai dilakukan, barulah pada
larutan buffer dan larutan enzim. Kemudian larutan ditambahkan larutan TCA 20% dan
ditambahkan 3 mL larutan TCA 20% lalu disertai dengan pengadukan. Tujuan dari
diaduk kuat dan terakhir ditambahkan larutan penambahan larutan TCA ini adalah untuk
kasein 1% sebanyak 5 mL. Kemudian, menghentikan aktivitas enzim tersebut
diinkubasi selama 20 menit pada penangas air sehingga dapat dianalisis pengaruh konsentrasi
dengan suhu 35oC dihitung mulai enzim substrat terhadap laju reaksi enzimatis.
ditambahkan. Setelah itu, diambil sebanyak 2 Terhentinya aktivitas enzim karena
mL filtrat kemudian ditambahkan 4 mL NaOH penambahan TCA ini dibuktikan dengan
0,5 mL lalu ditambahkan reagen folin- terbentuknya endapan coklat pada kelima
cioceltau dan diamkan selama 10 menit. tabung reaksi ini. Endapan yang terbentuk
Selanjutnya, masing-masing larutan dalam merupakan hasil denaturasi protein dari kasein
tabung diukur absorbansinya dengan dan enzim tripsin. Kemampuan TCA untuk
menggunakan alat spektrofotometer. menghentikan aktivitas enzim ini disebabkan
karena larutan TCA bersifat asam sehingga
mampu menurunkan pH larutan sehingga
HASIL DAN PEMBAHASAN mampu mendenaturasi protein baik pada
Dalam percobaan ini dilakukan tripsin maupun kasein.
pengujian kinetika reaksi enzim. Kinetika Setelah endapan terbentuk, larutan
disentrifugasi selama 10 menit dan kemudian
dilakukan penyaringan. Sebanyak 2mL filtrat tirosin yang ada pada filtrat menghasilkan
diambil dan ditambahkan 4mL larutan NaOH tungstat. Setelah itu dilakukan pengukuran
0,5mL serta reagen folin-ciocalteu. Reagen ini absorbansi dengan spektronik20+.
direduksi oleh gugus fenolik pada asam amino

(2a) (2b)
Gambar 2. (2a) Filtrat dengan waktu inkubasi 20 menit setelah ditambahkan NaOH dan reagen
Folin-Ciocalteu berwarna biru bening; (2b) pengujian larutan dengan alat spektronik20+
Mengenai larutan dengan waktu inkubasi barulah kemudian ditambahkan
inkubasi selama 0 menit, ada sedikit perbedaan larutan kasein dengan volume berbeda-beda.
dalam prosedur kerjanya. Dimana 5 tabung Kemudian dilakukan penambahan NaOH
reaksi terlebih dahulu ditambahkan larutan dengan reagen folin-ciocalteu dan dilakukan
buffer fosfat kemudian larutan tripsin dan pengukuran absorbansi dengan menggunakan
larutan TCA. Setelah mengalami proses spektronik20+.
Tabel 1. Harga absorbansi dan ΔA pada tabung t= 20 dan t= 0

Tabung ke- Waktu (menit) A ΔA

1 20 0, 230 0, 175
0 0, 055
2 20 0, 440 0, 380
0 0,060
3 20 0, 513 0, 440
0 0, 073
4 20 0, 607 0, 488
0 0, 119
5 20 0, 687 0, 562
0 0, 125

Dari data di atas dapat dihitung nilai 1/V0 1/V0 = 2, 049


pada setiap tabung  Tabung 5 : 1/A = 1/V0; 1/0, 562= 1/V0
 Tabung 1 : 1/V0 = 1, 779
1/A = 1/V0; 1/0, 175 = 1/V0 Kemudian, konsentrasi kasein di setiap
1/V0 = 5, 714 tabung adalah sebagai berikut.
 Tabung 2 : 1/A = 1/V0; 1/0, 380= 1/V0 1,00gram
1/V0 = 2, 631 [Casein] = = 0.01 gr/mL
100 mL
 Tabung 3 : 1/A = 1/V0; 1/0.440= 1/V0
= 10mg/mL
1/V0 = 2, 272
 Tabung 4 : 1/A = 1/V0; 1/0, 488= 1/V0
 Tabung 1 : V1 = 0.1 mL ; V2 = 7 mL ; M1 = 1.0 mL x 10 mg/mL
10 mg/mL M2= 1,428mg/mL
7 mL
M2=
[S] = 1, 428, jadi 1/[S] = 0,700
0.1 mL x 10 mg/mL
 0,1428mg/mL  Tabung 4 : V1 = 3.0 mL ; V2 = 7 mL ; M1
7 mL = 10 mg/mL
[S] = 0, 1428 jadi 1/[S] = 7, 042 M2=
 Tabung 2 : V1 = 0.5 mL ; V2 = 7 mL ; M1 3.0 mL x 10 mg/mL
= 10 mg/mL  4,285mg/mL
7 mL
M2=
[S] = 4, 285 jadi1/[S] = 0, 233
0.5 mL x 10 mg/mL
 0,714mg/mL  Tabung 5 : V1 = 5.0 mL ; V2 = 7 mL ; M1
7 mL = 10 mg/mL
[S] = 0, 714 jadi 1/[S] = 1, 401 M2=
 Tabung 3 : V1 = 1.0 mL ; V2 = 7 mL ; M1 5.0 mL x 10 mg/mL
= 10 mg/mL  7,142mg/mL
7 mL
[S] = 7,142, jadi 1/[S] = 0.140

Table 2. Data 1/[Vo] dan 1/[S]


Tabung 1/[Vo] 1/[S]
1 5,714 7,042
2 2,631 1,401
3 2,272 0,700
4 2,049 0,233
5 1,779 0,040

1 1
Berdasarkan data dari tabel 2. Maka dapat dibuat kurva hubungan dan
[S] Vo .

kurva hubungan antara 1/V0 dengan 1/[S]


7
6 y = 0.5488x + 1.8555
R² = 0.9985
5
4
1/v0 Series2
3
Linear (Series2)
2
Linear (Series2)
1
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
1/[S]

Gambar 3. Kurva hubungan antara 1/Vo dan 1/[S]


Kurva di atas menghasilkan persamaan garis Lineweaver-Burk, maka nilai dari 1/Vmax,
lurus dengan y = 0,5488x+1,855 dengan R = 1/[S], dan -1/Km dapat ditentukan.
0.9985. kemudian, dengan mengkombinasikan 1  KM  1 1
garis lurus tersebut dengan persamaan    
Vo  Vmaxs  [S] Vmax
1 2. Harga Km untuk reaksi enzimatis dengan
Nilai dari pada x = 0, enzim tripsin dan substrat kasein dengan t
Vmax
= 0 menit dan t = 20 menit adalah 0.30
y = 0,5488x+1,855 mg/mL dan harga Vmaks sebesar 0.54
y 0,5488 (0)+1,855 mol/menit
1
y = 1,855, = 1,855
Vmax
UCAPAN TERIMAKASIH
jadi Vmax = 0.54 mol/menit
jika y=0, maka Ucapan terima kasih penulis sampaikan
y = 0,5488x+1,855 kepada Dr. I Nyoman Tika, M.Si., dan I Dewa
0 = 0,5488x+1,855 Subamia selaku laboran di Jurusan Pendidikan
-0,5488 = 1,855 Kimia atas masukan dan sarannya sehingga
x = -3,380 percobaan ini dapat dilaksanakan dengan baik.
1
- = -3,380
KM
DAFTAR PUSTAKA
jadi 𝐾𝑀 = 0,30𝑚𝑔/𝑚𝐿
Redhana, I Wayan dan Siti Maryam. 2003.
Penuntun Praktikum Biokimia.
SIMPULAN Singaraja : IKIP Negeri Singaraja
Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka
Tika, I Nyoman. 2010. Penuntun
dapat disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut : Praktikum Biokimia. Singaraja:
1. Kinetika reaksi enzim dapat dipelajari dan Universitas Pendidikan Ganesha
ditentukan dengan menentukan harga Km
dan Vmaks