You are on page 1of 24

27

BAB III

PELAYANAN RESEP DI APOTEK

III.1 Resep Antibiotik dan Narkotika


28

III.1.1 Uraian Resep

1. Sanprima 480 (6)

Komposisi:

Setiap tablet mengandung Trimetoprim 80 mg, dan Sulfametoksazol

400 mg.

Indikasi:

Infeksi saluran nafas, saluran pencernaan, saluran kemih & kelamin,

kulit, & septikemia (keracunan darah oleh bakteri patogenik dan atau

zat-zat yang dihasilkan oleh bakteri tersebut).

Kontraindikasi:

Gangguan fungsi hati atau ginjal yang parah, hipersensitivitas terhadap

Sulfonamida, diskrasia darah. Terhadap ibu hamil & menyusui. Bayi

berusia kurang dari 2 bulan.

Peringatan dan Perhatian:

Pasien yang kekurangan Asam Folat, keadaan nutrisi yang buruk.

Lansia dan pasien dengan penurunan fungsi ginjal.

Efek samping:

Gangguan saluran pencernaan

Bentuk Sediaan:

Tablet 480 mg
29

Dosis:

Dewasa & anak berusia lebih dari 12 tahun : 2 kali sehari 1 tablet.

Mekanisme kerja:

Dengan menghambat reaksi enzimatik pembentukan asam

tetrahidrofolat

Interaksi obat:

- Efek dikurangi oleh PABA (asam para amino benzoat) dan anestesi

lokal tipe Prokain serta dipertinggi oleh obat-obat yang berikatan

tinggi

- Bisa mempotensiasi efek Metotreksat, Warfarin, Sulfonilurea.

Penyimpanan:

Dalam wadah tertutup rapat.

2. Codein (6)

Komposisi :

Tiap tablet Codein 10 mg mengandung : Kodein fosfat hemihidrat setara

dengan kodein 10 mg.

Tiap tablet Codein 15 mg mengandung : Kodein fosfat hemihidrat setara

dengan kodein 15 mg.

Tiap tablet Codein 20 mg mengandung : Kodein fosfat hemihidrat setara

dengan kodein 20 mg.


30

Farmakologi :

Codein merupakan analgetik agonis opioid. Efek kodein terjadi apabila

kodein berikatan secara agonis dengan reseptor opioid di berbagai

tempat di susunan saraf pusat. Efek analgesic kodein tergantung

afinitas kodein terhadap reseptor opioid tersebut. Kodein dapat

meningkatkan ambang rasa nyeri dan mengubah reaksi yang timbul di

korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima dari thalamus.

Kodein juga merupakan antitusif yang bekerja pada susunan saraf pusat

dengan menekan pusat batuk.

Indikasi :

Antitusif dan Analgetik

Kontraindikasi :

Asma bronchial, emfisema paru-paru, trauma kepala, tekanan

intracranial yang meninggi, alkoholisme akut, setelah operasi saluran

empedu.

Dosis :

Sebagai analgetik :

 Dewasa : 30 – 60 mg, tiap 4 – 6 jam sesuai kebutuhan.

 Anak-anak : 0,5 mg/kg BB, 4-6 kali sehari


31

Sebagai antitusif :

 Dewasa : 10-20 mg, tiap 4-6 jam sesuai kebutuhan, maks

60 mg perhari.

 Anak 6-12 tahun : 5-10 mg, tiap 4-6 jam, maks 60 mg perhari.

 Anak 2-6 tahun : 1 mg/kg BB perhari dalam dosis terbagi,

maksimum 30 mg perhari.

Sebagai antitusif tidak dianjurkan untuk anak di bawah 2 tahun.

Efek Samping :

 Dapat menimbulkan ketergantungan.

 Mual, muntah, pusing, sembelit

 Depresi pernafasan terutama pada penderita asma, depresi jantung

dan syok.

Peringatan dan Perhatian :

 Hati-hati penggunaan pada pasien dengan infark miokardial dan

penderita asma.

 Hindari minuman beralkohol

 Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan karena dapat

menyebabkan kerusakan fungsi hati.

 Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita penyakit ginjal.

 Hati-hati pada pemberian jangka panjang.


32

Interaksi Obat :

 Hendaknya hati-hati dan dosis dikurangi, apabila digunakan

bersama-sama dengan obat-obat depresan lain, anestetik, sedative,

hipnotik dan alkohol.

 Dekstroamfetamin dapat menghambat efek analgetik opiate agonis.

 Jangan diberikan bersama-sama dengan penghambat MAO dan

dalam jangka waktu 14 hari setelah pemberian penghambat MAO.

3. Mucohexin (8)

Komposisi :

Setiap tablet mengandung 8 mg bromheksin HCl / Bromhexin HCl

Indikasi :

Sebagai peluruh dahak (ekspektoran), bronchitis dan saluran pernafasan

lainnya.

Efek samping :

Kadang-kadang terjadi efek pada saluran pencernaan dan peningkatan

nilai aminotransferase dalam serum yang bersifat sementara.

Dosis :

 Dewasa dan anak berusia lebih dari 10 tahun : 3 kali sehari 1 tablet.
33

 Anak berusia 5 – 10 tahun : 3 kali sehari ½ tablet.

 Anak berusia 2 – 5 tahun : 2 kali sehari ½ tablet.

4. Histapan (9)

Komposisi :

Setiap tablet mengandung 50 mg Mebhydrolin

Indikasi :

Dugunakan untuk pengobatan terhadap penyakit alergi

Efek samping :

Mengantuk, gangguan lambung – usus, efek antimuskarinik, kelemahan

otot, hipotensi, sakit kepala, perangsangan pada saraf pusat, reaksi

alergi, kelainan darah.

Dosis :

 Dewasa : 100 – 300 mg

 Anak-anak : 100 – 200 mg

Perhatian :

Glaukoma sudut sempit, kehamilan, retensi urin, pembesaran prostat,

hindari mengemudikan kendaraan.


34

Interaksi :

Alkohol, depresan susunan saraf pusat, antikolinergik, penghambat

MAO.

5. Cefat Syrup (10)

Komposisi :

Setiap botol mengandung 125 mg/5 ml Cefadroxil monohidrat

Indikasi :

Infeksi saluran nafas, kulit dan jaringan lunak, ISK dan infeksi kelamin,

arthritis, sepsis puerperium.

Efek samping :

Gangguan gastro intestinal, reaksi hipersensitif.

Dosis ;

 Dewasa : 1 – 2 g/hari terbagi dalam 2 dosis tiap 12 jam

 Sistitis : 1 – 2 g/hari

 ISK : 2 g/hari terbagi dalam 2 dosis

 ISPA : 1 g/hari

 Anak-anak : 25 – 50 mg/kg BB/hari terbagi dalam 2 dosis.

Perhatian :

Gangguan fungsi ginjal, colitis, alergi penisilin

Interaksi obat :

Aminoglikosida, diuretik poten dan probenesid.


35

III.1.2 Skrining Resep

III.1.2.1 Kelengkapan Resep

Tabel III.1 Kelengkapan resep

Kelengkapan Ada Tidak Ada Keterangan


Nama Dokter √ - Dr. Arthur Koswandi
SIP √ - 677/01/DU/DKK/III/2007
Alamat Dokter √ - Jl. Pongtiku No 110 A
No.Telp/Hp √ - (0411) 452414
Tempat dan Tanggal
√ - Makassar, 05 Maret 2014
Penulisan Resep
Paraf/Tanda Tangan
√ - Tercantum
Dokter
Nama Pasien √ - Adrian
Umur Pasien - √ -
Alamat Pasien - √ -
Bobot Badan - √ -
No.Telp/Hp Pasien - √ -

R/ Sanprima 480 ¼ tab


HCl Codein 4 mg
Mucohexin ¼ tab
Nama dan Jumlah Obat √ -
Histapan ¼ tab
Sach lact qs
m.f.pulv dtd No.XV
R/ Cefat Syr No I
- Racikan : 3 dd 1 (3 kali
sehari 1 bungkus)
Aturan Pakai √ - - Cefat sirup
3 dd cth 1 (3 kali sehari 1
sendok the)
36

III.1.2.2 Kesesuaian Farmasetik

1. Bentuk Sediaan

 Racikan mengandung Sanprima ¼ tablet, Codein 4 mg, Mucohexin ¼

tablet, Histapan ¼ tablet dan Sacharum Lactis secukupnya.

Bentuk sediaan yang diberikan dokter kepada pasien yaitu sediaan

puyer sudah sesuai dengan umur pasien yang akan menerima obat

tersebut.

 Cefat sirup 125 ml, bentuk sediaan sirup kering.

2. Dosis

Berdasarkan resep tersebut, dosis obat yang diberikan sudah

sesuai karena tidak ada yang melebihi dosis lazim dan dosis maksimum

obat .

3. Stabilitas dan Penyimpanan

Obat racikan sebaiknya disimpan pada suhu kamar (15-30)oC dan dry

sirup disimpan ditempat sejuk dan hindari dari kelembaban.

4. Cara dan lama pemberian

Berdasarkan resep tersebut, racikan puyer diberikan sebanyak 15

bungkus untuk penggunaan selama 5 hari diminum sebanyak 3 kali

sehari 1 bungkus sesudah makan. Obat Cefat sirup diberikan 1 botol dan

diminum sampai habis sebanyak 3 kali sehari 1 sendok teh sesudah

makan.
37

III.1.3 Perhitungan Dosis

 DM Codein (60 / 300 mg)

Umur pasien : 3 Tahun


𝑛
Perhitungan : 𝑛+12 x DM

3
: x 60/300 mg = 12 mg/60 mg
3+12

Takaran Pemakaian

1 x pakai : 1 x 4 mg = 4 mg < 12 mg

Sehari : 3 x 4 mg = 12 mg < 60 mg

% 1 x pakai : 4mg / 12 mg x 100% = 33,33 %

(Tidak melebihi dosis maksimum)

% sehari pakai : 12 mg / 60 mg x 100% = 20 %

(Tidak melebihi dosis maksimum)

Perhitungan Bahan

 Obat racikan :

Sanprima : ¼ tab x 15 = 3,75 tab = 3 3/4 tab

Codein : 60 mg = 3 tab a 20 mg

Mucohexin : ¼ tab x 15 = 3,75 tab = 3 3/4 tab

Histapan : ¼ tab x 15 = 3,75 tab = 3 3/4 tab

III.1.4 Pertimbangan Klinis

1. Berdasarkan obat yang diberikan dokter dapat disimpulkan bahwa

paien menderita batuk disertai flu atau infeksi saluran nafas.


38

2. Pasien diresepkan racikan yang berisi sanprima yang merupakan

oabat golongan sulfa yang memiliki efek yang sama dengan

antibiotik yang berkhasiat untuk infeksi saluran nafas dan berisi

narkotika yaitu codein yang berkhasiat untuk mengobati batuknya.

3. Dalam racikan terdapat codein yang berkhasiat untuk mengobati

batuk kering sedangkan mucohexin yang berkhasiat untuk

mengobati batuk berdahak yang mana efeknya berlawanan.

Sebaiknya dipilih salah satu obat saja apakah codein atau

mucohexin tergantung diagnosis dari dokter atau keadaan pasien.

4. Pasien diberi Cefat sirup yang berkhasiat untuk infeksi saluran

nafas, dimana cefat sirup dan sanprima memiliki efek sinergis untuk

infeksi saluran nafas.

5. Sebaiknya Sanprima tidak diracik bersama obat lain (diracik

tersendiri) karena Sanprima termasuk golongan sulfa yang efeknya

seperti antibiotik yaitu diminum sampai habis.

III.1.5 Penyiapan dan Pembuatan

Obat Racikan

1. Penghalus elektrik (blender) dibersihkan.

2. Disiapkan bahan sesuai perhitungan kemudian dimasukkan ke

dalam blender untuk dihaluskan.


39

3. Setelah halus dikeluarkan dan dibagi menjadi 15 bagian, lalu

dimasukkan ke dalam pembungkus puyer.

4. Dimasukkan ke dalam sak obat, dan diberi etiket.

Obat Non racikan

 Cefat sirup

- Disiapkan obat Cefat dry sirup sebanyak 1 botol.

- Ditambah air sebagian

- Dikocok hingga homogen

- Ditambah air hingga batas tanda

- Dikocok kembali hingga homogen

III.1.6 Etiket

Apotek Kimia Farma No 199 (Erlina) Apotek Kimia Farma No 199 (Erlina)
Jl. Urip Sumoharjo No.32 Tlp.449936 MKS Jl. Urip Sumoharjo No.32 Tlp.449936 MKS
Apoteker:Dra. Hj. Rena Bachtiar, Apt. Apoteker:Dra. Hj. Rena Bachtiar, Apt.

No 001 Tgl 5/3/2014 No 001 Tgl 5/3/2014

Adrian Adrian
3 x sehari 1 tab/caps/bks 3 x sehari 1 tab/caps/bks
Sendok teh/ makan Sendok teh/makan
Sebelum / sesudah makan Sebelum / sesudah makan
(Kocok dahulu)
(Habiskan)

Etiket Racikan Etiket dry sirup


40

III.1.7 Copy Resep

UNIT BISNIS MAKASSAR


APOTEK KIMIA FARMA NO 199 ERLINA
JL. Urip Sumohardjo No 32 Telp (0411)449936 Makassar
Apoteker : Dra, Hj. Rena Bachtiar, Apt
SIA : 440/148-06/APT/PSDK-DKK/III/2012

COPY RESEP

Salinan dari resep No 001…… Tgl 25/03/2014….


Dari Dr : Dr. Arthur Koswandi
Dibuat tgl : 25/03/2014
Untuk : Adrian

R/ Sanprima 480 ¼ tab


Codein 4 mg
Mucohexim ¼ tab
Histapan ¼ tab
Sach Lact qs

M.f pulv dtd No XV


S 3 dd 1
det=
R/ Cefat syr No I
S 3 dd cth 1

det=

P.c.c

ttd
41

III.1.8 Penyerahan Obat

Sebelum menyerahkan obat kepada pasien, apoteker harus kembali

mengecek kesesuain nama dokter, nama pasien, alamat, umur, obat (bentuk

sediaan, dosis, jumlah obat), aturan pakai dan etiket. Hal ini untuk mencegah

terjadinya kesalahan dalam pemberian obat.

Komunikasi, informasi dan edukasi yang harus diberikan kepada pasien

atau keluarga pasien pada saat penyerahan obat adalah :

a. Obat Racikan: Diinformasikan kepada pasien obat racikan di minum

secara teratur, sesuai dosis dan aturan pakai yaitu 3 x sehari 1 bungkus,

sesudah makan. Diinformasikan pula kepada pasien bahwa obat racikan

indikasinya adalah untuk meredakan batuk, yang disertai dengan infeksi

saluran pernafasan.

b. Obat Cefat Dry Syrup: Diinformasikan kepada pasien obat Cefat dry syrup

merupakan antibiotic yang harus diminum secara teratur, sesuai dosis dan

aturan pakai yaitu 3 x sehari 1 sendok teh sesudah makan. Diinformasikan

pula bahwa obat Cefat harus diminum samapai habis.

c. Diinformasikan kepada pasien bahwa jangan terlalu sering melakukan

aktivitas berat dan banyak beristirahat.

d. Diinformasikan kepada pasien bahwa semua obat yang diberikan di

simpan di tempat kering (tidak lembab) dan tertutup rapat (tidak terkena

cahaya matahari langsung).


42

e. Diinformasikan kepada pasien untuk mengkonsultasikan penyakitnya

kembali ke dokter jika obat dalam resep telah habis tetapi belum sembuh.

f. Diinformasikan kepada pasien untuk tidak mengcopy resep dan

menebusnya kembali setelah habis tanpa memberitahukan terlebih dahulu

kepada dokter yang bersangkutan serta jangan menghentikan konsumsi

obat secara mendadak.


43

III.2 Resep Obat Psikotropik


44

III.2.1 Uraian Resep

1. Alprazolam 1 mg (6,11)

Komposisi:

Setiap tablet mengandung alprazolam 1 mg

Indikasi:

Sebagai obat anti ansietas

Kontraindikasi:

- Pasien yang hipersensitif terhadap golongan benzodiazepim

- Glaukoma sudut sempit akut

Peringatan dan Perhatian:

Hati-hati bila diberikan kepada ibu hamil dan menyusui, penderita

penyakit hati dan ginjal kronis, penyakit respirasi, kelemahan otot dan

riwayat penyalahgunaan obat atau alkohol..

Efek samping:

Menimbulkan ketergantungan jika digunakan dalam jangka panjang,

depresi, mengantuk, gangguan berbicara, lelah, sakit kepala,

hiperresponsif, kepala terasa ringan, gangguan ingatan.

Bentuk Sediaan:

Tablet 0,5 mg dan tablet 1 mg


45

Dosis:

Dewasa : 0,25 – 0,5 mg 3 kali sehari. Jika perlu dosis dapat dinaikkan

dengan interval 3 – 4 hari hingga maksimum 4 mg sehari dalam dosis

terbagi.

Mekanisme kerja:

Berikatan dengan reseptor benzodiasepin pada saraf post sinap GABA di

beberapa tempat di susunan saraf pusat. Peningkatan efek permeabilitas

terhadap ion klorida yang menyebabkan terjadinya hiperpolarisasi dan

stabilisasi.

Interaksi obat:

Dengan obat lain: antifungi golongan azol, siproflokasasin, diklofenak,

doksisiklin, eritromisin akan meningkatkan efek alprazolam.

Penyimpanan:

Simpan di ruangan dengan suhu 15 – 30o C


46

III.2.2 Skrining Resep

III.2.2.1 Kelengkapan Resep

Table III.2 Kelengkapan resep

Tidak
Kelengkapan Ada Keterangan
Ada
Nama Dokter √ - Dr. Robert. V. Philips, MARS
SIP √ - 446/698.03/DU.SIP.1/DKK/I/2012
Alamat Dokter √ - Jl. G.Latimojong no 27
No.Telp/Hp √ - 0411-3624148
Tempat dan Tanggal
√ - Makassar, 25 Maret 2014
Penulisan Resep
Paraf/Tanda Tangan
√ - Tercantum
Dokter
Nama Pasien √ - Nn. Agustina Rabing
Umur Pasien √ - 49 thn
Alamat Pasien - √ -
Bobot Badan - √ -
No.Telp/Hp Pasien - √ -
Nama dan Jumlah R/ Alprazolam 1 mg no xxx
√ -
Obat
Aturan Pakai √ - 1 kali sehari 1 tablet sebelum tidur

Berdasarkan resep tersebut, terdapat kekurangan dalam hal persyaratan

administratif antara lain:

1) Tidak dicantumkan Bobot badan dan nomor telepon pasien. Tidak perlu

dikonfirmasikan kepada dokter, apoteker bisa menanyakan langsung

kepada pasien atau keluarga pasien, hal ini diperlukan karena resep

tersebut mengandung obat psikotropika.

2) Tidak dicantumkan waktu penggunaan obat sebelum atau sesudah makan,

agar obat dapat berefek optimal.


47

III.2.2.2 Kesesuaian Farmasetik

1) Bentuk sediaan

Bentuk sediaan obat pada resep yaitu :

a) Alprazolam 1 mg bentuk sediaan tablet.

2) Dosis obat

Berdasarkan resep tersebut, dosis obat yang diberikan tidak sesuai

karena dosis obat yang rasional untuk orang dewasa adalah : 0,25 – 0,5

mg 3 kali sehari. Namun, yang tercantum dalam resep pasien diberikan 1

mg setiap jam. Jadi dapat disimpulkan bahwa dosis obat melibihi dosis

maksimum.

3) Stabilitas dan penyimpanan

Semua obat disimpan pada suhu 15-30oC dan hindari dari kelembaban.

4) Cara dan lama pemberian

a. Berdasarkan resep tersebut alprazolam 1 mg diberikan sebanyak 30

tablet untuk penggunaan selama 30 hari, diminum sebanyak 1 kali

sehari 1 tablet setiap jam. Dilihat dari aturan pakai tersebut,

kemungkinan dokter keliru dalam penulisan aturan pakainya.

Kemungkinan yang di maksud adalah 1 kali sehari 1 tablet tiap malam

karena waktu paruh dari alprazolam yaitu 12-15 jam, jadi sebaiknya

apoteker mengkonfirmasi ke dokter tentang hal tersebut.


48

III.2.3 Pertimbangan Klinis

a. Berdasarkan obat-obat yang dituliskan dokter di dalam resep dapat

disimpulkan bahwa pasien menderita penyakit depresi.

b. Pasien diresepkan alprazolam yang berfungsi sebagai obat penenang.

III.2.4 Penyiapan dan Pembuatan Resep

a. Peracikan

1) Perhitungan Bahan

Alprazolam : 30 tablet

2) Penyiapan dan Pengemasan

 Alprazolam 1 mg

- Disiapkan obat alprazolam 1 mg sebanyak 30 tablet

- Dimasukkan dalam sak obat dan diberi etiket.

III.2.5 Etiket

Apotek Kimia Farma No 199 (Erlina)


Jl. Urip Sumoharjo No.32 Tlp.449936 MKS
Apoteker:Dra. Hj. Rena Bachtiar, Apt.
No 002 Tgl 25/3/2014

Nn. Agustina Rabing


1 x sehari 1 tab/caps/bks
Sendok teh/ makan
Sebelum / sesudah makan (malam/sblm tidur)
49

III.2.6 Copy Resep

UNIT BISNIS MAKASSAR


APOTEK KIMIA FARMA NO 199 ERLINA
JL. Urip Sumohardjo No 32 Telp (0411)449936 Makassar
Apoteker : Dra, Hj. Rena Bachtiar, Apt
SIA : 440/148-06/APT/PSDK-DKK/III/2012

COPY RESEP

Salinan dari resep No 001…………. Tgl 25/03/2014….


Dari Dr : dr. Robert. V. Philips, MARS
Dibuat tgl : 25/03/2014
Untuk : Nn. Agustina Rabing

R/ Alprazolam 1 mg No XXX
S 1 dd 1 (sebelum tidur)

det=

P.c.c

ttd
50

III.2.7 Penyerahan Obat

Sebelum menyerahkan obat kepada pasien, apotek harus kembali

mengecek kesesuain nama dokter, nama pasien, alamat, umur, obat (bentuk

sediaan, dosis, jumlah obat), aturan pakai dan etiket. Hal ini untuk mencegah

terjadinya kesalahan dalam pemberian obat.

Komunikasi, informasi dan edukasi yang harus diberikan kepada pasien

atau keluarga pasien pada saat penyerahan obat adalah :

a. Obat Alprazolam: Diinformasikan kepada pasien obat alprazolam diminum

secara teratur, sesuai dosis dan aturan pakai yaitu 1 x sehari 1 tablet,

sesudah makan dan diminum malam hari. Diinformasikan pula bahwa

obat alprazolam ini berguna sebagai obat penenang.

b. Diinformasikan kepada pasien bahwa jangan terlalu sering melakukan

aktivitas berat dan banyak beristirahat.

c. Diinformasikan kepada pasien bahwa semua obat yang diberikan di

simpan di tempat kering (tidak lembab) dan tertutup rapat (tidak terkena

cahaya matahari langsung).

d. Diinformasikan kepada pasien untuk mengkonsultasikan penyakitnya

kembali ke dokter jika obat dalam resep telah habis.

e. Diinformasikan kepada pasien untuk tidak mengcopy resep dan

menebusnya kembali setelah habis tanpa memberitahukan terlebih dahulu

kepada dokter yang bersangkutan serta tidak menghentikan konsumsi

obat secara mendadak.