You are on page 1of 6

"Kita naik kapal itu, ya?!

" Joy menunjuk kapal yang terpontang-panting, ke atas ke bawah, tinggi


sekali. Apa Joy gila? Dia pasti berniat bikin jantungku terbang, dasar bodoh.

"Lo gila, ya? Gak!" Aku menatapnya sinis. Joy malah mendengus.

"Semuanya lo gak mau, lo maunya main apaan, sih? Mancing-mancingan? Apa komedi putar?" Joy
dengan nada kesal tapi tetap meledek.

"Gue pengennya rumah balon, tapi barusan kata Masnya, gak boleh." Kataku sambil mengunyah
cimol.

Joy memutar bola matanya. "Malu-maluin, anjir. Badan udah segede gini, juga. Bisa-bisa kempes
rumahnya."

"Tai!" Umpatku sambil memukul lengan Joy. Ia hanya tertawa kecil.

Sore itu adalah sore terakhir sebelum kita kembali ke kota dan mengarungi kesibukan masing-
masing. Masih kuingat kala itu, Joy memakai kaos hitam yang terbalut kemeja merah kotak-kotak
hitam dan celana jeans hitam juga sepatu converse.

Sore itu adalah sore terakhir dimana Joy berjanji kalau pegangan tangan dan kecupan yang terjadi
malam itu adalah yang terakhir, sebelum akhirnya kita memutuskan untuk tak bersembunyi lagi saat
nanti kita kembali lagi kesini.

"Yaudah, kita naik kincir." Joy menunjuk benda bulat yang besar juga berputar pelan. Aku meneguk
ludah.

"Ih, enggak, ah. Nanti-"

"Itu, pelan, anjir. Lu penakut banget, dah?" Joy tanpa pikir panjang menarik tanganku ke pos karcis
dan membeli 2 tiket. Setelah itu yang kutahu tubuhku sudah masuk kedalam kurungan berukuran
medium yang mampu menampung 4 orang.

Aku meneguk ludah lagi saat benda besar ini mulain bergerak, tanganku memegangi tangan Joy yang
Joy tangkup dengan jemarinya diatas punggung tanganku.
Joy tersenyum. "Lo mau mati, ya, Biru?"

Aku menaikan kepalaku dan menatap mata coklat milik Joy sambil menggeleng, "apaan, sih?"

"Abis muka lo pucet, mau gue panggilin ambulan sekarang kalo emang mau mati."

Aku melotot sambil mencubit perut Joy, Joy hanya meringis sambil tertawa puas. "Nyebelin! Tangan
gue pada dingin, nih! Lo tau kan gue ga suka tempat tinggi!"

"Dulu elu oke-oke aja tuh naik kincir."

"Oke pala lo! Inget gak kapsulnya goyang kayak orang lagi berbuat mesum gara-gara lu gelitikin
gua?!"

Joy tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian tiga bulan silam itu. Masih kuingat panasnya pipi
saat petugas yang membukakan pintu ke dalam kapsul mencoba untuk menahan tawa, jelas-jelas
mengira kami melakukan hal cabul.

Joy cuma tersenyum penuh makna yang makin memperkeruh suasana.

"Ya udah, sekarang gak perlu takut. Ada gue."

Jantungku mendadak berdegup kencang. Bukan, bukan karena durasi gerakan kincir yang lambat,
tapi karena Joy menatapku lekat-lekat.

"Biru..."

Mulutku tidak mau terbuka. Aku tidak sempat menyuarakan ketidakberdayaanku, dan bibir Joy
mendekatー

"Lihat deh matahari senja-nya."


Aku menoleh ke arah jendela samping kananku dengan meminjam kecepatan cahaya. Tangan Joy
yang satunya lagi menunjuk ke pemandangan yang indah, seolah tangan Tuhan baru saja
menyentuhnya.

"Beautiful, isn't it?"

Aku mencoba merasa kesal padanya karena tidak sadar telah membuatku mengira akan dicium
olehnya, dan pemandangan yang kami lihat cukup meredamkan amarahku. Aku mengangguk.

Malu, anjir!

"God really is great."

Aku terdiam mendengar perkataan Joy. Pikiran kami sama.

"Kenapa muka lu gitu?"

Aku melengos. "Apanya?"

"Kayak nggak suka gue nyebut Tuhan."

Aku menatap bola mata kecoklatan yang terpantul cahaya matahari senja itu dalam-dalam, mencoba
untuk telepati tanpa harus menjelaskan.

Joy, Tuhan menciptakan kita. Dia yang Maha Kuasa, Maha Pencipta, menciptakan sepasang kakak
adik kembar yang saling menyayangi. Saking sayangnya, kita melanggar norma yang melarang
percintaan sedarah. Norma yang lahir karena keinginan Tuhan itu sendiri. Kalau dia memang punya
Kuasa, kenapa dia menciptakan kita sedarah? Kenapa tidak tetangga yang saling berdekatan? Atau
teman masa kecil? Kenapaー

"Biru..."
Aku merekatkan pelukan yang entah sejak kapan kumulai. Bahu Joy basah karena hujan air mata
dariku. Tangan kekarnya menyentuh punggung leherku penuh perhatian, menungguku selesai
menumpahkan kesedihan.

"I'm tired, Joy." isakku penuh tangis.

"Me too, Biru. Me too."

Aku menghirup nafas panjang, mencoba mencari kekuatan untuk berkata-kata.

"Don't go anywhere."

"I won't."

"Don't let me go."

"Nggak akan, Biru."

"Lu udah janji dari kita masih SMA. Awas lu bohong."

Joy tertawa pelan, getaran tubuhnya menenangkanku.

"Serem ah. Gue mau lu apain emang kalo bohong?"

"Gue..."

Kesenyapan menyelimuti kami berdua. Tidak ada yang tahu kelanjutan dari kata-kataku yang baru
saja terputus. Bahkan aku sendiri tidak tahu.

"Kita udah di puncak, Biru." sela Joy pelan.


Aku melepaskan diri dari pelukan Joy. Dan Tuhan, Engkau memang maha segalanya. Itu adalah
sunset terindah dalam hidupku. Orang tercinta bagiku ada di sisiku dan dunia seakan tersenyum
pada kami. Gradasi warna oranye dan kuning tidak pernah secantik ini. Waktu pun serasa berhenti
selagi aku merekam keesaan dunia dalam ingatan.

"Life is a fleeting thing." bisikku lirih.

"Huh?"

"Habisnya, hal-hal terindah di hidup cuma bertahan sebentar. Kayak sunset ini. Cuma bisa dinikmati
selama sekitar setengah jam. Pohon sakura? Mereka cuma mekar selama seminggu sebelum
rontok."

"Gue baru tau."

Aku hanya mengangguk dalam diam. Hidup ini memang singkat, dan...ada beberapa hal yang
meskipun indah, tapi tidak akan pernah bertahan lama. Sama seperti matahari senja. Atau
bersinarnya rembulan di tengah jarak waktu sore dan malam kala langit masih terang benderang,
siap menggantikan matahari. Sama sepertiー

"Biru, lu noleh sini dong. Gue mau cium nih."

Plak! Aku memukul kepala Joy yang tidak menyangka serangan dariku.

"Lu ngerusak momen aja, tai!"

"Sakit anjir! Gue kan mencoba jadi cowok yang baik dan minta persetujuan dari elo!"

"Ya elu juga ngapain pake nanya?! Mau seratus kali juga bakal gue kasih!"

Joy terkesiap mendengar perkataanku. Aku hanya bisa merona merah setelah sadar apa yang baru
saja kukatakan.

"Bener nih ya, seratus kali?" Joy mendekat dan berbisik lirih.
"Tungーgila lu! Habis napas gue entar!"

"Gue serius."

"Woi! Janーmmf!"

Bibir Joy melumat bibirku penuh perasaan, kedua mata indahnya terpejam saat meluncurkan
serangan balasan. Dan dia tidak main-main. Sesekali di antara sesi ciuman ia mengeluarkan suara
yang terdengar seperti hitungan mundur.

Kereta kami bergerak, mulai turun dari posisi berhentinya di puncak teratas. Desingan roda mesin
kincir yang berputar membawa kami kembali ke permukaan tanah seolah menjadi pengingat bahwa
waktu tidak menunggu untuk siapapun. Akan tiba waktunya semua berakhir. Dan saat ia tiba, tidak
ada yang bisa kau lakukan untuk memutar ulang waktu.

ーi38a c める (meru)

[ 3. Kincir ]

#StarCrossedLovers

#Sincerelyi38a #MeruWrites