Вы находитесь на странице: 1из 26

BAB II

PEMBAHASAN

A. PEMBENTUKAN DAN KLASIFIKASI GUNUNGAPI

Gunungapi adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat

keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Material yang

dierupsikan kepermukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung. Gunungapi

terbentuk pada empat busur yang mana Pergerakan antar lempeng menimbulkan empat

busur Gunungapi berbeda (PVMBG, 2010):

1. Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikan

kesempatan magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk Busur

Gunungapi Tengah Samudera.

2. Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua.

Akibat gesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan lelehan batuan ini

bergerak kepermukaan melalui rekahan kemudian membentuk Busur Gunungapi Di

Tepi Benua.

3. Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan

rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan

lelehan batuan atau magma sehingga membentuk Busur Gunungapi Tengah Benua

Atau Banjir Lava Sepanjang Rekahan.

4. Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagi

magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan banjir lava

yang membentuk deretan Gunungapi perisai kemudian membentuk Busur Dasar

Samudera.

3
Gambar 1. Penampang diagram yang memperlihatkan bagaimana Gunungapi terbentuk
di permukaan melalui kerak benua dan kerak samudera serta mekanisme peleburan
batuan yang menghasilkan busur Gunungapi, busur Gunungapi tengah samudera, busur
Gunungapi tengahbenua dan busur Gunungapi dasar samudera. (Modifikasi dari
Sigurdsson, 2000 dalam PVMBG, 2010).

Gambar 2. Penampang yang memperlihat kan batas lempeng utama dengan dengan
pembentukan busur Gunungapi. (Modifikasi dari Krafft, 1989 dalam PVMBG, 2010).

4
Gunungapi diklasifikasikan ke dalam empat sumber erupsi, yaitu:

1. Erupsi pusat, erupsi keluar melalui kawah utama;

2. Erupsi samping, erupsi keluar dari lereng tubuhnya;

3. Erupsi celah, erupsi yang muncul pada retakan/sesar dapat memanjang sampai

beberapa kilometer;

4. Erupsi eksentrik, erupsi samping tetapi magma yang keluar bukan dari kepundan

pusat yang menyimpang ke samping melainkan langsung dari dapur magma melalui

kepundan tersendiri.

Berdasarkan tinggi rendahnya derajat fragmentasi dan luasnya, juga kuat

lemahnya letusan serta tinggi tiang asap, maka Gunungapi dibagi menjadi beberapa tipe

erupsi (RBI, 2016):

1. Tipe Hawaiian, yaitu erupsi eksplosif dari magma basaltic atau mendekati basalt,

umumnya berupa semburanlava pijar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan,

terjadi pada celah atau kepundansederhana;

2. Tipe Strombolian, erupsinya hampir sama dengan Hawaiian berupa semburanlava

pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada Gunungapi sering aktif di tepi

benuaatau di tengah benua;

3. Tipe Plinian, merupakan erupsi yang sangat ekslposif dari magmaberviskositas tinggi

atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang

dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah besar;

4. Tipe Sub Plinian, erupsi eksplosif dari magma asam/riolitik dari Gunungapi strato,

tahap erupsi efusifnya menghasilkankubah lava riolitik. Erupsi subplinian dapat

menghasilkan pembentukan ignimbrit;

5
5. Tipe Ultra Plinian, erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan batuapung lebih

banyak dan luas dari Plinian biasa;

6. Tipe Vulkanian, erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltic sampaidasit,

umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan

seringdisertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-retak. Material yang

dierupsikan tidak melulu berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan

samping berupa litik;

7. Tipe Surtseyandan dan Tipe Freatoplinian, kedua tipe tersebut merupakan erupsi

yang terjadi pada pulauGunungapi, Gunungapi bawah laut atau Gunungapi yang

berdanau kawah. Surtseyan merupakanerupsi interaksi antara magma basaltic

dengan air permukaan atau bawah permukaan,letusannya disebut freatomagmatik.

Freatoplinian kejadiannya sama dengan Surtseyan, tetapimagma yang berinteraksi

dengan air berkomposisi riolitik.

Gambar 3. Tipe letusan Gunungapi

6
Bentuk dan bentang alam Gunungapi, terdiri atas : bentuk kerucut, dibentuk oleh

endapan piroklastik atau lava atau keduanya; bentuk kubah, dibentuk oleh terobosan

lava di kawah,membentuk seperti kubah; kerucut sinder, dibentuk oleh perlapisan

material sinder atau skoria; maar, biasanya terbentuk pada lereng atau kaki Gunungapi

utama akibat letusan freatik ataufreatomagmatik; plateau, dataran tinggi yang dibentuk

oleh pelamparan leleran lava.

Gambar 4. Penampang suatu Gunungapi dan bagian-bagiannya.(Modifikasi dari


Krafft, 1989 dalam PVMBG, 2010)

Struktur Gunungapi diatas terdiri dari:

1. Kawah adalah bentuk morfologi negatif atau depresi akibat kegiatan suatu

Gunungapi, bentuknya relatif bundar;

2. Kaldera, bentuk morfologinya seperti kawah tetapi garis tengahnya lebih dari 2 km.

Kaldera terdiri atas : kaldera letusan, terjadi akibat letusan besar yang melontarkan

sebagian besar tubuhnya; kaldera runtuhan, terjadi karena runtuhnya sebagian

tubuh Gunungapi akibat pengeluaran material yang sangat banyak dari dapur

7
magma; kaldera resurgent, terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuh Gunungapi

diikuti dengan runtuhnya blok bagian tengah; kaldera erosi, terjadi akibat erosi

terusmenerus pada dinding kawah sehingga melebar menjadi kaldera;

3. Rekahan Dan Graben, retakan-retakan atau patahan pada tubuh Gunungapi yang

memanjang mencapai puluhan kilometer dan dalamnya ribuan meter. Rekahan

parallel yang mengakibatkan amblasnya blok diantara rekahan disebut graben;

4. Depresi Volkano-Tektonik, pembentukannya ditandai dengan deretan pegunungan

yang berasosiasi dengan pemebentukan Gunungapi akibat ekspansi volume besar

magma asam ke permukaan yang berasal dari kerak bumi. Depresi ini dapat

mencapaiukuran puluhan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.

B. PENYEBARAN GUNUNGAPI DI INDONESIA

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai busur Gunungapi

terpanjang di dunia. Indonesia memiliki 127 Gunungapi aktif sehingga menjadikan

negara ini sebagai pemilik Gunungapi terbanyak di dunia. Sekitar 60% dari jumlah

tersebut adalah Gunungapi yang memilki potensi bahaya cukup besar bagi penduduk

yang ada di dekatnya, sehingga demi keselamatan dan kelangsungan hidupnya

masyarakat perlu mewaspadai bahaya ini.

8
Gambar 5 Peta Sebaran Gunungapi Indonesia (RBI, 2016)

Gambar 6. Peta Sebaran Gunungapi Indonesia beserta status terakhir Gunungapi pada
26 Maret 2018 (magma.vsi.esdm.go.id , 2018)

9
Seperti yang dilihat pada Gambar diatas, ada 1 Gunungapi berada pada Level

IV(Awas) dan Level III (Siaga). Penentuan Level tersebut dikeluarkan berdasarkan Hasil

Analisis Data Pengamatan Visual maupun Instrumental. Kegiatan tersebut merupakan

bagian dari upaya Mitigasi Prabencana. Selain itu juga, dari hasil Pengamatan tersebut

dikeluarkan pula Informasi Letusan Gunungapi untuk Rekomendasi Penerbangan atau

Vulcano Observatory Notice to Aviation (VONA).

Secara umum Gunungapi di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe,

yaitu Gunungapi tipe A, tipe B dan tipe C. Adapun uraian masing-masing tipe dapat

dijelaskan sebagai berikut:

1. Tipe-A: Gunungapi yang pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya

satu kali sesudah tahun 1600.

2. Tipe-B: Gunungapi yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengalami erupsi magmatik,

namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara.

3. Tipe-C: Gunungapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun

masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan

solfatara/fumarola pada tingkat lemah. Solfatara adalah fumarol yang mengeluarkan

gas-gas oksida belerang (seperti SO2 dan SO3), selain karbon dioksida (CO2)dan uap

air(H2O). Solfatara mudah dikenali karena udara sekitarnya berbau busuk

seperti kentut, sebagai bau khas gas-gas oksida belerang. Dalam konsentrasi tinggi,

gas emisi ini juga berbahaya bagi hewan dan manusia.

10
Adapun rincian jumlah Gunungapi di berbagai propinsi dapat dilihat dalam tabel

di bawah ini:

Tabel 1. Sebaran Gunungapi berdasarkan Tipe (PVMBG, 2010)

Berdasarkan Tabel di atas, dapat dilihat bahwa peluang terjadinya bencana akibat

Gunungapi sangat besar. Peluang ini didukung dengan tanda-tanda keaktifan masing-

masing Gunungapi yang sampai saat ini selalu dipantau oleh PVMBG yang ditempatkan

di setiap propinsi.

Ragam Bencana yang ditimbulkan dari Gunungapi (RBI, 2016), antara lain:

1. Awan panas dan guguran abu. Guguran abu di lereng Gunungapi disebut ladu. Ladu

merupakan campuran fragmen lava, dengan pasir dan abu yang dibentuk dari kubah

aktif. Ladu akan disebut sebagai awan-panas guguran ketika volume yang digugurkan

menjadi besar dan terdiri dari bongkah lava membara merah pijar dan bergerak

cepat. Apabila jumlah material yang gugur sangat besar, maka diasumsikan awan-

panas guguran ini sudah merupakan karakter dari awan-panas letusan. Distribusi

guguran Gunungapi sangat dipengaruhi oleh topograf lokal. Guguran ladu cenderung

mengikuti lembah; sementara guguran awan-panas akan menerjang melintasi

11
lembah dan punggungan. Suhu awan-panas di bagian dalam sangat tinggi, sementara

di bagian tepi lebih cepat mendingin, sampai di bawah 450°C. Aliran awan-panas

mampu menghanguskan tumbuh-tumbuhan, berbahaya bagi manusia dan hewan,

serta merusak paru-paru.

2. Longsoran Gunungapi. Kerucut Gunungapi muda mempunyai struktur labil sehingga

mudah longsor dan membentuk rombakan di kaki lereng. Contoh kasus longsoran

gunugapi ini terdapat di G. Raung dan G. Galunggung. Di G. Raung, longsoran

Gunungapi membentuk bukit-bukit kecil di kaki Gunungapi. Bukit-bukit tersebut

merupakan sisa-sisa retas lava sepajang 60 km. Di sekitar G. Galunggung terdapat

3.600 bukit-bukit kecil yang dikenal dengan Perbukitan Seribu. Peristiwa di G. Raung

dan G. Galunggung ini mungkin merupakan longsoran sangat besar yang kejadiannya

dipicu oleh gempabumi, pembentukan retakan, guguran vulcano-tectonic, atau oleh

erupsi ultra-volcanic.

3. Aliran Lava. Oleh karena explosivitas yang tinggi, breksi dan debu menjadi produk

utama Gunungapi di Indonesia, namun aliran lava juga merupakan gejala yang umum

dijumpai. Aliran lava panas relatif dinamis, mengikuti lembah sungai sebagai aliran,

atau berlembar.

4. Kubah Lava. Sifat kekentalan magma meningkat sebanding dengan penambahan

kandungan silika. Sebagian andesit dan dasit yang sangat asam, akan mudah

membentuk kubah, yang kadang-kadang disertai dengan lidah lava tebal menonjol

pada bagian bawahnya. Banyak contoh dapat ditemukan di Indonesia, misalnya

kubah lava hasil erupsi G. Kelud tahun 2007 dan G. Rokatenda tahun 2013.

12
5. Lontaran Batu pijar. Pecahan batuan Gunungapi, berupa bom atau bongkah yang

dilontarkan saat Gunungapi meletus, dapat menyebabkan kebakaran hutan,

bangunan, kematian manusia dan hewan.

6. Lahar. Lahar merupakan aliran lumpur yang mengandung material rombakan dan

bongkah-bongkah menyudut berasal dari Gunungapi. Endapan lahar mampu

mencapai ketebalan beberapa meter sampai puluhan meter. Fragmen-fragmen

penyusun terletak diantara matriks yang membulat sampai menyudut. Bongkah lava

yang tertranspor dapat mencapai beberapa meter kubik.

C. MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI

Mitigasi Bencana Gunungapi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko

bencana Gunungapi, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan

peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana Gunungapi (PERMEN ESDM

NO. 15 TAHUN 2011).

Mitigasi bencana Gunungapi dilakukan melalui kegiatan pengurangan risiko dan

peningkatan kesiapsiagaan pada tahap prabencana, saat tanggap darurat, dan

pascabencana. Mitigasi bencana Gunungapi berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No.

15 Tahun 2011 adalah sebagai berikut :

1. Prabencana

Kegiatan prabencana dilakukan sebelum terjadi bencana dan dalam situasi

terdapat potensi terjadi bencana Gunungapi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi

risiko bencana Gunungapi, baik melalui pengurangan ancaman maupun kerentanan

pihak yang terancam bencana. Kegiatan tersebut antara lain:

13
a. Penyediaan informasi Gunungapi

1. peta kawasan rawan bencana Gunungapi, digunakan untuk mendukung

kegiatan mitigasi letusan Gunungapi;

2. data dasar Gunungapi mengenai lokasi, sejarah letusan, dan data hasil

penelitian Gunungapi di Indonesia; dan

3. informasi perkembangan kegiatan Gunungapi.

b. Pemetaan

1. Pemetaan kawasan rawan bencana Gunungapi

a) Pemetaan kawasan rawan bencana Gunungapi dilakukan untuk

menentukan kawasan berdasarkan tingkat kerawanan terhadap bahaya

erupsi Gunungapi dan tidak dibatasi oleh wilayah administratif. Peta ini

digunakan sebagai dasar antisipasi dan pertimbangan pengambilan

keputusan untuk Pemerintah dan pemerintah daerah dalam upaya

mitigasi bencana;

b) Kawasan rawan bencana Gunungapi dibagi menjadi 3 (tiga) kawasan,

yaitu:

1) Kawasan rawan bencana I merupakan kawasan yang berpotensi

terlanda lahar, tertimpa material jatuhan berupa hujan abu, dan/atau

air dengan keasaman tinggi. Apabila letusan membesar, kawasan ini

berpotensi terlanda perluasan awan panas dan tertimpa material

jatuhan berupa hujan abu lebat, serta lontaran batu pijar;

2) Kawasan rawan bencana II merupakan kawasan yang berpotensi

terlanda awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, guguran lava,

14
hujan abu lebat, hujan lumpur panas, aliran lahar, dan/atau gas

beracun;

3) Kawasan rawan bencana III merupakan kawasan yang sangat

berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, guguran lava, lontaran

batu pijar, dan/atau gas beracun.

2. Pemetaan risiko bencana Gunungapi

Pemetaan risiko bencana Gunungapi dilakukan untuk mengetahui tingkat

risiko suatu objek bencana di dalam kawasan rawan bencana Gunungapi.

Peta risiko bencana Gunungapi ini digunakan sebagai acuan dalam

pengaturan tata ruang wilayah di daerah Gunungapi yang berbasis risiko

bencana dan dapat direvisi sesuai dengan potensi dan perkembangan

daerah tersebut. Kriteria utuk menentukan risiko bencana Gunungapi

berdasarkan analisis kawasan rawan bencana Gunungapi, kerentanan, dan

kapasitas. Ketentuan mengenai kriteria risiko bencana Gunungapi

dilaksanakan sesuai dengan kriteria risiko sebagaimana ditetapkan oleh

Kepala Badan Geologi mengenai Penyusunan Peta Risiko.

c. Penyelidikan Gunungapi

Penyelidikan Gunungapi bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi

mengenai aspek keGunungapian, terutama yang berkaitan dengan potensi

bencana Gunungapi.

15
d. Pemantauan dan peringatan dini bencana Gunungapi

Gunungapi dilakukan secara terus menerus untuk mengetahui

tingkat aktivitas Gunungapi sebagai dasar peringatan dini bencana Gunungapi,

dalam upaya meminimalkan jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda. Pada

saat memberikan peringatan dini bencana Gunungapi, disampaikan pula tingkat

aktivitas Gunungapi sebagai berikut :

1. Normal

Berdasarkan hasil pengamatan secara visual dan/atau instrumental dapat

teramati fluktuasi, tetapi tidak memperlihatkan peningkatan kegiatan

berdasarkan karakteristik masing-masing Gunungapi. Ancaman bahaya

berupa gas beracun dapat terjadi di pusat erupsi berdasarkan karakteristik

masing-masing Gunungapi.

2. Waspada

Berdasarkan hasil pengamatan secara visual dan/atau instrumental mulai

teramati atau terekam gejala peningkatan aktivitas Gunungapi. Pada

beberapa Gunungapi dapat terjadi erupsi, tetapi hanya menimbulkan

ancaman bahaya di sekitar pusat erupsi berdasarkan karakteristik masing-

masing Gunungapi.

3. Siaga

Berdasarkan hasil pengamatan secara visual dan/atau instrumental teramati

peningkatan kegiatan yang semakin nyata atau dapat berupa erupsi yang

mengancam daerah sekitar pusat erupsi, tetapi tidak mengancam

16
pemukiman di sekitar Gunungapi berdasarkan karakteristik masing-masing

Gunungapi.

4. Awas

Berdasarkan hasil pengamatan secara visual dan/atau instrumental teramati

peningkatan kegiatan yang semakin nyata atau dapat berupa erupsi yang

mengancam pemukiman di sekitar Gunungapi berdasarkan karakteristik

masing-masing Gunungapi.

Peringatan dini terhadap tingkat aktivitas Gunungapi kepada masyarakat

dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,

disampaikan melalui pemerintah daerah sesuai dengan Prosedur Tetap yang

ditetapkan oleh Kepala Badan Geologi.

e. Langkah-Langkah kewaspadaan yang harus dilakukan oleh masyarakat yang

tinggal di kawasan rawan bencana Gunungapi direkomendasikan sebagai

berikut:

1. Kewaspadaan masyarakat di kawasan rawan bencana I

a) pada tingkat Normal masyarakat dapat melakukan kegiatan seharihari;

b) pada tingkat Waspada, masyarakat masih dapat melakukan

kegiatannya dengan meningkatkan kewaspadaan;

c) pada tingkat Siaga, masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan

tidak melakukan aktivitas di sekitar lembah sungai yang berhulu di

daerah puncak; dan

d) pada tingkat Awas, masyarakat segera mengungsi berdasarkan perintah

dari pemerintah daerah setempat sesuai rekomendasl teknls dari

Kementerian Energi dan Sumber Daya MineraI.

17
2. Kewaspadaan masyarakat di kawasan rawan bencana II

a) pada tingkat Normal, masyarakat dapat melakukan kegiatan seharihari;

b) pada tingkat Waspada, masyarakat masih dapat melakukan

kegiatannya dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman

bahaya;

c) pada tingkat Siaga, masyarakat mulai menyiapkan diri untuk

mengungsi sambi! menunggu perintah dari pemerintah daerah sesual

rekomendasi teknis dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;

dan

d) pada tingkat Awas, masyarakat segera mengungsi berdasarkan perintah

dari pemerintah daerah sesuai rekomendasi teknis dari Kementerian

Energi dan Sumber Daya Mineral.

3. Kewaspadaan masyarakat di kawasan rawan bencana III

a) pada tingkat Normal, masyarakat dapat melakukan kegiatan seharihari

dengan tetap mematuhi ketentuan peraturan dari pemerintah daerah

setempat sesuai rekomendasi teknis dari Kementerian Energi dan

Sumber Daya Mineral;

b) pada tingkat Waspada, masyarakat direkomendasikan tidak

melakukan aktivitas di sekitar kawah;

c) pada tingkat Siaga, masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas

dan mulai menyiapkan diri untuk mengungsi; dan

d) pada tingkat Awas, masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas

dan segera mengungsi.

18
f. Diseminasi

Diseminasi bertujuan agar masyarakat memahami sumber dan jenis ancaman

bahaya, serta mengetahui tata cara mengantisipasi ancaman bahaya, jalur

evakuasi, dan lokasi pengungsian. Kegiatan ini dilakukan melalui media cetak

dan elektronik dan/atau dalam bentuk penyebaran peta, buku, booklet,

selebaran (leaflet), film, tatap muka dan/atau pameran dan media lainnya.

g. Penguatan ketahanan masyarakat

Penguatan ketahanan masyarakat dilakukan melalui kegiatan peningkatan

sumber daya masyarakat dan penyebarluasan informasi kebencanaan yang

bertujuan untuk membentuk masyarakat siaga bencana.

Kegiatan ini meliputi :

a. Peningkatan sumber daya masyarakat

Peningkatan sumber daya masyarakat dilakukan melalui pemberdayaan

kemampuan sumber daya masyarakat untuk membentuk budaya

masyarakat siaga bencana dengan melakukan pendidikan dan pelatihan

kebencanaan Gunungapi yang meliputi manajemen kedaruratan,

membangun koordinasi, komunikasi dan kerja sarna, pemahaman kawasan

rawan bencana Gunungapi serta prosedur tetap evakuasi.

b. Penyebarluasan informasi kebencanaan

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat yang

tinggal di kawasan rawan bencana Gunungapi, berupa penjelasan

kewaspadaan masyarakat pada setiap tingkat aktivitas Gunungapi.

h. Penyusunan rencana kontinjensi bencana Gunungapi Penyiapan dan

penyusunan rencana kontinjensi dilakukan pada daerah yang berpotensi

19
terlanda bencana Gunungapi. Tujuannya apabila terjadi bencana, Pemerintah

dan pemerintah daerah bersama masyarakat mampu menyiapkan diri dan

mengoperasikan dokumen rencana kontinjensi menjadi rencana operasional

pada saat tanggap darurat.

2. Saat Tanggap Darurat

Kegiatan saat tanggap darurat dilakukan dalam situasi ketika terjadi bencana

Gunungapi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui

pengurangan ancaman maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. Kegiatan

tanggap darurat letusan Gunungapi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

antara lain melakukan pemantauan lebih intensif terhadap aktivitas Gunungapi,

berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan/atau Badan Penanggulangan Bencana

Daerah, dan melakukan diseminasi kepada masyarakat dalam upaya penyelamatan.

Langkah yang harus dilakukan masyarakat dalam upaya penyelamatan tersebut adalah

sebagai berikut :

1. Saat terjadi awan panas

Masyarakat menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana awan panas terutama

di lembah sungai dan sekitarnya.

2. Saat terjadi lontaran batu pijar

Masyarakat menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana lontaran batu pijar

terutama di sekitar puncak Gunungapi atau kawah.

3. Saat terjadi aliran lava

Masyarakat menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana aliran lava terutama

di lembah sungai.

20
4. Saat terjadi gas beracun

Masyarakat menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana gas beracun terutama

di lembah, celah dan cekungan pada saat cuaca mendung, hujan dan berkabut

serta tidak ada angin dengan menggunakan masker gas atau kain penutup

hidung yang dibasahi air dan segera menjauh dari lokasi tersebut.

5. Saat terjadi hujan abu

Masyarakat menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana hujan abu atau

berlindung di dalam bangunan permanen beratap kokoh, menggunakan masker,

dan kaca mata.

6. Saat terjadi lahar

Masyarakat menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana aliran lahar hujan

terutama di lembah sungai yang berhulu di daerah puncak.

7. Saat terjadi lahar letusan

Masyarakat menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana aJiran lahar letusan

terutama di lembah sungai yang berhulu di daerah kawah.

3. Pascabencana

Kegiatan pascabencana dilakukan dalam situasi setelah terjadi bencana

Gunungapi. Kegiatan pascabencana dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

antara lain melakukan evaluasi tingkat aktivitas Gunungapi, pemetaan sebaran hasil

erupsi, dan evaluasi potensi lahar.

Hasil evaluasi ini digunakan sebagai dasar rekomendasi untuk perbaikan

dan/atau rehabilitasi lingkungan daerah bencana, perbaikan atau pembangunan kembali

sarana dan prasarana.

21
Tips BNPB terkait Letusan Gunung Merapi yang merupakan Mitigasi Pra Bencana

yang mana bagian dari Desiminasi :

22
Berikut beberapa contoh Kasus Gunungapi serta Mitigasi Bencana yang dilakukan.

 Gunung Sinabung

 Data Dasar Gunungapi

Gunungapi Sinabung merupakan Gunungapi yang berada di Kabupaten Karo,

Provinsi Sumatera Utara dan termasuk dalam Tipe Strato. Secara Geografis

terletak pada 3010’ LU dan 98023,5’ BT dengan ketinggian 2460 m dpl.

Gunungapi Sinabung merupakan gunungapi tipe B. Sejarah kegiatan gunungapi

ini, khususnya yang berupa letusan tidak banyak diketahui dan tidak terdapat

dalam catatan sejarah dan literatur. Kegiatan vulkanik yang tercatat adalah

sebagai berikut:

- Sebelum 1600 : Aktifitas terakhir yang ditimbulkan Berupa Muntahan

batuan Piroklastik serta aliran Lahar yang mengalir ke arah Selatan.

- 1929 : Aktifitas Solfatara terlihat dipuncak dan lereng atas.

- 2010 : 27 Agustus – 7 April terjadi beberapa kali Letusan yang diantaranya

merupakan letusan freatik. Status Gunung Sinabung berubah dari tipe B

menjadi Tipe A.

23
Gunungapi Sinabung terbentuk pada tepian Barat laut patahan cekungan Toba

Tua. Garis patahan Strike Slip mengiri sepanjang batas bagian barat Toba, yang bagian

atasnya terbentuk Gunungapi Sinabung menerus ke Timurlaut hingga Gunungapi

Sibayak merupakan sesar orde kedua. Struktur Sesar Normal dijumpai di daerah Danau

Kawar. Sesar Normal Kawar ini merupakan sesar orde ketiga. Sesar tersebut kehilangan

tekanan dan mengalami penurunan di bagian Selatan yang merupakan hanging wall nya.

Sesar ini dicirikan oleh morfologi triangular facet yang menjadi salah satu penciri sesar

normal. Selain struktur sesar, struktur lainnya seperti Struktur kelurusan topografi yang

pada umumnya menunjukkan orientasi BaratDaya-TimurLaut serta struktur kawah juga

di temukan pada bagian puncak Gunungapi dengan orientasi Barat Laut-Tenggara

.Grafik 1. Kegempaan Gunungapi Sinabung

24
25
Berdasarkan sifat erupsi dan keadaan G.Sinabung saat ini, maka potensi bahaya

erupsi yang mungkin terjadi, adalah berupa: aliran piroklastik (awan panas),

jatuhan piroklastik (lontaran batu pijar dan hujan abu), aliran lava serta lahar.

Berdasarkan potensi bahaya yang mungkin terjadi, kawasan rawan bencana G.

Sinabung dapat dibagi menjadi tiga tingkat kerawanan dari rendah ke tinggi,

yiatu: Kawasan Rawan Bencana I, Kawasan Rawan Bencana II dan Kawasan

Rawan Bencana III.

Gambar 7. Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Sinabung

26
 Informasi Perkembangan Gunungapi Sinabung Periode Pengamatan 26 Maret
2018 00:00 – 23.59 WIB

Letusan terakhir tejadi pada Senin, 19 Februari 2018 pukul 08.53 WIB, Gunung

Sinabung meletus besar. Tinggi kolom abu vulkanik 5.000 meter dengan tekanan kuat

dan warna kelabu kegelapan. Lama gempa letusan 607 detik. Letusan disertai dengan

luncuran awan panas sejauh 4.900 meter ke arah Selatan - Tenggara dan 3.500 metet ke

27
arah Tenggara Timur. Angin bertiup ke arah Barat - Selatan. Letusan disertai dengan

suara gemuruh.

Ini adalah letusan terbesar selama 2018 ini. Abu vulkanik menyelimuti beberapa

daerah di sekitar Gunung Sinabung, diantaranya Kecamatan Simpang Empat, Naman

Teran, Payung, Tiga Nderket dan Munthe. Kondisi di lima kecamatan itu jadi gelap

dengan jarak pandang sekitar 5 meter. Selain itu, batuan kecil juga menghujani 5

kecamatan itu. Hujan kerikil kecil juga masih terjadi seperti di Desa Kuta Mbaru dan Kuta

Rakyat hingga pukul 10.00 Wib. Pasca letusan tadi, PVMBG menaikkan VONA (Volcano

Observatory Notice for Aviation) dari Orange menjadi Merah. Artinya penerbangan

pesawat tidak boleh melintasi sekitar Gunung Sinabung karena berbahaya.

Status saat VONA terakhir terkirim sudah kembali kode warna ORANGE, terbit

tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, dimana tinggi kolom abu teramati setinggi

3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke

selatan - tenggara.

28