You are on page 1of 12

JARINGAN SWITCHING MULTISTAGE TOPOLOGI BENES

Untuk berkomunikasi, terminal-terminal yang berbeda membutuhkan media. Dalam lingkungan komputer, interkoneksi antara prosesor dan modul memori yang efektif sangatlah penting. Arsitektur dengan topologi bus yang sebelumnya digunakan, bukan solusi yang praktis. Ia hanya cocok untuk menghubungkan komponen-komponen yang jumlahnya sedikit. Seiring bertambahnya waktu, dalam sebuah modul IC, jumlah komponen yang menyusunnya semakin bertambah. Topologi bus bukan lagi topologi yang cocok untuk menginterkoneksikan komponen-komponen di dalam sebuah modul IC. Topologi bus sulit diskalakan, disesuaikan dan diuji serta menghasilkan toleransi kesalahan kinerja yang kecil. Oleh karena itu, pada awal perkembangan jaringan interkoneksi, jaringan crossbar satu tingkat (single stage) switch seperti terlihat pada Gambar 1 menjadi primadona karena mampu menyediakan interkoneksi yang sepenuhnya diantara terminal masukan-keluaran. Namun belakangan dengan berkembangnya jumlah terminal yang harus disambungkan, penggunaan jaringan crossbar menjadi sangat mahal baik dari sisi jumlah crosspoint yang dibutuhkan maupun dari sisi pengendaliannya yang harus common control. Oleh karena itu jaringan interkoneksi banyak tingkat (multi stages) memberikan solusi yang baik sebagai media komunikasi pada sistem-sistem komputer dan telekomunikasi.

JARINGAN SWITCHING MULTISTAGE TOPOLOGI BENES Untuk berkomunikasi, terminal-terminal yang berbeda membutuhkan media. Dalam lingkungan komputer, interkoneksi

Gambar 1 Arsitektur Crossbar

Sifat Non Blocking Jaringan Interkoneksi Banyak Tingkat

Sebagi pengganti jaringan crossbar satu tingkat yang high cost, para ahli menawarkan berbagai macam jaringan interkoneksi banyak tingkat. Jaringan

interkoneksi banyak tingkat yang diusulkan antara lain banyan, delta, cube, omega, clos, benes, batcher, batcher banyan dan banyak lagi yang lain. Jaringan switching multistage yang menjadi perhatian besar adalah jaringan yang memiliki sifat non blocking dan memiliki jumlah crosspoint yang sedikit. Benes mengelompokkan sifat non blocking jaringan interkoneksi banyak tingkat (multistage) ke dalam 3 (tiga) kategori yaitu :

  • a. Non blocking in strict sense

Jaringan banyak tingkat dikatakan bersifat non blocking in strict sense adalah jika

bagaimanapun state jaringan, tidak menjadi persoalan. Pasangan terminal input- output yang idle selalu memungkinkan dihubungkan bersama-sama tanpa mengganggu panggilan yang sudah ada.

  • b. Non-blocking in wide sense

Jaringan banyak tingkat dikatakan bersifat non blocking in wide sense apabila

dengan menggunakan suatu aturan tertentu dapat dibangun panggilan baru untuk menghindarkan kondisi blocking sehingga sistem secara efektif menjadi non

blocking. Aturan yang diterapkan hanya mempengaruhi panggilan baru. Panggilan baru dapat merute di dalam jaringan melalui lebih dari satu jalur. Dengan memilih rute yang cocok bagi panggilan baru tersebut, jaringan menjadi non blocking tanpa mengganggu panggilan yang sedang berlangsung.

c. Rearrangeably non blocking

Jaringan penghubung (connecting network) bisa bersifat rearrangeable dan ada juga yang tidak. Misalkan saja pada suatu jaringan multistage ada sekelompok panggilan yang sedang berlangsung dan ada pasangan terminal input-output yang sedang idle. Kepada panggilan yang telah ada dapat dibangun rute baru agar memungkinkan untuk menghubungkan pasangan terminal input-output yang idle. Jaringan seperti ini menjadi bersifat non blocking padahal jika tidak dilakukan penetapan kembali rute baru bagi panggilan yang sudah ada ia bersifat blocking.

Jaringan Clos 3 Tingkat

Pada jaringan Clos 3 tingkat jumlah elemen switching pada tingkat 2

(switch antara) sangat menentukan besarnya nilai probabilitas blocking switch.

Untuk menentukan jumlah elemen switching antara dapat analisa dengan memperhatikan pada Gambar 2.

Untuk menentukan jumlah elemen switching antara dapat analisa dengan memperhatikan pada Gambar 2. Gambar 2. Penetapan

Gambar 2. Penetapan jumlah elemen switching pada switch antara (tingkat 2) Jika diasumsikan terdapat n input dari setiap switch input (tingkat 1) dan terdapat m output dari setiap switch output (tingkat 3) maka jika dilakukan pembangunan koneksi dari input B ke output H (garis tebal) maka dibutuhkan jumlah switch-switch antara yang cukup agar (n-1) input selain dari input B pada tingkat 1 dan (m-1) output selain dari output H pada tingkat 3 tersambung ke switch-switch antara yang bersebelahan ditambah satu lagi switch untuk koneksi B dan H. Jadi switch antara yang dibutuhkan sebanyak (n-1) + (m-1)+1 atau n + m - 1 switch. Jika n = m, maka dibutuhkan sebanyak 2n – 1 switch. Jika jumlah input/output switch sebesar N maka jumlah crosspoint (CP) yang dibutuhkan untuk switch Clos 3 tingkat adalah 6N 3/2 – 3N atau 2(N/n)nk + k(N/n) 2 (Clos, C,

1953).

Jaringan switching Clos 3 tingkat dengan input/output N tampak pada Gambar 3.

Gambar 3. Switching Clos 3 tingkat Dari Gambar 3 tampak bahwa switching tersusun dari tingkat 1,

Gambar 3. Switching Clos 3 tingkat

Dari Gambar 3 tampak bahwa switching tersusun dari tingkat 1, tingkat 2 (tingkat antara) dan tingkat 3 dengan N adalah jumlah total link input dan output. Tingkat 1 terdiri dari r elemen switching yang berukuran n x m dengan n = N 1/2 adalah jumlah port input setiap elemen switching pada tingkat 1. Tingkat 2 terdiri dari m elemen switching yang berukuran r x r dimana r =N/n. Tingkat 3 terdiri dari r elemen switching yang berukuran m x n. Agar jaringan switching yang dibangun bersifat non blocking maka harus dipenuhi relasi m ≥ 2n - 1. Sebagai contoh untuk membangun sebuah switching Clos 3 tingkat dengan N = 16, maka n = 16 1/2 = 4. Agar switch bersifat non blocking maka m = 2.4 -1 = 7. Jika diambil n = m= 4 maka switching tilak lagi bersifat non blocking tetapi bersifat rearrangeably non blocking yang membutuhkan algoritma routing agar panggilan- panggilan baru dapat dibangun tanpa blocking.

Untuk memperoleh probabilitas blocking jaringan Clos 3 tingkat dapat dianalisis dengan menggunakan teori Graf (Lee, C.Y. 1955). Probabilitas blocking switch crossbar 3 tingkat dapat diturunkan dengan bantuan Gambar 4.

Gambar 4 Switch crossbar 3 tingkat Jika p adalah probabilitas sebuah link input dan output sibuk

Gambar 4 Switch crossbar 3 tingkat

Jika p adalah probabilitas sebuah link input dan output sibuk maka probabilitas

sebuah link tertentu sibuk di antara switch-switch input atau output dan tingkat

tengah adalah :

p’= p/m

(1)

Karena terdapat m jalur yang mungkin melalui jaringan, probabilitas blocking Pb

menjadi :

Pb = [1-[1- (1- p’) 2 ] m

(2)

Jaringan Clos adalah jaringan 3 tingkat yang mana tiap tingkat tersusun

dari sejumlah switch-switch crossbar. Clos yang simetris dikarakteristik dengan

triple (m, n, r) dimana m adalah jumlah middle switch, n adalah jumlah port input

pada tiap-tiap input (output) switch, dan r adalah jumlah input dan output switch.

Pada sebuah jaringan Clos tiap-tiap middle switch memiliki satu link input dari

setiap input switch dan satu link output ke setiap output switch. Jadi r input switch

adalah switch crossbar n x m yang menghubungkan r input switch ke r output

switch dan r output switch adalah switch crossbar m x n yang menghubungkan m

middle switch ke n output port. Sebagai contoh, jaringan Clos (3,3,4) ini

menunjukkan sebuah jaringan Clos dengan m = 3, n = 3, r = 4. Dengan demikian

terdapat 3 elemen switching berukuran 4 x 4 dan pada tingkat 3 terdapat 4 elemen

switching berukuran 3 x 3. Gambar 5 memperlihatkan jaringan Clos (3,3,4) dan

Gambar 6 memperlihatkan jaringan Clos (5,3,4).

terdapat 3 elemen switching berukuran 4 x 4 dan pada tingkat 3 terdapat 4 elemen switching

Gambar 5 Jaringan Switching Clos (3,3,4)

Gambar 6 Jaringan Switching Clos (5,3,4) Jaringan Clos (5,3,4) pada Gambar 6 bersifat strictly non blocking

Gambar 6 Jaringan Switching Clos (5,3,4)

Jaringan Clos (5,3,4) pada Gambar 6 bersifat strictly non blocking karena m = 2n - 1 = 5. Ini berarti bahwa port masukan yang idle pada switch masukan dapat selalu dihubungkan pada port keluaran idle pada switch keluaran, tanpa perlu mengatur ulang panggilan yang ada. Misalkan ada terminal yang bebas pada masukan dari switch masukan yang harus disambungkan pada terminal bebas pada switch keluaran yang tertentu. Sedangkan jaringan Clos (3,3,4) pada Gambar 5 adalah bersifat rearrangeably non blocking disebabkan karena m =3 < 2n - 1 = 5. Ini berarti bahwa port masukan yang idle pada switch masukan dapat selalu dihubungkan kepada port keluaran yang idle pada switch keluaran dengan menyusun ulang rute panggilan yang sudah ada melalui middle switch.

Jaringan Benes

Jaringan Benes adalah jaringan Clos 3 tingkat yang bersifat

rearrangebly non-blocking dengan MS=2 dan a=b=2, dimana MS adalah jumlah

switching antara (middle switch) antara switch input dengan switch output, a ialah

jumlah inlet setiap elemen switching dan b adalah jumlah outletnya.

Arsitektur jaringan Clos yang dapat diubah menjadi jaringan Benes adalah

jaringan Clos dengan m=n=2 dimana N > 4 dan r=N/2 dimana N adalah jumlah

input jaringan switching sehingga dapat dituliskan jaringan Clos (2,2,N/2).

Gambar 7 memperlihatkan jaringan Clos (2,2,N/2) dengan N masukan, inlet setiap

switch masukan n=2, dan switch antara (MS) berjumlah (M=2) dan jumlah

switch masukan r=N/2 (Benes, 1962).

switching antara (middle switch) antara switch input dengan switch output, a ialah jumlah inlet setiap elemen

Gambar 7 Jaringan Clos (2,2,N/2)

Dengan demikian maka kedua switch antara akan berukuran N/2 × N/2

seperti ditunjukkan pada Gambar 8. Kemudian dengan mengganti switch antara

menjadi elemen-elemen switching 2×2 maka jaringan switching baru telah

diperoleh yaitu jaringan Benes. Contoh jaringan Benes dengan 8 masukan yang

dibangun dari jaringan Clos dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 8. Jaringan Clos 8 input dengan switch antara 4 x 4 Gambar 9 Jaringan Clos

Gambar 8. Jaringan Clos 8 input dengan switch antara 4 x 4

Gambar 8. Jaringan Clos 8 input dengan switch antara 4 x 4 Gambar 9 Jaringan Clos

Gambar 9 Jaringan Clos 8 input dengan dua switch antara 4 x 4 menjadi

jaringan Benes 8 x 8.

Untuk membangun jaringan Benes berukuran 16 x 16, jaringan Benes 8 x 8

menjadi switch antaranya. Demikian seterusnya jika kita ingin membangun

jaringan Benes dengan ukuran yang lebih besar seperti N x N maka middle switch

jaringan tersebut adalah jaringan Benes yang berukuran N/2 x N/2. Jaringan

Benes 16 x 16 dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Jaringan Benes 16 x 16 dengan middle switch berukuran 8 x 8 Bila sebuah

Gambar 10 Jaringan Benes 16 x 16 dengan middle switch berukuran 8 x 8

Bila sebuah jaringan Benes memiliki N input-output, maka jumlah tingkat

switch yang dibutuhkan (S) untuk membangun jaringan Benes tersebut adalah S =

2log 2 N–1 tingkat yang masing-masing tingkat terdiri dari N/2 switch yang

berukuran 2×2. Jumlah elemen switching (SE) yang dibutuhkan jaringan tersebut

sebanyak Nlog 2 N–N/2 dan jumlah total crosspoint (CP) sebanyak 4{Nlog 2 N -

N/2}. Sebagai contoh jaringan benes berukuran 16 x 16, memiliki jumlah tingkat

sebanyak 2log 2 16–1 = 7 dan jumlah elemen switching SE = 16log 2 16 – 16/2 = 56

dan dengan jumlah crosspoint sebanyak CP = 4{16log 2 16 - 16/2}=224. Jaringan Benes adalah jaringan switching yang bersifat rearrangably non

bloking. Hal ini berarti bahwa rute-rute panggilan yang ada harus disusun kembali

agar supaya panggilan baru dapat dibangun tanpa blocking. Dengan demikian

jaringan Benes memiliki probabilitas blocking sama dengan nol. Hal ini sudah

dibuktikan oleh Benes sendiri secara matematis dalam papernya. Berikut diberikan contoh perubahan state dari setiap elemen switching

pada sebuah jaringan Benes berukuran 8 x 8 untuk mentransfer data dari

pasangan input -

output

:

0-3,

1-0,

2-7,

3-1,

4-4,

5-6,

6-2,

7-5

dengan

menggunakan division routing algorithm.

pasangan input - output : 0-3, 1-0, 2-7, 3-1, 4-4, 5-6, 6-2, 7-5 dengan menggunakan division

Gambar 11. State dari setiap elemen switching jaringan Benes 8 x 8 untuk

merutekan pasangan input-output : 0-3, 1-0, 2-7,3-1, 4-4, 5-6, 6-2, 7-5.

Dengan pasangan input-output yang sama dapat diperoleh rute-rute lain

seperti pada Gambar 12. Disini algoritma yang digunakan adalah input and output

algorithm. Hal ini menunjukkan bahwa sifat rearrangeable non blocking jaringan

Benes dimana untuk mentransfer data antara pasangan input-output 0-3, 1-0, 2-

7,3-1, 4-4, 5-6, 6-2, 7-5 dapat dilakukan melalui link-link antar tingkat yang

berbeda tanpa konflik, sehingga probabilitas blocking sama dengan nol.

pasangan input - output : 0-3, 1-0, 2-7, 3-1, 4-4, 5-6, 6-2, 7-5 dengan menggunakan division

Gambar 12. Perubahan State dari elemen switching jaringan Benes 8 x 8 untuk merutekan pasangan input-output :

0-3, 1-0, 2-7,3-1, 4-4, 5-6, 6-2, 7-5.

Gambar 11 dan 12 menunjukkan bahwa pada sebuah jaringan Benes dalam satu permutasi bisa terdapat banyak rute yang menghubungkan pasangan input-output.