You are on page 1of 40

PENATALAKSANAAN

JALAN NAFAS

OLEH
KUNTADI S
ANATOMI
 Jalan nafas atas :
- Mulut
- Hidung
- Pharing : oro,naso,laringo.
 Jalan nafas bawah :
- Laring
- Trakhea
- Bronkhus
- Bronkheolus
- Alveoli
Pernafasan Normal
1. Teratur
2. Frekwensi – Dewasa : 10 – 24, Bayi/anak :
sesuai umur
3. Gerakan dada dan abdomen sinkron
4. Tidak disertai bunyi tambahan
5. Otot
Otot--otot tambahan pernafasan tidak ikut
serta ( retraksi sela iga, supra klavikula,
dan cuping hidung )
Gangguan Pernafas
Pernafasan
an::
1. Gawat Nafas ( Resp. Distress )
 Frekwensi nafas cepat
 Otot--otot tambahan ikut bekerja
Otot
 Nadi cepat pada dewasa
dewasa,, lambat pada bayi
dan anak
anak..
 Gelisah,, disorientasi
Gelisah
 Berkeringat
 Sianosis
2. Gagal nafas ( Resp. Failure )
Gambaran klinik gawat nafas +
 PaO2 < 60 mmHg ( udara biasa )
 PaCO2 > 50 mmHg ( udara biasa )
 pH < 7,35

Gagal Nafas Akut maupun Kronik 


Gangguan jalan nafas  Sumbatan jalan
nafas / Obstruksi
Untuk menjamin oksigenasi paru yang adequat
pada proses pernafasan  jalan nafas paten.
Sumbatan partial / total
benda asing / dari pasien
sendiri : lidah / penyempitan
Untuk menghindari keadaan fatal, tindakan yang
cepat dan tepat.
tepat.
Langkah : - Mengenali adanya gangguan
jalan nafas
- Menentukan penyebabnya untuk
dapat mengambil tindakan yang
diperlukan
Mengenali adanya sumbatan jalan
nafas
Obstruksi jalan nafas sering terjadi di jalan
nafas atas / hipofaring  partial / total

Penyebab :
1. Otot lidah dan leher yang lemas tidak
dapat mengangkat dasar lidah dari
dinding belakang pharing sehingga lidah
jatuh menutup jalan nafas. Ini sering
terjadi pada pasien tidak sadar dengan
posisi kepala fleksi atau mid posisi
2. Benda asing : cairan, darah,sekret, benda
padat.
3. Laringospasme
4. Infeksi
5. Udem laring
6. Neoplasma
7. Trauma
8. Luka bakar.
Tanda--tanda
Tanda
1. Batuk-batuk
Batuk-
2. Korban akan memegangi lehernya
3. Tidak dapat berbicara / bernafas
4. Sianosis
5. Saturasi oksigen turun
6. Takhikardi
7. Gelisah, kesadaran hilang
8. Suara--suara tambahan :
Suara
 Obst. Partial :
 Snoring ( dengkur )  lidah jatuh
 Crowing ( lengking )  laringospasme
 Gargling ( kumur-
kumur-kumur )  benda asing
seperti cairan, darah, sekret.
 Wheezing ( bengek )  sumbatan
bronkhus
Membebaskan jalan nafas
 Tanpa alat
- Anjurkan untuk batuk kuat

- Tengadah kepala topang dagu


( Head Tilt and Chin Lift )
Don’t do
-Pendorongan mandibula
( Jaw Thrust )
Pada Obstruksi total biasanya penyebabnya
adalah benda asing padat.
padat. Yang kita
lakukan adalah membuat batuk buatan
sehingga benda asing terlempar keluar.
keluar.
Kalau tidak berhasil
berhasil,, bisa dilakukan
krikotiroidotomi..
krikotiroidotomi
a. Bayi / anak
Lakukan tehnik back blow : pemukulan
antara 2 skapula
skapula,, kepala lebih rendah
rendah,,
5 pukulan atau chest thrust : pemijatan
pada Px
b. Dewasa
Bila pasien sadar, lakukan Back blow : sedikit
bungkukkan, pukul antara 2 skapula 5 pukulan.
Tidak berhasil, Heimlich manuver/abdominal
thrust.
Berdiri dibelakang pasien, rangkul pasien,
kepalkan satu tangan pada perut korban
antara Px dan pusar, tarik tangan ke dalam
dan ke atas secara menghentak, 5 kali.
Bila pasien tidak sadar, miringkan pasien
menghadap penolong, lakukan back blow
Kemudian telentangkan, lakukan abdominal
Thrust 5 hentakan berturut-
berturut-turut.
 Dengan alat
1. Oropharingeal airway ( OA )
Bentuk semi sirkular
Guna :
- Mencegah lidah jatuh ke dinding post
pharing
- Mempermudah penghisapan lendir
- Mencegah OTT tergigit.
Ukuran OA :
00 untuk neonatus
0 untuk bayi
No.1 untuk anak umur 1 – 3 th
No 2 untuk anak umur 3 – 8 th
No. 3 untuk anak diatas 8 th
No. 4 keatas untuk dewasa.
Cara Mengukur Besar OA

Cara memasukkan : masukkan OA


menghadap ke atas sampai dinding
belakang pharing kemudiaan putar 180
derajat.
Posisi OA
Komplikasi :
 Jika OA terlalu jauh akan menekan
epiglotis
 Dapat mendorong lidah ke belakang
 Trauma mukosa
2. Nasopharingeal airway
Terbuat dari plastik atau karet yang lembut
dengan ukuran + 15 cm.
Cara memasukkan : masukkan NA ke
lubang hidung dengan lengkungan searah
anatomi hidung sampai belakang pharing.
Nasopharingeal airway biasanya lebih
ditoleransi pada pasien yang setengah
sadar / kesadaran menurun.

Komplikasi :
 Epistaksis.
 Aspirasi darah
 Spasme laring
 Bila terlalu dalam, bisa masuk ke
usofagus.
3. Penghisapan lendir.
khusus.
 materi khusus.
4. Intubasi Endotrakheal
Indikasi :
1. Pasien henti jantung
2. Pasien tidak mampu mempertahankan
jalan nafas adequat.
3. Pasien dengan respirasi tidak adequat /
gagal nafas shg perlu bantuan VM
4. Penolong tidak bisa memberikan
ventilasi secara adequat dengan cara
konvensional.
Alat : Ambubag, mayo, Laringoskop, Suction
ETT, Mandrin/stilet, magil forcep,Xilocain
Spray, Jelly, Spuit 10/20 cc,plester, gunting,
stetoskop.
Prosedur intubasi :
1. Hiperekstensi kepala
2. Cek ada gigi palsu atau tidak.
3. Pasang guedel
4. Hiperventilasi dengan oksigen 100 %
5. Semprotkan xilocain spray, kalau perlu
gunakan laringoskop untuk membantu
membuka
6. Hiperventilasi lagi
7. Pegang laringoskop dg tangan kiri,
8. Tangan kanan Cross finger
9. Masukkan laringoskop,menelusuri daerah
kanan, angkat ke depan 30 – 40 derajat.
Tangan kanan menekan trakhea agar
turun dan terlihat jelas.
10. Bila pita suara tampak, masukkan ETT
1-2 cm setelah balon melewati pita suara.
11. Kaji letak ETT dengan auskultasi.
12. Kembangkan balon sampai tidak ada
kebocoran.
13. Fiksasi dengan plester.
14. Evaluasi dg foto thoraks.
Komplikasi
 Trauma dan perdarahan
 Luka pada laring atau trakhea
 Malposisi
 Trakheo malasia
 Aritmia
 Aspirasi
Keuntungan
 Mencegah distensi lambung
 Mencegah aspirasi (balon mengembang)
mengembang)
 Dapat membersihkan lendir di dalam
 Dapat memberikan oksigen konsentrasi
tinggi
 Dapat untuk memasukkan obat tertentu
 Dapat memberikan ventilasi adequat