Вы находитесь на странице: 1из 6

I.

Landasan Teori
a. Organizational Culture
Budaya organisasi adalah serangkaian asumsi, kepercayaan, dan nilai yg berkembang dalam
suatu organisasi untuk menghadapi lingkungan eksternal dan internal dan diteruskan kepada
anggota-anggota baru dalam lingkungan tersebut. Budaya memiliki beberapa fungsi, yaitu
sebagai identitas bagi para anggotanya, komitmen para anggotanya, stabilitas, dan pengarahan
perilaku. Terdapat budaya organisasi dimana terdapat delegasi otoritas, yang dapat
meningkatkan kesempatan terjadinya pengambilan keputusan yang tidak etis. Akan tetapi,
dengan penekanan nilai-nilai oraganisasi, tindakan-tindakan tidak etis tersebut dapat dihindari.
b. Ciri-ciri Organisasi
Beberapa aspek dari budaya organisasi memerlukan perlakuan khusus untuk
mengembangkan pemahaman akan pengambilan keputusan yg etis.
- Iklim Organisasi
Terdapat sembilan iklim etik dalam organisasi, yaitu self-interest, company interest,
efisiensi, persahabatan, team interest, tanggung jawab sosial, moral personal, peraturan dan
prosedur operasi, hukum dan kode etik profesionalitas. Sangat mungkin terjadi lebih dari satu
macam iklim etik berada dalam suatu organisasi, misalnya unit organisasi yang berbeda dapat
menyimpulkan iklim etik yang berbeda pula. Terdapat dua dimensi dalam iklim etik, yaitu
differential association dimana hubungan antara anggota, pembuat keputusan, tergantung pada
tingkatan asosiasi antar anggota organisasi, dan role-set configuration dimana hubungan
terlibat oleh peranan yang dilakukan oleh manajer. Peranan masing-masing anggota organisasi
tergantung dari hubungannya dengan manager.
- Tujuan Organisasi
Tujuan organisasi juga mempengaruhi etika dalam pengambilan keputusan. Akan tetapi
banyak tujuan-tujuan organisasi yang tidak mempengaruhi aspek etika dari keputusan, maka
dari itu aspek yang dilihat hanya peraturan organisasi dan struktur rewards.
Peraturan organisasi dapat berupa sekedar code of conduct, hingga berupa peraturan operasi
yang ditetapkan oleh top management. Bentuk dari peraturan organisasi tidak begitu penting,
melainkan penyampaian peraturan tersebut kepada para anggota organisasi. Peraturan yang
dipikirkan dengan matang dan ditekankan dalam pelaksanaannya dengan tujuan perilaku
organisasi, maka akan dapat memberikan etika pada pengambilan keputusan.
Struktur reward juga dapat mempengaruhi aspek etika dalam pengambilan keputusan. Sekali
lagi, komunikasi yang baik dalam penyampaian reward and punishment akan memberikan
pengaruh yang signifikan dalam etika dalam pengambilan keputusan.

1
c. Proses Pengambilan Keputusan
- Management Problem
Kepentingan etika harus diikutkan dalam proses pengambilan keputusan. Management
problem dapat berupa urusan strategis dan taktis. Urusan strategis melibatkan komitmen jangka
panjang, seperti penetapan lokasi pabrik baru. Sedangkan urusan taktis hanya terbatas pada
penggunaan siber daya dalam jangka pendek dan biasanya ditentukan oleh manajemen tingkat
bawah.
- Alternatif Keputusan
Peraturan perusahaan sangat mempengaruhi pemilihan alternatif keputusan. Peraturan
perusahaan yang efektif dapat menghasilkan pengambilan keputusan yang etis. Selain itu
struktur reward dan kode etik profesionalitas juga dapat membantu menghasilkan pengambilan
keputusan yang etis.
- Dimensi Keputusan
Ketika serangkaian alternatif keputusan telah dibuat, setiap alternatif itu harus dievaluasi
berdasarkan kriteria ekonomi, politik, teknologi, sosial, dan etik.
- Proses Pengambilan Keputusan Dua Tahap
Tahap pertama adalah pengambilan keputusan berdasarkan kinerja minimum (minimum
performance level), misalnya pemilihan alternatif yang memiliki nilai ROI minimal seperti
yang diinginkan perusahaan. Kinerja minimum mungkin kurang menarik jika hanya aspek
tersebut saja yang diperhatikan, maka dari itu perlu diperhatikan aspek lain seperti teknologi,
etik, dan lain-lain. Tahap selanjutnya ada uji keuntungan total (total benefit test) alternatif-
alternatif keputusan yang telah melewati tahap pertama, kemudian diseleksi pada tahap ini.
Pada tahap ini, pemilihan alternatif berdasarkan kepada keuntungan keseluruhan yang
dihasilkan oleh alternatif tersebut.
d. Membuat Keputusan yang Bermoral
Budaya Kinerja Tinggi dapat Meningkatkan Perilaku Etis
Faktor kunci dalam etika organisasi adalah nilai-nilai yang terkandung dalam suatu organisasi.
Karakteristik dari perusahaaan yang berkinerja tinggi adalah:
 Karakteristik Budaya
Karakteristik budaya harus kuat, sesuai dengan lingkungan dimana perusahaan
beroperasi, dan harus dapat membantu perusahaan dalam memprakirakan perubahan
lingkungan dan dapat menyesuaikan terhadap perubahan tersebut.
 Penekanan Sistem Nilai Organisasi

2
Nilai-nilai organisasi harus mengandung kepedulian terhadap stakeholders,
memperhatikan efek jangka panjang, dan menekankan integritas.
 Perilaku Korporasi
Nilai organisasi harus menekankan perilaku etis.
e. Ethic Tools
Dalam evaluasi nilai etik dari sebuah keputusan dibutuhkan sebuah alat atau model, yaitu
decision support model.
1. Mengumpulkan informasi yang relevan
Informasi yang dikumpulkan termasuk pengaruh terhadap stakeholders dari alternatif
keputusan yang ada. Selain itu, seorang manajer juga harus memperhatikan hypernorms
yang relevan dan norma-norma yang ada dalam komunitas. Jika terjadi konflik antara
norma-norma tersebut, maka digunakan skala prioritas.
2. Faktor-faktor utama
Dalam beberapa kasus, beberapa norma lebih penting dari pada norma lainnya.
Misalnya pada perusahaan baja, faktor keamanan adalah hal yang sangat penting. Maka
dari itu perlu diadakan tes narkoba, walau pun itu melanggar hak privasi dari pegawai.
Faktor penting lainnya adalah incapacitation atau ketidakmampuan seorang manajer
dalam memilih suatu alternatif karena keterbatasan informasi.
3. Dimensi keputusan
Sama seperti pada “Budaya Organisasi”, dimensi-dimensi keputusan diperlukan dalam
decision support model.

II. Kasus
WorldCom’s Creative Accounting
Pada tahun 1996, Betty Vinson menjabat sebagai akuntan level menengah di
WorldCom yang merupakan perusahaan telekomunikasi skala kecil jarak jauh di
Jackson, Mississippi. Selama beberapa tahun, WorldCom berkembang dengan cepat
setelah mengakuisisi beberapa perusahaan seperti Brooks Fiber, MCI, Skytel, UUNet.
Setelah bergabung selama 2 tahun di WorldCom, Vinson dipromosikan menjadi senior
manager. Vinson dan 10 anggota timnya bertugas untuk menyusun laporan triwulan
operating expenses dan loss reserves.
Laba WorldCom meningkat drastis hingga tahun 2000 saat industri komunikasi
menghadapi masalah sehingga mengalami penurunan laba secara signifikan. Dengan
adanya biaya perusahaan dan biaya sewa jaringan kepada perusahaan telekomunikasi

3
lainnya membuat biaya WorldCom meningkat. Rasio tersebut diamati secara seksama
oleh wallstreet sebagai sebuah indikator kesehatan perusahaan. Bernard Ebbers (CEO)
dan Scott Sullivan (CFO) mengingatkan wallstreet bahwa pendapatan pada semester
kedua tahun tersebut akan turun dibawah ekspektasi. Pada kuarter ketiga, WorldCom
mengalami kerugian $685 juta.
Vinson, Yates, dan Troy Normand akuntan yang bertugas memonitor biaya tetap
perusahaan mencari sebuah cara untuk menutupi kekurangan dalam persiapan
mempublikasi laporan keuangan kuartal ketiga. Mereka mampu untuk menempatkan
$50 juta untuk menutupi tagihan yang belum terbayar. Pada bulan Oktober Yates
bertemu dengan Vinson dan Normand dan mengatakan kepada mereka bahwa Sullivan
dan David Myers mengarahkan mereka untuk mengambil $828 juta dari dana cadangan
(reserve account) yang didesain untuk menutupi biaya. Hal ini akan mengurangi biaya
yang seharusnya dan meningkatkan pendapatan. Ketiga akuntan ini sadar bahwa
tindakan ini tidak sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Tetapi akhirnya
mereka setuju untuk tetap melakukannya setelah diyakinkan oleh Yates bahwa hal ini
hanya dilakukan sekali itu saja.
Vinson berencana untuk mengundurkan diri namun tidak diperbolehkan oleh
Sullivan dan David Myers. Baik Vinson dan Norman diperbolehkan untuk
mengundurkan diri sampai masalah mengenai keuangan perusahaan dapat diatasi.
Mereka khawatir apabila dituntut untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Vinson
membutuhkan pekerjaan ini karena kondisi ekonomi keluarganya dan kesulitan untuk
mendapatkan pekerjaan yang baru. Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap bekerja
di WorldCom.
Pada 2001 mereka menghadapi kasus yang sama, dengan kerugian $771 juta.
Sullivan memerintahkan mereka untuk mencatatkan biaya operasional menjadi biaya
modal karena mereka sudah tidak memiliki reserve account. Vinson, Normand, dan
Yates akhirnya menuruti perintah Sullivan walaupun mereka terpaksa melakukannya.
Mereka masih melakukan tindakan ini sampai 3 kuartal kedepan. Karena tindakan
mereka ini, Vinson dipromosikan menjadi Director of Management Reporting,
Normand menjadi Director of Legal Entity Accounting.

III. Pembahasan
Berdasarkan fungsi budaya maka dapat dilihat bahwa budaya organisasi perusahaan
kurang kuat sehingga anggota organisasi dapat berperilaku tidak etis dan tidak memiliki

4
komitmen terhadap nilai perusahaan. Apabila WorldCom memiliki budaya organisasi yang kuat
dan menjunjung tinggi nilai perusahaan, maka Sullivan dan David Myers sebagai atasan tidak
akan memerintahkan karyawan nya yaitu Vinson, Yates, dan Troy Normand untuk melakukan
tindakan manipulasi laporan keuangan. Menurut iklim etik, tindakan yang dilanggar oleh
karyawan nya adalah tanggung jawab sosial, moral personal, peraturan dan prosedur operasi,
hukum dan kode etik profesionalitas.
Pelanggaran etis disebabkan oleh role set configuration, dimana peranan masing-
masing anggota tergantung hubungannya dengan manajer. Vinson, Yates, dan Troy Normand
melakukan tindakan tidak etis ini karena mematuhi perintah dari Sullivan. Selain itu penekanan
peraturan organisasi kepada anggota juga tidak disampaikan, terlihat dari atasan WorldCom
yang tidak memberi penegasan mengenai peraturan perusahaan pada karyawan jika melakukan
tindakan manipulasi. Dalam pengambilan keputusan ini maka Sullivan tidak mengevaluasi
dimensi keputusan ekonomi, politik, sosial dan etik.
Dalam kasus WorldCom dapat terlihat bahwa perusahaan tidak memiliki karakteristik
perusahaan yang berkinerja tinggi yaitu karakteristik budaya, penekanan sistem nilai organisasi,
perilaku korporasi. Dengan tidak adanya karakteristik perusahaan ini menyebabkan
pengambilan keputusan yang tidak bermoral. WorldCom juga tidak melakukan Ethics Tools
Decision Support Model karena keputusan yang dibuat merugikan stakeholders. Karena dari
dua pilihan yang ada Worldcom memilih menjaga harga perusahaan dibandingan membuat
laporan keuangan yang sesuai. Tindakan manipulasi yang dilakukan ini akan menciptakan citra
yang tidak baik bagi perusahaan.
Dalam kasus terdapat prinsip etika dan moral yang dilanggar. Prinsip utilitarianism
menekankan pada tanggung jawab sosial yang harus dilakukan oleh pelaku bisnis dengan
memilih alternative yang memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Prinsip tersebut
dilanggar oleh Top Management WorldCom yaitu Scott Sullivan dari CFO WorldCom, Buford
Yates Director of General Accounting WorldCom, Troy Norman Accounting in charge yang
mengawasi perusahaan, Betty Vinson Senior Manager di Accounting Department, dan David
Myers World’sCom Controller. Pengambilan keputusan manajemen memanipulasi transaksi
akuntansi dengan menghapus reserved dan mentransfer biaya operasi dengan dikapitalisasi
merupakan pelanggaran prinsip etika dan moral. selain itu kebijakan yang diambil juga
melanggar the ethics of care dimana kebijakan yang diambil WorlCom seharusnya
mempertimbangkan kepentingan stakeholders sebagai bentuk kepedulian. Alasan manajemen
yang ingin menyelamatkan perusahaan tidak tepat jika diimplementasikan dengan
memanipulasi informasi data keuangan. Terdapat stakeholder yang terlibat atas tindakan dan

5
kebijakan yang diambil perusahaan. Stakeholder yang terlibat diantaranya Owner / Investors
yang telah menanamkan dananya di Worldcom, Employees dari Worldcom, Customer dari
Worldcom, Supplier yang menyediakan produk dan Worldcom, Creditor, Government, dan
Community.

Solusi dan Saran


Ada beberapa solusi yang dapat ditawarkan oleh WorldCom yaitu dengan
 Dewan komisaris sebaiknya membuat lembaga pengawas secara khusus agar peraturan
organisasi tidak hanya dibuat dan dikomunikasikan saja namun dijalankan oleh
manajemen perusahaan.
 Badan pengawas harus memberikan reward dan punishment agar menciptakan iklim
perusahaan yang etis. Dengan menerapkan hal tersebut, karyawan akan termotivasi
untuk bekerja dengan giat dan mengetahui resiko/hukuman yang terjadi apabila
melakukan kesalahan saat bekerja.
 Komisaris seharusnya mengetahui pelanggaran yang dilakukan oleh Sullivan dan
memberhentikannya karena menurut rol set configuration maka atasan yang tidak etis
akan memberikan dampak kepada bawahan untuk melakukan tindakan yang tidak etis
juga.
 Perusahaan membuat sistem whistle blowing internal. Sistem ini menjadi sarana bagi
karyawan untuk dapat mengungkapkan praktik illegal, tidak bermoral, atau melanggar
hukum yang dilakukan oleh anggota organisasi kepada pihak didalam organisasi.
Pelaporan atas tindakan tidak etis tersebut akan lebih baik dilakukan kepada pihak
dalam organisasi sehingga dapat dicegah atau diselesaikan dengan cepat. Apabila
pelaporan ini dilakukan kepada pihak luar organisasi, hal ini hanya akan merusak citra
perusahaan.