You are on page 1of 4

BAB IV

ANALISA KASUS

Telah diperiksa pasien perempuan dengan inisial Ny. R usia 39 tahun datang dengan keluhan
sesak napas. Pasien datang dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari terakhir, sesak nafas memberat
saat beraktivitas dan saat muntah. Pasien juga mengeluhkan batuk sejak 2 bulan yang lalu,
berdahak sesekali, berwarna putih dan tidak berdarah serta sulit dikeluarkan, riwayat berkeringat
malam ada, penurunan berat badan (+) dalam 3 bulan, namun penurunan berat badan tidak
diketahui. Pasien juga mengeluh demam sejak 2 bulan yang lalu hilang timbul, turun dengan obat
penurun demam. Pasien juga mengeluhkan muntah sejak 2 hari yang lalu. Muntah dirasakan lebih
dari 5 kali dalam sehari, muntah berisi apa saja yang dimakan, riwayat muntah hitam 3 bulan yang
lalu. Nafsu makan pasien juga menurun. Pasien juga merasakan nyeri ulu hati. Nyeri dada
disangkal. BAK dan BAB tidak ada keluhan.
Penegakan diagnose dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang. Pasien
didiagnosa dengan tuberculosis paru kasus baru, dimana pasien sudah mengonsumsi OAT 23 hari.
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis complex
dan pasien belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT
kurang dari satu bulan (30 dosis harian).(1) Pasien juga didiagnosa dengan dyspepsia, hal ini sudah
dialami pasien sejak 4 bulan yang lalu, pada pemeriksaan endoskopi didapatkan gastritis antral
sedang. Pasien juga memiliki DM sejak 15 tahun yang lalu dan menggunakan insulin sejak 2 bulan
yang lalu. Disfungsi imun merupakan salah satu yang menyebabkan terjadinya peningkatan TB
paru pada penderita DM, hal ini disebabkan karena defek pada pertahanan host dan fungsi
kekebalan tubuh itu sendiri. DM juga menyebabkan penurunanan daya fagositosis makrofag,
sehingga mempengaruhi pertahanan tubuh. Hal ini didukung dengan sebuah pengamatan bahwa
penderita diabetes yang kurang terkontrol terjadi peningkatan TB yang lebih destruktif dan
mortalitas yang lebih tinggi. TB dapat menyebabkan perubahan sitokin, monosit-makrofag dan sel
T CD4/CD8. (10)
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan manifestasi klinis pada pasien
berupa sesak napas yang memberat dalam 2 hari terakhir, batuk 2 bulan terakhir, riwayat keringat
malam dan penurunan berat badan dan adik pasien yang tingga serumah dengan pasien mengalami

34
35

TB dan sedang mengalami pengobatan. Berdasarkan literatur manifestasi tersebut termasuk


manifestasi klinis respiratorik. Gejala respiratori ini sangat bervariasi dari mulai tidak ada gejala
sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Bila bronkus belum terlibat dalam proses
penyakit, maka pasien mungkin tidak ada gejala batuk. Gejala sistemik berupa demam, malaise,
keringat malam, anoreksia, dan berat badan menurun.(1)
Berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang, pada pemeriksaan Gen-Xpert didapatkan MTB
detected low. Xpert MTB adalah uji diagnostik yang dapat mengidentifikasi M. Tuberculosis dan
resistensi terhadap rifampisin. Pemeriksaan ini cukup sensitif dan berfungsi untuk menyaring
kasus suspek TB MDR secara cepat dengan bahan pemeriksaan dahak. Pemeriksaan ini memiliki
sensitivitas dan spesifisitas sekitar 99%.(2) Berdasarkan hasil foto thorax didapatkan adanya
infiltrate dan cavitas di paru kanan atas. Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB aktif
yaitu : (2)
 Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen
superior lobus bawah
 Kaviti terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular
 Bayangan bercak milier
 Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)
Pada pemeriksaan laboratorium, hasil abnormal didapatkan gula darah sewaktu 261 gr/dl
dan artinya pasien memiliki DM yang tidak terkontrol dalam 3 bulan terakhir. Pada DM terdapat
perbedaan dalam produksi sitokin, dimana terjadi penurun interferon (IFN)-gamma yang
diproduksi oleh CD4+ sel pada pasien TB dengan kontrol diabetes yang buruk, tetapi tidak pada
pasien yang kontrol diabetesnya baik. Tetapi IFN-gamma akan kembali meningkat setelah 6 bulan
pada pasien TB yang diabetesnya dikontrol dengan baik, tetapi tetap saja terjadi penurunan IFN-
gamma pada pasien yang diabetesnya tidak terkontol dengan baik.(13) Pada pemeriksaan EKG
didapatkan sinus takikardi dengan heart rate 111x/i.
 Tatalaksana yang diberikan pada pasien yaitu Stop OAT sementara
 O2 2-3L/I via Nasal kanul
 Pasang NGT
 IVFD Nacl 10 gtt/i
 Inj omeprazole 40mg/12jam
 Inj ondansetron 4mg/8jam
36

 Sukralfat syr 3 x c1
 SC Levemir 0-0-0-20
 SC Novorapid 8-8-8
 Tanapres 1 x 5mg
 Amlodipin 1 x 5mg
 HCT 1 x 25mg
 Bisoprolol 1 x 5mg
Tatalaksana yang dilakukan adalah stop OAT sementara, hal ini dilakukan untuk
mengurangi mual-muntah yang dirasakan pasien. Hampir semua OAT memiliki efek samping
gangguan gastrointestinal dan ditatalaksana dengan stop OAT serta lakukan pemeriksaan fungsi
hati. Fungsi hati pada pasien baik, yaitu :
HATI & EMPEDU
AST/SGOT 17 < 31 U/L
ALT/SGPT 9 < 34 U/L
Albumin - 3,5-5,2 g/dl

Bilirubin Total 0,30 0,3-1,2 Mg/dl


Bilirubin Direk 0,17 <0,52 Mg/dl
Bilirubin indirek 0,13 Mg/dl
Pada hari kelima rawatan, pasien lanjutkan pemberian OAT lepasan. Berikut terapi yang dian
jurkan pasa pasien TB dengan DM, yaitu :
 Paduan obat : 2 RHZ(E-S)/ 4 RH dengan regulasi baik/ gula darah terkontrol
 Bila gula darah tidak terkontrol, fase lanjutan 7 bulan : 2 RHZ(E-S)/ 7 RH
 DM harus dikontrol
 Hati-hati dengan penggunaan etambutol, karena efek samping etambutol ke mata ; sedan
gkan penderita DM sering mengalami komplikasi kelainan pada mata
 Perlu diperhatikan penggunaan rifampisin akan mengurangi efektiviti obat oral anti diabet
es (sulfonil urea), sehingga dosisnya perlu ditingkatkan
 Perlu kontrol / pengawasan sesudah pengobatan selesai, untuk mengontrol / mendeteksi d
ini bila terjadi kekambuhan (1)
Pasien diberikan Inj omeprazole 40mg/12jam, Inj ondansetron 4mg/8jam, Sukralfat syr
3xC1. Obat tersebut berfungsi untuk mengurangi mual dan muntah. Omeprazole merupakan obat
golongan pump proton inhibitor berfungsi untuk menekan produksi asam lambung sehingga
mengurangi nyeri pada lambung. Ondansetron merupakan antiemetic untuk menekan muntah.
37

Sukralfat bekerja pada lingkungan asam, bereaksi dengan asam klorida dalam lambung untuk
membentuk kompleks kental seperti pasta yang bertindak sebagai penyangga asam selama 6
sampai 8 jam. Obat ini juga merangsang produksi bikarbonat dan bertindak seperti buffer asam
dengan sifat sitoprotektif. Pemberian SC Levemir 0-0-0-10 IU, SC Novorapid 8-8-8 IU diberikan
untuk mengatasi hiperglikemia. Tanapres 1 x 5mg, Amlodipin 1 x 5mg, HCT 1 x 25mg dan
Bisoprolol 1 x 5mg diberikan untuk mengatasi hipertensi dan takikardi.