You are on page 1of 23

Tugas Mata Kuliah Lintas Minat

Indikator Dan Pengukuran Promosi Kesehatan


MENGUKUR KNOWLEDGE, ATTITUDE, PRACTICE MASYARAKAT
KAITANNYA DENGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE
(DBD)

oleh:
Kelompok 2
Nesya Eka Ramadhani 101511133009
Rina Wahyu Andani 101511133089
Fetty Rhomdani 101511133099
Samara Rahma Dania 101511133121
Aqmarina Adzkia Rahmani 101511133157
Umi Maisyarah 101511133180

DEPARTEMEN PROMOSI KESEHATAN DAN ILMU PERILAKU


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini secara tepat
waktu. Dalam makalah ini kami membahas tentang “Mengukur Knowledge,
Attitude, Practice Masyarakat Kaitannya dengan Penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD)”.
Selama proses penulisan makalah ini, terdapat beberapa hambatan, teatpi
atas kerja sama dengan berbagai pihak maka datat teratasi. oleh karena itu, kami
mengucapkan terima kasih kepada anggota kelompok dan semua pihak yang telah
memberikan bantuan serta dukungannya sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas ini dengan baik.
Kami juga senantiasa menerima kritik dan saran untuk perbaikan dalam
makalah ini dan penulisan yang lebih baik pada makalah berikutnya. Semoga
tugas yang telah kami kerjakan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Akhir kata
kami mengucapkan terima kasih.

Surabaya, 22 Februari 2018

Penyusun

Kelompok 2

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL............................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.3 Tujuan.............................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................3
2.1 Konsep KAP...................................................................................................3
2.2 Definisi DBD..................................................................................................6
2.3 Penyebab DBD...............................................................................................7
2.4 Gejala DBD....................................................................................................7
2.5 Cara Pencegahan DBD...................................................................................8
BAB III PEMBAHASAN....................................................................................10
3.1 Kuesioner KAP dan Cara Perhitungan.........................................................10
3.2 Analisis KAP Kaitannya dengan DBD.........................................................18
BAB IV PENUTUP..............................................................................................20
4.1 Kesimpulan...................................................................................................20
4.2 Saran.............................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................21

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh satu dari 4 virus dengue berbeda dan ditularkan melalui
nyamuk terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang ditemukan di
daerah tropis dan subtropis di antaranya kepulauan di Indonesia hingga bagian
utara Australia (Vyas, 2013).
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya
mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan luas daerah
penyebarannya semakin bertambah. Di Indonesia, demam berdarah pertama
kali ditemukan di Kota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang
terinfeksi dan 24 orang di antranya meninggal dunia, dengan Angka Kematian
(AK) mencapai 41,3%. Sejak ssat itu, penyakit menyebar luas ke seluruh
Indonesia (Kemenkes, 2010).
Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita DBD di
Indonesia pada bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 8.487 orang penderita
DBD dengan jumlah kematian 108 orang. Golongan terbanyak yang
mengalami DBD di Indonesia pada usia 5-14 tahun mencapai 43,44% dan
usia 15-44 tahun mencapai 33,25%.
Setiap tahun kejadian penyakit DBD di Indonesia cenderung
meningkat pada pertengahan musim penghujan sekitar Januari, dan cenderung
turun pada Februari hingga ke penghujung tahun. Terjadinya KLB DBD di
Indonesia berhubungan dengan berbagai faktor risiko, yaitu: 1) Lingkungan
yang masih kondusif untuk terjadinya tempat perindukan nyamuk Aedes; 2)
Pemahaman masyarakat yang masih terbatas mengenai pentingnya
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus; 3) Perluasan daerah endemik
akibat perubahan dan manipulasi lingkungan yang terjadi karena urbanisasi
dan pembangunan tempat pemukiman baru; serta 4) Meningkatnya mobilitas
penduduk.
Karena penyakit DBD dapat mengakibatkan komplikasi yang fatal,
maka perlu dilakukan pencegahan DBD dengan menggalakkan berbagai

1
program dan peningkatan partisipasi dari masyarakat. Untuk itu penting bagi
kita mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat dalam
menghadapi penyakit DBD.

1.2 Rumusan Masalah


1) Bagaimana cara mengukur tingkat pengetahuan (knowledge) masyarakat
kaitannya dengan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)?
2) Bagaimana cara mengukur tingkat sikap (attitude) masyarakat kaitannya
dengan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)?
3) Bagaimana cara mengukur tingkat tindakan (practice) masyarakat
kaitannya dengan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)?

1.3 Tujuan
1) Mengukur tingkat pengetahuan (knowledge) masyarakat kaitannya dengan
penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
2) Mengukur tingkat sikap (attitude) masyarakat kaitannya dengan penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD).
3) Mengukur tindakan (practice) masyarakat kaitannya dengan penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD).

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Knowledge Attitude Practice (KAP)


2.1.1 Knowledge (Pengetahuan)
Pengetahuan merupakan sesuatu yang dihasilkan dari tahu dan
terbentuk setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu
obyek tertentu. Pengindraan tersebut melalui panca indra manusia yaitu
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba yang dilakukan
individu tersebut sendiri. Terdapat enam tingkatan di dalam domain
kognitif, yaitu:
a. Tahu (Know)
Tahu merupakan pengetahuan yang paling rendah, diartikan sebagai
mengingat suatu materi yang telah dipelajari dan dapat diukur
dengan kata kerja menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi,
maupun menyatakan.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami artinya suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang apa yang diketahui sehingga orang yang paham
terhadap suatu materi dapat menjelaskan, menyebutkan contoh atau
menyimpulkan objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi merupakan kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi dan kondisi, seperti penggunaan hukum-
hukum ,rumus, metode, prinsip dan sebagainya.
d. Analisis (Analysis)
Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menyatakan materi ke
dalam komponen-komponen tetapi masih ada kaitannya satu sama
lain. Salah satu tanda seseorang sudah mencapai tahap ini adalah
orang tersebut mampu membedakan, memisahkan,
mengelompokkan, atau membuat diagram terhadap suatu obyek.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan
bagian-bagian di dalam suatu formulasi yang baru. Secara lebih

3
sederhana, sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan penilaian
terhadap suatu materi berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri
maupun menggunakan kriteria yang telah ada.
2.1.2 Attitude (Sikap)
Sikap bersifat tertutup dan merupakan predisposisi perilaku
seseorang terhadap suatu stimulus. Menurut Newcomb, sikap merupakan
kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan
pelaksanaan motif tertentu. Terdapat beberapa tingkatan sikap yakni:
a. Menerima. Menerima diartikan bahwa seorang mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan.
b. Menanggapi. Menanggapi diartikan apabila seseorang memberikan
jawaban atau tanggapan terhadap obyek yang dihadapkan.
c. Menghargai. Menghargai diartikan seseorang memberikan nilai yang
positif terhadap suatu objek seperti mengerjakan atau mendiskusikan
suatu masalah.
d. Bertanggung jawab. Seseorang pada tingkatan ini harus berani
mengambil resiko apabila ada orang lain yang mencemooh ataupun
resiko lainnya.
Ciri-ciri sikap dalam buku Notoadmodjo (2003) adalah:
a. Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari
sepanjang perkembangan itu dalam hubungannya dengan obyeknya.
b. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap
dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan
syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.
c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan
tertentu terhadap suatu obyek. Dengan kata lain sikap itu terbentuk,
dipelajari, atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu obyek
tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.
d. Obyek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga
merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
e. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat
alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan- kecakapan atau
pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.

4
Menurut Azwar S (2011) sikap terdiri dari 3 komponen yang
saling menunjang yaitu:
a. Komponen kognitif
Merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu
pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe yang
dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan
(opini) terutama apabila menyangkut masalah isu atau yang
kontroversial.
b. Komponen afektif
Merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek
emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai
komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan
terhadap
pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang
komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki
seseorang terhadap sesuatu.
c. Komponen konatif
Merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai sikap
yang dimiliki oleh seseorang. Aspek ini berisi tendensi atau
kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu
dengan cara-cara tertentu.

Sikap dapat diukur dengan metode/teknik :


a. Measurement by scales merupakan pengukuran sikap dengan
menggunakan skala. Dua model skala sikap, yaitu skala sikap Likert
dan skala sikap Thorstone.
b. Measurement by rating merupakan pengukuran sikap dengan
meminta pendapat atau penilaian para ahli yang mengetahui sikap
individu yang dituju.
c. Indirect method merupakan pengukuran sikap secara tidak langsung
yakni mengamati (eksperimen) perubahan sikap/pendapat yang
bersangkutan.

2.1.3 Practice (Perilaku)


Perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik
yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati dari luar.

5
Menurut Skinner, perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap
suatu rangsangan dari luar. Berdasarkan bentuk respons terhadap
stimulus, perilaku dapat dibagi menjadi dua yakni:
a. Perilaku tertutup (covert behavior). Perilaku tertutup terjadi apabila
respon dari suatu stimulus belum dapat diamati oleh orang lain
secara jelas. Respon seseorang terhadap stimulus ini masih terbatas
pada perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap
stimulus tersebut. Bentuk covert behavior yang dapat diamati
adalah pengetahuan dan sikap.
b. Perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku terbuka terjadi apabila
respon terhadap suatu stimulus dapat diamati oleh orang lain.
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam suatu tindakan
atau praktik yang dapat dengan mudah diamati oleh orang lain.
Menurut Notoadmodjo (2003) cara mengukur indikator
perilaku atau praktik yang akurat adalah melalui pengamatan atau
observasi. Namun juga dapat dilakukan melalui wawancara dengan
pendekatan recall atau mengingat kembali perilaku yang telah dilakukan
oleh responden beberapa waktu yang lalu.

2.2 Demam Berdarah Dengue


2.2.1 Definisi
Menurut World Health Organization, Demam Dengue (DD) adalah
penyakit virus demam akut yang biasanya ditandai dengan munculnya
gejala seperti sakit kepala, sakit pada tulang atau sendi dan otot, ruam
dan leukopenia. Pada beberapa penderita demam dengue, demam
dengue dapat berkembang menjadi Demam Berdarah Dengue (DBD),
bentuk penyakit demam dengue yang parah dan terkadang berakibat
fatal.
DBD ditandai dengan 4 manifestasi klinik utama, yaitu demam
tinggi, hemoragik atau pendarahan, hepatomegali atau membesarnya
hati, dan, pada beberapa kasus yang parah, tanda-tanda kegagalan
peredaran darah. Beberapa pasien demam dengue dapat mengalami
syok hipovolemik, kondisi darurat dimana jantung tidak mampu

6
memasook darah yang cukup ke seluruh tubuh akibat volume darah
yang kurang, yang disebabkan oleh kebocoran plasma darah. Hal ini
dikenal dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan dapat berakibat
fatal.

2.2.2 Penyebab

Penyakit demam berdarah dengue disebabkan oleh virus Dengue


dari genus Flavivirus, famili Flaviridae. Virus Dengue penyebab
Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD), dan Dengue
Shock Syndrome (DSS) mempunyai empat jenis serotipe, yaitu Den-1,
Den-2, Den-3, dan Den-4.

DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang


terinfeksi virus Dengue, terutama nyamuk Aedes aegypti. Sekali
terinfeksi, maka seekor nyamuk akan tetap terinfeksi sepanjang
hidupnya, menularkan virus pada individu-individu yang rentan melalui
proses menyelidiki mangsa dan makan.

2.2.3 Gejala

Demam dengue biasa ditandai dengan demam tinggi antara 3-14


hari setelah tergigit oleh nyamuk yang terinfeksi. Gejala-gejalanya
meliputi sakit kepala bagian depan, sakit punggung, mialgia atau sakit
otot, arthralgia atau nyeri sendi, manifestasi pendarahan, ruam, dan
jumlah sel darah putih yang rendah. Pasien dapat juga merasakan
anoreksia dan mual.

Gejala pada DBD merupakan gejala lanjutan dari demam dengue.


Biasanya setelah demam mulai mereda (sekitar 3-7 hari setelah gejala
muncul), pasien mulai menunjukkan tanda-tanda berbahaya dari
penyakit ini. Tanda-tanda berbahaya tersebut meliputi sakit perut parah,
muntah terus-menerus, perubahan suhu (dari demam menjadi
hipotermia), manifestasi pendarahan, atau perubahan pada kondisi
mental pasien (mudah marah, bingung, penurunan kesadaran). Pasien

7
juga mungkin memiliki gejala-gejala awal syok, meliputi kegelisahan,
kulit lembap, denyut nadi cepat, dan penyempitan tekanan nadi.

2.2.4 Cara Pencegahan

Dalam pencegahan penyakit DBD, dapat dilakukan beberapa


program pencegahan oleh masyarakat dan pemerintah setempat, salah
satunya adalah program Pemberantasan Sarang Nyamuk. Program PSN
dilakukan dengan cara 3M Plus. Program PSN yaitu:
1. Menguras
Menguras yaitu membersihkan tempat yang sering dijadikan
tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat
penampungan air minum, dan penampung air lemari es.
2. Menutup
Menutup yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan
air seperti drum, kendi, dan toren air.
3. Memanfaatkan kembali
Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang
memiliki potensi untuk menjadi tempat perkembangbiakan
nyamuk penular virus Dengue.

Adapun yang dimaksud dengan 3M Plus adalah segala bentuk


kegiatan pencegahan seperti:
1. Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang
sulit dibersihkan.
2. Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk.
3. Menggunakan kelambu saat tidur.
4. Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk.
5. Menanam tanaman pengusir nyamuk.
6. Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah.
7. Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah
yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk.

8
9
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kuisioner KAP dan Cara Perhitungan

KUESIONER PENELITIAN MENGUKUR PENGETAHUAN,


SIKAP, DAN PERILAKU KAITANNYA DENGAN PENYAKIT
DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Nama :

Alamat :

Umur :

Status dalam keluarga :

Pekerjaan :

Pendidikan terakhir :

a. Tidak sekolah/buta huruf

b. Sekolah Dasar (SD) atau sederajat

c. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama(SLTP) atau sederajat

d. Sekolah Menengah Umum(SMU) atau sederajat

e. Akademi (D1, D2, D3)

f. Sarjana (S1, S2, S3)


I. PENGETAHUAN
Pilihlah jawaban yang PALING BENAR!
1. Penyakit demam berdarah ditularkan oleh...
a. Nyamuk(10)
b. Kuman(0)
c. Makanan/minuman(0)
d. Udara(0)
2. Penyebab demam berdarah adalah...
a. Virus(10)

10
b. Kuman(0)
c. Guna-guna(0)
d. Bakteri(0)
3. Nyamuk penular demam berdarah senang beristirahat di..
a. Dekat cahaya lampu(0)
b. Pakaian yang digantung(10)
c. Air yang kotor(0)
d. Dekat dengan bunga (0)
4. Apakah ciri-ciri nyamuk penular demam berdarah?
a. Warna hitam tidak bintik-bintik(0)
b. Warna hitam bintik-bintik putih(10)
c. Warna coklat bintik-bintik putih(0)
d. Warna coklat(0)
5. Bagaimanakah pola demam pada penyakit demam berdarah
dengue?
a. Demam tinggi yang menetap selama satu minggu(0)
b. Demam tinggi selama 2 minggu(0)
c. Seperti pelana kuda(10)
d. Seperti tapal kuda(0)
6. Gejala pasien demam berdarah adalah
a. Demam tinggi mendadak(0)
b. Bintik-bintik merah pada kulit(0)
c. Jawaban a dan b benar(10)
d. Jawaban a dan b salah(0)
7. Apakah yang dimaksud dengan gerakan 3 M?
a. Menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air,
memasak air yang akan diminum(0)
b. Menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air,
mengubur barang bekas(10)
c. Menutup tempat penampungan air, mengubur barang bekas,
memasak air yang akan diminum(0)
d. Menguras bak mandi,mengubur barang bekas, memasak air
yang akan diminum(0)
8. Berapa kali kita harus menguras tempat penampungan air, seperti
bak mandi?
a. Paling sedikit seminggu sekali(10)
b. Paling sedikit dua minggu sekali(0)
c. Satu bulan sekali(0)
d. Tidak pernah dikuras (0)
9. Jentik nyamuk penular demam berdarah dapat diberantas
dengan...
a. Serbuk abate (10)
b. Fogging (0)
c. Porselin (0)
d. Baygon (0)

11
10. Kapan seharusnya dilakukan pengasapan (fogging)?
a. Berkala 1 bulan sekali (0)
b. Berkala 1 minggu sekali(0)
c. Jika ada yang terkena demam berdarah dengue di lingkungan
rumah (10)
d. Sesuai keinginan masyarakat setempat (0)
Cara perhitungan
Perhitungan kuesioner mengenai pengetahuan responden terhadap
penyakit Demam Berdarah Dengue adalah dengan cara sebagai
berikut:
a. Menentukan skor tiap soal
Setiap satu soal yang dijawab benar mendapatkan skor 10,
sedangkan soal yang dijawab salah mendapatkan skor 0.
b. Menentukan skor maksimal pada aspek pengetahuan
Skor maksimal yang didapatkan pada aspek pengetahuan adalah
100.

c. Menghitung presentase jawaban benar responden

d. Menentukan kategori presentase


Baik : >75%
Cukup : 50%-75%
Kurang : <50%

II. SIKAP

No Pernyataan STS TS S SS

1. Menurut saya, upaya 1 2 3 4


pencegahan penyakit demam
berdarah merupakan
kebutuhan masyarakat yang
harus segera dilakukan

2. Menurut saya, pihak yang 1 2 3 4


bertanggung jawab dalam
upaya penanggulangan
penyakit demam berdarah
adalah pemerintah dan
seluruh komponen

12
masyarakat.

3. Saya bersedia mengikuti 1 2 3 4


upaya pencegahan penyakit
demam berdarah di
lingkungan tempat tinggal
saya.

4. Saya setuju apabila diadakan 1 2 3 4


upaya pencegahan penyakit
demam berdarah secara
berkala di lingkungan
tempat tinggal saya, misal
jumat bersih, gotong-royong.

5. Saya tidak suka 4 3 2 1


membersihkan dan
menguras bak mandi secara
rutin

6. Saya setuju dengan upaya 1 2 3 4


3M (Menguras, Mengubur,
Menutup) plus yang
digalakkan oleh pemerintah.

7. Menurut saya, menyimpan 4 3 2 1


pakaian dengan cara
digantung boleh dilakukan.

8. Pengawasan terhadap jentik 4 3 2 1


nyamuk adalah hal yang
merepotkan bagi saya.

9. Menurut saya, fogging 4 3 2 1


(pengasapan) efektif dalam
mencegah demam berdarah.

10. Menurut saya, 1 2 3 4


memperhatikan kesehatan
diri dan melakukan 3M
adalah upaya yang harus
dilakukan untuk mencegah
demam berdarah

Cara perhitungan

13
Perhitungan kuesioner mengenai sikap responden terhadap
pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue adalah dengan cara
sebagai berikut:
a. Menentukan skor tiap soal
Setiap soal memiliki 4 (empat) tingkatan jawaban, yakni:
1) Untuk pernyatan positif
- Sangat Setuju (SS) : skor 4
- Setuju (S) : skor 3
- Tidak Setuju (TS) : skor 2
- Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 1
2) Untuk pernyataan negatif
- Sangat Setuju (SS) : skor 1
- Setuju (S) : skor 2
- Tidak Setuju (TS) : skor 3
- Sangat Tidak Setuju (STS) : skor 4
b. Menentukan skor maksimal pada aspek sikap
Skor maksimal yang didapatkan pada aspek sikap adalah 40.
c. Menghitung presentase jawaban benar responden

d. Menentukan kategori presentase


Baik : >75%
Cukup : 50%-75%
Kurang : <50%

III. TINDAKAN

1. Berapa kali keluarga Anda menguras dan membersihkan bak mandi


atau tempat penampungan air yang berada di rumah? Jelaskan
alasannya! ..........................................................................................
............................................................................................................
..................

Kata Kunci : 1 kali dalam seminggu (10); 1 kali dalam 2 minggu


(8); 1 kali dalam 3 minggu (5); 1 kali dalam 1 bulan (3); 1 kali
dalam >1 bulan (0)

2. Bagaimana keadaan tempat penampungan air yang ada dirumah


Anda? .................................................................................................
............................................................................................................
...........

14
Kata Kunci : Tempat penampungan air tertutup (10); tempat
penampungan tertutup sebagian (5); tempat penampungan air tidak
tertutup (0)

3. Apa yang Anda lakukan untuk mengelola barang bekas yang dapat
menjadi tempat bersarangnya nyamuk?

............................................................................................................
............................................................................................................

Kata Kunci : Mendaur ulang barang bekas (10); mengubur barang


bekas (3); membakar barang bekas (3); menumpuk barang bekas
(0)

4. Seberapa sering keluarga Anda mengganti abate pada tempat


penampungan air di rumah?

............................................................................................................
............................................................................................................

Kata Kunci : Setiap 1-3 bulan sekali (10); lebih dari 3 bulan sekali
(3); tidak pernah diganti (0)

5. Apakah keluarga Anda menutup jendela/lubang angin/pintu dengan


kawat anti nyamuk? Jelaskan alasannya

............................................................................................................
............................................................................................................

Kata Kunci : jendela, lubang angin, dan pintu tertutup kawat anti
nyamuk (10), jendela/lubang angin/pintu tidak tertutup kawat anti
nyamuk (0)

6. Apa yang Anda lakukan untuk melindungi diri terhadap gigitan


nyamuk?

............................................................................................................
............................................................................................................

15
Kata kunci: Menggunakan pakaian lengan panjang dan celana
panjang (2); menggunakan lotion anti nyamuk atau obat nyamuk
(2); menempatkan kelambu di sekeliling tempat tidur (2);
menggunakan raket listrik anti nyamuk (2); memasang kasa anti
nyamuk pada pintu dan jendela (2)

7. Kegiatan pengawasan apa saja yang telah anda lakukan terhadap


jentik nyamuk di rumah?

............................................................................................................
............................................................................................................

Kata kunci: Pemeriksaan bak air (3), pemeriksaan jamban (3),


pemeriksaan barang berwadah tidak terpakai (2), secara rutin (2)

8. Bagaimana kondisi lingkungan rumah bebas nyamuk yang ideal


menurut anda?

............................................................................................................
............................................................................................................
Kata kunci: Tidak ada nyamuk sama sekali (10), ada sedikit
nyamuk (3), ada banyak nyamuk (0)

9. Kegiatan pencegahan/penanggulangan demam berdarah apa yang


pernah dilakukan di lingkungan tempat tinggal Anda?

............................................................................................................
............................................................................................................

Kata kunci: Gotong-royong bersih-bersih desa (3), 3M Plus (2),


penggunaan abate (2), fogging (2), sosialisasi dari kader (1)

10. Bagaimana cara pembuangan sampah yang selama ini Anda


lakukan?

............................................................................................................
............................................................................................................

16
Kata kunci: Diangkut/dikumpulkan petugas kebersihan (8),
dibakar/dikubur di lingkungan (3), secara rutin (2)

Cara perhitungan
Perhitungan kuesioner mengenai tindakan responden terhadap
pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue adalah dengan cara
sebagai berikut:
a. Menentukan skor tiap soal
Setiap soal memiliki kata kunci jawaban. Setiap jawaban
responden akan dicocokkan dengan kunci jawaban dan skor yang
telah ditentukan sebelumnya.
b. Menentukan skor maksimal pada aspek tindakan
Skor maksimal yang didapatkan pada aspek tindakan adalah 100.
c. Menghitung presentase jawaban benar responden

d. Menentukan kategori presentase


Baik : >75%
Cukup : 50%-75%
Kurang : <50%

3.2 Analisis KAP Kaitannya dengan Penyakit DBD

Demam berdarah adalah penyakit infeksius yang tertinggi diantara


penyakit infeksius lainnya. Penyakit ini bersifat akut yang dapat
mengakibatkan demam tinggi, pendarahan dan pada kasus-kasus yang berat
dapat menyebabkan kematian. Upaya pencegahan terhadap penyakit demam
berdarah sangat penting dilakukan untuk mengurangi risiko kematian akibat
demam berdarah. Upaya pencegahan dan pemberantasan DBD telah
disosialisasikan kepada masyarakat melalui berbagai macam media dan
berbagai macam cara, seperti fogging, penggunaan larvasida (abate), dan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Akan tetapi hasilnya belum seperti
yang diharapkan. Hal ini terbukti dari insiden DBD yang selalu meningkat
tiap tahunnya.

Faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan kasus DBD adalah


tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat terhadap
penanggulangan DBD. Menurut Anwar 2000, faktor risiko yang

17
mempengaruhi penyakit DBD dari segi pengetahuan misalnya pengetahuan
tentang tanda/gejala, cara penularan, penyebab penyakit DBD serta
pencegahan dan penanggulangan penularan penyakit DBD. Sedangkan faktor
sikap dan tindakan misalnya sikap dan tindakan masyarakat terhadap upaya
penanggulangan DBD serta kebiasaan masyarakat juga berperan dalam
penularan DBD.

Menurut Yanuarita 2016, semakin tinggi pengetahuan maka semakin


mempengaruhi seseorang untuk bersikap baik dalam kaitannya dengan
pencegahan dan penanggulangan DBD. Namun dalam kenyataannya, sikap
yang baik tidak menjamin seseorang akan bertindak baik. Hal ini mungkin
disebabkan karena sikap yang baik untuk dapat terwujud menjadi praktik atau
tindakan yang baik dalam kaitannya dengan pencegahan dan penanggulangan
DBD memerlukan faktor atau kondisi yang mendukung, seperti sarana dan
prasarana serta dukungan pihak lain.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

18
Demam berdarah adalah penyakit infeksius yang tertinggi diantara
penyakit infeksius lainnya. Penyakit ini bersifat akut yang dapat
mengakibatkan demam tinggi, pendarahan dan pada kasus-kasus yang berat
dapat menyebabkan kematian. Upaya pencegahan terhadap penyakit demam
berdarah sangat penting dilakukan untuk mengurangi risiko kematian akibat
demam berdarah. Untuk itu penting bagi kita mengetahui tingkat pengetahuan,
sikap dan tindakan masyarakat dalam menghadapi penyakit DBD. Cara untuk
mengukur tingkat pengetahuan (knowledge), tingkat sikap (attitude), dan
tindakan (practice) masyarakat kaitannya dengan penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD) adalah dengan menggunakan “Kuesioner Penelitian
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Terhadap Upaya Pencegahan Penyakit
Demam Berdarah”. Hasil perhitungan >75% artinya baik, 50%-75% artinya
cukup, dan <50% artinya kurang.

4.2 Saran

Diharapkan kuesioner tersebut dapat digunakan sebagaimana mestinya


agar pengukuran terhadap tingkat pengetahuan (knowledge), tingkat sikap
(attitude), dan tindakan (practice) masyarakat kaitannya dengan penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) memiliki hasil yang valid.

19
DAFTAR PUSTAKA

Azwar S. 2011. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Jakarta: Pustaka.


Pelajar.
Centers for Disease Control and Prevention. 2009. Dengue and Dengue
Hemorrhagic Fever. San Juan: U.S. Department of Health and Human
Services.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Demam Berdarah Dengue.
Buletin Jendela Epidemiologi, 8(2), pp. 1.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Wilayah KLB DBD Ada di 11
Provinsi. [Online].
(http://www.depkes.go.id/article/print/16030700001/wilayah-klb-dbd-ada-
di-11-provinsi.html, diakses pada tanggal 24 Februari 2018)
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Kendalikan DBD dengan PSN
3M Plus. [Online]. Diakses pada 24 Februari 2018 di
http://www.depkes.go.id/article/view/16020900002/kendalikan-dbd-dengan-
psn-3m-plus.html22.23.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Pusdatin Kemenkes RI, 2016, Infodatin Situasi DBD, [pdf],
(file:///C:/Users/AHNAF/Downloads/infodatin%20dbd%202016.pdf,
diakses pada tanggal 24 Februari 2018)
Syed, Madiha, dkk. 2010. Knowledge, Attitudes and Practices Regarding Dengue
Fever Among Adults of High and Low Socioeconomic Groups. Journal of
the Pakistan Medical Association, 60(3), 243-7.
World Health Organization. 1997. Dengue Haemorrhagic Fever: Diagnosis,
Treatment, Prevention, and Control 2nd Edition. Geneva: World Health
Organization.

20