You are on page 1of 49

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

 

Menurut

Undang-undang

RI

No.

36

tahun

2009,

menyatakan

bahwa,

kesehatan merupakan Hak Asasi Manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipatif dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan ketahanan dan daya asing bangsa bagi pembangunan nasional, (anonim e , 2009). Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya pada mulanya berupa upaya penyembuhan penyakit, kemudian secara berangsurangsur berkembang ke arah keterpaduan upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat dengan mengikutsertakan masyarakat secara luas yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang bersifat menyeluruh terpadu dan berkesinambungan. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah di bidang kesehatan adalah mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan yang mencakup pemerataan penyaluran obat dan perbekalan farmasi, (anonim e , 2009). Salah satu pelayanan kesehatan yang menyalurkan obat dan perbekalan farmasi adalah apotek. Sebagai alat distribusi perbekalan farmasi, apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Apotek berkewajiban untuk menyediakan dan menyalurkan obat dan perbekalan farmasi lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat dan harus dapat mendukung serta membantu terlaksananya usaha Pemerintah untuk menyediakan obat-ohat secara merata dengan harga yang dapat terjangkau oleh masyarakat. Selain menyalurkan obat, apotek juga memberikan informasi obat kepada masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya, (anonim d , 2004).

1

Peraturan Pemerintah RI Nomor 51 tahun 2009 menyatakan bahwa Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional, (anonim f , 2009). Selain daripada hal tersebut, kegiatan Praktik Belajar Lapangan merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa/i Akademi Farmasi Yayasan Tenaga Pembangunan Arjuna Laguboti yang diadakan pada semester VI. Laporan ini merupakan gambaran secara ringkas tentang segala kewajiban di Apotek Kimia Farma 29 yang meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan pelaporan obat.

1.2 Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan Praktek Kerja Lapangan di Apotek Kimia

Farma 29 adalah:

  • 1. Untuk mengetahui bagaimana perencanan sediaan farmasi yang dilakukan di Apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar.

  • 2. Untuk mengetahui bagaimana pengadaan sediaan farmasi yang dilakukan di Apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar.

  • 3. Untuk mengetahui bagaimana penyimpanan sediaan farmasi yang dilakukan di Apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar.

  • 4. Untuk mengetahui bagaimana pendistribusian sediaan farmasi yang dilakukan di Apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar.

  • 5. Untuk mengetahui bagaimana pencatatan dan pelaporan sediaan farmasi yang dilakukan di Apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2

2.1 Definisi Apotek

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian yang dimaksud apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas pelayanan kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian, (anonim f , 2009). Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek menyatakan bahwa apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakatm (anonim d ,

2004).

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional. Sedangkan yang dimaksud dengan sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat asli Indonesia (obat tradisional) dan kosmetik. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.

Pekerjaan kefarmasian dilakukan berdasarkan pada nilai ilmiah, keadilan, kemanusiaan, keseimbangan, dan perlindungan serta keselamatan pasien atau masyarakat yang berkaitan dengan sediaan farmasi yang memenuhi standar dan persyaratan keamanan, mutu, dan manfaat. Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian meliputi (Anonim f , 2009) :

  • a. Pekerjaan Kefarmasian dalam Pengadaan Sediaan Farmasi;

  • b. Pekerjaan Kefarmasian dalam Produksi Sediaan Farmasi;

  • c. Pekerjaan Kefarmasian dalam Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi;

3

  • d. Pekerjaan Kefarmasian dalam Pelayanan Sediaan Farmasi.

2.2 Tugas dan Fungsi Apotek

Tugas dan fungsi apotek menurut Petunjuk Teknis Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (SK Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004) (anonim h , 2008) :

  • 1. Sebagai tempat pengabdian apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.

2. Sebagai

sarana

farmasi

untuk

melakukan

peracikan, pengubahan

bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat.

  • 3. Sebagai sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.

  • 2.3 Persyaratan Apotek

Penyelenggaraan pelayanan Apotek harus diusahakan agar lebih menjangkau

masyarakat. Menurut Permenkes Nomor 1332/Menkes/SK/X/2002, menyatakan bahwa (anonim i , 2002) :

  • a. Untuk mendapatkan Izin Apotek, Apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan serta persediaan farmasi dan pebekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau pihak lain.

  • b. Sarana Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan farmasi.

  • c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya diluar sediaan Farmasi.

  • 2.4 Pengelolaan Apotek

    • 2.4.1 Sumber Daya Manusia

Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku apotek harus dikelola oleh seorang apoteker yang profesional. Dalam pengelolaan apotek, apoteker senantiasa harus memiliki kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat, kemampuan berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisipliner, kemampuan mengelola SDM secara efektif, selalu belajar sepanjang karier, dan

4

membantu memberi pendidikan dan memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan, (anonim d , 2004).

  • 2.4.2 Sarana dan Prasarana

Lokasi apotek adalah tempat apotek didirikan. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/ 2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apotek berlokasi pada daerah yang mudah dikenali oleh masyarakat. Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek. Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh anggota masyarakat. Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi resiko kesalahan penyerahan. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling. Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya. Apotek harus bebas dari hewan pengerat, serangga, apotek memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pendingin. Apotek harus memiliki:

  • 1. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.

  • 2. Tempat untuk mendisplai informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi informasi.

  • 3. Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien.

  • 4. Ruang peracikan.

  • 5. Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien.

Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak penyimpanan obat dan barang-barang lain yang tersusun dengan rapi, terlindung dari debu, kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan dan temperatur yang telah ditetapkan

(anonim d , 2004).

5

2.4.3

Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Alat Kesehatan Lainnya

Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya dilakukan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku meliputi:

perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pelayanan. Pengeluaran obat memakai sistim FIFO (first in first out) dan FEFO (first expire first out).

  • 1. Perencanaan Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu diperhatikan:

    • a. Pola penyakit.

    • b. Kemampuan masyarakat.

    • c. Budaya masyarakat.

  • 2. Pengadaan Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan farmasi harus melalui jalur resmi.

  • 3. Penyimpanan. a. Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru, wadah sekurang-kurangnya memuat nomor batch dan tanggal kadaluarsa. b. Semua bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai, layak dan menjamin kestabilan bahan (anonim d , 2004).

  • 2.4.4 Administrasi

Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, perlu dilaksanakan kegiatan administrasi yang meliputi :

  • 1. Administrasi Umum. Pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

6

2. Administrasi Pelayanan. Pengarsipan resep, pengarsipan cacatan pengobatan pasien, pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat. Administrasi yang harus ada seperti:

  • Kartu stok, nota penjualan, kwitansi, copy resep, dan surat pesanan (SP).

  • Buku-buku (buku pembelian, buku penjualan, buku keuangan, buku harian).

  • Buku-buku wajib apotek (FI, ISO, Peraturan perundang-undangan, buku standar, IMO) (anonim d , 2004).

  • 2.5 Peranan Apoteker di Apotek

Apoteker di apotek memiliki tiga peranan yaitu :

  • 1. Apoteker sebagai profesional, sesuai dengan keilmuan tentang pekerjaan kefarmasian. Selain itu apoteker berkewajiban untuk menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin kepada masyarakat.

  • 2. Apoteker sebagai pemimpin atau manajer harus dapat mengelola apotek dengan baik sehingga semua kegiatan yang berjalan di apotek berlangsung secara efektif dan efisien. Apoteker harus mempunyai kemampuan manajerial yang baik, yaitu keahlian dalam menjalankan prinsip-prinsip ilmu manajemen, yang meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling).

  • 3. Apoteker sebagai retailer, yaitu usaha penjualan barang atau jasa untuk

memenuhi kebutuhan konsumen akhir (end user). Seorang apoteker harus bisa identifikasi, stimulasi dan kepuasan konsumen sehingga dapat diterima dalam jumlah yang tepat (tepat kualitas, tepat jumlah dan tepat waktu). Apoteker sebagai profesional harus memiliki kemampuan dalam melaksanakan kegiatan pelayanan kefarmasian yang bermutu dan efisien yang berazaskan pharmaceutical care di apotek. Adapun standar pelayanan kefarmasian di apotek telah diatur melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Tujuan dari standar pelayanan ini adalah:

7

1.

Melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional.

  • 2. Melindungi profesi dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar.

  • 3. Pedoman dalam pengawasan praktek apoteker.

  • 4. Pembinaan serta meningkatkan mutu pelayanan farmasi di apotek.

Berdasarkan standar pelayanan tersebut, dijelaskan bahwa pelayanan

kefarmasian meliputi:

  • 1. Pelayanan Resep

    • a. Skrining Resep Apoteker melakukan skrining resep meliputi: 1) Persyaratan administratif:

      • a) Nama, SIP dan alamat dokter

      • b) Tanggal penulisan resep

      • c) Tanda tangan/paraf dokter penulis resep

      • d) Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien

      • e) Cara pemakaian yang jelas

      • f) Informasi lainnya

2) Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian. 3) Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain lain). Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.

  • b. Penyiapan Obat 1) Peracikan Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar. 2) Etiket

8

Etiket harus jelas dan dapat dibaca. 3) Kemasan Obat yang Diserahkan Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya. 4) Penyerahan Obat Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien. 5) Informasi Obat Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. 6) Konseling Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Untuk penderita penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, tbc, asma, dan penyakit kronis lainnya. Apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan. 7) Monitoring Penggunaan Obat Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, tbc, asma, dan penyakit kronis lainnya. 2. Promosi dan Edukasi Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus memberikan edukasi apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi) untuk penyakit ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan apoteker

9

harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan, dan lain lainnya. 3. Pelayanan Residensial (Home Care) Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan/medication record. Selain peran apoteker di apotek, apoteker juga harus melakukan fungsi dan tugas sebagai apoteker yang digariskan oleh WHO yang semula dikenal dengan "Seven Stars of Pharmacist" selanjutnya ditambahkan satu fungsi yaitu researcher, meliputi (7):

  • a. Care Giver (Pemberi Pelayanan) Dalam memberikan pelayanan mereka harus memandang pekerjaan mereka sebagai bagian dan terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan dan profesi lainnya. Pelayanannya harus dengan mutu yang tinggi.

  • b. Decision Maker (Pembuat Keputusan) Penggunaan sumber daya yang tepat, bermanfaat, aman dan tepat guna seperti SDM, obat-obatan, bahan kimia, perlengkapan, prosedur dan pelayanan harus merupakan dasar kerja dari apoteker. Pada tingkat lokal dan nasional apoteker memainkan peran dalam penyusunan kebijaksanaan obat-obatan. Pencapaian tujuan ini memerlukan kemampuan untuk mengevaluasi, memberi informasi dan data serta memutuskan kegiatan yang paling tepat.

  • c. Communicator (Komunikator) Apoteker adalah merupakan posisi ideal untuk mendukung hubungan antara dokter dan pasien dan untuk memberikan informasi kesehatan dan obat-obatan pada masyarakat. Dia harus memiliki ilmu pengetahuan dan rasa percaya diri dalam berintegrasi dengan profesi lain dan masyarakat.

10

Komunikasi itu dapat dilakukan secara verbal (langsung) non verbal, mendengarkan dan kemampuan menulis.

  • d. Manager (Manajer) Apoteker harus dapat mengelola sumber daya (SDM, fisik dan keuangan), dan informasi secara efektif. Mereka juga harus senang dipimpin oleh orang lainnya, apakah pegawai atau pimpinan tim kesehatan. Lebih-lebih lagi teknologi informasi akan merupakan tantangan ketika apoteker melaksanakan tanggung jawab yang lebih besar untuk bertukar informasi tentang obat dan produk yang berhubungan dengan obat serta kualitasnya.

  • e. Life Long Learner (Pembelajar Seumur

Hidup) Adalah tak mungkin memperoleh semua ilmu pengetahuan di sekolah farmasi dan masih dibutuhkan pengalaman seorang apoteker dalam karir yang lama. Konsep-konsep, prinsip-prinsip, komitmen untuk pembelajaran jangka panjang harus dimulai disamping yang diperoleh di sekolah dan selama bekerja. Apoteker harus belajar bagaimana menjaga ilmu pengetahuan dan keterampilan mereka tetap up to date.

  • f. Teacher (Guru) Apoteker mempunyai tanggung jawab untuk membantu pendidikan dan pelatihan generasi berikutnya dan masyarakat. Sumbangan sebagai guru tidak hanya membagi ilmu pengetahuan pada yang lainnya, tapi juga memberi peluang pada praktisi lainnya untuk memperoleh pengetahuan dan menyesuaikan keterampilan yang telah dimilikinya.

  • g. Leader (Pemimpin) Dalam situasi pelayanan multi disiplin atau dalam wilayah dimana pemberi pelayanan kesehatan lainnya ada dalam jumlah yang sedikit, apoteker diberi tanggung jawab untuk menjadi pemimpin dalam semua hal yang menyangkut kesejahteraan pasien dan masyarakat. Kepemimpinan apoteker melibatkan rasa empati dan kemampuan membuat keputusan, berkomunikasi dan memimpin secara efektif.

11

Seorang apoteker yang memegang peranan sebagai pemimpin harus mempunyai visi dan kemampuan memimpin.

  • h. Researcher (Peneliti) Apoteker harus dapat menggunakan sesuatu yang berdasarkan bukti (ilmiah, praktek farmasi, sistem kesehatan) yang efektif dalam memberikan nasehat pada pengguna obat secara rasional dalam tim pelayanan kesehatan. Dengan berbagi pengalaman apoteker dapat juga berkontribusi pada bukti dasar dengan tujuan mengoptimalkan dampak dan perawatan pasien. Sebagai peneliti, apoteker dapat meningkatkan akses dan informasi yang berhubungan dengan obat pada masyarakat dan tenaga profesi kesehatan lainnya.

  • 2.6 Lokasi Apotek

    • Lokasi untuk apotek baru atau perpindahan apotek beserta jumlah dan

jarak minimal antara apotek yang di perkenalkan untuk suatu wilayah tertentu di tetapkan oleh menteri.

  • Penentuan lokasi jumlah dan jarak apotek harus dipertimbangkan segi penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan jumlah penduduk dan dokter yang berpraktek.

  • 2.6.1 Sarana Dan Prasarana

Lokasi apotek adalah tempat apotek didirikan. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/ 2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apotek berlokasi pada daerah yang mudah dikenali oleh masyarakat. Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek. Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh anggota masyarakat. Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi resiko kesalahan penyerahan. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling.

12

Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya. Apotek harus bebas dari hewan pengerat, serangga, apotek memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pendingin. Apotek harus memiliki:

  • 1. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.

  • 2. Tempat untuk mendisplai informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi informasi.

  • 3. Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien.

  • 4. Ruang racikan.

  • 5. Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien.

Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak penyimpanan obat dan barang-barang lain yang tersusun dengan rapi, terlindung dari debu, kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan dan temperatur yang telah ditetapkan.

  • 2.7 Personalia Apotek

    • 2.7.1 Apoteker

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 51 tahun 2009, menyatakan bahwa Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan sebagai Apoteker, (anonim f , 2009).

  • 2.7.2 Apoteker Pengelola Apotek (APA)

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.679/MENKES/SK/X/2003, tentang Tenaga Teknis Kefarmasian menyatakan bahwa:

Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah Apoteker yang telah diberi surat izin apotek dalam mengelola apotek. Adapun tugas Apoteker Pengelola Apotek adalah:

  • a. Memimpin semua kegiatan Apotek, antara lain mengelola kegiatan kefarmasian serta membina karyawan yang menjadi bawahan apotek.

  • b. Secara aktif berusaha sesuai dengan bidang tugasnya untuk meningkatkan dan mengembangkan hasil usaha Apotek.

13

  • c. Mengatur dan mengawasi penyimpanan serta kelengkapan terutama di ruang peracikan.

  • d. Membina serta memberi petunjuk teknis Farmasi kepada bawahannya terutama dalam memberikan informasi kepada pasien.

    • 2.7.3 Apoteker Pendamping

Apoteker Pendamping adalah Apoteker yang bekerja di apotek selain APA dan/atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek.

  • 2.7.4 Apoteker Pengganti

Apoteker Pengganti adalah apoteker yang mengganti APA selama APA tersebut tidak berada di tempat selama 3 (tiga) bulan secara terus menerus,

telah memiliki surat izin kerja dan tidak bertindak sebagai APA di apotek lain. (anonim f , 2009).

  • 2.7.5 Tenaga Teknis Kefarmasian

Tenaga Teknis Kefarmasian adalah mereka yang berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai teknik kefarmasian. Menurut Keputusan Menteri Republik Indonesia tentang izin kerja Asisten Apoteker menyatakan bahwa:

  • 1. Mengerjakan sesuai dengan profesinya sebagai Asisten Apoteker, yaitu:

    • a. Dalam pelayanan obat bebas dan resep (mulai dari menerima pasien sampai menyerahkan obat yang diperlukan).

    • b. Mencatat dan membuat laporan keluar masuknya obat Narkotika, obat Psikotropika, obat KB, obat bebas, obat bebas terbatas dan obat Keras).

    • c. Menyusun resep-resep menurut nomor urut dan tanggal lalu disimpan.

    • d. Memelihara kebersihan ruangan peracikan dan lemari obat.

2.

Dalam hal darurat dapat menggantikan pekerjaan sebagai kasir dalam

pelayanan obat bebas maupun juru resep. Asisten Apoteker bertanggung jawab kepada Apoteker Pengelola Apotek

sesuai dengan tugas yang diberikan kepadanya. Artinya bertugas atas kebenaran segala tugas yang diselesaikannya, tidak boleh ada kesalahan, kehilangan dan kerusakan.

Asisten Apoteker

berwewenang

melaksanakan

pelayanan

kefarmasian

sesuai dengan petunjuk atau instruksi dari Apoteker Pengelola Apotek dan semua

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

14

2.8 Pengelolaan perbekalan farmasi

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.1027/MENKES/SK/IX/2004, Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya meliputi:

perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pelayanan. Pengeluaran obat memakai sistem FIFO (first in first out) dan FEFO (first expire first out).

  • 2.8.1 Perencanaan

Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu diperhatikan:

  • a. Pola penyakit.

  • b. Kemampuan masyarakat.

  • c. Budaya masyarakat.

  • 2.8.2 Pengadaan

Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan

farmasi harus melalui jalur resmi.

  • 2.8.3 Penyimpanan

Obat / bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru, wadah sekurang–kurangnya memuat nomor batch dan tanggal kadaluarsa, (anonim d , 2004).

  • 2.8.4 Pelayanan Apotek

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.1027/MENKES/SK/IX/2004,

tentang standar pelayanan kefarmasian di Apotek menyatakan bahwa:

2.8.4.1 Pelayanan Resep

Apoteker melakukan skrining resep meliputi:

  • a. Persyaratan administratif Nama, SIP dan alamat dokter Tanggal penulisan resep Tanda tangan/paraf dokter penulis resep

Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien Cara pemakaian obat yang jelas Informasi lainnya

  • b. Kesesuaian farmasetik Meliputi:

bentuk

sediaan,

dosis,

potensi,

stabilitas,

inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.

  • c. Pertimbangan klinis

15

Yaitu adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain.

  • d. Penyiapan obat

  • e. Peracikan Peracikan merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan

memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar.

  • f. Etiket Etiket harus jelas dan dapat dipercaya

  • g. Kemasan obat yang diserahkan Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya.

  • h. Penyerahan Obat Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerhan obat dilakukan oleh Apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien.

  • i. Informasi obat Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah di mengerti, akurat, tidak bias, etis, bijak sana, dan terkini, informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.

  • j. Konseling Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan pembekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Untuk penderita penyakit seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan.

  • k. Monitoring penggunaan obat Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk

16

pasien tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya.

  • l. Promosi dan edukasi Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus memberikan edukasi apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi) untuk penyakit ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan apotek harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu desiminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan, dan lain – lainnya.

  • m. Pelayanan Residensial (home care) Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktifitas ini apoteker harus membuat catatan berupa pengobatan (medication record). (anonim d , 2004). 2.9 Pengertian obat Menurut Undang-undang RI No. 36 tahun 2009, obat adalah bahan atau panduan yang dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosa, mencegah, menghilangkan, menyembuhkan penyakit, gejala penyakit, luka, kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan untuk memperelok bahan atau bagian badan manusia. 2.9.1 Obat Bebas Terbatas Obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam bungkus aslinya dari produsen/pabriknya dan diberi tanda bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam serta diberi peringatan (P no. 1 s/d P no. 6) seperti berikut ini:

Misalnya: Mixagrip®, Orphen ® , Miconazole ® , Combantrin ® , Bodrex ®

,

dll.

P. NO. 1 Awas! Obat Keras Bacalah aturan pakainya

P. NO. 2 Awas! Obat Keras Hanya untuk dikumur jangan ditelan

17

  • P. NO. 3

  • P. NO. 4

Awas! Obat Keras Hanya untuk bagian luar dari badan

Awas! Obat Keras Hanya untuk dibakar

  • P. NO. 5

  • P. NO. 6

Awas! Obat Keras Tidak boleh ditelan

Awas! Obat Keras Obat wasir jangan ditelan

  • 2.9.2 Obat Bebas

Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli dengan bebas dan tidak

membahayakan bagi si pemakai dalam batas dosis yang dianjurkan dan

diberi tanda lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam. Misalnya: Panadol, Paracetamol, Sanmol, Mylanta, Melodiar.

  • 2.9.3 Obat Keras

Obat keras adalah semua obat yang meliputi:

Mempunyai takaran atau dosis maksimum (DM) yang tercantum

dalam daftar obat keras yang ditetapkan pemerintah. Diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi

hitam dan huruf “K” yang menyentuh garis tepinya.

Semua

obat

baru

kecuali

dinyatakan

oleh

pemerintah

tidak

membahayakan. Semua sedian parenteral/injeksi/infus intravena. Misalnya: Yusimox, Amoxicillin, Sanprima, Ambroxol, Aciclovir, dll,

(anonim f , 2009).

  • 2.9.4 Psikotropika

Menurut Undang-undang RI No: 5 tahun 1997, Psikotropika adalah zat atau

obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan prilaku. Misalnya golongan ekstasi, diazepam, barbital atau luminal.

2.9.5. Narkotika

Menurut Undang-undang RI tahun 2009, Narkotika adalah zat atau obat

yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,

18

hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Misalnya: candu/opium, morfin, petidin, metadon, codein .

  • 2.9.6 Obat Wajib Apotek (OWA)

Obat Wajib Apotek adalah obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter

oleh apoteker di apotek.

  • 2.9.7 Obat Generik

Obat Generik adalah obat yang penamaannya didasarkan pada zat aktif yang

terdapat pada obat tersebut dan menggunakan merek dagang.

  • 2.9.8 Obat Generik Berlogo

Obat Generik Berlogo adalah obat esensial yang tercantum dalam daftar

obat esensial (DOEN), yang mutunya terjamin karena diproduksi sesuai

dengan persyaratan cara pembuatan obat yang baik (CPOB), dan diuji ulang oleh pusat pemeriksaan obat dan makanan Departemen Kesehatan. Misalnya: dexanta, soldextam, kalmethason, microginon, imunos, dan lain- lain.

  • 2.9.9 Obat paten

Obat paten adalah obat yang menggunakan merek atau nama dagang tertentu. Misalnya: mycoral, mefinal, ketokonazole, captopril, cefadroxil dan lain-lain.

2.9.10 Jamu

Jamu adalah bahan atau ramuan bahan yang merupakan bahan tumbuhan,

bahan hewan, bahan mineral sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan secara pengalaman.

2.9.11 Fitofarmaka

Fitofarmaka adalah klim khasiat telah dibuktikan berdasarkan uji klinis dan

telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi.

2.10 Resep 2.10.1 Pengertian resep

19

Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker pengelola apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundang- undangan yang berlaku.

2.10.2 Kelengkapan resep

  • Tanggal dan tempat ditulisnya resep (inscriptio)

  • Tanda buka penulisan resep (invocatio)

  • Nama obat, jumlah dan cara pembuatannya (praescriptio dan ordinatio)

  • Aturan pakai dari obat yang tertulis dalam resep (signatura)

  • Paraf dan tanda tangan dokter penulis resep (subcriptio)

2.10.3 Salinan Resep/Copy Resep Copy resep adalah salinan tertulis dari suatu resep (istilah lainnya adalah “Apograph”, “Exemplum”, “Afschift”) salinan resep selain memuat semua keterangan yang ada diresep asli, harus memuat pula:

  • Nama dan alamat apotek

  • Nama Pasien

  • Nomor SIK apoteker pengelola apotek

  • Tanda “det” (detur = sudah diserahkan, untuk obat yang telah

diserahkan) dan “nedet” (ne detur = belum diserahkan, untuk obat

yang belum diserahkan)

  • Nomor resep dan tanggal pembuatan.

20

BAB III

TINJAUAN KHUSUS

3.1 Sejarah Berdirinya Kimia Farma

Kimia Farma merupakan pioneer industry Farmasi Indonesia. Perusahaan- perusahaan farmasi pertama didirikan di Hindia Timur. Sejarah dengan kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, pada tahun 1956 pemerintah melebur sejumlah perusahaan farmasi PNF Bhineka Kimia Farma. Selanjutnya pada tanggal 16 agustus 1971 bentuknya diubah menjadi perseroan terbatas, menjadi PT. Kimia Farma (persero). Sejak tanggal 4 Juni 2001 kimia farma tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Berbekal tradisi industri yang panjang selama lebih 91 tahun dan nama identik dengan mutu, saat ini kimia farma telah berkembang menjadi sebuah perusahaan pelayanan kesehatan utama di Indonesia yang kian memainkan peranan penting dalam pengembangan dan pembangunan masyarakat. Apotek Kimia Farma melayani penjualan obat melalui resep dokter dan menyediakan pelayanan lain, misalnya pelayanan obat bebas, obat bebas terbatas, alat kesehatan, kosmetika, dan pusat pelayanan informasi obat.

3.2 Visi dan Misi Kimia Farma

  • 3.2.1 Visi Kimia Farma

Menjadi jaringan layanan kesehatan terkemuka di Indonesia.

  • 3.2.2 Misi Kimia Farma

    • 1. Menyediakan produk dan jasa pelayanan kesehatan yang unggul untuk

memenuhi kebutuhan masyarakat secara luas dan merata.

  • 2. Mengembangkan bisnis pelayanan kesehatan untuk meningkatkan nilai

perusahaan bagi pemegang saham, karyawan dan pihak- pihak lain yang

berkepentingan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip pengelolaan usaha yang baik.

  • 3. Meningkatkan kompetensi dan komitmen sumber daya manusia guna

untuk pengembangan perusahaan serta dapat berperan aktif dalam

pengembangan industri farmasi nasional.

21

3.3 Apotek Kimia Farma No. 29 Pematang Siantar.

3.3.1

Lokasi dan Tata Letak Bangunan.

Apotek Kimia Farma 29 terletak di Jl. Sutomo 63 Pematang Siantar. Lokasi ini berada ditengah kota dan sekitarnya terdapat perumahan, pertokoan, dan Praktek Dokter, mudah dijangkau masyarakat. Fasilitas apotek meliputi; lemari pendingin, komputer, kipas angin, dan televisi untuk pasien diruang tunggu. Bangunan apotek memiliki dua lantai pertama terdiri dari ruang tunggu, tempat penjualan obat bebas dan minuman, ruang pelayanan dan kasir, ruang peracikan dan ruang penyimpanan obat, musolah, dan toilet, serta memiliki tiga ruang praktek dokter. Lantai dua digunakan sebagai ruangan kantor administrasi dan memiliki satu ruangan praktek dokter. Apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar memiliki empat praktek dokter, yaitu:

Dr. Edison Sitanggang Sp.P (Ahli Penyakit Paru)

Dr. Djuni KP. Simatupang Sp.THT (Ahli Penyakit Telinga Hidung dan

Dr. Indra Bhakti Sp.S (Ahli Penyakit Syaraf)

Dr. Dameria Pangaribuan Sp.KK (Ahli Kulit dan Kelamin)

Tenggorokan).

3.3.2

Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Apotek Kimia Farma 29 dipimpin oleh seorang Apoteker Pengelola Apotek sebagai kepala Apotek yang bertanggung jawab kepada manager unit Bisnis Medan, Asisten Apoteker dan bukan Asisten apoteker.

3.4 Pengelolaan Perbekalan Farmasi

3.4.1

Perencanaan

Untuk memenuhi kebutuhan di Apotek, dilakukan pemesanan berdasarkan buku defekta. Buku defekta berisi pencatatan persediaan yang habis dan penilakan resep karena tidak adanya persediaan barang yang habis dalam penolakan resep karena tidak adanya barang di apotek.

Pembuatan buku defekta dilakukan sebagai berikut:

  • 1. Setiap hari petugas memeriksa barang yang kosong atau hampir habis

  • 2. Pencatatan buku defekta meliputi nama barang dan dosis/satuan per item

  • 3. Menyerahkan buku defekta kepada petugas pembelian sebagai dasar pemesanan barang.

22

3.4.2 Pengadaan

Dilakukan dengan cara:

  • 1. Bagian pengadaan di apotek kima farma merekapitulasi defekta dan membuatnya dalam bentuk Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) dan dikirim kebagian pengadaan di BM (Bisnis Manager) Medan melalui email.

  • 2. Dari BPBA yang masuk dibuat menjadi Surat Pesanan (SP)

di Bisnis

Manager (BM), kemudian bagian pengadaan di BM mengirim surat

pesanan kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF).

  • 3. Barang di kirim dari BM ke apotek dalam bentuk dropping.

  • 4. Untuk obat Narkotika, psikotropika dan obat yang dibutuhkan segera (cito) maka apotek memesan langsung ke distributor dengan membuat SP yang akan dipesan

    • 3.4.3 Penerimaan Barang

Perbekalan farmasi yang dikirim oleh pedagang besar farmasi (PBF) disertai dengan faktur dan surat pesanan yang berasal dari apotek. Penerimaan barang dilakukan dengan penyesuaian dengan faktur dan pemeriksaan fisik sebagai berikut:

  • a. Pemeriksaan barang dan kelengkapannya 1) Alamat pengiriman barang yang dituju. 2) Nama, kemasan dan jumlah barang yang dikirim harus sesuai dengan

yang tertera pada surat pesanan dan faktur.

3) Kualitas dan kuantitas barang serta tanggal kadaluarsa.

  • b. Jika barang-barang tersebut dinyatakan diterima, maka petugas akan

membutuhkan cap/stempel apotek kimia Farma dan kemudian menandatangani faktur asli sebagai bukti bahwa barang telah diterima

sesuai kondisinya.

  • c. Salinan faktur dikumpulkan setiap hari lalu dicatat sebagai data stok

barang dalam komputer.

  • 3.4.4 Penyimpanan

Setelah penerimaan barang, penyimpanan dan pengisian kartu stok barang barang dilakukan disertai pencantuman tanggal penerimaan dan jumlah penambahan barang yang disimpan. Penyimpanan stok maksimal adalah selama 1 bulan untuk meminimalisir risiko (hilang, ekspired, rusak) dan memperbesar perputaran modal. Penyimpanan dikelompokkan menjadi beberapa golongan, sebagai berikut:

23

  • 1. Rubrik (bentuk sediaan) Penyimpanan ini berdasarkan bentuk sediaannya seperti: sediaan tablet, sediaan sirup, sediaan injeksi, sediaan kosmetik, sediaan salep/cream dan alat kesehatan.

  • 2. FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expire First Out) Penyimpanan perbekalan farmasi secara FIFO yaitu obat yang pertama masuk akan dikeluarkan terlebih dahulu sedangkan penyimpanan perbekalan farmasi secara FEFO yaitu obat yang batas kadaluarsanya lebih awal maka lebih dahulu dikeluarkan.

  • 3. Alfabetis Penyimpanan perbekalan farmasi secara alfabetis diurutkan berdasarkan abjad mulai A-Z.

  • 4. Efek farmakologi Penyimpanan perbekalan farmasi secara efek farmakologi yaitu berdasarkan khasiat obat seperti: obat antipiretik, obat diare, obat batuk, suplemen atau vitamin dan obat maag

  • 5. Suhu Ada beberapa perbekalan farmasi yang harus disimpan pada lemari pendingin misalnya vaksin, serum dan suppositoria.

  • 6. Penggolongan obat Penyimpanan ini disesuaikan berdasarkan pembagian jenis obat misalnya: obat keras, obat bebas, obat bebas terbatas, obat narkotika dan psikotropika.

3.5 Pengelolaan Obat Narkotika dan Psikotropika

Pemesanan obat-obat narkotika menggunakan formulir khusus yaitu Surat Pesanan narkotika. Pembelian obat golongan narkotika harus tunai kepada distributor Kimia Farma. Penyimpanan obat-obat narkotika dipisahkan dari tempat penyimpanan obat-obat keras lainnya, yaitu disimpan dalam lemari khusus yang tertutup dan terkunci. Penyimpanan obat psikotropika juga dipisahkan dari obat golongan lain.

24

Pelayanan untuk obat narkotika dan psikotropika harus melalui resep dokter, dan untuk alur pelayanannya sama dengan pelayanan yang diberikan untuk pelayanan obat dengan resep dokter. Setiap bulan dibuat laporan penggunaan narkotika dan laporan penggunaan psikotropika yang ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek.

3.6 Pelaporan Narkotika dan Psikotropika

Apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar, melakukan pelaporan penggunaan narkotika dan psikotropika sesuai peraturan yang berlaku. Dimana pelaporan Narkotika dilakukan setiap kali dalam satu bulan, yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan Daerah setempat, dengan tembusan kepada BPOM, Dinas Kesehatan Provinsi, dan Arsip. Pelaporan dilakukan paling lambat tanggal 10 setiap bulannya. Pelaporan Psikotropika, dilakukan dalam tiga bulan sekali yang dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Daerah setempat, dengan tembusan kepada BPOM, Dinas Kesehatan Provinsi, dan Arsip.

3.7 Penjualan

Penjualan setiap hari dicatat dan disahkan oleh Apoteker pengelola

Apotek kemudian dikirim ke Kimia Farma administrator di Medan. Pengeluaran obat menggunakan sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out) pelayanan kefarmasian yang dilakukan meliputi:

3.7.1 Pelayanan perbekalan farmasi tanpa Resep Dokter

Pelayanan obat tanpa resep dokter dilakukan atas permintaan langsung dari pasien. Obat-obat yang dapat dilayani tanpa resep dokter meliputi obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras yang tercantum dalam daftar Obat Wajib Apotek (OWA), obat tradisional, kosmetik dan alat kesehatan.

3.7.2 Pelayanan atas resep tunai

Pelayanan obat atas resep tunai dilakukan dengan alur sebagai berikut:

25

  • Petugas (Asisten Apoteker) menerima resep, kemudian memeriksa

kelengkapan resep dan ketersediaan obat yang diminta.

  • Jika obat yag diminta tidak tersedia atau jumlahnya kurang dari

yang diminta maka petugas akan menghubungi Apotek Kimia Farma

lainnya atau apotek swasta lain, dan jika obat yang diminta tidak dapat disediaan maka petugas akan menghubungi dokter yang bersangkutan untuk menawarkan penggantian obat.

  • Kasir menghitung dan menginformasikan harga obat kepada pasien

untuk menyetujui apakah obat dalam resep diambil semua atau

sebagian.

  • menyerahkan

Kasir

resep yang telah dibayar kepada petugas

peracikan atau penyimpanan obat.

  • obat

Setelah

disiapkan

dan

diberi

etiket,

petugas memeriksa

kembali kesesuaian obat dengan resep serta aturan pakainya. Jika obat

yang kurang jumlahnya atau atas permintaan pasien maka petugas akan membuat salinan resep.

Petugas

menyerahkan

resep

kepada

pasien disertai pemberian

informasi mengenai aturan pakai obat, kemudian resep disahkan.

  • Resep yang telah diproses, dikumpulkan disuatu tempat, untuk

kemudian diarsipkan.

  • 3.7.3 Pelayanan Atas Resep Kredit

Resep kredit hanya ditujukan untuk perusahaan atau instansi yang

telah menjalin kerjasama dengan Apotik Kimia Farma 29 dalam hal pemenuhan kebutuhan obat-obatan untuk karyawannya. Alur pelayanan resep kredit adalah sebagai berikut:

  • Petugas/asisten

apoteker

menerima

resep

kemudian

memeriksa

kelengkapan resep dan ketersediaan obat yang diminta.

  • Petugas memeriksa kesesuaian obat dengan resep dan aturan

pakainya.

  • menyerahkan

Petugas

obat kepasien dan meminta pasien

menandatangani faktur.

  • Resep kredit yang telah diproses kemudian diberi harga dan dibuat kwitansi pembayaran.

  • Resep kredit disimpan disuatu tempat untuk kemudian digunakan untuk proses penagihan ke perusahaan atau instansi yang bersangkutan dan diarsipkan. Minimal pelunasan resep kredit ini adalah satu bulan dan maksimalnya dua sampai tiga bulan.

26

  • 3.8 Stok Opname Stok Opname di Kimia Farma 29 setiap bulan pada akhir bulan, untuk

semua obat, alkes dan barang-barang yang berada di Apotek tersebut. Stok opname bertujuan untuk menyesuaikan jumlah fisik barang dan jumlah pengeluaran obat berdasarkan laporan penjualan perbulan. Hasil dari stok opname diperiksa oleh pimpinan Apotek.

Dr.K.Girsang,Sp.PD,FINASIM

(AHLI PENYAKIT DALAM)

SIP : 446/6310/SIP.D/X/2011

  • 3.9 Kajian Resep Praktek : Jl.Diponegoro No.5L Telp. 23988

Pematang Siantar – 21122

Rumah:

Jl.Ragi Pane 7

Komp. Pemda Simalungun

Telp. (0622)755039, P.Siantar – 21151

P.Siantar, 04 Desember 2014

R/ Codipront cum exp syr

S3 d.d cth

R/ Ciprofloxacin tab 50 No. V

S2 d.d tab 1

R/ Ondansentron tab XII No. V

S3 d.d tab 1

Pro

: Tenang Sembiring

Umur

: 4 Tahun

27

Obat tidak boleh diganti tanpa seizin dokter

CIPROFLOXACIN Zofran Zofran ODT Kelas: antibiotik

Aksi serotonin selektif (5-HT3) antagonis reseptor menghambat reseptor serotonin saluran atau kemoreseptor.

Indikasi

Parenteral dan mulut: pencegahan mual dan muntah dengan program awal dan ulangi dari kemoterapi kanker emetogenik, termasuk dosis tinggi cisplatin; pencegahan mual atau muntah. Oral: pencegahan mual dan muntah yang berhubungan dengan radioterapi pada pasien yang menerima jumlah iradiasi tubuh baik, fraksi dosis tinggi tunggal untuk perut, atau fraksi harian ke perut;

pencegahan mual dan muntah yang berhubungan dengan kemoterapi kanker emetogenik sangat, termasuk cisplatin ³ 50 mg / m2. Penggunaan berlabel (s):

pengobatan mual dan muntah yang berhubungan dengan acetaminophen keracunan atau terapi prostasiklin; pengobatan akut levodopa-diinduksi psikosis (halusinasi visual); penurunan episode bulimia karena bulimia nervosa; pengobatan morfin epidural spinal atau diinduksi pruritus; pengelolaan gangguan kecemasan sosial (David, 2003). Kontraindikasi pertimbangan standar. Dosis

Pencegahan akibat kemoterapi mual dan muntah.

28

Dewasa : iv 0,15 mg / kg diinfuskan selama 15 menit mulai 30 menit sebelum kemoterapi emetogenik dengan 2 tambahan 0,15 mg / kg dosis 4 dan 8 jam setelah dosis pertama. Atau, menanamkan 32 mg selama 15 menit, mulai 30 menit sebelum kemoterapi emetogenik. Dewasa & anak-anak ³ 12 tahun: po (kemoterapi kanker cukup emetogenik) bid 8 mg, pemberian pertama dosis 30 menit sebelum memulai kemoterapi emetogenik dan dosis kedua 8 jam setelah dosis pertama; 8 mg dosis selanjutnya dapat diberikan tiap 12 jam selama 1 sampai 2 hari setelah selesai kemoterapi. Anak-anak 4 sampai 11 tahun: po 4 mg tid, mulai 30 menit sebelum kemoterapi, dengan dosis berikutnya 4 dan 8 jam setelah dosis pertama; memberikan 4 mg q 8 jam selama 1 sampai 2 hari setelah selesai kemoterapi. Pencegahan radioterapi diinduksi mual dan muntah. Dewasa: 8 mg po tid (David, 2003). Total iradiasi tubuh Dewasa: 8 mg po 1 sampai 2 jam sebelum masing-masing fraksi radioterapi diberikan setiap hari. Fraksi dosis tinggi tunggal untuk radioterapi perut Dewasa: 8 mg po 1 sampai 2 jam sebelum radioterapi, dengan dosis berikutnya q 8 jam setelah dosis pertama selama 1 sampai 2 hari setelah selesai radioterapi. Radioterapi fraksinasi harian ke perut. Dewasa: 8 mg po 1 sampai 2 jam sebelum radioterapi, dengan dosis berikutnya q 8 jam setelah dosis pertama untuk setiap hari radioterapi diberikan. Pencegahan mual dan muntah pasca operasi (David, 2003). Dewasa: 4 mg iv (murni) > 30 detik (Sebaiknya lebih dari 2 sampai 5 menit) atau 4 mg im (murni) sebagai injeksi tunggal. Po 16 mg dosis tunggal sebagai 1 jam

sebelum induksi anestesi. Anak-anak (2 sampai 12 tahun dengan berat £ 40 kg): iv 0,1 mg / kg anak (> 40 kg): iv 4 mg dosis tunggal. Mengelola lebih dari £ 30 detik, disukai lebih dari 2 sampai 5 menit. Pencegahan mual dan muntah akibat kemoterapi kanker yang sangat emetogenik Dewasa: 24 mg po diberikan 30 menit sebelum mulai dari satu hari kemoterapi yang sangat emetogenik, termasuk ³ 50 mg / m2 cisplatin.

Interaksi

Rifamycins (misalnya, rifampisin): kadar plasma ondansetron Bisa

29

berkurang, mengurangi efek antiemetik. Ketidaksesuaian: larutan alkali. gangguan uji laboratorium tidak didokumentasikan dengan baik.

Efek Samping

Cv: nyeri dada; takikardia. SSP: sakit kepala; kejang. Derm: ruam. Gi: mulut kering; sembelit; sakit perut. Tujuan: hipokalemia. Jawaban: bronkospasme. Lainnya: demam; anafilaksis; kelemahan (David, 2003).

Tindakan pencegahan

Kehamilan: kategori b. Laktasi: belum ditentukan. Anak-anak: dosis pada anak- anak < 4 tahun tidak didefinisikan dengan baik. Gangguan hati: Pada pasien dengan gangguan hati berat, tidak Melebihi 8 mg dosis oral harian. Untuk

penggunaan iv, berikan tunggal 8 mg dosis harian lebih dari 15 menit yang dimulai 30 menit sebelum kemoterapi. Peristaltik: Ondansetron tidak merangsang lambung atau peristaltik usus; dapat menutupi ileus progresif atau distensi lambung.

Administrasi / Penyimpanan

Solusi Encerkan 50 ml dextrose 5% dalam air atau 0,9% natrium klorida untuk injeksi.

Jangan

mencampur

dengan solusi untuk kompatibilitas whichis rata

Pengguna didirikan. Persiapan stabil selama 48 jam pada suhu kamar setelah pengenceran.

Supositoria rektal dan solusi oral mungkin extemporaneously diperparah.

Penilaian / intervensi Mendapatkan riwayat pasien, termasuk riwayat narkoba dan dikenal alergi

tahun. Catatan kerusakan hati. Pastikan hati awal yang telah dilakukan penelitian sebelum terapi dimulai. Menilai pasien untuk suara mual, muntah, dan buang air besar. Memantau dan secur hati-hati. Bersiaplah untuk memberikan cairan iv tambahan untuk pasien yang

muntah, tetapi tidak overhydrate. Hentikan iv infus jika tanda-tanda hipersensitivitas berkembang.

Anjurkan pasien que sakit kepala adalah efek samping yang umum.

Obat que pasien Advise akan sangat mengurangi kemungkinan mual dan

muntah, tetapi ini masih que mungkin (David, 2003).

CODIPRONT CUM EXP SYR 60 ML Kandungan : Kodein

30

Kelas: Narkotika analgesik / antitusif Aksi Merangsang reseptor opiat di SSP; juga menyebabkan depresi pernafasan, vasodilatasi perifer, penghambatan peristaltik usus, stimulasi kemoreseptor que menyebabkan muntah, meningkat kandung kemih dan penindasan refleks batuk (Gerrad,2008). Indikasi Bantuan ringan sampai nyeri sedang; batuk penindasan. Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap opiat; obstruksi jalan napas atas;

kompromi pernapasan; asma akut; Diare disebabkan oleh keracunan atau racun.

Dosis

Analgesik DEWASA: IM / IV lambat / PO / SC 15-60 mg q 4-6 jam (maksimal 360 mg /

hari). ANAK-ANAK (1 YR): IM / PO / SC 0,5 mg / kg q 4-6 jam. Antitusif DEWASA 10-20 mg PO q 4-6 jam (maksimal 120 mg / hari). ANAK (6-12 YR) : 5-10 mg PO q 4-6 jam (maksimum 60 mg / hari). ANAK (2-6 YR): 2,5 mg PO q 4-6 jam (maksimum 30 mg / hari). (Gerrad,2008).

Interaksi

Depresan SSP (misalnya, obat penenang, obat penenang dan alkohol): Penyebab aditif depresi SSP. Lab Uji Interferensi Amilase dan lipase penentuan:

Peningkatan kadar sampai 24 jam setelah pemberian.

Efek Samping

Hipotensi; hipotensi ortostatik; bradikardia; takikardia; shock. SSP: ringan;

pusing; sedasi; disorientasi; inkoordinasi; euforia; delirium. Derm: Berkeringat; pruritus; urtikaria. TENS miosis. GI: Mual; muntah; sembelit; sakit perut; anoreksia; bilier kejang saluran. GU: Retensi urin atau keraguan. ANS:

Laringospasme; depresi refleks batuk; depresi pernafasan. LAINNYA: Toleransi; ketergantungan psikologis dan fisik dengan penggunaan kronis (David, 2003).

Kewaspadaan

Kehamilan: Kategori C. Terapi dosis kodein telah MENINGKAT durasi kerja. Laktasi: diekskresikan dalam ASI. Anak-anak: Jangan berikan kepada anak-anak IV < 12 tahun. Anak-anak lebih sensitif terhadap efek obat. Pasien Lansia: Lebih sensitif terhadap efek obat. Pasien risiko khusus: Gunakan dengan hati-hati pada

31

pasien dengan myxedema, alkoholisme akut, riwayat penyalahgunaan obat potensi, kondisi perut akut, ulcerative colitis, penurunan cadangan pernapasan, cedera kepala atau tekanan intrakranial MENINGKAT, hipoksia, takikardia supraventricular, volume darah habis, shock peredaran darah, masalah hipotiroidisme, dan kencing / buang air besar eliminasi. Ketergantungan: Codeine memiliki potensi penyalahgunaan. Gangguan ginjal atau hati: Durasi tindakan Bisa berkepanjangan; Mungkin perlu untuk mengurangi dosis (Gerrad, 2008).

Administrasi

• Berikan obat oral dengan makanan atau susu untuk menghindari iritasi.

• Lindungi bentuk injeksi dari paparan berlebihan terhadap cahaya.

• Kodein dua pertiga efektif diberikan secara oral sebagai parenteral.

Penilaian / Intervensi Mendapatkan riwayat pasien, termasuk riwayat narkoba dan dikenal alergi

tahun. Pasien dengan sensitivitas sulfit telah meningkat resiko alergi dengan kodein produk injeksi tertentu. Menilai derajat nyeri sebelum dan setelah pemberian. Status memantau dan irama jantung paru setelah pemberian. Memantau buang air besar dan memberitahu dokter pola perubahan yang signifikan.

Jika

gangguan

pernapasan

atau

sedasi

meningkat,

mengembangkan,

menahan obat dan memberitahu dokter (Lexi, 2008-2009).

Overdosis: TANDA & GEJALA

Miosis, pernapasan, dan depresi SSP, kolaps sirkulasi, kejang, cardiopulmonary

arrest, kematian

Pasien / Pendidikan Keluarga

Anjuran pada pasien, penilaian diri dari rasa sakit dan tentang bagaimana

dan kapan untuk mengelola obat. Saran pada pasien untuk meningkatkan asupan cairan untuk meringankan

sembelit dan tinja pelembut untuk mengambil pencahar ringan atau sesuai kebutuhan. Dianjurkan pada pasien untuk minum obat dengan makanan untuk

memantau iritasi yang terjadi. Perhatian pasien untuk menghindari perubahan posisi yang tiba-tiba untuk mencegah hipotensi ortostatik (Lexi, 2008-2009).

32

Anjurkan pasien untuk menghindari asupan minuman beralkohol atau

depresi SSP lainnya. Anjurkan pasien obat dapat menyebabkan kantuk dan menggunakan hati-

hati saat mengemudi atau melakukan tugas-tugas lain. Anjurkan pasien untuk tidak mengambil obat otc tanpa menghubungi

dokter (Lexi, 2008-2009).

ONDANSETRON Kelas: antimuntah / antivertigo Aksi serotonin selektif (5-HT3) antagonis reseptor menghambat reseptor

serotonin di saluran pencernaan atau zona pemicu kemoreseptor.

Indikasi

Pencegahan parenteral dan oral mual dan muntah dengan program awal dan ulangi dari kemoterapi kanker emetogenik, termasuk dosis tinggi cisplatin; pencegahan mual atau muntah. Oral: Pencegahan mual dan muntah yang berhubungan dengan radioterapi pada pasien yang menerima jumlah iradiasi tubuh baik, fraksi dosis tinggi tunggal untuk perut, atau fraksi harian ke perut; pencegahan mual dan muntah yang berhubungan dengan kemoterapi kanker emetogenik sangat,

termasuk cisplatin 50 mg / m 2 . Penggunaan berlabel : Pengobatan mual dan muntah yang berhubungan dengan acetaminophen keracunan atau terapi prostasiklin; pengobatan akut levodopa-diinduksi psikosis (halusinasi visual); penurunan episode bulimia karena bulimia nervosa; pengobatan morfin epidural spinal atau diinduksi pruritus; pengelolaan gangguan kecemasan sosial. Kontraindikasi Pertimbangan Standard (Gerrad, 2008). Dosis

Pencegahan Kemoterapi-induced Mual dan Muntah DEWASA: IV 0,15 mg / kg diinfuskan selama 15 menit mulai 30 menit sebelum kemoterapi emetogenik dengan 2 tambahan 0,15 mg / kg dosis 4 dan 8 jam setelah dosis pertama. Atau, menanamkan 32 mg selama 15 menit, mulai 30 menit

sebelum kemoterapi emetogenik. DEWASA & ANAK 12 YR: PO (kemoterapi kanker cukup emetogenik) bid 8 mg, pemberian pertama dosis 30 menit sebelum memulai kemoterapi emetogenik dan dosis kedua 8 jam setelah dosis pertama; 8 mg dosis selanjutnya dapat diberikan tiap 12 jam selama 1 sampai 2 hari setelah

33

selesai kemoterapi. ANAK 4 sampai 11 YR: PO 4 mg tid, mulai 30 menit sebelum kemoterapi, dengan dosis berikutnya 4 dan 8 jam setelah dosis pertama; memberikan 4 mg q 8 jam selama 1 sampai 2 hari setelah selesai kemoterapi. Pencegahan Radioterapi-Induced Mual dan Muntah DEWASA: PO 8 mg tid (Lexi, 2008-2009). Total Body Iradiasi DEWASA: 8 mg PO 1 sampai 2 jam sebelum masing-masing fraksi radioterapi diberikan setiap hari. Tunggal Fraksi Tinggi Dosis Radiothreapy ke Perut DEWASA: 8 mg PO 1 sampai 2 jam sebelum radioterapi, dengan dosis berikutnya q 8 jam setelah dosis pertama selama 1 sampai 2 hari setelah selesai radioterapi. Fraksinasi Radioterapi Harian ke Perut DEWASA: 8 mg PO 1 sampai 2 jam sebelum radioterapi, dengan dosis berikutnya q 8 jam setelah dosis pertama untuk setiap hari radioterapi diberikan. Pascaoperasi Pencegahan Mual dan Muntah DEWASA: 4 mg IV (murni)> 30 detik (Sebaiknya lebih dari 2 sampai 5 menit) atau 4 mg IM (murni) sebagai injeksi tunggal. PO 16 mg dosis tunggal pada 1 jam sebelum induksi anestesi. Anak-anak (2 sampai 12 YR berat 40 kg) IV 0,1 mg / kg ANAK (> 40 kg) IV 4 mg dosis tunggal. Mengelola lebih 30 detik, disukai lebih dari 2 sampai 5 menit. Pencegahan Mual dan Muntah karena sangat emetogenik Kanker Kemoterapi DEWASA: PO 24 mg diberikan 30 menit sebelum mulai dari satu hari kemoterapi yang sangat emetogenik, termasuk 50 mg / m2 cisplatin (Gerrad,2008). Interaksi

Rifamycins (misalnya, rifampisin): Kadar plasma dari ondansetron Bisa berkurang, mengurangi efek antiemetik. Ketidaksesuaian: solusi Alkaline.

Efek Samping

Nyeri dada, takikardia. SSP: Sakit kepala; kejang. Derm: Ruam. GI: Mulut kering;

sembelit, sakit perut. TUJUAN: Hipokalemia. bronkospasme. Lainnya : Demam; anafilaksis; kelemahan.

Kewaspadaan

Kehamilan: Kategori B. Laktasi: belum ditentukan. Anak-anak: Dosis pada anak-

34

anak <4 tahun tidak didefinisikan dengan baik. Gangguan hati: Pada pasien dengan gangguan hati berat, tidak Melebihi 8 mg dosis oral harian. Untuk

penggunaan IV, berikan tunggal 8 mg dosis harian lebih dari 15 menit yang dimulai 30 menit sebelum kemoterapi. Peristaltik: Ondansetron tidak merangsang lambung atau peristaltik usus; dapat menutupi ileus progresif atau distensi lambung (Lexi, 2008-2009).

Administrasi

• Encerkan Solusi dalam 50 mL dari 5% Dextrose di Air atau 0,9%

Natrium Klorida untuk Injeksi. • Jangan mencampur dengan solusi untuk kompatibilitas whichis rata Pengguna didirikan. • Persiapan stabil selama 48 jam pada suhu kamar setelah pengenceran. • Supositoria rektal dan solusi oral mungkin extemporaneously diperparah. Penilaian / Intervensi • Mendapatkan riwayat pasien, termasuk riwayat narkoba dan dikenal alergi tahun. Catatan kerusakan hati. • Pastikan hati awal yang telah dilakukan penelitian sebelum terapi dimulai. • Menilai pasien untuk suara mual, muntah, dan buang air besar. • Memantau I & O dengan hati-hati. • Bersiaplah untuk memberikan cairan IV tambahan untuk pasien yang muntah, tetapi tidak overhydrate. • Hentikan IV infus jika tanda-tanda hipersensitivitas berkembang.

(Gerrad,2008).

35

BAB IV

PEMBAHASAN

Apotek adalah suatu tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Apotek berfungsi sebagai tempat pengabdian profesi seorang apoteker dan sebagai sarana pendistribusian obat dan perbekalan farmasi lainnya. Seorang apoteker dalam melaksanakan tugasnya dituntut tidak hanya sebatas penanggung jawab teknis kefarmasian, namun juga bertanggung jawab atas pengelolaan manajerial dan kelangsungan hidup apotek.

Apotek memiliki fungsi sosial dan fungsi bisnis dalam pelaksanaannya. Dalam fungsi sosialnya, apotek memiliki fungsi sebagai sarana penyaluran perbekalan kesehatan (obat, suplemen, dan alat kesehatan) yang diperlukan masyarakat dengan mengutamakan kualitas produk dan pelayanan. Dalam fungsi bisnisnya, apotek merupakan badan usaha yang melaksanakan sistem ekonomi untuk mempertahankan kelangsungan usahanya dengan cara memperoleh omset yang optimal tanpa mengabaikan peraturan dan perundang-undangan kefarmasian yang berlaku, serta tetap mengutamakan aspek moral dan etika.

Pengelolaan perbekalan farmasi di Apotek Kimia Farma 29 meliputi pengadaan, perencanaan, penyimpanan, pelayanan dan pelaporan. Perencanaan perbekalan farmasi dilakukan dengan baik dan sistematis karena dilakukan oleh petugas di Apotek Kimia Farma 29 dengan menggunakan data dari pola penyakit, pola konsumsi serta data dari hasil penjualan.

Pengadaan di Apotek Kimia Farma 29 dilakukan dengan mengirimkan Daftar Pesanan Obat secara komputerisasi ke Bisnis Manager (BM) Medan, kemudian BM akan melakukan pemesanan ke masing-masing distributor, pemesanan melalui BM Medan ini dilakukan setiap dua kali dalam seminggu, yakni Senin dan Kamis. Apotek Kimia Farma 29 dapat pula melakukan pemesanan sendiri, yaitu pemesanan secara langsung melalui distributor dan membuat surat pesanan barang yang akan dipesan.

36

Pedagang Besar Farmasi (PBF) mengantar obat yang dipesan sesuai dengan SP dan membawa faktur yang kemudian dilakukan penerimaan oleh petugas apotek yang sebelumnya barang diperiksa terlebih dahulu sesuai apa tidak dengan jumlah dan jenis barang yang dipesan. Pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas apotek meliputi kelengkapan barang tersebut seperti nama obat, sediaan, jumlah obat, kemasan dan tanggal expire datenya, apabila sesuai dengan pemesanan maka APA atau TTK menandatanganinya serta memberi stempel. Faktur-faktur yang telah masuk dikumpulkan dan datanya dimasukkan ke komputer.

Penyimpanan perbekalan farmasi di Apotek Kimia Farma 29 sudah cukup baik karena di simpan berdasarkan:

  • 1. Bentuk sediaan, yaitu sediaan cair, tablet, injeksi, dan cream.

  • 2. Khasiat farmakologinya, yaitu vitamin, obat lambung, dan alat kesehatan

  • 3. Alphabetis/abjad, yaitu mulai huruf a-z.

  • 4. Golongan obat, yaitu obat paten, generik, obat narkotika, psikotropika, obat keras, obat bebas terbatas.

  • 5. FIFO (First In First Out) yaitu barang yang pertama masuk itu yang pertama dikeluarkan dan FEFO (First Expired First Out) yaitu barang yang batas kadaluarsanya lebih dulu itu yang pertama dikeluarkan.

  • 6. Suhu, ada obat yang harus disimpan dilemari pendingin dan ada juga harus

pada suhu ruangan. Petugas Apotek Kimia Farma Disutomo telah memberikan pelayanan yang cukup baik kepada pasien. Pelayanan di Apotek Kimia Farma mencakup pelayanan resep tunai, resep kredit, obat-obatan serta alat kesehatan. Setiap petugas yang menerima resep selalu memperhatikan isi resep yang menyangkut nama obat, bentuk obat, umur pasien, aturan pakai dan cara penggunaan obat. Apabila petugas apotek ragu maka petugas bertanya kepada dokter yang menulis resep. Sebelum obat disiapkan, petugas apotek menghargai resep dan mengecek ada atau tidaknya stok obat yang diminta, setelah pasien setuju dengan harga resep dan jenis obat maka petugas apotek menyiapkan obatnya. Penyerahan obat di apotek kepada pasien diserahkan oleh petugas apotek, baik Tenaga Teknis Kefarmasian maupun Apoteker Pengelola Apotek disertai dengan informasi yang jelas tentang cara pemakaian, penggunaan, khasiat obat dan Expire Date dari setiap obat yang diserahkan ke pasien. Bila pasien yang

37

belum memahami informasi yang jelas tentang obat maka petugas akan memberikan informasi yang dibutuhkan. Untuk penulisan etiket meliputi tanggal penulisan, nama pasien, nomor resep, nama obat, jumlah obat, umur, dan aturan pakai yang jelas. Obat-obat yang dapat dilayani tanpa resep dokter meliputi: obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras yang tercantum dalam daftar Obat Wajib Apotek (OWA). Sedangkan obat-obat yang pelayananya harus denga resep dokter adalah obat keras yang tidak tercantum dalam OWA, narkotika dan psikotropika. Untuk resep narkotika dan psikotropika harus menggunakan resep asli (tidak boleh menggunakan copy resep). Apotek Kimia Farma 29 Pematang Siantar, melakukan pelaporan penggunaan narkotika dan psikotropika sesuai peraturan yang berlaku. Dimana pelaporan Narkotika dilakukan setiap kali dalam satu bulan, yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan Daerah setempat, dengan tembusan kepada BPOM, Dinas Kesehatan Provinsi, dan Arsip. Pelaporan dilakukan paling lambat tanggal 10 setiap bulannya. Pelaporan Psikotropika, dilakukan dalam tiga bulan sekali yang dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Daerah setempat, dengan tembusan kepada BPOM, Dinas Kesehatan Provinsi, dan Arsip. Proses Stok Opname Apotek Kimia Farma 29 dilakukan setiap 1 (satu) bulan sekali, untuk semua obat, alkes dan barang-barang yang berada di Apotek. Menyesuaikan jumlah fisik barang dan jumlah pengeluaran obat berdasarkan laporan penjualan perbulan. Hasil dari stok opname diperiksa oleh pimpinan Apotek.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

38

5.1

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, disimpulkan bahwa:

Perencanaan pemesanan obat di Apotek kimia Farma dilakukan dua kali dalam seminggu

Pengadaan

obat

di Kimia

Farma 29, dilakukan

dengan cara asisten

apoteker membuat Bon Permintaaan Barang Apotek (BPBA), kemudian

dikirimkan ke bagian pengadaan di BM Medan Penyimpanan obat di Kimia Farma 29, disimpan berdasarkan bentuk

sediaan, khasiat farmakologinya, alphabetis/abjad, FIFO (First In First

Out) dan FEFO (First Expired First Out), dan berdasarkan ketahanan fisik obat (suhu).

Peendistribusian

obat merupakan pelayanan obat tanpa resep dokter

meliputi obat bebas, obat bebas terbatas, obat tradisional, kosmetik serta alat-alat kesehatan. Pelayanan obat dengan resep dokter meliputi obat keras yang tercantum dalam daftar obat wajib apotek Pelaporan narkotika dilakukan dengan rutin setiap bulannya sedangkan pelaporan obat psikotropika dilakukan tiga bulan sekali ke BPOM melalui Dinas Kesehatan Daerah Setempat.

5.2

Saran

Sebaiknya apotek kimia farma 29 mempertahankan atau meningkatkan pelayanan kesehatan yang ada di apotek Kimia Farma 29. Sebaiknya apotek Kimia Farma 29 tetap mempertahankan disiplin waktu

yang telah dilaksanakan dengan baik agar lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Anief,

M.,

2005.

Ilmu

Teori

Meracik

Obat

dan

Praktek

Meracik

Obat.

Gadjahmada University Press: Yogyakarta.

39

Anonim a , 2002. Keputusan Menteri Kesehatan Rupublik Indonesia No.1332MENKES/SK/X/2002, Tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin Apotek. Departemen Kesehatan RI: Jakarta. Anonim b , 2003. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. No. 679/MENKES/IX/2003, Tentang Registrai dan Izin Kerja Asisten Apoteker. Departemen Kesehatan RI: Jakarta. Anonim c , 2003. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.679/MENKES/SK/X/2003, tentang Tenaga Teknis Kefarmasian. Departemen Kesehatan RI: Jakarta. Anonim d , 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, No. 1027/MENKES/SK/IX/2004, Tentang Standard Pelayanan Kefarmasian

di Apotek. Departemen Kesehatan: Jakarta. Anonim e , 2009. Undang- undang RI No.36 tahun 2009, Tentang kesehatan. Departemen kesehatan RI: Jakarta. Anonim f , 2009. Peraturan Pemerintsh RI No. 51 tahun 2009, Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Departemen Kesehatan RI: Jakarta. Anonim g , 2012. Informasi Spesialite Obat (ISO). Volume 46. Ikatan Sarjana Farmasi indonesia: Jakarta.

David S. Tarto, 2003, A-Z Drug Facts.

Gerald K. Mc Evoy, Pharm, D, 2008, AHFS Drug Information.

Lexi-Comp’s

Drug

Reference

Handbooks

17 th

edition,

2008-2009,

Drug

Handbook

Information, The American Pharmacist Association.

LAMPIRAN 1

STRUKTUR ORGANISASI APOTEK KIMIA FARMA 29 PEMATANG SIANTAR

40

MANAJER APOTEK PELAYANAN

MANAJER APOTEK PELAYANAN APOTEKER PIO SUPERVISOR APOTEK AA / BAGIAN PERACIKAN AA / BAGIAN PEMBELIAN PEMBANTU
APOTEKER PIO SUPERVISOR APOTEK
APOTEKER PIO
SUPERVISOR APOTEK
MANAJER APOTEK PELAYANAN APOTEKER PIO SUPERVISOR APOTEK AA / BAGIAN PERACIKAN AA / BAGIAN PEMBELIAN PEMBANTU
MANAJER APOTEK PELAYANAN APOTEKER PIO SUPERVISOR APOTEK AA / BAGIAN PERACIKAN AA / BAGIAN PEMBELIAN PEMBANTU

AA / BAGIAN PERACIKAN

 
MANAJER APOTEK PELAYANAN APOTEKER PIO SUPERVISOR APOTEK AA / BAGIAN PERACIKAN AA / BAGIAN PEMBELIAN PEMBANTU
AA / BAGIAN PEMBELIAN
AA / BAGIAN
PEMBELIAN
PEMBANTU AA
PEMBANTU AA

LAMPIRAN 2 BON PERMINTAAN BARANG APOTEK

41

PT. KIMIA FARMA APOTEK APT KIMIA FARMA 29

BON PERMINTAAN BARANG APOTEK Ke Apotek : BISNIS MANAGER PEMATANG SIANTAR

NOMOR BPBA

:

TANGGAL

:

                 

Jml

No

Nama Obat

Ktgr

Stock

Pareto

Jumlah

Kemasan

Jml Beri

Hrg Satuan

Permintaan

         
 

Pembuat

Penerima

Pimpinan

     

LAMPIRAN 3

BAGAN ALUR PENERIMAAN RESEP

42

Penerimaan Resep Resep Kredit Resep Tunai Pemeriksaan kelengkapan administrasinya Pemberian Harga Pemberian no. resep Pasien membayar
Penerimaan Resep
Resep Kredit
Resep Tunai
Pemeriksaan kelengkapan
administrasinya
Pemberian Harga
Pemberian no. resep
Pasien membayar di kasir dan
diberi nomor resep
Bagian Peracikan
nomor resep
Obat Jadi
Obat Racikan
Pemberian etiket
Pemeriksaan
kesesuaian obat
Penyerahan obat
Obat diterima oleh
pasien pelanggan
Resep disimpan
petugas

LAMPIRAN 4 BLANKO UPDS

43

LAMPIRAN 5 KARTU STOK BARANG 44

LAMPIRAN 5

KARTU STOK BARANG

44

LAMPIRAN 8 SP KHUSUS NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA 45

LAMPIRAN 8

SP KHUSUS NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA

45

LAMPIRAN 7 LEMBARAN KUITANSI 46
LAMPIRAN 7 LEMBARAN KUITANSI 46

LAMPIRAN 7

LEMBARAN KUITANSI

46

LAMPIRAN 8 BON PINJAMAN 47

LAMPIRAN 8

BON PINJAMAN

47

LAMPIRAN 9 LEMBARAN COPY RESEP 48

LAMPIRAN 9

LEMBARAN COPY RESEP

48

49

49