You are on page 1of 13

MAKALAH

PENGKAJIAN KLIEN DENGAN APPENDICITIS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Diskusi Colaborative Learning


Pada Mata Kuliah Blok Keperawatan Sistem Pencernaan Semester 4
Yang Diampu Oleh Ns. Satriya Pranata, M.Kep

DISUSUN OLEH : Kelompok 3 (4B)

1. Diah Ayu Puspita Ningtias (G2A016074)


2. Neng Indah Awwaliyah P (G2A016075)
3. Luthfina Dewi Silfiyani (G2A016076)
4. Fitri Zulia Ulfa (G2A016077)
5. Chantika Chincinati (G2A016078)
6. Nela Mafaza (G2A016079)
7. Siti Dyah Harum Mawarsih (G2A016081)
8. Rosa Isnaini Putri (G2A016082)
9. Rizki Marzeli (G2A016083)
10. Elman Hardiansyah (G2A016084)
11. Fivie Fridayanti (G2A016085)

PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2018
PENGKAJIAN PADA KLIEN DENGAN APPENDICITIS

Kasus Pemicu :

Tn. Y usia 31 Tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri perut di
kuadran kanan bawah, nyeri dirasakan sejak 5 hari yang lalu. Klien mengaku
nyeri awalnya berada di daerah umbilikus namun kini lebih terasa pada bagian
perut kanan bawah. Nyeri dirasakan hilang timbul, semakin berat jika melakukan
aktifitas khususnya saat berjalan. Klien juga mengeluhkan mual & muntah sejak 5
hari yang lalu, klien terlihat lemah. Setelah dilakukan palpasi teraba massa pada
abdomen dan semakin sakit jika di tekan. Perawat menyimpulkan bahwa terdapat
nyeri tekan dan nyeri lepas di titik mc.burney, psoas sign (+), rovsing sign (+),
abturator sign (+), serta Blumberg sign (+). Saat ini pasien di diagnosa suspek
apendisitis oleh tim dokter. Tim medis merencanakan untuk melakukan
pemeriksaan lanjutan seperti darah rutin, USG abdomen, dan foto thorax untuk
memastikan kondisi pasien. Hasil pemeriksaan TTV : suhu 38,5 oC, RR
20X/menit, TD 137/85 mmHg, Nadi 80x/menit. Hasil pemeriksaan laboratorium :
Hemoglobin : 12,2 g/dl, leukosit 12x10/Ui, RDW 16.5 %.

Tugas :

Menjelaskan pengkajian fokus pada pasien apendisitis termasuk hasil lab dll serta
interpretasinya, mencari jenis pemeriksaan penunjang
PENGKAJIAN BERDASARKAN KASUS

1) Biodata Pasien
Nama : Tn. Y
Umur : 31 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
2) Keluhan Utama
Pasien mengeluh nyeri perut kuadran kanan bawah, nyeri dirasakan di
daerah umbilikus lebih terasa dibagian perut sebelah kanan bawah, nyeri
hilang timbul, semakin berat ketika sedang beraktifitas khususnya saat
berjalan.
3) Riwayat Kesehatan
Pasien merasakan nyeri sejak 5 hari yang lalu, mengeluh mual dan muntah
sejak 5 hari yang lalu dan pasien terlihat lemah.
4) Hasil Pemeriksaan Fisik
a. Palpasi teraba massa pada abdomen, sakit jika di tekan.
b. Nyeri tekan dan nyeri lepas pada titik Mc.Burney.
c. Psoas Sign (+), rovsing sign (+), abturator sign (+), serta Blumberg
sign (+).
5) Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
b. USG Abdomen
c. Barium Enema
d. Laparoskopi
PEMBAHASAN

1) Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi
Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan
memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi perut
tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada
penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah
bisa dilihat pada massa atau abses appendiculer
b) Palpasi
Cara pemeriksaan untuk kasus appendicitis salah satunya dengan
melakukan penekanan pada bagian bagian tertentu. Salah satunya pada
titik Mc.burney yang letaknya 1/3 lateral garis imajiner yang
menghubungkan Spina Iliaka Anterior Superior (SIAS) dan umbilikus.

(+) : Terdapat nyeri tekan pada Mc Burney’s point.


(–) : tidak ada nyeri tekan.
Pemeriksaan yang lain seperti :
1. Psoas Sign
Melakukan penarikan otot psoas dengan cara melakukan ekstensi
pada paha. Pemeriksaan ini disebut juga Cope's psoas
test atau Obraztsova's sign.

Pertama, posisikan pasien untuk miring ke kiri (left lateral


decubitus). Kedua, tahan bokong pasien dengan tangan kiri.
Ketiga, tarik kaki pasien ke arah pemeriksa dengan menggunakan
tangan kanan.
(+) : timbul nyeri pada kuadran kanan bawah abdomen saat
melakukan manuver.
(–) : tidak ada nyeri saat melakukan manuver.

2. Rovsing Sign
Melakukan penekanan di beberapa titik dari
mulai regio iliaca kiri hingga regio iliaca kanan dengan arah
berlawanan jarum jam.
(+) : terdapat nyeri tekan pada sepanjang titik penekanan yang bisa
menjalar hingga daerah kuadran kanan bawah (kuadran disekitar
apendiks).
(–) : tidak ada nyeri tekan.
3. Abturator Sign
Melakukan penarikan otot obturator internus dengan cara
melakukan rotasi internal pada caput tulang femur.

Pertama, kaki pasien diangkat dan lutunya di flexikan 90 derajat tegak lurus;
Kedua, tarik kaki pasien ke arah pemeriksa untuk memberikan efek rotasi
internal pada femur.
(+) : timbul nyeri pada kuadran kanan bawah abdomen saat melakukan
manuver.
(–) : tidak ada nyeri saat melakukan manuver.
4. Blumberg’s Sign
Blumberg's sign biasa disebut juga dengan nyeri rebound atau nyeri
lepas.
Melakukan penekanan perlahan, lalu melepaskan penekanan tersebut
secara tiba-tiba. Penekanan dilakukan secara tegak lurus di empat
kuadran abdomen.

(+) : terdapat nyeri lepas pada sepanjang titik penekanan yang bisa menjalar
hingga daerah kuadran kanan bawah (kuadran disekitar apendiks);
menandakan adanya apendisitis atau peritonitis.
(–) : tidak ada nyeri lepas.
5. Dunphy’s Sign

Intruksikan klien untuk batuk.


(+) : akan muncul nyeri di wilayah abdomen saat pasien batuk.
(–) : tidak ada nyeri di wilayah abdomen saat pasien batuk.
6. Aaron’s Sign
Pemeriksaan ini bisa dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan
Mc.Burney's sign.
Melakukan penekanan pada titik McBurney (McBurney's point)
yang terdapat di 2/3 antara umbilikus dan anteriot superior iliac
spine (ASIS).

(+) : akan muncul nyeri di daerah epigastrium saat titik McBurney ditekan.
(–) : tidak ada nyeri di daerah epigastrium saat titik McBurney ditekan.
7. Aure Rozanova’s Sign
Melakukan palpasi ringan dengan menggunakan jari pada segitiga
petit (petit triangle).
(+) : terasa nyeri pada wilayah yang di palpasi
(–) : tidak terasa nyeri

Kemungkinan apendisitis dapat diyakinkan dengan menggunakan skor Alvarado.


Sistem skor dibuat untuk meningkatkan cara mendiagnosis apendisitis.6

The Modified Alvarado Score Skor


Gejala Perpindahan nyeri dari ulu hati 1
ke perut kanan bawah
Mual-Muntah 1
Anoreksia 1
Tanda Nyeri di perut kanan bawah 2
Nyeri lepas 1
Demam diatas 37,5 ° C 1
Pemeriksaan Leukositosis 2
Lab
Hitung jenis leukosit shift to 1
the left
Total 10
Interpretasi dari Modified Alvarado Score:
1-4 : sangat mungkin bukan apendisitis akut
5-7 : sangat mungkin apendisitis akut
8-10 : pasti apendisitis akut
c) Perkusi
Pada perkusi akan dijumpai nyeri ketok.
d) Auskultasi
Pada auskultasi akan dijumpai bunyi peristaltik normal. Bunyi
peristaltik tidak ada jika apendisitis berperforasi ke peritoneal dan
menyebabkan peritonitis. Auskultasi tidak banyak membantu dalam
menegakkan diagnosis apendisitis.
2) Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium leukosit akan ditemukan adanya
peningkatan neutrofil dengan jumlah lebih dari 75%. Jumlah leukosit
yang sangat tinggi (>20.000/ml) mengarahkan kecurigaan apendisitis
dengan komplikasi baik gangrene maupun perforasi.
Pada kasus :
 Leukosit : 12x10/UI : Mengindikasikan terjadinya peningkatan
infeksi maupun perforasi ke organ sekitar.
 Hb : 12,2 g/dl (Normal : 14-18 g/dl) : Mengindikasikan terjadinya
perdarahan dan menyebar ke organ sekitar.
 RDW(Red cell Distribution Wildth) : 16.5% (Normal : 10,0-
15,0)% : Mengindikasikan adanya umpan balik karena terjadinya
perdarahan maka pendistribusian sel darah merah meningkat.
b. USG
Pemeriksaan USG memiliki sensitivitas 85% dan spesifisitas 90%
untuk mendiagnosis apendisitis akut. Pada pemeriksaan USG, terlihat
penebalan dinding dan terdapat pembesaran lebih dari 7 mm pada
apendiks. USG dipandang tidak invasif jadi pas digunakan untuk anak-
anak atau wanita hamil.
c. Barium Enema
Pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui
anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari
appendicitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan
diagnosis banding.

d. Laparoskopi
Tindakan ini dirasa efektif karena tidak perlu membuka organ
peritoneal pasien namun indikasi tindakan ini hanya dilakukan jika
appendisitis belum mengalami ke organ lain. Jika pada saat melakukan
tindakan ini didapatkan peradangan pada appendix yang menyebabkan
perforasi ke organ sekitar tindakan ini kurang efektif dan pilihan
terakhir adalah appendiktomy atau pembedahan.
DAFTAR PUSTAKA

Aditya, Arga. 2016.” Manuver-Manuver Khusus Untuk Pemeriksaan


Apendisitis”. http://www.argaaditya.com/2016/08/manuver-manuver-
khusus-untuk.html

https://digilib.unila.ac.id

Noor, Budhi A. Putra, Dion A dkk. 2011. “Penatalaksanaan Apendisitis”. Jakarta

: Departemen Bedah Umum FKUI