You are on page 1of 11

ANALISIS NILAI KORELASI PARAMETER E DAN CU PADA

KASUS GALIAN DALAM MENGGUNAKAN PROGRAM PLAXIS

Ferra Fahriani
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Universitas Bangka Belitung
Kampus Terpadu UBB Balunijuk, Merawang, Kab. Bangka Email : f2_ferra@yahoo.com

ABSTRAK
Keakuratan suatu analisis masalah geoteknik erat kaitanya dengan pemilihan suatu parameter
tanah. Paramater E (modulus elastisitas tanah) sebagai parameter kekakuan tanah erat kaitanya
dengan analisis deformasi pada suatu masalah geoteknik, dalam penelitian ini khususnya
deformasi akibat pekerjaan galian dalam. Pada penelitian ini dilakukan analisis korelasi
parameter tanah yaitu modulus elastisitas (E) dan parameter kuat geser tak terdrainase (Cu).
Korelasi yang digunakan adalah E = 300 sampai 700 Cu, dari korelasi ini akan dilakukan analisis
deformasi pada tanah, deformasi dan bending momen dinding penahan tanah serta tegangan total
dan efektif yang terjadi. Analisis pada penelitian ini menggunakan software PLAXIS, dengan
memodelkan pekerjaan galian menggunakan metode top down yang diawali dengan pemasangan
konstruksi penahan tanah berupa diafragma wall, serta melakukan analisis kasus galian
menggunakan parameter tanah kondisi total dan efektif. Dari penelitian ini didapatkan korelasi
nilai E=500 Cu menggunakan parameter efektif lebih mendekati deformasi di lapangan, hasil
analisis korelasi nilai E/Cu tiap interval 100 didapat perbedaan nilai deformasi maksimum pada
tanah berkisar antara 0,5 sampai 3 cm serta perbedaan bending momen maksimum berkisar
antara 10-100 kN m/m . Semakin besar korelasi nilai E/Cu maka deformasi tanah maupun dinding
penahan tanah akan semakin kecil dan bending momen yang terjadi semakin kecil. Hasil analisis
korelasi nilai E/Cu tidak memberikan pengaruh besar terhadap perubahan tegangan total maupun
tegangan effektif yang terjadi.

Kata Kunci : Modulus Elastisitas Tanah, Kuat Geser Tanah, Galian Dalam, Deformasi

elastisitas tanah (E) dan parameter kuat


PENDAHULUAN
geser tak terdrainase (Cu). Beberapa studi
Keakuratan suatu analisis masalah parametrik sebelumya menyatakan korelasi
geoteknik erat kaitanya dengan pemilihan nilai E dan Cu berkisar antara E = 100
suatu parameter tanah, baik parameter yang sampai 500 Cu untuk lempung dengan
didapat langsung dari hasil uji laboratorium Indeks Plastisitas tanah (IP) > 30 dan E =
atau lapangan, maupun hasil korelasi 500 sampai 1500 Cu untuk lempung
beberapa parameter tanah. Paramater E dengan IP<30. Aswin Lin dkk (April
(Modulus Elastisitas Tanah) sebagai 2010) dalam papernya yang berjudul
parameter kekakuan tanah erat kaitanya “Evaluation of Clay Constitutive Models
dengan analisis deformasi pada suatu for Analysis of Deep Excavation Under
masalah geoteknik dalam hal ini khususnya Undrined Condition” menyatakan bahwa
kasus galian dalam. korelasi nilai Eu = 500 Cu sesuai
Pada penelitian ini dilakukan digunakan untuk analisis galian dalam.
pengujian korelasi parameter modulus
Analisis korelasi parameter E dan Cu Sebuah elemen tanah terdiri dari
dalam penelitian ini dilakukan pada butiran tanah, air dan pori tanah. Dalam
sebuah kasus galian dalam. Besarnya memperlajari kondisi makro elemen tanah
perkiraan deformasi yang terjadi pada tanah tersebut perlu dipertimbangkan variabel
maupun besarnya deformasi dan bending yang menggambarkan jumlah air pada
momen pada dinding penahan tanah akibat elemen tanah tersebut. Ketika suatu
adanya galian sangat berpengaruh dari elemen tanah diberikan suatu tegangan
pemilihan nilai modulus elastisitas tanah. (dengan penambahan beban), maka butiran
tanah akan memadat dalam hal ini
Dalam melakukan analisis, penelitian
dianggap butiran tanah incompressible,
ini menggunakan program PLAXIS yaitu
masa elemen tanah kecil, serta tekanan air
suatu program yang berdasarkan pada
pori yang bekerja pada element tanah
konsep metode elemen hingga. Pada
konstan. Hubungan antara tegangan dan
penelitian ini akan dianalisis korelasi E dan
regangan pada suatu material ditunjukkan
Cu yang paling mendekati kondisi lapangan
pada gambar berikut ini
dengan membandingkan hasil analisis
deformasi menggunakan program PLAXIS
dengan hasil pengukuran deformasi
dilapangan menggunakan inclinometer.
Selain itu akan dianalisis seberapa besar
perbedaan hasil deformasi , bending
momen , serta tegangan–tegangan akibat
korelasi yang dilakukan. Pada penelitian
ini akan dilakukan korelasi nilai E dan Cu
sebesar E = 300 sampai 700 Cu.

Gambar 1. Karakteristik Tegangan


Regangan
TINJAUAN PUSTAKA
Tegangan dan Regangan yang Bekerja Salah satu dari beberapa parameter
pada Elemen Tanah elastisitas tanah yang digunakan untuk
Suatu permodelan tanah merupakan analisis deformasi tanah diberikan oleh
suatu persamaan matematis yang kemiringan bagian lurus kurva tegangan
menyatakan hubungan antara tegangan regangan. Parameter ini merupkan modulus
dan regangan. Untuk mengetahui besarnya 
elastisitas E yaitu E 
tegangan dan regangan yang terjadi pada 
elemen tanah merupakan salah satu tujuan
dilakukan analisis dengan menggunakan Shear Strength Pada Tanah
metode elemen hingga. Tegangan dan Ada 3 principle stresses yang bekerja
regangan dapat terjadi akibat perubahan pada suatu masa tanah yaitu σ1, σ2 dan σ3
kondisi pembebanan pada tanah baik akibat dan apabila tanah dalam kondisi saturated
konstruksi timbunan maupun galian.
akan ada tekanan air pori u pada masa Jika lempung saturated pada kondisi
tanah tersebut. Perubahan total principle undrained dianalisis pada kondisi total,
stresses yang disebabkan oleh perubahan perhitungan tekanan air pori tidak
tekanan air pori, tidak berpengaruh pada diperlukan. Dibawah kondisi ini dimana Ø
perubahan volume atau kondisi tegangan = 0 metode yang digunakan untuk analisis
saat keruntuhan. Perubahan nilai u ini adalah undrained shear strength yang
menyebabkan perubahan tekanan total σ sama dengan nilai kohesi pada keruntuhan
menjadi tekanan effektif σ’ yang Mohr Coulomb untuk tegangan total
didefinisikan seperti persamaan berikut ini : .Untuk asumsi ini, undrained shear
strength untuk lempung saturated tidak
σ’ = σ – u
berpengaruh pada perubahan confining
Shear Strength pada material terdapat pressure selama kadar air tidak berubah.
pada persamaan Mohr - Coloumb theory
 = c + σn tg 
Drained Shear Strength
Dimana:
Berdasarkan effective stress principle,
 = tegangan geser pada tanah pada ketahanan maksimum geser pada tanah
kondisi total bukan merupakan fungsi dari tegangan
c = kohesi tanah pada kondisi total normal, tetapi perbedaan antara tegangan
normal dan tekanan air pori . Ketika tanah
σn = tegangan normal pada kondisi total
digali, volume tanah berubah yang akan
 = sudut geser internal tanah pada kondisi menyebabkan perubahan tekanan air pori
total ∆u. Perubahan pada tekanan air pori ini
bisa meningkat atau menurun dari waktu ke
Dalam kondisi efektif ,
waktu tergantung tipe tanah dan tipe
 ’ = c’ + σn tg  ’ tegangan yang terjadi. Pada kondisi fully
Dua tipe shear strength yang drained (waktu yang lama) ∆u terdisipasi
digunakan untuk analisis stabilitas adalah sehingga ∆u = 0. Untuk partially drained
undrained shear strength, dan drained atau kondisi undrained, nilai dari ∆u
shear strength. tergantung dari pembeban dibandingkan
dengan drainase dalam tanah.
Perubahan tekanan air pori, yang
Undrained Shear Strength
disebakan oleh perubahan tegangan pada
Pada kondisi undrained shear strength, kondisi undrained , yang diajukan oleh
kadar air dan volume pada suatu lempung Skempton (1954) yaitu :
adalah konstan dan excess pore pressure
Dimana:
dihasilkan. Shear strength pada kondisi
∆σ1 = perubahan pada major principal
ini didefinisikan sebagai undrained shear
stress
strength.
∆σ3 = perubahan pada minor principal
stress
A dan B = Skempton parameter basement di Jakarta. Analisis pada
tekanan air pori ada kondisi tanah fully penelitian ini menggunakan Software
saturated , B = 1, sedangkan kondisi PLAXIS yang merupakan software dengan
partially saturated B antara 0 dan 1 konsep metode elemen hingga .
tergantung pada derajat kejenuhan dan Permodelan geometrik tanah, parameter
tekanan pada tanah. A divariasikan dengan tanah serta tahapan konstruksi galian
shear strain, initial density dan nilai OCR dalam pada software PLAXIS disesuaikan
pada tanah. Tanah NC menghasilkan dengan kondisi di lapangan. Adapun
positip excess pore water pressure selama parameter tanah dan tahapan konstruksi
penggeseran maka akan memiliki nial A yang digunkanan seperti yang diuraikan
yang positip juga. Tanah heavily berikut ini.
consolidated menghasilkan negatip excess
pore water pressure selama penggeseran
maka akan memiliki nilai A negatip juga. Parameter –Parameter Tanah
Analisis korelasi E dan Cu pada
penelitian ini menggunakan parameter
METODE PENELITIAN tanah total dan parameter efektif . Adapun
Analisis paremeter dilakukan pada parameter tanah yang digunakan seperti
suatu kasus galian dalam yang dilakukan yang tercantum pada Table 1 berikut.
pada studi kasus pembangunan gedung

Tabel 1. Parameter Tanah


Depth Soil Description γ dry γ wet kx-ky υ N Ø' E
(m) (kN/m3) (kN/m3) (m/day) (°) (kN/m2)
0-1 Aspal urugan 20,0 25,0 86,4 0,30 3 10 8775,00
1-13,5 Lempung kelanauan 14,5 19,5 8,64 x 10^-3 0,35 3 13 8775,00
13,5-25,5 Pasir Halus 15 20,0 0,864 0,30 7,17 27 20972,25
25,5 -27 Pasir Halus Kelempungan 16 21,0 0,0864 0,35 2 23 5850,00
27-33,5 Pasir Halus 2 15 20,0 0,864 0,30 22,33 29 65315,25
33,5-41,5 Pasir Kasar Berkerikil 19 24,0 86,4 0,30 60 31 175500,00
41,5-50 Cadas Kepasiran 19 24,0 86,4 0,35 60 32 175500,00

pada tiap lapisan sedangkan nilai Ø


Nilai E yang digunakan adalah E =
seperti pada Tabel 1
300 sampai 700 Cu, dengan nilai Cu yang
didapatkan dari hubungan antara Cu dan 2. Untuk analisis menggunakan
Data N-SPT, seperti yang ditunjukkan pada parameter total nilai c = cu pada tanah
Gambar 2. lempung dikorelasikan terhadap nilai
N SPT berdasarkan gambar 1 dan
1. Untuk analisis menggunakan
nilai Ø = 0.
parameter efektif nilai c = 0,2 kN/m2
3. Pekerjaan penggalian tahap II, pada
kedalaman 2,5 m -7 m
4. Pemasangan pelat lantai 2, pada
kedalaman 5 m
5. Pekerjaan penggalian tahap III, pada
kedalaman 7 m -11 m
6. Galian ini menggunakan diafragma
wall dengan tebal 0,6 m dan pelat
Sumber : Ambramson lantai dengan tebal 28 cm.
Gambar 2 Korelasi Antara Undrained
Shear Strengthdan Nilai N SPT)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tahapan Konstruksi Deformasi Pada Dinding Penahan Tanah

Adapun tahapan konstruksi galian Hasil analisis deformasi menggunakan


dalam dilakukan pada penelitian ini yaitu program PLAXIS akan dibandingkan
dengan metode galian top down. Pada tahap dengan nilai deformasi yang terjadi
konstruksi galian dalam ini, diawali dilapangan. Nilai deformasi yang terjadi
dengan pemasangan konstruksi penahan dilapangan. ditunjukkan pada data
tanah berupa diafragma wall. inclinometer.

Setelahitu dilakukan tahapan Gambar 3 adalah grafik perbandingan


penggalian. Galian dalam ini dilakukan nilai deformasi pada dinding penahan tanah
dalam 3 tahapan galian dengan pemasangan yang didapat dari perbandingan nilai
pelat lantai pada tiap galian yang inclinometer dan hasil perhitungan
menggunakan metode top down. menggunakan Plaxis.

Padakegiatan konstruksi dengan Darikeduaanalisis diatasmenggunakan


metode top down, lantai dasar pada parameter total maupun efektif,
permukaan tanah dapat dipasang setelah disimpulkan bahwa deformasi yang paling
diafragma wall dan bore pile serta kolom- mendekati kondisi lapangan untuk kasus
kolom selesai dipasang. Tanah kemudian galian dalam adalah nilai E = 500 Cu yang
digali dari bawah lantai sampai ke level dianalisis menggunkakan parameter efektif.
selanjutnya dan dipindahkan melalui Dari gambar 3 dapat disimpulkan pula
lubang bukaan pada pelat lantai . Adapun maka semakin besar nilai modulus tanah
tahapan penggalian menyangkut : maka deformasi yang terjadi pada dinding
penahan tanah semakin kecil. . Hal ini di
1. Pekerjaan penggalian tahap I, pada
karenakan apabila tanah semakin kaku
kedalaman 0 m -2,5 m
maka pergerakan dinding penahan tanah
2. Pemasangan pelat lantai 1, pada semakin kecil.
kedalaman 2 m
(a) (b)

Gambar 3. Deformasi Dinding Penahan Tanah pada Beberapa Korelasi Nilai E dan Cu
Menggunakan Parameter Total dan Efektif (a) Galian 1, (b) Galian 2, (c) Galian 3

didapatkan selisih nilai deformasi pada


Deformasi Pada Tanah
nilai E/Cu tiap interval 100, berkisar antara
Hasil analisis deformasi maksimum
0,5 sampai 3 cm, semakin besar nilai E/Cu
pada tanah yang dihubungkan dengan
maka semakin kecil perbedaan deformasi
nilai E/Cu akibat pekerjaan galian pada tiap
yang terjadi.
tahap penggalian, ditampilkan pada
Gambar 4. Analisis menggunakan parameter
efektif memberikan nilai deformasi yang
Dari Gambar 4, hasil analisis nilai
lebih besar dibandingkan analisis
deformasi maksimum pada tanah,
menggunakan parameter total. Dari penahan tanah pada tiap galian
Gambar 4 didapatkan pula bahwa semakin menggunakan parameter total dan efektif.
besar nilai modulus elastisitas tanah maka
deformasi yang terjadi pada tanah semakin 180

Deformasi Maksimum ( mm)


160 Galian 1 (Total)
kecil. 140
Galian 2 (Total)
120
Bending Momen Pada Dinding Penahan 100 Galian 3 ( Total)

Tanah 80 Galian 1 (Efektif)


60
Galain 2 (Efektif)
Pemilihan nilai modulus elastisitas 40
20 Galian 3 (Efektif)

tanah (E) yang digunakan dalam analis 0


0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
galian tanah berpengaruh juga terhadap E/Cu
bending momen yang terjadi pada dinding Gambar 4 Korelasi antara E/Cu dengan
penahan tanah. Berikut ini ditampilkan Deformasi Maksimum
bending momen yang terjadi pada tiap
koresi E dan Cu yang terjadi pada dinding

Gambar 5. Bending Momen


Pada Dinding Penahan Tanah,
(a) Galian 1, (b) Galian 2, (c)
Galian 3
Gambar 6 Korelasi antara E/Cu dengan Bending Momen Maksimum

m/m. Semakin besar nilai E/Cu maka


Dari Gambar 5 dan Gambar 6
semakin kecil perbedaan bending momen
didapat bahwa semakin besar korelasi
yang terjadi
nilai pada E/Cu maka bending momen
yang terjadi semakin kecil. Hal ini di
Analisis Tegangan Total dan Tegangan
karenakan apabila tanah semakin kaku Efektif
maka pergerakan dinding penahan tanah
Pada penelitian ini, dilakukan
semakin kecil. Perbedaan nilai bending
penelitian terhadap besarnya perubahan
momen maksimum pada nilai E/Cu tiap
tegangan total dan efektif pada suatu
interval 100, didapat perbedaan bending
pekerjaan galian akibat dari adanya korelasi
momen berkisar antara 10 sampai 100 kN
nilai E/Cu.

Tabel 2. Tegangan Total dan Efektif Analisis Parameter Total


Tabel 3. Tegangan Total dan Efektif Analisis Parameter Efektif

Dari analisis tegangan total dan 3. Korelasi nilai E=500 Cu menggunakan


efektif, korelasi nilai E/Cu tidak parameter efektif lebih mendekati
berpengaruh besar terhadap perubahan deformasi pada lapangan
tegangan total maupun tegangan effektif 4. Perbedaan nilai deformasi maksimum
yang terjadi. pada tanah berkisar antara 0,5 sampai
3 cm serta perbedaan bending momen
KESIMPULAN maksimum berkisar antara 10-100 kN
Dari hasil penelitian dapat ditarik m/m pada korelasi nilai E/Cu tiap
beberapa kesimpulan yaitu : interval 100.

1. Pemilihan nilai modulus elastisitas 5. Korelasi nilai E/Cu tidak berpengaruh


dalam analisis geoteknik sangatlah besar terhadap perubahan tegangan
berpengaruh pada hasil perhitungan total maupun tegangan effektif yang
deformasi tanah, deformasi serta terjadi.
bending momen pada dinding penahan
tanah. DAFTAR PUSTAKA
2. Semakin besar korelasi E /Cu atau Bowles, JE (1991), Sifat-Sifat Fisik dan
semakin besar nilai kekakuan tanah Geoteknis Tanah, Erlangga, Jakarta
maka deformasi tanah, deformasi serta Brinkgreve and Ronald Bastiaan Johan
bending momen pada dinding penahan (1994).“Geomaterial Model and
Numerical Analisys of Softening“,
tanah semakin kecil
Thesis Technicsche Universities
Deflt, Dutch, 139-141. Lim, Aswin, Chang-Yu Ou and Pio-Go
Brinkgreve, R.B.J (1998),Plaxis 2D-Versi 8 Hsiesh (2010).”Evaluation of Clay
, A.A Balkema, Rotterdam Constititive Models For Analysis of
Deep Excavation Under Undrined
Gue, S,S and Y.C Tan. (1998) .“Design
Condition”, Journal of
and Constuction Consideration for
GeoEngineering,Vol 15 No1,pp 9-20
Deep Excavtion” SSP Geotechnics
Sdn Bhd, Selangor, 1-20. Masin, D and I Herle. (2003). “Numerical
Analyses of Tunnel in London Clay
Hardiyatmo, Hary Christady. (2007).
Using Different Constitutive Models”,
Mekanika Tanah 2. Gajah Mada
SSPI-CT-2003-501837-NOAH’S
University Press,Yogyakarta
ARK.
Hashash, Youssef M.A and Andrew J
Roboski, Jill and Richard J Finno.(2006) :
Whittle.(1996).”Ground Movement
“Distributions of Ground Movement
Prediction for Deep Excavation in
Parallel to Deep Excavation in
Soft Clay”. Journal of Geotechnical
Clay”, Canadian Geotecnical Journal,
Engineering, 474-484.
Canada
Holtz, Robert D and William D
Talha, Sofiana B. (1998).”Deformation
Kovacs.(1981). An Introduction to
Behaviour of Retaining Wall for
Geotechnical Engineering. Prentice-
Deep Basement Excavation with
Hall Inc Englewood Cliffs,, New
Semi-Top Down Methode”, SSP
Jersey
Geotechnics Sdn Bhd, Selangor
Lewis, Ronald W(1987).”The Finite
Whittle, A.J and Y.M.A
Element Methode in the Deformation
Hashash.(1994).”Soil Modeling and
and Consolidation of Porous Media”
Prediction of Deep Excavation
, A Willley-Interscience Publicatin,
Behaviour” , Pre-Failure Deformation
USA
of Geomaterial, Rotterdam, 589-594.
JurnalFropil Vol 1. Januari-April 2013

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Bangka Belitung 11