You are on page 1of 4

2.1.

ROMPI ANTI PELURU

Menurut ahli zoologi evolusioner University of Aarhus di Denmark dan ahli


jaring laba-laba Fritz Vollrath, jaring laba-laba lebih tahan lama dan elastis
dibanding fiber terkuat buatan manusia (Kevlar) yang digunakan untuk membuat
rompi antipeluru.

Menurut profesor emeritus teknik mesin di University of Houston John Lienhard,


selain sangat lentur,jaring laba-laba mampu meregang hingga 140% tanpa rusak.
Seperti dikutip dari “lifeslittlemisteries”, untuk bahan sekuat ini, jaring laba-laba
termasuk sangat ringan.

Para ilmuwan sudah mengakui kekuatan jaring laba-laba. Benangnya lima kali
lebih kuat dari dengan ketebalan yang sama. Padahal, baja termasuk material
paling kuat yang tersedia bagi manusia. Selain itu, benang laba-laba memiliki
gaya tegang 150.000 kg/m2. Jika ada seutas tali berdiameter 30 cm terbuat dari
benang laba-laba, maka ia akan mampu menahan beban 150 mobil.

Dengan Fakta tersebut mengapa dalam AlQur’an menyebutka bahwa rumah


terlemah adalah rumah laba-laba? Yaitu dalam surah Al-Ankabut ayat 41

‫ت َل ْو كَانُوا‬ِ ‫ت لَ َبيْتُ ْال َع ْن َكبُو‬


ِ ‫ت َب ْيتًا َو ِإ َّن أَ ْوهَنَ ْالبُيُو‬ ِ ‫َّللاِ أ َ ْو ِليَا َء َك َمث َ ِل ْال َع ْن َكبُو‬
ْ َ‫ت ات َّ َخذ‬ ِ ‫َمث َ ُل الَّذِينَ ات َّ َخذُوا ِم ْن د‬
َّ ‫ُون‬
َ‫يَ ْعلَ ُمون‬

Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung


selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan Sesungguhnya
rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”
(QS. Al-Ankabut: 41)

Ayat di atas memberi perumpamaan bahwa serapuh-rapuhnya sandaran atau


selemah-lemahnya pertolongan adalah bagi siapa saja yang menjadikan selain
Allah sebagai sandaran hidup atau pelindungnya. Seseorang yang menyandarkan
hidupnya kepada harta, prestasi, popularitas, pangkat, jabatan dan kedudukan.
Maka semua itu adalah sandaran yang rapuh, rapuh dan rapuh. Begitu banyak
manusia stress, putus asa, kecewa bahkan nekat mengakhiri hidup karena
sandaran yang dikejarnya tidak kunjung datang, bila didapatkan, sifatnya hanya
sementara tidak bersifat abadi, bahkan terkadang sandaran itulah yang menjadi
awal kehinaan baginya di dunia dan di akhirat.

Semua sandaran selain Allah ibaratnya adalah rumah laba-laba. Waktu, tenaga
dan kerja keras yang dicurahkan guna mengejar dan mendapatkan sandaran selain
Allah itu berarti semisal laba-laba yang sedang berusaha membangun rumahnya.
Dan Allah menegaskan bahwa “Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah
rumah laba-laba.”

Kelemahan rumah laba-laba, bukan pada unsur atau struktur bangunannya. Kalau
itu yang dijadikan patokan maka rumah laba-laba adalah rumah paling
kuat.Kelemahannya ada pada fungsi utama sebuah rumah. Sebuah rumah
mempunyai fungsi utama untuk melindungi penghuninya.Namun pada rumah
laba-laba,rumah itu tidak melindunginya sama sekali dari hujan,panas,angin,dll
untuk penghuninya.

2.2. PENJELASAN ALQUAN TENTANG UAP

Greensoulid, sudah pernah menelaah ayat-ayat Quran tentang tanda-tanda kekuasaan


Allah di alam semesta? Kalau kita mau jujur, tanda-tanda kekuasaan yang Allah
paparkan dalam Al Qu’ran emang luar biasa. Sebab, Al Qur’an telah menjelaskannya
lebih dari 1400 tahun yang lalu, sedangkan ilmu pengetahuan baru-baru ini saja
membuktikan apa-apa yang ada dalam Al Qur’an. Wow nggak itu?

Nah, di tulisan kali ini, Greens akan mengajak tentang betapa canggihnya cara Allah
menjelaskan proses penguapan/siklus air (water cycle).

َّ ‫س َمآءِ ذَات‬
<< ‫ِالرجْ ِع‬ َّ ‫>>وا‬
َ
“Demi langit yang mengandung hujan (raj’i: kemampuan mengembalikan, pen.).”
(TQS. Ath-Thāriq [86]: 11)

Dalam catatan kaki yang ada dalam Al-Quran terbitan Depag dipaparkan:

“Raj'i berarti kembali. Hujan dinamakan raj'i dalam ayat ini, karena hujan itu berasal
dari uap yang naik dari bumi ke udara, kemudian turun ke bumi, kemudian kembali ke
atas, dan dari atas kembali ke bumi dan begitulah seterusnya.” Inilah mengapa
digunakan kata “kemampuan langit untuk mengembalikan”, yang menunjukkan siklus
penguapan air. Māsyā Allāh...

Dr. Zakir Naik, seorang pembicara muslim internasional asal Mumbai-India, ketika di
forum debat yang diadakan oleh “Islamic Circle of North America” (ICNA) di
Chicago-U.S.A. pada tahun 2000 menjelaskan hal berikut:

Dalam ayat ini, Al-Quran tidak menyebutkan secara sepesifik “menurunkan air
(hujan)”, karena tidak hanya hujan yang diturunkan ke bumi dari langit (awan &
ozone). Hal-hal lain misalnya: Gelombang telekomunikasi, televisi, radio, juga
dipantulkan/dikembalikan ke bumi. Termasuk pantulan ke luar dan penyerapan,
misalnya sinar ultraviolet matahari yang diserap oleh ionosfer.

Al-Quran telah menjelaskan proses penguapan & siklus air sebagai berikut: (1) air naik
menguap, (2) menjadi awan, (3) awan bergabung dan bergerak ke atas, (4) terjadi
guntur dan kilat, (5) air turun beserta awan bergerak ke dalam menjadi hujan.

Ini bisa dicek pada ayat-ayat berikut di dalam Al-Quran: An-Nūr [24]: 43, Rūm [30]:
48, Az-Zumar [39]: 21, Al-Mu’minūn [23]: 18, Rūm [30]: 24, Al-Hijr [15]: 22, Al-
A’raf [7]: 57, Ar-Ra’d [13]: 17, Al-Furqon [25]: 48, Fāthir [35]: 9, Qaf [50]: 9, Yāsîn
[36]: 34, Al-Mulk [67]: 30, Al-Waqi’ah [56] 68-70.

Greensoulid, dengan demikian, benarlah ketika Allāh menjadikannya sebagai tanda-


tanda untuk kita pikirkan, kemudian menjadi jalan agar kita dapat beriman kepada-Nya:

“dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit
lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran
angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.”