You are on page 1of 5

KELIMPAHAN JENIS MAMALIA DI RESORT SELABINTANA TAMAN

NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO


(The Abundance of Mammals in Selabintana Resort Gunung Gede Pangrango National
Park)
Inggit Amellia Harnum1), Ayu Novitasari2), Visdha Ersita3), Yohana Olivia4)*
jurusan Pendidikan Biologi FMIPAUNJ

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, RT.11/RW.14, Rawamangun, Kota Jakarta


Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220
1)
harnuminggit31@gmail.com

Abstract
Gunung Gede Pangrango National Park is one of ecosytem that can support wildlife life, including
mammals. The purpose of this study is to know abundance of mammals in Gunung Gede
Pangrango National Park with variety of methods. Methods used in this study is trapping, such as
mist net, and direct observation. The result from this study is the type of mammal with highest
abundance is squirrel (Sciuridae sp) with 75%, javan langur (Trachypithecus auratus) with 12,5%,
and fruit bat (Cynopterus brachyotis) with 12,5%
Keywords : abundance, trapping, direct observation, mammals

1. PENDAHULUAN (Cynopterus brachyotis). Terbatasnya


pengetahuan kita mengenai seluk beluk
Taman Nasional Gunung Gede
kehidupan mereka menyebabkan upaya-
Pangrango (TNGGP) memiliki berbagai tipe
upaya untuk mengetahui keberadaan mereka.
ekosistem dan merupakan habitat penting
Hal inilah yang menjadi dasar penelitian
bagi berbagai jenis satwa langka dan
yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan
dilindungi seperti lutung Jawa (Sciuridae sp)
untuk mengidentifikasi keanekaragaman dan
dan macan tutul (Panthera pardus). Gede
kelimpahan mamalia di Taman Nasional
Pangrango, perannya mampu menopang
Gunung Gede Pangrango.
keragaman hayati yang tinggi, termasuk
didalamnya keberagaman akan mamalia. 2. METODE PENELITIAN
Mamalia adalah kelompok satwa yang
menempati semua posisi mata rantai Penelitian dilaksanakan pada tanggal 28-30
April 2018 di Resort Selabintana, Taman
makanan, khususnya konsumen pada tingkat
Nasional Gunung Gede Pangrango
pertama sampai dengan tingkat akhir, di luar
(TNGGP). Peralatan yang gunakan yaitu
proses detritasi. Mamalia berperan penting perangkap kabut (mist-net), GPS, perangkap
dalam ekosistem hutan sebagai penyubur hidup (live trap), buku identifikasi
tanah, penyerbuk bunga, pemencar biji, serta mamalia,alat tulis,2 tongkat bambu 1x1m,
pengendali hama. Berbagai jenis mamalia tali rapia. Kedua alat yang terakhir
dapat ditemukan di TNGGP seperti bajing merupakan pelengkap perangkat kabut untuk
(Sciuridae sp), lutung jawa (Trachypithecus membuat jebakan bagi mamalia terbang
auratus) dan kelelawar buah/codot terutama di beberapa titik tempat yang
dianggap sebagai jalur melintasnya. Bahan pakan. Kelelawar biasanya berhabitat di
penelitan yang digunakan adalah alkohol dekat sumber air yang mempunyai
70%, gypsum, serta umpan perangkap hidup kelembaban tinggi serta dekat dengan sumber
untuk mamalia kecil berupa selai kacang dan makanan yaitu salah satunya buah-buahan.
ikan asin. Data yang dikumpulkan terdiri dari Hasil dari pemasangan jaring kabut ialah
data primer dan sekunder. Data primer tertangkapnya seekor kelelawar buah
berupa karakteristik habitat mamalia, jenis,
(Cynopterus brachyotis). Hasil analisis
jumlah, waktu dan aktivitas mamalia
vegetasi menunjukkan bahwa jenis pohon
sedangkan data sekunder berupa informasi
mengenai kawasan dan mamalia lain. Data dominan yang ditemukan di sekitar lokasi
mamalia dikumpulkan dengan menggunakan ialah Ficus carica yang merupakan pohon
metode teknik pengamatan trapping buah ara. Hal ini menunjukkan bahwa
(perangkap) dan perjumpaan langsung. keberadaan pohon ara (sedang berbuah) yang
Analisis data terdiri dari analisis kelimpahan dominan dijadikan sumber makanan oleh
jenis mamalia, tingkat perjumpaan kelelawar.
(encounter rate) mamalia terhadap
pengamatan langsung ataupun trapping. Hasil pengamatan langsung. Teknik
Untuk mengetahui kondisi habitat mamalia perjumpaan langsung merupakan salah satu
maka dilakukan analisis vegetasi. cara melakukan metode line transect yaitu
Kelimpahan jenis mamalia dihitung dengan kita menelusuri jalur yang telah ditentukan
menggunakan, persamaan dan dianggap sebagai tempat mamalia itu
ada, lalu saat kita menemkan mamalia
(Brower & Zar 1997) tersebut maka kita akan mencatat semua
𝑛𝑖 mamalia yang kita temui. Menurut
𝑃𝑠𝑖 = 𝑥100% Sutherland WJ (1996) cara penggunaan
𝑁
metode line transect yaitu pengamat harus
Keterangan berjalan di sepanjang jalur dengan beberapa
prinsip-prinsip antara lain satwa harus dapat
Psi = Nilai persen kelimpahan jenis ke-i
terdeteksi, satwa diukur saat pertama kali
Ni = Jumlah individu jenis ke-i terlihat oleh pengamat, jarak dan sudut juga
harus diukur dengan kompas. Hasil yang
N = Jumlah individu seluruh jenis. didapat ialah bajing (Sciuridae sp) yang
ditemukan enam kali saat pengamatan
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
langsung dan tertangkap sedang menetap di
Hasil pemasangan jaring kabut. Perangkap batang pohon. Selain bajing, ditemukan juga
jaring kabut (mist net) dipasang di lokasi lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang
yang keberadaannya dekat dengan sumber hanya ditemukan satu kali.

Tabel 1. Hasil perolehan mamalia di Resort Salabintana TNGGP

No. Famili Nama Ilmiah Nama Inggris Nama Lokal


1 Sciuridae Sciuridae sp Squirrel Bajing
2 Cercopithecidae Trachypithecus Javan Lutung Lutung Jawa
auratus
3 Pteropodidae Cynopterus brachyotis Fruit Bat Kelelawar Buah/
Codot
Tabel 2. Jumlah individu mamalia yang ditemukan

No. Nama Ilmiah Nama Lokal Jumlah Individu


1 Sciuridae sp Bajing 6
2 Trachypithecus auratus Lutung Jawa 1
3 Cynopterus brachyotis Kelelawar buah/ Codot 1
Total 8

Kelimpahan jenis mamalia. Dari hasil lutung jawa (Trachypithecus auratus) dengan
pengamatan didapat bahwa kelimpahan jenis persentase 12.5%, dan kelelawar buah
dari yang tertinggi sampai terendah ialah (Cynopterus brachyotis) dengan persentase
bajing (Sciuridae sp) dengan persentase 75%, 12.5%.

80
75
70
60
kelimpahan %

50
40
30
20 12.5 12.5
10
0
Bajing Lutung Jawa Kelelawar

Gambar 1. Grafik kelimpahan jenis mamalia di Resort Salabintana TNGGP


Status perlindungan. Mamalia memiliki tumbuhnya pohon dengan cara memakan
peran penting dalam menjaga keseimbangan dan/ menyebarkan biji secara selektif (Curran
ekosistem. Mulai dari mamalia yang kesil &Webb 2000). Status perlindungan setiap
sampai besarmempunyai peranan dan fungsi spesies yang tercatat dalam penelitian ini
masing-masing serta saling berinteraksi baik berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 dan
terhdap habitatnya dan sesama atau berbeda kategori dalam IUCN tercantum pada Tabel
individu. Perananan mamalia antara lain 3. Salah satu gangguan habitat yang terjadi di
sebagai penyebur tanah, penyerbuk bunga, TNGGP adalah masuknya spesies asing yang
pemencar biji, serta pengendali hama secara buat satwaliat harus berinteraksi kembali
ekologi. Banyak mamalia dan burung dengan spesies asing tersebut. penurunan
menunjukkan strategi pencarian makan yang kualitas kawasan yang berdampak pada
mencangkup konsumsi buah-buahanatau menurunnya fungsi tersebut, diduga
bagian-bagiannya. Bersamaan dengan itu disebabkan oleh tumbuhan eksotik yang
sejumlah tumbuhan mengandalkan vertebrata bersifat invasif (Dephut, 1995). Menurut
sebagai penyebar benih dan sebagai Sunaryo dan Tihurua (2010) terdapat
penyerbuk. Fungsi trsebut dapat mengatur sebanyak 74 jenis tumbuhan asing dan
invasif di Taman Nasional Gunung Gede keanekaragaman hayati akibat masuknya
Pangrango (TNGGP). Dari 74 jenis spesies asing yang mampu beradaptasi
tumbuhan asing dan invasif tersebut yang dengan baik di Indonesia dan menjadi invasif
terbesar termasuk ke dalam suku Asteraceae mulai menjadi perhatian. Spesies asing
(22 jenis), kemudian berturut-turut suku invasif merupakan spesies flora ataupun
Solanaceae (7 jenis), Caryophyllaceae (5 fauna, termasuk mikroorganisme yang hidup
jenis), Euphorbiaceae dan Lamiaceae di luar habitat alaminya, tumbuh dengan
(masing-masing 4 jenis), sedangkan 20 suku pesat karena tidak memiliki musuh alami,
lainnya kurang dari 4 jenis. Di samping itu sehingga menjadi, gulma, hama, dan penyakit
tercatat 46 jenis di antaranya sebagai pada spesies-spesies asli (Kusmana, 2010
tumbuhan invasif di dunia. Penurunan diacu dalam Purwono et al., 2002).

Tabel 3. Jenis mamallia yang dilindungi

Status Perlindungan
No. Nama Ilmiah
IUCN PP No7 Tahun 1999
1 Sciuridae sp LC -
2 Trachypithecus auratus VU Dilindung
3 Cynopterus brachyotis LC -

4. KESIMPULAN
Jumlah jenis mamalia yang ditemukan disusul dengan lutung jawa (Trachypithecus
dengan metode trapping dan pengamatan auratus) dengan persentase 12,5%, dan
langsung ialah 3 jenis. Mamalia yang kelelawar buah (Cynopterus brachyotis)
mempunyai kelimpahan tertinggi ialah bajing dengan persentase 12,5%
(Sciuridae sp) dengan persentase 75%

5. REFERENSI Meijaard, Erik.,dkk. Hutan Pasca


Pemanenan melindungi Satwa Liar Dalam
etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/10693
Kegiatan Hutan Produksi di Kalimantan.
8/.../S2-2016-371802-Introduction.pdf
Center for International Forestry Research:
Mustari, A., Setiawan A., Rinaldi D. 2015. Bogor.
Media Konservasi. Kelimpahan Jenis
Taufikullah, Ahmad Fiki., dkk. Kelimpahan
Mamalia Menggunakan Kamera Jebakan di
Jenis Mamalia di Resort Cikanki Taman
Gunung Botol Taman Nasional Gunung
Nasional Halimun Salak. Banten, Indonesia
Halimun Salak 20 (2) : 93-101
Lampiran

Keterangan.
Codot yang tertangkap menggunakan teknik
Trapping dengan alat mist-net.

Keterangan.
Bajing garis 3. Gambar diambil sesuai
literatur dan dilihat dari karakteristis pada
pengamatan perjumpaan langsung.