You are on page 1of 4

Sistem Monitor Baterai Menggunakan Mikrokontroller

Sederhana
Oleh : Ahmad Arifandi

Indonesia merupakan salah satu dari negara yang memiliki bentuk kepulauan
dengan aneka ragam sumber pembangkit tenaga listrik yang dapat dimanfaatkan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari RUPTL tahun 2016, Indonesia masih
mengandalkan 91% total pasokan yang digunakan untuk sumber pembangkit energi
non-terbarukan, sedangankan sumber energi terbarukan hanya menyumbang sebesar
9% dari total pasokan tenaga listrik yang digunakan di Indonesia. Di Indonesia Sendiri
Rasio Elektrifikasi masih memiliki kendala untuk mampu mengalirkan tenaga listrik
terutama untuk daerah – daerah terpencil.
Pemanfaatan daripada sumber energi terbarukan untuk menyumbang suplai
tenaga listrik dalam rangka guna untuk menyuplai tenaga listrik kepada daerah – daerah
terpencil merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan. Posisi daripada daerah
– daerah yang sulit dijangkau dari sumber pembangkit utama dapat memanfaatkan
sumber energi terbarukan seperti angin, air dan juga biomassa. Kebutuhan daripada
sistem tenaga listrik juga dapat mengandalkan elemen penyiimpan energi seperti
baterai agar dapat menginkorporasikan berberapa sumber energi listrik.
Dalam penggunaannya, sistem elemen penyimpan pun memerlukan berberapa
kebijaksanaan dalam aplikasinya. Bentuk perhatian yang perlu diperhatikan adalah
terhadap parameter – parameter yang terukur dalam baterai seperti arus, tegangan dan
juga suhu. Pertimbangan daripada parameter ini perlu dilakukan agar dapat
memastikan baterai dapat memiliki waktu operasi yang panjang dan juga agar terhindar
dari kegagalan selama pengoperasiannya.
Baterai sendiri memiliki dua moda operasi, yaitu ketika baterai melakukan
pengisian (Charging) dan juga ketika baterai melakukan proses pengosongan
(Discharging). Perbedaan antara kedua moda ini adalah aliran electron yang terjadi
dalam komponen sel penysuun baterai, atau terhadap bagian anoda dan katoda baterai.
Perhatian selama proses pengisian dan pengosongan menjadi penting karena dapat
menjadi potensi penyebab kegagalan dari elemen baterai apabila baterai dioperasikan
diluar rentang spesifikasi yang diperbolehkan. Berberapa masalah yang dapat timbul
diantaranya adalah seperti overcurrent dan juga overvoltage merupakan masalah
umum yang dapat terjadi. Permasalahan seperti pengurangan kapasitas baterai dan juga
overheat dari baterai merupakan masalah lainya yang dapat ditimbulkan akibat dari
kedua permasalahan yang disebutkan sebelumnya.
Melalui sebuah perangkat mikrokontroller seperti Arduino dan juga modul –
modul sederhana, maka sistem monitor dari kedua parameter tersebut dapat dibangun.
Penggunaan Arduino yang digunakan adalah jenis Arduino Mega 2560 dan pemilihan
modul yang digunakan adalah modul Voltage Divider untuk sensor tegangan dan
modul ACS712 Hall Effect Current Sensor sebagai sensor arus. Berdasarkan kedua
sensor yang digunakan, maka hasil rancang bangun memiliki spesifikasi sebesar 0 – 25
Volt untuk rentang pengukuran tegangan dan 0 – 5 Ampere untuk pengukuran arus.
Penggunaan daripada Arduino dipilih dikarenakan Arduino Menggunakan interface
yang mudah dimengerti melalui Bahasa pemrograman C++ untuk menginisialisasi
modul yang akan digunakan. Pemilihan dari modul – modul yang digunakan juga
memiliki harga yang relatinf murah, dimana harga untuk mikrokontroller Arduino
dapat diperoleh dengan harga Rp.300.000,00 dan harga dari modul analog yang
digunakan juga tidak melebihi Rp.80.000,00. Total estimasi dana yang diperkirakan
untuk membangun sebuah Battery Monitor sederhana adalah bervariasi dari Rp.
800.000,00 hingga Rp. 2.000.000 apabila ingin menambahkan modul – modul yang
lebih canggih.
Berberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan diantaranya
adalah,
1) Pemilihan mikrokontroller yang baik penting untuk memperoleh besaran yang
akurat, penggunaan mikrokontroller dengan kualitas clone dapat memberikan
pembacaan yang kurang baik dikarenakan regulator tegangan yang kurang pada
papan mikrokontroller.
2) Pemilihan modul analog, dalam memilih komponen Arduino terdapat berbagai
macam jenis modul yang beredar, modul yang dibeli dapat memberikan hasil
pembacaan yang berbeda dikarenakan karakteristik daripada proses fabrikasi
modul yang bersifat masal sehingga dapat memiliki Quality Control yang
kurang baik.
3) Perancangan papan BMS dapat dikembangkan lebih lanjut menggunakan
berbagai macam fitur. Penggunaan sistem dasar Arduino dapat memungkinkan
untuk digunakan berbagai macam jenis modul seperti jaringan nirkabel untuk
penghubung dengan wifi hingga dapat dibangunnya aplikasi mobile melalui
android.

Konfigurasi untuk pemasangan memerlukan pemahaman dasar mengenai Bahasa


pemrograman C++ untuk interface dengan program Arduino, dan penghubung antar
kabel untuk protoryping dapat menggunakan kabel jumper dan breadboard. Hasil dari
konfigurasi pada breadboard dapat di cetak ulang pada PCB dan dikemas menggunakan
casing agar dapat menjadi Battery Monitor Portabel.

Hasil Rancang Bangun Sistem Baterai sederhana.


Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, maka melalui penggunaan
rangkaian elektronik sederhana seperti Arduino dan juga memanfaatkan sensor analog
maka sebuah sistem monitor baterai yang relatif sederhana dapat dibangun dengan
perolehan data yang dapat digunakan untuk aplikasi dalam berbagai jenis skenario.
Biaya dan juga kemampuan dari pengembangan sistem mikrokontroller ini juga masih
menyisakan ruang untuk pengembangan agar dapat memaksimalkan fungsi daripada
mikrokontroller yang digunakan.

DAFTAR RUJUKAN

Kementerian Energi dan Sumber Daya Nasional, RUPTL PT. Perusahaan Listrik
Negara (PLN) 2016 – 2025.
Ahmad A, Rancang Bangun dan Pengujian Sistem Monitoring Baterai Berbasis
Mikrokontroller, 2017, Depok Fakultas Teknik Universitas Indonesia.