You are on page 1of 4

2.

2 Analisa Stabilitas Lereng

Menurut Ihf=drhawahyuni dkk (2009), suatu permkaan tanah yang mirirng dengan sudut dengan sudut
tertentu terhadap bidang horizontal dan tidak di lindungi biasanya dinamakan sebagai lereng tak tertahan
(undrestrained slope).

2.2.2. Analisa Stabilitas Lereng

Menurut Indrawahyuni, dkk (2009) suatu permukaan tanah yang miring dengan sudut tertentu
terhadap bidang horizontal dan tidak di lindungi biasanya di namakan sebagai lereg tak tertahan
(undrestrained slope). Bila permukaan tanah tidak datar, maka komponen berat tanah yang sejejar
dengan kemiringan lereng akan menyebabkan tanah bergerak kea rah bawa. Bila komponen berat
tanah tersebut cukup besar, kelongsoran dapat terjadi. Dengan kata lain, gaya dorong (driving
Force) melampaui gaya perlawanan yang berasal dari kekuatan geser tanah sepanjang bidang
gelincir seperti yang di perlihatkan pada Gambar2.11.

Gambar 2.1.1.Kelongsoran Lereng

Faktor yang perlu di di lakukan dalam menganalisa kelongsoran yaitu dengan menghitung dan
membandingkan tegangan geser dengan kekuatan geser dari tanah. Proses ini di namakan analisis
stabilitas lereng (slope stability analysis).

Menurut Arif (2007) tujuan dari analisis kestabilan lereng antara lain :

1. Untuk menentukan kondisi kestabilan dan tingkat kerawanan suatu lereng.


2. Memperkirakan bentuk keruntuhan kritis yang mungkin terjadi.
3. Menganilisis penyebab terjadinya longsor.
4. Mempelajari pengaruh gaya-gaya luar pada kestabilan lereng.
5. Merancang suatu desain lereng gilian atau timbuhan yang memenuhi kriteria keamanan dan
kelayakan ekonomis.
6. Memperkirakan kestabilan lereng selama konstruksi di lakukan maupun dalam jangka waktu
yang panjang.
7. Merupakan dasar bagi rancangan ulang lereng setelah mengalami longsoran.
8. Menentukan metode perkuatan atau perbaikan lereng yang sesuai.

Analisis stabilitas di dasarkan pada konsep umum keseimbangan batas ( General Limit Equilibrium ),
SFuntuk menghitung faktor keamanan (SF) yang melawan gaya runtuh pada stabilitas lereng tersebut.
Faktor keamanan digambarkan dimana Analisis stabilitas didasarkan pada konsep umum keseimbangan
batas ( General Limit Eguilibrium ), untuk faktor keamanan (SF) yang melawan gaya runtuh pada
stabilitas lereng tersebut. Faktor keamanan digambarkan dimana pergeseran tanah harus dikurangi dengan
menempatkan massa tanah pada daerah batas keseimbangan sepanjang daerah longsoran. Faktor
keamanan didefenisikan :

𝜏
SF = ……………………………………………………………………………………………… (2.2)
𝜏𝑑

dengan :

SF = faktor keamanan terhadap kekuatan tanah

𝜏 = kekuatan geser rata-rata dari tanah (KN/M2)

𝜏d = tegangan geser rata-rata yang bekerja sepanjang bidang longsor (KN/m2)

Pada umumnya suatu lereng dapat dikatakan stabil apabila faktor keamananya lebih besar dari pada satu
kestabilan lereng tergantung pada dari kekuatan geser tanahnya. Pergeseran tanahnya terjadi karena
adanya gerekan relatif antara butir-butir tanah. Oleh karena itu, kuat geser tanah tergantung pada gaya
yang bekerja antara butir-butirnya. Tanah yang padat dengan susunan butir seperti pembagian ukuran
butir (interlocking) dan besarnya kontak antara butir, lebih besar kekuatan gesernya dari tanah yang lepas
(Das, 1993).
Kekuatan geser tanah terdiri dari dua komponen, yaitu kohesi dan geseran oleh Coulomb dinyatakan
dalam suatu persamaan yang berupa suatu garis lurus dalam suatu sistem koordinat dengan sumbu tegak
dan sumbu horizontal dapat di defenisikan dengan rumus (Das, 1993) :

𝜏 = 𝑐 + 𝜎 𝑡𝑔 𝜙 …………………………………………………………………………………….(2.3)

Dimana :

𝜙 = sudut geser tanah ( 0)

𝜏 = kekuatan geser tanah ( KN/m2 )

c = kohesi ( KN/m2 )

𝜎 = tegangan normal ( KN/m2 )

Besarnya nilai kohesi dan sudut geser tanah (c dan ) merupakan parameter efektif, mempengaruhi lokasi
daerah kritis longsoran dengan keadaan faktor keamanan yang minimum.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang di lakukan dan studi-studi yang menyeluruh tentang kelongsoran
lereng, maka di bagi 3 kelompok rentang faktor keamanan (SF) ditinjau dari intensitas kelongsorannya
(Bowles, 1989) seperti terlihat pada table 2.3

Nilai SF Kejadian / Intensitas Longsor

< 1,07 Longsor biasa / sering terjadi (lereng labil)

1,07 < SF < 1,25 Longsor pernah terjadi (lereng kritis)

>1,25 Longsor jarang terjadi (lereng relative stabil)

Tabel 2.3. Hubungan Nilai Faktor Keamanan Lereng dan Intensitas Longsor

Cara analisis kestabilan lereng banyak dikenal, tetapi secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga
kelompok, yaitu : cara pengamatan visual, cara komputasi dan cara grafik (pangular, 1985) sebagai
berikut :
1. Cara pengamatan visual adalah cara dengan mangamati langsung di lapangan dengan
membandingkan kondisi lereng yang bergerak atau di perkirakan bergerak dan yang
tidak, cara ini memperkirakan lereng labil maupun stabil dengan memanfaatkan
pengelaman di lapangan (pangular, 1985). Cara ini kurang teiti, tergantung dari
pengelaman seseorang. Cara ini, dipakai bila resiko longsor terjadi saat pengamatan. Cara
ini mirip dengan memetakan indikasi gereakan tanah dalam suatu peta lereng.
2. Cara komputasi adalah dengan melakukan hitungan berdasarkan rumus (Fellenius,
Bishop, Janbu, Sarma, Bishop modified dan lain-lain). Cara Fillenius dan Bishop
menghitung faktor keamanan lereng dan dianalisis kekuatannya. Dalam menghitung
besar faktor keamanan lereng dalam analisis lereng tanah melalui metode sayatan, hanya
longsoran yang mempunyai bidang gelincir saja yang dapat di hitung.
3. Cara grafik adalah dengan menggunakan grafik yang sudah standar (Taylor, Hoek, dan
Bray, Janbu, couins dan morganstren). Cara ini dilakukan untuk material homogen
dengan struktur sederhana. Material yang heterogen (terdiri atas berbagi lapisan) dapat
didekati dengan penggunaan rumus (cara komputasi). Stereonet, misalnya diagram jaring
Schmidt (Shmidt Net Diagram) dapat menjelaskan arah longsoran atau runtuhan batuan
dengan cara mengukur stike dip kekar-kekar (foints) dan stike dip lapisan batuan.

Dalam karya tulis ini analisis akan dilakukan dengan menggunakan metode Bhisop disederhanakan
(simpltfled Bhisop Mhetod).