You are on page 1of 81

RINGKASAN

AL-MABAHITS
FI ULUMIL QUR'AN
Syaikh
Mannaul Qatthan
ILMU AL-QUR'AN

I. Pengertian Pertumbuhan Dan Perkembangannya

Mushaf pada zaman Khalifah Ustman bin Affan


dinamakan Mushaf Imam (mushaf yang pertama kali).
Sedangkan penulisan mushaf tersebut dinamakan Ar-
Rasmu Al Utsmani yaitu yang dinisbatkan pada shohabat
Utsman, dan ini dianggap sebagai permulaaan ilmu Rasmi
Al Quran.

Pada masa Khalifah Ali-lah, awal mula diletakkan kaidah-


kaidah nahwu, yang ini juga dianggap sebagai permulaaan
ilmu I’rab bil Quran. Para sahabat melanjutkan usaha itu
sampai pada zaman Tabin, Tabiut Tabiin. Ibnu Taimiyah
berkata: "Ilmu tafsir, yang paling tahu tentang pembahasan
ini adalah mereka Ulama' tafsir dari penduduk Makkah,
Kufah, Madinah (mereka memiliki kelebihan dari ahli tafsir
lainnya).
 Bahwa tafsir mulanya dinukil
 Dan diriwayatkan dari mereka semua meliputi Ilmu
Gharib, Ilmu Asbabun Nuzul, Ilmu Makkki wa
Madani, Ilmu Naskh dan Mansukh berdasarkan
riwayat yang didektekan.
 Pada abad 2 H, dibukukannya hadist yang itu ada
sangkut pautnya dengan tafsir, sehingga para ulama
membukukan tafsir. Diantara mereka yang terkenal
adalah Yazid bin harun (w.117H), Syu'bah bin Hajjaj(
w.160H), Waki' bin Jarrah (w.197H), Sufyan bin
uyainah (w.198H), Abdurrazaq bin Hammam
(w.112H). Mereka pakar hadist dan tafsir namun
tafsir mereka tidak sampai ke tangan kita.
 Ditulis secara bebas dan independen.
Kemudian langkah mereka diikuti oleh Ibnu Jarrir At Thabari
(w.310H), tafsirnya sempurna berdasarkan susunan ayat.
Maka dengan inilah lahirlah Tafsir bil Ma'sur lalu diikuti
Tafsir Birra'yi.

Disamping ilmu tafsir, lahir pula pokok bahasan


berhubungan dengan Al Qur'an, yang ini sangat diperlukan
bagi Mufassir. Diantara mereka:

1. Asbabun Nuzul oleh Ibnu Qutaibah, gurunya Imam


Bukhari (234H).
2. Nasikh Mansukh dan Qiraat oleh Abu 'ubaid Al
Qasim (224 H).
3. Problematika Al Quran oleh Ibnu Qutaibah (276 H)
4. Al Hawa wal Ulumul Quran oleh Muhammad bin
Khalaf bin Marzaban (w.309H).
5. Ilmu-ilmu Qur'an oleh Abu Muhammad bin Qasim Al
Anbari (w. 751H).
6. Garibul Quran oleh Abu Bakar as Sajistani (w.
330H).
7. Al Istighna' fi Ulumil Qur'an oleh Muhammad bin
Ali Al Adawi(388H).
8. I'jazul Quran oleh Abu Bakar Al Baqalani (403H)
9. I'rabul Quran oleh Ali bin Ibrahim bin Said Al Hufi
430
10. Amsalul Quran oleh Al Mawardi (450H)
11. Majas dalam Al Quran oleh Al Izz bin Abdussalam
(660H)
12. Ilmu Qiraat dan Aqsamu Quran mengenai cara
membaca Al Quran oleh Alamudin Asshahawi
(643H).
Berkata Syaikh Muhammad Abdul Adzim Az Zarqani
bahwa ia tidak menemukan di dalam perpustakaan
Mesir sebuah kitab yang ditulis oleh Ali bin Ibrahim
bin Said (Al Hufi, w.330 H) dengan judul "Al Burhan
fi Ulumil Quran" terdiri 30 jilid (15 tidak tersusun
dan tidak berurutan). Dengan metode yang begitu
bagus sehingga ia dianggap sebagai orang yang
pertama kali membukukan ulumul quran.
13. Fununun Afnan fi 'Ajaibi Ullumul Quran oleh Ibnu
Jauzi (597H)
14. Kemudian Al Burhan fi 'Ulumi Quran oleh
Badruddin Az Zarkasyi (794H)
15. Jalaludin Al Balqani (824H) memberikan tambahan
dari Al Burhan.
16. Al Itqan oleh Jalaludin As Suyithi (99H).
Pembahasan itu semua dikenal dengan nama
ulumul Quran yang menjadi kata istilah dalam
Mabahis ulumul Quran.

Kata "Uluum" jamak dari kata ilmu yang berarti Al Fahmu


wal Idrak (paham dan menguasai). Yang dimaksud Ulumul
Quran ialah ilmu membahas masalah yang ada kaitannya
dengan Al Quran dari segi Asbabun Nuzul, pengumpulan
dan penertiban Quran, pengetahuan surat-surat Makkah
dan Madinah, Nasikh Mansukh, Al Mukhkam dan
Mutasyabih dll (yang merupakan ilmu yang harus dikuasai
oleh mufassir).

Terkadang ilmu ini dinamakan dengan ilmu Ushulut Tafsir.


Karena didalamnya ada pembahasan yang harus diketahui
oleh seorang mufassir.
AL QUR'AN AL-KARIM

I. Penjelasan Singkat Tentang Al Qur’an

1. Al Qur'an adalah Risalah Allah kepada manusia


seluruhnya (Al A'raf:158, Al Furqan:1, Al Ahzab:40,
Asy Syura:13),

2. Jibril membawa Al Quran (Asy Syu'ara':193),

3. Sifat Sifat Al Qur’an (At Takwir:19-24, Al Waqiah:77-


79),

4. Al Quran digunakan beberapa kurun (Al Hijr:90),

5. Risalah ini juga ditujukan kepada jin (Al Ahqaf:29-31)


6. Tinggal bagaimakakah kita ? (Thaha:123-124)
7. Para ulama menyebutkan bahwa definisi Al Quran
adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, berpahala
bagi yang membacanya (Al Kahfi:109) dan
(Luqman:27) yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad yang pembacanya merupakan suatu
ibadah.
8. Nama diantaranya: Quran (Al Isra':9) dan (Al
Anbiya':10), Furqan (Al Furqan :1), Zikr (Al Hijr:9),
Tanzil (As Syuara':192).
9. Sifatnya diantaranya: Nur (An Nisa':174), Huda,
Syifa', Rahmah (Yunus:57), Mubin (Al Maidah:57),
Mubarak (Al Anam:92), Busyra (Al Baqarah:97),
Aziz (Fussilat:41), Majid (Al Buruj:21), Basyir
(Fussilat:3-4).

II. Perbedaaan antara Hadist Qudsi dengan Nabawi

1. Hadist Nabawi ada dua yaitu:


a. Tauqifi, kandungannya diterima Rasulullah dari
Wahyu lalu beliau menjelaskan dengan kata-
katanya, dan kandungannya ini dinisbahkan
kepada Allah sedangkan dari segi pembicaraaan
dinisbatkan kepada Rasululah.

b. Taufiqi, Apa yang disimpulkan Rasulullah


menurut pemahaman beliau terhadap Al Quran,
bersifat ijtihadi. Seperti apa yang turun
mengenai tawanan perang Badar, Rasulullah
mengambil pendapat Abu Bakar dengan
menerima tebusan kepada mereka (Al Anfal:67).

2. Subhat Masalah Ini


 Bahwa Hadits Nabawi adalah wahyu secara
makna, lafadznya dari Rasulullah.
 Mengapa Hadits Nabawi tidak dinamakan Hadits
Qudsi
 Jawaban:
Bahwa lafadz Hadits Qudsi dari Rasulullah,
dengan alasan apakah Hadits Qudsi dinisbatkan
kepada Allah melalui kata Nabi Allah ta'ala
berfirman ?
WAHYU ILAHI

I. Penjelasan Wahyu Secara Bahasa

Wahyu adalah isyarat yang tersembunyi dan cepat.

II. Pengertian Wahyu Dibagi Menjadi 5 Pengertian


Bahasa

1. Ilham sebagai bawaaan dasar manusia, seperti:


Wahyu kepada ibu Musa (Al Qashash:7).
2. Ilham berupa Naluri pada binatang, kepada lebah
(An Nahl:68).
3. Isyarat cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat
Zakaria (Maryam:11).
4. Bisikan dan tipu daya syaithan, menjadikan buruk
kelihatan indah (Al An'am:112 dan 121).
5. Apa yang disampaikan Allah kepada Malaikat (Al
Anfal:12).

III. Penjelasan Wahyu Secara Syar'i

Kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi baik


melalui perantara atau tidak yang pertama melalui suara
terjelma atau tanpa suara.

Perbedaaan antara wahyu dan ilham: Ilham adalah suatu


perasaan yang diyakin jiwa sehingga terdorong untuk
mengikuti yang diminta tanpa mengetahui dari mana
datangnya (seperti perasaaan lapar, haus, sedih, senang).
IV. Cara Wahyu Turun Kepada Malaikat

1. Kalam Allah kepada malaikat (Al Baqarah:30),


wahyu Allah kepada mereka (Al Anfal:12), malaikat
mengurus urusan dunia (Adz Dzariyat: 4 dan An
Naziat:5).

2. Al Quran telah ditulis di Lauful Mahfudz (Al


Buruj:21-22), diturunkan sekaligus ke Baitul Izzah
yang berada di langit dunia pada malam Lailatul
Qadar Ramadhan.( Al Qadr: 1), ( Ad dhukan : 1), ( Al
Baqarah: 175).

Para ulama berbeda pendapat mengenai cara turunnya


wahyu Allah (Al Quran) kepada Jibril, antara lain:

1. Bahwa Jibril menerimanya secara pendengaran dari


Allah, dengan lafadz khusus. (benar).
2. Jibril menghafalkannya dari Lauful Mahfudz.(salah).
3. Maknanya disampaikan kepada Jibril sedangkan,
lafadznya adalah dari Jibril atau dari Nai Muhammad
(Hadits Qudsi).

Keistimewaaan wahyu adalah ia adalah mukjiat,


kepastiannya mutlak, membaca dianggap ibadah, wajib
disampaikan dengan lafadznya.

V. Cara Wahyu oleh Allah kepada kepada Para Rasul

1. Dalilnya (Asy Syura:51)


2. Perantara Jibril.
3. Tanpa perantara darinya, seperti:
 Rukyah Shadiqah (mimpi yang benar dalam
tidur).
 Kalam ilahi dari balik tabir tanpa melalui
perantara (Al A'raf:143), An Nisa':164).
4. Cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada
Rasul:
 Datang kepadanya dengan suara seperti
gemerincing lonceng dan suara yang amat kuat
yang mempengaruhi faktor kesadaran (cara yang
paling berat).
 Malaikat menjelma kepada Rasul sebagai
seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Bukan
berarti Jibril melepaskan sifat kerohaniannya
atau dzatnya telah berubah menjadi seorang
laki-laki tetapi yang dimaksud adalah dia nampak
diri dalam bentuk manisia adalah untuk
menyenangkan Rasulullah.
Dalil tentang keadaan Rasulullah:
‫ سأل النبي فقال‬, ‫روت عائشة رضي هللا عنها أن حارث نب هشام‬
‫أحيانا يأتيني مثل صلصة – الجرس وهو أشده علي فيفصم عني وقد‬
‫ وأ أحيانا يتمثل لي الملك رجال فيكلمني فأعي عنه‬. ‫وعيت عنه ماقال‬
‫يقول‬.

VI. Hikmah Diturunkannya Al Quran Secara Berangsur


Angsur

1. Memudahkan cara penghafalan dan kepemahaman


sedangkan ketika itu orang orang Arab adalam kaum
yang ummi.
2. Menetapkan hati Rasulullah (Al Furqan: 32).
3. Sesuai dengan kejadian dan berangsurnya dalam
segi pensyatiatan.
4. Sebagai bantahan dan mukjiat.
5. Merupakan dalil yang sudah tetap bahwa Al Quran
adalah dari sisi Allah
6. Mentarbiyah Rasulullah dalam kesabaran atas
cacian Musyrikin dan memantapkan hati orang orang
mukmin dan sebagai tasliyah bagi mereka dengan
sabar dan yakin.
AL MAKKI WA MADANI

I. Mengetahui Makki dan Madani

Mengetahui makki dan madani dengan dua cara yaitu:

1. Manhaj Sima'i an Naqli yang disandarkan pada


hadist yang shahih dari para shahabat yang hidup
pada saat menyaksikan turunnya wahyu, dari para
tabiin yang menerima dan mendengarkan dari para
shahabat (sebagian besar manhaj ini digunakan).

2. Manhaj Qiyasi Ijtihadi bersandar pada ciri makki


dan madani.

II. Perbedaaan Antara Makki dan Madani


1. Dari segi waktu turunnya.
2. Dari segi tempat turunnya.
3. Dari segi sasarannya.

III. Ciri Khas Ketentuan dari Maki dan Madani

1. Makki
a. Setiap Surat yang didalamnya mengandung
"Sajadah".
b. Setiap surat yang mengandung lafadz kalla,
lafadz ini hanya ada pada separuh terakhir dari
Al Quran, sedangkan ini disebutkan dalam Al
Quran hanya 33x dalam lima belas surat.
c. Setiap surat yang ada lafadz "Ya Ayuhannas"
dan tidak ada surat mengandung "Ya
Ayuhalladzi Naaamanu", kecuali Surat Al Hajj.
d. Setiap surat yang mengandung kisah para nabi
dan umat umat terdahulu, kecuali Surat Al
Baqarah.
e. Setiap surat yang dibuka dengan huruf
singkatan seperti alif laaam miiim kecuali Al
Baqarah dan Al Imran, sedangkan Ar Ra'du
masih diperselisihkan.
f. Setiap surat yang mengandung kisah Adam dan
Iblis kecuali surat Al Baqarah.

Dari segi ciri khas:


a. Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya
kepad Allah.
b. Peletakan dasar umum bagi perundangan dan
akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya
suatu masyarakat.
c. Menyebutkan kisah para Nabi dan umat
terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka
sehingga mengetahui nasib bagi yang
mendustakannya.
d. Suku katanya pendek disertai kata-kata yang
mengesankan.

2. Madani

a. Setiap surat berisi kewajiban, had.


b. Yang disebutkan orang munafik adalah Madani
kecuali Al Ankabut.
c. Yang didalamnya ada dialog dengan Ahli Kitab.

Dari segi ciri khas:


a. Menjelaskan ibadah dan muamalah had
keluarga, warisan, jihad, hubungan sosial,
internasional.
b. Seruan terhadap Ahli Kitab dari kalangan Yahudi
dan Nasrani dan ajakan kepada mereka untuk
masuk islam.
c. Menyingkap perilaku orang munafik.
d. Suku kata dan ayatnya panjang dan dengan
gaya bahasa yang memantapkan syariat serta
menjelaskan tujuannya.

IV. Pembahasan Ulama Tentang Makki Dan Madani

Yang terpenting dipelajari para ulama dalam pembahasan


ini adalah:

1. Yang diturunkan di Mekkah


1. QS. Al Fatihah 31. QS. Al 31. QS. Al Fatihah
2. QS. Al An'am Mu'min 32. QS. Al An'am
3. QS. Al A'raf 32. QS. Al 33. QS. Al A'raf
4. QS. Yunus Fushshilat 34. QS. Yunus
5. QS. Hud 33. QS. Asy 35. QS. Hud
6. QS. Yusuf Syuraa 36. QS. Yusuf
7. QS. Ar-Ra'd 34. QS. Az 37. QS. Ar-Ra'd
8. QS. Ibrahim Zukhruf 38. QS. Ibrahim
9. QS. Al Hijr 35. QS. Ad 39. QS. Al Hijr
10. QS. An Nahl Dukhan 40. QS. An Nahl
11. QS. Al Isra' 36. QS. Al 41. QS. Al Isra'
Jasiyah
12. QS. Al Kahfi 42. QS. Al Kahfi
13. QS. Maryam 37. QS. Al Ahqaf 43. QS. Maryam
14. QS. Thaha 38. QS. Qaaf 44. QS. Thaha
15. QS. Al Anbiya 39. QS. Az 45. QS. Al Anbiya
16. QS. Al Mu'minun Zariyat 46. QS. Al Mu'minun
17. QS. Al Furqan 40. QS. Ath Thur 47. QS. Al Furqan
18. QS. Asy Syu'ara 41. QS. An Najm 48. QS. Asy Syu'ara
19. QS. An Naml 42. QS. Al 49. QS. An Naml
20. QS. Al Qashash Qamar 50. QS. Al Qashash
21. QS. Al Ankabut 43. QS. Al 51. QS. Al Ankabut
22. QS. Ar Ruum Waqi'ah 52. QS. Ar Ruum
23. QS. Luqman 44. QS. Al Mulk 53. QS. Luqman
24. QS. As Sajdah 1. QS. Al Qalam 54. QS. As Sajdah
25. QS. Sabaa' 2. QS. Al Haqqah 55. QS. Sabaa'
26. QS. Fathir 3. QS. Al Ma'arij 56. QS. Fathir
27. QS. Ya Sin 4. QS. Nuh 57. QS. Ya Sin
28. QS. Ash Shaffat 58. QS. Ash Shaffat
5. QS. Al Jin
29. QS. Shad 59. QS. Shad
6. QS. Al Muzammil
30. QS. Az Zumar 60. QS. Az Zumar
7. QS. Al Muddatstsir 61. QS. Al Mu'min
8. QS. Al Qiyamah 62. QS. Al Fushshilat
9. QS. Al Mursalat 63. QS. Asy Syuraa
10. QS. An Naba' 64. QS. Az Zukhruf
11. QS. An Nazi'at 65. QS. Ad Dukhan
12. QS. 'Abasa 66. QS. Al Jasiyah
13. QS. At Takwir 67. QS. Al Ahqaf
14. QS. Al Infithar 68. QS. Qaaf
69. QS. Az Zariyat
15. QS. Al Muthaffifin
70. QS. Ath Thur
16. QS. Al Insyiqaq
71. QS. An Najm
2. Yang diturunkan di Madinah
3. Yang diperselisihkan
4. Ayat Makiyah dalam surat Madaniyah.
5. Ayat Madaniyah dalam surat Makiyah
6. Yang diturunkan di Mekkah sedangkan hukumnya
Madani
7. Di Madinah diturunkan di Mekkah
8. Yang serupa dengan yang yang diturunkan di
Mekkah dalam kelompok Madani.
9. Di Madinah dalam kelompok Makki.
10. Yang dibawa dari Mekkah ke Madinah.
11. Yang dibawa dari Madinah ke Mekkah.
12. Yang turun di musim panas dan di musim dingin.
13. Di waktu siang dan di waktu malam.
14. Yang turun waktu menetap dan waktu dalam
perjalanan.
V. Pendapat tentang Kelompok Surat Makkiyah dan
Madaniyah

1. Bilangan Surat Makki (82: selain Surat Madani).


2. Bilangan Surat Madani (20: Al Baqarah, Ali Imran,
An Nisa', Al Maidah, Al Anfal, At Taubah, Annur Al
Ahzab, Muhammad, Al Fath, Al Hujurat, Al Hadid, Al
Mujadalah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, Al Jumuah, Al
Munafiqin, At Talaq, At Tahrim, An Nashr ) dan,
3. Yang diperselisihkan (12 yaitu: Al Fatihah, Ar Ra'du,
Ar Rahman, As Saff, At Taghabun, At Tatfif, Al
Qadar, Al Bayyinah, Az Zalzalah, Al Ikhlas, Al Falaq,
An Naas).

VI. Pengetahuan Mengenai Yang Turun Pertama Dan


Yang Turun Terakhir

1. Yang Turun Pertama Kali


a. Al Alaq:1-5 (yang paling shahih, turun mengenai
kenabian).
b. Al Mudtdatsir:1 (ayat yang turun pertama kali
secara lengkap, awal kerasulan).
c. Al Fatihah (didukung oleh hadist mursal), Surat
yang pertama kali turun.
d. Bismilah (didukung oleh hadist mursal).

2. Yang Terakhir Turun Kali


a. Ayat yang terakhir turun mengenai riba, Al
Baqarah:278.
b. Ayat yang terakhir turun mengenai kalalah, An
Nisa':176.
c. Ayat yang terakhir turun mengenai hutang, Al
Baqarah: 282.
d. Ayat yang paling terakhir turun adalah Al Baqarah:
281.
e. Ayat terakhir kali diturunkan adalah At Taubah:
128-129.
f. Bahwa yang terakhir turun adalah Surat Al
Maidah.
g. Bahwa yang terakhir turun adalah Ali Imran: 195.
Dikatakan adalah yang paling terakhir turun
adalah An Nisa': 93.
h. Dikatakan menurut Ibnu Abas surat yang paling
terakhir turun adalah An Nashr.

VII. Catatan
1. Pendapat ini semua tidak mengandung sesuatu yang
disandarkan kepada Rasulullah masing-masing
merupakan ijtihad dan dugaan.
2. Yang mula-mula diturunkan menurut persoalannya.
a. Yang pertama kali turun mengenai makanan
adalah Al 'An'am:145, An Nahl:114-115, Al
Baqarah:173, Al Maidah:3.
b. Yang pertama kali diturunkan dalam hal
minuman adalah ayat pertama mengenai khamr
(Al Baqarah:219, An Nisa':43, Al Maidah:90-91)
c. Yang pertama kali diturunkan mengenai perang
adalah Al Hajj:39.

VII. Faedah Pembahasan ini


1. Menjelaskan perhatian yang diperoleh quran guna
menjaganya dan menentukan ayat-ayatnya.
2. Mengetahui rahasia perundangan Islam menurut
sejarah sumbernya yang pokok.
3. Membedakan yang nasikh dengan yang mansukh.
ASBABUN NUZUL

Perhatian ulama akan ilmu ini sangatlah penting


diantaranya, guru Imam Bukhari (Ali bin Madani), Al Wahidi
Al Jabari (meringkas bukunya Al Wahidi).

Pedoman mengetahui asbabun nuzul ialah riwayat shahih


yang berasal dari Rasulullah atau dari sahabat. Muhammad
sirin mengatakan : "Ketika kutanyakan kepada Ubaidah
mengenai satu ayat Quran, dijawabnya: Bertakwalah
kepada Allah dan berkata benar. Orang-orang yang
mengetahui mengenai apa Quran itu diturunkan telah
meninggal".

Menandakan kehati-hatian beliau dalam mengambil riwayat


yang shahih, Asbabun Nuzul dari ucapan para shahabat
yang bentuknya seperti musnad yang pasti menununjukkan
Asbabun Nuzul.

Imam Syuyuthi menyatakan bahwa boleh ucapan Tabiin


yang menunjukan Asbabun Nuzul diterima bila ucapan itu
jelas. Dan mempunyai kedudukan mursal bila penyandaran
kepada tabiin itu benar dan dari seorang Mufassir yang
mengambil dari para shahabat, serta didukung oleh hadist
mursal lainnya.

I. Definisi Asbabun Nuzul

Definisi Asbabun Nuzul adalah berkisar pada dua hal


yaitu:
1. Bila terjadi pada suatu peristiwa maka turunlah ayat
Quran mengenai peristiwa itu hal seperti ini
diriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan,
bahwa ketika turun ayat 214: Rasulullah pergi naik
ke bukit shafa lalu berseru.
2. Bila Rasulullah ditanya sesuatu hal maka turunlah
ayat Quran menerangkan hukum menerangkan
hukumnya. Sebagaimana Khaulah binti Tsa'labah
dikenakan Zihar oleh suaminya, Aus bin Shamit.
Diantara ayat Al Quran yang diturunkan sebagai
permulaan tanpa sebab mengenai akidah iman,
kewajiban islam, dan syariat Allah dalam kehidupan
pribadi dan sosial. Al Ja'bari berkata : "Quran
diturunkan dalam dua katagori: turun tanpa sebab
dan turun karena suatu peristiwa atau pertanyaan".

Definisi Asbabun Nuzul: Sesuatu hal yang karenanya


Qur'an diturunkan pada kejadian itu, baik berupa peristiwa
ataupun pertanyaan.

II. MANFAAT ASBABUN NUZUL

Manfaat mengetahui Asbabun Nuzul adalah:


1. Mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum
dan perhatian syara' terhadap kepentingan umum
dalam menghadapi segala peristiwa karena
sayangnya kepada umat.
2. Mengkhususkan dan membatasi hukum yang
diturunkan dengan sebab yang terjadi bila hukum itu
dinyatakan dalam bentuk umum.
3. Apabila yang diturunkan itu lafazd umum dan
terdapat dalil atas penghususannya maka
pengetahuan mengenai Asbabun Nuzul itu
membatasi penghususan hanya terhadap yang
selain bentuk sebab.
4. Cara terbaik untuk memahami makna Al Qur'an dan
mengungkap kesamaran yang tersembunyi dalam
ayat-ayat yang tidak ditafsiri tanpa mengetahui
Asbabun Nuzul.
5. Dapat menerangkan tentang siapa ayat itu
diturunkan sehingga ayat tersebut tidak diterapkan
kepada orang lain karena dorongan permusuhan dan
perselisian.

Lafadz umum menjadi pegangan, bukan sebab khusus.


Apabila ayat yang diturnkan sesuai dengan sebab secara
umum, atau sesiau dengan sebab secara khusus maka
yang umum diterapkan pada keumuman dan yang khusus
pada kekhususannya.

Contoh Pertama: QS. Al Baqarah: 222, Anas berkata: "Bila


istri-istri orang Yahudi haid, mereka keluarkan dari rumah,
tidak diberi makan dan minum dan di dalam rumah tidak
boleh bersama. Lalu Rasulullah ditanya tentang hal itu
maka Allah menurunkan: mereka bertanya kepadamu
tentang haid”.

Contoh Kedua: Al Lail:17-21, diturunkan mengenai Abu


Bakar. Kata Atqa adalah dari ismun tafdil artinya
superlatif, maka bila tafdil itu disertai Al 'Adiyah (kata
sandang yang menunjukkan bahwa kata yang dimasuki itu
telah diketahui maksudnya), sehingga ini dikhususkan bagi
orang yang karenanya ayat ini diturunkan. Kata sandang
"Al" menunjukan umum bila ia berfungsi sebagai kata
sambung (maushul) atau ma'rifatkan kata jamak. Sedang-
kan Al Atqa pada bukan kata ganti penghubung/kata
jamak, melainkan tunggal. Sehingga menurut Al Wahidi: Al
Atqa adalah Abu Bakar menurut pendapat para ahli tafsir.
Abu Bakar memerdekan budak sebanyak 7: Bilal, Amir bin
Fuhairah, Nahdiyah dan anak perempuannya, Ummu 'isa,
dan budak perempuan Bani Mau'il.

Jika sebab itu khusus, sedangkan ayat yang diturunkan


berbentuk umum maka para ahli usul berselisih pendapat:
antara yang dijadikan pegangan itu lafadz yang umum atau
sebab yang khusus?

1. Jumhur ulama (pendapat yang paling shahih) berpen-


dapat bahwa yang menjadi pegangan adalah adalah lafadz
umum bukan sebab khusus. Misalnya ayat lian yang
diturunkan kepada mengenai tudukan Hilal bin Umayyah
kepda Istrinya, yag harus mendatangkan bukti walaupun
terhadap istrinya sehingga datang Jibril dan menurunkan
ayat An Nur: 6-9.

Hukum yang diambil dari lafadz umum ini ( dan orang orang
yang menuduh istrinya) tidak hanya mengenai peristiwa
Hilal, tetapi diterapkan pula pada kasus serupa lainnya
tanpa memerlukan dalil lain.

2. Segolongna ulama berpendapat bahwa yang menjadi


pegangan adalah sebab khusus alasannya lafadz umum
menunjukkan bentuk sebab yang khusus.

III. REDAKSI ASBABUN NUZUL

1. Terkadang berupa pernyataan tegas mengenai


sebab, jika perawi mengatakan: "Sebab Nuzul ayat
ini adalah begini", mengunakan fa' ta'qibiyah ( kira-
kira "maka". Yang menujukkan urutan peristiwa yang
dirangkai dengan kata "turunlah ayat". Seperti sabda
Rasulullah: "Rasulullah ditanya tentang hal begini
maka turunlah ayat ini ".‫سئل رسول هللا عن كذا قنزلت االية‬
2. Terkadang berupa pernyataan tegas.

3. Terkadang berupa pernyataan yang hanya


mengandung kemungkinan mengenainya

Turunnya Qur'an
Al Qur'an turun kepada Rasulullah saw selama dua puluh
tiga tahun. Dalam hal ini para ulama memiliki dua madzhab
pokok.

Madzhab pertama
Yaitu pendapat Ibnu Abas dan sejumlah ulama yang di
jadikan pegangan umumnya ulama. Yaitu bahwa Al Qur'an
turun sekaligus ke Baitul Izzah di langit dunia agar para
malaikat menghormati kebesarannya. Kemudian di
turunkan kepada Rasulullah secara bertahab selama 23
tahun sesuai dengan kejadian dan peristiwa sejak di utus
hingga wafatnya.
Madzhab kedua
Yaitu yang diriwayatkan oleh As sya'bi bahwa permulaan
turunya Al Qur'an di mulai pada malam lailatul qadar pada
bulan ramadlan yang merupakan malam yang di berkahi.
Kemudian turun secara bertahab sesuai dengan kejadian
dan peristiwa selama kurang lebih 23 tahun.
Madzhab ketiga
Bahwa Al Qur'an di turunkan kelangit dunia selama 23
malam lailatul qadar, yang pada setiap malamnya selama
malam-malam lailatul qadar di tentukan oleh Allah untuk
diturunkan setiap tahunnya. Dan jumlah wahyu yang
diturunkan ke langit dunia pada malam lailatul qadar,
untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan
secara berangsur-angsur kepada Rasulullah saw
sepanjang tahun. Ini ijtihad sebagian mufasir. Pendapat
ini tidak memiliki dalil.
Maka pendapat yang kuat adalah
Pertama, diturunkan secara sekaligus pada malam lailatul
qadar ke Baitul Izzah di langit dunia.
Kedua, diturunkan dari langit dunia kebumi secara
berangsur-angsur selama 23 tahun. 13 tahun di Mekkah
dan 10 tahun di Madinah.
Sedangkan kitab-kitab samawi sebelumnya seperti taurat,
injil, dan zabur turun sekaligus (secara lengkap).
• Hikmah turunnya Al Qur'an secara bertahab
1. Menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah
shalallahu 'alaihi wassalam.
2. Tantangan dan mukjizat.
3. Mempermudah hafalan dan pemahamana.
4. Kesesuaian dengan peristiwa-peristiwa dan
pentahaban dalam pentahaban hukum.
5. Bukti yang pasti bahwa Al Qur'an diturunkan dari sisi
yang Maha Bijaksana dan Maha terpuji.
• Faidah turunnya Al Qur'an berangsur-angsur dalam
pendidikan dan pengajaran
Faidah turunnya Al Qur'an secara berangsur-angsur
merupakan metode untuk mengaplikasikan proses belajar
mengajar yang berlandaskan dua asas : perhatian terhadap
tingkat pengetahuan siswa dan pengembangan potensi
akal, jiwa dan jasmaninya dengan apa yang dapat
membawanya kearah kebaikan dan kebenaran.
Ia juga merupakan bantuan yang paling baik bagi jiwa
manusia dalam upaya menghafal Qur'an,memahami,
mempelajari memikirkan makna-maknanya dan
mengamalkan apa yang dikandungnya.

PENGUMPULAN DAN PENERTIBAN AL QUR'AN


Para ulama membagi Jam'ul Qur'an menjadi dua :
Pertama: Pengumpulan dalam arti Hifdzuhu ( menghafalnya
di dalam hati )
Kedua : Pengumpulan dalam arti kitabatuhu kullihi (
penulisannya secara sempurna )
• Pengumpulan Al Qur'an dalam arti menghafal pada
masa nabi shalallahu 'alaihi wassalam.
Beliau adalah hafidz pertama. Setiap kali satu ayat turun
beliau menghafal dalam dada dan menempatkannya di
dalam hati. Sebab bangsa arab secara kodratu mempunyai
daya hafal yang kuat dan pada umumnya mereka buta
huruf.
Pada masa ini terdapat tujuh Hufadz yang masyhur
sebagaimana diriwayatkan oleh imam Bukhari. Mereka
adalah Abdullah bin mas'ud, Salim bin Ma'qal bekas budak
Abu Hudzaifah, Mu'az bin Jabal, Ubai bin Kaab, Zaid bin
Tsabit,Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda.
• Pengumpulan Al Qur'an pada masa nabi dalam arti
penulisan.
Rasulullah mengangkat para penulis wahyu Qur'an dari
sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, Ubai
bin Kaab dan Zaid bin Tsabit. Bila ayat turun beliau
memerintahkan mereka untuk menulisnya dan menunjukan
tempat ayat tersebut dalam Surat, sehingga penulisan
dengan lembaran itu membantu penghafalan di dalam hati.
Disamping itu para sahabat lainnya pun menulis tanpa di
perintahkan oleh nabi.
Pada masa ini penulisan masih pada pelepah kurma,
lempengan batu, lontar, kulit atau daun kayu, pelana dan
potongan tulang-belulang binatang. Dan apa yang ada
pada seseorang belum tentu dimiliki oleh yang lainnya.
Pada saat Rasulullah wafat, Al Qur'an telah dihafal dan
ditulis dalam bentuk diatas, ayat-ayat dan Surat dipisah-
pisahkan, atau di tertibkan ayat-ayatnya saja dan setiap
Surat berada dalam satu lembaran yang terpisah dan
dalam tujuh huruf. Tetapi Al Qur'an belum terkumpul dalam
satu mushaf yang menyeluruh (lengkap).
• Pengumpulan A Qur'an pada masa Abu Bakar.
Pada perang Yamamah tahun 12 H. terjadi peperangan
melawan kaum murtad. Pada peperangan ini 70 sahabat
yang hafal Al Qur'an gugur. Umar bin Khatab merasa
khawatir melihat kenyataan ini lalu ia menghadap Abu
Bakar dan mengajukaan usul agar mengumpulkan Al
Qur'an karena dikhawatirkan akan musnah.
Pada awalnya Abu Bakar menolak usulan ini karena hal ini
belum pernah dilakukan oleh Rasulullah, namun pada
akhirnya iapun menerima usulan umar tersebut. Lalu ia
memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk melaksanakan tugas
ini mengingat kedudukannya dalam qiraat, penulisan,
kecerdasan dan kehadirannya dalam pembacaan yang
terakhir kali.
Zaid memulai tugasnya dengan sangat teliti dengan
bersandar pada hafalan yang ada didalam hati para qura
dan catatan yang ada pada para penulis. Ia menuturkan:
"kukumpulkan ia dari pelepah kurma, kepingan-kepingan
batu dan dari hafalan para penghafal, sampai akhirnya aku
mendapatkan akhir surat Taubah berada pada Abu
Huzaimah Al Anshary, yang tidak kudapatkan dari orang
lain". Hal ini bukan berarti tidak mutawatir, Zaid sendiri hafal
dan demikian pula para sahabat lainnya. Tapi ini dilakukan
sebagai bentuk kehati-hatiannya.
Diriwayatkan bahwa ia tidak mau menerima dari seseorang
mengenai hafalan Al Qur'an sebelum disaksikan oleh dua
orang saksi.
Kemudian hasil penulisan ini disimpan di tangan Abu Bakar
sampai beliau wafat. Setelah beliau wafat lembaran-
lembaran itu berpindah ketangan umar dan tetap berada
ditagannya hingga ia wafat. Kemudian mushaf itu berpindah
ketangan Hafshah,putri Umar. Pada permulaan khalifah
Usman, Usman memintanya dari tangan hafshah.

• Pengumpulan Al-Qur'an pada masa Ustman


Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan
penduduk irak, Abu Hudzaifah melihat banyak perbedaan
dalam caara-cara mambaca Al Qur'an. Sebagian bacaan
bercampur dengan kesalahan. Tapi masing-masing
mempertahankan dan memegangi bacaannya, hingga
mereka saling mengkafirkan. Melihat kejadian ini ia
menghadap khalifah Usman dan melaporkan apa yang
dilihatnya.
Utsman kemudian mengirimkan utusan ke Hafsah (untuk
meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya).
Kemudian Utsman memanggil Zaid bin tsabit Al nshary,
Abdullah bin Zubair, Sa'id bin As, dan Abdurrahman bin
Haris bin Hisyam, ketiga orang terakhir adalah suku
Quraisy; lalu memerintahkan mereka untuk menyalin dan
memperbanyak mushaf, serta memrintahkan pula agar apa
yang diperselisihkan oleh Zaid dan ketiga Quraisy itu ditulis
dalam bahasa Quraisy, karena Al Quran turun dengan logat
mereka.
Setelah selesai menyalinnya, Utsman mengembalikan
lembaran-lembaran aslinya kepada Hafshah. Selanjutnya
Usman mengirimkan kesetiap wilayah mushaf yang baru
tersebut dan memerintahkan agar semua Mushaf / Qur'an
lain di bakar.

• Perbedaan antara pengumpulan Abu Bakar dengan


Utsman
 Pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar bermotif
kehawatiran beliau akan hilangnya Al Qur'an karena
banyaknya hufadz yang gugur dalam peperangan.
Sedangkan pada priode Utsman bermotif karena
banyaknya perbedaan bacaan Al Qur'an yang
disaksikannya sendiri di daerah yang saling menyalahkan
satu dengan yang lainnya.
Pada masa Abu Bakar pengumpulan dalam bentuk
memindahkan semua tulisan atau catatan aslinya kemudian
di kumpulkan dalam satu mushaf, dengan Surat-Surat dan
ayatnya yang tersusun serta terbatas pada bacaan-
bacaan yang tidak mansukh dan masih mencakup ketujuh
huruf sebagaimana ketika Al Qur'an diturunkan. Sedangkan
pada masa Utsman menyalinya dari tujuh huruf menjadi
satu mushaf dan satu huruf diantara tujuh huruf itu, untuk
mempersatukan kaum muslimin dalam satu mushaf dan
satu huruf yang mereka baca tanpa keenam yang lainnya.

• Syubhat dan bantahannya

Meraka mengatakan bahwa dalam Al Qur'an terdapat


sesuatu yang bukan dari Al Qur'an ? mereka berdalail
dengan riwayat yang menyebutkan bahwa Abdullah bin
Mas'ud mengingkari An ns dan Al Falq termasuk dari Al
Quran.
Jawab, riwayat ini tidaklah benar karena bertentangan
dengan kesepakatan umat. An nawawi mengatakan dalam
Syarhul Muhadzab, "Kaum muslimin sepakat bahwa kedua
Surat (An Naas dan Al falq) itu dan surat fatihah termasuk
Al Qur'an dan siapa saja yang mengingkarinya, sedikitpun
ia telah kafir.
Ibnu Haazm berpendapat: "riwayat tersebut merupakan
pendustaan dan pemalsuan atas nama Ibnu Mas'ud.

TERTIB AYAT DAN SURAT

Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surat dalam Al


Qur'an:
 Dikatakan bahwa tertib surat itu tauqifi dan di tangani
langsung oleh nabi sebagaimana di beritaukan oleh Jibril
kepadanya atas perintah Allah.
Dikatakan pula bahwa tertib surat itu berdasarkan ijtihad
para sahabat, mengingat adanya perbedaan dalam mushaf
mereka
 Dikatakan pula sebagian surat tertibnya tauqifi dan
sebagian lainnya berdasarkan ijtihad sahabat, hal ini karena
adanya tedapat dalil yang menunjukan adanya penertiban
sebagian Surat pada masa Nabi saw.
Ibnu hajar mengatakan, "Tertib sebagian Surat atau
sebagian besarnya itu tidak dapat di tolak sebagai bersifat
tauqifi. Rasulullah saw bersabda :
"Rasulullah berkata kepada kami, telah dating kepadaku
waktu untuk mencari hizb (bagian) Al Qur'an, maka aku
tidak ingin keluar sebelum aku selesai. Lalu kami tanyakan
kepada sahabat-sahabat Rasulullah: “bagaimana kalian
membuat pembagian Al Qur'an? Mereka menjawab: kami
membaginya menjadi 3 Surat, 5 Surat, 7 Surat, 9 Surat, 11
Surat, 13 Surat, dan bagian Al Mufashal dari Qaaf sampai
khatam.
Ini menunjukan bahwa tertib Surat seperti dalam mushaf
sekarang adalah tertib Surat pada masa Rasulullah. "

Pembagian Surat-Surat dan ayat Al qur'an

1) At Tiwal, ada tujuh yaitu : AL Baqarah, Ali Imran , Al


maidah , al an'am , Al A'raf dan Al Anfal.
2) Al Miun. Yaitu Surat-Surat yang ayatnya lebih dari
seratus atau sekitar itu, seperti Al Kahfi, dan Al Isra'
3) Al Matsani, yaitu Surat-Surat yang jumlah ayatnya
dibawah Al Miun, karena Surat ini diulang-ulang bacaannya
lebih banyak dari At Tiwal dan Al Miun.
4) Al Mufashal, terbagi menjadi tiga yaitu: tiwal, aushat
dan Qishar.

Rasm utsmani

Para ulama berbeda pendapat tentang setatus hukumnya,


apakah dia tauqifi atau bukan. Berikut perinciannya:
1) Merupakan tauqifi, dan wajib untuk jadi pegangan.
2) Ada yang berpendapat Rasmu Utsmani bukan tauqifi
dari Nabi, tetapi hanya merupakan satu cara penulisan
yang disetujui Utsman dan diterima umat dengan baik.
Sehingga menjadi suatu yang wajib untuk dijadikan
pegangan dan tidak boleh dilanggar. Ini merupakan
pendapat yang paling rajih.
3) Ada yang berpendapat rasm usmani hanyalah sebuah
istilah, tatacara dan tidak ada salahnya menyalahi bila
orang telah menggunakan satu rasm tertentu untuk itu dan
rasm itu tersirat luas dikalangan mereka.

Fasilah dan ra'sul ayat

Ra'sul ayat adalah akhir ayat yang padanya diletakan


tanda fashl (pemisah) antara satu ayat dengan ayat lain.
Fashilah adalah kalam (pembicaraan ) yang terputus
dengan kalam sesudahnya, jadi setiap ra'sul ayat adalah
fashilah, tetapi tidak setiap fashilah itu ra'sul ayat.
Pembagian fashilah di dalam Al Qur'an :
1) Fashilah Muthamatsilah
Qs : Ath Thur :1-3
2) Fasilah Mutaqaribah. Qs : Al Fathihah: 1-4
3) Fasilah Muthawaziyah. Al Ghasiyah : 13-14
4) Fasilah Mutawazin. Al Ghasiyah : 15-16

TURUNNYA AL QUR'AN DENGAN TUJUH HURUF


Perbedaan pendapat tentang pengertian tujuh huruf
Para ulama berbada pendapat dalam menafsirkan tujuh
huruf ini dengan perbedaan bermacam-macam:
1) sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang ia
adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab
mengenai satu makna.
Dikatakan bahwa tujuh bahasa tersebut adalah Quraisy,
Huzail, saqif, Hawazin, Kinanah dan Yaman. Namun dalam
riwayat lain yang menyebutkan berbeda.
2) Suatu kaum berpendapat bahwa bahwa yang
dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa
dari bahasa-bahasa arab dengan nama Al Qur'an
diturunkan.
Maksudnya adalah bahwa tujuh huruf yang betebaaran di
berbagai macam surat Al Qur'an, bukan tujuh bahasa yang
berbeda dalam kata tetapi sama dalam makna.
3) Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud
tujuh huruf yaitu : Amr (perintah), Nahyu (larangan), Wa’ad
(janji), Wa'id ( ancaman), jadal (perdebatan), Qashas (
cerita ) dan Masal (perumpamaan). Atau Amr, nahyu, halal,
haram, muhkam,mutsyabih dan masal.
4) Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud
tujuh huruf yaitu:
a. Ikhtilaful Asma' ( perbedaan kata benda)
b. Perbedaan dalam tashrif.
c. Perbedaan taqdim dan ta'hir
d. Perbedaan dalam segi ibdal (pengantian )
e. Perbedaan karena penambahan dan pengurangan
f. Perbedaan lajah, seperti idzhar dan idham, fathah dan
imalah dll.
5). Menurut sebagian ulam yaitu tujuh itu tidak diarikan
harfiyah (bukan bilangan enam sampai delapan) tetapi
bilangan tersebut hanya lambang kesempurnaan menurut
kebiasaan orang arab.
6). Segolongan ulama berpendat bahwa yang dimaksud
tujuh huruf adalah tujuh qiraah.
Pendapat terkuat dari semua pendapat tersebut adalah
pendapat pertama.

Hikmah Diturunkannya Al-Qur'an Dengan Tujuh Huruf


Hikmah yang dapat diambil dengan kejadian turunnya Al-
Qur'an dengan tujuh huruf
1) Untuk memudahkan bacaan dan hafalan bagi bangsa
yang ummi, tidak bisa baca tulis, setiap kabilah yang
mempunyai dialek masing-masing, namun tidak biasa
menghafal sya’ir, aplagi mentradisikannya.
2) Bukti kemukjizatan Al Qur'an terhadap fitroh
kebahasaan orang arab.
3) Kemukjizatan Al Qur'an dalam aspek makna dan
hukum-hukumnya.

Hikmah Diturunkannya Al-Qur'an Dengan Tujuh Huruf


Mempermudah ummat Islam khususnya bangsa Arab yang
dituruni Al-Qur'an sedangkan mereka memiliki beberapa
dialeks (lahjah) meskipun mereka bisa disatukan oleh sifat
ke-arabannya. Kami ambil hikmah ini dengan alasan sabda
Rasulullah saw: "Agar mempermudah ummatku, bahwa
ummatku tidak mampu melaksanakannya", dan lain-lain.
Seorang ahli tahqiq Ibnu Jazry berkata: "Adapun sebabnya
Al-Qur'an didatangkan dengan tujuh huruf, tujuannya
adalah untuk memberikan keringanan kepada ummat, serta
memberikan kemudahan sebagai bukti kemuliaan,
keluasan, rahmat dan spesialisasi yang diberikan kepada
ummat utama disamping untuk memenuhi tujuan Nabinya
sebagai makhluk yang paling utama dan kekasih Allah v ".
Dimana Jibril datang kepadanya sambil berkata: "Bahwa
Allah Swt telah memerintahkan kamu untuk membacakan
Al-Qur'an kepada ummatmu dengan satu huruf". Kemudian
Nabi n menjawab: "Saya akan minta 'afiyah (kesehatan)
dan pertolongan dulu kepada Allah karena ummatku tidak
mampu". Beliau terus mengulang-ulang pertanyaan sampai
dengan tujuh huruf.
Menyatukan ummat Islam dalam satu bahasa yang
disatukan dengan bahasa Quraisy yang tersusun dari
berbagai bahasa pilihan dikalangan suku-suku bangsa Arab
yang berkunjung ke Makkah pada musim haji dan lainnya.

QIRAAT QUR'AN DAN PARA AHLINYA.

Qira'ah secara bahasa adalah jamak dan masdar dari


qira'ah yang artinya bacaan. Sedangkan menurut istilah ia
adalah suatu madzhab aliran bacaan Al Qur'an yang dipilih
oleh salah satu imam Qura' sebagai suatu madzhab yang
berbeda dengan madzhab yang lainnya.
Adz Dzahabi menyerebutkan, sahabat yang terkenal
dengan Ahli Qiraat ada tujuh: Utsman, Ubai, Ali, Zaid bin
tsabit, Abu Darda ( dalam redaksi hadits yang lain bukan
Abu darda, tetapi Abdullah bin mas'ud ) dan Abu musa Al
Asy'ari.

Ketujuh Qiraah yang masyhur


Sedangkan ulama pada masa berikutnya pada abad ketiga
hijriyah yang terkenal dari qura’ sab'ah adalah:
1. Abu 'Amr bin A'la ( Zabban bin"A'la bin Ammar al
Mazani al Basri )
2. Nafi' al Madani ( Abu Ruwaih Nafi' bin Abdurrahman )
3. 'Asim al Kufi ( 'Asim bin Aun Najud )
4. Hamzah Al Kufi ( Hamzah bin Habib bin Imarah Az
Zayyat Al Fardli At Tamimi. Kunyahnya Abu Imarah).
5. Al Kisa'i al Kufi ( 'Ali bin Hamzah kunyahnya Abu
Hasan ).
6. Ibnu Amir asy Syami (Abdullah bin 'Amir Al Yahshabi).
7. Ibnu Karsir ( Abdulah bin Kasir Al Maliki).

Sedangkan tiga imam qiraah yang menyempurnakan imam


yang tujuh :
1. Abu Ja'far Al Madani (Yazid bin Qa'qa)
2. Ya'qub Al Basri (Abu Muhamad Ya'qub bin Ishaq bin
Yazid al Hsrami).
3. Khalaf (Abu Muhamad khlaf bin Hasyim bin sa'lab al
Bazzar al baghdadi).

Macam-macam qira'at.
1) Mutawatir, yaitu qira'at yang dinukil oleh sejumlah
besar periwayat yang tidak mungkin bersepakat untuk
berdusta, dari sejumlah orang yang seperti itu dan
sanadnya bersambung hingga perngahabisannya.
2) Masyhur, yaiut qira'at yang sahahih sanadnya tetapi
tidak mencapai derajat mutawatir.
3) Ahad, yaitu qira'at yang shahih sanadnya tetapi
menyalahi rasm utsmani, menyalahi kaidah bahas aarab
atau tidak terkenal.
4) Syadz, yaitu qira'at yang tidak shahih sanadnya.
5) Maudhu', yaitu qira'at yang tidak ada asalnya.
6) Mudraj, yaitu yang ditambahkan dalam qira'ah sebagai
penafsiran.

Faidah beraneka ragam Qiraah yang shahih


1) Menunjukan betapa terjaga dan terpeliharanya kutab
Allah dari perubahan dan penyimpangan padahal kitab ini
mempunyai sekian banyak segi bacaan yang berbeda-
beda.
2) Meringankan umat islam dan memudahkan mereka
untuk membaca Al Qur'an.
3) Bukti kemukjizatan Al Qur'an dari segi kepadatan
maknanya, karena setiap Qira’ah menunjukan hukum
syara' tertentu tanpa ada pengulangan lafadz.
4) Penjelasan apa yang mungkin masih global dalam
qira’ah lain.

Al waqaf dan Al Ibtida'

Waqaf dan ibtida mempunyai peranan sangat penting


dalam pengucapan Al Qur'an untuk menjaga keselamatan
makna ayat dan meghindari kesalahan.

Macam-macam waqaf :
1) Tamm. Yaitu waqaf pada lafadz yang berhubungan
sediktpun dengan lafad sesudahnya.
2) Kafin ja'iz. Yaitu waqaf pada suatu lafadz yang dari
segi lafadz terputus dari lafadz sesudahnya.
3) Hasan. Yaitu lafadz yang dipandang baik pada lafadz
itu tetapi tidak memulai dengan lafaz yang sesudahnya
karena masih berhubungan dengan lafaz dan maknanya.
4) Qabih. Yaitu lafadz yang tidak dapat difahami maksud
sibenarnya.

Tajwid dan adab tilawah.

Tajwid sebagai suatu disiplin ilmu mempunyai kaidah-


kaidah tertentu yang harus dipedomani dalam pengucapan
huruf-huruf dari makhrajnya disamping pula harus pula
diperhatikan hubungan setiap huruf dengan yang sebelum
dan yang sesudahnya dalam cara pengucapan.
Kaidah tajwid berkisar pada waqaf, imalah, tarqiq,
tafhim,idham, penguasaan hamzah dan makharijul huruf.

Adab membaca Al Qur'an


Membaca Al Qur'an sesudah berwudlu.
Membacanya ditempat yang bersih dan suci, untuk
membaca keagungan membaca Al Qur'an.
Membacanya dengan khusyu tenang dan poenuh
hormat
Bersiwak sebelum membaca.
Membaca taawudz pada permulaanya
Membaca basmalah pada permulaan setiap Surat
kecuali Surat Al Baraah
Membacanya dengan tartil
Memikirkan ayat-ayat yang dibacanya.
Meresapi makna dan maksud ayat-ayat Al Qur'an yang
berhubungan dengan janji dan ancaman.
Membaguskan suara
Mengeraskan bacaan Al Qur'an karena membacanya
dengan suara jahr lebih utama.

Ulama' berbeda pendapat tentang membaca Al Qur'an


dengan mushaf atau tidak ?
• Membacanya dengan mushaf lebih utama. Sebab
melihat mushafpun merupakan ibadah.
• Membaca diluar kepala lebih utama, karena dapat
mendorong untuk melakukan tadabur terhadap maknanya.
• Bergantung pada situasi indifidu masing –masing.

Qawaid yang dibutuhkan oleh Mufassir

1. Damir (kata benda).


2. Tarif dan Tankir ( isim makrifat dan Nakirah ).
3. Pengulangan kata benda (isim).
4. Mufrad dan jamak.
5. Membagi jamak dengan jamak atu dengan mufrad.
6. Kata-kata yang dikira mutaradif (sinonim), tetapi bukan.
7. Pertanyaan dan jawaban.
8. Jumlah isim dan jumlah fi'liyah.
9. Athaf.
10. Perbedaan antara al ilata dengan al I'lata.
11. Lafadz fa'ala.
12. Lafadz kana.
13. Lafadz kada.
14. Lafadz ja'ala.
15. Lafadz la'alla dan 'Asa.

MUHKAM DAN MUTSYABIH

Muhkam dan Mutsyabih dalam artian umum


Muhkam bearti (sesuatu) yang dikokohkan. Ihkam Al Kalam
berati mangokohkan perkataan dengan memisahkan berita
yang benar dari yang salah, dan urusan yang lurus dari
yang sesat.
Mutasyabih secara bahasa berarti tasyabuh. Dan syubhah
ialah keadaan diaman salah satu dari dua hal itu tidak
dapat di bedakan dari yang lain karena adanya kemiripan
diantara keduanya secara kongkrit maupun abstrak.

Muhkam dan mutsyabih dalam arti khusus


Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Yang
terpenting adalah sebagaimana berikut :
1) Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui
maksudnya, sedangkan mutayabih hanyalah dapat di
ketahui maksudnya oleh Allah sendiri.
2) Muhkan hanyalah ayat-ayat yang mangadung satu
wajah, sedangkan mutsyabih mengandung banyak wajah.
3) Muhkam adalah ayat-ayat yang maksudnya dapat di
ketahui secara langsung , tanpa memerlukan keterangan
lain. Sedangkan mutyabih tidak demikian, ia memerlukan
penjelasan merujuk kepada ayat-ayat lain.
Ulama memberikan contoh ayat-ayat yang muhkam dalam
Al Qur'an dengan ayat-ayat nasih, ayat-ayat tentang halal,
haram, hudud, kewajiban, janji dan ancaman. Semantara
itu ayat-ayat mutasyabih mereka mencontohkan ayat- ayat
manskuh dan ayat tentang asma Allah dan surat sifatnya.

Perbedaan pendapat tentang kemngkinan mengetahui yang


mufasyabih
Sumber perbedaan pendapat ini berpangkal pada masalah
waqaf dalam ayat
‫العلم‬ ‫في‬ ‫والراسخون‬ .

Pendapat pertama di ikuti oleh sejumlah ulama, seperti


ubai, ibnu mas'ud dan sejumlah sahabat, tabiin dan lainnya.
Bahwa wawu disitu diperlakukan sebagai isti'naf.
Ibnu ma'sud menyatakan celaan terhadap orang-orang
yang mengikuti mutsyabih dan mensifatinya sebagai orang-
orang yang hatinya "condong kepada kesesatan dan
berusaha menimbulkan fitnah "
Pendapat kedua menyatakan bahwa "wawu" sebagai huruf
athaf bukan isti'naf.Pendapat ini anut oleh sebagian ulama
yang dipelopori oleh Mujahid.
Pendapat ini dipilih juga oleh Imam Nawawi. Ia
mengatakan dalam shahih muslim " ini pendapat yang
paling shahih"

Amm dan khas

Pengertian amm dan sighat umum.


Amm adalah lafadz yang menghabiskan makna atau
mencakup segala apa yang pantas baginya tanpa ada ada
pembatasan.
Am mempunyai sihgat-sighat tertentu yang
menunjukannya. Diantaranya:
a) Kull, sebagaimana dalam firman Allah Ali inran : 185
b) Lafadz-lafadz yang dimakrifahkan dengan “Al” yang
bukan al 'ahdiyah
Al Asr : 1-2.
c) Isim nakirah dalam konteks nafyi dan nahyi. Al
Baqarah: 197.
d) Al lati dan al lazi serta cabang-cabangnya. At thalaq :
4.
e) Semua jenis isim isyarat. Al baqarah : 197.
f) Ismul jinsi (kata jenis ) yang di idafatkan. An nisa' : 11

Macam-macam amm
a) Amm yang tetap dalam keumumannya.
176 :‫البقرة‬ ( ‫عليم‬ ‫شيء‬ ‫كل‬ ‫علي‬ ‫)وهللا‬
b). Amm yang dimaksud khusus
173 : ‫)ااذين قال لهم ااناس ان الناس قد جمعو ا الكم فاخشوهم (ال عمران‬
c). Amm yang di khususkan
: ‫وكلو واشربو حتي يتبين لكم الخيط اآلبيض من الخييط االسود من الفجر ( البقرة‬
187)

Perbedaan antara amm al murad bihil khusus dengan al


amm al makhsus'
1) Dimaksudkan untuk mencakup semua satuan atau
indifidu yang dicakup sejak semula, baik dari segi
cangkupan makna maupun lafaz maupun hukumnya.
2) Yang pertama adalah majaz secara pasti, karena ia
telah beralih dari makna aslinya dan dipergunakan untuk
sebagai satuan-satuannya saja.
3) Qarinah yang pertama pada umumnya bersifat
'aqliyah dan tidak pernah terpisah, sedangkan qarinah
bagi yang kedua bersifat lafdziyah dan terkadang terpisah.

Pengertian khass dan mukhasis


Khas adalah lawan kata dari Amm. Sedangkan takhsis
adalah mengeluarkan bagian yang dicangkup lafadz Amm.
Dan mukhasis adalah ada kalanya ia muttasil, yaitu yang
antara amm dengan mukhasis tidak dipisahkan oleh suatu
hal, dan ada kalanya ia munfasil yaitu kebaikan dari
muthasil.
Mukhasis muttasil ada lima:
1) Istisna (pengecualian ). Al maidah : 33-34
2) Sifat . An nisa : 23
3) Syarat. An nur: 33
4) Gayah (batasan sesuatu). Al baqarah : 196
5) Badal ba'dmin kull. Ali imran : 97

Sedangkan mukhasis munfasil adalah mukhasis yang di


tempat lain, baik
ayat, hadist maupun qiyas.

Tahsis sunnah dengan Qur'an


Separti hadist tentang " apa saja yang dipotong dari
binatang terak sedang ia masih hidup, maka ia adalah
bangkai.( Abu daud dan tirmidzi)
Hadist ini di tahsis oleh ayat ( an nahl : 80 ).
Para ulama berbeda pendapat tentang sah tidaknya
berhujah dengan lafad amm yang sudah di tahsis, juga
terhadap sisanya.
Pendapat yang dipilih Ahli Ilmu menyatakan "sah berhujah
dengan amm terhadap apa (makna yang termasuk dalam
ruang lingkupnya) yang diluar katagori yang di khususkan.

Cakupan khitab
Ulama berselisih pendapat tentang khitab yang ditujukan
khusus untuk nabi apakah ia mencakup seluruh umat atau
tidak?
1) Segolongan ulama berpendapat, mencakup seluruh
umat karena Rasulullah adalah panutan (qudwah) mereka.
2) Golongan lain berpendapat, tidak mencakup mereka,
karena sighatnya menunjukan kehususan bagi Rasulullah.
Sama halnya tentang lafadz ya ayuhannas atau ya
ayuhalladzina amanu. Maka pndapat yang shahih khitab itu
mencakup rasulullah juga mengingat maknanya yang
umum.

NASIKH DAN MANSUKH DALAM AL-QUR'AN

A. Definisi Dan Syarat-Syaratnya

 Naskh menurut bahasa dipergunakan untuk arti izalah


(menghilangkan) atau memindahkan sesuatu dan
mengalihkannya dari satu kondisi ke kondisi lain.
Sementara ia sendiri tetap seperti sedia kala. Sedang
secara istilah adalah seruan pembuat syari'at yang
menghalangi keberlangsungan hukum seruan pembuat
syari'at sebelumnya yang telah ditetapkan. Adapun nasikh
(penghapus), kadang digunakan untuk menyebut Allah.
Mansukh adalah hukum yang diangkat atau yang
dihapuskan. Seperti hukum iddah setahun penuh bagi
wanita yang ditingggal mati suaminya. Dalam naskh, hukum
yang dinaskh secara syar'I wajib ditunjukkkan oleh dalil
yang menjelaskan dihilangkannya hukum secara syar'I,
yang datangnya setelah khitab yang hukumnya dinaskh.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam naskh
diperlukan syarat-syarat berikut:
1) Hukum yang dimansukh adalah hukum syara'.
2) Dalil penghapusan hukum tersebut adalah khitab syar'I
yang datang lebih kemmudian dari khitab yang hukumnya
mansukh.
3) Khitab yang mansukh hukumnya tidak terikat (dibatasi)
dengan waktu tertentu. Sebab jika tidak demikian maka
hukum akan berakhir dengan berakhirnya waktu tersebut.
Dan yang demikian tidak dinamakan naskh.

B. Dalil-dalil Mengenai Keberadaan Naskh

Allah swt berfirman:

"Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan


(manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik
daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah
kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu?." Qs. Al-Baqarah: 106

"Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang


lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui
apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya
kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". Bahkan
kebanyakan mereka tiada mengetahui." (Qs. An-Nahl: 101)

C. Proses Terjadinya Naskh Dan Pembagian Naskh

1) Naskh Al-Qur'an dengan Al-Qur'an


Bagian ini disepakati kebolehannya dan telah terjadi dalam
pandangan mereka yang mengatakan adanya naskh.
Misalnya, naskh hukum iddah selama satu tahun, telah
dinaswkh dengan hukum iddah selama empat bulan 10
hari.

"Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara


kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk
isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun
lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan
tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa
bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan
mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. Dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Qs. Al-
Baqarah: 240)

"Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan


meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu)
menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh
hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada
dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat
terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui
apa yang kamu perbuat." (Qs. Al-Baqarah: 234)

2) Naskh Al-Qur'an dengan hadits


a. Naskh Al-Qur'an dengan hadist ahad.
Jumhur berpendapat hal ini tidak boleh, sebab Al-Qur'an
adalah mutawatir dan menunjukkan yakin, sedang hadits
ahad dzanniy, bersifat dugaan, disamping tidak sah pula
menghapuskan sesuatu yang maklum dengan yang
dugaan.

b. Naskh Al-Qur'an dengan hadits mutawatir.


Hal ini diperbolehkan oleh Imam Malik, Abu Hanifah dan
Imam Ahmad dalam satu riwayat, sebab masing-masing
keduanya adalah wahyu. Allah berfirman:

"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut


kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (Qs. An-
Najm: 3-4)

"Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan


Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu
menerangkan pada umat manusia apa yang telah
diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan." (Qs. An-Nahl: 44)
Sedang Imam Syafi'I, Ahli Dhahir dan Ahmad dalam riwayat
yang lain menolak menolak naskh seperti ini, berdasarkan
firman Allah:

"Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan


(manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik
daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah
kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu?." (Qs. Al-Baqarah: 106)
Sedang hadits tidak lebih baik dari atau sebanding dengan
Al-Qur'an.

3) Naskh sunnah dengan Al-Qur'an


Jumhur ulama' membolehkannya. Seperti, masalah
menghadap ke Baitul Makdis yang ditetapkan dengan
sunnah dan didalam Al-Qur'an tidak terdapat dalil yang
menunjukkkannya. Kemudian dinaskh oleh Al-Qur'an
dengan firman Allah:

"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke


langit[96], maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke
kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada,
palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya
orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab
(Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke
Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah
sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."
(Qs. Al-Baqarah: 144)
Naskh yang pertama kali dalam Al-qur'an adalah naskh
tentang qiblat.
4) Naskh sunnah dengan sunnah
Dalam katagori seperti ini terdapat empat bentuk. Naskh
mutawatir dengan mutawatir, naskh ahad dengan ahad,
naskh mutawatir dengan ahad. Tiga bentuk pertama
diperbolehkan, sedangkan pada bentuk keempat terjadi
silang pendapat seperti halnya naskh Al-Quran dengan
hadits ahad, yang tidak diperbolehkan oleh jumhur.
Hikmah Adanya Naskh Dalam Al-Qur'an

1. Memelihara kepentingan hamba.


2. Perkembangan tasyri' menuju tingkat sempurna sesuai
dengan perkembangan dakwah dan kondisi umat manusia.
3. Cobaaan dan ujian bagi mukallaf untuk mengikutinya
atau tidak.
4. Menghendaki kebaikan dan kemudahan bagi umat.
Sebab jika naskh itu beralih ke hal yang lebih berat maka
didalamnya terdapat tambahan pahala dan jika beralih ke
hal yang lebih ringan maka ia mengandung kemudahan dan
keringanan.

MUTLAQ DAN MUQAYYAD


1. DEFINISI
Mutlaq adalah lafadz yang menunjukkan sesuatu hakekat
tanpa sesuatu qayyid (pembatas). Jadi ia hanya
menunjukkan kepada satu indifidu tidak tertentu dari
hakekat tersebut.
Muqayyad adalah lafazh yang telah di hilangkan cakupan
jenisnya, baik secara kulli maupun juz'I, atau Muqayyad
adalah lafazh yang menunjukan suatu hakekat dengan
qayyid (batasan), seperti kata "raqabah" (budak) yang
dibatasi dengan iman dalam ayat:

"(hendaklah) ia memerdekakan budak beriman." {Qs. An-


Nisa': 92}

2. MACAM-MACAM MUTLAQ DAN MUQAYYAD DAN


STATUS HUKUMNYA MASING-MASING

Mutlaq dan muqayyad mempunyai bentuk-bentuk aqliyyah


dan sebagian realitas bentuknya kami kemukakan sebagai
berikut:
a) Sebab dan hukumnya sama.

Misalnya "puasa" untuk kafarah sumpah. Lafazh itu dalam


qira'ah mutawatir yang terdapat dalam mushaf di
ungkapkan secara mutlaq:

"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-


sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi
Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang
kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah
memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan
yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau
memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan
seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan
yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari.
Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila
kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah
sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu
hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)."
{Qs. Al-Ma'idah: 89}
Dan ia muqayyad atau dibatasi dengan tatabu' (berturut-
turut) dalam qira'ah Ibnu Mas'ud :

‫متتابعات‬ ‫أيلم‬ ‫ثالثة‬ ‫فصيام‬


"Maka kafarahnya puasa selama tiga hari berturut-turut."
Dalam hal seperti ini, pengertian lafazh yang mutlaq dibawa
kepada yang muqayyad (dengan arti, bahwa yang
dimakdus oleh lafazh mutlaq adalah sam yang dimaksud
oleh muqayyad), karena "sebab" yang satu tidak akan
menghendaki dua hal yang bertentangan. Oleh karena itu
segolongan berpendapat bahwa puasa tiga hari tersebut
harus dilakukan secara berturut-turut. Dalam pada itu
golongan yang memandang qira'ah tidak mutawatir,
sekalipun masyhur, tidak dapat dijadikan hujjah, tidak
sependapat golongan yang pertama. Maka dalam kasus ini
di pandang tidak ada muqayyad yang karenanya lafazh
mutlaq dibawa kepadanya.

b) Sebabnya sama namun hukum berbeda.

Seperti lafazh "tangan" dalam wudhu dan tayamum.


Membasuh tangan dalam berwudhu dibatasi sampai
dengan siku-siku. Allah berfirtman:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak


mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku." {Qs. Al-Ma'idah: 6 }
Sedang menyapu tangan dalam bertayamum tidak dibatasi,
mutlaq, sebagaimana di jelaskan dalam firman-Nya:

"Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);


sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu." {Qs. Al-
Ma'idah: 6 }
Dalam hal ini ada yang berpendapat, lafazh yang mutlaq
tidak dibawa kepada yang muqayyad karena berlainan
hukumnya. Namun al-Ghayali menukil dari ulama' Syafi'I
bahwa mutlaq di sini dibawa kepada muqayyad mengingat
"sebab"nya sama sekalipun berbeda hukumnya.

c) Sebab berbeda tetapi hukumnya sama


Dalam hal ini ada dua bentuk:
Pertama, taqyid atau batasannya hanya satu. Misalnya,
pembebasan budak dalam hal kafarah. Budak yang
dibebaskan disyaratkan harus budak "beriman" dalam
kafarah pembunuhan tak senganja. Allah berfirman:

"Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang


mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja),
dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena
tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba
sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan
kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka
(keluarga terbunuh) bersedekah (dengan memberi maaf).
Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian
(damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si
pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada
keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba
sahaya yang beriman." {Qs. An-Nisa': 92}
Sedangkan dalam kafarah dhihar ia diungkapkan secara
mutlaq:

"Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian


mereka hendak menarik kembali apa yang mereka
ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang
budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.
Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan." {Qs. Al-Mujadalah:
3}
Kedua, taqyidnya berbeda-beda. Misalnya, "puasa kafarah"
ia ditaqyidkan dengan berturut-turut dalam kafarah
pembunuhan. Firman Allah:
"Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah
ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk
penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana." {Qs. An-Nisa': 92}
Demikian juga dalam kafarah dhihar, sebagaiman dalam
firman-Nya:

"Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka


(wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum
keduanya bercampur." {Qs. Al-Mujadalah: 4}

d) Sebab berbeda dan hukumpun berlainan


Seperti, "tangan" dalam berwudhu dan dalam kasus
pencurian. Dalam berwudhu, ia dibatasi sampai dengan
siku, sedang dalam pencurian di mutlaqkan, tidak dibatasi.
Firman Allah:

"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri,


potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi
apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.
Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." {Qs. Al-
Ma'idah: 38}
Dalam keadaan seperti ini, mutlaq tidak boleh dibawa
kepada muqayyad karena "sebab" dan "hukum"nya
belainan. Dalam hali ini tidak ada kontradiksi (ta'arud)
sedikitpun.

MANTUQ DAN MAFHUM


Definisi Mantuq.
1. Secara bahasa.
Secara bahasa manthuq diambil dari kata An Nathq (‫)النطق‬,
yaitu berbicara. Maka manthuq adalah sesuatu yang
dibicarakan.
2. Secara istilah.
Secara istilah mantuq adalah sesuatu (makna) yang
ditunjukkan oleh lafadz menurut ucapannya, yakni
penunjukan makna berdasarkan materi huruf-huruf yang
diucapkan.

Macam-Macamnya.
a) Dzahir.
Secara bahasa: Al-Wadih (jelas). Adapun secara istilah
dzahir adalah yang jelas maksudnya dengan sendirinya,
tanpa memperhatikan unsur dari luar, dan apa yang
dimaksud bukan maksud asli dari siyaq kalamya.
Sebagaimana firman Allah swt:

"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap
(hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu
mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang
kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu
takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah)
seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang
demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat
aniaya.(QS. An-Nisa': 3)
Ayat ini dari Dzohir lafadznya bermakna jelas yang
langsung bisa dipahami yaitu memperbolehkan kawin
dengan wanita yang dihalalalkan. Dengan konteks kalimat;
"Fankihu maa thaaba lakum minannisa(maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ) . tetapi makna ini
bukan menjadi maksud asal dari susunan kata-
katanya(siyakul kalam), karena maksud asalnya adalah
membatasi jumlah istri maksimal empat atau hanya satu .

Hukum dzahir.

1. Dzahir memungkinkan untuk ditakwikan, atau


merubah dari makna dzahir kepada makan yang lain.
Seperti mengkhususkan yang umum, atau membatasi yang
mutlak. Begitu juga memungkinkan bermakna majazi atau
selainnya.
2. Wajib di amalkan sesuai dengan makna Dzahirnya
selama tidak ada dalil yang menyelisihinya, atau
mentakwikan dari makna dzahirnya. Karena tidak ada
perubahan lafadz dari dzahirnya kecuali dengan
dalil.menuntut untuk mengamalkan dengan selain yang
dzahir.

3. Nash.
Nash adalah lafadz yamg bentuknya sendiri telah dapat
menunjukkan makna yang dimaksud secara tegas(sarih)
tidak mengandung makna lain.
Sebagaimana Firman Allah :

"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka


deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera (
Qs.An-Nuur:2)
Penyifatan "seratus jilidan" menunjukan lafadz yang
berbentuk nash yang tidak menerima kemungkinan makna
lain.

Hukum nash.
Nash sama dengan zhahir. Artinya ia wajib diamalkan
sesuai dengan nashnya dan para fuqoha' mengatakan:
"Setiap nash di dalam Al-Qur'an dan As-sunnah selalu
berbentuk ijma' maksudnya tidak di ragukan lagi akan
wajibnya beramal dengannya .

4. Dalalah Isyarah.
Isyarah adalah lafadz yang menunjukkan makna yang tidak
dimaksud pada mulanya.
Menurut Dr. Sulaiman Al Asyqar, isyarah adalah lafadz
yang dipahami diluar apa yang dimaksudkan oleh
mutakalim(yang berbicara), siyaq kalam tidak dimaksudkan
untuk, tapi mengikuti maksud dari perkataan.
Misalnya dalam firman Allah:

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur


denga istri-istri kamu, mereka adalah pakaian bagi kamu
dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui
bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena
itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepada
kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa
yang telah ditetapka Allah untukmu, dan makan dan
minumlahhingga jelas bagi kamu benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar…" ( Al-Baqarah: 187)
Maksudnya ayat ini menunjukan syahnya puasa bagi
orangyang pagi-pagi masih daklam keadaan junub sebab
ayat ini membolehkan bercampur sampai dengan terbit
fajar, sehingga tidak ada kesempatan untuk mandi.
Keadaan demikian menuntut atau memaksa kita pagi-pagi
dalam keadaan junub. Membolehkan malakukan penyebab
sesuatau berarti membolehkan pula meklakukan sesuatu
itu. Maka membplehkan bersetubuh sampai pada bagian
waktu terakhir dari mlam yang tidak ada lagi kesempatan
untuk mandi sebelum terbit fajar, berarti membolehkan pula
pagi-pagi dalam keadaan junub.

Hukum isyarah.
Al Mulakhusru berkata:"Penunjukkan dalil dengan isyarah
adalah qath'i(tegas) secara mutlak."

Mafhum

A. Definisi Mafhum
Mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh lafal tidak
berdasarkan pada bunyi ucapan.

B. Mafhum Muwafaqah
Dan mafhum terbagi menjadi dua bagian, pertama; Mafhum
Muwafaqah. Adalah mafhum yang hukumnya menunjukkan
bahwa hukum yang tidak disebutkan sama dengan hukum
yang disebutkan dalam lafal.

C. Pembagian Mafhum Muwafaqah


Mafhum muwafaqah terbagi menjadi dua. Pertama; Fahwal
Khithab; Yaitu apabila makna yang dipahami itu lebih harus
diambil hukumnya daripada mantuq. Misalnya seperti
terdapat pada sebuah ayat,

"… Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada


keduanya perkataan "ah"…"
Mantuqnya ayat di atas adalah haramnya mengatakan "ah",
oleh karena itu keharaman mencaci maki dan memukul
lebih pantas diambil karena keduanya lebih berat.
Kedua; Lahnul Khithab; Yaitu apabila hukum mafhum sama
dengan hukum mantuq. Misalnya dalam firman Allah,

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak


yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api
sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api
yang menyala-nyala (neraka)."

Ayat di atas menunjukkan pula keharaman membakar harta


anak yatim atau menyia-nyiakannya dengan cara
pengrusakan yang bagaimanapun juga. Dalalah demikian
disebut lahnul khithab karena ia sama nilainya dengan
memakannya sampai habis.
Kedua mafhum ini disebut mafhum muwafaqah karena
makna yang tidak disebutkan itu hukumnya sesuai dengan
hukum yang diucapkan, meskipun hukum itu memiliki
nilaitambah pada yang pertama dan sama pada yang
kedua.

D. Mafhum Mukhalafah
Kedua; Mafhum Mukhalafah. Mafhum yang
lafalnyamenunjukkan bahwa hukum yang tidak disebutkan
berbeda dengan hukum yang disebutkan. Atau bisa juga
diartikan hukum yang berlaku berdasarkan mafhum yang
berlawanan dengan hukum yang berlaku pada manthuq.
Allah Taala berfirman,

"Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang


diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi
orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan
itu bangkai, atau darah yang mengalir."
Bunyinya adalah haramnya darah yang mengalir.
Sedangkan halalnya darah yang tidak mengalir adalah
mafhum mukhalafah (pengertian kabalikan) dari bunyi nash
dan untuk ini tidak ada petunjuk dari ayat, tetapi diketahui
dari hukum asal mubah atau dengan dalil syara' yang lain.
Seperti sabda Rasulullah Saw,
ِ ‫ان فَ ْال َك ِب ُد َو‬
‫الط َحا ُل‬ ِ َ‫م‬‫د‬َّ ‫ال‬ ‫ا‬ ‫م‬ َ ‫أ‬ ‫و‬ ُ
‫د‬ ‫ر‬
َّ َ َ َ َ َ‫ج‬ ْ
‫ال‬ ‫و‬ ُ‫اك‬ ‫م‬‫س‬َّ ‫ال‬ َ ‫ف‬ ‫َان‬ ‫ت‬َ ‫ت‬‫ي‬ْ ‫م‬‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫ا‬
ِ َ َّ ِ َ َ ِ َ ْ ‫م‬َ ‫أ‬ ، ‫ان‬ ‫م‬‫د‬َ ‫و‬ ‫َان‬ ‫ت‬َ ‫ت‬‫ي‬ْ ‫م‬ ‫م‬ ً ُ‫ك‬َ ‫ل‬ ‫ت‬ْ َ‫أ ُ ِحل‬.
"Dihalalkan bagimu dua bangkaidan dua darah; Dua
bangkai adalah ikan dan belalang, sedang dua darah
adalah hati dan limpa."
E. Pembagian Mafhum Mukhalafah

Pembagian yang bisa digunakan sebagai hujah adalah


konotasi terbalik dari hal berikut ini.
1. Mafhum Washfy (pemahaman dengan sifat)
Misalnya firman Allah Ta'ala dalam menjelaskan wanita
yang haram untuk dinikahi;
"… (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu
(menantu)…"
Mafhum mukhalafahnya adalah istri anak-anak yang bukan
kandung, seperti anak sesusuan. Sabda Rasulullah saw.
‫زَ كَاة‬ ‫السَّائِ َم ِة‬ ‫فِ ْي‬.
"Pada binatang yang digembalakan itu ada kewajiban
zakat.
Mafhum mukhalafahnya ialah binatang yang diberi makan,
bukan digembalakan yang tidak perlu dibayar zakat.
2. Mafhum ghayah (pemahaman dengan batas akhir)

Misalnya Allah Ta'ala berfirman,

"… Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang


putih dari benang hitam, yaitu fajar..."
Mafhum mukhalafahnya adalah bila benang putih itu sudah
nampak maka tidak boleh untuk makan dan minum yang
berarti sudah muncul fajar.
3. Mafhum syarat (pemahaman dengan syarat)
Seperti firman Allah,

"… Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu


sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka
makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan)
yang sedap lagi baik akibatnya."

Mafhum mukhalafahnyayaitu apabila isteri itu tidak dengan


senang hati menyerahkan sebagian maskawinnya.

4. Mafhum 'Adad (pemahaan dengan bilangan)


Seperti firman Allah,
 ....    
  
"…Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau
tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari…"

Mafhum mukhalafahnya adalah kurang atau lebih dari tiga


hari.

5. Mafhum laqab (pemahaman dengan julukan


Seperti firman Allah Ta'ala:
ِ‫هللا‬ ُ
‫س ْول‬
ُ ‫َر‬ ‫ُم َح َّم ُد‬
"Muhammad adalah utusan Allah."
Mafhum mukholafahnya adalah selain muhammad. seperti
sabda Nabi yang berbunyi:
‫ص َدقَة‬
َ ‫ُر‬
ِ ‫ب‬ ْ
‫ال‬ ‫ِف ْي‬
"Pada gandum itu ada kewajiban zakat.”
Mafhum mukholafahnya adalah selain gandum.
Para ulaman ushul fikih sepakat untuk tidak menggunakan
mafhum mukholafah nash bukan sebagai dalil pada suatu
contoh dan sebagai dalil pada contoh yang lain. Tetapi
mereka berbeda pendapat bila menggunakan mafhum
mukholafah nash sebagai dalil satu contoh saja.

6. Mafhumul Hashr (Pemahaman dengan pembatasan).


Allah Ta'al berfirman,

"Hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada


Engkaulah kami meminta pertolongan."

Mafhumnya ialah bahwa selain Allah tidak disembah dan


tidak dimintai pertolongan, oleh karena itu ayat tersebut
menunjukkan bahwa hanya Dia lah yang berhak disembah
dan dimintai pertolongan.

7. Mafhumul Hashr bi illa (Pemahaman untuk membatasi


dengan kata Illa).
Contoh, kalimat ‫ ال إله إال هللا‬bentuk dari kalimat ini adalah
meniadakan tuhan-tuhan dari berhala dan selainnya dan
mafhumnya adalah menetapkan ketuhanan Allah. Inilah
pembagian pemahaman yang paling kuat dari yang lainnya.

F. Kehujahan Mafhum
Berhujjah dengan mafhum masih diperselisihkan. Menurut
pendapat paling shahih, mafhum-mafhum tadi dapat
dijadikan sebagai hujjah (dalil/argumentasi) dengan
beberapa syarat.

G. Syarat Kehujahan Mafhum


A. Apa yang disebutkan bukan dalam kerangka kebiasaan
yang umum maka kata-kata yang ada dalam dalam
pemeliharaan yang terdapat dalam ayat ;

"Dan anak-anak perempuan dari isteri-isterimu yang ada


dalam pemeliharaanmu." tidak ada mafhumnya,
(maksudnya ayat ini tidak dapat difahami bahwa anak tiri
yang tidak dalam pemeliharaan ayah tirinya boleh dinikahi)
sebab pada umumnya anak-anak perempuan isteri itu
berada dalam pemeliharaan suami.
B. Apa yang disebutkan itu tidak untuk menjelaskan suatu
realita. Maka tidak ada mafhum bagi firman Allah:

"Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping


Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu,
maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.”

Sebab dalam kenyataan tuhan manapun selain dari Alalh


tidak ada dalilnya, Jadi kata-kata "padahal tidak ada satu
dalilpun baginya tentang hal itu" adalah suatu sifat yang
pastiyang didatangkan untuk memperkuat realita dan untuk
menghinakan orang yang menyembah tuhan selain Allah,
bukan untuk pengertian bahwa menyembah tuhan-tuhan itu
boleh asal dapat ditegakkan dengannya dalil.

Kemu'jizatan Al-Qur'an

Definisi kemukjizatan dan ketetapannya


I'jas adalah menetapkan kelamahan. Kelemahan menurut
pengertian umum adalah ketidak mampuan mengerijakan
sesuatu, lawan dari kemampuan.

Tahapan Rasulullah dalam menantang orang-orang arab


tentang Al-qur'an:
1. Menantang mereka dengan seluruh al-Qur'an
2. Menantang dengan sepuluh Surat
3. Menentang dengan satu Surat

Aspek-aspek kemukjizatan:
• Abu Ishak Ibarahim an-Nizam (syi'ah), bependapat
bahwa kemu'jizatan al-Qur'an adalah dengan cara sirfah
(pemalaingan). Sirfah adalah bahwa Allah memalingkan
orang-orang Arab untuk menatang al-Qur'an padahaal
mereka mampu untuk menghadapinya.
• Ada yang berpendapat: "Aaal-quran itu mu'jizat dengan
balaghahnya yang mencapai tingkat tinggi dan tidak ada
bandingnya.
• Segi kemukjizatan Al-Qur'an karena ia mengandung
badi' yang sangat unik dan berbeda debngan apa yang
telah dikenal dalam perkataan orang Arab.
• Kemukjizatan Al-Qur'an terletak pada pemberitaannya
tentang hal-hal ghaib yang akan datang yang tidak dapat
diketahui kecuali dengan wahyu.
• Al-Qur'an itu mukjizat karena ia mengandung
bermacam-macam ilmu dan hikmah yang sangat dalam.
Dan masih banyak lagi aspek-aspek kemukjizatan yang
lainnya yang berkisar pada tema-tema di atas.

Kadar kemukjuzatan Al Qur'an


a. Golongan Mu'tazilah berpendapat bahwa kemukjizatan
itu berkatan dengan keseluruhan Al Qur'an, bukan dengan
sebagiannya atau setiap Suratnya yang lengkkap.
b. Sebagian ulama berpendapat, sebagian kecil atau
sebagian besar dari al Qur'an, tanpa harus satu Surat
penuh , juga merupakan mukjizat.
c. Ulama lain berpendapat, kemukjizatan itu cukup hanya
dengan satu Surat yang lengkap sekalipun pendek, atau
dengan ukuran satu ayah Al Qur'an, baik satu ayat atau
beberapa ayat.

Kemukjizatan bahasa

 Sejarah bahasa arab tidak pernah mengenal suatu


masa dimana suatu bahasa berkembang sedemikian
pesatnya melainkan tokoh-tokoh dan guru-gurunya
bertekuk lutut dihadapan bayan qur'ani, sebagai
menifestasi pengakuan akan ketinggian akan
ketinggiannya dan mengenali misteri-misterinya.
Di dalam Al Qur'an jalinan-jalinan huruf-hurfnya serasi,
ungkapannya indah, uslubnya manis, ayat-ayatnya teratur
serta memperhatikan situasi dan kondisi dalam berbagai
macam bayannya.sehingga orang arab tidak dapat
menndinginya meskipun ia turun ditengah mereka..
Kemukjizatan itu di dapatkan dalam keteraturan
bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya, sehingga
telinga tak pernah bosan mendengarnya.
Kemukjizatan pula di dapatkan dalam macam-macam
khitab, dimana berbagai golongan manusia yang berbeda
tingkat intelektualitasnya.
Kemukjizatan pula ditemukan pada sifatnya yang
memuaskan akal dan menyenangkan perasaan. Dll.

Kemukjizatan ilmiyah
Kemukjizatan Al Qur'an secaara ilmiyah terletak pada
dorongamn kepada umat islam untuk berfikir disamping
membuka bagi mereka pintu-pintu pengetahuan dan
mengajak mereka untuk mamasukinya, maju di dalamnya
dan menerima segala ilmu pengetahuan ilmu yang baru,
manfap dan setabil.
Contoh –contoh kemukjizatan ilmiyah:
1. Oksigen sangat penting bagi pernafasan manusia, ia
berkurang pada lapisan udara yang tinggi, semakin
manusi berada di lapisan udara , maka ia aka merasa
sesak dada dan sulit bernafas. Al An'am : 125
2. Atom adalah bagian yang tidak dapat di bagi-bagi .
Yunus: 61
3. Berkenaan dengan embriologi. At thariq: 5-7. al alaq :
2. dan al hajj : 5.
4. Tentang kesatuan kosmos dan butuhnya kehidupan
akan air. Al Anbiya :30 dll

Kemukjizatan tasyri'
Sepanjang sejarah, sistem perundang –undangan dan
tasyri' bertujuan tercapainya kebahagiaan indifidu di dalam
masyarakat yang utama. Al Qur'an menjawab semua
persoalan ini :
Qur'an memulai dengan pendidikan individu dan
menegakan pendiikan individu diatas pensucian jiwa dan
rasa pemilkulan tanggung jawab.
Qur'an mensucikan jiwa dengan akidah tauhid yang
menyelamatkannya dari kekuasaan khurafar dan waham
serta membebaskan manusia dari belenggu nafsu dan
syahwat.
Alam adalah makhluk ciptaan Allah, ia akan kembali
kepadanNya dan akan hancur, sebagaimana ia ada
menurut kehendakNya.
Zakat mencabut dari dalam jiwa akar-akar kekikira,
pemujaan harta dan keserakahan akan dunia.
 Haji adalah perjalanan yang dapat menghibur jiwa dari
kesulitan dan membukakan hati terhadap rahasia-rahasia
Allah dalam makhluk-makhlukNya.
Kemudian islam berpindah ke pembagunan keluarga,
karena keluarga adalah benih masyarakat.
Kemudian datanglah sistem pemerintahan yang mengatur
masyarakat islam. Dan Islam telah menetapkan kaidah-
kaidah pemerintahan ini dalam bentuk yang palin ideal dan
baik.
Perumpamaan dalam Al Qur'an
Secara bahasa: Jamak dari ‫ مثل‬yang artinya serupa atau
sama.
Secara syar'I: Ibnu Qayim Al jauziyah mendefinisikan amsal
Qur'an dengan menyerupakan sesuatau dengan yang lain
dalam hukumnya. Dan mendekatkan sesuatu yang abstrak
( ma'qul) dengan indrawi ( kongkrit, mahsus) atau
mendekatkan salah satu dari dua mahsus dengan yang
lain dan menganggap salah satunya itu dengan sebagaian
yang lain.
Amsal di sebut juga dengan Qiyas At tamsily atau Dzarab.

DALIL-DALIL TENTANG AMTSAL


Allah swt berfirman:
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang
menyalakan api, maka setelah api itu menerangi
sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari)
mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak
dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah
mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti
(orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai
gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya
dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,
sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang
kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan
mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka
berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa
mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki,
niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan
mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala
sesuatu.( Al Baqarah : 17-20 )
( Ar Ra'd: 17)
(Al Hajj: 73)
(Yunus : 24)
Sabda Rasulullah saw:
Dikelurkan oleh Baihaqi dari Abi Hurairah ia berkata:
Rasululllah saw bersabda: "sesungguhnya Al Qur'an turun
atas lima bentuk, halal, haram, muhkam , mutsyabih dan
amtsal (permpamaan) maka amalkanlah yang halal, dan
jauhilah yang haram. Ikutilah yang muhkam dan berimanlah
terhadap yang mutasyabih serta ambilah pelajaran dari
Amtsal."

Perkataan salaf :
Al mawardi berkata: Ilmu Al Qur'an yang paling agung
asalah ilmu amtsalnya (perumpamaannya). Namun,
kebanyakan orang lalai darinya di sebabkan sibuk dengan
perumpamaan tersebut, dan lalaui dngan pembuat
perumpamaan tersebut. Maka perumpamaan tanpa
pembuatnya ibarat kuda tanpa perlana atau onta tanpa tali
kekang.

Amtsal di dalam Al Qur'an di bagi menjadi tiga :


• Amtsal Mussarrahah, ialah yang di dalmnya di jelaskan
dengan lafadz masal atau sesuatau yang menunjukan
tasybih. Seperti dalam surat Al Baqarah:17-20 dan Ar Ra'du
: 17 yang telah kami sebutkan diatas.
• Amtsal kaminah, yaitu yang di dalamnya tidak di
sebutkan dengan jelas lafadz permisalannya tetapi ia
menunjukan makna-makna yang indah, menarik, dalam
kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri
bila di peindahkan kepada yang serupa dengannya . seperti
:
• Amtsal mursalah, yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak
menggunakan lafadz tasybih secara jelas tapi klimat itu
berlaku sebagai misal.
Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat
mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.
Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.( Al Baqarah :
249)

FAIDAH –FAIDAH AMSAL


• Memojokan hal yang ma'qul ( yang hanya bisa di tinjau
dari segi akal, abstrak) dalam bentu kongkrit yang dapat
dirasakan oleh indra manusia, sehingga akal dengan
mudah menerimanya; sebab pengertian-pengertian abtrak
tidak mungkin tertanam dalam benak kecuali di tuangkan
dalam bentuk indrawi yang dekat dengan pemahaman.
Misalnya Allah membuat perumpamaan bagi keadaan
orang yang menafkahkan harta dengan riya' dimana ia
tidak akan mendapatkan pahala sedikitpun dari
perbuatannya itu.
• Menyingkapkan hakekat-hakekat dan mengemukakan
sesuatu yang tidak tampak sekan sesuatu yang tampak
• Mengumpulkan makna yang manarik lagi indah dalam
ungkapan yang padat , seperti amsal kaminah dan amsal
musalah dalam ayat-ayat diatas.
• Mendorong yang dii beri masal untuk berbuat sesuai
dengan isi matsal, jika ia merupakan sesuatu yang di
senangi jiwa. misalnya Allah menjadikan masal bagi
keadaan orang yang menafkahkan harta di jalan Allah,
dimana hal itu akan di berikan kepadanya kebaikan yang
banyak. Allah swt berfirman:
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa
dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada
tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran)
bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui ( Al Baqarah : 261)
• Menjauhi tanfir, jika masal berupa sesuatu yang di
benci jiwaa untuk memuji orang yang di matsal. Seperti
firman Allah tentang para sahabat.
• Untuk menggambarkan (dengan matsal itu) sesuatu
sifat yang dipandang buruk oleh banyak orang.
• Amsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam
memberikan nasehat, lebih kuat dalam memberikan
peringatan, dan lebih dapat memuaskan hati. Allah
berfirman:

MEMBUAT MATSAL DENGAN QUR'AN


Pada perkembangannya para sastrawan menggunakan
amsal si tempat-tempat yang kondisinya serupa atau sesuai
dengan isi amtsal tersebut. Maka para ulama mereka tidak
menyukai penggunaan ayat Al Qur'an sebagai masal .
mereka tidak memandang perlu bahwa orang harus
membacakan ayat amsal dalm kiabullah ketika ia
menghadapi suatu urusan duniawi. Hal ini demi menjaga
keagungan Al Qur'an dan kedudukannya dalm jiwa orang-
orang mukmin.

AQSAMUL QURAN

Definisi dan sighat Qasam:


Aqsam adalah bentuk jamak dari qasam yang bermakna Al
Hilf dam Al Yamin yang berati sumpah. Qasam di
definisikan sebagai "mengikat jiwa agar tidak melakukan
sesuatu, dengan suatu makna yang dipandang besar,
agung, baik secara hakiki maupun secara I'tiqadi, oleh
orang yang bersumpah itu. Dikatakan Yamin karena orang
arab ketika bersumpah menggunakan tangan kanan.

Faidah Qasam dalam Al Qur'an


1. Apabila mukhatab khaliyu zihni ( berhati kosong) maka
penyampaian dengan ta'kid. Penggunaan ini dinamakan
ibtida'i
2. Apabila mukhatab ragu-ragu terhadap kebenaran,
maka untuknya sebaiknya di perkuat dengan suatu
penguat guna menghilangkan keraguan.
3. Bila mukhatab ingkar. Maka harus di sertai penguat
sesuai dengan kadar keingkarannya.

Muqsam bih dalam Qur'an


• Allah bersumpah dengan dzat-Nya yang kudus dan
mempunyai sifat-sifat khusus, ataau dengan ayat-ayatNya
yang memantapkan eksiktensi dan sifat-sifatnya.
At taghabun: 7. saba' : 3 dan yunus : 53.
• Dan Ia juga bersumpah dengan sebagian makhluk-Nya
yang besar.
Maryam: 68 . Al Hijr : 92. An iNsa: 65 . Al Ma’arij: 40 . As
Syams : 1-7 . Al Fajr : 1- 4 . At Tin : 15 dan At Takwir : 15,
serta Al Lail : 1-3

Macam-macam Qasam
a). Dhahir, ialah sumpah yang di dalamnya disebutkan fiil
qasam dan muqsam bihi.
b). Mudmar, yaitu yang di dalmya tidak di jelaskan fiil
qasam dan tidak pula Muqsam bihi, tetapi ia ditunjukan oleh
Lam taukid.

Hal ihwal muqsam 'Alaih


1. Tujuan qasam adalah untuk mengukuhkan dan
mewujudkan muqsam alaihi (jawab qasam, pertanyaan
yang karena qasam di ucapkan ).
2. Jawab qasam pada umumnya disebutkan, namun
terkadang juga di hilangkan.
3. Fiil Madzi musbat mutasarif yang tidak didahului
mafulnya apabila ia menjadi qasam, harus disertai dengan
"lam dan qad".
4. Allah bersumpah atas (untuk menetapkan) pokok-
pokok keimanan yang wajib diketahui makhluq.
5. Qasam itu ada kalanya jumlah khabariyah, dan inilah
yang paling banyak. As dzariyat : 23.

Qasam dan syarat


Apabila qasam dan syarat berkumpul di dalam suatu
kalimat, sehingga yang satu masuk kedalam yang lain,
maka unsur kalimat yang menjadi jawab adalah bagian
yang terletak lebih dahulu dari keduanya. Baik qasam
maupun syarat, sedang jawab dari yang terletak kemudian
tidak di perlukan apabila qasam mendahului sayatat, maka
unsur yang menjadi adalah bagi qasam, dan jawab qasam
tidak diperlukan lagi.

Beberapa fiil yang berfungsi sebagai Qasam


Beberapa fiil dapat difungsikan sebagai qasam bila konteks
kalimatnya menunjukan makna qasam. Sebagaimam firman
Allah Ali Imran : 187, lam disini adalah lam qasam. Juga
pada surat al baqarah : 83,84 dan an nur 55.

Jadal Qur’an
Defenisi jadal:
Jadal adalah bertukar pikiran dengan cara bersaing dan
berlomba untuk mengalahkan lawan.

Metode berdebat yang ditempuh Al Qur'an


Al Qur'an menggunakan metode banyak menggunakan dalil
dan bukti kuat serta jelas yang dapat dimengerti kalangan
awam dan orang ahli. Ia mambatalkan setiap kerancauan
fulgar dan mematahkan dengan perlawanan dan
pertahanan dalam uslub yang kongkrit hasilnya, indah
susunanya dan tidak memerlukan pemerasan akal atau
banyak penelitian. Hal itu dikarenakan :
1. Qur'an datang dengan bahasa arab dan menyeru
mereka dengan bahasa yang mereka ketahui.
2. Bersandar pada fitrah jiwa.
3. Meninggalkan pembicaraan yang jelas, dan
menggunakan tutur kata yang jelimet dan pelik, merupakan
kerancauan teka-teki yang hanya dapat dimengerti oleh
kalangan ahli (khas ).
Al Qur'an tidak menggunakan metode ilmu kalam yang
rumit karana dua hal :
1. Mengingat firmanya, "Dan kami tidak mengutus
seorang rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya
(Ibrahim :4).
2. Orang yang cenderung menggunakan argumentasi
pelik dan rumit, sebenarnya ia tidak sanggup menegakan
hujah dengan kalam yang agung. Sebab orang yang bisa
memberikan persepsi yang lebihmudah dimengeri banyak
orang tidak akan mungkin menempuh cara yang rumit dan
hanya dapat di fahami oleh segelintir orang.

Macam-macam perdebatan dalam al Qur'an

1. Menyebutkan ayat-ayat kauniyah yang disertai perintah


melakukan perintah dan pemikiran untuk di jadikan dalil
bagi penetapan dasar-dasar aqidah. Al Baqarah :21-22 dan
183-164
2. Membantah pendapat para penentang dan lawan, serta
mematahkan argumentasi mereka.
3. Membungkam lawan bicara dengan mengajukan
pertanyaan tentang hal –hal yang telah diakui dan diterima
oleh akal, agar mengakui apa yang di ingkari. At thur : 35-
43
4. Mengambil dalil dengan mabda' ( asal mula kejadian)
untuk menetapkan ma'ad (hari kebangkitan). Qaf : 15. Al
Qiyamah: 36-40. dan At Thariq : 5-8.
5. Membatalkan pendapat lawan dengan membuktikan
(kebenaran) kebalikannya. Al An'am : 91
6. Menghimpun dan merinci, yakni menghimpu beberapa
sifat dan menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut bukanlah
illah atau alasan hukum. Al An'am : 143-144.
7. Menggabungkan lawan dan mematahkan hujahnya
dengan menjelaskan bahwa pendapat yang dikemukakan
itu menimbulkan suatu pendapat yang tidak diakui oleh
siapapun. Al An'am: 100-101.

Qashash Qur’an

Pengertian kisah
Qashash Al Qur'an adalah pemberintahuan Qur'an tentang
hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwah (kenabian ) yang
terdahulu dan peristiwa yang telah terjadi.

Macam-macam kisah dalam Al Qur'an


1. Kisah para nabi. Didalamya terkandung dakwah
mereka kepada kaumnya, mukjizat, tahapan dakwah dan
perkembangannya serta akibat orang yang menerima dan
yang menolaknya.
2. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-
peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan dan orang-orang
yang tidak dipastikan kenabiannya.
3. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-
peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah.

Faidah kisah-kisah Qur'an


a) Menjelaskan asas-asas dakwah menuju Allah dan
menjelaskan pokok-pokok syariat yang dibawa oleh para
nabi.
b) Meneguhkan hati rasul dan hati umat muhamad atas
agama Allah, memperkuat kepercayaan orang mu'min akan
kebenaran dan hancurnya kebatilan dan para pembelanya.
c) Membenarkan para nabi terdahulu dan mengabadikan
jejak dan peninggalannya.
d) Menampakan kebenaran muhammad dan dakwahnya
dengan apa yang telah dikabarkan tentang hal ikhwal
orang-orang terdahulu disepanjang generasi.
e) Menyibak kebohongan ahli kitab dengan hujah
membenarkan keterangan dan petunjuk yang mereka
sembunyikan. Dan menentang mereka dengan isi kitab
mereka sendiri sebelum diubah dan diganti.
f) Kisah merupakan salah satu bentuk sastra yang dapat
menarik perhatian para pendengar dan memantapkan
pesan-pesan yang terkandung di dalamnya kedalam jiwa.

Pengulangan kisah dan hikmahnya


a) Menjelaskan kebalghahan al Qur'an dalam tingkat
paling tinggi.
b) Menunjukan kehebatan mukjizat Qur'an.
c) Memberikan perhatian terhadap kisah-kisah tersebut
agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat kedalam
jiwa.
d) Perbedaan tujuan yang kerenanya kisah itu
diungkapkan. (penempatannya sesuai dengan tuntutan
keadaan).

Kisah-kisah dalam al Qur'an adalah kenyataan, bukan


khayalan
Fathir : 62 dan 31 al maidah : 48. al Qasas : 3 dll.

Pengaruh kisah-kisah Qur'an dalam pendidikan dan


pengajaran:
Metode kisah akan lebih digemari dan menembus relung
jiwa manusia dengan mudah daripada metode talaqi.
Dalam kisah-kisah Qur'an ini terdapat lahan subur yang
dapat membantu kesuksesan pendidik dalam
melaksanakan tugasnya dan membekali mereka dengan
bekal pendidikan berupa peri kehidupan para nabi, berita
tentang umat-umat terdahulu, sunatullah dalam kehidupan
masyarakat dalam hal ikhwal bangsa-bangsa.

TARJAMAH QURAN

Pengertian terjemah:
Terjemah mengandung dua arti :
1. Terjemah harfiyah,
2. Terjemah tafsiriyah atau terjemah maknawiyah.

Hukum terjemah harfiyah


Penerjemahan Al Qur'an dengan terjemah harfiyah,
betapapun penerjemah memahami betul bahasa, uslub-
uslub dan susunan kalimatnya haram hukumnya dan
dipandang telah mengeluarkan Al Qur'an dalam dari
keadaanya sebagai Qur'an

Hukum terjemah maknawiyah


Imam Syatibi menuturkan : "Menerjemahkan dengan
memperhatikan makna asli adalah mungkin, dari sinilah
dibenarkan di benarkan menafsirkan Al Qur'an dan
menjelaskan makna-maknanya kepada orang awam dan
mereka yang tidak memiliki pemahaman tentang
maknanya. Cara demikian diperbolehkan berdasarkan
konsensus ulama Islam. Dan konsensus ini menjadi hujah
bagi dibenarkannya penerjemahannya makna asli.

Terjemah tafsiriyah
Adalah penafsiran Al Qur'an dengan cara mendatangkan
makna yang dekat, mudah dan kuat. Hal ini dilakukan oleh
para ulama dengan penuh kejujuran dan kecermatan.
Usaha semacam ini tidak ada halangannya, karena Allah
mengutus Muhammad untuk menyampaikan risalah islam
kepada seluruh umat manusia dengan dengan segala
bangsa dan ras yang berbeda-beda.

Membaca al qur'an dalam shalat tidak dengan bahasa


arab.

a). Boleh secara mutlaq, atau disaat tidak sanggup


mengucapkan dengan bahasa arab.
Ini adalah pendapat Abu Hanifah. Abu yusuf dan Abu
Muhammad bin husain membatasi hal tersebut dalam
keadaan darurat. Namun, diriwayatkan Abu hanifah telah
mencabut kembali "kebolehan secara mutlak" yang dinukil
dari pendapat beliau tersebut.
b). Haram. Dan shalat dengan bacaan seperti ini tidak sah.
Ini adalah pendapat jumhur, ulama mazhab hanafi. Syafii
dan hambali. Karena Al Qur'an adalah susunan perkataan
dan mukjizat, yaitu kalamullah yang menurutNya sendiri
berbahasa arab. Dan dengan menterjemahkanya hilanglah
mukjizatnya dan ia bukanlah al Qur'an.
Urgensi kekuatan umat islam
Pada generasi pertama, kaum muslimin berani menempuh
segala kesulitan demi kejayaan islam. Semantara bahasa
arab berjalan di belakang mereka kemanapun mereka pergi
mengibarkan panji-panji mereka dan bertebaran di setiap
lembah yang di injaki kaki mereka.
Namun pada masa belakangan, dibutuhkan bahasa-bahasa
asing untuk dapat menyebarkan islam keseluruh keseluruh
santero dunia, hal ini merupakan tunturan logis dari
kebutuhan ilmu dan peradaban.
Maka pada perinsipnya Al Qur'an adalah bahasa islam
yang dapat menjamin kekuasaan spiritual atas berbagai
bangsa.

Tafsir dan ta'wil

Pengertian tafsir dan ta'wil


Tafsir secara bahasa bermakna menjelaskan, menyingkap
dan menampakan makna yang abstrak.
Secara istilah : Menurut Ibnu Hayyan, "Ilmu-ilmu yang
membahas tentang cara pengungkapan lafadz-lafadz Al
Qur'an, petunjuk-petunjuknya dan hukum-hukumnya baik
ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dan makna-
makna yang dimungkinkan baginya ketika tersusun serta
hal-hal yang melengkapinya."

Ta'wil secara bahasa: kembali ke asal


Secara istilah memiliki dua makna :
a. Suatu makna yang padanya mutakalim mengembalikan
perkataanya atau suatu makna yang kepadanya suatu
kalam di kembalikan.
b. Menafsirkan dan manjelaskan maknanya.
Perbedaan antara tafsir dan ta'wil
a. Bila kita berpendapat "ta'wil adalah menafsirkan
perkataan dan menjelasakan maknanya. "Maka ta'wil dan
tafsir adalah dua kata yang berdekatan dan satu sama
maknanya.
b. Bila kita berpendapat "ta'wil adalah esensi yang
dimaksud dari suatu perkataan. "Maka taa'wil dari thalab
adalah esensi dari perbuatan yang dituntut itu sendiri dan
ta'wil khabar adalah esensi dari suatu yang dimaksud.
c. Tafsir adalah apa yang jelas dalam kitabullah atau pasti
dalam sunah shahih karena maknanya yang gamblang dan
jelas. Dan takwil lebih banyak dipakai dalam menjelaskan
makna dan susunan kalimat.

Keutamaan tafsir
Tafsir merupakan ulmu syariat yang paling agung dan
tinggi kedudukannya. Ia merupakan ilmu yang paling mulia
obyek pembahasan dan tujuannya serta dibutuhkan.

Syarat-syarat dan adab mufasir


a. Aqidah yang benar.
b. Bersih dari hawa nafsu.
c. Lebih mendahuluka tafsir Qur'an dengan Qur'an dalam
mentafsirkan.
d. Mencari penafsiran dari sunnah.
e. Bila tidak di dapatkan dari sunnah maka dengan
pendapat para sahabat.
f. Menggunakan pendapat tabiin bila tidak mendapatkan
dari tiga sumber diatas.
g. Pengetahuan bahasa arab dan cabangnya.
h. Pengetahuan tentang pokok-pokok ilmu yang berkaitan
dengan Qur'an.
i. Pemahaman yang cermat.
Adab-adab mufaasir
a. Berniat baik dan bertujuan benar.
b. Berakhlaq baik.
c. Taat dan beramal.
d. Berlaku jujur dan teliti dalam penukilan.
e. Tawadu' dan lemah-lembut.
f. Berjiwa mulia.
g. Vokal (lugas ) dalam menyampaikan kebenaran.
h. Berpenampilan baik.
i. Bersikap tenang dan mantap.
j. Mendahulukan yang lebih utam darinya.
k. Mempersiapkan dan menempuh langkah-langkah
penafsiran secara baik.

Tajwid dan Adab membaca Al Qur'an

Anjuran untuk membaca Al Qur'an

Membaca Al Qur'an adalah salah satu sunnah dalam Islam


dan dianjurkan memperbanyaknya agar setiap Muslim
hidup kalbunya dan cemerlang akalnya karena mendapat
siraman cahaya Kitab Allah yang dibancanya. Tentang hal
ini Ibnu 'Umar telah meriwayatkan sebuah hadits Rasulllah :
"Tidak diperbolehkan iri (kepada seseorang) kecuali dalam
dua hal, yaitu orang yang dianugerahi Allah kekayaan harta
lalu digunakannya (di jalan yang diridhai Allah) di waktu
malam maupun siang. Dan orang yang diberi Allah Kitab
Suci lalu ia membacanya di waktu malam dan siang”. HR.
Bukhari dan Muslim.
Membaca Al Qur'an dengan niat ikhlas dan maksud baik
adalah suatu ibadah yang karenanya seorang Muslim
mendapatkan pahala. Ibnu Mas'ud meriwayatkan :
"Bahwa Rasulullah bersabda, "Barang siapa membaca satu
huruf dari Kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu
kebaikan dan setiap kebaikan itu akan dibalas dengan
sepuluh kali lipat." HR. At Tirmidzi.
Dalam sebuah hadits Abu Umamah, ditegaskan :
"Bacalah Al Qur'an ! Karena pada hari Kiamat ia akan
datang sebagai penolong bagi pembacanya." HR. Muslim.

Adab dalam membaca Al Qur'an

Dianjurkan bagi orang yang membaca Al Qur'an


memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Membaca Al Qur'an sesudah berwudhu karena ia
termasuk dzikir yang paling utama, meskipun boleh
membacanya bagi orang yang berhadats.
2. Membacanya di tempat yang bersih dan suci, untuk
menjaga keagungan membaca Al Qur'an.
3. Membacanya dengan khusyuk, tenang dan penuh
hormat.
4. Bersiwak (membersihkan mulut) sebelum mulai
membacanya.
5. Membaca ta'awwudz pada permulaannya, berdasarkan
firman Allah, "Apabila kamu membaca Al Qur'an hendaklah
meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang
terkutuk." QS. An Nahl : 98. Bahkan sebagian Ulama
mewajibkan membaca ta'awwudz ini.
6. Membaca basmalah pada permulaan setiap surat,
kecuali surat Al Bara'ah, sebab basmalah termasuk salah
satu ayat Al Qur'an menurut pendapat yang kuar.
7. Membacanya dengan tartil yaitu dengan bacaan yang
pelan-pelan dan tenang serta memberikan kepada setiap
huruf akan haknya seperti panjang dan idgham. Allah
berfirman, "Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-
lahan." (QS. Al Muzammil : 4.
8. Memikirkan ayat-ayat yang dibacanya. Cara
pembacaan seperti inilah yang sangat dikehendaki dan
dianjurkan, yaitu dengan mengkonsentrasikan hati untuk
memikirkan makna yang terkandung dalam ayat-ayat yang
dibacanya dan berinteraksi kepada setiap ayat dengan
segenap perasaan dan kesadarannya baik ayat itu
berisikan do'a, istighfar, rahmat maupun adzab.
9. Meresapi makna dan maksud ayat-ayat Al Qur'an,
yang berhubungan dengan janji maupun ancaman,
sehingga merasa sedih dan menangis ketika membaca
ayat-ayat yang berkenaan dengan ancaman karena takut
dan ngeri. Allah berfirman : "Dan mereka menyungkur atas
muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah
khusyuk." QS. Al Isra' : 109.
10. Membaguskan suara dengan membaca AL Qur'an,
karena al Qur'an adalah hiasan bagi suara dan suara yang
bagus lagi merdu akan lebih berpengaruh dan meresap
dalam jiwa. Dalam sebuah hadits dinyatakan : "Hiasilah Al
Qur'an dengan suaramu yang merdu." HR. Ibnu Hibban dan
lain-lain.
11. Mengeraskan bacaan Al Qur'an karena membacanya
dengan suara jahar lebih utama. Di samping itu, juga dapat
membangkitkan semangat dan gelora jiwa untuk lebih
banyak beraktivitas, memalingkan pendengaran kepada
bacaan Al Qur'an dan membawa manfaat bagi para
pendengar serta mengkonsentrasikan segenap perasaan
untuk lebih jauh memikirkan, memperhatikan dan
merenungkan ayat-ayat yang dibaca itu. Tetapi bila dengan
suara jahar itu dikhawatirkan timbul rasa riya', atau akan
menggangu orang lain, seperti mengganggu orang yang
shalat, maka membaca Al Qur'an dengan suara rendah
adalah lebih utama. Bersabda Rasulullah, "Allah tidak
mendengarkan sesuatu selain suara merdu Nabi yang
membacakan Al Qur'an dengan suara jahar." HR. Bukhari
dan Muslim.
12. Para Ulama berbeda pendapat tentang membaca Al
Qur'an dengan melihat langsung pada Mushaf dan
membacanya dengan hafalan. Manakah yang lebih utama?
Perkembangan tafsir

Tafsir pada masa Nabi saw dan Sahabat:


Para sahabat dalam menafsirkan Al-Qur'an pada masa ini
berpegang pada:
1. Al-Qur'an karim
2. Nabi saw beliaulah yang bertugas sebagai penjelas
tentang Al-Qur'an.
3. Pemahaman dan ijtihat.

Penafsiran pada masa tabiin


Pada masa ini berberpegang pada:
a. Al Qur'an
b. Keterangan sahabat yang bersumber dari nabi
c. Penafsiran sahabat yang berupa penafsiran mereka
sendiri
d. Keterangan tabiin dari ahli kitab yang bersumber dari
isi kitab mereka
e. Ijtihad dan pertimbangan nalar mereka
Syekh Muhammad Husain Adz-Dzahabi berkata: "Dalam
memahami kitabullah para tabi'in berpegang pada apa yang
ada dalam Al-Qur'an itu sendiri, keterangan yang mereka
riwayatkan dari para sahabat yang berasal dari Rasulullah
saw, penafsiran yang mereka terima dari parasahabat yang
berupa penafsirang mereka sendiri, keterangan yang
diterima dari para tabi'in dari ahli kitabyang bersumber dari
isi kitab mereka dan ijtihad seerta pertimbangan nalar
mereka terhadap kitabbullah sebagaimana yang telah di
anugrahkan Allah kepada mereka."
Tafsir pada masa perubahan
a. Penulisan tafsir belum dipisahka secara khusus dan
hanya memuat tafsir Qur'an, sunah dari sunah, ayat demi
ayat dari awal Qur'an sampai akhir.
b. Penulisan tafsir secara khusus dan idepanden serta
menjadaikanya terpisah dari hadist. Qur'an mereka
tafsirkan secara sistimatis sesuai tertibmushaf. Dan
terkadang disebutkan pentarjihnya, penyimpulan suatu
hukum dan penjelasan I'rab yang dibutuhkan.
c. Muncul sejumlah mufasir yang aktifitasnya tidak lebih
dari batas-batas tafsir bil ma'sur. Tetapi dengan meringkas
sanad dan menghimpun bebagai pendapat tanpa
menyebutkan pemiliknya.
d. Masing-masing mufasir memenuhi tafsirnya hanya
dengan ilmu yang paling mereka kuasai tanpa
memperhatikan ilmu-ilmu yang lain.
e. Penulisan tafsir dengan cara meringkasnya di suatu
saat dan memberikan komentar disaat yang lain. Keadaan
demikian terus berlanjut hingga lahirnya metode tafsir
modern yang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan
kontemporer disamping berupaya menyingkap asas-asas
kehidupa, prinsip-prinsip tasyri dan pengetahuan ilmiyah.

Tafsir tematik
Yaitu tafsir yang mengkaji masalah-masalah kehusus
berjalan beriringan dengannya. Seperti Tibyan Fi Aqsamil
Qur'an karya Ibnu Qayim dll.

Tabaqat mufasirin
1. Mufasir dari kalangan sahabat.
2. Mufasir dari kalangan tabiin.
3. Generasi berikutnya yang menghimpun pendapat para
sahabat dan tabiin.
4. Generasi berikutnya yang memuat dalam tafsir-tafsir
mereka riwayat yang disandarkan pada tiga generasi.
5. Generasi berikutnya yang menyusun kitab-kitab tafsir
dengan keterangan-keterangan berguna yang di nukil dari
para pendahulu nya.
6. Mufasir mutakhirin mereka meringkas sanad-sanad
riwayat dan mengutip pendapat secara khusus
7. Setiap mufasir memasukan begitu saja kedalam tafsir
pendapat yang diterima dan apa saja yang terlintas dalam
pikiran yang dipercayainya.
8. Banyak para mufasir yang mempunyai berbagai
keahlian dalam berbagai disiplin ilmu . mereka
memenuhinya dengan cabang ilmu tertentu dan hanya
membatasi pada ilmu yang dikuasainya.
9. Mufasir menempuh cara-cara modern dengan
memperhatikan uslub dan kehalusan ungkapan serta
dengan menitik beratkan kepada aspek-aspek sosial,
pemikiran kontemporer dan aliran-aliran modern, sehingga
lahirlah tafsir bercorak sosial sastra.

Tafsir Bil Ma’tsur Dan Bir Ro’yi

 Tafsir bil ma'tsur adalah tafsir yang berdasarkan pada


kutipan-kutipan yang shahih yaitu menafsirkan Al-Qur'an
dengan Al-Qur'an, Al-Qur'an dengan sunnah, al-Qur'an
dengan perkataan para sahabat, dan penafsiran Al-Qur'an
dengan perkataan para tabi'in.
Status tafsir bil ma'tsur adalah tafsir yang harus diikuti dan
dipedomani karena ia adalah jalan pengetahuan yang
benar dan merupakan jalan yang paling aman untuk
menjaga diri dari ketergelinciran dan kesesatan dalam
memahami kitabullah.

Tafsir bil Ra'yi adalah tafsir yang di dalamnya


menjelaskan maknanya mufasir hanya berpegang pada
pemahaman sendiri dan penyimpulan yang di dasarkan
pada ra'yu saja.
Status tafsir ini adalah haram dan tidak boleh dilakukan.
 Tafsir isyari adalah tafsir yang setiap ayat mempunyai
makna dhahir dan bathin. Tafsir yang dilakukan kelompok
sufi yang mendakwakan bahwa riyadhah (latihan) rohani
yang dilakukan seorang sufi bagi dirinya akan
menyampaikannya ke suatu tingkatan dimana dia dapat
menyingkapkan isyarat-isyarat kudus yang terletak di balik
ungkapan-ungkapan Al-Qur'an dan akan tercurah pula ke
dalam hatinya dari limpahan ghaib.

Ibnu Qayyim berkata: "Penafsiran yang gdilakukan orang-


orang berkisar pada tiga hal pokok:
1. Tafsir mengenai lafadz, yaitu yang diakukan para
mutaakhirin
2. Tafsir tentang makna, yaitu yang di kemukakan kaum
salaf
3. Tafsir tentang isyarah, yaitu yang ditempuh oleh ahli
sufi dan lain-lainnya. Tafsir terakhir ini tidak dilarang
asalkan memenuhi empat syarat:
a. Tidak bertentangan dengan dhahir ayat
b. Maknanya shahih
c. Pada lafadz yang ditafsirkan terdapat indikasi bagi
(makan isyari) tersebut
d. Antara makna isyari dengan makna ayat terdapat
hubungan yang eraat.
Apabila keempat syarat ini terpenuhi maka tafsir mengenai
isyarat itu merupakan istinbat yang baik.

Gharaibu Tafsir (tafsir yang janggal).

Para mufasir macam ini mereka tampil dengan membawa


kesesatan yang dipandang hina oleh akal. Berikut ini
sejumlah keanehan tersebut:
1. Pendapat tentang alif lam min. Alif (ialah Allah sangat
menyayangi) lam (Muhamad dicela ) dan lam di ingkari oleh
orang-orang yang menentang.
2. Pendapat tentang ha mim 'ain shad. Ha adalah
pertempuran antara Ali dan Muawiyah, mim kekuasaan
Marwan bin Umayah. “ain” kekuasan Abasiyah “Sin”
kekuasaan golongan sufyaniyah dan Qaf adalah
kepemimpinan Al Mahdi. Dll

Kitab-Kitab Tafsir Yang Terkenal

Kitab tafsir bil ma'tsur


a) Tafsir Ibnu Abbas
b) Tafsir Ibnu Uyainah
c) Tafsir Abu Syaih bin hibban
d) Tafsir Ibnu Atiyah
e) Tafsir Abu Lais As-Samarqandi (bahrul ulum)
f) Tafsir Abu Ishaq ((al-Kasfu wal bayan an tafsiril qur'an)
g) Tafsir Ibnu jarir at-Tahbari (jamiul bayan fie tafsiril
qur'an)
h) Tafsir Ibnu Abi Syaibah
i) Tafsir Al-Baaghawi (ma'alimul tanzil)
j) Tafsir Abil fida' Al-Hafidz Ibnu katsir (tafsir qur'an adzim)
k) Tafsir As-Sya'labi (al-Jawahirul hisan fi tafsiril qur'an)
l) Tafsir Jalaluddin asy-Syuyuti ( ad-Durrul mansur fi
tafsiril bil mantsur)
m) Tafsir Asy-Syaukani (fathul qadir)

Kitab tafsir bil ra'yi

a) Tafsir Abdurrahman bin Kisan Al-aslam.


b) Tafsir Abu Ali Al-Juba'i.
c) Tafsir Abdul Jabbar.
d) Tafsir Az-Zamakhsyari.
e) Tafsir Fakhruddin Ar-Razi (mafatihul ghaib).
f) Tafsir Ibnu Furaq.
g) Tafsir An-nasafi (madarikut tanzil wa haqa'iqut ta'wil).
h) Tafsir Al-Khazin (lubabut ta;wil fi ma'ani tanzil).
i) Tafsir Abu Hayyan (al-Bahrul muhid).
j) Tafsir Al-Baidhawi (anwarul tanzil wa asrarut takwil).
k) Tafsir Al-Qurtubi (al-jami li ahkamil qur'an).
l) Tafsir Abus su'ud (irsyadul aqlis salim ila mazayal kitabil
karim).
m) Tafsir Al-Alusi (ruhul ma'ani fi tafsiril qur'anil adzim
was sab'ii matsni).

Kitab-kitab yang terkenal di abad modern:

1. Al Jawahir fi tafsiril Qur'an, oleh syaikh At Thantawi


Jauhari.
2. Tafsir Al Manar, oleh Sayid Muhamad Rasid Ridha.
3. Fi zilalil Qur'an.
4. Tafsir al bayani lil Qur'anil karim, oleh a'isyah
Abdurrahman binti Asy syati'.

Tafsri Fuqaha

1. Ahkamul qur'an oleh al jasas


2. Ahkamul qur'an oleh al kaya al haris (manuskrip)
3. Ahkamul qur'an oleh ibnu a'rabi
4. Al jamil li ahkamil qur'an
5. Al iklil fi istinbati tanzil oleh al qurtubi
6. At tafsiraratul ahmadiyah fi bayanil ayatisi syariyah oleh
maula geon
7. Tafsiru ayatil ahkam oleh syaikh mana al aqathan
8. Adwul bayan, oleh syaikh muhammad asy syanqiti