You are on page 1of 22

RUANG LINGKUP EKONOMI KOPERASI

OLEH
KELOMPOK II

SURYANI AFRIANI MJ. 14.01.061


ANWAR MJ. 15.01.008
ERNAWATI MJ. 15.01.015
SAHWAN MJ. 16.01.071

PROGRAM STUDI MANAJEMEN EKONOMI


STIE YAPIS DOMPU
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan berkah, Rahmat, karunia serta hidayah-Nyalah saya dapat menyalesaikan Makalah
Koperasi ini.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang ‘Koperasi’ yang kami
sajikan berdasarkan dari berbagai sumber. Dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan
dari Tuhan yang pada akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Penyusun menyadari makalah ini mempunyai banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya mohon
kritik dan saran yang membangun agar saya dapat menyusunnya kembali lebih baik dari
sebelumnya.

Dompu, 6 Juni 2018


DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar..........................................................................................................................i
Daftar Isi...................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang..........................................................................................................4
1.2 Rumusan masalah…………………...……………………………………………..6
1.3 Tujuan Penulisan..………………………………...………………………….........7
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Ciri-Ciri dan Unsur-Unsur Koperasi.......................................................................8
2.2. Fungsi dan Peranan Koperasi..................................................................................8
2.3. Prinsip-Prinsip Koperasi.........................................................................................10
2.4. Asas dan Tujuan Koperasi......................................................................................11
2.7. Jenis- Jenis Koperasi……………………………………………………………..11
2.8. Kelebihan dan Kelemahan Koperasi……………………………………………..15
2.9. Modal Koperasi…………………………………………………………………..16
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan............................................................................................................ 19
3.2. Saran...................................................................................................................... 19

Daftar Pustaka.......................................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Memasuki millennium ketiga, pada saat persaingan dunia usaha semakin
mengglobal dan sarat dengan persaingan yang maha hebat, maka mau tidak mau,
setiap para pelaku ekonomi tak terkecuali koperasi, bila ingin terus bertumbuh,
harus memiliki daya saing yang berkelanjutan (sustainable competitivie
advantage). Pada kasus koperasi di Indonesia, terdapat banyak pihak yang
memprihatinkan kemampuan badan usaha ini dalam memenuhi tuntutan arus
globalisasi tersebut. Apabila koperasi tidak segera dan terus-menerus melakukan
reposisi dirinya sebagai salah satu pelaku ekonomi yang mendapat dukungan
konstitusi, maka tidak mustahil koperasi akan terus tertinggal dan lambat laun
akan terabaikan.
Kekhawatiran tersebut tentunya didasari oleh suatu analisis kondisi nyata
koperasi yang ada di lapangan dan nilai-nilai dasar koperasi yang melekat pada
diri koperasi itu sendiri. Nilai-nilai dasar seperti kekeluargaan, kesetiakawanan
(solidaritas) keadilan, gotong-royong, demokrasi, dan kebersamaan dipandang
kurang dapat lagi dijadikan sebagai factor kekuatan (strengths) bagi koperasi
dalam memasuki pasar global. Nilai-nilai dasar koperasi tersebut dianggap kurang
dapat merespons dan mengadopsi setiapt perubahan lingkungan strategis yang
terjadi dengan cepat. Di sisi permintaan pasar tanpa mengorbankan efisiensi dan
efektivitas usaha, serta melakukan aksi perbaikan sesuai dengan perubahan
lingkungannya.
Dalam hal ini perlu adanya pengevaluasian kinerja koperasi yang didasari
dengan asas koperasi pada unmumnya. Pada dasarnya untuk mengetahui
perkembangan kinerja koperasi adalah dengan mengetahui variable-variabel
koperasi yang akan kita bahas dalam bab selanjutnya.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Penyusunan makala ini didasarkan pada 6 konsep bahasan yang akan di bahas
pada pokok bahasan selanjutnya :

4
1. Definisi kinerja koperasi
2. Bagaimana kinerja koperasi di indonesia
3. Apa variabel-variabel yang ada dalam ruang lingkup kinerja koperasi

1.3 TUJUAN MASALAH


1. Mengetahui kinerja koperasi pada umumnya
2. Mengetahui variable-varibale yang ada dalam ruang lingkup kinerja koperasi

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kinerja Koperasi
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-
perorangan atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan asas kekeluargaan. Tujuan Koperasi sebagaimana tercantum dalam
Undang-Undang Koperasi Nomor 25 tahun 1992 adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut
membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan
masyarakat yang maju, adil, dan makmur. Koperasi juga diharapkan dapat
berperan serta dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan
masyarakat, memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan
ketahanan perekonomian nasional, serta berusaha untuk mewujudkan dan
mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama atas
asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
Kinerja diartikan sebagai hasil dari usaha seseorang yang dicapai dengan
adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Berdasarkan S.K
Menteri Keuangan RI No.740/KMK.00/1989, kinerja adalah prestasi yang dicapai
dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan.
Kinerja menjadi ukuran prestasi yang disesuaikan dengan tingkat
kemampuan yang dapat dilakukan. Oleh karena itu, istilah kinerja perusahaan
kerap kali disamakan dengan kondisi keuangan perusahaan yang dengan
pengukuranpengukuran keuangan mampu memberikan hasil yang memuaskan
setidak-tidaknya bagi pemilik saham perusahaan itu maupun bagi karyawannya.
(Munawir, 2002:73).

2.2 Pengukuran dan Penilaian Kinerja


Pengukuran kinerja adalah penentuan secara periodik efektifitas
operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan
sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya (Mulyadi,

6
2001:416). Penilaian kinerja menurut Yuwono (2002), adalah tindakan penilaian
yang dilakukan terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada dalam
organisasi. Sedangkan Zamkhani (1990) mendefinisikan penilaian kinerja sebagai
berikut, penilaian kinerja merupakan salah satu komponen dasar dari manajemen
kinerja. Ukuran kinerja didesain untuk menilai seberapa baik aktivitas dan dapat
mengidentifikasi apakah telah dilakukan perbaikan yang berkesinambungan
(Hansen & Mowen, 1995: 375).
A. Tujuan dari penilaian kinerja
Tujuan pokok dari penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan
dalam usaha untuk mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku
yang telah ditetapkan agar membuahkan tindakan dan hasil seperti yang
diinginkan (Mulyadi, 2001:416). Standar perilaku tersebut bisa berupa kebijakan
manajemen ataupun rencana formal yang nantinya dituangkan dalam anggaran
yang ditetapkan oleh perusahaan. Penilaian kinerja tersebut dilakukan untuk
menilai perilaku yang tidak semestinya dilakukan dan untuk merangsang
timbulnya perilaku yang semestinya dilakukan. Rangsangan timbulnya perilaku
yang semestinya dapat dilakukan dengan memberikan reward atas hasil kinerja
yang baik. Penilaian kinerja dapat dilaksanakan oleh pihak manajemen
perusahaan sendiri (intern) atau pihak luar (ekstern). Sistem pengukuran kinerja
mempunyai peranan penting dalam fungsi-fungsi manajemen organisasi seperti
pengendalian mamajemen, manajemen aktivitas, dan sistem motivasi (Atkinson
Antony A, 1995:235). Sistem pengukuran kinerja berperan pula dalam usaha-usaha
pencapaian keselarasan tujuan (goal congruence) dalam konteks wewenang dan
tanggung jawab. Pengembangan lebih lanjut dalam manajemen berbasis aktivitas,
pengukuran kinerja dirancang untuk mengurangi kegiatan yang tidak mempunyai
nilai tambah dan mengoptimalkan kegiatan yang mempunyai nilai tambah.
Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang penting untuk menilai
keberhasilan perusahaan, penilaian kinerja juga sebagai dasar untuk menentukan
sistem imbalan dalam perusahaan, misalnya penentuan tingkat gaji karyawan
maupun reward yang layak. Seorang manajer juga bisa menggunakan penilaian

7
kinerja perusahaan sebagai evaluasi kerja dari periode yang lalu (Hansen &
Mowen, 1995:386-387).
B. Proses Pengukuran kinerja
Proses pengukuran kinerja dilaksanakan dalam dua tahap utama, yaitu
tahap
persiapan dan tahap penilaian (Mulyadi, 2001: 418),
1. Tahap persiapan terdiri dari tiga tahap rinci, yaitu :
a. Tanggung jawab yang jelas
Penentuan daerah pertanggungjawaban dan manajer yang bertanggung
jawab,Perbaikan kinerja harus diawali dengan penetapan garis batas tanggung
jawab yang jelas bagi manajer yang akan dinilai kinerjanya. Batas tanggung jawab
yang jelas ini dipakai sebagai dasar untuk menetapkan sasaran atau standar yang
harus dicapai oleh manajer yang akan diukur kinerjanya. Tiga hal yang berkaitan
dengan daerah pertanggungjawaban dan manajer yang bertanggung jawab, yaitu
kriteria penetapan tanggung jawab, tipe pusat pertanggungjawaban, karakteristik
pusat pertanggungjawaban.
b. Penetapan kriteria yang dipakai untuk mengukur kinerja
Penetapan kriteria kinerja manajer perlu dipertimbangkan beberapa faktor antara
lain :
1. Dapat diukur atau tidaknya kriteria,
2. Rentang waktu sumber daya dan biaya,
3. Bobot yang diperhitungkan atas kriteria,
4. Tipe kriteria yang digunakan dan aspek yang ditimbulkan.
c. Melakukan kinerja bagian atas aktivitas sesungguhnya
Pengukuran kinerja sesungguhnya Langkah berikutnya dalam pengukuran kinerja
adalah melakukan kinerja bagian atas aktivitas sesungguhnya, yang menjadi
daerah wewenang manajer tersebut. Pengukuran kinerja tampak obyektif dan
merupakan kegiatan yang rutin, namun seringkali memicu timbulnya perilaku
yang tidak semestinya ataupun menyimpang yaitu perataan (smoothing),
pencondongan (biasing), permainan (gaming), penonjolan dan pelanggaran aturan
(focusing and illegal act).

8
2. Tahap Penilaian terdiri dari tiga tahap rinci (Mulyadi,2001:424)
a. Pembandingan kinerja sesungguhnya dengan sasaran
Pembandingan kinerja sesungguhnya dengan sasaran yang telah ditetapkan
sebelumnya, penilaian kinerja tersebut dijelaskan, hasil pengukuran kinerja secara
periodik kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan
sebelumnya.
b. Identifikasi penyebab timbulnya penyimpangan kinerja
Penentuan penyebab timbulnya penyimpangan kinerja sesungguhnya dari yang
ditetapkan dalam standar, Penyimpangan kinerja sesungguhnya dari sasaran yang
telah ditetapkan perlu dianalisis untuk menentukan penyebab terjadinya
penyimpangan, sehingga dapat direncanakan tindakan untuk mengatasinya.
c. Proses Controling kinerja
Penegakan perilaku yang diinginkan dan tindakan yang digunakan untuk
mencegah perilaku yang tidak dinginkan Tahap terakhir dalam pengukuran kinerja
adalah tindakan koreksi untuk menegakkan perilaku yang dinginkan dan
mencegah terulangnya tindakan/perilaku yang tidak diinginkan. Penilaian kinerja
ditujukan untuk menegakkan perilaku tertentu dalam pencapaian sasaran yang
telah ditetapkan.

Sayangnya, cita-cita yang mulia tersebut belum termanifestasi dalam


tataran praktis. Beberapa penyimpangan, disadari atau tidak disadari, justru sering
dilakukan oleh para pengurus dan pengelola yang semestinya membangun dan
mengembangkan koperasi. Berbagai kebijakan dan prosedur formal didesaian
dengan sangat birokratik sehingga justru mengurangi kinerja. Sebagai akibatnya,
masyarakat yang menjadi anggota koperasi menjadi apatis dan menilai keberadaan
koperasi tidak menolong kesulitan mereka.
Pengurus diberi amanah (trusteeship) oleh para anggota untuk mengelola
koperasi sehingga tercapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Mereka
bertanggung jawab melakukan tindakan dan upaya bagi kepentingan dan
kemanfaatan koperasi sesuai dengan keputusan Rapat Anggota. Dengan begitu,
pengurus koperasi dituntut mempunyai kemampuan dan keterampilan manajerial

9
yang memadai. Selain itu, mereka juga harus mempunyai sense of public
service, yaitu kesadaran untuk memberikan layanan masyarakat yang dilandasi
oleh rasa pengabdian yang mendalam. Sebagai salah satu perangkat koperasi,
pengurus ibarat nahkoda kapal yang harus piawai dalam menghadapai badai
sehingga membuat para penumpang merasa aman sampai di tempat tujuan.
Namun demikian, harapan tersebut nampaknya saat ini masih belum terwujud.
Hal ini paling tidak bisa dilihat dari menurunnya rata-rata tingkat kinerja koperasi
yang ada di Indonesia. Volume usaha koperasi pada tahun 1998 dengan jumlah
koperasi sebanyak 52.458 unit mencapai Rp.19.543 milyar, selanjutnya pada
tahun 2000 dengan jumlah koperasi lebih dari 100.000 unit, volume usaha
koperasi justru menurun menjadi Rp.14.643 milyar. Memang penurunan volume
usaha ini bukan semata-mata disebabkan oleh pengurus koperasi dan tidak semua
pengurus koperasi mempunyai kinerja yang rendah. Namun, setidaknya hal ini
menjadi pemicu untuk mengkaji ulang dan media pembelajaran dalam rangka
perbaikan kinerja masa datang.

2.3 Pengevaluasian kinerja


Evaluasi kinerja dapat digunakan untuk menekan perilaku yang tidak semestinya
dan untuk merangsang serta menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan,
melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta pemberian penghargaan,
baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.

Dengan adanya evaluasi kinerja, manajer puncak dapat memperoleh dasar yang
obyektif untuk memberikan kompensasi sesuai dengan prestasi yang
disumbangkan masing-masing pusat pertanggungjawaban kepada perusahaan
secara keseluruhan. Semua ini diharapkan dapat membentuk motivasi dan
rangsangan pada masing-masing bagian untuk bekerja lebih efektif dan efisien.
Menurut Mulyadi penilaian/evalusi kinerja dapat dimanfaatkan oleh manajemen
untuk:
- Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian
karyawan secara maksimum.

10
- Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawannya
seperti promosi, pemberhentian, mutasi.
- Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk
menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.
- Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengeai bagaimana atasan mereka
menilai kinerja mereka.
- Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.
Penilaian melalui pendekatan kualitatif dilakukan dengan menilai aspek
permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas, likuiditas,
sedangkan kuantitatif dilakukan dengan melakukan analisa dan pengujian atas
komponen yang tidak dapat dikuantifikasikan tetapi mempunyai pengaruh yang
material terhadap tingkat kesehatan KSP/USP.

Penilaian dilakukan dengan menggunakan sistem nilai kredit atau reward system
yang dinyatakan dalam angka dengan nilai kredit 0 sampai dengan 100 pada
setiap aspek yang dinilai

A. EVALUASI KINERJA MELALUI PEMBOBOTAN ASPEK DAN


KOMPONEN PENILAIAN
1. PERMODALAN

Untuk memperoleh rasio antara modal sendiri terhadap total asset ditetapkan sbb:

a. untuk rasio permodalan lebih kecil atau sama dengan 0 diberikan nilai kredit
0.
b. untuk setiap kenaikan rasio modal 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 5
dengan maksimum nilai 100.
c. nilai kredit dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor permodalan.

1.2. Untuk memperoleh rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan yang
berisiko, ditetapkan sebagai berikut :

a. untuk rasio permodalan lebih kecil atau sama dengan 0 diberikan nilai kredit 0.
b. untuk setiap kenaikan rasio 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 1 dengan
maksimum 100.

11
c. nilai kredit dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor permodalan.

2. KUALITAS AKTIVA TETAP

Penilaian terhadap kualitas aktiva produktif didasarkan pada 3 (tiga) rasio, yaitu
rasio antara volume pinjaman kepada anggota terhadap total volume pinjaman
diberikan rasio antara rasio pinjaman bermasalah dengan pinjaman yang diberikan
dan rasio antara cadangan risiko dengan piniaman bermasalah.

- Pinjaman Bermasalah, terdiri dari :

Pinjaman Kurang Lancar

Pinjaman digolongkan kurang lancar apabila memenuhi kriteria di bawah ini :

a) Pengembangan pinjaman dilakukan dengan angsuran yaitu :

1) terdapat tunggakan angsuran pokok sebagai berikut :

 tunggakan melampaui 1 (satu) bulan dan belum melampaui 2 (dua) bulan bagi
pinjaman dengan masa angsuran kurang dari 1 (satu) bulan; atau

 melampaui 3 (tiga) bulan dan belum melampaui 6 (enam) bulan bagi pinjaman
yang masa angsurannya ditetapkan bulanan, 2 (dua) bulan atau 3 bulan; atau

 melampaui 6 (enam) bulan tetapi belum melampaui 12 (dua belas) bulan bagi
pinjaman yang masa angsurannya ditetapkan 6 (enam) bulan atau Iebih; atau

2) terdapat tunggakan bunga sebagai berikut :

 tunggakan melampaui 1 (satu) bulan tetapi belum melampaui 3 (tiga) bulan bagi
pinjaman dengan masa angsuran kurang dari 1 (satu) bulan; atau

 melampaui 3 (tiga) bulan, tetapi belum melampaui 6 (enam) bulan bagi pinjaman
yang masa angsurannya Iebih dari 1 (satu) bulan.

b) Pengembalian pinjaman tanpa angsuran yaitu :

1) Pinjaman belum jatuh tempo

terdapat tunggakan bunga yang melampaui 3 (tiga) bulan tetapi belum melampaui
6 (enam) bulan.

12
2) Pinjaman telah jatuh tempo dan belum dibayar tetapi belum melampaui 3 (tiga)
bulan.

- Pinjaman Yang Diragukan

Pinjaman digolongkan diragukan apabila pinjaman yang bersangkutan tidak


memenuhi kriteria kurang lancar tetapi berdasarkan penilaian dapat disimpulkan
bahwa :

a. pinjaman masih dapat diselamatkan dan agunannya bernilai sekurang-kurangnya


75% dari hutang peminjam termasuk bunganya; atau

b. pinjaman tidak dapat diselamatkan tetapi agunannya masih bernilai sekurang-


kurangnya 100% dari hutang peminjam.

- Pinjaman Yang Macet

Pinjaman digolongkan macet apabila :

a. tidak memenuhi kriteria kurang lancar dan diragukan atau

b. memenuhi kriteria diragukan tetapi dalam jangka waktu 21 (dua puluh satu) bulan
sejak digolongkan diragukan belum ada pelunasan atau usaha penyelamatan
pinjaman;

c. pinjaman tersebut penyelesaiannya telah diserahkan kepada Pengadilan Negeri


atau telah diajukan penggantian ganti rugi kepada perusahaan asuransi kredit.

Untuk mengukur rasio antara volume pinjaman kepada anggota


terhadap total volume pinjaman diberikan ditetapkan sebagai berikut :

a. untuk rasio sama dengan atau lebih besar 60 % diberikan nilai kredit 100;

b. untuk rasio Iebih kecil 60 % diberikan nilai kredit 0;

c. nilai kredit dikalikan bobot 10 % diperoleh skor.

Untuk memperoleh rasio antara risiko pinjaman bermasalah terhadap pinjaman

yang diberikan, ditetapkan sebagai berikut :

a. menghitung perkiraan besarnya risiko pinjaman bermasalah yaitu sebesar jumlah


dari :

13
 50% dari pinjaman diberikan yang kurang lancar.

 75% dari pinjaman diberikan yang diragukan.

 100% dari pinjaman diberikan yang macet.

b. hasil penjumlahan tersebut dibagi dengan pinjaman yang diberikan.

c. Perhitungan penilaian

 untuk rasio 50% atau Iebih diberi nilai kredit 0.

 untuk penurunan rasio 1% nilai kredit ditambah 2 dengan maksimum nilai 100.

 nilai dikalikan dengan bobot 10% diperoleh skor.

Rasio cadangan risiko terhadap risiko pinjaman bermasalah

dihitung dengan cara penilaian, sebagai berikut :

a. untuk rasio 0% tidak mempunyai cadangan penghapusan diberi nilai 0.

b. untuk setiap kenaikan 1% mulai dari 0%, maka nilai kredit tersebut ditambah
sampai dengan maksimum 100.

c. nilai dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor .

3. PENILAIAN MANAJEMEN
Penilaian manajemen meliputi beberapa komponen yaitu Permodalan, Kualitas

Aktiva Produktif, Pengelolaan, Rentabilitas dan Likuiditas;

Perhitungan nilai kredit didasarkan kepada hasil penilaian atas jawaban


pertanyaan manajemen sebanyak 25 (dua puluh lima).

Selanjutnya dilakukan kuantifikasi dengan cara memberi nilai kredit sebesar 4


(empat) tempat setiap aspek yang dinilai positif nilai kredit dikalikan bobot
sebesar 25% diperoleh skor manajemen.

4. PENILAIAN RENTABILITAS

Penilaian kuantitatif terhadap rentabilitas didasarkan pada 3 (tiga) rasio SHU


sebelum pajak terhadap pendapatan operasional. SHU sebelum dikenakan pajak

14
terhadap total asset tersebut dan rasio beban operasional terhadap pendapatan
operasional.

Cara perhitungan rasio SHU sebelum dikenakan pajak terhadap


pendapatan operasional ditetapkan sebagai berikut :

a. untuk rasio 0% atau negatif diberi nilai kredit 0.

b. untuk setiap kenaikan rasio 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 20 dengan
maksimum nilai 100.

c. nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor.

Perhitungan nilai rasio SHU sebelum dikenakan pajak terhadap total asset
ditetapkan sebagai berikut :

a. untuk rasio 0 atau negatif diberi nilai kredit 0.

b. untuk setiap kenaikan rasio SHU 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 10 sampai
dengan maksimum 100.

c. nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor.

Perhitungan nilai kredit dari rasio beban operasional terhadap pendapatan


operasional dalam periode satu tahun buku, ditetapkan sebagai berikut :

a. untuk rasio 100 % atau lebih diberi nilai kredit 0.

b. untuk setiap penurunan rasio sebesar 1% mulai dari 100%


nilai kredit ditambah 10 sampai dengan maksimum 100.

c. nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor.

5. PENILAIAN LIKUIDITAS

Penilaian kuantitatif terhadap likuiditas didasarkan rasio antara pinjaman yang


diberikan terhadap dana yang diterima.

Dana yang diterima terdiri dari :

a. modal sendiri;

b. modal pinjaman;

c. modal penyertaan;

15
d. simpanan anggota (Tabungan Koperasi dan Simpanan Berjangka)

Cara perhitungan nilai kredit dari likuiditas dilakukan sebagai berikut :

a. untuk rasio 90 % atau lebih, diberi nilai kredit 0;

b. untuk rasio dibawah 90 % diberi nilai kredit 100;

c. nilai kredit dikalikan bobot sebesar 10 % diperoleh skor likuiditas.

B. PENETAPAN HASIL EVALUASI KINERJA PENILAIAN


KESEHATAN KOPERASI

Berdasarkan hasil perhitungan penilaian terhadap 5 komponen sebagaimana


dimaksud pada angka 1 s/d 5, diperoleh skor secara keseluruhan. Skor dimaksud
dipergunakan untuk menetapkan predikat tingkat kesehatan KSP/USP yang dibagi
dalam 4 (empat) golongan yaitu sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat.

C. FAKTOR LAIN YANG MEMPENGARUHI PENILAIAN

Meskipun kuantifikasi dari komponen-komponen penilaian tingkat kesehatan


menghasilkan skor tertentu, masih perlu dianalisa dan diuji lebih lanjut dengan
komponen lain yang tidak termasuk dalam komponen penilaian dan atau tidak
dapat dikuantifikasikan. Apabila dalam analisa dan pengujian lebih lanjut terdapat
inkonsistensi atau ada pengaruh secara materiil terhadap tingkat kesehatan KSP
dan USP maka hasil dari penilaian yang telah dikuantifikasikan tersebut perlu
dilakukan penyesuaian sehingga dapat mencerminkan tingkat kesehatan yang
sebenarnya.

Penyesuaian dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Koreksi Penilaian

Faktor-faktor yang dapat menurunkan satu tingkat kesehatan KSP dan USP antara
lain :

a. pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan intern maupun ekstern.

b. salah pembukuan tertunda pembukuan.

c. pemberian pinjaman yang tidak sesuai dengan prosedur.

16
d. tidak menyampaikan laporan tahunan atau laporan berkala 3 kali berturut-turut.

e. mempunyai volume pinjaman diatas Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah)


tetapi tidak diaudit oleh akuntan publik.

f. manajer USP belum diberikan wewenang penuh untuk mengelola usaha.

2. Kesalahan fatal

Faktor-faktor yang dapat menurunkan tingkat kesehatan KSP dan USP langsung
menjadi tidak sehat antara lain :

a. adanya persediaan intern yang diperkirakan akan menimbulkan kesulitan dalam


koperasi yang bersangkutan.

b. adanya campur tangan pihak diluar koperasi atau kerjasama yang tidak wajar
sehingga prinsip Koperasi tidak dilaksanakan dengan baik.

c. rekayasa pembukuan atau window dressing dalam pembukuan sehingga


mengakibatkan penilaian yang keliru terhadap koperasi.

d. melakukan kegiatan usaha koperasi tanpa membukukan dalam koperasinya.

2.4. Penyebab penurunan kinerja

Jika dicermati, ada beberapa kemungkinan penyebab penurunan kinerja


pengurus koperasi.. Pertama, masih kuatnya budaya nepostisme yang secara tidak
sadar diyakini sebagai wujud azas kekeluargaan. Nepotisme ini mengakibatkan
pengangkatan, pemilihan dan pemberian amanah kepada pengurus dan atau
pegawai kurang mempertimbangkan kompetensi sehingga kapabilitas mereka
rendah. Kedua, belum adanya performance measure (ukuran prestasi) para
pengurus koperasi secara jelas. Jika tidak dirumuskan ukuran dan standar prestasi
yang jelas, bagaimana bisa diketahui bahwa si pengurus berhasil dan gagal.
Ketiga, masih rendahnya profesionalisme dan spesialisasi tugas. Dengan alasan
efisiensi tenaga kerja, sering seorang pengurus koperasi harus merangkap
pekerjaan sehingga justru semua pekerjaan tidak ada yang diselesaikan secara
optimal. Keempat, lambannya proses adopsi dan adaptasi teknologi maju.

17
Ketertinggalan sebagian koperasi dalam menerapkan teknologi maju
menyebabkan kegiatan operasi tidak efisien, tidak produktif dan sistem informasi
kurang relevan.
Untuk memperbaiki kinerja pengurus koperasi dibutuhkan beberapa upaya
kongkrit.
1. Penegakan disiplin harus dilaksanakan secara maksimal. Hal ini salah satunya
ditandai dengan kejelasan akan sanksi dan punishment atas kesalahan yang
diperbuat oleh oknum pengurus koperasi. Hendaknya disadari bahwa pengurus
koperasi, baik secara bersama-sama, maupun sendiri-sendiri, berkewajiban
menanggung kerugian yang diderita koperasi, karena tindakan yang dilakukan
dengan kesengajaan dan kelalaiannya, dan apabila dilakukan dengan kesengajaan,
tidak menutup kemungkinan bagi Penuntut Umum untuk melakukan penuntutan.
Semua aktivitas pengurus yang telah diberi amanah mengelola koperasi (agent)
harus dipertanggungjawabkan di depan para anggota sebagai pihak pemberi
amanah (principal). Rapat Anggota Tahunan (RAT) harus dijadikan wahana
evaluasi hasil kinerja tahunan para pengurus koperasi sebagai wujud akuntabilitas.
Namun, gagasan tersebut mungkin terlalu ideal jika hubungan pengurus dengan
anggota bukan merupakan hubungan agent dengan principal. Meskipun Koperasi
berazas kekeluargaan, pertanggungjawaban para pengurus tidak bisa ditempuh
secara “kekeluargaan” dengan memberikan toleransi yang tinggi atas
penyimpangan yang dilakukan pengurus. Mekanisme reward and punishment
terhadap pengurus harus diperbaiki dengan berlandaskan pada anggaran dasar dan
kriteria kinerja yang jelas.
2. Birokrasi yang berbelit-belit seharusnya dipangkas. Prosedur dan tatacara
perizinan, pelaporan maupun pertanggungjawaban, baik secara teknis maupun
administratif yang terlalu panjang sering justru mematikan kreatifitas usaha
sehingga menurunkan kinerja. Bila kreativitas usaha dihambat oleh kepentingan
birokrasi, maka besar kemungkinan koperasi tersebut sulit untuk bisa
berkembang. Eksistensi sebuah koperasi juga membutuhkan dukungan dan
partisipasi aktif seluruh anggota. Jangan sampai mereka hanya namanya saja
yang tercantum sebagai anggota, tetapi tidak pernah berpartisipasi karena

18
rumitnya prosedur baku koperasi. Bureaucracy reengineering semestinya segera
dilakukan dalam rangka memicu peningkatan kinerja para pengurus dan atau
pegawai koperasi.
3. Menumbuhkan budaya berdasarkan Misi. Mengubah koperasi yang digerakkan
oleh peraturan dan birokrasi menjadi koperasi yang digerakkan oleh misi. Cita-
cita mulia dari pendirian sebuah koperasi yaitu membangun dan mengembangkan
potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya serta untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya, harus
diterjemahkan secara kongkrit dalam bentuk budaya organisasi. Budaya yang
terbentuk sering menyimpang dari misi sebuah koperasi karena sebagian pengurus
berusaha hanya meningkatkan kesejahteraan kelompoknya dan bukan
kesejahteraan anggota lainnya apalagi masyarakat. Pola pikir (mindset) pengurus
seperti ini berorientasi jangka pendek dan secara organisasi merugikan koperasi
itu sendiri.
4. koperasi berorientasi pada anggota dan masyarakat. Pertanggungjawaban
pengurus pada saat RAT mestinya bukan sekedar untuk memenuhi kepentingan
birokrasi tetapi penilaian terhadap seberapa berhasil para pengurus memenuhi
kebutuhan dan harapan anggota atau masyarakat selain anggota koperasi. Pada
umumnya pengurus koperasi salah dalam mengidentifikasikan variabel apa saja
yang harus dipertanggungjawabkan pada saat RAT. Orientasi pengurus adalah
bagaimana agar laporan pertanggungjawabannya dapat diterima oleh sebagian
besar anggota koperasi meskipun dalam jangka panjang kemungkinan bisa
mengurangi daya saing ekternal. Dalam kondisi seperti ini, pengurus akan
memenuhi semua kebutuhan dan keinginan birokrasi, sedangkan pada masyarakat
dan bisnis, mereka seringkali tidak care. Selayaknya, pengurus koperasi
mengidentifikasikan siapa pelanggan yang sesungguhnya. Dengan cara seperti ini,
tidak berarti pengurus tidak bertanggungjawab pada anggota, tetapi sebaliknya,
mereka menciptakan sistem pertanggungjawaban ganda (dual accountability):
kepada anggota dan kepada masyarakat atau pelanggan lain yang secara langsung
maupun tidak langsung membutuhkan jasa koperasi.

19
5. Berorientasi pada mekanisme pasar. Koperasi harus mengembangkan prinsip-
prinsip perusahaan dan pasar secara maksimal. Penerimaan pegawai harus
mengikuti seleksi ketat sesuai kemampuannya masing-masing sehingga bisa
direkrut karyawan yang benar-benar kompeten dan trampil secara professional.
Mekanisme administratif (sistem prosedur dan pemaksaan) yang umumnya masih
kental diterapkan pada lingkungan koperasi harus segera diganti dengan
mekanisme pasar (sistem insentif) yang cukup fleksibel mengikuti dinamika
pasar.
6. Penerapan teknologi maju. Computerized system terbukti mampu meningkatkan
kinerja operasional suatu usaha sehingga koperasi tidak bisa menghindar dari
kondisi dinamis seperti ini. Pelatihan dan pemberdayaan pengurus serta pegawai
harus dilakukan secara terus menerus agar mereka tidak gagap teknologi.
Kompetisi harus menjadi sarana untuk memicu inovasi para pengurus untuk eksis
dan selalu berkembang.

20
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

21
DAFTAR PUSTAKA
 Drs. Sitio Arifin,M.Sc.,Ir.Tamba Halomoan, M.B.A,2001.Koperasi Teori dan
Praktek.Jakarta : Erlangga
 Pristiyanto Blog EVALUASI KINERJA KOPERASI SIMPAN PINJAM
BERDASARKAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI.htm
 SISA HASIL USAHA (SHU) & PRINSIP-PRINSIP KOPERASI Ekonomi -
AndaiKata.com.htm

22