You are on page 1of 5

A. Dasar Teori.

Banyak sifat pada tanaman , binatang dan mikroba yang diatur oleh satu gen. gen-gen
dalam individu diploid berupa pasangan –pasangan allele dan masing-masing orang tua
mewariskan satu allele dari pasangan gen tadi kepada keturunannya. Pewarisan sifat yang
dapat dikena dari orang tua kepada keturunannya secara genetic disebut Hereditas.dengan
mempelajari cara pewarisan gen tunggal akan dimengerti mekanisme pewarisan gen dan
bagaimana suatu sifat tetap ada dalam suatu populasi.

(L.V.Crowder ;27)

Percobaan mendel dilakukan selama delapan tahun (1856-1863) dan diakui setelah 34
tahun. Mendel meletakkan dasar bagi pengembangan genetika modern yang diuraikan
dalam bukunya berjudul Experiment in plant Hibridization tahun 1865. Mendel
menggunakan kacang ercis atau kacang kapri (Pisum Sativum), dengan petimbangan
diantaranya :

1. Ercis adalah tanaman semusim

2. Ercis berbunga sempurna (mempunyai jantan dan betina dalam satu bunga) dan
mudah disilangkan

3. Dapat menyerbuk sendiri, penyerbukan sendiriyang terus- menerus akan menjadi galur
murni.

4. Sifat dapat diketahui. Misal bentuk biji bulat x kriput

5. Tanaman diploid

Hukum Mendel I adalah perkawinan dua tetua yang mempunyai satu sifat
bed(monohibrid). Setiap individu yang berkembang biak secara seksual terbentuk dari
peleburan dua gamet yang berasal dari induknya. Berdasar hipotesis mendel, setiap sifat
/karakter ditentukan oleh gen(sepasang alel). Huklum Mendel I berlaku pada waktu
gametogenesis F1. F1 itu memiliki genotipe heterozigot. Dalam peristiwa meiosis,gen sealel
akan terpisah,masing –masing membentuk gamet. Baik pada bunga jantan maupun pada
bunga betina tejadi dua macam gamet. Waktu terjadi penyerbukan sendiri (F1 x F1) dan
pada proses fertilisasi,gamet –gamet yang mengandung gen itu akan melebur secara acak
dan terdapat empat macam peleburan atau perkawinan.
Hukum mendel I yang dikenal sebagai hukum Pemisahan gen sealel berbunyi : “Semasa
pembentukan gametpasangan alel suatu gen terpisah dan tempat gamet berlainan”.

Ada beberapa istilah penting dalam hukum mendel I, yaitu :

1. Genotipe adalah susunan geneti suatu individu. Sifat hederiter yang tak tampak,hanya
dapat disimpulkan dengan huruf-huruf (kapital= Dominan, Huruf kecil = resesif)

2. Fenotipe adalah sifat/karakter makhluk hidup yang tampak. Seperti,warna


bunga,warna bunga ,dll

3. Alel adalahsalah satu bentuk dari dua bentuk alternative suatu gen. alel adalah bentuk
lain adri gen tertentu karena mutasi atau anggota sepasang gen.

4. Homozigot adalah genotipe yang tersusun dari gen-gen yang sama,


contoh;RR,rr,AA,aa, dll.

5. Heterozigot adalah genotipe yang tersusun dari gen=gen yang berbeda. Misal;Rr, Aa,
Bb, dll

6. Test Cross adalah Uji silang perkawinan antara keturunan F1 (heterozigot) dengan
induknya yang resesif. (Tt x tt)

7. Back Cross adalah Perkawinan antara hasil silangan F1(heterozigot) dengan induknya
yang dominan. (TT x Tt)

1.1 Dasar Teori

Genetika sebagai ilmu yang mempelajari segala hal yang mengenai keturunan dimulai sejak
purbakala, ketika para petani mengetahui bahwa hasil pertaniannya dan ternaknya dapat
ditingkatkan melalui persilangan. Meskipun pengetahuan mereka masih sangat primitif
namun mereka menyadari bahwa beberapa sifat yang baik pada tumbuhan dan hewan
dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka menjalankan berbagai
persilangan tanpa disadari pengetahuan karena belum di kenal adanya gen, apalagi hukum-
hukum keturunan. (Suryo, 1990).

Genetika yang sesungguhnya baru dimulai pada decade kedua dari abad ke-19 setelah
mendel menyajikan secara hati-hati hasil analisis beberapa percobaan persilangan yang
dibuatnya pada tamanan ercis/kapri (Pisum sativum). (Suryo, 1990).

Johann Mendel lahir tanggal 22 Juli 1822 di kota kecil Heinzendorf di Silesia, Austria.
(Sekarang kota itu bernama Hranice wilayah Republik Ceko.) Johann memunyai dua saudara
perempuan. Ayahnya adalah seorang petani. Minatnya dalam bidang hortikultura ternyata
dimulai sejak dia masih kecil. (Paskah,2010).

Hukum mendel I dikenal juga sebagai hukum segregasi. Selama proses meiosis berlangsung,
pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi. Setiap
set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses pemisahan gen secara bebas
itu dikenal sebagai segregasi gen. Dengan demikian setiap sel gamet hanya mengandung
satu gen dari alelnya. Pada waktu fertilisasi, sperma yang jumlahnya banyak bersatu secara
acak dengan ovum untuk membentuk individu baru. (Syamsuri, 2004).

Eksperimen Mendel dimulai saat dia berada di biara Brunn didorong oleh keingintahuannya
tentang suatu ciri tumbuhan diturunkan dari induk keturunannya. Jika misteri ini dapat
dipecahkan, petani dapat menanam hibrida dengan hasil yang lebih besar. Prosedur Mendel
merupakan langkah yang cemerlang dibanding prosedur yang dilakukan waktu itu. Mendel
sangat memperhitungkan aspek keturunan dan keturunan tersebut diteliti sebagai satu
kelompok, bukan sejumlah keturunan yang istimewa. Dia juga memisahkan berbagai macam
ciri dan meneliti satu jenis ciri saja pada waktu tertentu; tidak memusatkan perhatian pada
tumbuhan sebagai keseluruhan. Dalam eksperimennya, Mendel memilih tumbuhan biasa,
kacang polong, sedangkan para peneliti lain umumnya lebih suka meneliti tumbuhan langka.
Dia mengidentifikasi tujuh ciri berbeda yang kemudian dia teliti:

bentuk benih (bundar atau keriput),

warna benih (kuning atau hijau),

warna selaput luar (berwarna atau putih),

bentuk kulit biji yang matang (licin atau bertulang),

warna kulit biji yang belum matang (hijau atau kuning),

letak bunga (tersebar atau hanya di ujung), dan

panjang batang tumbuhan (tinggi atau pendek). (Paskah, 2010)

Mendel melakukan percobaan selama 12 tahun. Dia menyilangkan (mengawin silang)


sejenis buncis dengan memerhatikan satu sifat beda yang menyolok. Misalnya, buncis
berbiji bulat disilangkan dengan buncis berbiji keriput, buncis dengan biji warna kuning
disilangkan dengan biji warna hijau, buncis berbunga merah dengan bunga putih, dan
seterusnya. (Fandri, 2009).

Mendel juga mengemukakan bahwa pada saat pembentukan gamet (sel kelamin) terjadi
pemisahan bebas dari sifat/gen yang dikandung oleh induknya. Artinya setiap gamet akan
akan mendapatkan gen yang telah memisah secara acak. Misalnya induk Bb akan
menghasilkan gamet B dan b. prinsip tersebut dikenal sebagai prinsip segregasi bebas.
Sedangkan induk BbPp (biji bulat, batang panjang) akan menghasilkan gamet BP, Bp, bP, bp.
Prinsip ini disebut prinsip kombinasi secara bebas. (Syamsuri, 2004).

Individu yang mengandung notasi domonan-dominan atau dominan-resesif akan


menampakkan fenotipe dominan. Hanya individu yang mengandung notasi resesif-resesif
yang menampakkan fenotipe resesif. Jadi, genotype BB dan Bb menampakkan penotipe
bulat, sedangkan genotype bb akan menampakan fenotipe keriput.

Mendel menarik beberapa kesimpulan dari hasil penelitiannya. Dia menyatakan bahwa
setiap ciri dikendalikan oleh dua macam informasi, satu dari sel jantan (tepung sari) dan satu
dari sel betina (indung telur di dalam bunga). Kedua informasi ini (kelak disebut plasma
pembawa sifat keturunan atau gen) menentukan ciri-ciri yang akan muncul pada keturunan.

1.1 Dasar Teori


Hukum Mendel II dikenal disebut hokum pengelompokan gen secara bebas, dalam bahasa inggris
the law of independent Assortment of genes. Hokum ini menyatakan bahwa gen-gen dari sepasang
alel memisah secara bebas ketika berlangsung pembelahan reduksi ( meiosis ) pada waktu
pembentiukan gamet-gamet. Oleh karena itu pada contoh dihibrid itu terjadilah 4 macam
pengelompokan dari dua pasang gen yaitu:
1) Gen B mengelompok dengan gen K, terdapat dalam gamet BK
2) Gen B mengelompok dengan gen k, terdapat da;lam gamet Bk
3) Gen B mengelompok dengan gen k, terdapat da;lam gamet bK
4) Gen B mengelompok dengan gen k, terdapat da;lam gamet bk
Apabila dominasi nampak penuh, maka perkawinan dihibrid menghasilkan keturunan dengan
perbandingan fenotip 9:3:3:1. Juga telah diketahui bahwa hasil perkawinan dihibrid = hasil
perkawinan monohybrid 1 x hasil perkawinan monohybrid dua. Pada semidominansi ( artinya
dominansi tidak nampak penuh. Sehingga ada sipat intermedier ) maka hasil perkawinan
monohybrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan 1:2:1. Tentunya mudah dimengerti
bahwa pada semidominansi, perkawinan dihibrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan
1:2:1 x 1:2:1 = 1:2:1:2:4:2:1:2:1.
Pada persilangan mono-hibrid (satu sifat beda) akan diperoleh perbandingan fenotipe 3:1 pada
populasi F2, apabila satu karakter yang dimiliki tersebut bersifat dominan penuh. Selain melakukan
persilangan mono-hibrid, mendel juga melakukan persilangan dihibrid (persilangan dengan dua sifat
beda). Persilangan yang dilakukannya bertujuan untuk mempelajari hubungan antara pasangan-
pasangan alela dari karakter tersebut. Untuk itu tanaman kapri (Pistum sativum) memiliki biji bulat
warna kuning (BBKK) disilangkan dengan kapri berbiji keriput berwarna hijau (bbkk). Keturunan F1
dari persilangan antara dua induk/tetua yang homozigot tersebut menghasilkan hibrida (haterozigot)
bagi kedua pasangan gen tersebut. Keturunan F1-nya (BbKk) adalah dihibrida, dan persilagnan
antara BBKK x bbkk adalah persilangan dihibrid. Alela bagi biji bulat berwarna kuning bersifat
dominan penuh terhadap alela bagi biji keriput berwarna hijau. Perbandingan fenotipenya 9:3:3:1.
1.2 Tujuan Pratikum
Menentukan dan membuktikan perbandingan fenotipe menurut hukum mendel pada persilangan
dengan dua sifat beda (dihibrid)