You are on page 1of 2

BAB II

HUKUM MENDEL II
(Mendel's Law of Independent Assortment)

Dikenal juga sebagai Hukum Asortasi atau Hukum Berpasangan Secara Bebas.
Menurut hukum ini, setiap gen /sifat dapat berpasangan secara bebas dengan gen /sifat
lain. Meskipun demikian, gen untuk satu sifat tidak berpengaruh pada gen untuk sifat yang
lain yang bukan termasuk alelnya. Hukum Mendel II ini dapat dijelaskan melalui persilangan
dihibrida, yaitu persilangan dengan dua sifat beda, dengan dua alel berbeda.

A. PERSILANGAN DIHIBRID
Persilangan dihibrid adalah persilangan antara individu untuk 2 gen yang berbeda.
Eksperimen Mendel dengan bentuk biji dan warna ercis adalah sebuah contoh dari
persilangan dihibrid. Metode Punnett kuadrat menentukan rasio fenotipe dan genotipenya.
Metode ini pada dasarnya sama dengan persilangan monohibrid. Perbedaan utamanya ialah
masing-masing gamet sekarang memiliki 1 alel dengan 1 atau 2 gen yang berbeda.
Suatu genotipe dihibrida adalah heterozigot pada dua lokus. Dihibrida
membentuk empat gamet yang secara genetik berbeda dengan frekuensi yang kira-kira
sama karena orientasi acak dari pasangan kromosom nonhomolog pada piringan metafase
meiosis pertama. Uji silang (test cross) adalah perkawinan genotipe yang tidak diketahui
benar dengan genotipe yang homozigot resesif pada semua lokus yang sedang dibicarakan.
Fenotipe-fenotipe tipe keturunan yang dihasilkan oleh suatu uji silang mengungkapkan
jumlah macam gamet yang dibentuk oleh genotipe parental yang diuji. Bila semua gamet
individu diketahui, maka genotipe individu itu juga akan diketahui. Suatu uji silang dihibrida
menghasilkan ratio 1:1:1:1, menunjukkan bahwa ada dua pasang faktor yang berpisah dan
berpilih secara bebas.
Mendel memperoleh hasil yang tetap sama dan tidak berubah-ubah pada
pengulangan dengan cara penyilangan dengan kombinasi sifat yang berbeda. Pengamatan
ini menghasilkan formulasi hukum genetika Mendel kedua, yaitu hukum pilihan acak, yang
menyatakan bahwa gen-gen yang menentukan sifat-sifat yang berbeda dipindahkan secara
bebas satu dengan yang lain, dan sebab itu akan timbul lagi secara pilihan acak pada
keturunannya. Individu-individu demikian disebut dihibrida atau hibrida dengan 2 sifat
beda.
Dihibrida membentuk empat gamet yang secara genetik berbeda dengan
frekuensi yang kira-kira sama karena orientasi secara acak dari pasangan kromosom
nonhomolog pada piringan metafase meiosis pertama. Bila dua dihibrida disilangkan, akan
dihasilkan 4 macam gamet dalam frekuensi yang sama baik pada jantan maupun betina.
Rasio fenotipe klasik yang dihasilkan dari perkawinan genotipe dihibrida adalah 9:3:3:1.
Rasio ini diperoleh bila alel-alel pada kedua lokus memperlihatkan hubungan dominan dan
resesif.
Mendel melakukan persilangan ini dan memanen 315 ercis bulat-kuning, 101
ercis keriput-kuning, 108 bulat-hijau dan 32 ercis keriput-hijau. Ciri khas karya Mendel yang
cermat ialah bahwa ia lalu menanam semua ercis ini dan membuktikan adanya genotipe
terpisah di antara setiap ercis dengan kombinasi baru ciri-cirinya. Hanyalah 32 ercis keriput-
hijau yang merupakan genotipe tunggal. Hasil-hasil ini membuat Mendel mendirikan
hipotesisnya yang terakhir (hukum Mendel kedua): Distribusi satu pasang faktor tidak
bergantung pada distribusi pasangan yang lain. Hal ini dikenal sebagai hukum pemilihan
bebas.
Perhatikan analisis papan catur di bawah ini tentang persilangan buncis dengan
dua sifat beda (dihibrida). Buncis biji bulat warna kuning disilangkan dengan biji keriput
warna hijau. Keturunan pertama semuanya berbiji bulat warna kuning. Artinya, sifat bulat
dominan terhadap sifat keriput dan kuning dominan terhadap warna hijau. Persilangan
antar F1 mengasilkan keturunan kedua (F2) sebagai berikut: 315 tanaman bulat kuning, 101
tanaman keriput kuning, 108 tanaman bulat hijau dan 32 keriput hijau. Jika diperhatikan,
perbandingan antara tanaman bulat kuning : keriput kuning : bulat hijau : keriput hijau
adalah mendekati 9:3:3:1.