You are on page 1of 6

Refleksi Kasus

Radang Kelopak Mata: Hordeolum

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Mengikuti Kepanitraan Klinik Bagian Stase Mata

Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Diajukan Kepada Yth :

dr. Nur Shani Meida, Sp.M, M. Kes

Disusun Oleh :

Almas Nur Prawoto

20120310077

BAGIAN STASE MATA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2018
A. Identitas Pasien
Nama : Tn. S
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 68 tahun
Pekerjaan : Pensiun
Alamat : Godean, Yogyakarta
B. Anamnesis
Keluhan Utama
Mata kiri nyeri sejak 1 hari yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang laki-laki berusia 68 tahun datang ke poliklinik mata RS PKU
Muhammadiyah Gamping dengan keluhan mata kiri nyeri sejak 1 hari SMRS. Pasien
mengatakan bahwa nyeri mata kiri muncul saat bangun pagi disertai dengan benjolan
pada kelopak mata kiri. Pasien mengatakan bahwa nyeri semakin parah jika kelopak
mata bergerak atau ditekan. Keluhan pasien tidak disertai perubahan penglihatan.
Pasien menyatakan keluhan tidak disertai kepala pusing, perasaan silau, maupun
keluarnya sekret darimata. Pasien belum memberikan pengobatan apapun untuk sakit
yang dia alami saat ini. Pasien juga menggunakan kacamata untuk membaca.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat menggunakan kacamata (+), sebesar +3,00 yang hanya digunakan saat
pasien membaca
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan serupa
Riwayat Sosial
- Pasien sudah pensiun. Aktivitas pasien tidak membutuhkan kemampuan melihat
yang baik (jarak dekat maupun jarak jauh).
Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
KU : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Vital Sign :
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Nadi : 84 kali per menit
Respiratory Rate : 18 kali per menit
Temperatur : 36.7o C

STATUS OPTHALMOLOGIS

Pemeriksaan OD OS

Visus 6/30 6/18


Pemeriksaan Segemen Anterior :
Inspeksi OD OS

Gerakan bola mata Normal ke segala Normal ke segala arah


arah

Palpebra Superior Edema (-) Edema (+)


Nyeri Tekan (-) Nyeri Tekan (+)
Eritem (-) Eritem (+)
Tampak benjolan dengan ukuran
biji jagung pada tepi medial

Palpebra Inferior Hiperemis (-) Hiperemis (-)


Nyeri Tekan (-) Nyeri Tekan (-)

Konj. Palpebra Superior Hiperemis (-) Hiperemis (-)


Benjolan (-) Benjolan (-)

Konj. Palpebra Inferior Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Konjungtiva Bulbi Inj. Konjungtiva(-) Inj. Konjungtiva(-)

Kornea Jernih Jernih

COA Tidak dangkal Tidak dangkal

Pupil Pupil bulat (+) Pupil bulat (+)


Reflek direk (+) Reflek direk (+)
Reflek Indirect (+) Reflek Indirect (+)

Iris Sinekia (-) Sinekia (-)

Lensa Jernih Jernih

Diagnosis Kerja : Radang Kelopak Mata: OS Hordeolum


Diagnosis Banding : OS Blefaritis
Penatalaksanaan :
R/ Cendo Polydex No. I
S 6 dd 1 tetes OS
R/ Cendo Mycos 3.5 Gr No. I
S 3 dd u.e OS
Edukasi: Dapat dilakukan kompres dengan air hangat agar mengurangi rasa nyeri,
menjaga kebersihan pada kedua kelopak mata dan jangan memencet atau menekan benjolan.

PERTANYAAN
1. Bagaimana cara menegakkan diagnosis pada kasus hordeolum?
2. Bagaimana penatalaksanaan pada hordeolum?
PEMBAHASAN
Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpebra. Hordeolum adalah infeksi akut pada
kelenjar minyak di dalam kelopak mata yang disebabkan oleh bakteri dari kulit (biasanya
disebabkan oleh bakteri Stafilokokus). Hordeolum sama dengan jerawat pada kulit.
Hordeolum kadang timbul bersamaan dengan atau sesudah blefaritis. Hordeolum bisa timbul
secara berulang.
Dikenal dua bentuk hordeolum, yaitu hordeolum internum dan eksternum.
a. Hordeolum eksternum

Hordeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll


dengan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak. Pada hordeolum
eksternum, nanah dapat keluar dari pangkal rambut. Tonjolannya ke arah
kulit, ikut dengan pergerakkan kulit dan mengalami supurasi, memecah
sendiri ke arah kulit

Hordeolum Eksternum

b. Hordeolum internum

Hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang terletak di


dalam tarsus dengan penonjolan terutama ke daerah kulit konjungtiva tarsal.
Hordeolum internum biasanya berukuran lebih besar dibandingkan
hordeolum eksternum. Pada hordeolum internum, benjolan menonjol ke arah
konjungtiva dan tidak ikut bergerak dengan pergerakan kulit, serta jarang
mengalami supurasi dan tidak memecah sendiri
Hordeolum Internum
Diagnosa hordeolum ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis yang ditemukan pada
pasien.
Gejala: Hordeolum biasanya berawal sebagai kemerahan, nyeri bila ditekan dan nyeri pada
tepi kelopak mata. Mata mungkin berair, peka terhadap cahaya terang dan penderita merasa
ada sesuatu di matanya. Biasanya hanya sebagian kecil daerah kelopak yang membengkak,
meskipun kadang seluruh kelopak membengkak. Di tengah daerah yang membengkak
seringkali terlihat bintik kecil yang berwarna kekuningan. Bisa terbentuk abses (kantong
nanah) yang cenderung pecah dan melepaskan sejumlah nanah.
Tanda: Palpebra bengkak, merah sakit dan terdapat tonjolan pada palpebra. Sering disertai
blefaritis, konjungtivitis yang menahun, anemia, kemunduran keadaan umum, acne vulgaris.
Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak-anak dan dewasa muda.

Pada umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri (self-limited) dalam 1-2 minggu. Namun tak
jarang memerlukan pengobatan secara khusus, obat topikal (salep atau tetes mata antibiotik)
maupun kombinasi dengan obat antibiotika oral (diminum). Urutan penatalaksanaan
hordeolum adalah sebagai berikut :
- Mata dikompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit setiap kalinya untuk membantu
drainase. Tindakan dilakukan dengan mata tertutup.
- Kelopak mata dibersihkan dengan air bersih atau pun dengan sabun atau shampoo yang
tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat mempercepat proses
penyembuhan. Tindakan dilakukan dengan mata tertutup.
- Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan infeksi yang
lebih serius.
- Hindari pemakaian makeup pada mata, karena kemungkinan hal itu menjadi penyebab
infeksi.
- Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke kornea.
- Pemberian terapi topikal dengan Oxytetrasiklin salep mata atau kloramfenikl salep
mata setiap 8 jam. Apabila menggunakan kloramfenikol tetes mata sebanyak 1 tetes
tiap 2 jam.
- Pemberian terapi oral sistemik denegan eritromisin 500 mg pada dewasa dan anak
sesuai dengan berat badan atau dikloksasilin 4 kali sehari selama 3 hari.
Adapun dosis antibiotika pada anak ditentukan berdasarkan berat badan sesuai dengan
masing-masing jenis antibiotika dan berat ringannya hordeolum. Obat-obat simptomatis
(mengurangi keluhan) dapat diberikan untuk meredakan keluhan nyeri, misalnya :
Asetaminofen, Asam mefenamat, Ibuprofen, dan sejenisnya.
Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi atopikal dengan pentokain tetes
mata. Dilakukan anestesi infiltrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum dan
dilakukan insisi:
- Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus pada margo
palpebra.
- Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra. Setelah dilakukan
insisi, lakukan ekskoleasi atau kuretase seluruh isi jaringan meradang di dalam
kantongnya dan kemudian diberi salep antibiotik

Daftar Pustaka

Gondhowoiardjo, T.D. Simanjuntak, G. Panduan Manajemen Klinis Perdami, 1st Ed. Jakarta:
CV Ondo. 2006

Lindsley, K. Nichols, JJ. Non surgical interventions for acute internal hordeolum. Cochrane
Database Syst Rev. 2018.

Riordan, Paul E Whitcher, John P. Vaughan & Ashbury Oftalmologi Umum. Edisi 17 Jakarta
EGC. 2009

Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. 2013.