You are on page 1of 25

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK D DENGAN HIPERTERMI PADA KLIEN


KEJANG DEMAM KOMPLEK
DI RUANG DAHLIA RSUD.KRT. SETJONEGORO WONOSOBO

TEGUH TRI SANTOSO

A21601486

PROGRAM PROFESI STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG

TAHUN 2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus Praktik Profesi Ners Dengan Judul “Asuhan Keperawatan Pada Anak D
Dengan Hipertermi Pada Klien Kejang Demam Komplek
Di Ruang Dahlia Rsud.Krt. Setjonegoro Wonosobo
Rsud.Krt. Setjonegoro Wonosobo”

Telah disahkan pada


Hari :
Tanggal :

Mengetahui

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

( Ika Purnamasari, M.kep) ( Mahmudah, S.Kep, Ners )

Ka Prodi S1 Keperawatan

( Isma Yuniar, M.Kep )

2
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh yang berhubungan dengan
ketidakmampuan tubuh untuk menghilangkan panas ataupun mengurangi produksi
panas. Hipertermi terjadi karena adanya ketidakmampuan mekanisme kehilangan
panas untuk mengimbangi produksi panas yang berlebihan sehingga terjadi
peningkatan suhu tubuh. Hipertermi tidak berbahaya jika dibawah 39°C. Selain
adanya tanda klinis, penentuan hipertermi juga didasarkan pada pembacaan suhu pada
waktu yang berbeda dalam satu hari dan dibandingkan dengan nilai normal individu
tersebut (Potter & Perry,2010).
Menurut Wilkinson (2006) hipertemia merupakan keadaan suhu tubuh
seseorang yang meningkat diatas rentang normalnya. Hipertemi terjadi karena
pelepasan pirogen dari dalam leukosit yang sebelumnya telah terangsang oleh pirogen
eksogen yang dapat bersala dari mikrooganisme atau merupakan suatu hasil reaksi
imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi (Noer,2004).
Sedangkan menurut Dorland (2006) hipertemia/febris/demam adalah
peningkatan suhu tubuh diatas normal. Hal ini dapat diakibatkan oleh stress fisiologik
seperti ovulasi, sekresi hormon thyroid berlebihan, olahraga berat, sampai lesi sistem
syaraf pusat atau infeksi oleh mikroorganisme atau ada penjamu proses noninfeksi
seperti radang atau pelepasan bahan-bahan tertentu seperti leukimia. demam
diasosiasikan sebagai bahan dari respon fase akut, gejala dari suatu penyakit dan
perjalan patologis dari suatu penyakit yang mengakibatkan kenaikan set-point pusat
pengaturan suhu tubuh (Sugarman,2005).
B. ETIOLOGI
Hipertemi dapat disebabkan karena gangguan otak atau akibat bahan toksik
yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek
perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam yang
disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa protein, dan zat lain. Terutama toksin
polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksi/pirogen yang dihasilkan dari degenerasi
jaringan tubuh dapat menyebabkan demam selama keadaan sakit, faktor penyebabnya
1. Dehidrasi
2. Penyakit atau trauma

3
3. Ketidakmampuan atau menurunnya kemampuan untuk berkeringat

4. Pakaian yang tidak layak

5. Kecepatan metaolisme meningkat

6. Pengobatan/ anesthesia

7. Terpajan pada lingkungan pada lingkungan panas (jangka panjang)

8. Aktivitas yang berlebihan

C. BATASAN KARAKTERISTIK
1. Suhu tinggi 37,8 °C (100 °F) per oral atau 38,8 °C (101 °F)
2. Takikardia
3. Hangat pada sentuhan
4. Mengigil
5. Dehidrasi
6. Kehilangan nafsu makan

D. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAY KEPERAWATAN


1. Patofisiologi

Substansi yang menyebabkan demam disebut pirogen dan berasal baik dari
oksigenmaupun endogen. Mayoritas pirogen endogen adalah mikroorganisme
atau toksik, pirogenendogen adalah polipeptida yang dihasilkan oleh jenis
sel penjamu terutama monosit, makrofag, pirogen memasuki sirkulasi dan
menyebabkan demam pada tingkat termoregulasi dihipotalamus, maka
hipotalamus mengirim sinyal untuk menaikkan suhu tubuh. Tubuh berespon
dengan menggigil dan peningkatan metabolisme basal.Demam timbul sebagai
respon terhadap pembentukkan interleukin-1, yang disebut pirogen endogen.
Interleukin-1 dibebaskan oleh neurofil aktif, makrofag, dan sel- sel yang
mengalami cedera. Interleukin-1 tampakanya menyebabkan panas dengan
menghasilkan prostaglandin, yang merangsang hipotalamus.
Peningkatan kecepatan dan pireksi atau demam akan engarah pada
meningkatnyakehilangan cairan dan elektrolit, padahal cairan dan elektrolit
dibutuhkan dalam metabolism diotak untuk menjaga keseimbangan termoregulasi
di hipotalamus anterior.
4
Apabila seseorang kehilangan cairan dan elektrolit (dehidrasi), maka
elektrolit-elektrolityang ada pada pembuluh darah berkurang padahal dalam
proses metabolisme di hipotalamus anterior membutuhkan elektrolit tersebut,
sehingga kekurangan cairan dan elektrolit mempengaruhi fungsi hipotalamus
anterior dalam mempertahankan keseimbangan termoregulasi dan akhirnya
menyebabkan peningkatan suhu tubuh

2. Pathway
Infeksi atau cedera jaringan

Inflamasi

Akumulasi monosit, makrofag, sel T helper


Dan fibroblas

Pelepasan pirogen
Endogen (sitokin)

Interleukin-1
Interleukin-6

Merangsang
Saraf vagus
Menembus saraf otak
Sinyal mencapai
Sistem saraf pusat

Pembentukan
prostaglandin otak

merangsang hipotalamus
meningkatkan titik patokan suhu
(set point)

Menggigil, meningkatkan suhu basal

HIPERTERMI
E. Masalah keperawatan lain yang muncul
1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
2. Resiko cedera berhubungan dengan aktivitas kejang
3. Kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi, prognosis, penatalaksanaan,
berhubungan dengan informasi
4. Ketidaksimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungna dengan
anoreksia
F. INTERVENSI KEPERAWATAN
NOC
Thermoregulation

5
Kriteria Hasil:
- Suhu tubuh dalam rentang normal
- · Nadi dan RR dalam rentang normal
- · Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

Intervensi
NIC
Fever treatment
- Monitor suhu sesering mungkin
- Monitor IWL
- Monitor warna dan suhu kulit
- Monitor tekanan darah, nadi dan RR
- Monitor penurunan tingkat kesadaran
- Monitor WBC, Hb, dan Hct
- Monitor intake dan output
- Berikan anti piretik
- Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam
- Selimuti pasien
- Lakukan tapid sponge
- Kolaborasi pemberian cairan intravena
- Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
- Tingkatkan sirkulasi udara
- Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil
- Temperature regulation
- Monitor suhu minimal tiap 2 jam
- Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
- Monitor warna dan suhu kulit
- Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi
- Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
- Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh
- Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas
- Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negatif
dan kedinginan
- Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan emergency
yang diperlukan
- Ajarkan indikasi dan hipotermi dan penanganan yang diperlukan
- Berikan anti piretik jika perlu
Vital sign Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
- Catat adanya fluktuasi tekanan darah
- Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
- Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
- Monitor kualitas dari nadi
- Monitor frekuensi dan irama pernapasan
- Monitor suara paru

6
- Monitor pola pernapasan abnormal
- Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
- Monitor sianosis perifer
- Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan
sistolik)
- Identifikasi penyebab dari perubahan Vital sign

7
KEJANG DEMAM
A. PENGERTIAN
Kejang demam adalah serangan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal di atas 38°C). Kondisi yang menyebabkan kejang demam antara
lain : infeksi yang mengenai jaringan ekstrakranial seperti tonsilitis, otitis media akut,
bronkitis (Riyadi, Sujono & Sukarmin, 2009).
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering
dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal diatas 38°C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab
demam terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi
saluran pencernaan. Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak
umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 8 3% dari anak yang berumur di bawah 5 tahun
pernah menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-
laki dari pada perempuaan. Hal tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan
maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki (Judha & Rahil, 2011).
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal > 380C) yang disebabkan oleh suatu proses di luar otak. Kejang
demam terjadi pada 2-4 % anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun. Anak yang pernah
mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk
dalam kejang demam ( Hartono, 2011)
Kejang demam ada 2 bentuk yaitu kejang demam sederhana dan kejang
demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang berlangsung
singkat, kurang 15 menit dan umumnya dapat berhenti sendiri. Kejangnya bersifat
umum artinya melibatkan seluruh tubuh. Kejang tidak berulang dalam 24 jam
pertama. Kejang demam tipe ini merupakan 80% dari seluruh kasus kejang demam.
Kejang demam kompleks adalah kejang dengan satu ciri sebagai berikut: kejang lama
> 15 menit, kejang fokal / parsial satu sisi tubuh, kejang > 1 kali dalam 24 jam
( Hartono, 2011)
Kejang demam adalah kejang yang terjadi akibat kenaikan suhu tubuh diatas
38,4ºC tanpa disertai infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit pada anak
diatas usia 1 bulan, tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya (Partini, 2013)

B. ETIOLOGI

8
Penyebab yang pasti dari terjadinya kejang demam tidak diketahui. Kejang
demam biasanya berhubungan dengan demam yang tiba-tiba tinggi dan kebanyakan
terjadi pada hari pertama anak mengalami demam.
Kejang berlangsung selama beberapa detik sampai beberapa menit. kejang
demam cenderung ditemukan dalam satu keluarga, sehingga diduga melibatkan faktor
keturunan (faktor genetik). Kadang kejang yang berhubungan dengan demam
disebabkan oleh penyakit lain, seperti keracunan, meningitis atau ensefalitis. Roseola
atau infeksi oleh virus herpes pada manusia juga sering menyebabkan kejang demam
pada anak-anak. Shigella pada Disentri juga sering menyebakan demam tinggi dan
kejang demam pada anak-anak (Mediacastore, 2011).
Menurut Jessica (2011: 3) penyebab dan faktor resiko terjadinya kejang demam
adalah sebagai berikut:
1. Infeksi virus
2. Infeksi traktus pernapasan atas
3. Infeksi traktus digestivus (gastroenteritis)
4. Infeksi saluran kemih
5. Otitis Media
6. Faktor genetik
C. Batasan karakteristik
Tanda dan gejala yang muncul pada penderita Kejang demam menurut Riyadi
dan Sukarmin (2009) yaitu : suhu tubuh anak (suhu rektal) lebih dari 38oC, timbulnya
kejang bersifat tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Beberapa detik setelah
kejang berhenti anak tidak memberikan reaksi apapun tetapi beberapa saat kemudian
anak akan tersadar kembali tanpa ada kelainan persarafan, kejang hanya berlangsung
tidak lebih dari 15 menit, saat kejang anak tidak berespon terhadap rangsangan seperti
panggilan, cahaya (penurunan kesadaran), umur anak saat kejang antara 6 bulan
sampai 4 tahun.
Klasifikasi Kejang :
Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan
tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang klonik, kejang tonik
dan kejang mioklonik.

a. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah
dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi
prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu

9
ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang
menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan
bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di
bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat
karena infeksi selaput otak atau kernikterus
b. Kejang klonik
Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal
dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal
berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan
kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat
disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup
bulan atau oleh ensepalopati metabolik.
c. Kejang mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau
keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut
menyerupai reflek moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf
pusat yang luas dan hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi
tidak spesifik.
D. Patofisiologi dan pathway keperawtan
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi
yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting
adalah glucose, sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara fungsi paru-paru dan
diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler. Berdasarkan hal diatas bahwa
energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi, dan dipecah menjadi karbon
dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang terdiri dari permukaan
dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam keadaan normal membran
sel neuron dapat dilalui oleh ion Na+ dan elektrolit lainnya, kecuali ion clorida.
Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah.
Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis
dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang
disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na, K, ATP yang terdapat pada
permukaan sel.

10
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan
konsentrasi ion diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya
mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya
membran sendiri karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak
mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena
itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam
singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion Na+ melalui membran tersebut dengan
akibat terjadinya lepasnya muatan listrik.
Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas
keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang yang
berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala
sisa.
Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea,
Na meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya
terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis ( Hidayat, 2009:

E. Masalah keperawatan lain yang muncul


1. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan persepsi sensori
2. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit

11
3. Kekurangan volume cairan b.d peningkatan suhu tubuh
4. Resiko terjadi kejang berulang b.d peningkatan suhu tubuh

12
DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. 2008.Tehnik Prosedural Keperawatan: Konsep Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien

.Jakarta : Salemba Medika.

Dorland, W., 2006. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta:

Potter, Perry. (2010). Fundamental Of Nursing: Consep, Proses and Practice. Edisi 7. Vol. 3.
Jakarta : EGC Doengoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan :
Pedoman untuk Perencanaan

Herlman, T. Heather. 2012. NANDA International Diagnostik Keperawatan : Definisi dan

Klasifikasi 2012-2014 Jakarta : EGC

13
PENGKAJIAN ANAK

Nama Mahasiswa : Teguh Tri Santoso


Tempat Praktik : Ruang Dahlia
Tanggal pengkajian :11-6-2016 pukul 08.15 wib

A. IDENTITAS DATA
Nama : an. D
Alamat : wonosari 9/9, wonokampil, watumalang
Tempat / tgl Lahir : 2-5-2017
Agama : islam
Usia : 1 th 1 bln
Suku bangsa : jawa
Nama ayah / ibu : khotimah
Pendidikan ayah : Smp
Pekerjaan ayah : swasta
Pendidikan ibu : smp
Pekerjaan ibu : irt
Tanggal Masuk RS : 10-6-2018 jam : 06.15 wib
No RM : 729001
Diagnosa Medik : Kejang Demam Kompleks

B. KELUHAN UTAMA
Saat pengkajian klien demam suhu 37,80c.
C. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
Klien dirumah kejang 2x , jarak kejang pertama dan kedua kira-kira 1 menit lama kejang
kira-kira 5 menit kejang seluruh tubuh, ibu klien mengatakan 1 minggu yang lalu klien
mengalami luka di area kemaluan. Saat pengkajian selama dirawat diRs klien tidak
pernah kejang, klien masih demam suhu 37,80c.
D. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU
Ibu klien mengatakan klien sebelumnya tidak pernah menderita penyakit sperti yang
diderita saat ini

14
E. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Ibu klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang pernah menderita penyakit
seperti yang diderita klien, keluarga klien juga tidak ada yang menderita penyakit seperti
HT, Dm dan Tbc
F. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN
Prenatal : Selama kehamilan ibu tidak menderita penyakit, selama kehamilan ibu
rutin memeriksa kehamilan kebidan setempat
Intranatal : klien dilahirkan spontan dirumah sakit pada umur kehamilan 40 minggu
dengan berat badan lahir 3100 gr panjang badan 49cm
Posnatal : Pada waktu lahir keadaan tubuh normal, tidak ada kelainan

G. RIWAYAT MASA LAMPAU


Penyakit waktu : berdasarkan keterangan dari ibu klien, sebelumnya klien
kecil tidak pernah mengalami kejang dan demam seperti saat
dibawa ke rumah sakit, klien pernah batuk pilek dan sembuh
diobati oleh bidan setempat
Pernah dirawat di RS : sebelumnya klien tidak pernah dirawat dirumah sakit
Tindakan (operasi ) : klien belum pernah menjalani tindakan operasi
Alergi : ibu klien mengatakan bahwa klien belum pernah mengalami
alergi terhadap obat dan makanan
Kecelakaan : klien belum pernah mengalami kecelakan atau terbentur dan
jatuh
Imunisasi : ibu klien mengatakan bahwa klien telah mendapatkan
imunisasi :
- HB 0 : 0 bln polio 1 : 0 bln
- Bcg : 1 bln polio 2 : 2 bln
- Dpt / hb 1 : 2 bln polio 3 : 4 bln
- Dpt / hb 2 : 3 bln polio 4 : 6 bln
- Dpt / hb 3 : 4 bln
- Campak : 9 bln

15
H. GENOGRAM
Keterangan :

: Laki-laki : Garis keturunan

: Perempuan : Garis pernikahan

: Laki-laki sudah Meninggal

: Perempuan sudah Meninggal

: Klien : Kembar

: Tinggal satu rumah

I. RIWAYAT SOSIAL
Yang mengasuh : Anak diasuh oleh kedua orang tuanya
Hubungan dengan anggota : Hubungan anak dengan anggota keluarga yang lain
keluarga baik
Hubungan dengan teman : Oleh ibu anak sering diajak bermain dengan teman
sebaya sebayanya
Pembawaan secara :
menurun
Lingkungan rumah : Anak menempati rumah dengan dinding tembok,
ventilasi dan penerangan cukup, kamar mandi dan
jamban sendiri, sumber air minum dari mata air

16
J. POLA KESEHATAN GORDON
1 Persepsi kesehatan / manajemen : - Sebelum sakit : Ibu klien mengatakan
kesehatan kesehatan memang penting dan jika ada
salah satu anggota keluarganya termasuk
anaknya sakit maka langsung
membawanya ke bidan atau dokter untuk
berobat
- sakit Saat sakit : Ibu klien mengatakan
khawatir akan kesehatan anaknya, untuk
kesembuhannya yang demam tinggi dan
disertai dengan kejang maka membawanya
ke RS. Ibu klien mengatakan belum
mengetahui cara mengatasi anak saat
kejang demam.
2 Nutrisi / metabolik : - Sebelum sakit: Ibu klien mengatakan An.
D nafsu makannya baik, An. D menyusu
Asi.
- Saat dikaji : klien Menyusu ibunya
3 Eliminasi : - Sebelum sakit: BAB 1x sehari warna
kuning konsistensi lembek berbau khas,
BAK 6-7x perhari warna kuning jernih
berbau khas.
- Saat dikaji : klien BAB 1x kali , BAK
tidak terkaji karena klien memakai
pampers
4 Aktivitas : - Sebelum sakit : klien dapat melakukan
aktivitas sesuai kemampuannya dengan
aktif.
- Saat dikaji : klien digendong oleh ibunya
5 Pola persepsi Kognitif : - Sebelum sakit : klien dapat melihat dengan
normal dan bisa mendengarkan dengan
jelas, menengok bila dipanggil.
- Saat dikaji : klien dapat melihat dengan
normal dan bisa mendengarkan dengan
baik, menengok bila di panggil
6 Istirahat dan tidur : - Sebelum sakit : klien tidur ± 9-10 jam
sehari, tidur siang ± 2-3 jam.

17
- Saat dikaji : klien tidur sering terbangun
karena demam. Lama tidur 8 jam sehari
dan tidur siang ±2 jam
7 Persepsi diri : Ibu klien mengatakan sangat khawatir dan
cemas, terutama saat anaknya rewel dan
demamnya naik serta kejang. Ibu klien juga
mengatakan khawatir kalau anaknya kejang
kembali
8 Peran / hubungan : - Sebelum sakit : Hubungan klien dengan
orang tua dan keluarga baik.
- Saat dikaji : klien lebih nyaman ditemani /
digendong oleh ibunya
9 Seksual / reproduksi : klien berjenis kelamin laki-laki, dan tidak ada
kelainan/masalah dalam sistem reproduksi
klien.
10 Koping / toleransi stress : - Sebelum sakit : ibu klien mengatakan An.
D mampu berinteraksi dengan
lingkungannya.
- Saat dikaji : klien rewel dan minta
digendong terus.
11 Nilai kepercayaan : -

K. KEADAAN SAAT INI


- Diagnosa medis : Kejang Demam Kompleks
- Tindakan non operasi :-
- Status nutrisi : klien makan sesuai diit dari RS dan menyusu asi
- Status cairan : klien terpasang infus,
- Obat-obatan : cefotaxim : 3 X 250mg, paracetamol 4 X 100mg,
luminal 2 X 2 mg
- Aktivitas : Saat dikaji klien digendong oleh ibunya
- Tindakan keperawatan: monitor suhu klien, berikan kompres hangat pada klien
- Hasil laboratorium :
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
Hemoglobin 12.0 g/dL 10.7 – 13.1
Leukosit 24. 4 10^3/ul 6.0 – 17.0
MCV 71 fL 74 – 102
MCH 23 pg 23 – 31
MCHC 33 g/dL 28 – 32
Trombosit 322 10^3/ul 150 – 400

18
- Hasil rongten :-
- Data tambahan :-

L. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Baik, Composmentis
TB / BB : 68cm / 8kg
Lingkar Kepala : 45 cm
Kepala : mesocephal, tidak ada benjolan maupun edema, rambut bersih dan
berwarna hitam, ubun ubun sudah keras dan menyatu
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera anikterik, refleks pupil dan
penglihatan normal
Hidung : tidak ada polip, tidak terlihat pernafasan cuping hidung
Mulut : Membran mukosa bibir kemerahan, tidak ada kandidiasis pada
lidah maupun rongga mulut,lidah dapat bergerak bebas, gigi 4
Telinga : normal, bersih
Dada : tidak terdapat tarikan dinding dada ke dalam, dada simetris
Jantung : tidak tampak ictus cordis, perkusi pekak, auskultasi S1 dan S2
bunyi reguler, tidak ada suara tambahan
Paru-paru : Palpasi : vocal fremitus seimbang sinistra-dextra, pengembangan
paru simetris
Perkusi : sonor
Auskultasi : tidak ada ronkhi

Perut : Inspeksi : bentuk cembung, tidak ascites, tidak ada benjolan


Auskultasi : bising usus 30 x/menit
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa.
Perkusi : timpani
Genetalia : -
Ekstermitas : Atas : akral hangat, CRT < 2 detik dan tidak ada gangguan gerak
Bawah : tidak ada gangguan gerak.
Kulit : turgor kulit elastis
Tanda Vital : Suhu : 37,80c Nadi : 98x/menit Rr : 22 x/menit

M. PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN


Motorik halus : Ibu klien mengatakan, klien sudah bisa Mengambil benda kecil
dengan ibu jari dan telunjuk
Kognitif dan bahasa : Ibu klien mengatakan bahwa klien dapat merespons instruksi
sederhana, meniru gerakan-gerakan sederhana, menunjuk
sesuatu yang ia inginkan, dan sudah memahami kata yg
sederhana misal, maem, mimik.
Motorik besar : Klien sudah bisa Merangkak, duduk

19
N. ANALISA DATA
Tgl / jam DATA PROBLEM ETIOLOGI
11-6- DS : Hipertermi Penyakit : sirkulasi
2018 - ibu klien mengatakan klien endotoksin pada
Jam demam sejak tanggal 10-6- hipotalamus
09.00 2018 jam 04.20 wib kejang 2
x kira-kira selama 5 menit
DO :
- Terjadi peningkatan suhu
tubuh , S: 37,8˚C
- - Kulit teraba hangat
11-6- DS : Defisiensi Kurang informasi
2018 - Ibu klien mengatakan belum pengetahuan terhadap
Jam tahu penyakit anaknya penyakit yang di
09.00 - Ibu klien mengatakan belum derita anaknya
mengetahui cara menangani
anak saat kejang demam.
DO :
- bu klien tampak bingung saat
ditanya penanganan kejang
demam
- Ibu klien bertanya tentang
penyakit anaknya kepada
petugas RS

Prioritas diagnosa keperawatan


1. Hipertermi b.d Efek dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus
2. Defisiensi pengetahuan terhadap penyakit yang di derita anaknya b.d kurang informasi

O. INTERVENSI
TTD
No. Tujuan dan hasil yang
Tgl / jam intervensi &
DP diharapkan / Kriteria hasil
Nama
11-6- 1 Setelah dilakukan tindakan Fever Treatment ( 3740 )
2018 keperawatan 1x12 jam diharapkan 1. Berikan Tappid Water
Jam masalah dapat teratasi dengan Sponge
2. Monitor suhu setiap 2
09.00 kriteria hasil :
jam sekali
- Suhu tubuh dalam rentang 3. Kompres klien
normal menggunakan air hangat
- Tidak ada perubahan warna

20
kulit pada bagian ubun-ubun,
axilla, perut, leher, dan
lipat paha
4. Tingkatkan intake cairan
dan nutrisi klien
5. Sesuaikan suhu
lingkungan klien
6. Anjurkan keluarga klien
untuk memberikan
pakaian yang tipis yang
dapat menyerap keringat
7. Anjurkan untuk tidak
memakai selimut
8. Tingkatkan istirahat
yang cukup
9. Berikan minum air putih
yang banyak untuk
mencegah dehidrasi
10. Kolaborasi pemberian
cairan intravena
11. Berikan antipiretik
11-6- 2 Setelah melakukan tindakan 1. Kaji pengetahuan
2018 keperawatan selama 1×24 jam keluarga tentang proses
Jam masalah defisiensi pengetahuan penyakit
2. Jelaskan tentang
09.05 b.d kurang informasi dapat
patofisiologi penyakit
teratasi dengan kriteria hasil :
dan tanda gejala
- Mengetahui penyakit yang
penyakit
dialami 3. Jelaskan penanganan
- Mengetahui penanganan
penyakit
penyakit 4. Identifikasi penyebab
penyakit
5. Berikan penkes

21
P. IMPLEMENTASI
No. TTD &
Tgl / jam Tindakan / implementasi respon
DP Nama
Senin, 1 - Kompres klien menggunakan - Klien tidak mau Teguh
11-6-2018 air hangat pada bagian ubun- dikompres
Jam ubun - Suhu 37,70c

10.00WIB - Mengukur suhu klien


- Kolaborasi pemberian cairan
- Klien terpasang
intravena
infus
- menjelaskan tentang tanda
2 gejala penyakit - Klien Teguh
- Jelaskan penanganan demam
mendengarkan
penjelasan
petugas
- Klien mengerti
penjelasan yang
diberikan
Selasa, 1 - Mengukur suhu klien - Suhu 37,50c Teguh
12-6-2018 - memberikan antipiretik - Klien diberi
- Menganjurkan ibu untuk PCT 100mg
Jam
memberikan minum air putih - Ibu klien
08.00WIB
yang banyak untuk mencegah koopratif
dehidrasi memberi
minumklien

- mengkaji pengetahuan - Keluarga klien


2 Teguh
keluarga tentang proses mulai mengerti
penyakit tentang penyakit
- Mengevaluasi ibu klien yag diderita
tentang penanganan kejang anaknya
demam
- Ibu klien
mengerti cara
menangani
kejang

22
No. TTD &
Tgl / jam Tindakan / implementasi respon
DP Nama
Rabu, 1 - Mengukur suhu klien - Suhu 36,7 0c Teguh
13-6-2018 - Kolaborasi pemberian cairan - Klien terpasang

Jam intravena infus


- memberikan antipiretik - Klien di beri
08.00WIB
PCT 100mg
- Klien mengerti
penjelasan yang
diberikan
- mengkaji pengetahuan Teguh

keluarga tentang proses


penyakit - Keluarga klien
2 - Mengevaluasi ibu klien Teguh
mengerti
tentang penanganan kejang
tentang penyakit
demam
yag diderita
anaknya
- Ibu klien
mengerti cara
menangani
kejang

23
Perkembangan TTD &
Tgl / jam No. DP
(SOAP) Nama
Senin, 1 S : ibu klien mengatakan klien sudah tidak Teguh
11-6-2018 mengalami kejang ,namun masih demam
Jam O : S: 37,70c, ibu berusaha memberikan kompres
11.00WIB hangat pada klien
A : masalah hipertermi belum teratasi.
P : lanjutkan intervensi ( monitor suhu klien,berikan
kompres hangat )

S : ibu klien tidak mengetahui tentang penyakit dan


2 tanda gejala penyakit dan menangani kejang demam Teguh
O : ibu klien tampak bingung saat ditanya cara
menangani kejang demam.
A : masalah defisiensi pengetahuan belum teratasi
P : lanjutkan intervensi (berikan pendidikan kesehatan
mengenai kejang demam, demam, dan penanganan
kejang demam)

Selasa, 1 S : ibu klien mengatakan Klien sudah tidak Teguh


12-6-2018 mengalami kejang, ibu klien mengatakan demamnya
Jam mulai turun tapi kadang masih demam
09.00WIB O : S : 37,50c
A : masalah hipertermi belum teratasi.
P : lanjutkan intervensi ( monitor suhu klien,berikan
kompres hangat, berikan antipiretik )

2 S : ibu klien mulai mengerti tentang penyakit dan Teguh


tanda gejala penyakit dan cara menangani kejang
demam
O : ibu Klien mampu menjelaskan cara menangani
kejang demam, tapi masih belum memahami tentang
penyakitnya
A : masalah defisiensi pengetahuan belum teratasi
P : lanjutkan intervensi (berikan pendidikan kesehatan
mengenai kejang demam, demam, dan penanganan

24
kejang demam)

Rabu, 1 S: ibu klien mengatakan klien sudah tidak demam O: Teguh


13-6-2018 S: 36,70C
Jam A: masalah hipertermi teratasi
09.00WIB P: pertahankan intervensi monitor suhu klien

2 S: ibu klien mengatakan mengetahui kejang demam, Teguh


bahaya kejang demam, penanganan kejang demam
O: ibu klien dapat menjawab pertanyaan petugas
A: masalah defisiensi pengetahuan teratasi
P: hentikan intervensi

25