You are on page 1of 22

JURNAL

Januari 2018

Ocular Allergy: an Updated Review

OLEH :
Kiki Ratnawati G1A215086
Alde Pitra Iztiawan G1A216007
Ririn Octarina G1A216100
Wenny Oktaviani G1A216109

PEMBIMBING :
dr. H. Djarizal, Sp. M, MPH

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN MATA RSUD RADEN MATTAHER
TAHUN 2018
HALAMAN PENGESAHAN
JURNAL

Ocular Allergy: an Updated Review

DISUSUN OLEH
Kiki Ratnawati G1A215086
Alde Pitra Iztiawan G1A216007
Ririn Octarina G1A216100
Wenny Oktaviani G1A216109

Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior


SMF/ Bagian Mata RSUD Raden Mattaher
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

PEMBIMBING

dr. H. Djarizal, Sp. M, MPH


KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkatdan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan jurnal ini yang
berjudul“Ocular Allergy : an Updated Review”, tulisan ini dimaksudkan
sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan stase di kepaniteraan klinik senior
bagian Ilmu Mata RSUD Raden Mattaher Jambi.
Terwujudnya jurnal ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan dorongan
dari dr. H. Djarizal, Sp. M, MPH yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk
membimbing penulis, sehingga sebagai ungkapan hormat dan penghargaan
penulis mengucapkan banyak terimakasih.
Penulis menyadari bahwa jurnal ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu penulis mengharapkan saran dan masukan dari semua pihak. Semoga tulisan
ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan kedokteran dan
kesehatan. Semoga kebaikan dan pertolongan semuanya mendapatkan berkat dari
Tuhan.

Jambi, Januari 2018

Penulis
Tinjauan Artikel

Alergi Okular: Tinjauan Terbaru

Buraa Kubaisi, Khawla Abu Samra, Sarah Syeda, Alexander Schmidt dan Stephen
C. Foster
Massachusetts Eye Research and Surgery Institution, Waltham, MA, USA Ocular
Immunology and Uveitis Foundation, Waltham, MA, USA Harvard Medical
School, Boston, MA, AS
Penulis yang sesuai: Alexander Schmidt, Email: aschmidt@mersi.com
Diterima: 27 Oktober 2016; Diterima: 13 Januari 2017;
Diterbitkan: 20 Januari 2017

Abstrak

Alergi okuler meliputi reaksi inflamasi pada permukaan mata yang


disebabkan oleh respon yang tidak sesuai dari permukaan okular ke berbagai
alergen lingkungan. Mayoritas peradangan melibatkan konjungtiva, istilah
"konjungtivitis alergi"sering digunakan pada alergi okuler. Alergi okuler
merupakan masalah umum yang menyerang semua umur dimana presentasi gejala
dapat bervariasi di kasus ringan hingga serius dan mengancam penglihatan
terjadinya peradangan parah. Substansi alergi okuler termasuk yang dominan
merangsang gatal pada okuler seasonal allergic conjunctivitis (SAC), dan
perrenial allergic conjunctivitis (PAC) hingga penglihatan yang lebih parah
vernal keratoconjunctivitis (VKC), dan atopic keratokonjunctivitis (AKC).
Pengelolaan konjungtivitis alergi dimulai dari sederhana dengan modifikasi gaya
hidup, dan penggunaan terapi farmakologis secara teratur topikal dan sistemik,
hingga terapi yang lebih maju meliputi alergen spesifik imunoterapi dan antibodi
anti-IgE terapi yang baru diperkenalkan.
Pendahuluan

Alergi okuler mempengaruhi hingga 40% populasi di Amerika di mana


konjungtivitis alergi dianggap paling umum penyebab konjungtivitis. Pasien yang
hidup dengan gejala alergi okular memiliki ketahanan kualitas hidup yang lebih
rendah akibat penyakit yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan terhadap
kehilangan penglihatan. Pasien mungkin juga menderita beban keuangan yang
ditimbulkan oleh kebutuhan terapi yang bisa seumur hidup. Selanjutnya,
prevalensi global alergi okular telah terus meningkat, sehingga menigkatkan
beban penyakit pada masyarakat.
Alergi okuler sering dikaitkan dengan gejala alergi hidung, biasa dikenal
'rhinoconjunctivitis'. Enam puluh empat persen pasien dengan gejala rinitis alergi
dilaporkan terkait gejala konjungtiva alergi okular.
Sebuah penelitian terhadap pasien demam ditemukan gejala okular saja dialami
8% populasi penelitian, sedangkan 85,3% populasi penelitian memiliki kombinasi
gejala antara mata dan hidung.
Karena sebagian besar peradangan alergi okular melibatkan Konjungtiva, istilah
"allergic conjunctivitis" sering digunakan seiring dengan alergi mata. Gangguan
yang termasuk di bawah kategori konjungtivitis alergi berkisar dari yang
didominasi merangsang rasa gatal pada mata seasonal allergic conjunctivitis
(SAC), dan perrenial allergic conjunctivitis (PAC) hingga penglihatan yang lebih
parah vernal keratoconjunctivitis (VKC), dan atopic keratokonjunctivitis (AKC)
serta beberapa kelainan lainnya yang akan dibahas nanti. Penatalaksanaan dimulai
dari tindakan yang paling sederhana hingga farmakoterapi yang paling kompleks,
imunoterapi dan antibodi monoklonal.
Naskah ini menyoroti klasifikasi alergi okular dan memberikan rincian tentang
pilihan pengelolaan alergi okular termasuk modifikasi gaya hidup dan
penggunaan obat-obatan topikal dan sistemik. Selain itu naskah ini memberikan
beberapa wawasan tentang penggunaan imunoterapi dalam pengobatan alergi
okular yang paling parah dan penemuan baru dalam penggunaan antibodi
monoklonal.
Klasifikasi

Seperti disebutkan sebelumnya, konjungtiva merupakan struktur yang


paling umum yang terlibat dalam alergi okular, maka konjungtivitis alergi
digunakan secara bergantian dari alergi konjungtivitis berasal dari penyebab alergi
okular, dan dapat digambarkan sebagai konjungtivitis alergi musiman dan
menetap, vernal keratokonjungtivitis, dan keratokonjungtivitis atopik, dan
papilaris raksasa konjungtivitis.

Seasonal Allergic Conjunctivitis (SAC) and Perennial Allergic Conjunctivitis


(PAC)
SAC dan PAC terdiri dari sebagian besar kasus konjungtivitis alergi
(sekitar 95% di Amerika Serikat). Meskipun SAC dan PAC adalah paling umum,
proporsi bentuk alergi okular yang lebih parah penyakit (AKC, VKC) meningkat
di negara-negara di belahan bumi bagian selatan. Teori untuk menjelaskan hal ini
termasuk meningkatnya tingkat industrialisasi dan polusi atau hanya sebuah
anomali yang timbul karena kekurangan pelaporan kondisi yang lebih ringan.
SAC dan PAC dibedakan satu sama lain terutama oleh waktu eksaserbasi yang
bisa dikaitkan dengan stimulasi yang berbeda alergen pada masing-masing
alergen. SAC (biasa disebut hay fever conjunctivitis) lebih umum daripada PAC
dan lebih buruk lagi pada musim semi dan musim panas. Alergen paling sering
yang bertanggung jawab adalah spora jamur atau pohon, gulma, atau serbuk sari
rumput, namun alergen spesifik bervariasi dengan lokasi geografis. PAC
menyebabkan gejala sepanjang tahun, umumnya lebih buruk di musim gugur saat
terpapar tungau debu rumah, bulu binatang, bulu dan alergen jamur paling sering.
Hal ini kurang umum dan cenderung menjadi lebih ringan dari pada bentuk
musiman. Gejala khas dari SAC dan PAC biasanya gatal dan kemerahan yang
biasanya bilateral. Gejala lainnya termasuk sensasi terbakar dan berair atau
terkadang pelepasan mukoid ringan. Konjungtiva ringan biasanya injeksi dengan
berbagai tingkat chemosis. Meski gejala biasanya bilateral, tingkat keterlibatan
mungkin tidak simetris. Cobblestoning adalah tanda yang umumnya tidak teramati
di SAC atau PAC dan menunjukkan bentuk konjungtivitis alergi yang lebih kronis
dan parah meskipun hipertrofi papiler halus pada konjungtiva tarsal bagian atas
mungkin terjadi. Kornea biasanya tidak terlibat dalam SAC atau PAC.

Vernal Keratoconjunctivitis (VKC)

VKC adalah bentuk yang lebih serius dan berpotensi mengancam pada
alergi okular dimana stimulan (alergen) biasanya tidak diketahui. Penyakit ini
bilateral kronis yang biasanya menyerang pria muda dan biasanya sembuh setelah
pubertas. Ada riwayat eksema atau asma pada 75% pasien. VKC memiliki
distribusi geografis yang luas dan biasanya terjadi di daerah yang hangat dan
kering.
KC dapat diklasifikasikan ke dalam bentuk Palpebral, limbal dan
campuran. Bentuk palpebral melibatkan konjungtiva tarsal atas dan mungkin saja
terkait dengan keterlibatan kornea yang signifikan sebagai hasil dari apposisi
antara konjungtiva yang meradang dan epitel kornea. Tipe limbal biasanya
mempengaruhi pasien kulit hitam dan Asia dan biasanya terbatas pada area
perilimbal. VKC campuran pada dasarnya punya ciri penyakit palpebral dan
limbal. Penderita biasanya memiliki penyakit sepanjang tahun namun pengaruh
musiman sering terjadi. Gejala utama VKC adalah gatal. Gejala umum lainnya
termasuk mata berair, lendir, fotofobia, nyeri, rasa terbakar dan sensasi benda
asing. Sebagian besar gejala terbatas pada konjungtiva dan kornea, sedangkan
kelopak mata relatif tidak terlibat. Ciri khas VKC adalah giant papillae seperti
batu besar pada konjungtiva tarsal bagian atas.
Bulbar konjungtiva biasanya edematous dan injeksi. Perilimbal konjungtiva dapat
menebal dan edematous hipertrofi seperti agar-agar (gelatin). Nodul limbal dan
titik-titik trantas terdiri dari eosinofil dan sel epitel mati. Perubahan limbal ini
terkadang bisa mengarah ke pendangkalan neovaskularisasi kornea dan pannus.
Yang paling penting dan kelainan yang mengancam penglihatan terjadi pada
kornea seperti epitel keratitis ringan atau pada kasus yang lebih parah seperti
ulkus. Ulkus merupakan hasil dari kerusakan kimia pada permukaan epitel oleh
mediator yang dilepaskan dari sel mast dan eosinofil. Biasanya ulkus oval atau
pentagonal, dangkal, dan terletak superior dengan penglihatan keabu-abuan saat
bangun tempat tidur dan tempat tinggi. Mereka membutuhkan waktu bebepa
bulan untuk reepitelisasi dan dalam kasus kronis dapat membentuk sebuah plak
putih atau kuning buram. Diketahui bahwa ada hubungan kuat antara VKC dan
keratoconus.

Atopic Keratoconjunctivis (AKC)

AKC pertama kali dideskripsikan oleh Michael Hogan pada tahun 1952
sebagai alergi keratokonjungtivitis berhubungan dengan dermatitis alergi. AKC
terjadi pada anak-anak dan orang dewasa dan berhubungan dengan eksema
kelopak mata atau bagian tubuh lainnya. AKC paling sering terjadi pada pria dan
biasanya dimulai pada akhir remaja atau dua puluhan tapi jarang sebelum
pubertas, dan mungkin bertahan sampai keempat atau kelima dekade kehidupan.
Gejala utama pada mata meliputi gatal, fotofobia, rasa terbakar dan sensasi benda
asing. Pasien biasanya terbangun dengan pengelupasan lendir berlebihan kedua
mata. Komplikasi yang paling umum dermatitis atopik dan merah terus-menerus,
macerated dengan kerak dan sisik, yang tidak tampak pada pasien dengan VKC.
Pada kasus-kasus yang parah dari jaringan parut konjungtiva AKC dengan sub
fibrosis epitel, fornix foreshortening dan symblepharon dapat terjadi. Ulserasi
kornea dan neovaskularisasi juga bisa terjadi. Jaringan parut konjungtiva pada
AKC mungkin membingungkan dengan penyakit cicatrizing lainnya seperti
pemfigoid cicatrizing okular.

Giant Papillary Conjunctivitis (GPC)

GPC biasanya terlihat pada pasien dengan lensa kontak, tapi juga bisa
terlihat pada pasien dengan benda asing pada kornea, jahitan terbuka, okular
prostesis dan gesper skleral ekstrusi. GPC digambarkan sebagai papila pada
konjungtiva tarsal bagian atas dengan ukuran diameter 1 mm atau lebih besar.
Juga papula dengan ukuran 0,3 mm atau lebih besar yang terkait dengan gejala
gatal, intoleransi lensa kontak atau konjungtiva injeksi, memenuhi kriteria untuk
diagnosis GPC.
Pasien dengan GPC memiliki gejala intoleransi lensa kontak, penglihatan
kabur, sekresi mukus berlebihan, gatal dan iritasi mata. Penting untuk disebutkan
bahwa papila besar di medial dan aspek lateral tarsus atas dan di sepanjang
perbatasan tarsal tidak boleh digunakan dalam evaluasi karena dapat terlihat
normal pada individu. Perlu disebutkan bahwa papilla hipertrofi di Konjungtiva
tarsal terkadang menyebabkan ptosis.

Gangguan Alergi Okular lainnya

Gangguan alergi permukaan okular lainnya yang mungkin


membingungkan dengan sindrom okular di atas dan dianggap sebagai bagian dari
diagnosis banding meliputi kontak blepharo-konjungtivitis dan
keratokonjungtivitis phlyctanular

Kontak Blepharo-Conjunctivitis

Ini mengacu pada reaksi akut atau subakut yang paling banyak dilihat
umumnya sebagai reaksi terhadap konstituen tetes mata atau kadang-kadang
sebagai reaksi terhadap larutan lensa kontak. Biasanya terjadi di awal pengobatan
tapi bisa dilihat setelah penggunaan kronis tetes yang sama. Gejala terutama
melibatkan kelopak mata (eritema, penebalan, indurasi), meskipun mungkin ada
reaksi konjungtiva. Bahan pengawet sebagian besar mungkin bertanggung jawab
atas alergi, toksis atau inflamasi, meskipun antiglaucoma dan antibiotik tetes
bukan penyebab yang tidak biasa.

Phlyctenular Keratoconjunctivitis (PKC)

PKC adalah radang nodular konjungtiva atau kornea yang dihasilkan dari
reaksi hipersensitivitas terhadap antigen asing. Keterlibatan konjungtiva biasanya
bersifat sementara dan tidak bergejala, tapi keterlibatan kornea bisa terjadi dalam
berbagai bentuk dan bisa menimbulkan penurunan nilai visual. Dulu, protein
tuberkulin dianggap sebagai antigen utama yang bertanggung jawab untuk PKC,
bagaimanapun dengan perbaikan publik kesehatan, protein mikroba
staphylococcus aureus ditemukan sebagai antigen penyebab yang paling umum di
PKC. Faktor risiko staphylococcus paparan aureus meliputi blepharitis kronis dan
keratitis supuratif. PKC lebih sering terjadi pada wanita dan memiliki kejadian
lebih tinggi selama ini musim semi. Presentasi klinis PKC bervariasi tergantung
pada lokasinya serta etiologi yang mendasarinya. Lesi konjungtiva dapat
menyebabkan iritasi ringan sampai sedang pada mata, sedangkan lesi kornea
biasanya mungkin memiliki rasa sakit dan fotofobia yang lebih parah. Sensitivitas
cahaya yang parah dapat terjadi dengan phlyctenules terkait tuberkulosis
dibandingkan dengan S. aureus terkait phlyctenules. PKC hadir sebagai lesi
nodular dengan injeksi konjungtiva di sekitarnya dan mungkin menunjukkan
beberapa ulserasi dan pewarnaan dengan fluorescein. Fenctenula konjungtiva
terjadi lebih sering di konjungtiva interpalpebral dan sering dicatat sepanjang
daerah limbal. Terkadang, beberapa nodul dapat ditemukan di sepanjang
permukaan limba. Finetenula kornea biasanya dimulai di daerah limbal dan sering
mengalami ulserasi kornea dan neovaskularisasi dapat menyebabkan jaringan
parut dan berbagai tingkat kehilangan penglihatan. Diagnosa PKC dibuat
berdasarkan riwayat dan temuan pemeriksaan klinis. Saat memikirkan etiologi
infeksi, penyelidikan lebih lanjut untuk menyingkirkan tuberkulosis atau klamidia
harus dilakukan dan jika positif, diperlukan perawatan sistemik yang tepat.

Patofisiologi

SAC dan PAC adalah reaksi hipersensitivitas Gell klasis dan Coombs tipe
1, terjadi sebagai konsekuensi yang tidak tepat (atopik atau keluar dari tempat)
tanggapan kekebalan terhadap bahan yang biasanya tidak berbahaya. Respon
kekebalan secara genetis ditakdirkan membuat tanggapan semacam itu sebagai
konsekuensi peraturan yang tidak memadai, dengan produksi antibodi IgE
ditujukan terhadap alergen dan selanjutnya pengikatan molekul IgE tersebut ke
reseptor Fc di permukaan sel mukosa. Kontak selanjutnya dengan alergen yang
sensitif menghasilkan pengikatan alergen pada molekul IgE tersebut, dan bila
demikian mengikat dua molekul IgE yang berdekatan, terjadi perubahan pada
membran adenil siklase, mengubah konsentrasi intraselular siklik AMP,
menghasilkan pembukaan gerbang kalsium, dengan lonjakan intraseluler
konsentrasi kalsium, kemudian menghasilkan agregasi tubulin subunit,
membentuk mikrotubulus, menghasilkan degranulasi dan pelepasan histamin dan
pembentukan protease , memicu respon hipersensitivitas tipe 1. Hal ini
menyebabkan gatal, mata berair, edema dan kemerahan yang berlangsung 20-30
menit. Sel mast terus menghasilkan reaktan fase akhir seperti prostaglandin,
leukotrien, faktor aktivasi platelet dan sitokin kemotaksis yang menghasilkan
rekrutmen sel inflamasi lainnya, menghasilkan reaksi inflamasi berkelanjutan
yang ditandai dengan aktivasi neutrofil dan eosinofil serta peningkatan
permeabilitas vaskular dan pelebaran mikrovaskular, yang disebut reaksi fase
akhir, yang subklinis di SAC dan di PAC, namun bermanifestasi pad alergi mata
yang lebih kompleks dan mengancam penglihatan.
Sementara patogenesis VKC dan AKC juga melibatkan degranulasi sel mast
kronis yang dimediasi, peradangannya yang utama adalah yang dimediasi limfosit
Th2, yang melibatkan peranan karakter seluler yang jauh lebih kompleks daripada
SAC dan PAC. Pada VKC, sitokin yang diturunkan dari limfosit Th2
menghasilkan ekspresi berlebih dari sel mast, eosinofil, neutrofil dan fibroblas
konjungtiva, dan badai tambahan dari faktor pertumbuhan, IL-4 dan IL-13
menghasilkan pertumbuhan matriks ekstraselular, yang berpuncak pada
pembentukan papila raksasa. Dan perekrutan sitokin eosinofil ke daerah yang
terkena merupakan suatu hal yang bersifat menghancurkan, dengan pembebasan
protein dasar eosinofil dan protein kationik eosinofil, keduanya sangat toksik
untuk epitel kornea. Dengan demikian, VKC dan AKC dan bahkan GPC adalah
gabungan gabungan reaksi hipersensitivitas tipe 1 dan tipe 4 Gell dan Coombs.
Patogenesis AKC serupa, namun diperkirakan juga termasuk sitokin yang
diturunkan dari limfosit Th1. Berbeda dengan di atas, alergi kontak
diklasifikasikan sebagai reaksi hipersensitivitas tipe IV. Selama sensitisasi,
alergen, yang merupakan bahan kimia sederhana yang dikombinasikan dengan
protein kulit untuk membentuk antigen, diproses oleh MHC kelas II pada limfosit
T untuk menginduksi produksi sel T memori. Hasil pemaparan selanjutnya
menghasilkan sel T memori dan produksi sitokin dan proliferasi sel T. Sitokin
yang dilepaskan dari sel Th1 dan sel Th2 memediasi perekrutan makrofag dan
eosinofil, yang berakibat pada patogenesis konjungtivitis.
Pengelolaan Alergi Okular

Pengelolaan alergi okular pada umumnya melibatkan tindakan


pencegahan, tindakan non farmakologis maupun farmakologis.
Tindakan pencegahan meliputi identifikasi alergen yang provokatif dan
penghindaran atau pengurangan sebanyak mungkin kontak dengan alergen yang
diketahui dan penanganan paparan lingkungan yang tepat. Ini adalah ukuran yang
paling dikuasai para ahli alergi. Selain itu, pencegahan gejala konjungtivitis alergi
musiman termasuk membatasi eksposur di luar ruangan, dan menjaga agar jendela
mobil dan rumah tertutup selama puncak musim serbuk sari. Untuk pasien dengan
konjungtivitis alergi kronis, pencegahan mencakup penghindaran alergen spesifik
yang menyebabkan gejala pada pasien tertentu. Bagi mereka yang alergi terhadap
tungau debu, tindakan yang membantu termasuk mengganti bantal, selimut, dan
kasur yang sudah lama. Tindakan juga mencakup penggunaan sarung untuk
bantal, selimut, dan kasur. Selain itu, tempat berkumpulnya debu harus dibuang,
seperti karpet tua, furnitur yang sudah lama, dan tirai tua. Jika pasien alergi
terhadap bulu binatang, hewan tersebut mungkin perlu dikeluarkan dari rumah,
dan karpet tua, perabotan, dan gorden harus dilepas atau dibersihkan dengan
saksama. Pembersih udara dengan filter yang sering diganti sangat berguna.
Tindakan non-farmakologis termasuk menghindari pengucekkan mata
karena ini menghasilkan degranulasi sel mast mekanis dan memperburuk gejala.
Hal ini mungkin telah menjadi kebiasaan dan mungkin sangat sulit untuk diubah.
Selain itu penggunaan kompres dingin dan air mata buatan berpendingin
sepanjang hari telah terbukti efektif dalam mengurangi edema kelopak mata dan
periorbital dan menghilangkan alergen dari mata seperti yang ditunjukkan oleh
Bilkhu et al. Penggunaan lensa kontak harus dibatasi selama tahap akut dari
konjungtivitis alergi.
Terapi Farmakologis

Termasuk obat topikal dan sistemik untuk penanganan akut dan kronis.
Obat topikal meliputi produk kombinasi antihistamin/vasokonstriktor,
antihistamin dengan sifat stabilisasi sel mast, stabilisator sel mast, dan
glukokortikoid topikal

Vasokonstriktor topikal (dekongestan) dan Antihistamin

Dekongestan topikal adalah agen pertama yang disetujui untuk pengobatan


konjungtivitis alergi. Tetrahydrozolin dipasarkan pada tahun 1950an dan
naphazoline pada tahun 1971. Walaupun dekongestan efektif untuk hiperemia
okuler, dekongestan tidak memiliki efek gatal dan merupakan subyek takifilaksis .
Dekongestan okular dipasangkan dengan antihistamin topikal seperti feniramin
dan antazolin untuk melawan gatal dan kemerahan yang berhubungan dengan
konjungtivitis alergi. Obat topikal ini sesuai untuk penggunaan jangka pendek
atau episodik saja. Penggunaan terus menerus selama lebih dari dua minggu dapat
menyebabkan rebound hyperemia karena komponen vasokonstriktor.
Komponen antihistamin secara kompetitif dan reversibel menghalangi
reseptor histamin di konjungtiva dan kelopak mata, sehingga menghambat aksi
mediator yang berasal dari sel induk utama. Komponen vasokonstriktor
mengaktifkan reseptor alfaadrenergik post-junctional yang ditemukan di
pembuluh darah, menyebabkan vasokonstriksi dan pengurangan edema
konjungtiva. Contoh obat antihistamin topikal/vasokonstriktor mencakup
naphazoline dan pheniramine (tersedia sebagai Naphcon-A, Opcon-A, Visine-A,
dan lainnya). Dosis sampai empat kali sehari selama gejala akut. Produk topikal
agen tunggal (hanya vasokonstriktor atau antihistamin) juga tersedia tanpa resep,
walaupun produk kombinasi biasanya bekerja lebih baik.
Pada tahun 1990an antihistamin generasi kedua yang paling berkhasiat dan
sukses secara komersil tersedia di pasaran dan termasuk tetes mata levokabastin
dan emedastine topikal. Levocabastine dan emedastine diindikasikan untuk
menghilangkan sementara tanda dan gejala konjungtivitis alergi musiman dan
konjungtivitis alergi. Levocabastine adalah antihistamin topikal pertama dengan
beberapa mekanisme yang mempengaruhi baik fase awal maupun akhir reaksi
alergi okular melalui upregulasi aktivasi dan infiltrasi eosinofil.

Stabilizer sel mast

Sodium kromolin (juga dikenal sebagai sodium cromoglycate) disetujui


pada tahun 1984 untuk pengobatan keratoconjungtivitis vernal. Lodoxamide
memiliki indikasi yang sama dan disetujui pada tahun 1993. Lodoxamide
memiliki potensi dan kecepatan aksi yang lebih besar dibanding sodium kromolin;
Selain itu juga tampaknya lebih efektif melawan kerusakan epitel dan ulkus
kornea yang berhubungan dengan keratoconjungtivitis vernal. Sodium
nedokromil, disetujui pada tahun 1999 untuk gatal pada mata yang berhubungan
dengan konjungtivitis alergi dan telah menunjukkan efektivitas yang lebih besar
daripada sodium kromolin. Efektivitas penuh stabilisator sel mast biasanya terjadi
5 sampai 14 hari setelah terapi dimulai dan oleh karena itu obat tetes mata ini
tidak efektif untuk gejala akut. Stabilisator sel mast diberikan empat kali sehari
dan pasien dengan konjungtivitis alergi musiman harus memulai pengobatan dua
sampai empat minggu sebelum musim serbuk sari.

Tabel 1. Perbedaan jenis-jenis aergi ocular

Tanda dan Gejala SAC/PAC VKC ACK GPC

Kotoran warna putih Jernih/mukoid Mukoid Mukoid Jernih


Gatal + ++ ++ ++
Kemosis + +/- +/- +/-
Kerusakan kornea - ++ + -
Cobble stone - ++ ++ ++
- +/- ++ +/-
Musiman + + +/- +/-
Sistem sistemik Rhinitis - Eczema/ -
asma
Antihistamin dengan sifat menstabilkan sel mast

Kelompok tetes mata ini meliputi olopatadine, alcaftadine, bepotastine,


azelastine HCl, epinastine, ketotifen fumarat, dan emedastine. Di Amerika
Serikat, Ketotifen fumarat tersedia dalam bentuk generik dan bisa dibeli bebas
tanpa resep dokter. Dosis biasa dua kali sehari untuk kebanyakan produk. Ada tiga
tetes mata antihistamin/penstabil sel mast yang disetujui untuk dosis sekali sehari
- alcaftadine 0,25%, olopatadine 0,2%, dan olopatadine 0,7%; Hanya alcaftadine
yang memiliki kategori kehamilan B. Onset aksi terjadi dalam beberapa menit
untuk sebagian besar obat-obatan. Setidaknya dilakukan terapi selama dua untuk
menilai efikasi penuh terapi profilaksis dengan agen ini, karena mungkin butuh
waktu agar peradangan dapat dikontrol dan gejala mereda sepenuhnya. Efek
samping tetes mata ini dapat meliputi sensasi menyengat dan rasa terbakar. Tetes
mata yang didinginkan dan/atau menggunakan air mata buatan berpendingin
sebelum menggunakan obat ini adalah cara yang efektif untuk mengurangi sensasi
terbakar. Sebuah studi acak yang membandingkan penggunaan natrium kromolin
(4 persen, empat kali sehari) selama dua minggu sebelum diberikan paparan
alergen dengan satu tetes ketotifen fumarat (0,025 persen) yang diberikan tepat
sebelum dipaparkan alergen mendapatkan bahwa tetesan ketotifen tunggal lebih
unggul dalam mengendalikan gatal dan kemerahan pada 15 menit dan pada 4 jam
setelah paparan.

Obat-obatan Antiinflamasi nonsteroid

Prostaglandin spesifik dianggap menurunkan ambang konjungtiva untuk


gatal yang diinduksi histamin, dan prostaglandin sendiri mungkin juga bersifat
pruritogenik. Obat antiinflamasi nonsteroid topikal (NSAID) menghambat
produksi prostaglandin dan leukotrien, sehingga membantu konjungtivitis alergi.
NSAID yang umum diresepkan untuk alergi pada mata meliputi ketorolak,
diklofenak, indometasin, dan flurbiprofen. Namun, hanya ketorolac yang
diindikasikan untuk menghilangkan sementara gatal pada mata karena
konjungtivitis alergi musiman. Meskipun Ketorolac adalah satu-satunya NSAID
yang disetujui untuk pengobatan konjungtivitis alergi musiman, formulasi topikal
indometasin, ketorolak, dan diklofenak telah menunjukkan khasiat dalam
pengobatan keratokonjungtivitis vernal.

Glukokortikoid

Pemberian kortikosteroid topikal harus dibatasi untuk digunakan pada


pasien dengan gejala refrakter seperti gejala yang berhubungan dengan
keratokonjungtivitis vernal dan keratokonjungtivitis atopi. Kortikosteroid topikal
tidak efektif pada reaksi alergi tahap awal; Namun dengan menghambat produksi
dan/atau pelepasan mediator inflamasi mereka sangat efektif dalam menekan
reaksi fase lambat. Penggunaan jangka panjang kortikosteroid topikal dikaitkan
dengan efek samping yang berpotensi serius dan mengancam penglihatan, seperti
peningkatan tekanan intraokular (TIO) dan risiko pembentukan katarak.
Loteprednol, telah disetujui pada tahun 1998 untuk pengobatan konjungtivitis
alergi. Obat ini termasuk dalam kelas baru kortikosteroid yang mengurangi risiko
peningkatan TIO dengan secara cepat diubah menjadi metabolit tidak aktif setelah
penetrasi kornea. Meskipun kortikosteroid Difluprednate terutama ditunjukkan
untuk pengelolaan peradangan dan nyeri pasca operasi, obat ini telah terbukti
mengurangi baik gatal fase awal yang dicetuskan dengan provokasi, maupun gatal
fase akhir serta hiperemia yang terkait dengan konjungtivitis alergi musiman.

Topikal imunomodulator

Baik siklosporin A, dan tacrolimus telah dievaluasi sebelumnya untuk


tatalaksana penglihatan yang mengancam dan keratokonjungtivitis vernal yang
berat dan keratokonjungtivitis atopik. Dalam penelitian observasional prospektif
yang besar, 594 pasien dengan keratokonjungtivitis vernal dan
keratokonjungtivitis atopik dimasukkan dalam mengevaluasi khasiat siklosporin
topikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penggunaan siklosporin topikal A
0,1% secara signifikan menurunkan semua tujuan dan skor subyektif, termasuk
gatal. Selain itu 44,4% pasien dengan VKC dan 21,9% pasien dengan AKC
menghentikan terapi akibat resolusi gejala lengkap, dan sekitar 30% steroid
pengguna dapat menghentikan penggunaan steroid topikal secara bersamaan.
Mata iritasi adalah efek samping yang paling umum (4,4%) dan semua menular
Insiden (n = 10) terjadi pada subjek yang mengalami steroid digunakan
bersamaan. Topikal tacrolimus, digunakan sebagai salep 0,03% atau 0,1%
suspensi oftalmika, juga tampak aman dan efektif, dan 0,1% Penangguhan
oftalmik mungkin lebih efektif untuk mengatasi papilla yang besar karena VKC
dan AKC. Dibandingkan siklosporin, Tacrolimus adalah 100 kali lipat lebih
efektif. Ini menghalangi reseptor steroid seluler, menghambat pelepasan mediator
dari sel mast dan, dengan demikian, menekan sel T aktivasi dan akibatnya
proliferasi sel B Topical tacrolimus 0,3%, dibandingkan dengan formulasi 0,1%
dan 0,005%, nampaknya menawarkan khasiat optimal dalam pengobatan gatal
dan perbaikan okular di semua tindakan subjektif dan objektif lainnya.

Terapi Sistemik

Antihistamin Oral

Dalam kasus alergi musiman, antihistamin tanpa atau dengan resep


mungkin bisa membantu untuk gejala rinitis dan pruritus umum. Dalam kasus
gejala mata, secara acak percobaan telah menunjukkan bahwa antihistamin topikal
lebih efektif daripada obat oral untuk gejala okular. Secara khusus, olopatadine
topikal lebih efektif daripada olopatadine oral atau fexofenadine, dan topikal
ketotifen lebih efektif daripada desloratadine oral. Selain itu, antihistamin oral
dapat menyebabkan pengeringan selaput mukosa dan penurunan produksi air mata
pada beberapa pasien, terutama yang menderita mata kering bersamaan.
Beberapa antihistamin oral telah menunjukkan khasiat dalam pengobatan
konjungtivitis alergi, dibandingkan dengan plasebo, berbeda studi klinisnya.
Administrasi oral antihistamin menghasilkan puncak kadar serum dalam 30 menit
sampai 3 jam, tergantung obat spesifiknya. Efek penuh terlihat setelah beberapa
hari penggunaan. Dengan demikian, agen ini punya onset tindakan yang lebih
lambat dibandingkan dengan agen topikal, kecuali jika ada diambil untuk
profilaksis.
Imunomodulator Sistemik

Pasien dengan penyakit berat refrakter atau alergi yang mengancam


penglihatan dapat memanfaatkan terapi imunosupresif sistemik. Pedoman
mengenai terapi imunosupresif sistemik tidak tersedia di literatur kecuali untuk
laporan kasus terisolasi. Kelompok obat ini termasuk kalsineurin dan mTOR
inhibitor Cyclosporine A, Tacrolimus dan pimekrolimus. Ini obat-obatan belum
disetujui di Eropa atau Amerika Serikat untuk pengobatan alergi okular (hanya
disetujui di Jepang), dan penggunaan untuk pengobatan harus disediakan untuk
pasien terpilih yang diikuti rujukan pusat. Cyclosporine A efektif dalam
mengendalikan peradangan mata dengan menghalangi proliferasi limfosit Th2 dan
interleukin 2 (IL) produksi. Ini juga menghambat pelepasan histamin dari sel mast
dan basofil dan, melalui pengurangan produksi IL-5; itu bisa mengurangi
perekrutan dan efek eosinofil pada konjungtiva. Dalam penelitian sebelumnya
telah ditunjukkan bahwa pada kasus yang parah alergi okular, tahan terhadap
terapi konvensional, pengobatan sistemik dengan penghambat transduksi sinyal T-
limfosit dapat diperbaiki baik manifestasi dermatologis dan okular. Dalam
penelitian ini, siklosporin sistemik A, dosis 2,5 mg / kg / hari dalam dosis terbagi,
telah telah berhasil digunakan untuk perawatan AKC parah dan mata kering
penyakit. Namun, toksisitas potensial membatasi penggunaan jangka panjangnya
produk.
Dalam studi lain, 4 pasien (usia 31-64) dengan atopik berat
keratokonjungtivitis dan dermatitis atopik yang refrakter atau tergantung pada
Terapi steroid diobati dengan Cyclosporine 3 sampai 5 mg / kg dan durasi
pengobatan 37 bulan. Peradangan okuler dikontrol seluruhnya pada tiga pasien
dan sebagian pada satu pasien. Dalam 6 tahun Anak dengan parah dan penglihatan
mengancam vernal keratoconjunctivitis, Perbaikan dramatis dan stabilisasi
gejalanya pun diraih dengan terapi siklosporin oral.
Imunoterapi Spesifik Alergen

Imunoterapi sebagai pengobatan untuk penyakit alergi, adalah yang


pertama diperkenalkan oleh Noon dan Freeman pada tahun 1911 sebagai alat
untuk merawat demam jerami (rhinokonjungtivitis). Dalam terapi ini, penderita
alergi menerima dosis yang meningkat dari ekstrak yang mengandung alergen,
terdiri dari dari alergen yang relevan dengan pasien yang sensitif, dalam usaha
untuk menekan atau menghilangkan symptomatology alergi.
Allergen spesifik imunoterapi biasanya direkomendasikan untuk pasien yang
rhinokonjungtivitis alergi dan gejala asma tidak dapat dikendalikan dengan
pengobatan dan pengendalian lingkungan, yang tidak dapat mentoleransi mereka
obat-obatan, atau yang tidak mematuhi rejimen pengobatan kronis. Dengan
pemberian alergen secara terus menerus diharapkan bahwa rejimen pengobatan
akan membuat pasien toleran terhadap serangan tersebut alergen dan menekan
respons yang tidak diinginkan di masa depan terhadap alergen (s) melalui
modulasi sistem kekebalan pasien. Alergi imunoterapi spesifik diyakini satu-
satunya terapi pilihan yang mampu mengubah cara alami penyakit alergi dan telah
menunjukkan efek jangka panjang penyakit yang memodifikasi. Imunoterapi
spesifik alergen dapat diberikan dengan baik rute subkutan atau sublingual.
Telah ditunjukkan bahwa keduanya Metode efektif untuk mengobati
konjungtivitis alergi. Namun, Pada pasien dengan polysensitization, metode
injeksi menunjukkan hasil. Studi menunjukkan bahwa gejala rhinokonunctivitis
telah membaik berikut penggunaan imunoterapi sublingual dengan gejala /
peningkatan skor pengobatan hingga 27-28% untuk ragweed dan serbuk sari
rumput. Baru-baru ini disarankan agar tungau debu Imunoterapi sublingual juga
efektif untuk alergi rhinitis dengan atau tanpa konjungtivitis. Secara acak, double-
blind placebocontrolled Studi, penulis menunjukkan berkurangnya hidung dan
okular Gejala pada orang dewasa diobati dengan imunoterapi sublingual tungau
tablet mengalami tantangan alergen di ruang eksposur.
Situasi Khusus

Alergi okuler pada kehamilan

Langkah pertama harus mencakup tindakan non-farmakologis dan


menghindari alergen. Jika tindakan tersebut tidak mengendalikan gejala Secara
memadai, tetes mata natrium cromolyn bisa dicoba selanjutnya. Jika alergen
paparan dapat diprediksi (misalnya musim serbuk sari), terapi harus dimulai dua
minggu sebelum. Jika tetes mata natrium kromolyn tidak cukup untuk
mengendalikan gejala, tetes mata antihistamin bisa digunakan. Meski agen ini
diberi kategori C oleh Food and Drug Administration (FDA) AS di masa lalu,
laporan tentang efek samping kurang dan sebagian besar Dokter mata merasa
nyaman dengan keamanan mereka. Glukokortikoid topikal harus digunakan
dengan hati-hati saat hamil wanita dan di bawah pengawasan ahli mata sekaligus
seorang dokter mata dokter kandungan Alergi imunoterapi adalah pilihan lain
untuk penyakit parah gejala dan imunoterapi tidak dimulai selama kehamilan.
Vasokonstriktor dan tetes mata dekongestan umumnya dihindari selama
kehamilan.

Dermatitis periokular alergi

Jika alergi kontak telah ditetapkan sebagai penyebab periokular


Dermatitis, pengobatan pilihan adalah menghindari alergen. Pada kasus dermatitis
atopik, pengobatan biasanya multimodal, melibatkan terapi topikal, emolien,
pengobatan infeksi jika ada, penggunaan antihistamin oral untuk pruritus, dan
penghindaran pemicu faktor. Gejala dermatitis atopik melibatkan jaringan
periokular dapat diobati dengan inhibitor kalsineurin. Pada bulan Desember 2000
salep tacrolimus topikal 0,03% disetujui oleh FDA untuk penggunaan klinis pada
AD sedang sampai berat untuk usia 2 tahun dan naik, dengan kekuatan yang lebih
tinggi 0,1% disetujui untuk usia 16 tahun ke atas. Setahun kemudian,
pimekrolimus disetujui untuk atopik ringan dan sedang dermatitis untuk usia 2
tahun ke atas. Sejumlah penelitian telah menunjukkan khasiatnya pada dermatitis
atopik [74]. Konfirmasi berbasis bukti keamanan penghambat kalsineurin topikal
dalam pengobatan atopik dermatitis yang melibatkan wajah telah terbentuk dalam
literatur. Meskipun satu-satunya indikasi yang disetujui untuk penghambat
kalsineurin adalah Pengobatan dermatitis atopik, sejumlah terkontrol plasebo dan
terbuka penelitian telah menunjukkan efektivitas inhibitor kalsineurin topikal
dalam pengobatan dermatitis kontak periorbital, kontak iritan dermatitis,
dermatitis seboroik, rosacea, wajah, dan intertriginous psoriasis vulgaris.

Perspektif Masa Depan

Dengan meningkatnya pengetahuan dan kemajuan teknik kedokteran


Teknologi, masa depan banyak gangguan termasuk alergi okular diharapkan bisa
berubah ke arah yang lebih baik. Mengingat peran penting IgE dalam kaskade
alergi, antibodi yang diarahkan melawan IgE atau lainnya mediator alergi
merupakan pendekatan terapeutik masa depan untuk alergi konjungtivitis Obat
yang relatif baru dan menjanjikan yang sedang diperkenalkan ke dalam praktik
klinis alergi okular dengan memberi semangat Hasilnya termasuk antibodi
monoklonal manusiawi rekombinan Omalizumab. Omalizumab, antibodi anti IgE,
berhasil digunakan untuk Pengobatan gangguan alergi yang dimediasi IgE
termasuk persisten asma atopik, dermatitis atopik, urtikaria, terkait eosinofil
penyakit gastrointestinal dan rhinokonjungtivitis musiman [79,80]. Meskipun
kurangnya uji coba klinis secara acak yang mempelajari obat ini di Indonesia
alergi okular, beberapa laporan kasus menunjukkan omalizumab menjadi efektif
dan obat yang menjanjikan dalam pengobatan alergi okular parah. Kurangnya
bukti berbasis obat pada penggunaan obat ini dalam kasus alergi okular, membuat
sangat sulit untuk menyepakati pedoman dan rekomendasi untuk menggunakan
obat ini. Uji coba klinis untuk mengevaluasi khasiat dan keamanan yang
dibutuhkan
Kesimpulan

Alergi okular adalah gangguan inflamasi okular yang biasa terjadi dampak
yang signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Pemahaman yang lebih baik dari
mekanisme alergi, peradangan, dan klasifikasi membantu Dokter merencanakan
dan mencapai pengobatan terbaik, sehingga kontrol terbaik gejala. Beberapa
bentuk alergi okular dapat dikontrol berikut modifikasi gaya hidup sederhana dan
perawatan tradisional yang diberikan oleh seorang dokter mata umum. Namun,
beberapa bentuk alergi okular lainnya cukup parah untuk membutuhkan
kolaborasi para ahli alergi ahli imunologi untuk mencapai hasil terbaik. Selain itu,
munculnya terapi baru yang menjanjikan dan obat untuk pengobatan gejala alergi
hidung dan okular dapat mengubah masa depan pengobatan alergi okular dan
memperbaiki kualitas hidup.