Вы находитесь на странице: 1из 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pertusis (batuk rejan) adalah penyakit saluran pernapasan akut. Penyakit ini biasa

ditemukan pada anak-anak di bawah umur 5 tahun. Seperti halnya penyakit infeksi saluran

pernapas-an akut lainnya,pertusis sangat mudah dan cepat penularannya. Penyakit tersebut

dapat merupakan salah satu penyebab tinggi-nya angka kesakitan terutama di daerah padat

penduduk. Sirkulasi bakteripertusis di daerah padat penduduk di Indonesia belum di-ketahui

secara pasti. Penyakit inidapat dicegah dengan imunisasi DPT. Vaksinasi pertusis lebih efektif

dalam melindungi terhadap penyakit daripada melindungi infeksi. Perlindungan yang tidak

lengkap terhadap penyakit pada anak yang telah divaksinasi dapat menurunkan keganasan

penyakit. Infeksi alam memberi kekebalan mutlak terhadap pertusis selama masa kanak-kanak,

sedangkan perlindungan akibat imunisasi kurang lengkap karena masih ditemukan pertusis pada

anak yang telah mendapatimunisasi lengkap walaupun dengan gejala ringan. Proporsi populasi

yang rentan terhadappertusis ditentukan oleh: tingkatkelahiran bayi, cakupan imunisasi,

efektivitas vaksinyangdigunakan, insiden penyakit dan derajat penurunan kekebalan setelah

imunisasi atau sakit.

Diseluruh dunia ada 60 juta kasus pertusis setahun dengan lebih dari setenah juta

meniggal. selama masa prafaksin tahun 1922-1948, pertusis adalah penyebab utama kematian

dari penyakit menular pada anak dibawah usia 14 tahun di America serikat. Penggunaan vaksin

pertusis yang meluas menyebabkan penurunan kasus yang dramatis insiden penyakit yang tinggi

di Negara-negara sedang berkembang dan maju. Di America penerapan kebijakan yang lemah

sebagia n menyebabkan naiknya insiden pertusis pertahun sampai 1,2 kasus/100000 populasi

dari tahun 1980-1989 dan pertusis dibanyak Negara bagian

Pada tahun 1989-1990 dan 1993. Lebih dari 4500 kasus yang dilaporkan pada pusat

pengendalian dan pencegahan penyakit pada tahun 1993 merupakan insiden tertinggi sejak
tahun 1967. Masa pravaksinasi dan dinegara-negara seperti jerman, swedia dan Italy dengan

imunisasi terbatas,insiden puncak pertusis adalah pada anak umur 1-5 tahun, bayi sebelum umur

1 tahun meliputi kurang dari 15% kasus. Sebaliknya hamper 5000 kasus pertusis dilaporkan di

America serikat selama tahun 1993, 44% berumur sebelum 1 tahun, 21% berumur antara 1-4

tahun, 11% berumur 5-9 tahun, dan 24% berumur 12 tahun atau lebih. Untuk mereka yang

berumur sebelum 1 tahun,79% sebelum umur 6 bulan dan manfaat sedikit dari imunisasi. Anak

dengan pertusis antara 7 bulan dan 4 tahun kurang terimunisasi. Proporsi anak belasan tahun

dan orang dewasa dengan pertusis naik secara bersama, kurang dari pada 20% pada masa

pravaksinasi sampai 27 % pada tahun 1992-1993. Pengendalian sebagian dengan vaksinasi

telah menimbulkan epideniologi pertusis sekarang di America serikat dan menyebabkan

kerentanan kelompok umur yang belum pernah terkena sebelumnya. Tanpa terinfeksi alamiah

dengan B.pertusis atau vaksinasi booster berulang, anak yang lebih tua dan orang dewasa rentan

terhadap penyakit klinis yang terpajan, dan ibu hanya memberikan sedikit proteksi pasif pada

bayi muda.pengamatan yang terakhir memberi koreksi pada pendapat lama bahwa ada sedikit

proteksi transplasenta terhadap pertusis.

B. Rumusan Masalah

1. Apa definisi pertusis?

2. Bagaimana etiologi terjadinya pertusis?

3. Bagaimana manifestasi klinis dari pertusis?

4. Bagaimana cara penularan dari pertusis?

5. Bagaimana patofisiologi terjadinya pertusis?

6. Apa komplikasi dari pertusis?

7. Bagaimana diagnose banding dari pertusis?

8. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari pertusis?

9. Bagaimana penatalaksanaan klien anak dengan pertusis?

10. Bagaimana pencegahan dari pertusis?


11. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada klien anak dengan pertusis meliputi ,

pengkajian, diagnosis, intervensi ?

C. Tujuan

a) Tujuan Umum

Mengetahui dan memahami bagaimana membuat Asuhan Keperawatan masalah

Pernapasan dengan gangguan Pertusis.

b) Tujuan Khusus

Mahasiswa akan mampu:

1. Memahami definisi pertusis

2. Mengetahui etiologi terjadinya pertusis

3. Mengetahui manifestasi klinis dari pertusis

4. Mengetahui cara penularan dari pertusis

5. Mengetahui patofisiologi terjadinya pertusis

6. Mengetahui komplikasi dari pertusis

7. Mengetahui diagnose banding dari pertusis

8. Mengetahui pemeriksaan penunjang untuk pertusis

9. Mengidentifikasi penatalaksanaan klien anak dengan pertusis

10. Mengetahui bagaimana pencegahan pertusis

11. Merumuskan asuhan keperawatan pada klien anak dengan pertusis

meliputi pengkajian,diagnosis, intervensi

D. Manfaat

Mahasiswa bisa lebih mengetahui dan memahami bagaimana gangguan pertusis terjadi, dan

bagaimana cara mengobati serta bagaimana menyusun Asuhan Keperawatannya.


BAB II

KONSEP TEORI

A. Pengertian

Pertusis adalah infeksi saluran pernafasan akut yang disebabkan oleh berdetellah pertusis

(Nelson, 2000 : 960)

Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh berdetella pertusisa, nama lain

penyakit ini adalah Tussisi Quinta, whooping cough, batuk rejan. (Arif Mansjoer, 2000 : 428)

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pertusis adalah infeksi saluran pernafasan

akut yang disebabkan oleh bordetella pertusis, nama lain penyakit ini adalah tussis Quinta,

whooping cough, batuk rejan.

B. Etiologi

Bordetella pertusis adalah satu-satunya penyebab pertusis yaitu bakteri gram negatif,

tidak bergerak, dan ditemukan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring dan

ditanamkan pada media agar Bordet-Gengou. (Arif Mansjoer, 2000)

Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain:

1. Berbentuk batang (coccobacilus).

2. Tidak dapat bergerak.

3. Bersifat gram negatif.

4. Tidak berspora, mempunyai kapsul.

5. Mati pada suhu 55ºC selama ½ jam, dan tahan pada suhu rendah (0º- 10ºC).

6. Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar metakromatik.

7. Tidak sensitif terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn, tetapi resisten terhdap penicillin.

Menghasilkan 2 macam toksin antara lain :

1. Toksin tidak tahan panas (Heat Labile Toxin)

2. Endotoksin (lipopolisakarida)

C. Manifestasi klinik
Masa tunas 7 – 14 hari. Penyakit ini dapat berlangsung selama 6 minggu atau lebih dan terbagi

dalam 3 stadium:

1. Stadium kataralis

Stadium ini berlangsung 1 – 2 minggu ditandai dengan adanya batuk-batuk ringan,

terutama pada malam hari, pilek, serak, anoreksia, dan demam ringan. Stadium ini

menyerupai influenza.

2. Stadium spasmodik

Berlangsung selama 2 – 4 minggu, batuk semakin berat sehingga pasien gelisah

dengan muka merah dan sianotik. Batuk terjadi paroksismal berupa batuk-batuk khas.

Serangan batuk panjang dan tidak ada inspirasi di antaranya dan diakhiri dengan whoop

(tarikan nafas panjang dan dalam berbunyi melengking). Sering diakhiri muntah disertai

sputum kental. Anak-anak dapat sempat terberak-berak dan terkencing-kencing. Akibat

tekanan saat batuk dapat terjadi perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis. Tampak

keringat, pembuluh darah leher dan muka lebar.

3. Stadium konvalesensi

Berlangsung selama 2 minggu sampai sembuh. Jumlah dan beratnya serangan batuk

berkurang, muntah berkurang, dan nafsu makan timbul kembali.

D. Cara Penularan

Cara penularan pertusis, melalui:

- Droplet infection

- Kontak tidak langsung dari alat-alat yang terkontaminasi

Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui percikan-percikan ludah

penderita pada saat batuk dan bersin. Dapat pula melalui sapu tangan, handuk dan alat-alat

makan yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut. Tanpa dilakukan perawatan, orang yang

menderita pertusis dapat menularkannya kepada orang lain selama sampai 3 minggu setelah

batuk dimulai.
E. Patofisiologi

Bordella merupakan kokobasili gram negatif yang sangat kecil yang tumbuh secara

aerobik pada agar darah tepung atau media sintetik keseluruhan dengan faktor pertumbuhan

dengan faktor tikotinamid, asam amino untuk energi dan arang atau resin siklodekstrin untuk

menyerap bahan-bahan berbahaya.

Bordella pertusis menghasilkan beberapa bahan aktif secara biologis, banyak darinya

dimaksudkan untuk memainkan peran dalam penyakit dan imunitas. Pasca penambahan aerosol,

hemaglutinin felamentosa (HAF), beberapa aglutinogen (terutama FIM2 dan Fim3), dan protein

permukaan nonfibria 69kD yang disebut pertaktin (PRN) penting untuk perlekatan terhadap sel

epitel bersilia saluran pernafasan. Sitotoksin trakhea, adenilat siklase, dan TP tampak

menghambat pembersihan organisme. Sitotoksin trakhea, faktor demonekrotik, dan adenilat

siklase diterima secara dominan, menyebabkan cedera epitel lokal yang menghasilkan gejala-

gejala pernapasan dan mempermudah penyerapan TP. TP terbukti mempunyai banyak aktivitas

biologis (misal, sensitivitas histamin, sekresi insulin, disfungsi leukosit). Beberapa darinya

merupakan manifestasi sistemik penyakit. TP menyebabkan limfositisis segera pada binatang

percobaan dengan pengembalian limfosit agar tetap dalam sirkulasi darah. TP tampak

memainkan peran sentral tetapi bukan peran tunggal dalam patogenesis.

F. Komplikasi

Pada saluran nafas.

1) Broncopneumonia.

2) otitis media sering pada bayi dan infeksi skunder ( pneumoni ).

3) Bronkitis.

4) Atelektasis.

5) Empisema pulmonum.

6) Bronkiektasis.

7) Aktivase tubercolusa.
Pada sistem saraf pusat.

1) Kejang, kongesti

2) Edema otak

3) Perdarahan otak

Pada sistem pencernaan.

1) Muntah berat.

2) Prolaps rectum ( hernia umbilikus serta inguinalis ).

3) Ulkus pada frenulum lidah.

4) Stomatitis.

5) Emasiasi

Komplikasi yang lain.

1) Epistaksis

2) Hemaptisis

3) Perdarahan sub konjungtiva

G. Diagnosa Banding

1. Bordetella parapertusis lebih ringan kurang lebih 5% dari penderita pertusis.

2. Bordetella broncoseptica gejala sama dengan bordetella pertusis, sering pada binatang.

3. Infeksi oleh clamydia.

Penyebab biasanya clamydia trachomatis.

Pada bayi menyebabkan pneumonia oleh karena terkena infeksi dari ibu.

4. Infeksi oleh adenovirus tipe 1, 2, 3, 5.

Gejala hampir sama dengan pertusis seperti pada penyebab penyakit sebelumnya.

5. Trakhea bronkitis.

Adalah suatu sindrom yang terdiri dari batuk, suara paraudan stridor inspiratoir.

6. Bronkiolitis.
Merupakan penyakit infeksi paru akut ditandai dengan whizing ekspirator obstruksi

broncioli.

8. Infeksi bordetellah broncoseptica gejala sama dengan bordetella pertusis sering pada

binatang

H. Pemeriksaan Penunjang

a. Pembiakan lendir hidung dan mulut.

b. Pembiakan apus tenggorokan.

c. Pembiakan darah lengkap (terjadi peningkatan jumlah sel darah putih yang

ditandai sejumlah besar limfosit, LEE tinggi, jumlah leukosit antara 20.000-50.000 sel /

m³darah.

d. Pemeriksaan serologis untuk Bordetella pertusis.

e. Tes ELISA (Enzyme – Linked Serum Assay) untuk mengukur kadar secret Ig A.

f. Foto roentgen dada memeperlihatkan adanya infiltrate perihilus, atelaktasis atau

emphysema

I. Penatalaksanaan

a. Terapi Kausal.

1) Anti Mikroba.

Agen anti mikroba diberikan karen kemungkinan manfaat klinis dan membatasi

penyebaran infeksi. Entromisin 40 – 50 mg/kg/34 jam secara oral dalam dosis terbagi

empat (max. 29/24 jam) selama 14 hari merupakan pengobatan baku. Beberapa pakar

lebih menyukai preparat estolat tetapi etil suksinal dan stearat juga manjur.

2) Salbutamol.

Cara kerja salbutamol :

(1) Stimulan Beta 2 adrenalgik.

(2) Mengurangi proksimal.

(3) Mengurangi frekwensi apnea


Dosis yang dianjurkan 0,3 – 0,5 mg / kg BB / hari di bagi dalam 3 dosis.

3) Globulin imun pertusis

Hiperimun serum dosis intramuskuler besar, rejan sangat berkurang pada bayi yang

diobati pada minggu pertama, penggunaan preparat imunoglobulin jenis apapun tidak

dibenarkan.

b. Terapi suportif (Perawatan Pendukung).

1) Lingkungan perawatan pasien yang tenang.

2) Pembersihan jalan nafas .

3) Istirahat yang cukup.

4) Oksigen terutama pada serangan batuk yang hebat disertai sianosis.

5) Nutrisi yang cukup, hindari makanan yang sulit ditelan. Bila penderita muntah-muntah

sebaiknya diberikan cairan dan elektrolit secara parentral.

J. Pencegahan

Imunisasi alotif diberikan vaksin pertusis yang terdiri dari kuman bordetella pertusis yang

telah dimatikan untuk mendapatkan imunitea aktif.

Vaksin pertusis diberikan bersama-sama dengan vaksin difteri dan tetanus dosis pada

imunisasi dasar dianjurkan 12 IU dan diberikan pada umur 2 bulan. Beberapa penelitian

menyatakan bahwa vaksinasi pertusis sudah dapat diberikan pada umur 1 bulan dengan hasil

yang baik. Sedang waktu epidemi diberikan lebih awal lagi yaitu umur 2 – 4 minggu.

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1) Identitas ( Ngastiyah, 1997 ; 32 )

(1) Mengenai semua golongan umur, terbanyak mengenai anak umur 1-5th

(2) Lebih banyak anak laki –laki dari pada anak perempuan.

2) Keluhan Utama.

Batuk disertai muntah.

3) Riwayat Penyakit Sekarang.

Batuk makin lama makin bertambah berat dan diikuti dengan muntah terjadi siang dan

malam. Awalnya batuk dengan lendir jernih dan cair disertai panas ringan, lama–

kelamaan batuk bertambah hebat (bunyi nyaring) dan sering, maka tampak benjolan,

lidah menjulur dan dapat terjadi pendarahan sub conjungtiva.

4) Riwayat Penyakit Dahulu.

(1) Adanya gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas.

(2) Batuk dan panas ringan, batuk mula-mula timbul pada malam hari, kemudian siang

hari dan menjadi hebat.

5) Riwayat Penyakit Keluarga.

Dalam keluarga atau lingkungan sekitarnya, biasanya didapatkan ada yang menderita

penyakit pertusis.

6) Riwayat Imunisasi

JENIS UMUR CARA JUMLAH

BCG 0 – 2 bulan 1C 1x

DPT 2, 3, 4 bulan 1M 3x

Polio 1-5 bulan Refisi 4x


Capak 9 bulan 5C 4x

Heportits 0, 1, 6 bulan 1M 3x

7) Riwayat Tumbuh Kembang

1. Personal Sosial

Ibu pasien mengatakan kalau dirumah anaknya lincah, tidak mau diam.

2. Motorik Halus

Anak terbiasa melakukan gerakan seperti memasukkan benda kedalam mulutnya,

menangkap objek atau benda – benda, memegang kaki dan memegang kaki dan

mendorong kearah mulutnya.

3. Motorik Kasar

Anak dapat tengkurap dan berbalik sendiri, dapat merangkak mendekati benda atau

seseorang.

4. Kognitif

Anak berusaha memperluas lapangan pandangan, tertawa dan menjerit karena

gembira bila diajak bermain, mulai berbicara tapi belum jelas bahasanya.

USIA FISIK Motorik Kasar Motorik Halus Sosial

Emosional

15 bln Berjalan sendiri Pegang cangkir Bermain solitary

Memasukkan jari play

kelubang

Membuka kotak

Melempar benda

18 bln Lari jatuh Menggunakan sendok

Menarik mainan Membuka hal. Buku


Naik dengan Menyususn balok

tangga bantuan

24 bln BB 4x BB Berlari sudah Membuka pintu

lhr baik Membuka kunci

TB bauik Naik tangga Menggunting

sendiri Menggunakan sendok

dengan baik

5. Riwayat Antenatal, Natal Dan Postnatal

a. Antenatal

Kesehatan ibu selama hamil, penyakit yang pernah diderita serta upaya yang

dilakukan untuk mengatasi penyakitnya, berapa kali perawatan antenatal , kemana

serta kebiasaan minum jamua-jamuan dan obat yang pernah diminum serat

kebiasaan selama hamil.

b. Natal

Tanggal, jam, tempat pertolongan persalinan, siapa yang menolong, cara persalinan

(spontan, ekstraksi vakum, ekstraksi forcep, section secaria dan gamelli), presentasi

kepala dan komplikasi atau kelainan congenital. Keadaan saat lahir dan morbiditas

pada hari pertama setelah lahir, masa kehamilan (cukup, kurang, lebih ) bulan. Saat

lahir anak menangis spontan atau tidak.

c. Postnatal

Lama dirawat dirumah sakit, masalah-masalah yang berhubungan dengan gagguan

sistem, masalah nutrisi, perubahan berat badan, warna kulit,pola eliminasi dan respon

lainnya. Selama neonatal perlu dikaji adanya ashyksia, trauma dan infeksi.

6. ADL.
a) Nutrisi : muntah, anoreksia.

b) Aktivitas : pada stadium akut paroksimal terjadi lemas / lelah

c) Istirahat tidur : terganggu, akibat serangan batuk panjang dan

berulang-ulang.

d) Personal hygiene : lidah menjulur keluar dan gelisah yang

berakibat keluar liur berlebihan.

e) Eliminasi : sering terberak-berak, terkencing-kencing bila sedang

batuk

7. Pemeriksaan fisik.

(1) Keadaan umum : Saat batuk mata melotot, lidah menjulur, batuk dalam waktu yang

lama dan berkeringat

Kesadaran :Composmetis,

TTV : nadi meningkat(120-125x/mnt),respirasi meningkat(30-35x/mnt)

(2) Head to toe

Kepala : tidak ada bekas luka ataupun bengkak.

Rambut : warna rambut hitam, lurus, distribusi merata, tidak

terdapat ketombe.

Wajah : simetris, bentuk bulat, tidak terdapat kelainan kulit

Mata : sklera berwarna putih,mata tampak menonjol

Hidung : lubang hidung simetris, hidung berair, terdapat pernafasan cuping

hidung.

Mulut : mukosa lembab, lidah menjulur

Telinga : Daun telinga simetris, membran timpani putih mengkilat, tidak

ada benda asing.

Leher : Tidak terdapat pembesaran JVP, tidak ada tanda-tanda

pembesaran kaku kuduk dan pembesaran kelenjar tiroid.


Dada

Inspeksi : Terdapat tarikan otot bantu pernafasan dengan cepat

Palpasi : Tidak ada krepitasi

Perkusi : paru sonor, jantung dallnes

Auskultasi : Wheezing inspirasi

Abdomen

Inspeksi :Terdapat distensi abdomen

Auskultasi : Bising usus 9x/mnt

Palpasi : tidak terdapat pembesaran lien dan hepar, turgor kulit bisa menurun

bisa normal.

Perkusi : perut tidak kembung

Ekstremitas

Atas : tidak ada odem, pada bagian kiri terpasang infus.

Bawah : tidak ada odem, tidak ada bekas luka.

Genetalia : bersih, tidak berbau tak sedap, tidak terdapat varises atau odem.

Anus

Inspeksi : bersih, tidak terdapat hemoroid, tidak ada perdarahan.

Palpasi : tidak ada benjolan, massa, ataupun tumor.

8. Pemeriksaan penunjang

(1) Melakukan pemeriksan hapusan skret di nasofaring / lendir yang dimuntahkan.

(2) Pada hapusan darah tepi akan dijumpai (20.000 – 50.000 sel / mm3 darah) dengan

limfositosis yang predominan ( 60 %).

(3) Pemeriksaan serologis (imunofluorecent antibody) yaitu untuk mengetahui ada

tidaknya kuman.

B. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul.

1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan secret


2) Pola napas tidak efektif b/d dispnea

3) Resiko kekurangan volume cairan b/d intake klien yang kurang

4) Ganggaun pemenuhan kebutuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan

muntah yang lebih dan anoreksi.

C. Rencana Keperawatan

1 Dx Kep I

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, status ventilasi

saluran pernafasan baik

Kriteria Hasil :

1. Keluarga mampu mengetahui ttg sakit yang dialami anaknya

2. Px mengungkapkan pernafasan menjadi mudah

3. Px mampu melakukan batuk efektif

4. Rata-rata pernafasan normal(16-24x/mnt)

Intervensi :

1. Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan dan gerakan dada .

Rasional : takipnea, pernapasan dangkal,dan gerakan dada tak simetriks sering

terjadi karena ketidak nyamanan gerakan dinding dada dan/ cairan paru

2. Auskultasi area paru.

Rasional : penurunan aliran udara terjadi pada area konsulidasi dengan cairan.

Bunyi napas bronchial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area

konsulodasi. Krekes,ronki,dan mengi terdengar pada inspirasi dan/ ekspirasi pada

respon terhadap pengumoulan cairan, secret .

3. Bantu pasien latihan napas sering. Tunjukkan/ bantu pasien melakukan batuk,

misalnya menekan dada dan batuk efektif.

Rasional : napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas


lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan napas alami, membantu silia

untuk mempertahankan jalan napas paten. Penekanan menurunkan

ketidaknyamanan dada dan posisi duduk memungkinkan upaya napas lebih dalam

dan kuat.

4. Pengisapan sesuai indikasi

Rasional : merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada

pasien yang tak mampu melakukan karena

5. Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari (kecuali kontraindikasi). Tawarkan air

hangat daripada dingin.

Rasional : cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret.

6. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi

Rasional : untuk menurunkan sekresi secret dijalan napas dan menurunkan resiko

keparahan

2 Dx Kep II.T

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, klien menunjukkan

pola napas efektif

Kriteria hasil :

1. Keluarga mampu mengerti ttg sesak yg dialami anaknya

2. Px mengungkapkan sesak berkurang

3. Px mampu melakukan napas dalam

4. Pengembangan dada normal antara inspirasi dan ekspirasi

Intervensi :

1. Kaji frekuensi,kedalaman pernafasan, ekspansi dada. Catat upaya pernafasan,

termasuk penggunaan otot bantu.

Rasional : kecepatan biasanya meningkat. Dispnea dan terjadi peningkatan kerja

napas (pada awal /hanya tanda EP subakut). Kedalaman pernafasan biasanya


bervariasi tergantung derajat gagal napas. Ekspansi dada terbatas yang

berhubungan dengan atelektasis dan/ nyeri dada pleuritik.

2. Auskultasi bunyi napas

Rasional : bunyi napas menurun/ tak ada bila jalan napas obstruksi sekunder

terhadap perdarahan,bekuan atau kolaps jalan napas kecil (atelaktasis). Ronki dan

mengi menyertai obstruksi jalan napas/kegagalan pernafasan

3. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Bangunkan pasien turun tempat

tidur dan ambulasi sesegera mungkin

Rasional : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru memudahkan pernafasan.

Pengubahan posisi dan ambulasi meningkatkan pengisian udara segmen paru

berbeda sehingga memperbaiki difusi gas

4. Observasi pola batuk dan karakter secret

Rasional : kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering/iritasi. Sputu berdarah

dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan (infark paru) atau antikoagulan berlebihan

5. Dorong/bantu pasien dalam napas dalam dan latihan batuk. Pengisapan peroral

atau naso trakeal bila diindikasikan.

Rasional : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan

ditambah ketidak nyamanan upaya bernafas.

6. Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan bila diindikasikan.

Rasional : memaksimalkan bernapas dan menurunkan kerja napas

3 Dx Kep III

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, kekurangan volume

cairan tidak terjadi

Kriteria Hasil :

1. Keluarga mengerti ttg penyebab kekurangan cairan


2. Px mengungkapkan sudah tidak merasa dehidrasi

3. Px sudah Nampak tidak lemah

4. Turgor kulit membaik, membrane mukosa baik

Intervensi

1. Observasi turgor kulit, kelembaban membrane mukosa (bibir dan lidah)

R/ indicator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membrane mukosa

mulut mungkin kering karena napas mulut dan oksigen tambahan

2. Pantau masukan dan haluaran,catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan

cairan

R/ memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan

penggantian

3. Catat cairan Intake dan Output

R/untuk mengetahui keseimbangan cairan

4. Berikan dan anjurkan untuk memberikan minum sesering mungkin

R/ Mengurangi tingkat dehidrasi

5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi cairan

R/ Untuk mengatasi rehidrasi yang dialami pasien

4 Dx. Kep IV

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, kebutuhan nutrisi klien

terpenuhi

Kriteria Hasil :

1. Keluarga mengerti ttg pentingnya nutrisi

2. Px mengungkapkan nafsu makannya bertambah

3. Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang dibutuhkan /

diberikan,

4. BB meningkat, membrane mukosa lembab


Intervensi :

1. Kaji keluhan muntah dan anoreksia yang dialami klien.

Rasional :Mengetahui / menetapkan cara menentukan tindakan perawatan dan

cara mengatasinya.

2. Berikan makanan yang tidak terlalu asin dan makanan yang tidak digoreng.

Rasional: Makanan yang asin dan digoreng dapat meerangsang batuk.

3. Berikan makanan / minuman setiap habis batuk dan muntah.

Rasional :Pemberian makanan dan minuman setelah batuk dan muntah membantu

memenuhi kebutuhan nutrisi.

4. Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh klien.

Rasional :Mengetahui sejkauh mana pemenuhan nutrisi klien.

5. Timbang BB klien tiap hari.

Rasional : Mengetahui status gizi klien.

6. Hindarkan pemberian makanan yang sulit ditelan

Rasional : Makanan cair atau lunak menghindari adanya aspirasi.

7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberiaan nutrisi parenteral.

Rasional :Nutrisi parenteral sangan dibutuhkan oleh klien terutama jika intake

peroral sangat minim.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kami ambil dari penjelasan isi makalah diatas adalah sebagai

berikut :
1. Pertusis adalah infeksi saluran pernafasan akut yang disebabkan oleh berdetellah

pertusis (Nelson, 2000 : 960)

2. Pertusis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Bordotella

pertusis.

3. Manifestasi klinik dari pertusi dibagi menjadi 3 tahap yaitu stadium kataralis,stadium

spasmodic,stadium konvalesensi

4. Patofisiologi pertusis: Infeksi diperoleh oleh inhalasi yang mengandung bakteri Bordetella

pertusis. Perubahan inflamasi dipandang sebagai organisme proliferasi di mukosa

sepanjang saluran pernafasan, terutama di dalam bronkus dan bronkiolus, mukosa yang

padat dan disusupi dengan neutrofil, dan ada akumulasi lendir lengket dan leukosit di

lumina bronkial. gumpalan basil terlihat dalam silia epitel trakea dan bronkial, di

bawahnya yang ada nekrosis dari apithelium basiliar. Obstruksi parsial oleh plak lendir

di saluran pernapasan

5. Cara penularan pertusis, melalui: Droplet infection, Kontak tidak langsung dari alat-alat

yang terkontaminasi

6. Komplikasi dari pertusis dapat menyebabkan gangguan pada saluran nafas,system saraf

pusat , dan saluran pencernaan,

7. Diagnosa banding dari pertusis adalah infeksi oleh clamydia,Infeksi oleh adenovirus tipe

1, 2, 3, 5,trakhea bronchitis,bronkiolitis,dan infeksi bordetellah broncoseptica

8. Pemeriksaan penunjang dari pertusis adalah pembiakan lendir hidung dan mulut,

pembiakan apus tenggorokan dan pembiakan darah lengkap

9. Penatalaksanaan dari pertusis adalah terapi kausal: antimikroba,salbutamol,globulin imun

pertusis dan terapi suportif (Perawatan Pendukung).

10. Pencegahan dari pertusis adalah dengan Imunisasi alotif diberikan vaksin pertusis yang

terdiri dari kuman bordetella pertusis yang telah dimatikan untuk mendapatkan imunitea

aktif.
11. Asuhan keperawatan pada penderita pertusis secara garis besar adalah menjaga

kebersihan jalan napas agar terbebas dari bakteri pertusis.

B. Saran

Sebagai perawat diharapkan mampu untuk melakukan asuhan keperawatan

terhadap penderita pertusis dan diftei. Karena seringkali pada penderita pertusis dan difteri

disertai dengan komplikasi. Keadaan ini akan menyebabkan penderitaan yang

berkepanjangan. Oleh karena itu, penyakit batuk rejan dan difteri perlu dicegah. Cara yang

paling mudah adalah dengan pemberian imunisasi bersama vaksin lain yang biasa disebut

DPT dan polio.

Perawat juga harus mampu berperan sebagai pendidik. Dalam hal ini melakukan

penyuluhan mengenai pentingnya imunisasi dan imunisasi akan berdaya guna jika

dilakukan sesuai dengan program. Selain itu perawat harus memberikan pengetahuan

pada orang tua mengenai penyakit pertusis secara jelas dan lengkap.Terutama mengenai

tanda-tanda, penanganan dan pencegahannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hidayat, A. Aziz Alimul.2006.Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.Jakarta :Salemba

Medika
2. Ngastiah.2005.Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta:EGC

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:Info

Medika

3. Suriadi, dan Yuliani Rita. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi 1. Jakarta : PT

Fajar Interpratama.

4. Nuzulul Zulkarnain Haq.2011. ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP)

PERTUSIS.17/04/2012.Jam 20:00. http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-

35517-Kep%20Respirasi-Askep%20Pertusis.html