You are on page 1of 2

Material and Methods

Penelitian dilakukan dengan izin dari komite etik lokal serta persetujuan
inform consent dari seluruh peserta penelitian. Penelitian melibatkan 68 pasien
dengan usia 50 – 85 th yang dilakukan operasi dengan anestesia spinal atau
elective hip dan fraktur femur. Beberapa kriteria eksklusi dalam penelitian ini
adalah pada pasien yang memiliki kontra indikasi terhadap anestesia spinal, alergi
terhadap pengobatan yang digunakan dalam penelitian, tidak kooperatif,
penggunaan tranquiliser dan antidepresan, reoperasi, gagal jantung parah, copd
parah, dan gangguan neurologis. Sehari sebelum pembedahan bersamaan dengan
evaluasi anestesia preoperatif yang dilakukan oleh spesialis anestesi, MMST
untuk menentukan gangguan kognitif dan CAM untuk menentukan delirium
dilakukan. Bila MMST pasien <15 (gangguan kognitif parah) atau terdiagnosa
positif delirium preoperatif (hasil CAM positif) diekslkusikan dari penelitian.
Pasien dibagi kedalam 2 kelompok menggunakan sealed envelope method setelah
dilakukan pemeriksaan biokimia darah pasien sebelumnya. Tanpa premedikasi
apapun pasien lalu dimasukkan dalam ruang operasi untuk dilakukan monitorisasi
terhadap HR, MAP, saturasi oksigen perifer (SpO2), serta BIS. Oksigen diberikan
dengan masker (4 lt/menit). 30 menit sebelum operasi, dilakukan penginfusan
ringer lactate dengan dosis 6-8 mL/Kg. Anestesia spinal dilakukan pada bagian L4
dan L5 menggunakan jarum spinal ukuran 26G Atraucan dengan pasien pada
posisi miring. Pasien pada kelompok L, 2,5 mL (12,5 mg) 0,5% levobupivacaine
dimasukkan, sedangkan pada kelompok LF, 2 mL (10 mg) 0,5% levobupivacaine
+ 0,5 mL (25 mcg) fentanyl dimasukkan. Dengan posisi supine, propofol 1
mg/Kg diberikan secara bolus intravena pada 5 menit awal, lalu dilanjutkan
dengan infus propofol 1 mg/Kg.

Kadar infus intraoperatif diatur agar BIS tetap dalam rentang 70-85.
Setelah infus propofol dimulai, HR, MAP dan SpO2 dan BIS diamati pada menit
ke 1, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 75, 90, 105, 120 dan 135. Derajat sedasi dievaluasi
dengan OAA/SS dengan pengukuran yang sama. Bila nilai intraoperatif MAP
turun lebih dari 30% dibandingkan dengan nilai preoperatif, atau bila MAP turun
kurang dari 60 mmHg maka dilakukan evaluasi hipotensi dan terapi cairan
diberikan atau ephedrine. Bila HR kurang dari 45x / menit maka dianggap sebagai
bradycardia dan diberikan atropine. Bila mual, muntah terjadi selama operasi,
Metroclopramide HCl diberikan secara IV. Setelah jahitan kulit selesai, infus
propofol dihentikan dan dicatat total propofol yang diberikan, komplikasi (mual,
muntah, gatal), dan waktu recovery (waktu yang dibutuhkan untuk mencapai BIS
90. Pasien dimasukan dalam recovery room post operatif dan pada menit ke 30
dan 60, CAM dilakukan oleh spesialis beserta evaluasi skor VAS. Bila skor
VAS >4 diberikan tramadol HCL 1 mg/Kg. Skor VAS dicatat pada setiap pasien
tanpa terkecuali dengan atau tanpa mual, muntah, hipotensi, bradycardia, dan
kebutuhan ephedrine, atropine, antiemetic, postoperative opioid atau transfusi.
Analisa statistik dilakukan dengan software NCSS 2007 dan PASS 2008.
Sebagai hasil dari PASS didapatkan jumlah sampel sebesar 31. Selain metode
statistik deskriptif (rata-rata, SD, dan frekuensi) pada evaluasi data penelitian,
student’s t-test juga digunakan dalam perbandingan antara kelompok dengan
parameter yang menunjukkan distribusi normal. Sedangkan untuk parameter yang
distribusinya tidak normal digunakan metode Mann-Whitney U. Paired sample t-
test digunakan untuk analisis intragroup. Spearman’s correlation analysis
digunakan untuk evaluasi hubungan antara BIS dan pengukuran OAA/SS. Hasil
dievaluasi dengan confidence interval 95% dan nilai p < 0,05 dianggap sebagai
signifikan secara statistik.